About debuterbang

Seorang pendosa, yang meniti jalan kembali kepadaNya.

LARI MARATHON DAN SPIRITUALITAS YANG SEDERHANA

Agak bingung saya kemarin. Sewaktu ditelepon mendadak oleh salah seorang security komplek. Ditanya pasal kenaikan gaji. Kenapa rekan-rekannya naik tapi dia tidak?

Tak bisa saya menjawab. Pasalnya, saya sudah berapa minggu tak ikut meeting pengurus komplek. Tersebab istri lahiran dan penyesuaian siklus bangun dan tidur karena si kecil malam-malam hobinya begadang.

Akhirnya, malam kemarin itu lepas maghrib saya ikut meeting antara security dan pengurus. Clear. Masalah selesai, semua happy. Ternyata ini hanya kesalah pahaman saja.

Kontribusi saya dalam rapat barangkali hampir nol saja. Karena memang tak paham banyak konteksnya. Saya menikmati melihat teknik lobi dari pak Ketua dan pengurus Sie keamanan. Saya membayangkan diri saya yang dahulu yang begitu Koleris. Sudah hampir pasti saya akan banyak bicara dalam pertemuan-pertemuan. Tetapi kecenderungan koleris itu bergeser setelah menekuni kajian spiritualitas tasawuf. Mendengarkan wejangan Al Arif saya menjadi lebih menikmati “diam” dan menonton.

Rasa hati untuk tampil, menjadi sirna perlahan-lahan. Dan akhirnya merasakan kebahagiaan dan kenikmatan lainnya dalam “uzlah” di keramaian. Menyepi dalam dunia yang ramai.

Dalam pada itu. Sepulang dari Musholla saya menyadari suatu fakta bahwa tampil dan rasa keakuan memang bisa menjadi pendorong yang luar biasa. Kontribusi menjadi banyak karena rasa ingin tampil.

Tetapi keaktifan yang disetir oleh rasa ingin “meng-ada” ini bisa membuat sakit diri kita sendiri. Pada gilirannya kelak.

Dalam kajian sufistik oleh seorang Arif, saya baru memahami tangga berikutnya untuk belajar menyaksikan hidup sebagai af’al Tuhan melalui dzat / makhluk (ciptaan) Nya. Termasuk diri kita sendiri. Dengan itu pelan-pelan sirnalah rasa “aku”.

Setelah belajar menghilangkan “aku”, Lalu tibalah di tangga berikutnya dimana kita hidup aktif dalam “penghambaan”. Sesuai dengan ranah masing-masing. Radius masing-masing.

Dan hidup dalam “kehambaan” ini mengandungi artikulasi yang luas sekali. Termasuk kebaikan-kebaikan sederhana yang saya sering saksikan di sekitar saya sendiri. Para pengurus komplek yang meluangkan waktunya untuk masyarakat. Para dokter yang mengobati pasien. Seorang ibu yang mengasuh anaknya. Seorang ulama yang mengajari orang-orang. Supir bus kota yang mengantar penumpang. Dan yang semacam itu.

Dalam pandangan sufistik, Semua menunaikan tugas, menebarkan kebaikan, “menghamba” pada Sang Pemilik af’al.

Salah satu ciri dari kebaikan sederhana yang timbul dari rasa penghambaan, diantaranya ia akan lebih mirip lari marathon. Santai. Relax. Continuitas atau sinambung. Sesuai hadits bahwa amal yang sedikit tetapi kontinyu akan lebih disukai Allah SWT.

Dalam pemaknaan saya pribadi, barulah saya mengerti bahwa yang sedikit namun kontinyu, dengan nafas panjang untuk perjalanan yang lama, biasanya disetir karena pengertian atau pemahaman yang lebih jernih.

Ketimbang amal yang menggebu, karena disetir rasa hati yang ingin “tampil”. Biasanya lebih mirip lari sprint. Cepat dan terengah-engah. Tetapi pendek. Tabiatnya emosional.

Kini saya baru menyadari keindahan dibalik lari yang marathon itu. Belajar keluar dari rasa “aku” yang sempit. Menyadari hidup adalah af’al-Nya menerusi dzat ciptaanNya. Lalu berkebaikan yang sederhana, simpel namun kontinyu dalam pemaknaan baru. Bukan kita yang berlakon.

-debuterbang-


*) image sources

AGAR TAK HILANG PENGHARAPAN

Sungguh enak menikmati detail kehidupan. Sore ini, duduk santai di belakang jok abang GoJek, ditempias angin perjalanan, saya menikmati betul lekuk-lekuk detail menuju rumah.

Hamparan pedagang kaki lima di dekat Kampus Universitas Swasta yang saya lewati. Ceruk-ceruk jalanan yang diisi pedagang itu. Pepohonan besar yang mengurat akarnya, tampak begitu tua dan wibawa. Tanah kosong yang baru dibangun. Merah saga awan gumawan. Dan sayup-sayup ceramah di toa Menara masjid.

Semua detail yang tak pernah saya fikirkan dulu. Untuk tertakdir bekerja di sini. Tinggal disini. Dianugerahi anak-anak yang beranjak dewasa. Dan sekian frame lagi cerita takdir yang Maha Sucilah penulisnya.

Kehidupan kita semuanya dibalut dalam dua tema besar utama. Cerita tentang keagungan atau kedigdayaanNya, dan di lain sisi cerita tentang kasih sayang, welas asihNya. Jalaaliyah dan Jamaaliyah-Nya.

Selama ini manusia kebanyakan memandang Tuhan melulu dari sisi Agung dan Digdaya-Nya. Hal ini akan menimbulkan gentar dan ketakutan. Karena betapa kita melihat DIA mentakdirkan pelbagai kesulitan tanpa pandang bulu.

Orang usai sholat Jum’at, eh hilang sendal. Anak-anak bayi di Palestina meregang nyawa, mengaduk-aduk emosi kita melihat gurat luka dan pilu yang kita baca di sekitar kita. Juga pada kehidupan kita sendiri. Detik demi detik kesulitan membuat kita memandang kehidupan dalam kacamata yang suram. Lalu mau tak mau DIA tercitrakan sebagai Yang Kejam dan Mengerikan.

Kita lupa pada sisi welas asihNya. DIA yang saat penciptaan telah berfirman bahwa rahmatNya mendahului murkaNya. DIA menciptakan kehidupan dalam dua warna. Tetapi DIA sendiri pula yang menyuruh manusia memulakan segala hal dengan bismillahirrahmanirrahim. Nama-Nya yang mencerminkan rahmat. Citra yang DIA kedepankan.

Kita bisa saja, menuju Tuhan dengan melihat sisi keadilan dan kuasaNya.

Kita beribadah lalu diganjar pahala. Itu skema JalaaliyahNya.

Tetapi, melulu memandang pada sisi keadilan dan timbangan akan membuat kita putus asa. Mengetahui sebuah fakta bahwa kita kadang baik kadang keliru. Mengetahui fakta bahwa riya menghapus amal manusia. Mengetahui fakta bahwa sedikit saja tidak ikhlas maka ibadah kita sia-sia. Mengetahui fakta bahwa masalah buang air kecil yang tak bersih bisa membawa seseorang ke neraka. Dalam segala citra hitung-hitungan keadilan itu, merugilah orang yang berharap semata dari sisi JalaaliyahNya.

Itulah para arif mengajarkan pada kita agar menengok juga pada sisi rahmatNya. Dosa sebesar gunung, jika meminta ampun akan diampuni. Pelacur bisa masuk syurga tersebab memberi minum anjing. Iman seberat biji sawi masuk syurga. Dan lain-lainnya. Yang bukan menafikan amaliyah, melainkan agar para pejalan yang sudah timbul kesadaran menuju Tuhan bisa legowo dan tidak putus harapan. Karena DIA menunggu kita seberapapun kita lamban menujuNya.

Pejalan, yang putus asa dari menujuNya, biasanya karena melulu memandang sisi JalaaliyahNya.

Mendengarkan wejangan itulah, saya tetiba menikmati betul detail perjalanan sore ini. Setiap lekuk jalanan adalah takdir yang saya tidak pernah mengerti kemana DIA membawa saya. Tak bisa dielakkan.

Tetapi menyadari fakta bahwa hidup ini telah dilukis olehNya yang rahmatNya mendahului murkaNya. Maka tahulah kita bahwa kita tidak boleh hilang harapan.

Sudah sejauh ini kereta berjalan. Dan kedepan sana perjalanan kita juga sudah dalam DIA punya ketetapan. Alhamdulillah.

Itulah adab dari pintu depan. Agar tidak kehilangan harapan menujuNya.

Kita tahu tangga berikutnya di atas ini adalah orang-orang yang sudah sirna dari dualitas. Bagi mereka tak ada keagungan dan welas asih. Apapun lakuan Tuhan sama saja. Tetapi namanya pejalan, biarlah step-step itu dititi secara natural. Dan jalan paling natural itu antara lain adalah tengoklah juga sisi JamaaliyahNya. Diantara suram buramnya hidup dalam pemaknaan kita yang sempit selama ini.

MENENGOK JALAN PARA WALI DAN PARA NABI

2013-jan-which-road-takenBerulang kali saya mendapat pejalaran, sebuah contoh “dedikasi” yang sederhana tapi mengagumkan yaitu tetangga-tetangga saya di komplek, utamanya para pengurus komplek yang meluangkan waktu mengurusi hal-hal berkaitan kewarga-an. Padahal mereka sendiri sibuk luar biasa.

Misalnya tentang warga komplek yang komplen karena tukang di sebelah rumah masih bekerja padahal sudah jam lewat sepuluh malam. Tentang tikungan di jalan masuk komplek, yang acapkali bikin kaget karena blind spot-nya membuat orang tak bisa melihat kendaraan di sebelah sana; akhirnya harus dipasang kaca cembung. Tentang anak-anak kecil di komplek yang harus dilindungi keseruan main sepedaan sore, sehingga polisi tidur dipasang, agar mobil-mobil yang seliweran mau tak mau harus mengurangi kecepatannya.

Semua itu, dilakukan mereka dengan dedikasi yang mengagumkan, diantara kewajiban personal mereka sebagai pekerja kantoran dengan jadwal yang padat khas kota Jakarta.

Disitulah saya sering merasa kecil, karena dalam kewajiban personal yang sama, di kota yang sama, seringkali saya tidak bisa mengimbangi ritme mereka dalam berbuat kebaikan yang sederhana tetapi nyata untuk lingkungan itu.

Tapi ya itu….. saya kembali teringat fakta bahwa tiap orang akan dimudahkan melakukan apa yang sudah menjadi bagian mereka.

Berulang kali saya ingin mengimbangi kebaikan-kebaikan orang-orang itu, tetapi sulit saya menyusulnya. Pulang kantor sudah malam, sampai dirumah pengennya istirahat karena badan letih. Sudah tak ada tenaga untuk mengimbangi rapat pengurus komplek. Hari sabtu minggu seringnya di luar rumah. Hehehe…. Singkat kata saya beryukur untuk sudah kecipratan bagian enak-nya, mengingat hal-hal administrasi kewarga-an sudah ditangani oleh banyak orang yang berhati mulia.

Selain dari pelajaran bahwa “Tiap orang akan dimudahkan menjalani sesuatu yang dimudahkan untuk mereka”, saya teringat satu kebijakan lagi tentang penghambaan. Bahasa kerennya “servanthood”.

Saya temukan kembali istilah penghambaan ini dalam tulisan-tulisan seorang reformis sufistik, Syeikh Ahmad Sirhindi. Seorang maestro besar di zamannya, yang lewat tulisan-tulisannya sudah menjelaskan dengan baik bahwa puncak spiritualitas seorang hamba adalah “penghambaan” atau servanthood.

Kesadaran Penghambaan ini, sebenarnya levelnya di atas pengalaman-pengalaman ruhani seperti: menyaksikan bahwa dunia ini semua adalah satu kesatuan, pengalaman ruhani dimana orang yang berzikir merasakan hilang kediriannya, dan semacamnya. Jadi menurut Syaikh Ahmad Sirhindi, puncak tasawuf adalah tak lain tak bukan seseorang menjadi sadar tentang kehambaan dirinya, lalu sadar bahwa dirinya dan Tuhannya memang berbeda. Tuhan ya Tuhan, makhluk ya makhluk. Tak akan makhluk jadi Tuhan. Lalu hiduplah orang itu dalam sikap penghambaan. Seratus persen membenarkan akan apa yang sudah dituangkan para Nabi dalam risalah mereka masing-masing. Atau disebut juga syariat.

Dulu memang saya sempat bingung. Kenapakah para Nabi tidak secara literal menjelaskan tentang metoda mencapai pengalaman-pengalaman ruhani. Vision. Dan semacamnya? Sedangkan dalam kajian sufistik banyak sekali kita temukan hal semacam itu? Bahkan hampir menjadi bahasan dominan?

Lewat tulisan Arif Billah Hussien Abdul Latiff, menjelaskan ulang yang disampaikan Syaikh Ahmad Sirhindi, barulah saya mengerti jawabannya, karena memang ada dua pendekatan spiritualitas / jalan menuju Tuhan.

Yang pertama, yaitu apa yang dibahasakan oleh Syeikh Sirhindi dengan Saintly Way, atau jalannya para wali. Jalan ini,  menempuh lelaku yang berat. Jalannya adalah dengan menghilangkan atribut-atribut kemanusiaan lewat lelaku yang ketat, mengalami pengalaman-pengalaman keruhanian, lalu  mendapatkan insight-insight yang menjelaskan tentang ketuhanan.

Hanya saja, jalan ini adalah jalan yang sukar. Banyak onak duri. Terlebih lagi, ini yang paling bahaya, yaitu banyak orang berhenti sebelum sampai. Saking sulitnya perjalanan dengan metoda ini.

Menurut Syeikh Sirhindi dalam Sharia and sufism, orang-orang yang berada dalam kemabukan, melihat segala hal sebagai satu, kemudian mengucapkan hal-hal kurang elok dalam kacamata syariah, mereka itu sedang berada dalam fase –anggaplah- 80% perjalanan. Sisa perjalanan sebenarnya adalah mereka keluar dari kemabukan, berada dalam ketenangan, lalu menjadi mengerti bahwa di ujung perjalanan yang diharapkan dari kita semua adalah penghambaan. Tapi, yang banyak direkam oleh sejarah, adalah kisah para tokoh yang berada di pertengahan perjalanan ini, sejarah sering tidak mencatat bahwa tokoh-tokoh itu pada akhirnya keluar dari kondisi itu -lanjut berjalan- dan menemukan di ujung perjalanan tidak berbeda dengan apa yang dirintis para Nabi. Penghambaan.

Pada titik “penghambaan” inilah, sebenarnya jalan satu lagi berdiri. Yaitu apa yang disebut dengan prophetic way, jalan Nabi-nabi. Karena para Nabi sudah berdiri di ujungnya.

Teringat saya dengan sebuah perumpamaan, para wali menyeberangi samudera, yang mana para Nabi sudah sampai di pantainya (sudah menyeberang).

Spiritualitas yang dibangun di atas jalan Nabi-nabi, tidak mensyaratkan para penempuh jalan untuk menjalani lelaku yang menegasikan atribut-atribut kemanusiaan, lalu memperoleh kemabukan dan insight-insight ketuhanan.

Alih-alih, jalan ini mengenalkan ketuhanan pada manusia, lewat syariah. Manusia dikenalkan pada Tuhan lewat jalan ilmu. Setelah mengenal Tuhan lewat ilmu, maka lanjutannya adalah mereka beribadah sesuai dengan syariah, dan ujungnya adalah keridhoan pada takdir hidup.

Dengan meniti perjalanan spiritual lewat pendekatan yang dilakoni para Nabi, seorang “pejalan” tidak perlu melewati kemabukan spiritual yang boleh jadi berbahaya jika tidak “sampai”. Melainkan, mempelajari tentang ketuhanan berdasarkan ilmu, lalu beribadah sesuai syariah yang digariskan para Nabi.

Adapun pengalaman-pengalaman ruhani yang didapatkan adalah penguat dari apa yang semula hanya dipahami lewat ilmu secara syariat, ilmul yaqin, menjadi ainul yaqin dan haqqul yaqin.

Pada keridhoan menjalani hidup; berdasarkan ilmu ketuhanan yang sudah dimiliki inilah; penghambaan itu tadi menemukan bentuk yang paling dewasa.

Penghambaan bukan lagi dimaknai sebagai –semata– sholat lima waktu, misalnya. Atau tadarus Qur’an semata. Tetapi keseluruhan hidup kita inilah penghambaan. Orang-orang yang ditakdirkan untuk menjadi pengurus komplek, kemudian dalam waktu senggangnya disempat-sempatkan memikirkan orang lain, itulah servanthood, itulah penghambaan. Hidup dalam melayani orang lain, dalam pengertian sebenar-benarnya bahwa melayani kebutuhan makhluk itu artinya mengabdi pada Tuhan (karena Tuhan mengurusi makhluk dengan mentakdirkan makhluk lainnya sebagai jalan rizki atau pengurusan).

Begitu juga pegawai di kantor. Supir Bus. Tukang dagang lontong. Abang gojek. Penjual rujak. Dosen di kampus. Ulama. Orang-orang arif. Semua menjaladi kehidupan dalam “penghambaan”. Sebagiannya menyadari itu, sebagian lainnya masih dalam perjalanan untuk menyadarinya.


*) Image Address

BELAJAR RIDHA DAN TAK TERGESA-GESA

Tak seberapa ingat kapan persisnya saya mulai menyukai kajian sufistik. Yang saya ingat hanyalah momen-momen transisi yang tak selalu berjalan mulus. Dari yang sama sekali awam dengan tasawuf lalu mulai mencecap cara pandang sufistik, saya akui kadang-kadang saya agak tidak sabaran.

Contoh tidak sabar itu umpamanya saat agenda kajian tasawuf yang bertabrakan dengan jadwal saya kerja lapangan. Kadangkali membuat saya kesal. Harusnya ngaji kok malah kerja?

Dan ketergesaan lainnya adalah momen dimana saya sekali dua pernah meninggalkan istri dan anak saya yang masih bayi di rumah. Malam-malam. Demi ngaji tasawuf. Tentu saja istri saya komplen. Dan saya? Butuh waktu lama saya baru menyadari bahwa menjaga istri dan anak yang masih bayi di rumah adalah salah satu bentuk kebaikan juga.

Butuh Sekitar semingguan, waktu bagi saya untuk bisa meredakan rasa kecewa karena telah tidak bisa menghadiri kajian. Dalam pandangan saya waktu itu, tidak ada oase lebih menyegarkan bagi keringnya jiwa saya melainkan kajian tasawuf. Sesuatu yang tadinya asing, lalu baru saya pahami sebenarnya adalah mutiara. Tetapi belakangan baru saya tahu saya telah tergesa-gesa.

Dalam Lathaiful Minan. Kisah ketergesaan sehingga rasanya ingin meninggalkan keduniawian demi meredakan kekeringan ruhani ini, ternyata pernah pula dialami seorang ulama besar, yaitu Ibnu Athaillah As Sakandari.

Demi menyadari kekeliruannya yang telah menyalah pahami tasawuf -tadinya Ibnu Athaillah adalah seorang ulama syariat yang saklek dan membenci tasawuf- Ibnu Athaillah berniat berkhidmat pada gurunya dengan meninggalkan kehidupan keduniawian. Lalu banting setir ke samudera tasawuf.

Jangan! Kata Sang guru!

Melainkan tetaplah dengan posisi dan peranan yang diberikan kepada engkau saat ini, niscaya bagian untukmu tetap akan sampai.

Mayoritas transisi kehidupan keruhanian banyak yang melewati fase tergesa-gesa seperti ini. Jangan…..

Setelah meyerah dengan takdir Allah -keadaan yang menyebabkan saya tak bisa selalu hadir dalam kajian- barulah saya menyadari betapa sebenarnya yang kita cari itu bukan ilmu, melainkan Allah SWT.

Kajian Al Hikam yang sedianya begitu abstrak dan sulit dimengerti, alhamdulillah menjadi bisa lebih mudah saya pahami. Karena ternyata perjalanan menujuNya itu sudah diset dengan peranan kita masing-masing. Perhatikan kehidupan kita. Disanalah melimpah ruah pelajaran.

Kegelisahan saya akhirnya dipupus dengan wejangan-wejangan Al Arif Ust. H. Hussien Abd Latiff.

Beliau mengutipkan kekata Syaikh Abdul Qadir al Jailani dalam Futuh Al Ghaib. “Berpuas dirilah dengan apa yang ada padamu, sampai Allah sendiri meninggikan taraf kamu.”

Kalau dulu, persepsi saya yang prematur adalah berupaya menuju Allah. Berupaya membersihkan diri. Berupaya berprestasi dalam ibadah. -dengan usaha sendiri- Lambat laun baru saya sadari bahwa sebenarnya segala hal yang kita bisa lakukan ini adalah anugerah.

Dengan itu saya tidak lagi ngoyo untuk membersihkan hati. Dan tidak lagi ngoyo untuk menujuNya -dengan kemampuan sendiri- melainkan menyadari bahwa kalau DIA buat kita mengingatNya maka akan sampailah kita padaNya.

Berusaha menyadari bahwa kehidupan ini seratus persen af’al-Nya. Maka ibadah yang diperbuat tidak lagi terlihat sebagai unjuk prestasi. Alih-alih sebagai bentuk kesyukuran.

Menyadari bahwa dalam perjalanan ini akan penuh dengan naik-turun. Menyadari bahwa selama masih terlihat adanya “diri” maka selama itu pula naik turun akan tetap ada.

Dan menyadari bahwa tidak akan bisa benar-benar hilang “diri” tanpa anugerah tarikan ilahi. Orang yang ditarik atau muqarrabin adalah orang yang didekatkan. Sementara kita ini levelnya masih orang yang “berjalan”. Selama masih belum sampai gerbang pintuNya, maka tak ada lain adabnya selain dari ridho dan tak tergesa-gesa.

Kita tetap hidup dan berbuat kebaikan semampu kita, hidup seperti biasa. Tetapi dengan menyadari af’al maka pelan-pelan terlihatlah kehidupan seperti bergerak otomatis. Dan bersyukurlah kita untuk telah diberikan kesempatan mengenalNya.

BELAJAR NAFI DAN ITSBAT

fire-and-water

Dua hari lalu saya tertinggal bus antar jemput dari kantor, jadi terpaksa naik Go-Car. Sepanjang jalan saya berbincang dengan seorang supir yang begitu ramah, dan uniknya dia hobi berdzikir.

saya melihat ada dua tasbih kecil di mobilnya, satu bergayut di persnelling. satunya di kaca tengah. “Banyak amat tasbihnya, Mas?” saya iseng bertanya.

“Iya pak… ya namanya di jalan, kadang kalau lagi iseng saya suka gini-gini,” katanya sambil memraktekkan memutar tasbih. “Supaya ati adem pak. Alhamdulillah ketemunya yang baek-baek.” katanya.

Wah…..luar biasa, kata saya. Senang sekali saya dapat teman ngobrol yang asyik. Lalu obrolan berlanjut ke hal-hal lain. Mulai dari jalanan macet, hujan, dan terpal di mobil-mobil truck yang suka beterbangan di jalan tol.

Teringat saya, dulu saya juga pernah selalu membawa tasbih kemana-mana. Tasbih yang kecil, saya selipkan di tas. Sebagai cara untuk belajar memperbanyak mengingat Allah, dengan banyak-banyak menyebut asma.

Seiring berjalannya waktu, baru saya memahami satu kebijakan berikutnya, bahwa lafadz adalah gerak fisik. Tetapi ada yang lebih langgeng dari gerak fisik, yaitu “suasana batin” yang di dalam. Seumpama seseorang menangis, menangis adalah gerak luar. Tetapi “rasa sedih” adalah di dalam. Kita bisa sedih secara terus menerus selama seminggu. Tetapi rasanya kalau menangis terus seminggu ya susah. Boleh jadi orang sedih, tapi tidak menangis.

Ada yang mengajarkan untuk mulai dari yang fisik luaran, lalu lama-lama masuk ke dalam. Tetapi kemudian saya bertemu seorang Arif yang mengajarkan untuk langsung “masuk ke dalam”, nanti yang dalam ini akan terpancar keluar. Skema yang berbeda, kebijakan yang berbeda, tetapi bagi saya dua-duanya apik pada tangganya sendiri-sendiri.

Satu lagi kebijakan yang saya temukan adalah kalau dulu saya sering mengaitkan segala kejadian dengan sifat-sifat Tuhan. Seumpama, saya ketemu sopir mobil yang baik hati, ini maknanya Tuhan sedang berbaik hati pada saya. Lalu kalau saya mengalami sebuah hal yang kurang enak, ini maknanya Tuhan sedang menguji saya. Lalu Tuhan terpandang dalam dualitas, sesuai dengan tingkat pendewasaan cara saya berfikir.

Padahal, setelah kesini-sini, baru saya sadar bahwa kadang-kadang yang memaknai Tuhan dengan macam-macam sifat-sifat itu manusianya sendiri. Tergantung seberapa dewasa kita. Hari hujan, bisa dipandang sebagai ujian bagi tukang es cendol, bisa dipandang sebagai kebaikan Tuhan; oleh seorang petani.

Walhasil, citra sifat-sifat Tuhan jadi beragam-ragam tergantung manusianya memandangnya seperti apa. itupun baik, selama kita menyifatiNya dengan sifat yang layak bagiNya.

Tetapi sang arif berkata, mengenali sifat-sifat akan membawa manusia kepada gegaran, kepada dzauq. Kondisi ruhani. Bisa gemetar ketakutan. bisa melimpah ruah bahagia. Tetapi sebenar-benar ketentraman sejati hanya jika seseorang mengenali af’al.

dan kunci mengenali af’al atau perbuatan Tuhan itu, menurut seorang guru, adalah menyadari bahwa perbuatanNya itu DIA kenakan pada dzat-Nya sendiri. Hal ini agak pelik dipahami memang, tetapi dengan pengetahuan terkini sebenarnya masuk akal.

Dulunya orang mengira bahwa unsur terkecil penyusun manusia itu adalah atom. lalu setelah diteliti sekarang-sekarang setelah manusia makin canggih, ternyata beda lagi. Entah apa namanya yang lebih kecil dari atom. Tetapi yang jelas semakin kecil, semakin tidak memiliki sifat-sifat materi. Dan ini yang penting, ternyata semakin kedalam semakin tidak ada keterpisahan. Keterpisahan itu hanya ilusi di dunia makro saja.

Keseluruhan ciptaan, ternyata dari satu unsur yang sama. Unsur itulah yang disebut dengan hakikat ciptaan. Bahasa sufistiknya sering disebut dengan dzat. sesuatu yang entah apa, tidak diketahui seperti apa. Tetapi dzat yang menjadi unsur kesemua ciptaan itu bukan Tuhan itu sendiri. dzat itu adalah milikNya. Ciptaan-Nya. (orang sering mengelirukan hakikat ciptaan dengan Tuhan itu sendiri).

Dengan mengetahui fakta ini, bahwa seratus persen kehidupan ini adalah af’al-Nya, maka pelan-pelan mulai belajar menafikan apa yang tampak mata. Dan menyadari disebalik apa yang tampak sejatinya adalah dzat-Nya. milik-Nya. DIA berbuat apa saja yang DIA mau, karena seratus persen tidak ada kewujudan lain selain dari dzat (milik) Nya sendiri.

Hanya itulah kunci ketentraman sejati. Mengingat Sang Pemilik. Pemilik sifat, Sang pemilik dzat. Hanya itu cara lepas dari dualitas suka dan duka.


*) image taken from this source

DIKRITIK OLEH KEHIDUPAN

Kalau saya melihat ke belakang, dari sekitar lima tahunan lebih saya bekerja di kantor, sudah sedemikian banyak saya merubah cara pandang, cara bersikap, dan semacamnya, tersebab sering menerima kritik.

Kultur kritik yang membangun itu, anehnya, sama sekali tidak saya rasakan sebagai hal yang menyerang saya secara pribadi. Alih-alih terasa sebagai sebuah momen upgrade diri. “ooooh ternyata saya masih bisa improve di sisi ini toh.”

Padahal, jika kritik diluar wacana profesional seperti di kantor kadang-kadang saya tersinggung juga. Hahahahaha. Namanya manusia.

Tetapi setelah saya perhatikan, cenderungnya saya dalam menekuni khasanah tasawuf juga disebabkan oleh “kritik” kehidupan atas cara saya memaknai kehidupan itu sendiri. Orang bilang, ini disebut “ujian”.

ibnu Athaillah As Sakandari berkata, dalam Al Hikam, yang maknanya kurang lebih “sesiapa yang tak suka menuju Allah lewat halusnya karunia Allah, maka akan diseret menujuNya lewat rantai ujian.”

Lewat penjelasan Al Arif Ust. Hussien Abd Latiff menjadi pahamlah saya bahwa sesuatu yang selama ini kita sebut sebagai ujian itu, goal-nya tak lain dari perubahan paradigma. Merubah cara pandang kita. Sehingga dari sana muncullah istilah “Abdal” atau pertukaran. Istilah wali Abdal maksudnya adalah seseorang yang sudah mengalami perubahan paradigma, menjadi pribadi baru. Bertukar cara pandangnya karena menjadi kenal kepada Allah.

Salah satu perubahan cara memandang hidup, yang saya baru sadari setelah menyimak khasanah tasawuf adalah memandang hidup sebagai af’al-Nya. Lakuan Tuhan, melalui dzatNya yg menjadi hakikat semua ciptaan.

Sebagai contoh, kalau dulu seandainya saya mempunyai masalah di kantor, saya akan menganalisanya. Ini karena begini. Karena begitu. Lalu untuk mengatasinya harus begini begitu. Ini approach atau pendekatan paling awam. Murni analisa sebab-akibat semata.

Di atas itu, saya baru menyadari bahwa masalah apapun saja, kejadian apapun saja adalah cara DIA bercerita tentang diriNYA sendiri. Disitu menjadi gemetar dan takut. Karena memandangkan bahwa Allah begitu kuasa membolak-balikkan keadaan sesuka DIA. Dari sini menjadi memahami kehidupan sebagai pagelaran sifat-sifatNya. Ini approach kebanyakan pejalan ruhani.

Satu hal yang luput dari pengamatan saya, kemudian dikoreksi oleh Sang Guru adalah bahwa sifat-sifat, tidaklah bisa lepas dari dzatNya. Hakikat semua yang sifat-sifat yang tampak dan bisa dirasa, diraba, diteliti, dimengerti, dst. Adalah setitik dzatNya. Tidaklah mungkin sifat terpisah dengan dzatNya.

Dari sana. Barulah saya sedikit memahami bahwa keragaman, dan dualitas hanya akan sirna saat kita mengerti bahwa disebalik keragaman adalah dzatNya semata-mata.

Hal ini masuk akal. Apalagi jika suka membaca bahasan fisika quantum. Bahwa segala yang ada ini kalau diteliti lebih dalam sebenarnya hologram saja. Tak punya wujud sejati. Akan tetapi harus hati-hati, bukan menganggap bahwa ciptaan sama dengan Tuhan. Melainkan ciptaan dan sifat-sifat yang zahir batin adalah muncul dari dzatNya. Setitik saja dzatNya itu dibandingkan kemaha besaranNya.

Itulah kritik terbesar atas cara pandang saya pribadi. Sehingga sekarang setiap kali ada ujian dan terasa seperti ada JEDERRRR di dalam diri saya. Ada sedih dan duka. Tahulah saya apa yang terjadi. Tak lain tak bukan saya masih cenderung menggunakan cara pandang yang lama itu. Yaitu terlalu menganalisa kehidupan lewat analisa sebab-akibat. Selama cara pandang itu saya pakai. Selamanya akan ada suka duka. Saya harus beranjak dari sana.

Lalu terasalah hidup sebagai cerminan dualitas Jamal dan Jalal-NYA. Tetapi itu sifatNya.

Lalu menyadari bahwa yang dituju adalah Sang Pemilik sifat. Bukan sifatNya. Bukan dzatNya. Hanya itulah cara untuk tenteram dengan sebenar-benarnya. Itulah Imam Ghazali berkata bahwa kebahagiaan sejati hanya didapat jika mengenaliNya. Saya bersyukur atas kritik kehidupan sehingga mendewasakan cara saya memaknaiNya.

BERJALAN KE PINTU BELAKANG

Baru saja pulang dari mengantar anak ke tempat favoritnya. Kolam renang. Setelah melewati semingguan hari kerja yang padat dan riuh. Mumpung ada sejenak waktu lowong.

Betapa hari-hari kerja yang padat seringkali membuat kita menjadi keluar ke “pintu depan”.

Ada sebuah perumpamaan mengenai pintu depan dan pintu belakang. -Dua istilah yang saya temukan dalam kajian Al Arif Ust. Hussien Abdul Latiff.-

Umpamanya hari hujan deras. Dan ada tiga orang terperangkap dalam shelter bus. Berteduh menanti hujan reda.

Orang pertama duduk bersandar dan seolah melamun. Melihat tetesan hujan yang sambung menyambung terjun dari atap. Dalam fikiran orang pertama itu, dia mengira-ngira berapa banyak debit air yang turun dalam setiap jam-nya? Jika hujan tak henti-henti, maka bisa-bisa kotanya akan tenggelam.

Orang kedua, duduk bersandar dan terlihat seolah merenung. Dia melihat tetesan hujan yang deras, dan mendengar petir bergemuruh. Teringat olehnya betapa kuasanya Tuhan yang mampu menurunkan hujan dan petir. Karena membayangkan sifat keuasaan Tuhan, maka bergetarlah orang tersebut dan menggigil ketakutan.

Orang ketiga, matanya terpejam. Dia melihat hujan dan mendengar rentak petir bertalu. Tetapi dalam pandangannya semua yang nampak mata itu sebenarnya tak punya wujud sejati. Dibalik semua yang nampak mata hakikatnya adalah dzat-Nya semata-mata. Maka dia sibuk mengingati sang pemilik dzat dan sifat-sifat yang tampak itu.

Orang pertama. Yang menghitung debit air. Adalah kebanyakan manusia pada umumnya. Mereka melihat benda semata.

Orang kedua. Adalah apa yang dibahasakan Qur’an sebagai Ulul Albab. Orang yang bertafakur dan melihat segala yang tampak mata sebagai cerita sifat-sifat Tuhan.

Tetapi orang ketiga. Adalah muqarrabin. Orang-orang yang didekatkan. Mereka tidak lagi sibuk menganalisa hal-hal empiris. Dan mereka tidak lagi sibuk mengingati “sifat-sifat”. Melainkan mereka tenang didalam ingatan padaNya. Sang Pemilik dari segala yang ada.

Orang ketigalah yang dimaksud dengan orang yang selalu masuk pintu belakang. Pandangan yang berbeda dari apa yang dilihat kebanyakan orang lewat pintu depan.

Memang seringnya sih, kesibukan kerja dan kesulitan hidup membuat kita mau tak mau menggunakan pendekatan pintu depan. Akan tetapi, menurut Sang Guru, alah bisa tegal biasa. Lancar kaji karena diulang.

Yang harus sering diulang rupanya adalah masuk dalam approach orang ketiga itu. Duduk di pintu belakang. Dan melihat sandiwaraNya. Orang-orang yang tenang. Yang masuk dalam jamaahNya.

Perjalanan yang panjang. Tetapi kita menjadi rileks juga karena mengetahui bahwa pada akhirnya DIA-lah yang menyampaikan kita. Bukan karena kita sendiri. Jadi harapan selalu ada.

BERJALAN KE PINTU (2)

Bisakah manusia membersihkan hatinya secara permanen? Atau bisakah manusia mengingat Allah secara langgeng 24 jam?

Jawaban pertanyaan itu barulah kembali terajut dengan apik setelah saya menemukan bahasan Rumi dalam Fihi Ma Fihi, beliau menjelaskan tentang Abu Yazid Al Busthami yang menginginkan agar “tidak menginginkan”.

Kata Rumi, ketiadaan kehendak bukanlah sifat manusia. Dengan ketiadaan kehendak, maka manusia akan “hilang” punah secara total. Hilangnya kehendak dari diri manusia inilah yang dimaknai sebagai ketersambungan yang stabil kepada Tuhan. Ingat Tuhan fulllllll (Ini makna majazi lho ya, hehehe).

Keadaan itu, kata Rumi, di luar kemampuan manusia. Hanya bisa tercapai dengan “jadzbah” tarikan ilahi. Maksudnya kalau ditarik sama Allah masuk dalam keadaan itu, barulah seseorang bisa “hilang dirinya” dan dawam mengingati Tuhan.

Saya teringat Al Arif Ust. Hussien mengibaratkan perjalanan manusia dalam “menuju Tuhan”. Seumpama orang mendaki gunung. Di tiga perempat perjalanan, sebelum puncak gunung, ada “basecamp”. Tempat orang beristirahat.

Basecamp itulah puncak usaha manusia. Basecamp dalam istilah Al Arif Ust. Hussien Abd Latiff ini dalam bahasa Syaikh Abdul Qadir Al Jailani dalam Futuh Al Ghaib adalah “gerbang istana Raja”. Dalam bahasa Ibnu Arabi, usaha terjauh manusia adalah sampai ke “Pintu-Nya”. Mengetuk terus menerus pintuNya sampai DIA mempersilakan masuk.

Kalau kita pakai bahasa yang lumrah dalam kalangan ahli syariat. Perjalanan manusia yang masih “dalam batas usaha manusia” itu disebut sebagai orang-orang mukhlish. Orang-orang yang berusaha mendarma baktikan hidupnya untuk Tuhan. Berusaha ikhlash. [1]

Akan tetapi, selama-lamanya manusia jika berada dalam spiritual state yang ini, mereka akan menemukan hati mereka terbolak-balik. Kadang bener, kadang ga bener. Kadang ingat, kadang lupa.

Setelah belajar spiritualitas islam, atau Tasawuflah saya baru paham bahwa selama-lamanya manusia tidak akan bisa bersih hatinya. Atau dalam bahasa lain, jika pakai istilah ego; selama-lamanya manusia tidak akan hilang “keakuannya”. Sebelum mendapatkan tarikan ilahi. Jadzbah.

Tetapi jangan bersedih hati. Tugas manusia adalah menjalani pendakian itu. Seumpama berjalan, berjalanlah terus sampai gerbang. Sampai pintu. Sampai basecamp.

Atau istilahnya, berjalanlah terus sampai shelter bus. Dan berdiamlah disana, tunggu sampai “jemputan” datang.

Orang-orang yang “dijemput” atau didekatkan kepada Tuhan, inilah yang disebut sebagai golongan muqarrabin. Atau dalam bahasa para ahli syariat disebut sebagai “Mukhlash”. [2]

Orang yang berada pada spiritual state yang inilah. Yang tidak bisa diganggu oleh syaitan. Hilang “aku”nya. Dan bisa mengingatiNYA dengan langgeng 24 jam.

Tugas kita hanyalah berjalan dengan “sopan” sampai ke GerbangNya. Mengetahui bahwa selama-lamanya kita tidak akan bisa bersih sampai DIA yang membersihkan.

Dan perkara sopan santun atau adab hati ini banyak sekali dibahas dalam ranah tasawuf. Sisi batin keberagamaan yang seringkali asing bagi manusia modern sekarang.

::

[1] Mukhlish

فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadat kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya). (QS Ghafir : 14)

[2] Mukhlash

إِلَّا عِبَادَ ٱللَّهِ ٱلْمُخْلَصِينَ
Kecuali hamba-hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa tidak akan diazab). (As-Saffat 37:74)

https://debuterbang.wordpress.com/2018/01/17/berjalan-ke-pintu-2/

MENCARI KERJA DAN MENCARI TUHAN

Related imageBerapa hari lalu, saya dikunjungi oleh adik saya yang nomor dua. Menjenguk ponakannya yang baru lahir, sekaligus ikut tes kerja di salah satu perusahaan Swasta di Jakarta Utara.

Tes kerjanya memang belum beruntung. Tidak sampai ke tahap interview, gugur pada babak psikotest. Tetapi sepanjang perjalanan sejak dari rumah, saya antar ke tempat test menyusuri jalan tol, dan momen diskusi kecil sambil sarapan waktu itu, saya rasa sedikit banyak sudah memberi warna baru bagi cara pandang adik saya. Dan utamanya sebagai reminder bagi saya sendiri.

Sudah sekira sepuluh tahun saya tinggal di Jakarta, sebelumnya saya tinggal di Bandung dan di Sumatera. Saya merasa bersyukur untuk telah diberikan oleh Allah kesempatan kerja yang banyak sekali memberikan pelajaran-pelajaran hidup. Justru dari momen-momen dalam kerja kantoran itulah saya menyadari bahwa untuk mendapatkan hikmah hidup, rupanya seseorang tidak harus menjadi pertapa, menyepi dan lebur dalam sikap asketis yang meninggalkan duniawi. Tidak.

Ternyata hikmah hidup justru banyak kita dapat dalam babak belurnya kita menjalani kehidupan.

Saya katakan pada adik saya, makna bahwa “Allah-lah yang menjaminkan kita rizki”; itu akan lebih dirasakan olehnya setelah bolak-balik tes kerja kesana kemari. Rasa hati yang “fakir” dan butuh kepada Tuhan itu, sebenarnya jarang ditemukan dalam –semata– momen tirakat. Peribadatan, itu akan menjadi “tajam” dan “dalam” jika hikmah sudah kita temukan dalam hidup.

Sebagaimana Rasulullah SAW yang berdoa agar dihidupkan dalam keadaan miskin, dimatikan dalam keadaan miskin, dan dibangkitkan dengan orang-orang miskin. Saya memahami bahwa miskin ini maksudnya bukan tidak berdaya secara ekonomi dan lemah. Melainkan keinginan beliau untuk hidup, mati, dan dibangkitkan dalam golongan orang-orang yang selalu merasa “butuh” kepada Tuhan. fakir ilallah.

Dan rasa butuh kepada Tuhan ini hampir pasti kita temukan dalam kehidupan kita sendiri. Rasa butuh kepada Tuhan, atau rasa fakir, yang kemudian membuat kita menyadari bahwa tiada jalan lain kecuali kita kembali kepadaNya. Lewat hal-hal seperti itulah kita menyadari bahwa ooh… betul, DIA yang menjaminkan kita rizki.

“Dia yang menjaminkan kita rizki”, itu kalau disingkat dalam satu kata, itulah Ar-Razzaq, atau Maha Memberi Rizki. Salah satu nama-Nya. Yang mana nama itu merangkum salah satu topik yang DIA hadirkan dalam hidup kita.

Menyadari bahwa kehidupan setiap orang sebenarnya adalah di dalam suatu topik tertentu. Karena Allah ingin menceritakan diriNya. Itulah sebenarnya menyadari af’al Allah. Perbuatan Allah.

Menyadari bahwa setiap kejadian hidup adalah af’alNya. Itulah kurang lebih salah satu pendekatan sufistik. Pendekatan dengan “rasa”. ini adalah keping satu lagi, dari dua keping keberagamaan yang indah, lahir dan batin.

Kalau keilmuan syariat itu mengumpulkan bukti-bukti. Kalau keilmuan batin itu mengajak menyelami “rasa”nya.

Dua-duanya penting. Hanya saja, sebenarnya ada missing link, mata rantai yang hilang yang membuat orang-orang modern kehilangan sisi batin dalam beragama. Seolah-olah keberagamaan yang syariat dan keberagamaan yang membahas sisi batin, itu bertolak belakang. Sisi batin agama hanya dikenali sebagai kumpulan klenik.

Padahal, jika kita mengetahui bahwa sisi batin agama, justru menjawab persoalan-persoalan manusia modern sekarang ini, maka kita akan tertarik menyelaminya secara lebih jauh. Sisi batin agama akan menjadi hal yang indah, lepas dari pemaknaan yang melulu mistis.

Itulah yang saya katakan kepada adik saya. Semoga dia mengerti.

Engkau sudah banyak mengkaji mengenai keilmuan syariat. Misalnya dari buku A engkau temukan seratus bukti bahwa DIA Maha memberi rizki. Lalu dari buku B engkau temukan dua ratus bukti. Akan selalu ada rasa “kok sepertinya masih ada yang kurang ya?” selagi kita belum masuk ke dalam pendekatan satu lagi dalam beragama, engkau akan menghabiskan waktumu belajar premis-premis beratus ribu banyaknya. Sampai engkau mengerti bahwa ada satu keping lagi dalam keberagamaan kita, yaitu sisi batinnya.

Inilah, hidup kita sekarang inilah. DIA sedang bercerita, tentang diriNya sendiri.

 


*) Image Sources Taken from here

BERJALAN KE PINTU

Mulanya saya tak paham benar bedanya istilah maqomat dan ahwal dalam literatur tasawuf. Belakangan baru saya mengerti bahwa ahwal (bentuk plural dari “Hal”) adalah istilah yang mewakili kondisi batin seseorang. Kondisi ini belum ajeg, masih datang dan pergi. Ketika kondisi itu sudah menetap dan kukuh terpatri dalam diri, menjadilah kondisi itu suatu maqom yang stabil.

Umpamanya. Selepas nonton filem dokemnter tentang kemiskinan, sebuah “hal” mendatangi kita. Maka kita merasa demikian haru dan trenyuh ingin membantu orang. Tetapi karena belum ajeg, suasana itu hilang timbul. Hingga berapa bulan kedepan kita sudah seperti biasa saja, dan gejolak “hal” yang kita dapatkan di awal itu lenyap. Urung menjadi maqom.

Suasana hati atau “hal” itu. Dia bisa mewujud dalam dua gambaran besar setidaknya. Yaitu pertama berupa ketersingkapan akan hal-hal yang batin, dan yang kedua anugerah berupa hikmah-hikmah yang dengan hikmah itu cara pandang berubah.

Semata ketersingkapan batin tanpa ilmu dan hikmah yang benar akan membuat seseorang jatuh pada kesimpulan yang keliru. Dan cenderung mistis semata.

Seumpama seorang yang hidup di pedalaman hutan, lalu disingkapkan padanya kehidupan perkotaan dimana dia melihat mobil lalu lalang. Tetapi karena ilmu dan hikmah tak turun padanya, maka dia mengira mobil itu adalah binatang. Dia berkesimpulan keliru.

Sebaliknya. Semata ilmu dan hikmah, akan membuat seseorang paling jauh menjadi filosof. Atau hukama saja. Padahal, approach sufistik itu melampaui semata tafakur. Tafakur semata tanpa ada olah rasa adalah jalan para filosof.

Umpamanya pada ilustrasi tadi. Seorang di pedalaman mendapatkan insight bahwa mestilah pada kehidupan di lain tempat yang lebih modern, manusia sudah bisa menggantikan tunggangan dengan kendaraan mesin. Tetapi dia tidak pernah “menyaksikannya”.

Hikmah dan ketersingkapan yang match dan ajeg itulah yang menjadikan seseorang duduk pada maqom.

Dulu, saya mengira semuanya itu anugerah. Jadi ya “tunggu” saja. Nanti juga sampai.

Ternyata, dalam tanda kutip. Memang benar semua itu anugerah. Tetapi tugas manusia adalah “berjalan” sampai ke pintu.

Istilah Syaikh Abdul Qadir Jailani, gerbang istana raja. Istilah Ibnu Arabi kalau tak salah “pintu”.

Sampai ke situlah batas usaha manusia. Berjalan sampai ke pintuNya. Dan menunggu dengan sabar sampai dibuka.