BELAJAR MENJADI PRIBADI BARU

Hand writing never stop learningSalah satu imbas dari belajar tasawuf, utamanya pendekatan tasawuf profetik yang saya pelajari dari seorang Arif, adalah timbulnya keinginan hati untuk kembali “belajar”.

Bukan belajar dalam artian formal seperti kuliah, tetapi belajar dalam maknanya yang lebih luas.

Misalnya saja begini. Saya mengenali diri saya sebagai persona dengan kecenderungan introvert. Saya menyukai keheningan. Saya suka kontemplasi. Diskusi yang filosofis. Tetapi akibatnya seringkali saya kesulitan untuk membangun relasi, yang tentu saja setiap relasi harus dimulai dengan ketrampilan bicara hal-hal kecil tetapi membangun keakraban. Maka seringkali saya dinilai sebagai pendiam.

Selama ini saya merasakan bahwa ini adalah hambatan terbesar saya. Terlepas dari kesadaran bahwa tentu kecenderungan psikologi pribadi kita adalah juga hal yang tak lepas dari apa yang telah tertulis di Lauh Mahfudz-Nya. Hanya saja, saya akhirnya menyadari bahwa yang kita kenal sebagai diri kita, personaliti kita, adalah bentukan dari ilmu yang selama ini kita serap.

Kalau ingin berubah, maka rubahlah cara kamu memandang, dalam arti cara kita memandang hidup perlu diperbarui, lewat asupan ilmu yang baru, yang lebih baik.

Satu yang menarik dari wejangan Al Arif, dimana saya dan rekan-rekan disadarkan bahwa hal-hal yang halus semisal berikut ini; adalah juga ciptaan; diantaranya, rasa takut, rasa sedih, rasa gelisah, amarah, dan segala anasir perasaan yang selama ini kita kira bagian dari diri kita, ternyata adalah juga makhluk, yang manusia sebagai khalifah tidak boleh tunduk pada mereka.

Salah satu piranti untuk menundukkan “perasaan” adalah ilmu itu tadi.

Contohnya, saya bekerja pada perusahaan asing, dimana kultur orang timur seringkali bertabrakan dengan kultur barat. Misalnya di dalam rapat, kultur timur biasanya sebagai pendengar. Menghargai atasan dengan tidak memotong pembicaraan. Dan lebih banyak setuju dengan apa yang disampaikan bos.

Tetapi, dalam pandangan kultur barat, hal itu dianggap sebagai sikap yang pasif. Jika tidak bicara dalam rapat, tidak menyanggah, tidak adu argumen, dikira pasif dan tidak menghargai.

Jika saya, disalah-sangkai oleh bos, dianggap tidak menghargai beliau, tentu saya kecewa dan sedih.

Bagaimana cara agar saya tidak kecewa dan sedih? ada dua jalan untuk menghilangkan kesedihan ini.

Yang pertama, lewat laku batin. Misalnya, kita terlatih mengenali emosi diri kita, seperti para ahli meditasi. Sampai saking terlatihnya, akhirnya kita bisa mengendalikan rasa kecewa di dalam diri kita. Rasa kecewa, dan “kita yang sebagai pengamat” seperti terpisah dan ada jarak mental. Maka rasa kecewa tidak bisa mampir ke kita. kalaupun mampir, bisa cepat kita lepaskan.

Yang kedua, jalan ilmu. Pas kita kecewa karena disalah sangkai bos kita. Ada seseorang yang mengajari kita sebuah ilmu. “Eh… bosmu itu bukannya ga suka sama kamu lho, tapi cara pandang dia itu beda, dikiranya kalau denger doang pas meeting itu artinya kamu mengacuhkan dia. Padahal dari sisi kamu, hal itu dianggap sikap sopan santun terhadap atasan. Makanya jadi salah sangka semua.”

Seketika itu juga, saat sebuah khasanah ilmu dibukakan pada kita, langsung realita perasaan kita berubah. Dari yang tadinya kesal, lalu jadi adem….. OOOhhh ternyata begono toh. Salah perkiraan saya selama ini.

Saat sebuah jalan ilmu dibukakan pada kita, maka cara pandang yang lebih tinggi akan menganulir cara pandang yang lama. Jika cara pandang yang lebih tinggi itu sedemikan kuatnya, maka menjadilah kita pribadi yang baru. Betapa pentingnya ilmu (dan hikmah), dia diletakkan sebagai pondasi sebelum amal didirikan.

Saya teringat kisah Isra’ Mi’raj-nya Rasulullah SAW. Dimana saat beliau berduka kehilangan Khadijah, dan berduka kehilangan Paman beliau, dan beliau berduka karena dilempari dengan batu oleh penduduk Thaif, tak lama kemudian peristiwa Isra’ Mi’raj terjadi.

Beliau diperlihatkan bahwa dunia ini sedemikian luasnya. Dan cerita kehidupan dari awal sampai akhir sudah siap. Konteks “ilmu” yang sangat besar diberikan kepada beliau. Maka kesulitan hidup beliau menjadi lebih ringan dibandingkan konteks yang lebih besar itu. Dan setelah itu datang perintah sholat lima waktu.

Dalam tasawuf. Jalur profetik. Yang dibuka pertama kali adalah ilmu. Ilmu tentang Tuhan. Pengenalan akan Tuhan dan kaitannya dengan alam semesta. Diberikan di awal lewat ilmu.

Allah itu apa? kaitannya dengan alam semesta seperti apa? bagaimana Allah mengatur alam semesta? dengan terbukanya satu gerbang ilmu ini, realita hidup kita jadi berubah sama sekali. kita memandang hidup jadi sama sekali lain. Karena ternyata tidak ada lini apapun dalam kehidupan ini yang bisa dilepaskan dari konteks Tuhan dan ciptaan-Nya. DIA menceritakan diriNya sendiri.

Barulah selepas itu, peribadatan didirikan di atas pondasi pengenalan itu.

-debuterbang-


*) Image Sources

debuterbang

Seorang pendosa, yang meniti jalan kembali kepadaNya.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *