BERBAIK SANGKA ATAS TAKDIR

Wali kelas kami masa SMA kelas tiga dulu, marah besar. Dia memukul meja dengan menggebrak, lalu matanya melotot sekaligus memarahi kami sekelas. Kami begitu kaget waktu itu. Dimarahi oleh seorang guru baik hati yang tak pernah marah, menimbulkan sensasi kaget yang tersendiri.

Akhirnya kami tahu mengapa beliau marah, ternyata salah paham. Seorang guru wanita mengira kami mengunci pintu dari dalam, sehingga sewaktu jam pelajaran beliau, beliau tak bisa masuk kelas. Sang Ibu Guru kembali ke ruang guru dengan menyeka air matanya, salah paham. Dan pak Guru wali kelas kami pun ke atas dengan muka merah padam. ibu guru yang sudah tua itu memang begitu dihormati oleh beliau.

Padahal kami tak bermaksud mengunci pintu. Memang kami menutup pintunya, tetapi pintu itu memang susah dibuka dari luar jika tertutup.

Syukurlah, salah paham reda. Kami menjelaskan. Dan kami meminta maaf pada Ibu guru dan wali kelas kami itu.

Tetapi ingatan kami akan kebaikan hati sang wali kelas tidaklah tercoreng dengan insiden marah itu. Marahnya beliau, justru mengokohkan kebaikan hatinya.

Ada orang yang marah; tetapi kebaikan hatinya malah terlihat semakin kokoh. Takdir memang kadang-kadang unik.

Mengingat bapak wali kelas itu, saya teringat satu fragmen lagi saat situasi di sekolah memanas. Anak-anak kelas tiga hendak menggerakkan massa untuk demo. Menggugat bayaran sekolah yang dinilai terlampau tinggi dan pos biaya untuk kegiatan siswa terlalu minim. Sampai pula berita rencana demo itu ke beliau, sang wali kelas kami.

Dalam suatu kesempatan usai mengajar, beliau bertanya pada kami. Alasan apa sehingga kami hendak berdemo?

Kami menjelaskan. Beliau mendengar dengan seksama. Tanpa membantah.

Lalu yang paling luar biasa adalah beliau memberi saran, saran bagaimana agar demo berjalan lancar yaitu dengan menyusun secara runut dan baik apa yang kami tuntut, dan menyusun secara runut dan baik apa solusi dari kami. Menuntut tanpa solusi tidaklah bijak. Maka agar tidak terkesan kami hanya teriak-teriak, tanpa tahu apa yang sebenarnya kami tuntut maka menyusun dengan rapih tuntutan kami seperti apa, itu yang pokok, kata beliau.

Tetapi yang paling keren buat saya adalah pamungkasnya. Di ujung nasihat itu beliau berkata, seandainya nanti kalian jadi unjuk rasa, dan pertemuan antara kalian dan dewan guru diadakan, ketahuilah bahwa saya mau tak mau harus berada pada posisi guru, yang dengan itu berarti saya terpaksa berhadapan dengan kalian, meskipun saya wali kelas kalian sendiri.

Moment itu bagi saya benar-benar “wah….. Keren sekali” dan saya bayangkan bagaimana kalau betul-betul berhadapan?

Tetapi takdir berkata lain. Rekan-rekan saya urung berdemo karena satu dan lain hal. Dan anak kelas 3 yang diasuhnya tak jadi berhadap-hadapan dengan beliau. Itulah takdir tak bisa ditebak. Sedangkan buku novel saja susah ditebak, apa lagi takdir.

Memang betul, kalau direnungkan, seorang arif mengatakan jika kita selalu melihat pada af’al Tuhan, memang seringkali membingungkan. Yang tahu persis alasan dibalik sesuatu terjadi adalah Allah SWT sendiri. Hikmahnya kadang-kadang baru tersingkap lama sekali.

Misalnya, pada puncak prestasi dan kesalihan Iblis yang dari golongan jin, sampai dia menjadi tetua dan masuk dalam golongan para malaikat, lalu dia terjerembab jadi aktor antagonis immortal sampai dunia kiamat. Karena iri dengan kemuliaan yang diberikan pada adam.

Adam a.s. terlempar dari syurga dan hidup di bumi bersama siti hawa, karena makan buah yang terlarang.

Bani Israil dikutuk menjadi kera karena bekerja di hari sabtu, dimana waktu itu kerja di hari sabtu adalah terlarang.

Unik-unik, bukan?

Misalnya lagi, dua orang yang sama-sama shalih, malah berperang di panggung sejarah. Sayidatina Aisyah vs Ali r.a.

Transisi kepemimpinan dari Ali r.a kepada Muawiyah menimbulkan intrik politik paling besar yang sampai sekarang membelah dunia islam menjadi dua kubu, tak sudah-sudah efeknya meski lewat seribuan tahun.

Dan banyak lagi permisalan lainnya, yang kalau direnungkan, kadang-kadang kita suka bingung, ini maksudnya apaaaa ya?

Memang seringnya takdir itu “mbingungi”.

Kita sekarang, bisa mengerti hikmah suatu kejadian karena kejadiannya sudah lewat dan hikmahnya bisa disingkap. Misalnya, kisah Nabi Yakub yang kehilangan anak yang paling dicintainya yaitu Yusuf a.s.

Kita sekarang enak tinggal merapal cerita, nanti Yusuf dipenjara, terus jadi menteri. Tapi Nabi Yakub yang mengalaminya kehilangan anaknya kan luar biasa. Berpuluh tahun menjalani takdir yang menyayat, dengan hikmah dari takdir itu belum tersingkap saat itu lho. Tersingkapnya puluhan tahun kemudian.

Teringat saya, dengan kata hikmah dari Ibnu Athaillah, yang intinya kurang lebih cara baik sangka pada Allah adalah dengan melihat pada kebaikan dan anugerah yang kita miliki. Sehingga kita baik sangka pada Allah.

Pas ada ujian, jangan tengok ujiannya, tapi alihkan perhatian pada sisi anugerah…. Oooh pastilah suatu kejadian berlaku ini karena ada hikmah. [1]

Selalu menengok pada karunia, sehingga kita bisa bertahan dalam gelombang ujian dengan baik sangka pada-Nya. Sesuatu terjadi pasti karena “greater good” kebaikan yang lebih besar. Ini salah satu cara, yaitu metoda pintu depan, dengan berbaik sangka pada sifat-sifat-Nya (af’al / perbuatan-Nya).

Seorang arif [2] mengajarkan satu cara lagi. yaitu tinimbang kita melihat pada af’al-af’al yang bervariasi itu. Dan setiap af’al menimbulkan gejolak bagi diri kita. Maka kita itsbatkan / yakinkan saja pada diri kita bahwa sebenarnya kita ini non existence. Ciptaan tak punya wujud sejati.

Wujud ciptaan, itu bersandar pada dzat-Nya yang wajibul wujud. Dan DIA bercerita tentang diriNya sendiri. Sehingga hilang keakuan diri, menjadilah penonton saja dalam drama kehidupan.

Baru saya “ngeh”, oooh… ini toh maksudnya ungkapan: bahwa ada orang-orang yang sampai sebatas pada af’al-Nya saja, ada yang sampai sebatas asma-Nya saja. Dan ada lagi yang di atas itu. ini masalah paradigma kita memandang.

Tetapi switch dari metoda pertama ke metoda kedua ini memang tak gampang. Di metoda pertama saja saya masih gonjang ganjing. Apalagi metoda kedua.

Tapi poinnya jelas. Pertama perlu ilmunya dulu. kedua nanti ilmu akan teraplikasikan lewat ujian hidup. Biasanya setelah dibanting-banting oleh kehidupan barulah bisa menyadari bahwa semuanya milik-Nya, dan semua cerita tentang DIA.

©debuterbang


[1] “Jika engkau tidak bisa berbaik sangka terhadap Allah ta’ala karena sifat-sifat Allah yang baik itu, berbaik sangkalah pada Allah karena karunia pemberianNya kepadamu. Tidakkah selalu Ia memberi nikmat dan karunia-Nya kepadamu?” (Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam)

[2] Ust. H. Hussien Abdul Latiff

*) Image taken from this source

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *