PANGGUNG SANDIWARA

Teringat dulu di dekat rumah saya di Sumatera ada sebuah Musholla kecil. Di sana biasanya sholat maghrib berjamaah. Dan salah satu momen yang saya sangat ingat adalah waktu anak-anak kecil ribut lari-larian saat orang sholat maghrib, seusai sholat seorang bapak-bapak tua yang sudah sepuh nampaknya geram dan menggebuk anak-anak itu pakai peci. Hehehe.

Tapi toh orangtua anak-anak yang digebuk pakai peci malah terima-terima saja anaknya dimarahi. Barangkali metoda jaman dulu memang begitu.

Berpuluh tahun kemudian, saya pindah ke Jakarta. Di dekat rumah saya sekarang ada juga musholla kecil. Anak-anak masih sering bermain lari-larian. Tetapi penerimaan orang disini terhadap anak-anak yang brisik di Musholla agaknya lebih relax. Tak pernah saya lihat bapak-bapak tua menggebuk anak-anak. Paling banter menegur seusai sholat.

Dari kepindahan saya beberapa kali di beberapa tempat, saya jadi mengenal setiap tempat mempunyai kultur yang berbeda.

Perbedaan itu Bahkan tak hanya hal sepele semisal sikap terhadap anak-anak yang brisik di Musholla. Hal-hal yang agak lebih berat juga orang-orang berbeda-beda.

Tentang demokrasi. Tentang khilafah. Tentang metoda dakwah. Tentang macam-macam. Sampai pada hal yang lebih fundamen semisal sisi spiritual dalam keberagamaan. Tentang sifat-sifat Tuhan. Tentang takdir misalnya. Dan lain-lain.

Melihat keragaman itu, baru saya sadari bahwa hanya sia-sia belaka, jika kita hidup dalam keinginan membuat dunia menjadi satu warna saja. Dunia memang berbeda-beda. Dan beginilah adanya.

Teringat Rasulullah SAW yang dalam kedukaan beliau berdakwah, lalu ummatnya masih juga ingkar, beliau malah ditegur oleh Allah SWT. Jangan jadi orang yang jahil. Jika Allah mau, maka dunia ini akan bisa dibuat seragam oleh Allah. Tapi nyatanya Allah inginkan begitu. Beragam-ragam.

Artinya, bahkan orang-orang kafir yang ingkar pun Allah buat begitu, for a reason, ada hikmah dan bagian utuh dari cerita hidup.

Menceritakan DIA sendiri. Pemilik kehidupan yang penuh dinamika ini.

Barulah saya mengerti bahwa yang paling pokok dalam hidup ini ternyata adalah kita sebagai pribadi bergerak dari tangga keyakinan yang satu, menuju tangga keyakinan yang lebih tinggi lagi.

kita sebagai pribadi menemukan arti hidup yang semakin mendalam setiap harinya.

Boleh jadi dalam peranan kita Akan selalu ada orang yang berbeda dengan kita. Berbeda lakon. Beda peran. Beda kepentingan. Disisi lain, akan selalu juga ada orang yang beririsan jalan dengan kita, barangkali menempuh perjalanan yang sama atau searah.

Setiap manusia sedang menempuh rel mereka sendiri-sendiri. Yang paling pokok adalah kita menyadari peran kita dalam kehidupan. Dan hidup dalam sikap penghambaan dalam peranan yang sudah kita sadari itu.

Setiap orang ternyata hidup dalam lakonan di panggung sandiwara Maha besar ini.

Dan marilah kita bermain sebaik-baiknya sembari menyadari bahwa pagelaran sandiwara besar ini sesungguhnya menceritakan Sang Empunya, bukan tentang kitanya.