MENCARI RAHMAT DALAM ROTI, SUSU JAHE, DAN TUKANG PARKIR

Sore-sore sekitar limabelas menit sebelum jam pulang kantor, saya keluar kantor menuju warung waralaba yang sedang marak sekarang ini. Tak ada hal yang penting-penting amat untuk dibeli sih, cuma beli roti pengganjal perut. Tetapi sengaja saya sempatkan waktu untuk menghirup aroma sore, menyeruput sedikit matahari yang hangat selepas ashar. Sebuah rahmat yang jarang saya nikmati.

Sekarang saya senang mencari momen-momen untuk menikmati rahmat. Sesederhana Momen jalan kaki dari kantor ke warung di sore hari. Atau sesederhana naik motor dari rumah menuju angkringan tempat jual susu jahe di malam hari. Ternyata nikmat sekali.

Tentang hal ini, saya ada cerita. Jadi kemarin malam saya keluar niatnya mau beli susu jahe. Sebelum mampir ke angkringan saya stop dulu di Indomar*t mau beli obat flu. Setibanya di parkiran pandangan saya tertumbuk pada lelaki gempal yang meniup peluit, otomatis saya membatin kesal, yah……..ada tukang parkir lagi.

Dalam hati saya langsung mengingat-ingat di saku mana saya simpen uang receh, sembari agak males karena kadang saya rasa tukang parkir ini cuma muncul pas mau ambil bayaran aja.

Saya parkir. Lalu melangkah mau masuk ke toko. Sejurus kemudian motor saya yang sedang diparkir itu berjalan mundur ke arah jalan raya. Karena rupanya saya parkir di area yang kurang rata. Saya langsung kaget bukan kepalang, dan tebak siapa yang menyelamatkan motor saya? Tukang parkir yang tadi saya grundelin dalam hati. Hehehehehe. Dengan cekatan dia menyelamatkan motor saya.

Walhasil saya urung kesal pada beliau. Dan saya berikan uang parkir dengan sigap. Inilah akibatnya kalau suka grundelin orang. Hehehehe.

Pelajarannya, saya rasa adalah untuk meluaskan persepsi kita -utamanya saya- tentang rahmat. Rahmat hadir dalam benda-benda, dalam momen, dan bahkan berupa orang-orang yang selama ini ada di sekitar kita tetapi kita luput menyadari mereka.

Kenapa luput? Saya rasa salah satunya karena cara pandang. Terlalu menganggap hidup ini kompetisi dan orang lain dianggap mengancam eksistensi kita.

Betapa cara pandang bahwa hidup itu adalah rahmat, penting banget.

Tanpa kesadaran bahwa jalan sore beli roti dan naik motor malem ke angkringan adalah rahmat, saya sering luput untuk memancing kesyukuran mekar dalam hati saya.

Dan dari tukang parkir, saya diajari menyadari bahwa orang-orang di sekitar kita pun rahmat.

Ada cerita lagi tentang ini. Jadi sewaktu saya awal-awal kerja kantoran di bidang Service Migas, saya memandang kompetitor itu sebagai semata-mata lawan bisnis. Sampai pandangan itu saya harus koreksi sendiri ketika dalam banyak sekali kesempatan Perusahaan saya malah membeli barang dari kompetitor. Atau bahkan meminjam barang dari kompetitor. Lho ini lawan kok malah ditemani? Saya kan bingung.

Seorang rekan saya yang kebetulan mengambil Master Degree di bidang bisnis menjelaskan pada saya bahwa teori marketing yang modern tidak lagi memandang persaingan sebagai kompetisi yang saling menjatuhkan, melainkan kompetitor malah dijadikan teman kolaborasi. Sebuah pendekatan baru.

Disini saya tiba-tiba terfikir. Inilah jangan-jangan yang dimaksud Qur’an bahwa dijadikan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling kenal mengenali.

Nilai-nilai masyarakat di masa dahulu sekali, menganggap bahwa perang antar kabilah, antar kerajaan adalah hal lumrah. Perlahan-lahan manusia modern bergeser dan melihat bahwa kerjasama antar negara lebih baik ketimbang perang.

Inilah sebenarnya kita hidup dalam lautan rahmat. Tetapi sering kita luput mengamatinya. Karena kita tidak belajar tentang orang lain. Tidak mengenali mengapa mereka berbeda. Dan yang utamanya kita mengira rahmat itu hanya berupa benda, atau momen-momen bahagia. Padahal keragaman dalam hidup ini rahmat juga.

Dalam orang-orang yang berbeda-beda dan seliweran di hari kita.

KAKEK TUA DAN ILMU KESYUKURAN

Saya mendapatkan amunisi hari ini,  hikmah untuk belajar hidup dalam kesyukuran. Setelah beberapa waktu vacuum menulis, alhamdulillah hari ini bertemu pelajaran yang indah dari kakek tua di halaman sekolah anak saya.

Ceritanya sejak pagi suasana sudah padat sekali. Jalanan macet dimana-mana karena hari pertama anak-anak masuk sekolah. Saya berkesempatan mengantar anak pertama masuk sekolah. Cuti dua hari yang saya ajukan diperkenankan oleh bos di kantor, sehingga jadilah saya pagi ini bersama istri dan anak menembusi Jakarta yang tumpah ruah macetnya.

Setiba di sekolah anak saya, selepas mengantar anak masuk ke kelas, saya duduk-duduk dan menikmati rindangnya pepohonan di halaman sekolah. Sesekali mengintip Group-group Whatsapp di handphone saya, yang notifikasinya berdenting-denting. Salah satu obrolan menyerempet mengenai hidup dalam kesyukuran.

Memandang kehidupan dalam warna yang sedih dan mengharu biru, kita seringkali sudah khatam. Sejak kecil kita dididik untuk menyifati Tuhan dengan angker dan kejam. Melulu tentang pahala dan siksa. Tetapi bagaimana cara memandang hidup dalam kesyukuran dan bahagia, terkadang kita perlu belajar pada para arif. Bagi para arif, hidup ini adalah pentas anugerah ilahi, Allah yang memiliki 100 rahmat, dan satu rahmatNya dibagikan ke seluruh dunia sehingga binatang buas enggan memakan anaknya sendiri. Itu baru satu. sisanya 99 rahmat disimpanNya untuk hari akhir.

Walhasil kejadian yang sama bisa sama sekali beda maknanya antara kita dan mereka. Bagi kita “siksaan”, bagi mereka “anugerah”.

Nah… ngomong-ngomong tentang anugerah dan cara hidup dalam kesyukuran inilah, ndilalah, setelah mengantar anak masuk ke ruang kelas, di bawah pohon rindang saya bertemu dengan seorang kakek, yang cerita punya cerita rupanya sedang menunggu cucunya yang baru saja masuk SD juga.

Saya ngobrol basa-basi dengan sang kakek yang rupanya seorang Doktor, dosen dari sebuah universitas ternama di Surabaya. Orangnya bersahaja dengan kacamata silindris yang tebal dan jadul khas seorang kutu buku.

“Saya orang yang sederhana,” ujarnya. “Alhamdulillah, Allah menolong saya untuk tidak menjadi orang yang kekurangan, dan tidak juga menjadi orang yang kaya berlebih.” Dia melanjutkan.

“Yang penting, pas butuh; ada. Gitu ya pak?” saya menyahut.

Sang kakek mengangguk dan mengiyakan. Apa sih yang lebih penting dalam hidup ini selain dari kecukupan?

Merasa satu frekuensi, maka kakek itu semakin banyak bercerita.

Dia bercerita tentang bagaimana kemudahan-kemudahan banyak menyambangi hidupnya. Betapapun dia bukan orang yang “kaya”. Sebutlah salah satu contoh, sewaktu dia pergi ke Kupang, lalu disana tiba-tiba ditemui orang yang tidak dia ingat persis, eh rupanya anak muridnya dahulu. Dan kemudian berbagai pertolongan ditawarkan padanya yang saat itu sedang musafir.

Lalu saat dia hendak mengurus suatu hal, di kantor pemerintahan. Begitu juga. Seseorang yang mengenalinya tiba-tiba menawarkan bantuan dan kemudahan.

Anaknya, sejak kuliah hingga lulus mendapatkan beasiswa, sehingga dia tidak kesulitan biaya. Lulus 3.5 tahun dengan cumlaude dan lepas itu jadi PNS di salah satu kantor kementrian.

Hingga yang paling baru adalah saat dia berdoa meminta kepada Allah agar diberikan kesempatan untuk sholat di depan Ka’bah, esok paginya seseorang menelepon dia dan mengatakan bahwa dia sudah dibelikan tiket umroh.

Melimpah ruah kemudahan, dalam hidup yang sederhana. Orang biasa saja, tetapi yang hidupnya dicukupi.

Merasa tertarik, saya bertanya. “Apa resepnya kira-kira pak?”

Dan ndilalah lagi, resep dari beliau adalah tentang tema hidup dalam kesyukuran. Sesuatu yang sejak pagi tadi kembali terngiang-ngiang di benak saya. Mungkin begitulah cara Allah mengajar.

Menurut beliau, jika kita bersyukur, maka Allah akan tambahkan ni’mat. Hal ini sangat benar dan beliau sudah buktikan berkali-kali.

“Bersyukur” bagi beliau diterjemahkan dalam tiga bentuk sikap.

PERTAMA. “Rawat”. Rawat pemberian Allah SWT. Ada sepatu, dirawat. Ada apa-apa dirawat. Seberapapun kecilnya pemberian itu. Beliau memberi contoh uang receh. Misalnya kita biarkan bergeletakan, maka uang receh itu akan hilang. Rawat pemberian Tuhan sekecil apapun pemberian itu diberikan kepada kita. Jangan lihat kecilnya, tapi sadari bahwa yang kecil itu adalah anugerah juga.

“Wah…. Bener banget pak, saya suka ga kepikiran yang ini.” Saya tiba-tiba teringat istri di rumah suka ngomelin saya karena suka males nyuci mobil, hahahaha… ini tandanya saya kurang mengaplikasikan “rawat” itu tadi.

“Lalu yang kedua apa Pak?” Tanya saya, mengorek-ngorek lebih dalam.

KEDUA. “Pakai”. Menurut sang kakek itu, cara hidup dalam kebersyukuran yang kedua adalah dengan memakai pemberian itu. Jangan tidak dipakai!

Misalnya, kita diberikan uang oleh Allah, malah kita eman-eman mau make. Alih-alih hemat, kita malah bisa jatuh dalam sikap kikir.  Barangkali contoh lainnya adalah baju, kita sering punya baju bertumpuk dipakai tidak, dibagikan tidak, tetapi memenuhi lemari tanpa menjadikan benda itu punya daya guna. Jangan…….. justru pakai benda-benda untuk kebaikan.

“Saya tahu pak, saya tahu……” saya menimpali dengan semangat, bagian yang ini sangat sesuai dengan dialektika batin saya sendiri. “Dulu pak, saya hidup dalam kondisi ekonomi yang begitu sulit,” kata saya pada beliau. “Kondisi berubah sejak saya bekerja, lalu Alhamdulillah saya diberikan kemudahan untuk membeli kendaraan. Tetapi….. setelah saya membeli kendaraan, ada perasan kikuk dan sungkan bagi saya untuk memakai kendaraan itu. Semacam rasa bersalah yang aneh. Butuh waktu lama bagi saya sampai akhirnya saya menyadari bahwa rasa kikuk itu bukan tawadhu, melainkan mental kerdil terhadap harta. Saya mengira, harta lebih mulia daripada saya. Padahal, harta haruslah diberdayakan didayagunakan untuk melayani sang empunya. Bukan kita merasa rendah terhadap harta.”

“Benar sekali itu mas,” kata sang Kakek. “Itu dia rumusnya, setelah Rawat, pakai harta itu untuk kebaikan.” Beliau mengingatkan.

“Lalu apa yang ketiga?” Saya tidak sabar menanti hikmah ketiga.

KETIGA. “Nikmati”. Menurut sang kakek, saat kita memakai harta benda itu, maka nikmatilah benar-benar saat-saat kita memakai itu. Dalam menikmati itu, kita seakan-akan berkomunikasi / connect kepada Tuhan dalam kesyukuran. Karena kita larut dalam menikmati anugerah. Sang kakek memberi ilustrasi tangannya menunjuk ke atas. Saya mengartikan itu sebagai sikap penuh ingatan kepada Tuhan saat kita sedang menikmati pemberian Allah.

Langsung saja, ingatan saya melayang pada petuah seorang Arif Billah, yang mengajarkan agar menikmati setiap suapan yang masuk dalam mulut kita. Menikmati anugerah sampai terasa sekali bahwa Allah mengurus kita dengan banyak kemudahan-kemudahan. Hingga “gegaran” atau impact berupa rasa hati yang trenyuh dengan anugerah Tuhan, muncul

Itulah tiga tips hidup dalam kesyukuran versi sang Kakek tadi. Tidak selang berapa lama azan zuhur menyeruak. Kami buru-buru berjalan ke arah ruang kelas, dan melihat satu demi satu anak-anak yang baru masuk SD itu keluar dengan muka gembira. Pulang cepat. Karena baru masa orientasi saja.

Setelah menjemput anak saya, saya pamit pada sang kakek, seorang Doktor yang hidup bersahaja itu, tetapi kesahajaan dan kesyukuran telah mengantarkannya pada kemudahan hidup. Barangkali karena beliau benar-benar meyakini bahwa kita ini hidup diasuh oleh Tuhan.

“Sampai ketemu lagi, Pak”, saya berkata padanya.

Lalu saya ajak anak saya ke parkiran motor, sembari sumringah karena hati dipenuhi hikmah yang indah. Anak-anak inilah, yang nanti harus kita ajarkan hidup dalam kebersahajaan, dan memandang hidup sebagai pagelaran anugerah dari Tuhan. Jalan cinta yang diajarkan Para Arif sepanjang masa.


*) Gambar ilustrasi dari macet dahsyat pagi tadi. hehehe

Proudly powered by WordPress | Theme: Baskerville 2 by Anders Noren.

Up ↑