MINUM KOPI DAN MENSYUKURI ILMU

Sebuah perumpamaan tentang minum kopi, diberikan oleh seorang Arif*, menyadarkan saya agar mensyukuri anugerah ilmu.

Seumpama kita penyuka kopi, kata beliau. Lalu dalam kesibukan yang sangat padat kita jadi terlupa minum kopi. Meskipun waktu itu kita terlupa minum kopi, Hal itu tidaklah akan membuat kita lupa sama sekali dengan kopi. Begitu ada waktu senggang yang pas, maka kita akan otomatis minum kopi.

Kopi. Diibaratkan sebagai “ilmu” makrifatullah. Selama Allah SWT tidak mencabut ilmu itu dari seseorang, maka selama itu pula ilmu itu akan menjelma menjadi sebuah amal saat waktunya tiba.

Ilmu, menjadi “baseline” atau istilahnya garis batas terbawah kita.

Hanya saja, kebanyakan orang tidak mensyukuri anugerah ilmu pengetahuan, tersebab mengira bahwa semata-mata anugerah itu jika sudah menjelma menjadi “rasa”. Kalau baru “ilmu” dikira bukan anugerah.

Padahal, “rasa” atau dalam literatur tasawuf dikatakan dengan istilah “Hal”, adalah menyusuli ilmu. Ilmu duluan baru rasa menyusul, ilmul yaqin dulu baru dipungkasi Haqqul Yaqin, Inilah skema kebanyakan manusia. Terkecuali orang-orang tertentu yang tertakdir mendapatkan “rasa” dulu baru ilmunya menyusul kemudian.

Mengetahui bahwa ilmu biasanya datang lebih dulu ketimbang “rasa”, maka sudah barang tentu kita harus sabar. Dan tangga pertama sabar itu barangkali bisa dimulai dengan mensyukuri ilmu-ilmu spiritualitas islam atau tasawuf (dan juga ilmu lainnya) yang kita dapat. Meskipun baru sebatas ilmu.

Karena, mudah bagi Allah untuk mengubah wacana keilmuan menjadi realitas batin kita.

Jika kita menyadari ilmu adalah anugerah. Seperti itu pula kita menyadari bahwa realitas batin kita adalah pula anugerah. Dan jembatan antara ilmu dan realitas batin itu bernama amaliyah, yang juga adalah anugerah.

Realitas batin atau “rasa” yang biasanya dibentuk oleh ujian-ujian. Saat ujian datang, disitulah ilmu akan memainkan peranannya.

Berulang-ulang sampai cara pandang kita berubah total karena ilmu yang baru dan lebih jernih itu.

Jika seorang saudagar kaya memberi kita hadiah. Adalah logis bagi kita untuk berterimakasih atas hadiah itu. Bukan malah berkata saya tak mau hadiah yang ini (ilmu), saya maunya hadiah yang itu (rasa). Padahal, jika mengetahui bahwa hadiah ilmu adalah lokomotifnya, tinggal tunggu saja dia menarik gerbong anugerah-anugerah berikutnya. Tapi memang harus sabar.

-debuterbang-

*) Ust. H. Hussien Abd Latiff