APAKAH KEHIDUPAN HANYA UNTUK KEHIDUPAN ITU SENDIRI?

Menarik sekali mengetahui sebuah fakta bahwa perusahaan raksasa sekelas Fuji Film harus banting setir menjadi perusahaan kosmetik. Industri kamera analog dan kamera film semuanya goyang atas serbuan era digital. Termasuk perusahaan Fuji Film berada diambang kehancurannya.

Tetapi Shigetaka Komori, CEO Fuji Film melihat celah untuk mempertahankan perusahaan tersebut, dengan cara banting setir jadi perusahaan kosmetik.

Shigetaka Komori, president and chief exective officer of Fujifilm Corporation, poses for a photograph after an interview in Tokyo, Japan, on Wednesday, Feb.1, 2012. Photographer: Akio Kon/ Bloomberg

Pada awalnya saya pun bingung juga kenapa jadi perusahaan kosmetik? Ternyata alasannya adalah karena sepanjang kejayaan masa lalu fuji film dengan kamera analog dan film seluloid, mereka sudah melakukan riset puluhan ribu bahan kimia yang berhubungan dengan visualisasi dan warna. Itulah yang kelak akan digunakan dalam industri kecantikan. Dan akhirnya sukses.[1]

Teringat saya dengan salah satu quote masyhur dari Winston Churcill “To improve is to change; to be perfect is to change often.”

Tentang perubahan inilah ternyata yang menjadi benang merahnya.

Mengenai resistensi terhadap perubahan ini saya paham sekali. Karena secara psikologis saya adalah orang cenderung nyaman dengan apa yang sudah ada. Saya malas sekali untuk perubahan-perubahan yang tak tertebak.

Saya kuliah di Geologi. Selepas kuliah saya bekerja pada sebuah perusahaan kontraktor migas yang sedikit sekali kaitannya dengan geologi. Saya sempat kecewa juga dengan perubahan itu, tetapi setelah bisa memaklumi dan menerima; saya temukan bahwa pekerjaan saya yang lebih berkaitan dengan engineering ini ternyata menyenangkan juga dan memberi kesempatan melihat berbagai-bagai belahan dunia.

Selang berapa lama, saya berkutat dengan engineering, ditempatkanlah saya pada bagian service quality dan process. Satu hal yang sama sekali tak terkait dengan engineering.

Tetapi, ternyata di tempat baru ini saya berkesempatan belajar memandang sesuatu dalam bingkai yang lebih besar. Melihat keseluruhan proses berjalan. Melihat lewat pandangan yang lebih besar. Bigger picture istilahnya.

Itu semua, adalah perubahan yang fisikal. Akan tetapi, baru saya sadari bahwa perubahan pada tataran fisikal sebenarnya hanya jalan menghantarkan perubahan dalam jiwa. cara pandang.

Dalam spiritualitas pun analog dengan itu. Perubahan di dalam jiwa, pada cara pandang, juga sangat penting adanya. Perubahan cara pandang yang lebih spiritual ini seringnya tak kita mengerti karena dia adalah sesuatu yang abstrak. Yang di dalam jiwa.

Sampai-sampai dalam literatur tasawuf dikenal istilah “abdal” atau pertukaran. Pertukaran paradigma. Seseorang menjadi memandang hidup dengan paradigma yang lebih tinggi, lebih mature.

Perubahan paradigma biasanya jarang orang miliki tanpa perubahan pada tataran fisiknya dulu. Keseluruhan perubahan dan ujian dalam tataran fisik yang kita alami, sebenarnya hanya medium saja untuk menghantarkan pada perubahan paradigma.

Berapa waktu lalu saya menghadiri acara buka puasa di TK anak saya. Kebetulan ada sesi parenting di awal-awal sebelum buka puasa. Dijelaskan di sana, untuk anak usia 7 tahun pertama, yang perlu diajarkan kepada mereka adalah “cinta”. Ibadah dijadikan sesuatu yang “memorable” karena mereka suka.

Kita bisa “memaksa” anak usia 7 tahun pertama agar rajin sholat dan rajin puasa penuh. Tetapi dengan paksaan, hanya akan bertahan sampai usia mereka baligh, beranjak dewasa mereka akan berontak, tak lagi bisa dipaksa.

Akan tetapi, jika ibadah dikaitkan dengan sesuatu yang membekas dan penuh cinta, maka mereka akan mengenangnya. Maka sholat tarawih biarlah mereka bermain-main, jika dengan bermain-main sambil sholat tarawih itu membuat kenangan yang mendalam dan emosional buat mereka. Tarawih menjadi sesuatu yang cantik di mata mereka. Puasa menjadi seru karena ada jajanan dan banyak makanan. Ketika cinta sudah tumbuh, maka lepas tujuh tahun pertama dilanjutkan dengan tujuh tahun kedua mengenai kewajiban dan punishment. Tapi bekal cintanya sudah ada.

Seketika saya teringat dengan approach-nya para arif. Mengakrabi Tuhan dengan cinta. Ternyata praktis kok dalam keseharian sering mirip-mirip dengan yang sudah kita lakukan.

Barangkali kita susah mengerti bahasan mengakrabi Tuhan dengan cinta ini, karena kita sudah kadung terbiasa memandang Tuhan pada sisi JALAL-Nya semata-mata. Dan kita; kebalikannya dari ilustrasi fuji film; kita malah enggan berubah paradigma.

Perubahan pada tataran fisikal kita terjadi terus, muda ke tua, ganti tempat kerja, pindah rumah, dan macam-macam. Tetapi kita lupa bahwa goal dari semua perubahan itu sebenarnya menghantarkan kita ganti paradigma.

Hidup kita dibanting-banting. Kita bertanya, kenapa? kenapa begini? Lalu kita belajar aspek syariat agama, tetapi jarang menyentuh sisi spiritualnya, esoterisnya.

Spiritualitas islam, bukan sesuatu yang angker dan mistis ternyata. Dia menghantarkan kita pada cara memandang kehidupan itu.

Atau buanglah nama….. lalu perhatikan kehidupan yang berganti-ganti dan penuh warna ini. Apakah kehidupan ini hanya untuk kehidupan itu sendiri? Bukan…tentu bukan….

Berganti-gantinya cerita adalah sebuah niscaya. Karena tujuannya adalah sebenarnya mendewasakan pandang kita.

Dari kedewasaan pandangan itulah kita akan bertemu dengan maksud para arif, bahwa hidup ini sebenarnya DIA bercerita tentang DIA sendiri.


References :

[1] https://www.google.co.id/amp/reportasenews.com/fuji-film-selamat-dari-kebangkrutan-dengan-produk-kosmetik/amp/

Image sources

2 thoughts on “APAKAH KEHIDUPAN HANYA UNTUK KEHIDUPAN ITU SENDIRI?

  1. Sejak awal 2015 sampai sekarang saya ikut bertumbuh bareng blog ini mas rio… seringnya cuma jadi silent reader, karena tiap selesai baca langsung banyak merenung… berasa sudah solehah tp ternyata masih banyak bolong sana sini. Banyak hal yg perlu diperbaiki ternyata..
    terimakasih atas analogi2nya yg mudah dipahami.. semoga Allah mampukan untuk tetap menulis..
    jazakallah…

  2. Sejak 2015? Wah sudah lama juga ya. Terimakasih sudah berkenan mengikuti tulisan disini Mbak. Alhamdulillah semoga bermanfaat dan bertumbuh bersama juga. Saya hanya tuliskan ulang bahasa para arif dalam analogi yg kebetulan pas dengan keseharian saya.

    Jika ada yang bermanfaat, rasa terimakasih juga saya teruskan pada para guru yang mengajarkan saya tentang apa yang saya tulis itu; langsung atau tak langsung.

    Salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *