BELAJAR GA BANYAK MIKIR

Silakan dicoba, lima menit jangan fikirkan apa-apa. Harus kosong sama sekali tanpa ada lintasan fikiran. Bisakah?

Saat kita mencoba, semakin ingin tidak berfikir, maka semakin lintasan fikiran itu datang sendiri, tanpa kita buat. Ingatan tentang makanan, tentang mobil, tentang tugas kantor, semuanya seliweran datang sendiri tanpa diundang.

Sebenarnya, fakta bahwa semua lintasan itu datang sendiri ke dalam benak kita, susul-menyusul, adalah sesuatu yang sangat spiritual. Yaitu fakta bahwa akal / benak manusia itu terpisah dengan “fikiran”.

Dalam spiritualitas islam, akal atau consciusness manusia itulah “hati”. Tempat menampung ilmu. Sedangkan fikiran yang hilir mudik datang ke dalam akal manusia itulah ilham.

Ilham ini, terbagi menjadi dua. Yang pertama adalah ilham-ilham “kebaikan”. Yang kedua adalah ilham-ilham “keburukan”.

Salah satu praktik dalam khasanah spiritual islam adalah praktik mengenali lintasan-lintasan fikiran itu. Setelah tahu bahwa fikiran-fikiran itu sebenarnya “datang sendiri”, maka belajarlah untuk tidak banyak mikir!

Mulanya saya juga bingung ini, bagaimana mungkin kita bisa tidak berfikir?

Baru saya paham, setelah sang guru menjelaskan yang kurang lebih maknanya adalah “secara default, akal manusia itu/ atau hatinya/ atau lathifah ruhiyah kata Imam Ghazali; harus digunakan untuk secara konstan mengingati Allah”

Saat mengingati Allah, yang diingat adalah DIA. Bukan namanya. Bukan sifat-sifat. Bukan ciptaan.

Tersebab kita tahu bahwa Allah itu tiada umpama, maka saat mengingatiNya, pandangan hati kita akan bersih dari segala keruwetan masalah. Karena yang kita ingat itu kita tahu tidak akan tergapai oleh persepsi.

Setelah terbiasa membersihkan hati dari keruwetan fikiran. Dan konstan mengingati-Nya. Maka barulah apa-apa yang “turun” ke dalam fikiran adalah apa-apa yang baik.

Dulu, saya mengira ilham itu adalah sesuatu yang rumit. Seperti wangsit. Saya kira dia berupa suara-suara ghaib.

Ternyata barulah saya paham, bahwa yang disebut ilham itu ialah hal yang sederhana saja sebenarnya. Dan kita sering mendapatkannya.

Saya teringat dulu setiap kali saya ada tugas sekolah. Jaman SMP. Dan saya bingung apa jawabannya. Saya selalu pergi ke belakang rumah. Disana ada kolam besar. Dan dari sana terdengar sayup-sayup ceramah KH. Zainudin MZ dari menara masjid di seberang.

Setiap kali orang tua bertanya, “mau kemana kamu?”

Saya jawab, “mau cari Ilham….” Tanpa saya paham definisi yang rumit-rumit tentang ilham itu sendiri.

Dan memang biasanya saat kondisi relax dan tenang, maka insight itu muncul. “cling”. Tahu-tahu paham.

Seperti Newton-lah. Saat melihat apel jatuh, langsung paham bahwa ada gaya tarik gravitasi. Kepahaman seperti itulah ilham. Jadi bukan berupa suara ghaib, “wahai newtoooon ketahuilah bahwa ada gaya yang menarik apel itu….” Justru kalau ada suara-suara mesti hati-hati. Hampir pasti itu syetan, hehehehe.

Kembali ke bahasan ilham, sebagai sebuah insight yang turun sendiri ke dalam hati kita. Cara agar kita tidak bingung mana yang insight mana yang fikiran mumet kita sendiri; ternyata adalah dengan jangan banyak mikir!

Maksudnya, penuhi hati kita dengan ingatan pada Allah. Lalu sibukkan diri dengan amal / kerja nyata. Karena, tanpa mumet-mumet mikir pun, fikiran-fikiran akan turun sendiri. Fithrahnya fikiran-fikiran itu memang mendatang sendiri.

Tinggal, bagaimana caranya agar fikiran-fikiran yang turun itu adalah ilham kebaikan?

Ternyata caranya sederhana. Sibuk-sibuklah mengingati-Nya, maka nanti yang turun adalah ilham-ilham yang baik. Jika kita sibuk mengingati-Nya, maka kita tidak mencurigai apa yang “turun”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *