MERANGKAK DENGAN BAHAGIA

Sekitar dua hari lalu, di beranda facebook seliweran berita tentang seorang paramedis di palestina yang tewas ditembak oleh tentara Israel saat sedang menyelamatkan korban. Sebuah ending yang heroik sekali, kita berduka, sekaligus kagum pada orang-orang yang mendarma baktikan kehidupannya untuk kebaikan.

Kisah lainnya yang viral adalah kisah seorang Miliuner Australia, yang mendermakan begitu banyak dari hartanya untuk amal sosial. Membangun 200 desa untuk janda-janda miskin, membangun masjid, membangun sekolah untuk 600 anak yatim, dan rumah sakit, belum lagi bisnis mensupport komunitas-komunitas lokal. Dan terakhir beritanya beliau meninggal dunia karena kanker, tetapi sebelum meninggal beliau meninggalkan sebuah rekaman video yang juga menyentuh sekali.

Terlepas dari kebijakan tingkat tinggi, bahwa setiap orang sudah tertakdir untuk melakukan amalan yang dituliskan untuk mereka, saya seringkali berdecak kagum pada orang-orang yang luar biasa itu, mereka membuat saya merasa seperti “merangkak” menuju Tuhan, sedangkan mereka “berlari”.

Orang-orang yang berlari menuju Tuhan, inilah yang membuat saya sering merasa begitu kecil.

Yang lumayan menenangkan di kala saya merasa ketertinggalan seperti itu, adalah wejangan seorang arif, yang mengatakan bahwa bukan tertib / tata ibadah “luaran” yang sampai pada Tuhan, melainkan “ingatan” atau yang “dalam”.

Maksudnya, tentu bukan mengatakan bahwa amal ibadah di luar tidak berarti, justru sangat berarti, tetapi saya memandangnya bahwa jika yang di dalam dibenahi, mudah-mudahan amal luar kita yang sedikit bisa menjadi berarti. Syukur-syukur ditakdirkan semakin banyak dan semakin luas.

orang-orang yang tidak tertakdir untuk memiliki kapasitas berbuat kebaikan sosial sebesar mereka-mereka yang saya sebut di atas tadi, bisa juga berharap, karena pada intinya sesuatu yang “di dalam” inilah yang nanti akan sampai pada NYA.

Barangkali, yang mewakili mengenai ini adalah sebuah ayat berikut : “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS. Al Hajj: 37)

Juga berikut ini, Abu Bakar Ibn Ayyas berkata, “Abu bakar mengungguli kalian bukan dengan banyaknya ia puasa atau shalat, tetapi dengan sesuatu yang tertanam kokoh dalam hatinya.”[1]

Lumayan menghibur bukan? hehehe….. belajar membenahi hati, sehingga amal yang sedikit mudah-mudahan berarti. Jadi ga ketinggalan-ketinggalan amat.

Ada satu penggalan puisi dari Rumi, yang mengharu biru

Jalaluddin Rumi tentang Taubat:

Jika engkau belum mempunyai ilmu dan hanyalah prasangka,
maka milikilah persangkaan yang baik tentang Tuhan.
Begitulah caranya!

Jika engkau baru mampu merangkak,
maka merangkaklah kepada-Nya!!

Jika engkau belum mampu berdo’a dengan khusyu’,
maka tetaplah persembahkan do’amu yang kering, munafik dan tanpa keyakinan;
karena Tuhan dalam rahmatNya tetap menerima mata uang palsumu.

Jika engkau masih mempunyai seratus keraguan mengenai Tuhan,
maka kurangilah menjadi sembilan puluh sembilan saja.
Begitulah caranya!

Wahai pejalan!
Biarpun telah seratus kali engkau ingkar janji,
ayolah datang, dan datanglah lagi!

Karena Tuhan telah berfirman:
“Ketika engkau melambung ke angkasa…
ataupun terpuruk ke dalam jurang,
ingatlah kepada-Ku,
karena Aku-lah jalan itu.”

Bagi yang sedang merangkak, para guru mengatakan bahwa rahmatNYA tentu lebih cepat daripada usaha hambaNYA. Jadi merangkaklah dengan bahagia.


[1] (Mifah Dar As-Sa’adah, Ibnul Qayyim Al-Jauziyah – 1/82)

Note: Gambar ilustrasi dan feature dipinjam dari link ini

ROMANTISME PENGHAMBAAN (2)

Melihat anak-anak kecil berlarian di depan Musholla komplek, menjelang waktu sholat tarawih, saya jadi teringat masa-masa kecil saya dulu. Keseruan Ramadhan. Hal yang paling dinanti saat puasa ramadhan, justru momen-momen indah bermain bersama teman-teman.

Jadi teringat sewaktu menghadiri kelas parenting di TK anak saya, narasumber menyebutkan bahwa hal yang paling utama, dalam pendidikan anak usia kurang dari 7 tahun adalah menanamkan rasa bahagia dalam memori mereka, atas momen-momen ibadah seperti sholat, atau puasa. Jadi yang penting justru “rasa bahagia”nya dulu, bukan full-nya dulu. Jika hati sudah bahagia, maka kedepannya akan ringan mengerjakannya.

Betapa sebuah “kebenaran” yang disampaikan dengan cara yang indah dan menyentuh romantisme kemanusiaan, bisa menjadi mudah masuk dan awet.

Hampir senada dengan itu, saya mengingat bahwa orang dewasa pun sebenarnya sama saja dengan anak-anak. Sebagian para arif, mereka sudah sampai pada kedudukan dimana mereka tidak perlu alasan-alasan untuk menemui Tuhan. Mereka sibuk mengingatiNya, sampai lupa dengan alasan-alasan. Sedangkan, mayoritas kita adalah orang-orang yang untuk mengingatiNya butuh alasan-alasan, misalnya, “do’a” atau permohonan.

Dengan menyentuh sisi romantisme penghambaan, maka orang-orang seperti kita bisa punya alasan-alasan untuk selalu berdo’a kepada Tuhan. Meningati Tuhan, lewat do’a, lewat alasan-alasan Butuh inilah, butuh itulah. Bersyukur karena inilah, bersyukur karena itulah. Berlindung dari sesuatu, dan macam-macam.

Teringat seorang guru pernah berkata, jika kita rasa tak puas akan sesuatu, maka berdo’alah, meminta pertolongan.

Seorang sahabat bertanya kepada beliau, mengapa beliau tak berdo’a untuk kesembuhan matanya yang memakai kacamata? sedangkan do’a beliau insyaAllah makbul?

Jawaban beliau kalau saya bahasakan ulang kurang lebih tak semestinya kita-kita yang belum “sampai” memraktekkan hal itu (yaitu tidak berdo’a karena ridho pasrah pada af’al Tuhan). Karena ada adabnya sendiri-sendiri. Ada yang menggunakan alasan-alasan untuk mengingatiNya, ada yang tak lagi perlu alasan-alasan.

Mereka para arif, sudah tenggelam dalam penyaksian. Sedangkan kita-kita membutuhkan alasan-alasan lewat kelemahan kehambaan kita, baru bisa merangkak menuju tangga dimana mereka-mereka sudah sampai.

Itu untuk dialektika pribadi.

Begitupun dalam menyampaikan pada orang lain.

Saya membaca bagaimana seorang Rumi berevolusi dalam caranya menyampaikan pada murid-muridnya. Dalam Fihi Ma Fihi, tulisan-tulisan Rumi lebih berbentuk prosa panjang. Sedangkan, dalam bukunya yang belakangan, yaitu Matsnawi, tulisan-tulisan Rumi lebih berbentuk cerita, kisah-kisah, perlambang-perlambang lewat hikayat dan dongeng. Karena kononnya Rumi menyadari bahwa ceritra-ceritra lebih bisa menyentuh sisi romantisme kemanusiaan ketimbang prosa-prosa panjang.

Saya menikmati romantisme kelemahan kehambaan itu, saat merenungi sholat Jum’at tadi siang. Betapa sudah ribuan Jum’at yang saya lewati, dan perjalanan ini terasa begitu panjang dan romantis dalam segala onak duriNya. lewat rasa butuh dan rasa syukur itulah, saya punya alasan-alasan untuk berdo’a padaNya. Mengejar ketertinggalan para Arif yang sudah sampai di pintuNya.

Terngiang kembali pesanan seorang Arif, kalau belum bisa langsung mengingatNya -tanpa alasan-alasan-, maka lewatilah pintu do’a.

-debuterbang-


Note : Gambar ilustrasi dan feature di tulisan ini, saya pinjam dari link berikut ini

Proudly powered by WordPress | Theme: Baskerville 2 by Anders Noren.

Up ↑