NONTON BIOSKOP YANG BUKAN KEBETULAN

Adakah di dunia ini sesuatu yang kebetulan? Saya ketinggalan Shuttle Bus kantor. Jadi terpaksa cari tumpangan sewaktu jam pulang. Untunglah ada seorang rekan yang searah, jadi saya bisa ikutan numpang dari kantor sampai ke dekat rumah. Sepanjang jalan dari kantor itu, kami bercerita banyak hal tentang pekerjaan.

Rekan saya ini, seorang yang berpengalaman kerja di berbagai negara. Afrika dan Timur Tengah. Secara strata kependidikan rekan saya ini juga jauh lebih tinggi dari saya, Master Degree dari universitas ternama di Luar, dengan paper yang banyak sekali. Memang orang yang brillian.

Tak terasa mobil berhenti. Saya keluar dari mobil dan mengucapkan terimakasih, rekan saya meneruskan perjalanan menuju rumah, dan saya memesan Go-jek untuk melanjutkan sisa perjalanan.

Sepanjang jalan, saya merenungi betapa saya beruntung untuk telah masuk kantor, dalam jajaran persaingan orang-orang yang hampir keseluruhannya saya akui begitu jauh melampaui saya.

Kadangkali, karena menengok persaingan yang begitu rapat itu, saya merasa cemas juga. Karena saya tidak sebrilian orang-orang itu, dan dalam hal ambisi saya termasuk orang yang datar-datar saja.

Tetapi setibanya di rumah, saya melihat anak saya yang paling kecil sedang tidur di atas sofa. Lalu melihat anak saya yang satunya lagi sedang baca majalah Bobo. Kembali teringat saya, bahwa urusan pekerjaan saya, sekarang bukan lagi urusan saya pribadi. Ianya berkelindan dengan cerita jalur Rizki untuk anak saya, dan untuk istri saya.

Dan memang begitulah adanya.

Tidak ada hal di dalam dunia ini yang tidak kait mengait dalam jejaring yang saling mempengaruhi satu sama lain. Pekerjaan saya, berkait dengan anak istri saya. Tempat tinggal saya, berkait pula dengan takdir akan besar dimana anak saya nanti? Sekolah dimana?

Kota tempat anak saya besar nanti, akan ada kaitannya dengan cara anak saya memandang hidup, berkait juga dengan dimana kira-kira anak saya menemukan jodohnya.

Siapa jodoh anak saya nanti, akan berkaitan pula dengan siapa cucu saya kelak.

Dalam rentang waktu yang jauh, konsekuensi dari setiap pilihan akan beranak-pinak menimbulkan konsekuensi yang lainnya. Itulah yang dikatakan sebagian para ilmuwan, bahwa tidak mungkin mengganti tatanan yang sudah ada ini, tanpa merusak keseluruhan tatanan.

Maksudnya, tidak mungkin semua ini berjalan tanpa susunan yang sudah sedia ada. Singkat kata, kita hidup dalam Plot-Nya. Islam membahasakan ini dengan takdir.

Saya pun menilik perjalanan hidup saya sendiri, tidak mungkin rasanya kalau jalan panjang sejauh ini bukan plotNya.

Saya tertarik melihat perdebatan takdir ini dalam sudut pandang sains. Pre-determinism vs free will. Perdebatannya seru sekali. Sebagian mengatakan tentu saja manusia punya free will. Kehendak bebas. Sebagian lainnya, ditunjang dengan penelitian sains mengatakan bahwa sebenarnya semua gerak manusia ini Cuma aksi reaksi fisika saja. penelitian terbaru semakin membuktikan free will atau kehendak bebas itu tidak ada.

Di dalam sebuah hadits, setelah Rasulullah SAW menjelaskan bahwa semua manusia sudah ditetapkan takdir hidupnya, Rasulullah SAW ditanya oleh seorang sahabat, jika semuanya sudah ditetapkan, alangkah baiknya kalau kita berpasrah saja, ga usah beramal. Rasulullah SAW mengatakan, tetaplah beramal, setiap orang akan dimudahkan atas apa yang tertakdir baginya.

Pertamanya saya ga mudeng juga. Apa maksudnya?

Setelah mempelajari pendekatan sufistik-lah, lewat seorang Arif, baru saya mengerti duduk perkaranya. Perdebatan mengenai apakah “aku” punya kehendak bebas? Atau “aku” tidak punya kehendak bebas? Dua pernyataan itu tidak lagi kontekstual.

Dalam pandangan sufistik, justru “aku” itu tidak ada.

Sesuatu yang kita kenal dengan “aku” atau identitas diri kita, sebenarnya tak lebih tak kurang adalah kumpulan pengalaman hidup yg direkam oleh entitas ruhani di dalam diri manusia. Yang sadar. Yang mengamati.

Lha perdebatan jadi tak kontekstual kalau “aku” saja sebenarnya ga eksis.

Inilah yang pelan-pelan harus dicoba untuk dipahamkan.

Kalau dulu. Di dalam gelisah, saya mendekati Tuhan lewat kepahaman bahwa cicak saja diberi Rizki, masa manusia tidak?

Pelan-pelan saya belajar pemaknaan satunya lagi. Memandang hidup sebagai ceritaNya. Dilakonkan oleh makhluk-Nya. Keseluruhan alam semesta digabung, tak sebiji pasir dibanding keMaha BesaranNya. Hakikat semua makhluk adalah dzat (ciptaan)Nya. Dan darimanakah datangnya unsur semua ciptaan jika sebelum DIA mencipta hanya ada DIA semata-mata? sebenar-benar pengertian hanya dengan DIA.

Supaya menjadi tenang karena sadar bahwa kita hidup di dalam bioskop Ilahi. Menceritakan DIA sendiri.

Tapi ya kadang bisa stabil dalam kondisi itu, kadang ga bisa. Hehehehe. Namanya juga manusia. lakonono. Jalani saja.