BELAJAR MENGABDI LEWAT BELADIRI

Menyadari bahwa badan sudah tidak terlalu fit sebagaimana zaman muda belia dulu, ditambah lagi sekarang di kantor jarang bergerak, badan jadi makin tambun, saya memutuskan untuk kembali rajin olahraga. Kebetulan ada kelas Muay Thai di gym dekat rumah, ikutlah saya kesana.

Jadi teringat terakhir saya ikut beladiri waktu masih jaman kuliah dulu, gandrung-gandrungnya ikutan kungfu. Tapi sekarang ini setelah punya dua anak agak beda. Bukan masalah beladirinya, tapi masalah gelora di dalam hatinya. Sekarang ini olahraga atau latihan beladiri berasa santai saja. Kalau dulu menggebu sekali.

Saya ingat dulu waktu kuliah, malam-malam saya sering pergi ke tanah lapang sekedar mengulang-ngulang jurus. Kadang-kadang pagi-pagi lepas subuh. Pergi ke tempat-tempat yang jauh dilakoni buat latihan.

Kalau saya renungi, apa yang dulu saya kejar ya?

Merasa diri kurang, lalu belajar beladiri karena ingin menjadi lebih kuat. Setelah belajar, ingin lebih lagi maka latihan diperbanyak lagi. Sampai setelah banyak latihan dan bertahun belajar baru menemukan titik dimana makin belajar makin bodoh, makin tahu bahwa di atas kita begitu banyak orang-orang yang lebih hebat lebih luar biasa. Akhirnya niatan belajar yang karena ingin menjadi kuat….pelan-pelan sirna.

Sampai setelah lama saya tak pernah olahraga lagi, sekarang-sekarang baru tergerak kembali.

Awalnya karena keteteran dengan ritme kerja di kantor yang semakin hari semakin sibuk. Badan dituntut untuk siap dengan rutinitas yang klise dan menjemukan tetapi menguras energi. Walhasil seringkali di rumah hanya tinggal sisa tenaga. Saya fikir-fikir, wah…..ini badan harus lebih fit.

Kalau kurang fit bagaimana mau menunaikan tugas bekerja, bagaimana membagi waktu pada keluarga? Maka kembali menyeruak keinginan untuk olahraga dan latihan beladiri kembali.

Setelah berapa minggu berlatih dan kembali berasa agak segar, baru saya menyadari bahwa beladiri ini sebenarnya miniatur kecil kehidupan.

Umpamanya beladiri dianggap kehidupan keseharian kita, maka banyak diantara kita berlatih berlatih berlatih berlatih berlatih berlatih kesana kesini tanpa tahu mengapa. Lalu di ujungnya baru sadar, apa yang saya cari ya?

Setelah lama grasa grusu, baru kita menemukan jawaban.

Setelah menemukan jawaban, maka kembali kita berkecimpung dalam hidup dengan niatan yang sama sekali baru. Sama-sama bekerja, tetapi beda makna.

Kalau dulu ingin jadi lebih, ingin ada di puncak…….maka setelah dewasa keinginan keinginan itu bergeser lebih matang jadi niatan untuk membantu, niatan untuk berbagi, niatan untuk mengabdi.

Baru saya paham, orang-orang arif sering bilang hidup dalam “pengabdian”. Rupanya itu maksudnya.

Ya misalnya itu tadi, belajar beladiri karena pengen lebih fit, agar tugas tertunaikan dengan baik. Rupanya bisa dimaknai…

Saya baru menyadari, wah…..kalau dimaknai dengan tepat ini bisa jadi pintu masuk agar hidup dalam konteks pengabdian rupanya. Mengabdi pada Tuhan lewat menunaikan tugas kepala keluarga, dimana fit-nya badan dijaga lewat olahraga. Bisa begitu rupanya.

Atau bisa juga begini. Hidup dalam kesyukuran. Saya sangat menikmati melihat dan mempelajari keindahan seni gerak dalam beladiri. Baru sekarang-sekarang ini saya memahami bahwa seni gerak dalam beladiri juga bagian dari cantiknya ilham-ilham DIA yang diberikan pada manusia. Jadi menekuni beladiri, bisa jadi pintu untuk bergelut di padepokan kesyukuran.

Belajar hidup dalam pengabdian dan dalam kesyukuran ini yang memang sering sangat terlupakan. Utamanya yang saya rasakan sangat sulit adalah karena kita dibelit rutinitas pekerjaan.

Maka kadang-kadang kalau pekerjaan sudah terlalu membebani, dan kita seperti berlomba dengan target-target, dengan rasa ingin tampil, dengan persaingan-persaingan. Saya kembali teringat dengan miniatur hidup dalam dunia beladiri itu. Bahwa setelah berlatih terus, yang akan kita temukan sebenarnya hanyalah fakta bahwa di atas langit ada langit. Dan tak ada yang lebih pantas untuk dikalahkan selain dari diri kita sendiri.

Salah satu cara terbaik mengalahkan diri sendiri bagi saya antara lain memraktekkan hidup dalam pengabdian dan dalam kesyukuran. Lewat hal-hal kecil yang kita maknai kembali.


*) gambar Ilustrasi courtesy google image.. Saya lupa link-nya

debuterbang

Seorang pendosa, yang meniti jalan kembali kepadaNya.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *