BELAJAR MEMBACA YANG DI LUAR DIRI

Seorang karyawan mendatangi ruangan atasannya dengan niat hendak meminta kenaikan gaji. Padahal, beberapa menit sebelumnya, seorang karyawan lainnya baru saja keluar dari ruangan atasan tersebut dengan muka pucat dan dari ruangan sang atasan terdengar omelan keras mengenai target penjualan yang belum kunjung tercapai.

Dengan logika common sense, kita tahu bahwa hari itu bukan hari yang tepat untuk nego minta kenaikan gaji bukan? Akan tetapi bagi orang yang tidak peka, mereka tidak bisa membaca situasi dan tetap masuk ke ruangan meminta kenaikan gaji. Sudah bisa kita tebak apa yang terjadi kemudian.

Orang-orang yang tidak peka itu, dalam sebuah buku yang ditulis oleh Eony Hunn, (seorang berkebangsaan Amerika tetapi besar dalam budaya korea) disebut orang-orang dengan “NUNCHI” yang buruk.

“KEPEKAAN” DALAM TRADISI BANGSA KOREA

Nunchi, adalah istilah dalam bahasa korea yang secara bahasa artinya adalah “tilikan mata”, atau secara bebas diartikan sebagai kemampuan untuk membaca situasi. (The ability to sense the atmosphere).

Menarik membaca buku mengenai Nunchi ini, terutama karena “kepekaan” membaca situasi ini sebenarnya sering kita temukan diajarkan dalam berbagai tradisi, utamanya bangsa asia. Hanya saja, dalam buku Nunchi tersebut kita melihat bahwa ilmu kepekaan membaca situasi diajarkan secara lebih terstruktur di Korea.

Misalnya, dari sejak di sekolah, mereka sudah dituntut peka membaca situasi. Seorang guru tinggal mengatakan minggu depan kita akan membuat prakarya lampu gantung misalnya, maka tanpa perlu disuruh, murid-murid sudah akan siap sendiri membawa gunting yang sesuai, alat-alat dan bahan yang diperlukan, tanpa instruksi. Anehnya semura orang membawa alat yang tepat, gunting tipe yang tepat, dst…. Karena kepekaan membaca situasi sudah seperti menjadi bagian dari kehidupan budaya disana, justru seseorang yang tidak membawa perlengkapan karena “tidak dibertahu gurunya”, malah akan disalahkan dan dianggap tidak peka, alias punya NUNCHI yang lamban.

Wallahu’alam bagaimana sebenarnya aplikasinya secara real di sana, tetapi dalam buku Nunchi, itulah kesan yang kita dapatkan.

KEPEKAAN DI LINGKUNGAN KITA

Di dalam tradisi bangsa kita, ketrampilan seperti nunchi ini juga sering kita lihat. Misalnya dalam tradisi Jawa yang sering berbicara dengan bahasa perlambang, dan isyarat, seseorang dituntut untuk bisa menafsirkan makna yang tersirat. Misalnya, saat kita berjalan di jalan komplek, lalu seorang tetangga yang sedang sibuk memangkas rumput depan rumahnya menyapa kita dengan bahasa “Hei pa kabar Mas, ayo mampir dulu”, tentu kita paham bahwa sang tetangga bukan beneran ingin ajak kita mampir, melainkan sebentuk basa-basi keakraban. Kalau kita beneran mampir malah nanti kita yang merepotkan beliau.

Ada juga seperti ini, misalnya seorang teman sedang bertamu ke rumah kita, maka sang tuan rumah akan mengajak tamunya makan atau minum. Sang tamu akan menolak secara halus. Tetapi, dengan kepekaan membaca situasi, maka kita tahu sang tamu memang harus setengah dipaksa untuk makan, karena bentuk unggah-ungguhnya begitu. Maka kita akan memaksa sang tamu makan, sebagai bentuk keramahan kita. Akan repot jadinya kalau kita menawarkan makanan, lalu sikap sang tamu yang menolak secara halus (baru sekali menolak), kita artikan sebagai “yo wis kalau ga mau ya udah”. Kita yang dituntut untuk peka.

Ketrampilan untuk membaca apa yang tersirat, makna sebenarnya disebalik kata-kata ini, dalam perkembangannya mungkin merambah pada hal yang lebih luas dari sekadar hubungan antar manusia. Misalnya, seorang nelayan yang peka, dia akan mengerti apakah sebentar lagi hari hujan atau tidak? Karena melihat burung-burung terbang rendah, yang merupakan isyarat akan terjadinya hujan.

Dalam tsunami besar aceh berapa tahun lalu, dalam sebuah tulisan di media (saya lupa link-nya) disebutkan ada salah satu daerah di aceh dimana penduduknya rata-rata selamat dari tsunami karena bentuk kearifan lokal, yaitu apabila terjadi gempa dan air surut, maka naiklah ke gunung-gunung. Secara ilmu geologi hal itu benar, karena saat tsunami biasanya air surut dulu baru kemudian gelombang balik akan menyapu daratan. Ini adalah sebentuk kepekaan membaca situasi yang dikembangkan secara turun temurun.

Ada ketrampilan kepekaan yang baik, ada yang memang perlu dikaji lebih lanjut apakah benar seperti itu atau tidak?

Hanya saja, kepekaan ini kadangkali diterima mentah-mentah tanpa kita sendiri mengembangkan kemampuan membaca situasi. Atau malah kepekaan ini disalahpahami secara keseluruhan sehingga antipati berlebihan terhadap kemampuan pengamatan atau firasat.

MELATIH KEPEKAAN DENGAN MENGGESER FOKUS KE LUAR DIRI

Suatu hari, anak saya perempuan yang usia TK jalan mondar-mandir di depan saya. Saya waktu itu ga ngeh sama sekali kenapa ni anak mondar-mandir dari tadi. Lalu anak saya melengos dengan kesal. Saya ceritakan ke istri saya, lalu istri saya komentar “Ya ampun paaa…. Itu lho bando-nya baru”.

Ya ampuuun. Anak saya ternyata pengen pamer ke saya kalau dia punya bando baru. Dan saya ga ngeh sama sekali.

Kejadian seperti ini seringkali terjadi. Misalnya saya sedang nyetir mobil melewati sebuah area, saya seringkali tidak aware kalau disana itu misalnya ada pohon apa, ada kafe yang baru buka, atau ada motor yang terbalik di sebelah saya. Kadang saya geli sendiri kalau istri saya suka aneh kenapa saya kok hal-hal semacam itu luput dari perhatian saya?

Selama ini saya tidak terlalu peduli juga dengan kenyataan seperti itu (bahwa seringkali hal-hal kecil itu luput dari perhatian saya), sampai saya membaca buku Nunchi itu dan tiba-tiba tersadar bahwa saya tidak aware dengan hal-hal di luar diri saya (seperti tidak peka bahwa anak saya mondar-mandir pakai bando baru, tidak melihat sama sekali  bahwa ada motor kecelakaan di samping mobil saya, atau ada kafe baru buka di dekat perempatan) adalah karena saya terlalu terbiasa dengan fokus ke dalam diri.

Orang-orang dengan kecenderungan fokus ke dalam diri, seringkali merasa terpisah dengan dunia di luar dirinya, karena saat beraktivitas pun sebenarnya mereka “masuk ke dalam” dan fokus di dalam dirinya sendiri. Mereka menjadi peka dengan kondisi dirinya, seperti memahami kapan dirinya bad mood, apa yang sedang melintas di fikirannya, memahami bahwa dirinya pribadi berkecenderungan karakter begini dan begitu, tetapi seringkali agak kurang pandai memposisikan dirinya dalam pergaulan sosial. Karena dia “tidak hadir” dalam pergaulan sosial itu. Dirinya bisa jadi ada disana, tetapi fokusnya tidak. Dia ada dalam dirinya sendiri.

Saya menjadi menyadari, bahwa setelah memahami diri sendiri (self discovery) tahap lanjutannya memang adalah menggeser fokus yang tadinya berpusat pada diri sendiri, menjadi lebih berpusat ke “orang lain” dan kontribusi sosial.

Itu sebabnya kita lihat orang-orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri, mereka sibuk menebar karya dan memberi sumbangsih bagi orang lain, karena fokusnya sudah bukan lagi diri sendiri, melainkan fokus pada lingkungan, membaca dan bertindak.

Dan pola semacam ini (saat sudah selesai dengan diri sendiri, maka sibuk berkontribusi sosial) kita temukan dalam berbagai literatur, dari literatur agama sampai bukti-bukti praktis dalam kehidupan orang-orang modern. Dalam satu hadits dikatakan bahwa manusia yang paling baik adalah yang paling banyak menebar manfaat bagi manusia lainnya.

Inilah yang saya sadari merupakan kelemahan saya. Yaitu latihan kontribusi sosial. Dan latihan kontribusi sosial, harus dimulai dengan belajar menggeser fokus “ke luar diri”. Melihat kenyataan dalam kehidupan, belajar peka dengan apa yang terjadi, dan memahami apa yang bisa kita sumbangsihkan dalam hidup.

Hal ini berlaku sebaliknya, bagi orang-orang yang sudah terbiasa dengan “pengamatan di luar diri”, pintar membaca situasi (misalnya sifat natural alami ini ada pada pebisnis handal yang pandai bergaul dan bisa membaca momen dalam bisinis) adalah penting untuk menggenapi kepingannya dengan bergeser mempelajari pengamatan ke dalam diri.

Karena kontribusi aktif dalam kehidupan, tanpa ketrampilan memahami diri sendiri, juga kurang pas, karena rawan dengan benturan-benturan yang terjadi sebab kita tidak paham dengan mekanisme diri kita sendiri bekerja. Kapan kita emosi, seperti apa karakter kita, apa yang mendorong kita melakukan sesuatu dll.

Dua-duanya penting. Berjalan ke dalam dan ke luar. sehingga dengan berjalan ke dalam kita menemukan diri (self discovery), dengan berjalan ke luar kita belajar berkontribusi.

Seperti para sahabat di zaman dahulu, malam hari mereka rahib-rahib pertapa, dan siang hari mereka singa gurun yang lapar dan aktif bergerak.

debuterbang

Seorang pendosa, yang meniti jalan kembali kepadaNya.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *