MENGETUK PINTU RAJA

Sekumpulan orang yang hendak bertandang ke Istana Raja, sedang mendengarkan petuah dari seorang guru. Sang guru memberi tahu murid-muridnya bagaimana “cara mengetuk pintu gerbang Sang Raja”.

“Angkat tangan kalian, genggam dan buat kepalan, lalu ketuk di tengah pintu dengan sopan, dan sungguh-sungguh. Tunggu Sampai pintu dibuka”. Pesan sang Guru.

Seorang anak muda diantara mereka bertanya, “lalu apa yang terjadi jika pintu dibuka?”

Guru tadi menjawab, “akan ada pengawal istana mempersilakan masuk”.

Seorang lainnya menimpali, “ya….saya pernah dipersilakan masuk. Di dalamnya ada taman hijau seluas mata memandang”.

Seorang lainnya menjawab, “jika pintu terbuka kita bisa mendengar derap langkah pengawal istana dengan jelas”.

Anak muda di antara kumpulan itu tadi, merasa terpukau dengan deskripsi keindahan pekarangan istana dan sambutan pengawal-pengawal kerajaan. Sehingga lupa bahwa tugas utama pengunjung istana kerajaan adalah terus mengetuk dan menunggu dengan sopan di depan pintu gerbang.

Sampai suatu hari. Anak muda tadi berkunjung ke istana dan mengetuk pintu gerbang Raja, sekali.

Selepas mengetuk dia menunggu mengapa tidak ada pengawal istana membuka pintu gerbang? Diketuknya lagi. Belum juga ada terbuka. Heranlah dia, mengapa tak terlihat taman hijau seluas hamparan mata? Bingunglah dia, bagaimana cara mengetuk pintu dengan benar?

Merasa kecewa. Anak muda tadi pulang dan bertanya pada sang guru. Bagaimana cara mengetuk pintu dengan benar?

Sang guru menjawab. “Bukankah sudah kuajarkan, angkat tanganmu. Buat kepalan dan ketukkan ke tengah pintu dengan sopan.”

Kembalilah anak itu ke pintu gerbang istana. Diketuknya sesuai panduan sang guru.

Setelah sekali dua diketuknya, dinantinya hadiah dan sambut-sambutan dari dalam istana, yang tak kunjung juga ada. Kecewalah dia. Lalu kembali lagi kepada guru. “Bagaimana cara mengetuk pintu?” Tanyanya.

Sang guru berkata, bukankah sudah kuajarkan padamu caranya?

Anak muda kembali lagi ke pintu istana kerajaan. Dan mengetuk sekali dua. Lalu bertanya-tanya dalam hati, sudah benarkah caranya mengetuk gerbang Raja?

Kembali lagi dia menemui gurunya, dan bertanya.

“Tak ada cara lain mengetuk pintu”, kata Sang guru. “Cara kau mengetuk pintu sudah benar. Yang keliru adalah, kau terlalu memikirkan apa rasanya bila gerbang terbuka. Mengetuk pintu itu urusan kita, sedang membuka gerbang itu wewenang Raja.Yang kau perlu lakukan hanyalah sentiasa mengetuk pintu dengan sopan, bukan memikirkan seperti apa sambutan dari Sang Tuan.”

MEMUPUK KEYAKINAN

Dulu. Setiap kali menulis atau berbincang dengan seorang rekan. Selalu saya menggebu menginginkan agar rekan saya atau pembaca tulisan saya menjadi yakin dengan yang saya sampaikan. Syukur-syukur berubah cara pandang.

Sampai suatu ketika dulu, seorang guru yang arif menegur lewat perumpamaannya. Diilustrasikan seolah-olah saya bertanya pada beliau, mengapakah sudah begitu banyak mengenai spiritualitas islam ini saya sampaikan pada rekan saya, tetapi tak kunjung mereka mengerti?

Saya tersenyum. Belum saya bertanya, beliau sudah memberi ilustrasi tentang kekeliruan saya.

Dari sana saya paham. Agar tidak membuang masa, Sesungguhnya yang paling penting untuk kita yakinkan pertamanya adalah diri kita sendiri.

Bukan tidak boleh menyampaikan pada orang lain. Boleh.

Tetapi yang tak elok itu adalah kita menyampaikan dengan disetir harapan agar orang lain harus menjadi yakin, sedangkan kita sendiri belum mencapai derajat yakin yang benar-benar kukuh.

Sesungguhnya keyakinan itu bertingkat-tingkat.

Ada orang yang yakin karena ilmu. Orang ini meyakini sesuatu disebabkan wawasan pengetahuan yang dia miliki.

Lalu di atas itu, kita sederhanakan saja, ada orang yang yakin karena mengalami sendiri.

Ibaratnya pertemuan dengan jenderal besar. Orang pertama meyakini bahwa seorang jenderal ada di dalam rumahnya karena melihat mobil jenderal terparkir di depan rumah. Ada sepatu di teras depan. Dan dari luar rumah dia mendengar suara sayup-sayup. Tahulah dia, jenderal ada di dalam.

Orang kedua. Dia yakin ada jenderal di dalam rumah, karena baru saja dia masuk ke dalam rumah, ngobrol-ngobrol dan foto selfie dengan Sang Jenderal.

Kebanyakan kita. Adalah orang pertama. Kita membutuhkan alasan agar diri kita menjadi yakin.

Contoh dalam spiritualitasnya misalnya kita melihat pemandangan alam dan menjadi trenyuh, haru, lalu Ingat Sang Penciptanya. Menjadi Ingatlah kita bahwa Allah Maha Indah. Bisa mencipta pelbagai pemandangan yang elok.

Kita butuh alasan (yaitu pemandangan alam) agar sampai pada “keadaan” rasa hati yang penuh syukur kepada Tuhan.

Sedangkan orang kedua. Dia tidak begitu. Dia sudah penuh dengan “keadaan” mengingati Tuhan, sehingga pemandangan alam tak lagi tampak di matanya. Dia tak butuh alasan untuk mengingat Tuhan.

Orang pertama dan orang kedua, ada rentang yang begitu jauh. Yang pertama sebatas “tahu”. Yang kedua itu “merasakan”.

Jarak antara orang pertama dan kedua, dijembatani oleh dawamnya amal. Konsistensi. Dan di ujung jembatan ada pintu gerbang yang hanya terbuka karena hak prerogatif Tuhan semata-mata. Rahmat. Gampangnya begitu. Tetapi ilmu adalah hal paling pertama yang membuat amal menjadi lebih tajam.

Wa’bud Rabbaka hatta ya’tiyakal yaqin.

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu al yaqin. (QS Al Hijr :99)

Menurut seorang arif, maknanya adalah beribadahlah meski kau belum punya pengenalan akan DIA. Teruslah beribadah sampai menjadi yaqin. Dan setelah mengenal atau yakin, maka Teruskan beribadah dengan lebih baik. Berlandaskan pengenalan itu.


*) image sources