BELAJAR MAKNA DARI PENGEPEL LANTAI

Di sebuah toko komputer yang baru dibuka, seorang cleaning service yang mengepel lantai ditanyai oleh seseorang yang ternyata adalah CEO perusahaan tersebut, tetapi petugas kebersihan tidak menyadarinya. “Apa yang sedang engkau kerjakan?” Tanya CEO itu.

“Aku sedang berkontribusi dalam kegiatan mencerdaskan kehidupan orang banyak lewat cara mengepel toko komputer besar ini”.

Jawaban petugas kebersihan itu membuat sang CEO kaget. Karena cara petugas kebersihan itu memaknai apa yang dia kerjakan dalam sebuah konteks yang lebih besar daripada sebatas mengepel lantai semata.

Mengajarkan kita untuk sentiasa memandang kehidupan dalam konteks yang paling besar, itulah salah satu domainnya tasawuf. Seorang arif mengatakan, puncak segala ilmu adalah mengetahui bahwa kehidupan ini sejatinya ialah senda gurauNya. DIA bermain dengan dzat (ciptaan)Nya sendiri. Konteks paling puncak dalam hidup.

Sungguhpun begitu, untuk serta merta selalu memakai pemaknaan itu dalam keseluruhan hidup kita, tidak segampang membalikkan telapak tangan.

Suatu ketika saya berbincang dengan adik saya yang baru saja diterima bekerja pada salah satu stasiun TV di Jakarta. Pekerjaan yang menyita waktu, dan penyesuaian di tempat baru yang memakan tenaga dan emosi. Saya tanya, bagaima cara dia menikmatinya?

Dalam pada itu, adik saya menjawab bahwa dia selalu membayangkan bahwa dirinya adalah seorang petarung di oktagon UFC, dengan membayangkan seperti itu, timbul semangat tidak mau kalah, dan tidak gampang menyerah. Hehehe…cara yang unik.

Saya jadi teringat mengenai maqom ini, karena melihat pemaknaan yang adik saya coba pakai dalam menyemangati dirinya sendiri. Betapapun, adik saya sudah pernah juga saya beritahu pemaknaan yang lebih tinggi tadi, yaitu melihat dunia ini sebagai senda guraunya Tuhan. Tetapi dalam gerak refleks, yang muncul adalah pemaknaan yang masih menjadi “maqom” kita.

selama pemaknaan yang lebih tinggi belum ditakdirkan menjadi “maqom” kita, maka akan sulit kita menggunakan pemaknaan itu sebagai bagian utuh dari diri kita dalam menghadapi kehidupan kita.

Dan saya menilai diri sendiripun sangat sering sekali “terlepas” dari pemaknaan yang lebih tinggi, yang diajarkan sang Arif, bahwa keseluruhan lini hidup ini mestilah dipandang sebagai senda gurauNya, pada dzat (Ciptaan)Nya sendiri. Kadang-kadang cara pandang masih terlampau duniawi dan sebab-akibat.

Ndilalah, saat lagi di perjalanan dari rumah ke kantor, saya membaca Matsnawi-nya Rumi, iseng-iseng. Tertumbuk pandangan saya pada sebuah tulisan dimana Rumi mengingatkan ada dua jalan utama mencapai Allah Ta’ala. Yang pertama adalah orang-orang yang ditarik olehNYA menujuNYA, seperti dalam ayat للَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ (Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya), dan jalan kedua adalah orang-orang yang dipandu jalan menujuNya, karena mereka “kembali” kepadaNya وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ (QS Asy-Syura : 13)

Segelintir saja, orang-orang terpilih yang ditarik menujuNya, ujug-ujug langsung sampai.

Kebanyakan kita, adalah tipe kedua. Orang-orang yang “kembali” kepadaNya, dan semoga dengan “kembali” itu kita dituntunkan jalan.

“Kembali” itu maknanya lebih luas dari sekedar mentaubati dosa. Seperti ilustrasi seorang pengepel lantai yang mencoba memaknai hidupnya secara lebih luas tadi, begitulah pula orang yang taubat atau “kembali”, maknanya adalah mencoba meletakkan hidupnya dalam cara pandang yang baru, yang berkaitan dengan DIA menceritakan diriNYA.

Hanya saja, seberapa jauh kita bisa bersikukuh menggunakan cara pandang itu, tergantung maqom yang dianugerahkan pada kita.

Dan saya teringat wejangan Arif, bahwa pada akhirnya, meskipun seolah-olah kita menujuNya lewat segala peribadatan kita, pada akhirnya tetap “tarikan”NYA-lah yang menyampaikan kita padaNya. Perumpamaannya seperti berjalan menuju pintu gerbang, lalu semata-mata sang pemilik gerbang lah yang membuka pintu dan mengundang kita masuk.

Jika baik jalan pertama, maupun jalan kedua, pada akhirnya semua terserah pemilik gerbang, maka harapan kita menjadi merekah lagi. Betapapun kurang baiknya peribadatan dan persembahan kita, kita tahu bahwa anugerah dan kebaikanNYA melampaui kerdilnya usaha hambaNya.


Note:

  • Gambar ilustrasi dipinjam dari link ini
  • Kisah pengepel lantai, kalau saya tak salah ingat, saya baca dari buku tentang Steve Jobs. Tapi saya tak ingat persis di buku yang mana, mungkin saja keliru. hehehe.

debuterbang

Seorang pendosa, yang meniti jalan kembali kepadaNya.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *