BELADIRI, HELM, DAN AKHLAQ

Ibarat beladiri. Jika musuh keburu datang, baru mau berlatih, itu sudah telat. Berlatihlah sebelum musuh datang. Agar saat musuh datang, kita sudah siap.

Dalam spiritualitas islam pun begitu juga. Sebuah hadits mencatat dimana Rasulullah SAW mengatakan ingatlah Allah disaat lapang, maka Allah akan menolong di kala kita sempit.[1]

Di saat sempit, atau saat ujian datang, ada respon hati (rasa) dan ada respon fisikal atau tindakan.

Respon fisikal atau tindakan kita, harus dilatih agar selaras dengan norma dunia fisikal. Sedangkan respon hati (rasa) hanya akan bertumbuh selaras dengan perubahan cara pandang.

Merubah respon hati, memang membutuhkan waktu lebih, ketimbang merubah respon fisik.

Misalnya, saat hari hujan dan kita sedang ada urusan penting. Respon fisik, harus sesuai syariat, yaitu tidak boleh memaki  hujan. Karena dalam suatu hadits dikatakan bahwa hujan itu rahmat, dan kita dilarang memaki hujan. Itu respon fisik, yaitu dengan tidak mengucapkan makian. Respon fisik ini bisa dilatih dengan membiasakan perilaku tertentu.

Tetapi ada respon hati. Yaitu rasa yang keluar dengan jujur. Boleh jadi mulut tidak memaki, tapi hati masih dongkol. Hati yang dongkol, adalah respon rasa yang keluar secara spontan. Merubahnya haruslah dengan merubah cara pandang terhadap kehidupan.

Saya teringat dengan definisi akhlaq yang dulu pernah disampaikan aa gym. Akhlaq adalah respon spontan kita terhadap suatu kejadian.[2]

Dalam bahasa lainnya, terminologi akhlaq dalam islam itu sebangun dengan istilah karakter. Satu hal yang kita biasakan, lama-lama jadi kebiasaan, dan setelah mendarah daging dia akan menjadi  karakter, dan tertampil keluar. Saat dia sudah menjadi bagian dari karakter dan secara spontan tampil saat ada ujian, itulah akhlaq.

Rekan-rekan ingin mengukur diri? Cobalah lihat diri sendiri, bagaimana respon otomatis diri kita saat ada ujian. Begitu ada JEDERRRR, respon alami kita itulah akhlaq kita. Dan saat ada JEDERRR itulah nilai sejatinya diri akan tampil. Jenak yang paling jujur menilai diri.

Karena yang akan tampil itu ada dua. Pertama respon fisik kita, hasil dari pembiasaan. Dan lalu respon hati kita, sebagai imbas dari perubahan cara pandang.

Mengenai cara pandang, dalam istilah islam ada yang disebut wali abdal. Abdal, berasal dari kata badal, yaitu pertukaran. Maksudnya adalah seseorang yang paradigma atau cara pandangnya terhadap hidup sudah bertukar dari paradigma yang lama. Dia mendapatkan pencerahan.

Yang seringkali saya pribadi alami adalah respon fisik sudah sesuai norma, tetapi respon hati masih ngedumel.

Dulu, saya kesal sekali dengan respon hati ini. Karena respon hati ini adalah gambaran jujur diri saya sendiri. Tapi setelah mengerti polanya, saya  baru menyadari bahwa setidaknya itu sudah awalan yang baik, yaitu secara fisik kita sudah ikut norma dan tata aturan, tetapi dengan jujur pula kita mengakui bahwa secara batin, masih ada yang perlu diperbaiki dari diri kita.

Kuncinya yang saya amati setidaknya dua hal. Pertama, sadarilah baik batinnya, maupun respon fisikalnya, dua-duanya haruslah dilatih sejak kita dalam kondisi “LAPANG”. Karena saat kondisi sempit, yang akan muncul adalah sesuatu yang kita sudah biasakan.

Saat kita mengalami sebuah ujian, JEDERRR, dan kita goyah. Itu adalah pertanda bahwa kita kurang menyiapkan pertahanan di saat kita lapang. Yo wis… sadari saja bahwa kita harus kembali memulai persiapan sejak lapang.

Yang kedua, ketahuilah bahwa pendekatan yang berbeda diperlukan untuk dua respon itu.

Respon fisik, dilatih dengan membiasakan prilaku (repetisi) agar selaras dengan norma. Respon batin dilatih dengan mengubah cara pandang terhadap kehidupan. Dan ini harus mau tak mau dengan ilmu. Jadi ada repetisi fisikal, ada yang kaitannya dengan ilmu dan cara pandang.

Umpama, melatih seseorang memakai helm di jalan raya, bisa dengan pembiasaan secara fisikal. Ada undang-undang kalau tidak pakai helm maka bayar denda. Saat sudah menjadi “akhlaq” menjadi karakter fisikal, maka begitu keluar rumah pakai motor, orang-orang akan otomatis pakai helm.

Tetapi, otomatis pakai helm tidak berarti seseorang merasa ceria pakai helm. Ada orang-orang yang tersiksa pakai helm.

Kita sudah repetisi fisikal dengan cara selalu pakai helm tiap naik motor, tapi kita heran, kok setiap hari saya naik motor pakai helm, masiiiiiiih saja saya kesal dan dongkol kalau pakai helm? padahal sudah tiap hari pakai helm.

kalau begitu cara kita memandang, artinya kita keliru menempatkan pendekatan fisikal dan pendekatan batin. Membiasakan pakai helm itu adalah melatih respon fisikal, tetapi membuat hati ceria saat pakai helm, itu sudah urusan cara pandang, itu sudah urusan enlightenment.

Untuk merubah rasa tersiksa pakai helm, menjadi rasa ceria pakai helm……haruslah dengan merubah cara pandang. Cara pandang hanya akan berubah lewat asupan ilmu. Saat kesadaran berubah, maka berubahlah realitas rasa kita.

Itulah sebab mengapa makrifatullah, atau mengenal Allah adalah fundamen. Karena pengenalan pada Allah SWT lewat ilmu, akan pada gilirannya merubah cara pandang, berubah cara pandang maka berubah pula rasa di hati, lewat pembiasaan-pembiasaan dalam praktek kehidupan kita masing-masing.

Saya yakin, rekan-rekan sudah melakukan repetisi fisikal luar biasa banyaknya. Tetapi pertanyaan yang perlu sama-sama kita jawab adalah, sudahkah kita melatih merubah cara pandang itu? sisi esoteris agama ada disana.

 


[1] (Diriwayatkan oleh ‘Abd bin Humaid dalam Musnadnya dan sanadnya lemah, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Rajab (hal. 460), akan tetapi Imam Ahmad meriwayatkan hadits ini dalam Musnad beliau (1/307) dengan sanad lain yang sahih): “Jagalah Allah, maka kamu akan mendapati Allah di hadapanmu (selalu bersamamu dan menolongmu), kenalkanlah/dekatkanlah (dirimu) pada Allah disaat (kamu dalam keadaan) lapang (senang), supaya Allah mengenali (menolong)mu disaat (kamu dalam keadaan) susah (sempit), dan ketahuilah, bahwa segala sesuatu (yang telah Allah ta’ala tetapkan) tidak akan menimpamu, maka semua itu (pasti) tidak akan menimpamu, dan segala sesuatu (yang telah Allah ta’ala tetapkan) akan menimpamu, maka semua itu (pasti) akan menimpamu, dan ketahuilah, sesungguhnya pertolongan (dari Allah ta’ala) itu selalu menyertai kesabaran,dan jalan keluar (dari kesulitan) selalu menyertai kesulitan, dan kemudahan selalu menyertai kesusahan.”

[2] Dalam bahasa akademis, selain al-Farabi, Ibn Miskawayh (d 1030) dalam karyanya tahzib al-Akhlaq mendefinisikan akhlaq sebagai “kondisi jiwa dalam mendorong manusia melakukan perbuatan-perbuatan tanpa proses perenungan atau memilih”.

*) image sources

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *