BELAJAR RIDHA DAN TAK TERGESA-GESA

Tak seberapa ingat kapan persisnya saya mulai menyukai kajian sufistik. Yang saya ingat hanyalah momen-momen transisi yang tak selalu berjalan mulus. Dari yang sama sekali awam dengan tasawuf lalu mulai mencecap cara pandang sufistik, saya akui kadang-kadang saya agak tidak sabaran.

Contoh tidak sabar itu umpamanya saat agenda kajian tasawuf yang bertabrakan dengan jadwal saya kerja lapangan. Kadangkali membuat saya kesal. Harusnya ngaji kok malah kerja?

Dan ketergesaan lainnya adalah momen dimana saya sekali dua pernah meninggalkan istri dan anak saya yang masih bayi di rumah. Malam-malam. Demi ngaji tasawuf. Tentu saja istri saya komplen. Dan saya? Butuh waktu lama saya baru menyadari bahwa menjaga istri dan anak yang masih bayi di rumah adalah salah satu bentuk kebaikan juga.

Butuh Sekitar semingguan, waktu bagi saya untuk bisa meredakan rasa kecewa karena telah tidak bisa menghadiri kajian. Dalam pandangan saya waktu itu, tidak ada oase lebih menyegarkan bagi keringnya jiwa saya melainkan kajian tasawuf. Sesuatu yang tadinya asing, lalu baru saya pahami sebenarnya adalah mutiara. Tetapi belakangan baru saya tahu saya telah tergesa-gesa.

Dalam Lathaiful Minan. Kisah ketergesaan sehingga rasanya ingin meninggalkan keduniawian demi meredakan kekeringan ruhani ini, ternyata pernah pula dialami seorang ulama besar, yaitu Ibnu Athaillah As Sakandari.

Demi menyadari kekeliruannya yang telah menyalah pahami tasawuf -tadinya Ibnu Athaillah adalah seorang ulama syariat yang saklek dan membenci tasawuf- Ibnu Athaillah berniat berkhidmat pada gurunya dengan meninggalkan kehidupan keduniawian. Lalu banting setir ke samudera tasawuf.

Jangan! Kata Sang guru!

Melainkan tetaplah dengan posisi dan peranan yang diberikan kepada engkau saat ini, niscaya bagian untukmu tetap akan sampai.

Mayoritas transisi kehidupan keruhanian banyak yang melewati fase tergesa-gesa seperti ini. Jangan…..

Setelah meyerah dengan takdir Allah -keadaan yang menyebabkan saya tak bisa selalu hadir dalam kajian- barulah saya menyadari betapa sebenarnya yang kita cari itu bukan ilmu, melainkan Allah SWT.

Kajian Al Hikam yang sedianya begitu abstrak dan sulit dimengerti, alhamdulillah menjadi bisa lebih mudah saya pahami. Karena ternyata perjalanan menujuNya itu sudah diset dengan peranan kita masing-masing. Perhatikan kehidupan kita. Disanalah melimpah ruah pelajaran.

Kegelisahan saya akhirnya dipupus dengan wejangan-wejangan Al Arif Ust. H. Hussien Abd Latiff.

Beliau mengutipkan kekata Syaikh Abdul Qadir al Jailani dalam Futuh Al Ghaib. “Berpuas dirilah dengan apa yang ada padamu, sampai Allah sendiri meninggikan taraf kamu.”

Kalau dulu, persepsi saya yang prematur adalah berupaya menuju Allah. Berupaya membersihkan diri. Berupaya berprestasi dalam ibadah. -dengan usaha sendiri- Lambat laun baru saya sadari bahwa sebenarnya segala hal yang kita bisa lakukan ini adalah anugerah.

Dengan itu saya tidak lagi ngoyo untuk membersihkan hati. Dan tidak lagi ngoyo untuk menujuNya -dengan kemampuan sendiri- melainkan menyadari bahwa kalau DIA buat kita mengingatNya maka akan sampailah kita padaNya.

Berusaha menyadari bahwa kehidupan ini seratus persen af’al-Nya. Maka ibadah yang diperbuat tidak lagi terlihat sebagai unjuk prestasi. Alih-alih sebagai bentuk kesyukuran.

Menyadari bahwa dalam perjalanan ini akan penuh dengan naik-turun. Menyadari bahwa selama masih terlihat adanya “diri” maka selama itu pula naik turun akan tetap ada.

Dan menyadari bahwa tidak akan bisa benar-benar hilang “diri” tanpa anugerah tarikan ilahi. Orang yang ditarik atau muqarrabin adalah orang yang didekatkan. Sementara kita ini levelnya masih orang yang “berjalan”. Selama masih belum sampai gerbang pintuNya, maka tak ada lain adabnya selain dari ridho dan tak tergesa-gesa.

Kita tetap hidup dan berbuat kebaikan semampu kita, hidup seperti biasa. Tetapi dengan menyadari af’al maka pelan-pelan terlihatlah kehidupan seperti bergerak otomatis. Dan bersyukurlah kita untuk telah diberikan kesempatan mengenalNya.

7 thoughts on “BELAJAR RIDHA DAN TAK TERGESA-GESA

Add yours

  1. Bismillah…
    Afwan hanya berbagi sedikit tentang pandangan ulama salaf pada ajaran sufi, semoga Allah memberi kita rezeki hidayah sunnah & rezeki ilmu untuk mengamalkannya..

    AJARAN TASAWUF MERUSAK AQIDAH ISLAM

    Oleh
    ‘Abdul Azîz bin ‘Abdullâh al-Husaini

    Imam Syafi’i rahimahullah : “Seandainya seorang menjadi sufi (bertasawwuf) di pagi hari, niscaya sebelum datang waktu Zhuhur, engkau tidak dapati dirinya, kecuali menjadi orang bodoh”. (al-Manâqib lil Baihaqi 2/207)

    Wihdatul mashdar menjadi salah satu ciri Ahlu Sunnah wal Jama’ah dalam penetapan masaail aqidah, Mereka hanya berlandaskan misykâtun nubuwwah, wahyu dari Allâh Azza wa Jalla , tidak memandang akal, qiyas dan kasyf sebagai bagian sandaran aqidah. Justru tiga hal tersebut akan bertentangan banyak dengan nash al-Kitab dan Sunnah. Sehingga amat aneh bila ada orang yang mendahulukannya di atas hujjah-hujjah al-Qur`an dan Hadits. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam saja pernah menegur ‘Umar bin Khaththâb Radhiyallahu anhu dari sekedar melihat-lihat lembar Taurat [1] yang sebelumnya merupakan kitab yang diturunkan dari langit meski tidak telah dimasuki oleh tahrif-tahrif hasil penyelewengan tangan para pemuka agama mereka. Dan tentunya Taurat dalam konteks ini lebih afdhal daripada hasil qiyas akal manusia dan kayalan kalangan Sufi.[2]

    Seiring dengan perjalanan waktu, semakin jauh umat dari masa kenabian, muncullah berbagai keyakinan dan ideologi dari luar al-Qur`ân dan Sunnah yang mengintervensi aqidah Islamiyyah. Sufi dengan ajaran tasawufnya pun ikut menodai kejernihan dan keutuhan aqidah Islamiyyah. Masuknya ideologi ini di tengah masyarakat menyebabkan terjadinya kegoncangan akidah pada akidah kebanyakan umat Islam, pemikiran dan pandangan-pandangan mereka dan secara otomatis menjauhkan mereka dari aqidah yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

    Inilah salah satu dampak buruk yang harus dirasakan bila kekeliruan dan penyimpangan sangat dominan di masyarakat, akhirnya khalayak menganggapnya sebagai kebenaran. Pihak yang menentangnya dipandang keluar dari al-haq. Dan lebih menarik lagi, bangsa Barat memberikan atensi besar pada pengkajian khazanah ‘ilmiah’ Sufi, mencetak dan menyebarluaskannya serta menterjemahkannya ke berbagai bahasa. Tiada lain karena mereka sudah mengetahui bahaya Tasawuf bagi Islam dan umat Islam, bukan dalam rangka mendukung Islam. Wallâhul musta’ân.

    DIBANGUN DI ATAS KEDUSTAAN
    Kerusakan aqidah bila ditampakkan dengan terang-terangan, pasti akan ditolak oleh manusia-manusia yang berfitrah lurus dan berakal sehat. Maka, sebagian tokoh (tarekat Sufi) ajaran ini memperkenalkan tasawuf dengan slogan-slogan, visi dan misi yang menarik agar mudah menggandeng manusia sebanyak mungkin, menegaskan bahwa dakwah mereka sesuai dengan ajaran Islam , misi mereka untuk mensucikan kalbu, membina akhlak dst slogan-slogan menarik guna mengelabuhi umat.

    Seorang pemuka tarekat di Mesir, Mahmûd as-Sathûhî menjelaskan bahwa Tasawuf merupakan inti sari pengamalan ajaran Islam, mengamalkan al-Qur`ân dan Sunnah, berjihad melawan musuh dan hawa nafsu. (!!). Sebagian pemuka aliran Tasawuf bahkan memandang bahwa seluruh Sahabat Nabi, generasi Tâbi’în dan Tâbi’ît Tâbi’în adalah pioner aliran Tasawuf karena sikap zuhud dan semangat berjihad mereka. (!?).

    Ungkapan-ungkapan di atas hanyalah klaim kosong dan pernyataan yang tidak mendasar. Seorang Muslim yang berilmu akan merasa keheranan dengan klaim-klaim (kosong tanpa bukti). Bagaimana mungkin mereka disebut mengikut al-Qur’ân dan Sunnah, serta menjadi para pengikut dan penerus generasi terbaik umat?. Karena dari sisi aqidah terjadi perbedaan tajam antara aqidah para Sahabat dan kalangan Tasawuf, apalagi dengan aqidah tokoh besar Sufi, semisal Ibnu Arabi.

    Namun keheranan ini akan segera sirna begitu mengetahui bahwa klaim-klaim palsu dan tuduhan-tuduhan asal-asalan merupakan salah satu uslub (metode) memasarkan ajaran mereka dan menjauhkan umat dari kebenaran.

    BENAR-BENAR MERUSAK AQIDAH ISLAMIYAH
    Kekhawatiran terhadap ideologi Sufi tidak hanya lantaran kandungan penyelewengan akidah yang ada padanya,. Akan tetapi, juga karena penyebarannya yang begitu luas di dunia Islam. Akibatnya, terbentuk semacam opini bahwa kebenaran adalah apa yang ada pada kaum Sufi (?!).

    Seperti pepatah Arab, wabil mitsâl yattadhihul maqâl, dengan contoh, pernyataan akan bertambah jelas, maka di sini akan disebutkan beberapa contoh bagaimana ajaran tasawuf merubah kemurnian aqidah Islam:

    1. Aqidah Islam telah menetapkan Allâh Azza wa Jalla menciptakan makhluk-makhluk-Nya dari ‘adam (tidak ada sebelumnya), tidak dari Dzat-Nya dan bahwa semesta alam ini bukan khaliq (pencipta). Inilah aqidah yang dibawa al-Qur`an dan Hadits-hadits Nabi.

    Sementara dalam kamus Sufi, diyakini bahwa segala yang ada di alam ini merupakan perwujudan Dzat Allâh Azza wa Jalla dengan aqidahnya yang dikenal dengan wihdatul wujud, kesatuan wujud.

    2. Aqidah Islam berdasarkan nash-nash al-Qur`ân dan Hadits telah menentukan abahwa Allâh Azza wa Jalla berada di atas langit, bersemayam di atas Arsy sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

    الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

    (Yaitu) Rabb yang Maha Pemurah yang bersemayam di atas ‘Arsy [Thâhâ/20:5]

    Sementara dalam ilmu Tasawuf diajarkan bahwa Allâh Azza wa Jalla berada dimana-mana.

    3. Aqidah Islam menyatakan bahwa kenabian mutlak merupakan keutamaan yang Allâh Azza wa Jalla anugerahkan kepada insan yang Allâh kehendaki. Kenabian dan kerasulan tidak datang melalui keinginan nabi dan rasul yang bersangkutan atau atas permintaan mereka kepada Allah. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

    اللَّهُ يَصْطَفِي مِنَ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا وَمِنَ النَّاسِ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ

    Allah memilih utusan-utusan-(Nya) dari malaikat dan dari manusia. Sesungguhnya Allâh Maha Mendengar lagi Maha Melihat [al-Hajj/22:75]

    Dalam hal ini, tokoh Sufi memandang kenabian dapat diraih melalui ketekunan melakukan riyadhah, sampai seorang tokoh Sufi, Ibnu Sab’in[3] mengatakan, “Ibnu Aminah (Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam) telah membatasi sesuatu yang lingkupnya luas ketika mengatakan, “Tidak ada nabi sepeninggalku”.

    4. Aqidah Islam menegaskan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan nabi serta rasul yang lain juga manusia-manusia seperti orang-orang yang lain dan masih berkewajiban menjalankan syariat. Akan tetapi, Allâh Azza wa Jalla memilih mereka dan mengutamakan mereka di atas kebanyakan orang sebagai utusan-utusan-Nya.

    Adapun golongan Sufi berpandangan bahwa Nabi Muhammad sumber terciptanya makhluk-makhluk yang lain (keyakinan ini dikenal dengan aqidah Nur Muhammadi). Mereka pun membawakan hadits-hadits palsu yang menyatakan jika tidak ada Muhammad maka alam semesta ini tidak akan pernah ada . Mereka pun memandang manusia bila sudah mencapai derajat tertentu tidak terkena kewajiban menjalankan syariat Islam.

    5. Sumber hukum aqidah Islam hanya dua: al-Qur`ân dan Hadits shahih, tidak ada sumber ketiga atau keempat dan seterusnya…Sementara itu, kaum Sufi memiliki sumber aqidah yang lain yang dikenal dengan istilah al-kasyf dan al-faidh. Mereka secara nyata meyakininya sebagai landasan keyakinan.

    6. Aqidah Islam menjunjung tinggi tauhîdullâh dan datang untuk memberantas syirik dengan seluruh jenisnya dan praktek penyembahan kepada selain Allâh Azza wa Jalla . Sedangkan pada ajaran Tasawuf, praktek syirik sangat kentara dalam bentuk meminta kepada penghuni kubur, istighotsah kepada orang-orang yang telah mati, pengagungan kuburan dan lain-lain.

    7. Aqidah Islam telah menetapkah hanya Allâh saja yang mengetahui alam gaib. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

    قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ

    Katakanlah: “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan [an-Naml/27:65]

    Dalam hal ini, kaum Sufi menyatakan bahwa syaikh-syaikh tarekat memiliki kemampuan meneropong dan mengetahui alam gaib melalui jalan kasyf, dan menurut mereka lagi, mereka meemperoleh ilmu itu dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

    Masih banyak keyakinan mereka lainnya yang jelas-jelas berseberangan dengan aqidah yang dibawa oleh Rasûlullâh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

    Pendek kata, ajaran Tasawuf berdiri di atas landasan-landasan berikut:
    • Membagi agama menjadi lahir yang diketahui oleh orang-orang awam dan batin yang hanya dimengerti oleh kaum khos (orang-orang khusus saja)
    • Memegangi kasyf dan dzauq dalam penetapan masalah-masalah aqidah dan ibadah
    • Melegalkan praktek syirik dan bahkan melakukan pembelaan untuknya
    • Menshahihkan hadits melalui jalan kasyf
    • Beramal berdasarkan hasil mimpi
    • Beribadah dengan dasar dzauq dan wajd
    • Menyebarkan hadits-hadits lemah dan palsu dan mengamalkannya.
    • Membiasakan dzikir jama’i dan beribadah dengan menari-nari diiringi oleh suara-suara alunan bunyi seruling dan alat-alat musik lainnya. Bahkan penulis kitab Ihya Ulumuddin menulis satu bab di dalamnya dukungannya terhadap ‘ibadah’ dengan tarian dan musik disertai penjelasan tentang adab-adab dan menetapkan bahwa musik lebih menggelorakan hati daripada al-Qur`ân dari tujuh aspek. [al-Ihyâ:2/325-328].

    Demikian point-point prinsip aqidah yang diajarkan dalam ilmu Tasawuf dan diyakini kalangan Sufi. Semoga Allâh Azza wa Jalla menjauhkan kita dari segala kerusakan dalam keyakinan kita. Wallâhu a’lam.

    Dikutip dari at-Tauhîd fî Masîratil ‘Amalil Islami bainal Wâqi wal Ma`mûl, ‘Abdul Azîz bin ‘Abdullâh al-Husaini, pengantar Nashir bin ‘Abdul Karîm al-‘Aql, Cet I, Th. 1419H, Darul Qasim. hlm. 25-33.

    [Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04-05/Tahun XV/1432H/2011. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
    _______
    Footnote
    [1]. HR. Ahmad, al-Baihaqi, Ibnu Abi Ashim. Hadits hasan dengan berbagai jalur periwayatannya.
    [2]. Lihat Manhajul Istidlâl ‘alâ Masâil al-I’tiqâd ‘Inda Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah 1/41-42
    [3]. Dia adalah ‘Abdul Haqq bin Ibrâhîm bin Muhammad bin Nashr bin Sab’în (613-668H), seorang pemuka golongan Sufi dan termasuk berkeyakinan wihdatul wujud.

    Sumber: https://almanhaj.or.id/3681-ajaran-tasawuf-merusak-aqidah-islam.html

    1. Terimakasih atas komentarnya. Lepas abad ke tiga hijriah, timbul praktik2 keagamaan yang melakukan inovasi-inovasi dalam tasawuf. Atau dikenal dengan tarekat.

      “Sebagian” tarekat-tarekat ini melakukan penyimpangan-penyimpangan semisal paham wahdatul wujud. Nur Muhammad. Dan hal-hal yang bertentangan dengan syariah semisal mengaku menjadi Tuhan. Dll.

      Hal inilah yang ditolak para ulama. Dan bukan tasawuf ini yang saya maksud dalam tulisan-tulisan saya.

      Yang saya maksud dalam tulisan saya, adalah tasawuf profetik. Yang bersandar pada syariah.

      Adapun praktik-praktik penyimpangan pada sebagian tarekat, seperti yang saya sebut di atas tadi, kami pun bersetuju bahwa hal itu harus ditinggalkan sejauh-jauhnya.

      Alhamdulillah. Salam Mbak Ummu Uwais. Terimakasih sudah mampir ya.

      Barakallah

  2. Na’am, lebih utama lagi bahwa dalam agama ini kita fokus menuntut ilmu syar’i, hal terpenting&urgent tentang tauhid, aqidah & manhaj sesuai pemahaman shalafussholih…
    Sehingga kita akan mengetahui mana haq & bathil,
    Mengetahui beberapa pemahaman-pemahaman yg sepertinya menurut kita baik tapi bisa jadi syubhatnya besar bagi diri kita.
    Belajar dengan asatidzah yang kokoh manhajnya&lurus aqidahnya..
    Afwan, tulisan ini baik, tapi ada beberapa kehati-hatian dari guru yang diambil ilmunya..

    dan alangkah afdholnya kita tidak menyingkat saw, swt dsb
    Insyaa Allah dg ditulis lengkap lebih utama pahala setiap hurufnya..
    Allah Subhanahu wata’ala
    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam

    Allahu’alam

    1. Assalamu alaikum warahamatullahi wabarakatuhu
      Saya sudah lama mengikuti tulisan di blog ini, untuk bisa memahami artikel/tulisan di blog ini ada baiknya baca dulu artikel-artikel di blognya Pa Yusdeka di yusdeka.wordpress.com agar lebih utuh dan urut memahaminya bisa dibaca dari artikel yang berjudul “Arah Selanjutnya” dan diurut terus nanti ketemu artikel berjudul “Bertasawuf ataukah Bertarekat?”. Nah mulai dari artikel tersebut nanti akan terlihat sangat jelas perbedaan antara Tasawuf yang dimaksud oleh Debu Terbang dan Tasawuf/Tarekat yang dimaksud oleh Ummu Uwais.

      Demikian, semoga bisa membantu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Proudly powered by WordPress | Theme: Baskerville 2 by Anders Noren.

Up ↑