ADAB KACAMATA YANG TERBATAS

Mata sudah lima watt ini, tapi dari sore pengen menulis tentang ini dan baru sempat sekarang. Ceritanya tentang kehebohan di Cibinong City Mall hari kemarin.

Di lantai atas, terjadi kehebohan. Saya dan anak saya mengira kehebohan itu karena kondisi yang darurat, setelah tanya-tanya kepo ke orang-orang baru saya tahu bahwa kehebohan itu ternyata karena ada artis. Kirain sesuatu yang serius dan gawat, ternyata artis toh……. artis bule, dan saya tak hapal namanya siapa.

Di dalam hati saya waktu itu, sempat tercetus “siapaaaa lagi ni orang”. seakan-akan ada suatu kesalahan moral yang dilakukan orang tersebut. Padahal, dia tidak melakukan apa-apa. Tetapi benak bawah sadar saya mencap gesture dan gerak-gerik bule sebagai sesuatu yang tidak sopan secara kultur asia.

Lalu saya tiba-tiba tersadar. Karena saya hidup dalam kultur indonesia, katakanlah ada sedikit porsi jawa dalam kehidupan saya, maka saya menilai kehidupan dalam standar kesopanan ala jawa. Jika ada sesuatu yang melanggar tata kesopanan yang kurang njawani, maka saya tak terima, dan hal itu refleks saja dalam alam bawah sadar saya.

Bahkan dalam beribadah, misalnya berdo’a kepada Tuhan. Mengadukan masalah, lewat munajat misalnya. Maka mau tak mau saya akan memandang hidup dalam pola budaya dan keseharian saya. Misalnya, “Ya Allah….. tolonglah, kok orang-orang itu begitu banget…. kok ya mereka begini begitu…….” Misalnya begitu saya berdo’a.

Tanpa saya sadari, saya sudah mengira bahwa Allah “merasa dan berfikir” dalam alam budaya yang sama dengan saya. Seolah-olah Allah itu sesuatu yang sangat Indonesia. Seolah-olah Allah itu sangat timur sekali. Tentu ini hanya pengibaratan, tapi saya yakin sepenuh hati rekan-rekan paham maksudnya.

Mau tak mau, manusia mensifati Tuhan dalam kacamata persepsinya sendiri.

Padahal, Allah adalah juga Tuhan segala bangsa.

Bagaimana kita mempersepsi Tuhan, dalam pandangan begini, sangat perlu hati-hati. Itulah mengapa jika kita ingin berasyik-asyik dengan do’a, munajat, dan segala macam peribadatan lainnya, adab yang harus dimengerti ternyata adalah jangan menyifati Tuhan dengan sifat yang tak layak bagiNya.

Karena manusia itu sering mengira-ngira Tuhan itu begini begitu. Seolah-olah kalau kita marah maka Tuhan marah juga. Kita mengira Tuhan berfikir seperti kita. Padahal, kita sudah mempersepsi dia dalam cara pandang kita sendiri.

Seperti contoh klasik. hari hujan deras. Tukang cendol mempersepsi keadaan itu sebagai “Allah membenci saya”, sedangkan tukang ojek payung mempersepsi hujan itu sebagai “Allah sedang memberi saya rezeki”. Sama-sama hujan, tetapi Allah sudah dipandang dalam dua citra sifat, yang sebenarnya karena persepsi manusia itu sendiri.

Maka itu, penting sekali memahami adab-adab dalam memandangNya lewat pintu depan ini. Agar tak keliru mensifatiNya dengan sifat yang tak layak bagiNya. Sebuah panduan paling umum adalah : rahmatNya mendahului kemurkaanNya. itu panduan untuk memandang dari sisi depan, istilahnya begitu.

Dan saat seseorang sudah tidak lagi menyoal apa-apa atas kejadian hidupnya, maka Tuhan tidak lagi “terpandang” dalam citra sifat-sifat yang bermacam-macam.

Contoh sederhananya adalah misalnya dia sudah sangat ridho akan kejadian hidup. Maka si Tukang Cendol tadi, menerima kondisi hujan maupun kondisi panas. Saat hujang maupun panas sudah tidak jadi soal baginya, maka hilanglah persepsi dualitas sifat-sifat, yang seakan-akan Tuhan kadang-kadang baik kadang-kadang jahat. Karena persepsi itu adalah keterbatasan manusia itu sendiri, memandang Tuhan dalam kacamata manusiawi yang terbatas.

sederhananya, kalau mau berasyik-asyik dengan do’a dan curhat-curhat lewat kejadian hidup kita; jangan sampai kita berprasangka buruk tentang Tuhan. Sifatilah DIA dengan sifat yang layak bagiNya. Misalnya, pahamilah Asmaul Husna dengan baik, agar tak keliru memaknai hidup.

Tetapi, jika sudah bisa melepaskan diri dari dualitas, dan sudah menerima segala hitam putih susah senangnya hidup, maka Tuhan tak lagi terpandang dalam citra yang bersifat-sifat. DIA sebagai DIA semata-mata.

saya hanya tulis ulang sepemahaman saya dari wejangan seorang guru.  Dimana level yang terakhir itu, saya sendiri ga bisa-bisa, hehehehehe….. level bawah pun tak mengapa, asalkan tidak keliru adab menyifatiNya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *