BAHASA KAUMNYA

a1bb4842-4da9-44eb-b2f3-fa0f64093914

Seorang fakih dari iskandaria itu terperanjat, saat seorang ulama yang dia hadiri majelisnya menjelaskan tentang tingkatan-tingkatan nafs dalam berpuluh-puluh padanan istilah.

Mulanya beliau menjelaskan tentang islam, iman dan ihsan sebagai tingkatan kejiwaan manusia secara spiritualnya. Lalu beliau menambahkan bahwa istilah itu juga semakna dengan bahasa lain para arifin yaitu pertama adalah ibadah, lalu meningkat kepada pengabdian (ubudiyah), lalu dipuncaki dengan penghambaan (ubudah). Dengan lain istilah bahwa pelaksanaan syariat pada mulanya akan membuat seseorang lambat laun makin tajam memahami esensi dibalik itu, lalu dipuncaki dengan kesan kesadaran bahwa kita bersamaNya selalu.

Berulang kali sang ulama tersebut menjelaskan tentang padanan istilah dalam berbagai-bagai “bahasa” penjelasan, sehingga Sang Fakih Iskandaria itu –yang tak lain adalah Ibnu Athoillah- menjadi terang dan mengerti akan maksud sang guru.

Belakangan, Ibnu Athoillah menjadi seorang ulama yang mahir berbicara dalam dua jenis keilmuan. Syariat atau fiqih, dan juga spiritualitas islam lewat approach tasawufnya. Setelah sebelumnya Ibnu Athoillah mewarisi keilmuan kakeknya yang seorang alim mazhab Maliki, tetapi waktu itu masih “bermusuhan” dengan para arifin.

Jauh sebelum masanya Ibnu Athoillah, adalah Imam Ghozali yang memiliki kapabilitas berbicara terang mengenai dua jenis keilmuan itu, dan menjadi jembatan yang menghubungkan orang-orang alim fikih dan orang-orang arif.

Apa poinnya disini? Satu hal yang baru menjadi jelas bagi saya adalah bahwa seringkali perselisihan bukan disebabkan benar-salah, tetapi seringkali pula perselisihan disebabkan dua belah pihak memahami suatu hal dengan bahasa yang berbeda.

Berapa bulan lalu, saya berkesempatan berangkat ke Cairo dalam rangka training yang diberikan kantor. Setibanya di Dubai, saya baru sadar bahwa saya belum mendownload database offline bahasa arab di google translate handphone saya. Saya khawatir, seandainya pada Bandara tujuan di Cairo nanti saya tak bertemu dengan penjemput, bagaimana saya sampai di penginapan seandainya orang-orang semua berbahasa arab dan saya hanya menguasai bahasa inggris saja sebagai bahasa kedua.

Singkat kata, database arabic language offline gagal saya download karena terlampau besar ukurannya, tetapi untungnya semua berjalan aman dan saya tiba di tujuan dengan lancar, penjemput pun sudah ada di tempat.

Tapi sepanjang perjalanan saya menjadi menyadari kembali mengenai “bahasa” ini. Ide sederhana dari “bahasa” adalah sebenarnya menyampaikan sekumpulan makna yang kita pahami kepada orang lain lewat perantara suara dan huruf-huruf.

Sebuah kata “YA” dalam bahasa indonesia bisa diterjemahkan menjadi “YES” dalam bahasa inggris. Tetapi bukankah dalam spektrum yang lebih luas kita mengerti bahwa misalnya raut muka seseorang yang merah padam dan melotot bisa diterjemahkan sebagai “NO” sebagai “tidak”, artinya gesture atau bahasa tubuh pun “bahasa” juga.

Dan lebih jauh lagi, sebuah tindakan juga bisa menjadi bahasa juga. Misalnya saya beri contoh anak saya. Bagi anak saya, tindakan saya membelikan dia snack “nyam-nyam” adalah sebuah bahasa juga untuk mengatakan saya menyayangi dia. Maka anak saya memahami apabila saya tidak membelikan dia “nyam-nyam” sebagai sebuah makna “tidak sayang.”

Jika saya tidak berbicara dalam bahasanya anak saya, maka makna sayang yang saya miliki tidak bisa diinterpretasikan oleh anak saya. Tentu ‘sayang’ memiliki khasanah yang sangat luas, tetapi sebagai yang lebih mengerti, tentu orang tua adalah pihak yang mesti berbicara dalam bahasa yang dimengerti sang anak. Sampai pada gilirannya nanti sang anak akan memahami khasanah “bahasa” yang lebih luas lagi.

Begitulah… ternyata memang benar jika Para Nabi pun diutus untuk berbicara sesuai dengan bahasa kaumnya.[1]

Dalam konteks seperti inilah, ternyata saya baru menyadari pentingnya pendidikan. Dulu, logika saya sederhana sekali. Saya sempat berfikir kenapa orang belajar tinggi, jika untuk bisa makan saya bisa selesai dengan bertani dan dagang? Kenapa harus letih belajar jika belajar nantinya hanya untuk bisa makan?

Ternyata, dengan pendidikan dan terbukanya wacana, seseorang mestinya menjadi semakin bisa berbicara dengan “bahasa” yang luas. Orang-orang alim yang menguasai syariat dan fikih, dengan semakin luasnya wacana pendidikan mereka, dan persentuhan mereka dengan banyak kajian, mestinya membuat mereka bisa mengerti bahasa para arifin.

Dan para arifin pun dengan terbukanya wawasan dan kemampuan “bahasa” pendidikan mereka, mereka akan bisa menyampaikan sesuatu dalam berbagai-bagai padanan penjelasan yang dimengerti oleh terminologi orang lain.

Satu hal yang sangat penting adalah bahwa di dunia ini, manusia pastilah memahami sesuatu lewat kacamata pengalaman hidupnya yang terbatas. Dan setiap orang akan memiliki secuplik-secuplik kepahaman lewat rentang waktu hidupnya itu. Dan secuplik kepahaman itu tidak akan pernah mewakili kebenaran yang paling benar.

Tetapi, manusia “dibebankan” untuk bertindak, bersikap, merespon hidup, sebatas wacana keilmuan, kepahaman dan tingkat spiritualitas yang dia miliki. Karena gerak kehidupan ini sebagai sebuah plot takdir Maha Besar, tidak akan pernah kita mengerti dengan pandangan makhluq yang terbatas.

Maka Musa a.s sudah benar dalam konteks ketersingkapan ilmunya Musa a.s, dan khidir sudah benar dalam ketersingkapan Khidir a.s. Dan seninya takdir adalah bahwa dua orang dengan derajat ketersingkapan yang beda, kadang harus berbenturan di panggung sejarah. Dan perbenturan itupun “benar” karena kita mengerti bahwa tak cukup waktu dan kemampuan bagi manusia untuk semua mencurahkan makna dan pengertian yang mereka miliki dalam “bahasa” yang dimengerti orang lain.

Itulah saya rasa makna yang sangat luas yang dirangkum dalam Wahyu pertama pada Nabi Muhammad SAW di Gua Hira. Yaitu IQRO, agar semua orang membaca kehidupan ini. Dan makna-makna yang benar baru akan diberikan oleh Tuhan jika pembacaan yang kita miliki adalah dilambari dengan BI ISMI RABBIKA. Dengan nama Tuhan yang menciptakan.

Maka kita akan menjadi orang yang dianugerahi ilmu. Tetapi ilmu semata, akan mati dan menjadi sia-sia jika tidak menjadi amal yang makbul.

Jika ilmu adalah khasanah pribadi, dan amalan makbulan adalah khasanah sosial atau kemanfaatan yang kita tebar untuk orang lain, saya rasa itu semakna dengan maksudnya Surat Al-Ashr[2].

Bahwa demi waktu yang sempit ini, kita semua dalam kerugian jika tidak ada iman, dan orang beriman pun rugi jika tidak ada amal sholeh yang mengkonversi kepahaman spiritual pribadinya menjadi punya jejak di masyarakat, dan orang yang beramal sholeh pun bisa rugi jika tidak ada semacam sikap penjagaan untuk saling menguatkan menetapi kebenaran dan kesabaran.

Dalam konteks saling menguatkan inilah, semoga Allah memberikan kita ketrampilan berbicara dengan “bahasa” kaum yang kita hadapi. Agar makna-makna yang kita dapatkan bisa saling dimengerti.

 

 

references:

[1] “Kami tidak mengutus seorang Rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana” (QS 14:4)

[2]“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al ‘Ashr: 1-3).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *