DIKRITIK OLEH KEHIDUPAN

Kalau saya melihat ke belakang, dari sekitar lima tahunan lebih saya bekerja di kantor, sudah sedemikian banyak saya merubah cara pandang, cara bersikap, dan semacamnya, tersebab sering menerima kritik.

Kultur kritik yang membangun itu, anehnya, sama sekali tidak saya rasakan sebagai hal yang menyerang saya secara pribadi. Alih-alih terasa sebagai sebuah momen upgrade diri. “ooooh ternyata saya masih bisa improve di sisi ini toh.”

Padahal, jika kritik diluar wacana profesional seperti di kantor kadang-kadang saya tersinggung juga. Hahahahaha. Namanya manusia.

Tetapi setelah saya perhatikan, cenderungnya saya dalam menekuni khasanah tasawuf juga disebabkan oleh “kritik” kehidupan atas cara saya memaknai kehidupan itu sendiri. Orang bilang, ini disebut “ujian”.

ibnu Athaillah As Sakandari berkata, dalam Al Hikam, yang maknanya kurang lebih “sesiapa yang tak suka menuju Allah lewat halusnya karunia Allah, maka akan diseret menujuNya lewat rantai ujian.”

Lewat penjelasan Al Arif Ust. Hussien Abd Latiff menjadi pahamlah saya bahwa sesuatu yang selama ini kita sebut sebagai ujian itu, goal-nya tak lain dari perubahan paradigma. Merubah cara pandang kita. Sehingga dari sana muncullah istilah “Abdal” atau pertukaran. Istilah wali Abdal maksudnya adalah seseorang yang sudah mengalami perubahan paradigma, menjadi pribadi baru. Bertukar cara pandangnya karena menjadi kenal kepada Allah.

Salah satu perubahan cara memandang hidup, yang saya baru sadari setelah menyimak khasanah tasawuf adalah memandang hidup sebagai af’al-Nya. Lakuan Tuhan, melalui dzatNya yg menjadi hakikat semua ciptaan.

Sebagai contoh, kalau dulu seandainya saya mempunyai masalah di kantor, saya akan menganalisanya. Ini karena begini. Karena begitu. Lalu untuk mengatasinya harus begini begitu. Ini approach atau pendekatan paling awam. Murni analisa sebab-akibat semata.

Di atas itu, saya baru menyadari bahwa masalah apapun saja, kejadian apapun saja adalah cara DIA bercerita tentang diriNYA sendiri. Disitu menjadi gemetar dan takut. Karena memandangkan bahwa Allah begitu kuasa membolak-balikkan keadaan sesuka DIA. Dari sini menjadi memahami kehidupan sebagai pagelaran sifat-sifatNya. Ini approach kebanyakan pejalan ruhani.

Satu hal yang luput dari pengamatan saya, kemudian dikoreksi oleh Sang Guru adalah bahwa sifat-sifat, tidaklah bisa lepas dari dzatNya. Hakikat semua yang sifat-sifat yang tampak dan bisa dirasa, diraba, diteliti, dimengerti, dst. Adalah setitik dzatNya. Tidaklah mungkin sifat terpisah dengan dzatNya.

Dari sana. Barulah saya sedikit memahami bahwa keragaman, dan dualitas hanya akan sirna saat kita mengerti bahwa disebalik keragaman adalah dzatNya semata-mata.

Hal ini masuk akal. Apalagi jika suka membaca bahasan fisika quantum. Bahwa segala yang ada ini kalau diteliti lebih dalam sebenarnya hologram saja. Tak punya wujud sejati. Akan tetapi harus hati-hati, bukan menganggap bahwa ciptaan sama dengan Tuhan. Melainkan ciptaan dan sifat-sifat yang zahir batin adalah muncul dari dzatNya. Setitik saja dzatNya itu dibandingkan kemaha besaranNya.

Itulah kritik terbesar atas cara pandang saya pribadi. Sehingga sekarang setiap kali ada ujian dan terasa seperti ada JEDERRRR di dalam diri saya. Ada sedih dan duka. Tahulah saya apa yang terjadi. Tak lain tak bukan saya masih cenderung menggunakan cara pandang yang lama itu. Yaitu terlalu menganalisa kehidupan lewat analisa sebab-akibat. Selama cara pandang itu saya pakai. Selamanya akan ada suka duka. Saya harus beranjak dari sana.

Lalu terasalah hidup sebagai cerminan dualitas Jamal dan Jalal-NYA. Tetapi itu sifatNya.

Lalu menyadari bahwa yang dituju adalah Sang Pemilik sifat. Bukan sifatNya. Bukan dzatNya. Hanya itulah cara untuk tenteram dengan sebenar-benarnya. Itulah Imam Ghazali berkata bahwa kebahagiaan sejati hanya didapat jika mengenaliNya. Saya bersyukur atas kritik kehidupan sehingga mendewasakan cara saya memaknaiNya.

BERJALAN KE PINTU BELAKANG

Baru saja pulang dari mengantar anak ke tempat favoritnya. Kolam renang. Setelah melewati semingguan hari kerja yang padat dan riuh. Mumpung ada sejenak waktu lowong.

Betapa hari-hari kerja yang padat seringkali membuat kita menjadi keluar ke “pintu depan”.

Ada sebuah perumpamaan mengenai pintu depan dan pintu belakang. -Dua istilah yang saya temukan dalam kajian Al Arif Ust. Hussien Abdul Latiff.-

Umpamanya hari hujan deras. Dan ada tiga orang terperangkap dalam shelter bus. Berteduh menanti hujan reda.

Orang pertama duduk bersandar dan seolah melamun. Melihat tetesan hujan yang sambung menyambung terjun dari atap. Dalam fikiran orang pertama itu, dia mengira-ngira berapa banyak debit air yang turun dalam setiap jam-nya? Jika hujan tak henti-henti, maka bisa-bisa kotanya akan tenggelam.

Orang kedua, duduk bersandar dan terlihat seolah merenung. Dia melihat tetesan hujan yang deras, dan mendengar petir bergemuruh. Teringat olehnya betapa kuasanya Tuhan yang mampu menurunkan hujan dan petir. Karena membayangkan sifat keuasaan Tuhan, maka bergetarlah orang tersebut dan menggigil ketakutan.

Orang ketiga, matanya terpejam. Dia melihat hujan dan mendengar rentak petir bertalu. Tetapi dalam pandangannya semua yang nampak mata itu sebenarnya tak punya wujud sejati. Dibalik semua yang nampak mata hakikatnya adalah dzat-Nya semata-mata. Maka dia sibuk mengingati sang pemilik dzat dan sifat-sifat yang tampak itu.

Orang pertama. Yang menghitung debit air. Adalah kebanyakan manusia pada umumnya. Mereka melihat benda semata.

Orang kedua. Adalah apa yang dibahasakan Qur’an sebagai Ulul Albab. Orang yang bertafakur dan melihat segala yang tampak mata sebagai cerita sifat-sifat Tuhan.

Tetapi orang ketiga. Adalah muqarrabin. Orang-orang yang didekatkan. Mereka tidak lagi sibuk menganalisa hal-hal empiris. Dan mereka tidak lagi sibuk mengingati “sifat-sifat”. Melainkan mereka tenang didalam ingatan padaNya. Sang Pemilik dari segala yang ada.

Orang ketigalah yang dimaksud dengan orang yang selalu masuk pintu belakang. Pandangan yang berbeda dari apa yang dilihat kebanyakan orang lewat pintu depan.

Memang seringnya sih, kesibukan kerja dan kesulitan hidup membuat kita mau tak mau menggunakan pendekatan pintu depan. Akan tetapi, menurut Sang Guru, alah bisa tegal biasa. Lancar kaji karena diulang.

Yang harus sering diulang rupanya adalah masuk dalam approach orang ketiga itu. Duduk di pintu belakang. Dan melihat sandiwaraNya. Orang-orang yang tenang. Yang masuk dalam jamaahNya.

Perjalanan yang panjang. Tetapi kita menjadi rileks juga karena mengetahui bahwa pada akhirnya DIA-lah yang menyampaikan kita. Bukan karena kita sendiri. Jadi harapan selalu ada.

BERJALAN KE PINTU (2)

Bisakah manusia membersihkan hatinya secara permanen? Atau bisakah manusia mengingat Allah secara langgeng 24 jam?

Jawaban pertanyaan itu barulah kembali terajut dengan apik setelah saya menemukan bahasan Rumi dalam Fihi Ma Fihi, beliau menjelaskan tentang Abu Yazid Al Busthami yang menginginkan agar “tidak menginginkan”.

Kata Rumi, ketiadaan kehendak bukanlah sifat manusia. Dengan ketiadaan kehendak, maka manusia akan “hilang” punah secara total. Hilangnya kehendak dari diri manusia inilah yang dimaknai sebagai ketersambungan yang stabil kepada Tuhan. Ingat Tuhan fulllllll (Ini makna majazi lho ya, hehehe).

Keadaan itu, kata Rumi, di luar kemampuan manusia. Hanya bisa tercapai dengan “jadzbah” tarikan ilahi. Maksudnya kalau ditarik sama Allah masuk dalam keadaan itu, barulah seseorang bisa “hilang dirinya” dan dawam mengingati Tuhan.

Saya teringat Al Arif Ust. Hussien mengibaratkan perjalanan manusia dalam “menuju Tuhan”. Seumpama orang mendaki gunung. Di tiga perempat perjalanan, sebelum puncak gunung, ada “basecamp”. Tempat orang beristirahat.

Basecamp itulah puncak usaha manusia. Basecamp dalam istilah Al Arif Ust. Hussien Abd Latiff ini dalam bahasa Syaikh Abdul Qadir Al Jailani dalam Futuh Al Ghaib adalah “gerbang istana Raja”. Dalam bahasa Ibnu Arabi, usaha terjauh manusia adalah sampai ke “Pintu-Nya”. Mengetuk terus menerus pintuNya sampai DIA mempersilakan masuk.

Kalau kita pakai bahasa yang lumrah dalam kalangan ahli syariat. Perjalanan manusia yang masih “dalam batas usaha manusia” itu disebut sebagai orang-orang mukhlish. Orang-orang yang berusaha mendarma baktikan hidupnya untuk Tuhan. Berusaha ikhlash. [1]

Akan tetapi, selama-lamanya manusia jika berada dalam spiritual state yang ini, mereka akan menemukan hati mereka terbolak-balik. Kadang bener, kadang ga bener. Kadang ingat, kadang lupa.

Setelah belajar spiritualitas islam, atau Tasawuflah saya baru paham bahwa selama-lamanya manusia tidak akan bisa bersih hatinya. Atau dalam bahasa lain, jika pakai istilah ego; selama-lamanya manusia tidak akan hilang “keakuannya”. Sebelum mendapatkan tarikan ilahi. Jadzbah.

Tetapi jangan bersedih hati. Tugas manusia adalah menjalani pendakian itu. Seumpama berjalan, berjalanlah terus sampai gerbang. Sampai pintu. Sampai basecamp.

Atau istilahnya, berjalanlah terus sampai shelter bus. Dan berdiamlah disana, tunggu sampai “jemputan” datang.

Orang-orang yang “dijemput” atau didekatkan kepada Tuhan, inilah yang disebut sebagai golongan muqarrabin. Atau dalam bahasa para ahli syariat disebut sebagai “Mukhlash”. [2]

Orang yang berada pada spiritual state yang inilah. Yang tidak bisa diganggu oleh syaitan. Hilang “aku”nya. Dan bisa mengingatiNYA dengan langgeng 24 jam.

Tugas kita hanyalah berjalan dengan “sopan” sampai ke GerbangNya. Mengetahui bahwa selama-lamanya kita tidak akan bisa bersih sampai DIA yang membersihkan.

Dan perkara sopan santun atau adab hati ini banyak sekali dibahas dalam ranah tasawuf. Sisi batin keberagamaan yang seringkali asing bagi manusia modern sekarang.

::

[1] Mukhlish

فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadat kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya). (QS Ghafir : 14)

[2] Mukhlash

إِلَّا عِبَادَ ٱللَّهِ ٱلْمُخْلَصِينَ
Kecuali hamba-hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa tidak akan diazab). (As-Saffat 37:74)

https://debuterbang.wordpress.com/2018/01/17/berjalan-ke-pintu-2/