About debuterbang

Seorang pendosa, yang meniti jalan kembali kepadaNya.

MENYETIR DIRI DENGAN AIR DAN API

air apiSewaktu menemani istri saya ke RS untuk periksa kehamilan, disitu saya semakin merasakan betapa pentingnya asuransi kesehatan. Biaya kesehatan baru “terlihat” saat ada momen-momen tertentu seperti rawat jalan atau rawat inap kalau sakit.

Dalam hal asuransi, saya termasuk beruntung karena asuransi kesehatan dijamin kantor. Alhamdulillah, jadi tidak terbebani dengan biaya Rumah Sakit.

Sebelumnya, selama beberapa hari saya tenggelam dalam kegiatan mewawancarai beberapa orang yang melamar ke Perusahaan tempat saya bekerja, dan beberapa dari mereka adalah orang-orang yang sangat berpengalaman, jauh melampaui saya, tetapi sekarang sedang tidak beruntung karena kondisi dunia MiGas sedang gonjang-ganjing dan mereka terpaksa menganggur dulu.

Mengamati fakta bahwa banyak senior menganggur, dan saya termasuk beruntung masih bekerja di kantor dengan segala kemudahan fasilitasnya itu; membuat saya merasakan betapa lemah sebenarnya kita ini. Hidup dalam ombang-ambing takdir.

Dalam sekerlip mata, segala kenyamanan fasilitas seperti yang pernah didapatkan para senior-senior saya itu, bisa hilang dalam sekejap. Karena kondisi dunia perminyakan yang tidak stabil.

Dan tidak hanya urusan perminyakan atau urusan dunia swasta. Dalam dunia Pegawai Negeri Sipil pun kondisi juga bisa berubah dalam sekerlip mata. Mutasi….. pergantian pimpinan. Perubahan kebijakan. Pergeseran pemain. Dan segala macamnya yang merubah tatanan yang sudah stabil, lalu membuat kita harus adaptasi lagi.

Dalam menghadapi situasi yang berubah-ubah itu, dalam menghadapi tuntutan-tuntutan pekerjaan, kadang-kadang sikap mental waspada seperti “perang” dibutuhkan. Adrenalin meningkat. Lalu kinerja meningkat dan membuat langkah-langkah strategis yang diperlukan untuk bergerak menyesuaikan dengan kondisi. Ambisi dan siasat.

Dalam bahasanya Imam Ghozali, hidup berkeseharian dalam mentalitas yang “siaga”, penuh “ambisi”, seperti mode “perang” ini adalah karena kita menggunakan elemen “Ghadab” alias elemen “Kemarahan”, “anger” di dalam diri.

Di dalam diri manusia, ada “Kesadaran” manusia atau “hati”, sebagai rajanya. Dan ada elemen-elemen tak nampak “di luar” hati itu. Elemen yang tak nampak itu berguna sebagai “alat” bagi manusia.

Beberapa diantaranya adalah “kemampuan nalar atau rasio”, dan yang lainnya adalah elemen “marah” dan elemen “nafsu”.

Elemen “marah” itu, disini bukan berarti marah ngomel dan memukul orang secamam itu semata. Tetapi lebih ke “ambisi”.

Sedangkan elemen “Nafsu”, nafsu disini tidak semata berarti syahwat, tetapi lebih ke keinginan-keinginan atau hasrat badani yang lain, semisal makanan, hasrat keindahan, dan juga syahwat.

Maka saat sedang dicekam suatu perkara, suatu masalah. Saya perhatikan polanya Imam Ghozali ini sungguh benar.

Jika kita sedang “full konsentrasi”, mode “siaga”, semangat dan ambisi mengerjakan sesuatu, berarti kita menggunakan elemen kemarahan, elemen ambisi di dalam diri kita. Implikasinya, struktur pertahanan diri kita akan dengan refleks menaikkan elemen satunya lagi yaitu “nafsu” atau “hasrat”.

Maka kalau kita stress terlalu fokus bekerja, biasanya hasrat makan meningkat. Atau hasrat plesiran jalan-jalan. Atau syahwat. Seperti api disiram dingin. Karena tubuh kita menstabilkan dirinya sendiri.

Menarik sekali, bagaimana “hati”, “kesadaran” kita bisa menggunakan elemen kemarahan dan nafsu di dalam dirinya untuk menyelesaikan suatu perkara. Tetapi, jika sang hati tidak kuat, semisal karena “nalar atau rasionya” kalah oleh elemen kemarahan dan nafsu, maka dia akan didominasi oleh ambisinya sendiri, atau dibakar nafsunya sendiri. Sebuah kaitan yang sangat logis.

Menggunakan elemen-elemen dalam diri, dalam kaitannya untuk mencapai kepentingan tertentu, adalah jalan “depan”.

Tetapi ada jalan satu lagi. Selain dari lewat “pintu depan” yang pada akhirnya mengharuskan kita pandai-pandai menyetir elemen itu, kalau tidak hendak dibelit dan terbakar oleh mereka. Ada juga jalan “belakang”.

Jalan “belakang” ini adalah menyadari bahwa segala hiruk pikuk dunia pekerjaan, dan hiruk pikuk masalah sehari-hari sebenarnya adalah dalam genggaman DIA semata-mata. Maka alih-alih terlalu semangat menggunakan elemen-elemen dalam diri kita untuk menyelesaikan suatu perkara, kita malah harus sering-sering “berpasrah” dan dalam kondisi “relax” menyerah.

Kondisi pasrah ini, pada gilirannya memudahkan ilham-ilham kebaikan untuk turun dan memberikan solusi dari suatu masalah.

Pada akhirnya, dua-duanya perlu. Pengenalan terhadap anasir-anasir dalam diri sendiri, dan kemampuan untuk mereset ulang semuanya kembali ke “nol” agar pasrah pada pengaturan Tuhan.

Barangkali, setelah saya renungkan, urutan skema yang paling baik adalah dengan berpasrah sampai insight-insight kebaikan atau solusi mendatangi kita, lalu kemudian baru bergerak dengan mengoptimalkan elemen-elemen di dalam diri. Dengan begitu, kita seperti seorang pembalap yang menyetir mobil dengan kecepatan penuh, waspada dengan pedal gas dan rem, tetapi sekaligus “tahu” kemana kendaraan kita biarkan melaju.


*) gambar ilustrasi diambil dari link berikut ini

MEMBEDAH DIRI ITU BAIK UNTUK ORANG TUA DAN MUDA

Libur kemarin, iseng-iseng saya googling mencari tema menarik dan menemukan sebuah bahasan tentang “How to overcome laziness”, teknik menyiasati kemalasan.

Saya tertawa geli membacanya, karena ternyata ada orang-orang yang lebih males gerak alias “mager” ketimbang saya mager di hari libur.

Seseorang menceritakan bahwa dia harus mengganti ban mobilnya yang kempes, dengan ban serap, tetapi dia begitu males waktu itu. Bagaimana dia menyiasatinya?

Alih-alih mengerjakan suatu pekerjaan satu waktu sekaligus –yang akan membuat dirinya secara psikologis merasa beban kerja terlalu berat dan akhirnya males-, dia malah membagi pekerjaan itu menjadi bagian-bagian kecil.

Umpamanya, pekerjaan mengganti ban mobil dibagi menjadi lima: 1) Mengambil dongkrak dan peralatan kunci-kunci. 2) Memasang dongkrak. 3) Melepas ban dan baut-baut 4) Mengganti ban dan menguatkan baut. 5) Akhirnya beres-beres dan pekerjaan selesai. Satu pekerjaan di-breakdown jadi lima pekerjaan kecil.

Mengambil dongkrak dan peralatan……nah…. Semales apapun orang, kalau kerjanya hanya ambil dongkrak tentu saja bisa ambil dongkrak doang. Oke……akan saya lakukan ambil dongkrak doang kok. Gampang….

Setelah dongkrak diambil, dia istirahat nonton TV bentar, nyanyi-nyanyi, minum kopi, lalu lanjut ke pekerjaan kedua. Walhasil pekerjaan selesai, malas teratasi, meskipun waktu pelaksanaan menjadi panjang karena diselingi dengan banyak betul istirahat, hahahahhahahaha.

Menarik memang, bagaimana orang tersebut melakukan sesuatu dalam rangka menyiasati dirinya sendiri. Ini bagian dari kemampuan mengenali diri sendiri lho.

Dan percaya tak percaya, sub-bab mengenali diri sendiri ini adalah bagian dari kajian besar ilmu tasawuf atau spiritualitas islam. Hal inilah yang saya seringkali membatin sendiri, sungguh sangat sayang sekali jika para pemuda tidak mengetahui khasanah yang sangat kaya dari ilmu tasawuf, karena tasawuf ini praktikal sekali dalam hidup keseharian.

Umpamanya dalam kajian Imam Ghozali. Satu bab sendiri dalam Ihya Ulumuddin itu isinya mengajari manusia mengenali dirinya sendiri. Bahwa diri manusia ini bisa dibagi menjadi bagian-bagian terpisah. Sederhananya ada yang fisikal terindera yaitu jasad yang kita lihat ini. Dan ada yang ruhani alias ga kelihatan.

Bagian ruhaninya ini, bisa dipecah lagi, ada kesadaran terdalam manusia yang memahami sesuatu, mengerti sesuatu, yang menjadi “raja” di dalam kerajaan mikro yaitu diri manusia itu sendiri. Itulah “hati” atau “qalb” atau “aql” dalam definisinya yang ruhani.

Lalu ada anasir lain yaitu “intelek”, “nafsu”, “amarah”, dan seterusnya.

Yang mana sejatinya diri kita? Yang sejatinya manusia itu adalah yang sadar itu. Alias hati-nya.

Bahasan ini agak abstrak sedikit bagi yang tidak pernah mengikuti kajian serupa. Saya yakin bahasan Imam Ghozali akan menjadi sangat familiar di kalangan orang-orang yang akrab dengan kontemplasi. Umpamanya para meditator dan atau misalnya kalangan pengkaji psikologi kultural jawa seperti Ki Ageng Suryomentaram. Dan tentu bagi kalangan tasawuf ini sangat lumrah.

Nah…. Selain dari urusan mengenali partisi-partisi dalam diri, – yang sebenarnya lebih mirip kajian psikologi ini-, spiritualitas islam juga membahas hal yang lebih jauh, semisal –saya kutipkan dari bab yang diajarkan oleh Guru kami- yaitu : Mengenali Allah. Bagaimana kaitan antara Tuhan dan alam? Lalu bab mengenai bagaimana mengingati Tuhan? apanya yang diingat? Lalu bab mengenai bagaimana Tuhan mentadbir alias mengurus alam semesta? yang berujung pada keridhoan terhadap pentadbiran. Dan pada akhirnya adalah bagaimana beribadah dalam bingkai kepahaman yang baru dan lebih tajam itu.

Itu semua adalah Bab bahasan dalam paket ilmu spiritualitas islam. Termasuk diantaranya adalah Bab mengenai memahami partisi-partisi di dalam diri sendiri.

Permasalahannya adalah, banyak anak muda yang mengira bahwa tasawuf adalah ilmu orang tua belaka. Padahal, misalnya bab mengenali diri sendiri, ini sangat fundamen lho.

Mengikuti siklus Imam Ghozali, kepahaman atau ilmu berbuah menjadi “hal” spiritual atau kondisi ruhani. Kondisi ruhani tiap-tiap orang menyetir amal mewujud. Jadi dari “dalam” berbuah “keluar”.

Selama ini, kita hanya akrab dengan “yang terindera” alias empiris saja.

Apa contohnya yang empiris itu? Yang empiris itu ya misalnya contoh paling pertama kita bincang di atas tadi. Jika kita “malas” maka kita mengatasinya dengan –semata- jalan “luar”, yaitu menganalisa pekerjaan kita, lalu membagi pekerjaan menjadi partisi kecil-kecil sehingga pekerjaan terasa ringan. Ini bagus……. Salah satu contoh dari Rasulullah SAW dalam kaitannya dengan rekayasa jalan “luar” ini adalah sebuah hadits: saat kita marah, maka berwudhulah! Atau kalau kamu berdiri maka duduk, kalau duduk masih marah maka berbaring.

Wudhu, berdiri, duduk, baring, adalah “rekayasa” untuk memperbaiki sesuatu yang “empiris” atau “luar”. Tetapi semata “luar” tidak cukup. Karena kita mengetahui bahwa “marah” adalah sesuatu yang terbit dari “dalam”. Maka membenarkan persepsi yang “di dalam” adalah juga kerja panjang untuk mengatasi kemarahan. Sehingga, Rasulullah SAW dalam suatu riwayat dikatakan “tidak marah” bahkan saat seorang badui mengencingi masjid, “tidak marah” bahkan saat Sayidatina Aisyah r.a. membanting piring di hadapan para sahabat. Karena “yang di dalam” Rasulullah SAW sudah mantep.

Pengetahuan mengenai rekayasa “luar” atau kajian dunia empirik sudah sering kita dapat. Tetapi pengetahuan mengenai rekayasa “dalam” mengenali partisi-partisi dalam diri, sebagai bagian integral dari upaya untuk lebih bisa menjalankan fungsi kekhalifahan; masih jarang kita pelajari.

Hal ini sangat berguna bagi kehidupan kita. Dan percayalah ini bukan hanya ilmu orang tua saja. Ini berguna bahkan bagi anak muda.


*) Gambar ilustrasinya sungguh tidak nyambung, karena ini gambar Rambo lagi membedah dirinya sendiri saat tertembak peluru. Hehehehe

JENIUS MATEMATIKA DAN FORMULA BAHAGIA

Foto yang anda lihat di atas ini, adalah seorang anak jenius matematika, dan pamannya. Saya jepret foto ini di pesawat sewaktu perjalanan Balikpapan-Jakarta, potongan dari sebuah film berjudul “Gifted”.

Dikisahkan seorang anak kecil terlahir sebagai seorang jenius matematika. Usianya masih sangat kecil tetapi kecintaannya pada matematika sudah melampaui orang kuliahan.

Ceritanya menarik, dan pertengahan hingga akhir agak melow-melow sedikit hingga mengaduk emosi.

Saya jadi teringat sewaktu saya SMA, saya bertanya pada seorang rekan , “apa gunanya kita belajar integral ini?”

Teman saya menjawab, “Gunanya agar kalau kita kerja jadi guru matematika, kita bisa mengajarkan anak murid kita diferensial integral!” dia tertawa terkekeh. Dia pun tak tahu apa gunanya. Huehehehehe. Padahal kalau di film Gifted ini, anak kecil saja sudah terbuka hikmah matematika padanya.

Begitulah, memang seseorang bisa saja memiliki sekumpulan pengetahuan, tetapi tidak berarti bahwa orang yang punya sekumpulan pengetahuan akan selalu bisa melihat hubung kait antar perkara. Karena dua hal yang berbeda.

Sama seperti ketika baru-baru ini saya melihat video di lini masa facebook. Bahwa plastik bekas bisa dipakai sebagai perekat super kuat. Diilustrasikan ada dua buah kayu, sambungannya diselubungi dengan plastik bekas air mineral, lalu plastiknya dipanasi dengan hair dryer. Plastik yang melunak karena panas itu kemudian menyesuaikan bentuk dengan kayu, dan menjadi perekat yang sangat kuat.

Betapapun saya sudah ratusan kali melihat kayu potongan, dan ratusan kali melihat plastik botol, tetapi hubung kait dua perkara itu tak “dapat” di hati saya.

Kemampuan melihat hubung kait itulah “hikmah”. Dan “botol plastik” serta “kayu bekas” itulah pengetahuan. Pengetahuan itu satu hal, tetapi “hikmah” itu hal lainnya yang dianugerahkan Tuhan.

Tersebab setiap orang dianugerahi “hikmah” yang berbeda. Kemampuan melihat hubung kait antar perkara beda-beda. Maka perjalanan kita warna-warni.

Ada penyuka matematika, ada penyuka ilmu alam, ada yang suka filsafat, macam-macam.

Tetapi semua itu ternyata bermuara pada satu saja, yaitu jalan mengenali Tuhan.

Segala rasa penasaran manusia, kalau dipikir adalah pemenuhan dari kebutuhan paling mendasar manusia untuk bahagia.

Seperti misal ada yang begitu “menyukai” matematika, maka dia akan mencari segala pengetahuan matematika, yang pada akhirnya menggenapi rasa butuhnya akan sebentuk bahagia.

Tetapi, saya mengutip dari “Kimia Kebahagiaan”-nya Imam Ghazali. Kebahagiaan sejati hanya akan manusia peroleh jika mengenal sejatinya dirinya, dan mengenal Tuhannya. Itulah formulanya.

Karena manusia ada bagian yang fisikal seperti jasad, lalu ada anasir abstrak seperti kemarahan dan nafsu, lalu ada “intelek”, tetapi semuanya itu dalam kendali sang raja yaitu “hati”. Sejatinya diri.

Oleh sebab itu, manusia mencari terus, lewat pemenuhan kebutuhan jasad; bahagia sebentar. Terus hilang…… Lalu bingung, kok saya tidak bahagia?

Lalu mencari lagi, barangkali butuh pertemanan. Lalu mencari bahagia bersandar pada rasa keamanan sosial. Bahagia sebentar lalu hilang.

Cari lewat pencapaian diri, kerja keras agar berpangkat. Setelah sampai di puncak karir lalu merasa kosong. Bahagia sebentar……. Lalu hilang lagi.

Manusia bertanya terus. Dimana kebahagiaan yang sejati?

Sampai nanti kalau terus berjalan, jawaban akan ditemui. Bahwa kebahagiaan yang paling sejati kata Imam Ghazali adalah jika sudah mengenal diri, dan mengenal Tuhan, lalu tahu untuk apa diciptakan.

Jadi mencari kebahagiaan itu tak keliru. Karena itu adalah setitik pelita dalam diri. Asalkan kita jujur pada diri sendiri, benarkah bahagia? Karena setiap rasa kosong dalam hati, dan kerinduan akan bahagia yang lebih sejati, sebenarnya adalah penuntun menuju DIA.

-debuterbang-

BERTEMU PARA PENCARI TUHAN

journeySekarang saya mengerti, perjalanan ini memang ditempuh “sendiri-sendiri”, tetapi hikmah dari perjalanan adalah untuk dibagi-bagi.

Metafora bahwa hidup adalah “perjalanan menuju Tuhan”, ternyata sudah dikatakan pula oleh Hujjatul Islam Imam Al Ghazali. Dalam salah satu bab di Ihya Ulumuddin, yaitu dalam bab Ajaib al Qalb, alias keajaiban hati, marvelous of the heart.

Dan dalam konteksnya sebagai sebuah “perjalanan” kita akan sering bertemu dengan sesama “pejalan” menuju Tuhan. Tentu kita “dewasa” dengan memahami bahwa “perjalanan” ini adalah metafor, mencari Yang Sejatinya Tak Kemana-mana.

Berkait dengan momen bertemu dengan orang-orang yang mencari tuhan, saya ingat dua tahun lalu, dalam sebuah sesi audit di kantor, saya berbincang dengan seorang auditor bule yang mengaku sebagai seorang yang tidak memeluk suatu agama tertentu. Tetapi dia percaya dengan sains.

Kami ngobrol ngalor ngidul, kemudian saya sedikit mengenalkan konsep spiritualitas islam yang saya dengar dari guru-guru yang arif. Kemudian di luar dugaan saya, dia mengatakan bahwa konsep “Tuhan” sebagai sumber segala sesuatu, dari-Nya berasal, kepada-Nya kembali, adalah sangat dekat dengan konsep sains. Darisana dia mengatakan tertarik untuk membaca Qur’an nanti jika dia kembali ke negara asalnya. Karena selama ini dia mengira konsep islam bahwa Allah itu adalah “person”, dia tak mengetahui bahwa Allah itu Laisa Kamislihi Syaiun.

Selang dua tahun kemudian, saya bertemu dengan auditor lainnya. Beberapa kali diaudit membuat saya sadar bahwa memasang “mode perang” pada auditor adalah langkah keliru. Maka saya dan rekan-rekan menganggapnya sebagai kawan dan mengakui bahwa masukan-masukan dari auditor adalah baik untuk tumbuh kembangnya sebuah perusahaan, berkaitan dengan manajemen sistemnya.

Dari sesi audit yang santai itu kemudian ngalor ngidul kembali ke obrolan makna hidup.

Pertamanya dari sebuah HP rekan saya yang berdering, dan melantunkan lagu Linkin Park. Lalu bergulir pada obrolan bahwa salah satu personnel linkin park ada yang bunuh diri. Kemudian beliau menyinggung bahwa banyak para pemikir ulung atau filosof yang juga berakhir dengan bunuh diri. Saya menyahut, saya katakan barangkali yang terjadi pada mereka adalah mereka mencoba menggapai “sesuatu” yang sejatinya tak tergapai nalar dan logika. Maka mereka bunuh diri untuk menggapai “pengalaman” yang lebih tinggi dari pencapaian logika mereka.

Padahal ujung dari perjalanan logika, adalah awal dari pengembaraan “rasa”. logika berhenti sebatas bukti, dan “rasa” menghantar kita masuk ke pintunya. “rasa” itu domain spiritualitas.

Dia katakan secara bercanda, pilihannya hanya ada dua, katanya, kalau tidak mau bunuh diri, maka melewati jalan menjadi seorang yang religius. Artinya memeluk suatu agama.

Saya lupa bertanya agamanya apa. Tetapi dia katakan dia tak memeluk suatu agama secara resmi. Tetapi dia suka membaca tentang spiritualitas.

Lalu saya menyinggung sedikit tentang Tao, sesuatu yang dia sudah familiar, dan saya sedikit kutipkan kemiripan definisi Tao tentang Tuhan, dan bagaimana Islam menjelaskan tentang Tuhan yang “bukan sesuatu, tak mirip apapun, tak bisa dipersepsi, dan dari-Nya segalanya berasal, kepada-Nya segalanya kembali.”

Saya melihat dia begitu berbinar dan tertarik dengan obrolan kami itu. Dari binar matanya, saya melihat seorang “pencari”.

Sore ini, di sebuah lounge menanti penerbangan malam. Saya kembali merenungkan bahwa benarlah kata Imam Ghazali, bahwa hidup ini “perjalanan” menuju Tuhan. Dan sebagai sebuah etape perjalanan, maka kehidupan di dunia ini harus dijalankan dengan sebaik-baiknya, dengan memberi manfaat dan menebar hikmah untuk sesama, sebanyak-banyaknya yang kita bisa.

Didalam “perjalanan” seringkali kita bertemu dengan sesama manusia, yang juga “berjalan” menuju Tuhan. Mereka adalah teman. Tempat kita berbagi hikmah. Sebagian mereka menemukan hikmah yang belum kita temukan. Sebagian lainnya masih meraba-raba dalam kebingungan.

Kita tidak punya otoritas menghakimi mereka. Hanya saja, saya teringat seorang guru mengutip sebuah hadit Rasulullah SAW kepada seorang sahabat yang hendak berangkat ke pemukiman Yahudi, pesan beliau, kenalkan mereka pada Allah SWT………… lalu setelah kenal, baru ajarkan mereka shalat.

Mengenali Tuhan sebagai sumber dari kehidupan yang ada ini, adalah sesuatu yang lebih utama, dan pertama. Mendahului pengenalan akan syariat dan hukum-hukumnya. Kekeliruan kita adalah kita mengenalkan orang kepada hukum-hukum semata-mata, tanpa mengetahui bahwa kehausan spiritual manusia adalah pencarian untuk mengenali Sang Pemilik Hidup.

Setelah mengenali Sang Pemilik, maka syariat akan berjalan dengan mengalir. Karena sesuatu yang kosong di hati mereka sudah menemukan tambatannya.


*) Gambar ilustrasi saya pinjam dari link ini

BENANG TAKDIR DAN HARTA YANG TERCECER

Di dalam sebuah ungkapan yang masyhur, dikatakan bahwa “hikmah” adalah harta tercecer milik kaum muslimin, maka ambillah dimanapun menemukannya!

Maka itu saya sangat tertarik, mendengarkan cerita rekan-rekan saya, dan mengambil hikmah dari perjalanan hidup mereka, karena seringkali hikmah yang kami temukan “sama” meskipun melalui jalan berbeda, atau kadangkali juga mereka mendapatkan hikmah lain yang luput dari pandangan saya.

Bahkan dari seorang rekan bule yang tak beragama, saya mendapatkan “hikmah” saat dia mengaku bahwa seringkali dia merasakan bahwa dirinya begitu kecil, dan hanya menjadi bagian dari semesta yang begitu besar, dan berputar dalam sebuah gerak yang Maha Raksasa. Bagaimana bahkan seorang yang tak beragama memiliki sisi spiritual yang sulit dia tolak, ada di dalam relung batinnya yang dalam.

Teringat kembali sebuah ayat bahwa Allah mengajar manusia dengan perantaraan kalam.

Kalam, ataupun “pena”, adalah wahana bagi tinta mengalir dari tempatnya menuju kertas. Teman-teman kita, dan atau siapapun saja yang membagikan hikmah, sejatinya adalah “kalam”, menjadi medium “tinta” pelajaran mengalir. Yang lewat mereka kita diberikan hikmah oleh Tuhan. karena mereka hanya wahana bagi hikmah mengalir.

Dalam Fihi Ma Fihi, Rumi menjelaskan sebuah jalan yang “bukan” jalan kerahiban atau jalan kesendirian. Seseorang bisa saja menjadi religius dan spiritualis dengan melakoni jalan kerahiban yang mengasingkan diri, tetapi jalan islam adalah kebalikannya. Yaitu berkecimpung dalam keramaian, dan mengambil hikmah dari keramaian.

Tentu dalam porsi-porsi tertentu, “menyendiri” diperlukan. Mengingat Imam Ghazali saja mendapatkan enlightenment setelah sepuluh tahun meninggalkan hiruk pikuk di madrasah Nizhamiyah, dan meninggalkan profesi sebagai pengajar.

Akan tetapi, bahwa hikmah seringkali bisa ditemukan juga dalam “keramaian” ini jarang kita ketahui. Setidaknya saya sendiri jarang mengetahuinya.

Dan setelah menikmati hikmah mengalir dari banyak “kalam”, barulah saya menyadari bahwa seringkali orang-orang mendapatkan pelajaran lewat jalan yang berkelok-kelok.

Ada yang rusak dulu, lalu menjadi baik di ujungnya. Ada yang baik menjadi rusak, lalu menjadi baik lagi. Ada yang jalannya mulus. Ada yang penuh onak duri. Ada yang sampai mengecewai Tuhan, lalu berbalik menjadi “pejalan” ruhani yang menekuni spiritualitas islam. Macam-macam sekali.

Dari sana saya menarik kesimpulan bahwa sebagai “jalan keramaian” memanglah manusia akan dibentuk lebih dari satu kalam dan lebih dari satu hikmah. Dan Allah sendiri yang akan mempertemukan seseorang dengan seseorang lainnya, pada momen yang pas, dan pada hikmah yang pas pula yang tersampaikan.

Maka itu saya mentertawai diri sendiri. Dulu…..saya begitu impulsif. Kalau bertemu orang, yang terfikir pertama adalah bagaimana membagi hikmah yang saya dapatkan sepanjang perjalanan, dan bagaimana sebisa mungkin orang tersebut berubah.

Padahal, belum tentu orang dalam kondisi siap menerima masukan. Belum tentu orang itu perlu menerima masukan. Atau boleh jadi orang itu sudah mengetahui hal yang lebih dalam daripada yang saya pahami. Dan yang paling pokok, bukan kita yang membuat seseorang berubah, melainkan kalau Allah takdirkan seseorang itu berubah, maka dia akan berubah.

Kita hanya melihat saja, apakah takdir orang itu berkelindan dengan potongan takdir kita? Jika iya, maka akan ada momen yang pas dimana orang tersebut bertemu dengan kita, dan hikmah tersampaikan lewat kita. Atau sebaliknya, kita yang mereguk hikmah darinya. Jika tidak, biarlah orang berjalan pada takdirnya sendiri, dalam pelajaran hidup yang sama sekali tidak pernah linear.

Ada sebuah cerita dalam filem animasi jepang, diambil dari kultur budaya jepang, dimana mereka menenun benang untuk menjadi sebuah gelang. Filosofinya menarik jadi saya kutip disini, sebagai bagian dari “memulung hikmah” yang tercecer.

Kehidupan itu bagaikan gelang rajutan itu. Setiap benangnya adalah perjalanan hidup manusia itu sendiri. Maka perjalanan hidup manusia berkelindan satu sama lain. Bertemu, berpisah, bertemu berpisah. Dan orang yang dipertemukan oleh takdir, maka pasti mereka akan bertemu pada momennya sendiri. Seperti untaian benang rajutan yang saling dipertemukan itu.

Itu sebab saya lebih senang menulis. Dengan menulis, maka takdir akan mempertemukan tulisan dengan orang-orang pada momennya sendiri. Dan saya “asyik” sendiri mengamati kehidupan, dimana orang-orang semua diperjalankan pada rel-nya masing-masing, dalam cerita yang beda-beda, dengan satu tujuan kolosal yang sama. Cerita-Nya.

 

 

 

MENCARI PEMILIK CAHAYA

Buku yang sangat berpengaruh bagi saya selain Al-Hikam adalah Al Munqidz Min Al-Dhalal dari Imam Ghazali. Sebuah otobiografi yang menggambarkan betapa seorang pencari kebenaran yang rela bertungkus lumus susah payah menyelami semua cara pencari kebenaran, mulai dari metoda filsafat, ahli kalam, batiniah, dan terakhir tasawuf.

Kenapa Al Munqidz Min Al-Dhalal (Pembebas dari kesesatan) menjadi istimewa sekali dalam benak saya, karena dia ditulis dalam bahasa curhat seorang alim. Dia menceritakan pengalamannya “berjalan”. Hampir mirip dengan Al-Hikam, bedanya Al-Hikam tidak bercerita mengenai kisah perjalanan, melainkan bercerita tentang situasi-situasi hati yang dialami para “pejalan”, dan ditulis dalam bahasa yang puitis dan pendek macam kata mutiara, atau aforisma yang sulit dimengerti kalau yang membaca tak mengalami.

Tetapi Al Munqidz… bercerita dengan gamblang bagaimana Sang Imam yang saat itu menempati jabatan tertinggi di universitas Nizhamiyah, profesor tertinggi-lah, kemudian melepaskan diri dari segala jabatan itu karena menurut beliau, beliau belum memiliki apa yang disebut dengan “ilmu yang yakin.” Sebuah keyakinan yang tidak akan tergoyahkan lagi, seperti orang yang yakin bahwa sepuluh itu lebih besar daripada tiga.

Meskipun ada seorang sakti yang bisa merubah tongkat menjadi ular, tetap kita akan yakin bahwa sepuluh itu lebih dari tiga. Orang sakti itu tak akan bisa menggoyahkan kepahaman kita. Sampai setaraf itu keyakinannya. Itulah yang menurut beliau “ilmu yang yakin” yang tidak menyisakan ruang pada hati untuk ragu.

Ada satu poin yang menarik menurut beliau, bahwa keyakinan itu, sebenarnya adalah “nur” yang dimasukkan ke dalam hati oleh Allah SWT. Jika ada orang-orang yang mengira bahwa “ilmu” hanya bisa diperoleh dari menyusun alasan dan kata-kata semata, berarti orang itu menyempitkan rahmat Allah yang luas.

Maksud beliau, hampir keseluruhan ilmu yang kita pegang sekarang adalah hasil analisa premis-premis, dan dari premis sampai pada kesimpulan. Bangunan kesimpulan kita adalah disusun dari analisa premis-premis itu.

Akan tetapi, mengetahui dengan berdasarkan semata analisa premis-premis, adalah pengetahuan yang rapuh. Karena “ilmu” sebenarnya adalah “nur” yang diberikan oleh Tuhan kepada hati manusia.

Ada suatu contoh menggelitik yang beliau berikan. Kata beliau, tidak mungkin keseluruhan ilmu yang dimiliki manusia adalah hasil analisa premis dan coba-coba (tajribah). Karena untuk coba-coba, samplenya terlalu banyak.

Saya teringat, dulu saya pernah bingung sendiri. Bagaimana bisa seseorang di pedalaman mengetahui bahwa suatu tanaman bisa berguna buat obat sakit demam? Apakah dengan coba-coba? Berapa ratus tipe tanaman yang ada di hutan mereka? Dari sekian ratus tipe tanaman itu, bagian mananya tanaman itu yang diuji cobakan pada si sakit? Lantas sample-nya menjadi berlipat beratus-ratus sampel. Coba tanaman pisang, ga sembuh. Coba lagi daun beringin, ga sembuh. Coba daun kemangi, ga sembuh tapi malah lidah berasa pedes……….itu baru nyoba tiga macam tanaman. Orang yang sakit keburu wassalam.

Ternyata itulah yang dikatakan Imam Ghazali. Umpamanya ilmu astronomi. Ilmu astronomi mengkaji tentang benda-benda langit, yang mana benda-benda langit itu munculnya ada yang ratusan tahun sekali. Komet tertentu munculnya 83 tahun sekali kalau tak salah. Maka coba-coba (tajribah) akan kelimpungan menemukan momen yang pas, kecuali diawali dengan insight dulu.

Jadi…..semata menyandarkan kepahaman dan pengetahuan dari analisa premis-premis adalah langkah keliru yang mengecilkan rahmat Tuhan.

Inilah kemudian yang menyadarkan saya, bahwa dalam mencari jawaban atas sesuatu, jangan kesusu mencari jawaban lewat analisa tekstual dan premis-premis logika. Karena jawaban lewat premis logika akan menghantarkan diri kita dalam analisa sample yang banyaknya tak karuan. Dan belum tahu darimana harus mulai.

Melainkan, mintalah kepada Tuhan agar dipertemukan dengan jawaban. Karena “kepahaman” itu “nur” yang diberi-Nya pada siapa yang DIA mau.

Maka ada dua kemungkinan, kata beliau, orang yang dipertemukan dengan jawaban akan mendapatkan rahmat sehingga mengerti bagaimana solusi dari persoalan. Dan yang kedua, sangat besar kemungkinan orang itu akan dipertemukan dengan dalil tekstual yang menguatkan insight yang telah dia dapatkan.

Wallahu’alam.


*) Ilustration Images

BUAH YANG TAK MENGECEWAKAN

Saya sudah berapa kali, mengandalkan kemampuan diri sendiri, dan sekian kali pula saya kecewa.

Hal yang masih membekas di ingatan saya adalah salah satu momen presentasi tingkat regional, dimana saya sebisa mungkin membagus-baguskan bahan presentasi saya, tapi ndilalah justru dengan bekal presentasi yang sangat baik itulah saya “dibantai” dan dicecar pertanyaan habis-habisan.

Selepas itu, sadarlah saya bahwa bukan diri kita penentu sukses dan tidak suksesnya perjalanan hidup kita. Melainkan plot-Nya.

Karena, dalam beberapa kali kesempatan lainnya, sewaktu saya mengalami kesulitan dalam pekerjaan, seringkali ada orang-orang yang menjadi “tangan-tangan tak terlihat” ikut membantu. Sehingga pekerjaan yang lumrahnya kalau saya kerjakan sendiri akan menjadi lama, tetapi bisa terselesaikan dalam waktu yang cepat.

Sebagai konsekuensi logisnya, saya harus menyebut nama jejeran orang-orang yang berkontribusi atas selesainya sebuah pekerjaan yang saya jalani.

Sebisa mungkin selalu saya katakan bahwa keberhasilan ini adalah kerja team. Mereduksi keberhasilan sebagai hasil karya pribadi, padahal dia berkait-kait dengan kontribusi orang banyak; menimbulkan rasa tak enak di hati.

Secara teori, kita mengetahui bahwa segala yang terjadi adalah af’al DIA. Dalam kajian yang lebih dalam lagi, kita mengetahui bahwa af’al-Nya tak lepas dari dzat-Nya, karena ESA. Dan kita terendam di dalamnya. “demi Dzat yang jiwaku berada di dalam genggaman-Nya…….. ”

Tetapi bagaimanapun juga, kepahaman sebab semata ilmu masih akan kalah dengan orang yang sudah mendapatkan “feel” nya alias “rasa”-nya.

Dan saya amati, salah satu jalan menghadirkan rasa itu, ya memang dengan tafakur.

Banyak-banyak melihat ke belakang, dan melihat kondisi sekarang, dimana keadaan diri sendiri malah membuat kita kecewa, jika kita gantungi diri kita dengan harapan.

Tetapi jika tidak melihat diri sendiri, dan melihat hidup sebagai af’al-Nya maka pelan-pelan harapan masih ada. Pelan-pelan harapan tumbuh.

Karena dengan af’al-Nya, semua menjadi bisa saja terjadi. Sebuah pekerjaan bisa saja selesai meskipun bukan diri kita yang menjadi solusi tunggal dari masalah.

Masalah-masalah akan selesai lewat jalan yang tidak diduga.

Tetapi kan yang paling penting adalah itu….. Terlepasnya kita dari masalah.

Tidak penting, siapa yang mendapat nama sebagai problem solver. Tetapi yang penting kita terselamatkan, dan dalam proses itu kita naik setingkat kepahaman, bahwa memang semua dalam genggaman Tuhan.

Ibnu Athaillah mengatakan, jika Allah hendak mengenalkan diriNya padamu, jangan kamu khawatirkan amalmu yang masih sedikit.

Kekata itu, barulah saya mengerti sekarang. Bukan amal usahamu yang membawamu mendekat. Melainkan karena DIA menulisnya begitu.

Dan jika mengikut flow dari Imam Ghazali. Bahwa tafakur melahirkan ilmu, atau kepahaman. Kepahaman menghadirkan situasi ruhani / Hal. Hal / situasi ruhani mendorong amal mewujud. Maka sebenarnya segala amalmu adalah buah dari pemberian-Nya.

Buah dari kepahaman yang diselipkanNya padamu lewat hidup keseharian.

-debuterbang-


*) Gambar ilustrasi dijepret tadi pagi, dari sebuah site di pojokan dekat Samarinda

BISAKAH TUHAN DIRENUNGI?

Pertama kali saya naik pesawat adalah sewaktu akhir kuliah, dalam sebuah kesempatan proyek eksplorasi batubara. Sembari mencari uang saku tambahan, saya dan berapa orang rekan kerja magang pada konsultan eksplorasi dan terbang menuju Kalimantan. Apa rasanya naik pesawat? Tanya saya pada seorang rekan.

Rekan saya, juga baru pertama naik pesawat, atau barangkali kedua kalinya. Saya lupa. Yang saya ingat jelas hanyalah betapa saya sungguh norak melihat pesawat di landasan bandara, dan menanti sensasi pesawat lepas landas dan pesawat mendarat dengan hati berbunga-bunga.

Bagi saya, moment norak seperti itu adalah anugerah.

Anugerah…. Sebagai sebuah makna, baru dimengerti secara jelas setelah menemukan pengalaman nyatanya dalam keseharian.

Seperti seorang anak, yang setelah dewasanya mencari uang sendiri, maka setelah merasakan keringat dan kerja keras ditukar dengan uang; barulah makna rejeki sebagai anugerah bisa dimengertinya dengan benar. Jika belum merasakan sendiri, seringkali belum paham.

Akan tetapi, kadang-kadang ada juga orang-orang yang melewati banyak gejolak dalam keseharian hidupnya, tetapi “makna” hidup belum merasuk dalam hatinya.

Tentu semuanya adalah dalam kuasa Tuhan, akan tetapi mengikut analisa Imam Ghazali dalam salah satu Bab Ihya Ulumuddin, dikatakan bahwa suasana hati (Hal), atau “makna” itu adalah efek dari tafakur. [1]

Dalam siklus yang kurang lebih begini: tafakur melahirkan ilmu, ilmu berbuah menjadi Hal spiritual / kondisi batin secara spiritual, Hal mendorong amal.

Makanya betul sekali, seorang arif mengatakan, bahwa jika gegaran belum datang, “rasa” belum merasuk, maka yg harus dilakukan adalah TAFAKUR. Menafakuri kehidupan kita sendiri, dalam kaitannya sebagai af’al Tuhan. Lewat cerita kehidupan kita sendiri akan datang ilmu dan kepahaman. Ilmu akan berbuah menjadi HAL atau “rasa” di hati. Rasa akan pada gilirannya mendorong amal mewujud.

Salah satu isu yang sering dibahas dalam kajian tasawuf adalah mengenai dzat dan sifat. Mengenai dzat dan sifat ini, sebenarnya mirip juga dengan istilah dalam filsafat yaitu “substansi” dan “aksiden”.

Umpamanya, gula. Gula itu “substansi” dan aksidennya adalah “manis”, “berbutir”, “berwarna putih”.

Gula adalah “dzat”, dan kemudian ada “sifat” yang melekat pada dzat itu. Dzat dan sifat adalah dua hal yang berbeda.

Yang menarik adalah kajian mengenai dzat dan sifat ini dipakai untuk memahami Tuhan. Apakah Tuhan itu dzat-Nya memiliki sifat?

Dan mengenai ini panjang sekali perdebatannya ternyata.

Akan tetapi, Imam Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjabarkan mengenai tafakur dan kaitannya dengan merenungi Tuhan. Apanya Tuhan yang direnungi?

Maka menurut beliau, dzat dan sifat Tuhan itu tak bisa direnungi. Sia-sia, kata beliau. Maka jangan habiskan waktu mengorek-ngorek merenungi dzat-Nya. Tak akan mampu. [1]

Maka saat dimaksudkan dengan perintah memperbanyak “tafakur”, yang dimaksud tafakur adalah merenungi af’al alias perbuatan Tuhan. Yaitu ya ciptaan ini, hasil perbuatan Tuhan.

Dari merenungi ciptaan-Nya, maka “rasa” atau “gegaran” akan muncul. Rasa kagum, rasa bersyukur, rasa takut, dst……. Karena merenungi ciptaan, atau merenungi af’al-Nya dalam kehidupan kita.

Hanya saja. Tafakur adalah tangga pertama, untuk menghadirkan rasa kedekatan. Karena goal-nya dari “rasa” itu adalah menjadi pendorong amal.

Amal disini maksudnya ya ibadah, dan lebih-lebih lagi adalah muamalah.

Hal ini membuka kepahaman bagi saya. Karena saya melihat perdebatan yang cukup banyak mengenai ini.

Ternyata setelah membaca Al Ghazali, baru nemu puzzlenya.

Yang satu namanya tafakur, yaitu “merenungi” ciptaan Tuhan. Merenungi af’al-Nya. Hasil dari tafakur biasanya ilmu dan kepahaman, kepahaman berbuah “rasa” atau HAL spritual . Rasa mendorong amal-amal kebaikan mewujud.

Yang satu lagi disebut mengingat. Saat “mengingat” yang dituju adalah sang PEMILIK dzat dan sifat dan af’al. Yang tidak ada umpama.

Kalau terhadap af’al Tuhan, direnungi supaya mendapat kepahaman, ilmu, pelajaran, hikmah, rasa, yang mendorong amaliyah mewujud.

Dan saat beribadah, yang diingat atau istilahnya “sasaran” peribadatan adalah DIA. Yang memiliki semua itu. Yang tak ada umpama.

Wallahualam.

-debuterbang-


Reference

[1] K.H.R. Abdullah Bin Nuh. 2015. Tafakur Sesaat Lebih Baik daripada Ibadah Setahun (terjemah Al Munqidz Min Al-Dhalal, dan bab Tafakur dalam Ihya Ulumuddin). Jakarta Selatan : Mizan

*) Ilustration image, taken from Kappboom Wallpaper application for IOS

ADA YANG MELALUI SIFAT, ADA YANG SUDAH MENINGGALKAN SIFAT

Sewaktu saya terdampar di Bandara Atlanta, dalam satu penerbangan dengan tujuan menuju Houston, saya begitu takut. Ketakutan ini bukan –semata- karena datang ke tempat baru yang saya belum pernah kunjungi, melainkan karena saya merasakan betapa kecil saya, “diombang-ambing ombak takdir” dihantar kesana kemari, dan sewaktu di bandara Atlanta itu…… terasa sekali bagaimana saya ada dalam lautan manusia yang setiap orangnya sibuk sendiri, dan dalam pandangan saya kala itu; tiap orang menjalani takdir mereka sendiri-sendiri.

“Rasa” takut itu, sangat terkait dengan konteks hidup keseharian. Sebagaimana “rasa” bahagia, juga datang saat kita menjalani hidup keseharian. Hikmah-hikmah akan datang saat kita menjalani hidup keseharian.

Jika kita “jarang” mendapatkan “rasa” atau gegaran ketakutan atau kegembiraan berTuhan……. Seorang arif menjelaskan bahwa salah satu cara untuk mendapatkan “rasa” itu adalah dengan mentafakuri hidup keseharian yang sedang kita jalani, -sambil ingat Allah- lalu mensyukuri hirup nafas, mensyukuri setiap suapan makanan, sampai kemudian terasa bahwa kita bahagia atas anugerah-Nya.

Mengucap Alhamdulillah di mulut saja, tanpa rasa bahagia dan kebersyukuran di dalam hati kita, adalah seumpama “menerima tapi tidak menyukai”. Begitu kata beliau.

Jadi “dapat”nya lebih sering lewat kehidupan keseharian.

Mengutip kekata Rumi, adakah ketakutan yang tidak melahirkan harapan?

Ketakutan itu satu hal, yang melalui ketakutan itulah harapan harusnya muncul. Maka ketakutan tetapi tidak menghadirkan harapan; adalah keliru. betul sekali sebuah ungkapan bahwa yang paling jelek adalah prasangka buruk kepada Tuhan. Prasangka buruk ini ternyata baru saya mengerti, bahwa hilang harapan pada Tuhan juga termasuk prasangka buruk.

Ada sebuah kisah dalam Fihi Ma Fihi, dimana Rumi mengoreksi seorang shalih yang mengatakan Tuhan tak butuh makhluknya, tapi konteks perasaan saat mengatakan hal itu ; kurang pas.

Memang Tuhan tak butuh apapun, tetapi ketidak butuhan Tuhan terhadap apapun jangan diterjemahkan sebagai ora perduli.

Ibaratnya adalah seorang tukang kayu bakar (atau pengepul api, saya lupa persisnya), tukang kayu ini disalami oleh seorang Raja. Adalah keliru, jika tukang kayu itu berkespresi dengan mengatakan “Raja menyalamiku tanpa melihatku dan dia pergi berlalu begitu saja tanpa melihatku sama sekali hingga dia hilang dari pandanganku.”

Akan tetapi, katakanlah bahwa “aku disalami oleh sang raja, dia melihatku, dan dia tetap melihatku sambil dia berjalan, hingga dia hilang dari pandanganku.”

Kemuliaan raja tidak hilang, baik melihat atau tidak melihat tukang kayu itu.

Tetapi sebenarnya sang raja selalu melihat dan memerhatikan.

Dan kebutuhan dalam hidup kita adalah karena DIA membuatnya begitu, dan DIA ingin dipandang begitu (sebagai yang melepaskan kesulitan dari malhlukNya).

Itulah metafora dari Rumi.

Dari metafora itu saya kembali tersadar bahwa kita hidup dalam “pintu depan”. Hubungan manusia dan Tuhan yang dibangun oleh prasangka, maka milikilah prasangka yang baik kepadaNya. Jangan putus dari prasangka baik.

Itulah inti dari kitab Al Hikam, sampai-sampai jika pendosa atau orang yang ibadahnya kendur, kalau turun semangat menujuNya berarti selama ini bukan berharap pada Tuhan, kata Ibnu Athaillah. Melainkan berharap pada amal. Adabnya belum baik.

Itulah pula pesan Rumi dalam Fihi Ma Fihi. Dan dalam puisinya. Jika yang kita miliki hanyalah prasangka, maka milikilah prasangka yang baik pada Tuhan, begitulah caranya. Kata Rumi.

Misalnya lagi, lewat memahami asmaul husna, dan mengenai ini banyak ditulis Ibnu Qayyim.

Semuanya adalah mengajari kita membaikkan prasangka. Karena DIA berkata bahwa “Aku sebagaimana prasangka hambaKu kepadaKu.”

Kita hidup dalam sebuah dunia yang tak mungkin kita menyentuhNya. “sampaimu kepada Allah, adalah sampaimu kepada pengetahuan tentangNya, karena mustahil DIA disentuh atau menyentuh sesuatu” kata Ibnu Athaillah.

Karena tak mungkin kita menyentuhNya, tak mungkin mengerti DIA, maka sebenarnya kita hidup dalam “prasangka”. Tetapi milikilah prasangka yang baik akan-Nya.

Itulah mengapa Rasulullah SAW kembali mengajarkan bismillahirrahmanirrahim pada para kafir Makkah, orang-orang yang keliru prasangkanya akan Tuhannya.

Inilah jalan pintu depan. Hidup dalam prasangka yang baik akan DIA.

Akan tetapi ada orang-orang yang memahami lebih tinggi lagi. Bahwa bagaimanapun prasangka kita tentangNya tentulah tidak menggapai DIA yang sebenar-benarnya. Maka mereka menafikan apa yang terpandang dan mencukupkan diri dengan mengingatNya, tanpa menafsirkan macam-macam akan af’alNya. Karena alam sudah tak memberi bekas apa-apa pada mereka. Ini adalah approach di atasnya lagi. Pintu belakang.

Monggo menggunakan approach yang manapun saja. Tetapi memang saya pribadi mengakui bahwa approach pertama adalah lebih mudah untuk kita para awam. Dan lebih mendatangkan “Hal” alias situasi ruhani. Karena mendekati Tuhan dengan dihantar oleh rasa takut dan harap dalam hidup keseharian.

Mari membaikkan sangka akanNya, di senin pagi ini.

-debuterbang-


*) Gambar ilustrasi dijepret dari belakang abang GrabBike, di suatu senin pagi yang riweuh

AKAR BOLEH RUMIT, TETAPI BUAH HARUS SEDERHANA

root

Saya terfikir, memang sudah pas-lah, sewaktu kita sujud sholat kita membaca “Subhanarabbiyal A’la…..” Setelah segala bacaan dalam konteks memuji, sewaktu sujud yang dilakukan adalah menyucikan. Yang disucikan, sebatas yang saya pahami, maksudnya adalah maha suci DIA, dari prasangka kita sendiri. Maha suci DIA, dari prasangka kita yang terbatas.

Dulu, sewaktu kecil, dan sebelum belajar mengenai spiritualitas islam, tanpa saya sadari masih ada kesan pada diri saya, seolah-olah Tuhan itu adalah “person”. Memang kita tahu bahwa Allah SWT tidak mirip apa-apa, DIA bukan matahari, bukan gunung, apalagi patung, DIA bukan manusia. Hanya saja, sebab keterbatasan ilmu, saya dulu masih memiliki kesan seolah-olah DIA adalah sebuah “person” yang ada bertahta di atas langit. Hanya saja DIA tak mirip makhluk.

Prasangka keliru terhadap Tuhan, inilah rupanya yang diberantas oleh para Nabi dan Rasul, yang menurut riwayat kononnya ada 240 ribu Nabi-nabi dan Rasul yang diutus, dan semuanya mengusung risalah tauhid.

Dalam konsep islam, Tuhan itu hanya ada satu…… dan ini yang paling penting, bahwa “satu” di sini maksudnya bukan satu seolah satu orang begitu. Melainkan…..DIA ada sebelum segalanya ada, dari dzat-Nya-lah segala yang ada dicipta. Karena tak ada apa-apa selain dari DIA -yang tak bisa dipersepsi itu-, Dan segala yang ada / segala makhluk ciptaan-Nya yang dizahirkan-Nya tidak sebanding dengan DIA.

Dari sana, kesan bahwa DIA itu sebagai “person” mulai hilang. Lalu mulai melihat kehidupan sebagai cara DIA bercerita tentang diri-NYA sendiri. DIA Pemilik pagelaran ini.

Akan tetapi, setelah mengetahui fakta itu, yang tinggal hanyalah ibadah, dan bagaimana berkebaikan dalam hidup. Itu saja.

Saya pikir sungguh benarlah Imam Ghazali yang membagi kajian tasawuf dalam dua porsi, porsi pertama adalah tasawuf dalam kaitannya sebagai ilmu mukasyafah (ketersingkapan), dan tasawuf dalam kaitannya sebagai ilmu muamalah.

Mengenai tasawuf sebagai mukasyafah, ini hal yang pelik dan cenderung tidak dibuka terlalu dalam oleh beliau. Pertama karena kebanyakan orang tidak mengerti, kedua memang karena Rasululah SAW juga lebih cenderung pada pengamalan saja. Nanti, kalau orang bertanya “mana dalil tekstualnya?” akan sulit dijabarkan, karena memang ini adalah urusan siapa yang mendapatkan ketersingkapan itu.

Sedangkan, mengenai muamalah, hal ini menjadi penting, karena jika segalanya yang ada adalah cara DIA bercerita tentang DIA sendiri, maka berbaik-baik pada makhluk berarti tentu pula “mengakrabi” penciptanya, bukan?

Saya baru menyadari hal ini belakangan. Setelah mengamati beberapa kalangan pluralis, yang sampai pada ide penerimaan yang lapang akan keragaman, tetapi ide itu hanya buah dari analisa fikiran saja. Bukan dari “rasa” yang melihat merasakan keragaman sebagai cara Tuhan bercerita. Mereka jadi cenderung ujung-ujungnya adalah menggampangkan, dan seperti kurang adab pada tata aturan Tuhan dalam syariat.

Hal ini akan berbeda, jika kepahaman tentang “keragaman sesungguhnya adalah cara DIA Bercerita” itu didapatkan sebagai buah dari pengamalan; dan muncul dari “rasa”. Maka seseorang akan bisa lapang menerima keragaman, tanpa perlu dia kehilangan adab atau melecehkan porsinya sendiri sebagai seorang muslim. Karena kepahaman itu, tumbuh dari “rasa”-nya. dia akan bisa bermain dalam “game” secara cantik.

Contoh lainnya lagi, saya baca-baca, dalam literatur islam ada kajian yang sangat pelik mengenai Tuhan dan kaitannya dengan sifat-sifatNya. Kajian ini awalnya adalah counter dari arus deras filsafat yang masuk pada kebudayaan islam. Apakah Tuhan itu memiliki sifat-sifat yang inheren dengan dzat-Nya?

Dari sana golongan kemudian terbagi dua. Ada yang menganggap bahwa DIA itu dzat-Nya memang betul-betul tidak ada sifat yang lekat padaNya. Ada juga yang menganggap bahwa DIA itu bahkan sebelum mencipta sudah ada sifat-sifat yang inheren pada dzat-Nya. Perdebatan klasik, yang panjang, dan rumit. Benar-benar pelik.

Tadinya saya pun sangat tertarik membaca dan mengamati kedua perdebatan itu. Terkadang, perdebatan teologi itu disebut orang dengan istilah Fiqh Akbar. Fikh besar. Karena yang didebatkan adalah isu-isu pokok yang sangat krusial.

Tetapi kemudian saya teringat dengan bacaan di kala sujud itu. Bagaimanapun konsepsi fikiran kita, dibangun dengan dalil-dalil yang bagaimanapun solidnya, akan tetap kesulitan menggapai-Nya. Sucilah DIA dari segala prasangka kita yang terbatas.

Akan sulit kita melangkah melebihi kesimpulan bahwa DIA itu tan kena kinaya apa, alias laisa kamitslihi syaiun.

Bukan berarti ilmu di atas tidak penting. Ilmu itu sangat penting untuk menegakkan kepahaman yang kokoh. Tetapi, sudah ada ahlinya yang membahas itu.

Bagi saya sekarang, rupanya yang paling penting adalah buahnya. Buah kesederhanaan.

Umpama sebuah pohon. Akar pohon itu tentu sangat boleh dan harus menghujam ke dalam tanah. Membelah batu-batu. Menyerabut dan mencerap mineral dan nutrisi dari keragaman tanah yang pelik dan rumit. Memisahkan yang bersih dari yang kotor.

Tetapi, buah dari pohon itu tidak boleh rumit. Sebagai buah, dia harus sederhana. Ringkas. Ranum. Dan esensi.

Saya pikir itulah yang direnungi sang alim Imam Ghazali. Mengapa beliau membatasi tasawuf dalam porsi muamalahnya saja. Mari hidup dan sibuk berkebaikan dengan sederhana.


*) Image Sources