BERGELUT DENGAN PRASANGKA

Sedetik kedepan saja, manusia tidak mengetahui apa yang akan terjadi. Karena, meminjam perumpamaan dari Ali Bin Abi Thalib, takdir adalah Jalan yang gelap, atau lautan yang dalam, rahasia Allah yang janganlah kita membebani diri kita sendiri atasnya.

Manusia, dalam menyikapi takdir adalah berbaik sangka.

Baik sangka ini setelah saya perhatikan wejangan para arif, bisa kita klasifikasikan dalam dua wujud besar yaitu baik sangka lewat do’a-do’a permohonan kita. Artinya secara mentalitas kita penuh harapan akan rahmat dan pertolonganNya kedepan. Kalau kita tertakdir berdo’a maka berarti pengabulan bersamanya. Kata Umar.

Atau yang kedua, baik sangka lewat pasrah dan keridhoan. Yang ini levelnya lebih tinggi lagi, semisal dicontohkan Ibrahim yang baik sangka pada Tuhan, dan tetap ridho akan kebaikan Tuhan meskipun dirinya sedang akan dilempar ke kobaran api oleh Namrud. Diam meskipun akan dilempar ke dalam api. Diam-nya beliau, adalah diam dalam prasangka baik atas takdir. Ini level advance.

Pada pokoknya, kekalutan dan rasa gusar jangan sampai memenuhi ruang hati kita. Karena syaitanlah yang membisikkan was-was dan kecemasan.

Seorang guru, Ust. H. Hussien Abdul Latiff memberikan wejangan simple menyikapi takdir, yaitu jangan fikirkan, jangan tetapkan.

Saya teringat kisah Nabi Yakub yang kehilangan anak tersayangnya yaitu Yusuf. Karena makar dari saudara-saudara Yusuf sendiri. Nabi Yakub begitu berduka. Dan meskipun anak-anaknya berbohong dengan mengatakan Yusuf dimakan srigala, Yakub a.s tahu apa yang sebenarnya terjadi, atas izin Allah SWT beliau tahu.

Tetapi, cerita komplit apa yang akan terjadi berikutnya beliau tak tahu. Mana beliau tahu bahwa anaknya akan kembali kelak setelah sukses di kerajaan. Karena masa depan adalah khasanah rahasia Allah SWT.

Maka Yakub menghabiskan hari-harinya dengan bermunajat -tidak dengan menetapkan sendiri bahwa beginilah terus takdir yang berlaku baginya selamanya-, munajat itulah ejawantah sikap baik sangka Yakub pada Tuhannya.

Yakub tidak tenggelam dalam was-was dan menduga-duga bahwa akan beginilah terus nasibnya. Karena siapa yang tahu masa depan??

Itu sebab, sebelum terzahir menjadi kenyataan, masa depan adalah tetap rahasia. Jangan difikirkan dan jangan ditetapkan.

Seandainya sebuah musibah membuat kita desperate atau kalut, sehingga dalam berdoa pun kita was was dan menduga bahwa tentulah buruk akhir dari semua drama ini. Maka syaitan sudah bermain dengan menciderai prasangka kita pada Tuhan.

Maka sebuah hadits mengatakan, kalau berdoa jangan setengah-setengah. Kita meminta dalam mentalitas yang terus menerus memperbaiki prasangka kita padaNya. Sebenarnya dalam kita berdoa, kita bergelut dengan diri kita sendiri. Kita berlari dari was was menuju persandaran kepada Tuhan. Dan rasa gelisah tidak boleh mengalahkan harapan kepada Tuhan.

Adabnya ada dua. Kita bisa terus menerus berdoa dalam prasangka yang baik dan meminta tolong agar diberikan jalan keluar. Atau kalau keyakinan dan prasangka baik pada takdir itu sudah sebegitu menguasai kita ; kita akan ridho dan berpasrah karena kita sadar kesempurnaan dan kebaikan takdir.

Tapi Sedikit saja ada gelisah dan ketakutan, ini penanda bahwa kita masih di maqom do’a. berlarilah meminta pada pertolonganNya sampai gelisah dan was-was kita tenggelam dan kalah dengan persandaran kita padaNya. Harapan mengalahkan rasa takut. Syaitan membisikkan was-was kekurangan harta dan makanan, sedangkan dengan Do’a kita menunaikan hak RububiyahNya untuk dipandang sebagai Yang Maha Mengabulkan.

Berdoalah sampai ketakutan kita pada keadaan; kalah dengan persandaran kita kepada Pemilik kehidupan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *