ANUGERAH KOPI UNTUK ORANG AWAM

Ada anugerah dalam segelas kopi. Kesukaan saya di pagi hari adalah menyesapi nikmat secangkir kopi. Meskipun kopi sachetan tak mengapa, karena kopi asli model starbucks mahal. Hehehehehe.

Bagi seorang dengan kecenderungan penikmat sepi, seperti saya ini, maka menghabiskan hari dengan aktivitas yang bersentuhan dengan banyak orang adalah menguras energi. Maka saya perlu jeda sendiri sebelum mulai beraktivitas.

Dan segelas kopi yang saya minum sembari menunggu shuttle bus kantor datang menjemput adalah anugerah indah. Dia memberi kesempatan saya untuk lima belasan menit “sendiri” dalam keasyikan. Dan menyadari bahwa hiruk pikuk pagi ini dibukaNya dengan keindahan anugerah segelas kopi sachet.

Seorang guru berkata, resapi anugerahNya dalam apa yang kamu makan. Dalam apa yang kamu minum. Rasakan sampai terbit kesyukuran.

Mood yang baik, semisal gelora kesyukuran bisa terbit dari merenungi anugerah kopi. Atau juga bisa dengan cara lain, mensyukuri anugerah kendaraan, atau “penjagaan” dalam anugerah rumah. Dan macem-macem lainnya.

Sebenarnya, tips ini kami dapatkan dari wejangan Ust. H. Hussien Abd Latiff, dimana -dalam pandangan saya- beliau memberikan tips pada sahabat-sahabat beliau yang mengalami kesulitan untuk terus menerus tune-in dalam rasa ingat kepada Allah SWT.

Kok rasa kedekatan atau “gegaran” seperti hilang? Sekali waktu ada. Sekali waktu hilang?

Lalu diberikanlah tips oleh beliau, untuk merasakan kembali. Yaitu mensyukuri anugerah yang dekat pada kita, dan menyadari ada apa disebalik anugerah itu. Bahwa setiap anugerah adalah af’al-Nya. Dan setiap af’al tak bisa lepas dari dzat-Nya.

Bagi saya pribadi. Memancing “rasa” dari hal-hal kecil semacam ini sangat membantu. Karena ada dua tipe “pejalan”.

Tipe pertama adalah tipe orang-orang yang masih butuh “sebab” atau butuh bukti untuk sampai pada keyakinan akan Allah. Mereka bukan tidak yakin, mereka yakin, tetapi “rasa” kedekatan pada Tuhan belum lagi langgeng berterusan pada mereka, sehingga jalur proses mereka adalah dengan menyadari karunia, baru sadar bahwa karunia ialah af’al-Nya, baru sadar bahwa di sebalik sifat-sifat af’al mestilah dzatNya, dzatNya mestilah datang dariNya. Ini flow mayoritas orang-orang.

Tipe kedua, adalah mereka yang tak butuh sebab. Tak butuh bukti. Karena tenggelam dalam penyaksian. Maka di benak mereka adalah “tidaklah ada yang lain selain dzatNya”. Ini kedudukan yang lebih tinggi.

Maka dua kedudukan ini kadang tak sama pendekatannya. Jika kedudukan para arif adalah selalu tenggelam dalam penyaksian, sehingga kopi itu “tak ada” bagi mereka. Semua adalah dzatNya semata.

Sedangkan bagi yang awam adalah mereka butuh untuk dapet feel atau rasa dari anugerah kopi dulu, baru teringat terasakan kedekatan.

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *