ANTARA AHLI FIKIR DAN AHLI RASA

Buya Hamka mengatakan, kurang lebih begini, bahwa dalam mempelajari tentang “yang ada” di dunia ini, mayoritas orang-orang terbagi dalam dua kelompok besar. Yang pertama adalah kelompok yang menggunakan analisa fikirnya. Yang kedua adalah para ahli batin yang mengandalkan “rasa” atau “dzauq” dalam memahami sesuatu.

Saya pernah berada pada dua sisi itu, sampai saya kemudian menyadari bahwa dua sisi itu adalah keping yang bersebelahan dalam satu uang logam.

Sewaktu SMA, saya begitu antipati dengan approach keberagamaan yang mengandalkan “rasa”. Saya waktu itu sedang gandrung-gandrungnya mempelajari fikih. Memang tidak ngaji pesantren sih, tapi buku-buku fikih terasa sangat memesona kala itu. Dan saya tak mengerti tentang tasawuf sama sekali, bahkan cenderung antipati.

Lepas SMA, saya kuliah, jaman kuliah juga masih sama saja, selepas kuliah saya baru tertarik dengan tasawuf dan mempelajari sedikit-sedikit approach keberagamaan yang pakai “rasa”.

Sampai kemudian ada sebuah kredo, dimana kalau ilmunya masih dari “buku” atau analisa fikir, belum dari “rasa” maka belum ndahsyaaat. Hehehe.

Jadi saya kemudian berfikir lagi, apakah kedekatan pada Tuhan sejatinya melulu dihantarkan lewat tirakat dan peribadatan? Lantas apa gunanya buku-buku ini?

Sampai kemudian saya bertemu seorang arif yang merangkumkan puzzle-nya. Bahwa pengenalan akan Tuhan, itu pada mulanya bisa dihantarkan lewat “ilmu” artinya analisa fikir kita yang bermain pada tangga awal.

Misalnya banyak…… Masuk lewat sains, bahwa segala sesuatu mesti dijadikan oleh suatu sebab, maka pasti ada penyebab dari segala yang ada ini, causa prima.

Lewat menyadari keteraturan di alam semesta, terlalu teratur, mesti ada yang buat.

Dan seterusnya.

Dan tentu juga lewat dalil naqli. Setelah semua bukti secara saintifik disusunkan, sampai kita bertemu… “Oooh iya juga ya”. Lalu masuk dalil Naqli-nya. Ini di Qur’an ada lho. Dibukakan semua pengetahuan mengenai Tuhan lewat Qur’an hadits, tentu ini harus pakarnya yang turun tangan.

Itu tangga pertama pengenalan akan Tuhan. Maka dikatakan oleh Imam Ghazali, awaluddin makrifatullah. Awal beragama adalah mengenal Allah. Makrifatullah adalah fundamen keberagamaan.

Bagaimana pengenalan itu sampai pada kita? Lewat ilmu, analisa fikir kita. Di-guide oleh yang udah ngerti bisa lebih cepat lagi.

Tapi analisa fikir saja, tidak cukup. Di atas makrifat, kata beliau, adalah keridhoan.

Pas masuk bahasan keridhoan, ini sudah main “rasa”. Karena diajari langsung oleh kenyataan hidup.

Kita bisa saja memiliki pengetahuan dan analisa fikir yang berkesimpulan solid. Tetapi pas dihantam badai hidup, “feel”-nya kita ga dapet. “rasa” kedekatan pada Tuhan itu kita ga dapet. Dapatnya masih gelisah dan gundah gulana. Saya berkali-kali begini.

Tetapi, masuk ke medan rasa, tanpa bekal “ilmu” yang memadai akan sulit. Karena logika akan berulang-ulang mencari pembenaran dan protes.

Barulah saya paham bahwa logika mesti kalah dulu, dengan ilmu yang sahih. Saat ilmu yang sahih sudah jadi cara pandang yang bersebati atau makjleb dalam diri, maka pas masuk ke medan “rasa” mau tak mau cara pandang itu yang dipakai.

Itulah mengapa, beliau yang arif mengatakan bahwa jika kita berulang kali dibanting-banting hidup tetapi impact atau “feel” kedekatan pada Tuhan itu belum didapat juga, berarti flow kita ada yang keliru. Basis logika atau cara pandangnya belum diperbaiki, maka “feel”-nya ga dapet.

Ya misalnya, untuk meyakini apa yang terjadi adalah yang terbaik, harus dibekali dengan segala knowledge yang mengalahkan logika kita agar tak protes. Mulai dari dalil Naqli Al-Qur’an yang mengatakan bahwa segala yang terjadi pasti berhikmah. Dalil hadits bahwa jangan mengatakan “seandainya” untuk hal yang sudah lewat. Dalil science bahwa kita tak bisa mengubah sekecil apapun tatanan mikro dalam hidup ini tanpa kita merusakkan tatanan makro-nya karena semuanya sudah saling kait mengait dengan sempurna.

Setelah semua ini masuk dan jadi cara pandang, baru kita masuk “medan rasa”. Umpama perang, bawa senjata.

Di medan rasa ini kita dibanting-banting berkali-kali. Secara fikiran kita ngerti bahwa ini yang terbaik, tapi gejolak rasa masih macam cacing kepanasan.

Waduh kok masih perih??

Dulu saya memprotes “perih” itu kok masih ada? Tapi akhirnya saya sadar, bahwa perih itu akan hilang seiring dengan waktu dan pembelajaran lewat kehidupan. Tapi harus ada yang sudah menyerah, yaitu logika kita, karena sudah mendapatkan pegangan yang pas. Hingga pada gilirannya “feel” atau rasanya sampai pada kita.

Di medan “rasa” ini, karena dia main feeling, jadi pendekatannya emang agak beda. Salah satu pendekatan yang diajarkan seorang arif adalah dengan selalu menyadari bahwa sejatinya ciptaan atau makhluk atau apa saja yang kita lihat ini tak punya wujud sejati. Mumkinul wujud. Yang sebenarnya wujud ialah dzat-Nya yang wajibul wujud. Tapi saya tak berkemampuan menerangkan lebih detail, dan memang harus pakarnya yang menerangkan. Terlebih saya juga masih jatuh bangun di tangga pertamanya.

Akhirul kalam….

Kata Syaikh Abdul Qadir Jailani, berpuas hatilah dengan apa yang ada padamu sampai Allah sendiri meninggikan taraf kamu.

Kata Rumi, Luka adalah tempat masuk cahaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *