ADA GENI DI MATAMU

Sepanjang usia saya sejauh ini, saya mengenali diri saya sendiri sebagai orang yang tidak ambisius. Dalam banyak hal. Sejak sekolah, kuliah, dan juga dalam karir. Saya menilai diri saya sendiri sebagai “tidak ngoyo”. Ga banyak maunya.

Hingga berapa hari lalu, saat anak saya mengabari dengan riangnya bahwa dia baru saja mendapatkan piala dari Musholla komplek, sebagai santri teladan III, tak urung saya menjadi begitu gembira.

Saya mengambil fotonya, saya kirimkan pada adik-adik saya, saya edit lalu hendak posting di Instagram tetapi tiba-tiba saya bertanya pada diri saya sendiri, “lho…. Sejak kapan hiruk pikuk achievement, atau” pencapaian” ada dalam kamus hidupmu? ”

Iya ya? Kenapa saya menjadi begitu bersemangat padahal hidup adalah senda gurau belaka? Kenapa saya cenderung biasa-biasa saja pada hidup saya sendiri lalu kenapa saya menjadi begitu bersemangat atas pencapaian anak saya?

Lalu saya merenungi, bagaimana harmoninya; antara kesadaran bahwa kehidupan ini sebagai senda gurau dan masuk dalam takdir Tuhan, dengan “semangat pencapaian” dengan gejolak dan gairah dalam hidup?

Tiba-tiba saya teringat, sekali waktu saya sempat mengirimkan pertanyaan pada seorang Arif: mengapa -setelah paham bahwa hidup adalah senda gurau belaka- saya melihat hidup menjadi begitu tawar. Tidak ada kebahagiaan berlebih, juga tidak ada kesedihan berlebih. Semua menjadi terlihat begitu biasa di mata saya.

Mulanya saya mengira beliau akan menjawab dengan mengatakan bahwa memang begitulah seharusnya melihat hidup. Tawar, dan kita menjadi mature dengan tiada takut dan tiada duka. Tapi jawaban beliau mengagetkan saya.

Apa kata beliau? Kurang lebih maknanya adalah: selagi masih terasa “tawar” dan “datar” itu tandanya kamu masih “wujud”.

Bahwa persandaran penuh pada Allah itu akan membuat seseorang menjadi “relax”, relax dikarenakan menyadari bahwa kita hidup dalam asuhanNya. Kesadaran bahwa kita hidup dalam asuhanNya inilah yang menggiring pada kebahagiaan.

Oooohhh.. Saya kaget juga. Ternyata saya masih belum sepenuhnya sadar bahwa kita hidup dalam asuhan-Nya.

Kemudian mengertilah saya, bahwa tingkatkan berikutnya setelah menyadari bahwa kehidupan ini adalah drama-Nya, bahwa kita adalah hidup dalam asuhan-Nya, maka selanjutnya kita” bermain” gembira dalam kehidupan ini.

Saya berhenti sebatas “menonton” hidup. Tetapi tak “menggembirai” hidup.

Seorang sahabat bertanya pada Rasulullah SAW, jika semua sudah tertakdir, lantas untuk apa usaha dan amal? Mendingan tak usah beramal.

Rasulullah SAW katakan, jangan berpasrah atau berdiam diri. Melainkan beramallah, karena setiap orang akan dimudahkan beramal atas apa yang telah ditakdirkan untukNya. [1]

Dalam satu ayat lainnya, ada anjuran untuk berbuat kebaikan, jika sudah melakukan suatu pekerjaan maka beralihlah lakukan pekerjaan lainnya.

Dalam lain pesanan, dikatakan: jangan tak melakukan apapun! Do something.

Semuanya ternyata dalam rangka bermain baik dalam drama kehidupan.

Saya meminjam istilah Emha Ainun Najib. Bahwa orang-orang yang tak ada semangat dalam hidupnya itu ibarat tak ada geni (nyala api) di matanya.

Ternyata disitulah harmoninya.

Hiduplah tidak ngoyo. Jadilah orang yang tidak gumunan, tidak gampang kagetan, tenang seperti air di telaga yang luas, tapi jangan matikan nyala di matamu.

Berbuatlah kebaikan. Bermainlah secara gembira karena hidup ini anugerahNya, DIA menceritakan diriNya.

Bahasa seorang Arif mengistilahkan kondisi ini dengan “jiwa” kita duduk di pintu belakang dan mengingati Allah, tetapi di pintu depan kita tahu kita hidup mengikuti rentak-Nya. [2]

Maka kepada anak saya, saya katakan keren sekali itu hadiahnya. Juara tiga itu OK. Ajiiiib. Atau kelak suatu ketika dia tidak juara pun ga masalah. Atau menjadi yang terbaik pun dahsyaaaat juga.

Tapi yuk menggembirai hidup. Bermain sepenuh kesyukuran. Berkarya sepenuh kemanfaatan. Happy atas anugerah hidup. Relax karena sadar bahwa kita diasuhNya. Itu semua adalah sepaket dengan hidup yang tidak ngoyo karena paham semua hanya sandiwara.

Spiritualitas yang mature itu ternyata jiwanya tenang seperti telaga, tetapi Geni tak mati dimatanya.

Bukan ambisi. Tetapi semangat karena mensyukuri kehidupan ini.

©debuterbang


[1] dari [Ali] Radhiallah ‘anhu berkata; “Kami menghadiri jenazah di Baqi’ Al Gharqad, tiba-tiba Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi kami. Beliau duduk dan mereka ikut duduk di sekelilingnya. Beliau saat itu membawa tongkat yang beliau gunakan untuk memukul. Beliau mengangkat pandangannya dan bersabda: “Tidak ada seorangpun dari kalian yang hidup kecuali telah ditetapkan tempatnya apakah dia di syurga atau di neraka, apakah dia sengsara atau bahagia.” Mereka bertanya; “Wahai Rasulullah, alangkah sebaiknya kita menetapi ketentuan tersebut dan tidak perlu beramal. Karena sudah ditetapkan bahwa jika dia termasuk orang yang bahagia maka akan berjalan ke arah sana. Jika dia termasuk orang yang celaka niscaya dia akan menuju ke arah sana.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Tidak begitu, beramallah! Semuanya akan dimudahkan. Jika dia termasuk orang yang celaka maka dia akan dimudahkan dalam melakukan amalan orang yang akan celaka. Jika dia termasuk orang yang bahagia maka dia akan dimudahkan dalam melakukan amalan orang yang akan bahagia.” (H. R. Ahmad : 1015)

[2] Ust. H. Hussien Abd Latiff

ilustration image were taken from this source

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *