MENENGOK JALAN PARA WALI DAN PARA NABI

2013-jan-which-road-takenBerulang kali saya mendapat pejalaran, sebuah contoh “dedikasi” yang sederhana tapi mengagumkan yaitu tetangga-tetangga saya di komplek, utamanya para pengurus komplek yang meluangkan waktu mengurusi hal-hal berkaitan kewarga-an. Padahal mereka sendiri sibuk luar biasa.

Misalnya tentang warga komplek yang komplen karena tukang di sebelah rumah masih bekerja padahal sudah jam lewat sepuluh malam. Tentang tikungan di jalan masuk komplek, yang acapkali bikin kaget karena blind spot-nya membuat orang tak bisa melihat kendaraan di sebelah sana; akhirnya harus dipasang kaca cembung. Tentang anak-anak kecil di komplek yang harus dilindungi keseruan main sepedaan sore, sehingga polisi tidur dipasang, agar mobil-mobil yang seliweran mau tak mau harus mengurangi kecepatannya.

Semua itu, dilakukan mereka dengan dedikasi yang mengagumkan, diantara kewajiban personal mereka sebagai pekerja kantoran dengan jadwal yang padat khas kota Jakarta.

Disitulah saya sering merasa kecil, karena dalam kewajiban personal yang sama, di kota yang sama, seringkali saya tidak bisa mengimbangi ritme mereka dalam berbuat kebaikan yang sederhana tetapi nyata untuk lingkungan itu.

Tapi ya itu….. saya kembali teringat fakta bahwa tiap orang akan dimudahkan melakukan apa yang sudah menjadi bagian mereka.

Berulang kali saya ingin mengimbangi kebaikan-kebaikan orang-orang itu, tetapi sulit saya menyusulnya. Pulang kantor sudah malam, sampai dirumah pengennya istirahat karena badan letih. Sudah tak ada tenaga untuk mengimbangi rapat pengurus komplek. Hari sabtu minggu seringnya di luar rumah. Hehehe…. Singkat kata saya beryukur untuk sudah kecipratan bagian enak-nya, mengingat hal-hal administrasi kewarga-an sudah ditangani oleh banyak orang yang berhati mulia.

Selain dari pelajaran bahwa “Tiap orang akan dimudahkan menjalani sesuatu yang dimudahkan untuk mereka”, saya teringat satu kebijakan lagi tentang penghambaan. Bahasa kerennya “servanthood”.

Saya temukan kembali istilah penghambaan ini dalam tulisan-tulisan seorang reformis sufistik, Syeikh Ahmad Sirhindi. Seorang maestro besar di zamannya, yang lewat tulisan-tulisannya sudah menjelaskan dengan baik bahwa puncak spiritualitas seorang hamba adalah “penghambaan” atau servanthood.

Kesadaran Penghambaan ini, sebenarnya levelnya di atas pengalaman-pengalaman ruhani seperti: menyaksikan bahwa dunia ini semua adalah satu kesatuan, pengalaman ruhani dimana orang yang berzikir merasakan hilang kediriannya, dan semacamnya. Jadi menurut Syaikh Ahmad Sirhindi, puncak tasawuf adalah tak lain tak bukan seseorang menjadi sadar tentang kehambaan dirinya, lalu sadar bahwa dirinya dan Tuhannya memang berbeda. Tuhan ya Tuhan, makhluk ya makhluk. Tak akan makhluk jadi Tuhan. Lalu hiduplah orang itu dalam sikap penghambaan. Seratus persen membenarkan akan apa yang sudah dituangkan para Nabi dalam risalah mereka masing-masing. Atau disebut juga syariat.

Dulu memang saya sempat bingung. Kenapakah para Nabi tidak secara literal menjelaskan tentang metoda mencapai pengalaman-pengalaman ruhani. Vision. Dan semacamnya? Sedangkan dalam kajian sufistik banyak sekali kita temukan hal semacam itu? Bahkan hampir menjadi bahasan dominan?

Lewat tulisan Arif Billah Hussien Abdul Latiff, menjelaskan ulang yang disampaikan Syaikh Ahmad Sirhindi, barulah saya mengerti jawabannya, karena memang ada dua pendekatan spiritualitas / jalan menuju Tuhan.

Yang pertama, yaitu apa yang dibahasakan oleh Syeikh Sirhindi dengan Saintly Way, atau jalannya para wali. Jalan ini,  menempuh lelaku yang berat. Jalannya adalah dengan menghilangkan atribut-atribut kemanusiaan lewat lelaku yang ketat, mengalami pengalaman-pengalaman keruhanian, lalu  mendapatkan insight-insight yang menjelaskan tentang ketuhanan.

Hanya saja, jalan ini adalah jalan yang sukar. Banyak onak duri. Terlebih lagi, ini yang paling bahaya, yaitu banyak orang berhenti sebelum sampai. Saking sulitnya perjalanan dengan metoda ini.

Menurut Syeikh Sirhindi dalam Sharia and sufism, orang-orang yang berada dalam kemabukan, melihat segala hal sebagai satu, kemudian mengucapkan hal-hal kurang elok dalam kacamata syariah, mereka itu sedang berada dalam fase –anggaplah- 80% perjalanan. Sisa perjalanan sebenarnya adalah mereka keluar dari kemabukan, berada dalam ketenangan, lalu menjadi mengerti bahwa di ujung perjalanan yang diharapkan dari kita semua adalah penghambaan. Tapi, yang banyak direkam oleh sejarah, adalah kisah para tokoh yang berada di pertengahan perjalanan ini, sejarah sering tidak mencatat bahwa tokoh-tokoh itu pada akhirnya keluar dari kondisi itu -lanjut berjalan- dan menemukan di ujung perjalanan tidak berbeda dengan apa yang dirintis para Nabi. Penghambaan.

Pada titik “penghambaan” inilah, sebenarnya jalan satu lagi berdiri. Yaitu apa yang disebut dengan prophetic way, jalan Nabi-nabi. Karena para Nabi sudah berdiri di ujungnya.

Teringat saya dengan sebuah perumpamaan, para wali menyeberangi samudera, yang mana para Nabi sudah sampai di pantainya (sudah menyeberang).

Spiritualitas yang dibangun di atas jalan Nabi-nabi, tidak mensyaratkan para penempuh jalan untuk menjalani lelaku yang menegasikan atribut-atribut kemanusiaan, lalu memperoleh kemabukan dan insight-insight ketuhanan.

Alih-alih, jalan ini mengenalkan ketuhanan pada manusia, lewat syariah. Manusia dikenalkan pada Tuhan lewat jalan ilmu. Setelah mengenal Tuhan lewat ilmu, maka lanjutannya adalah mereka beribadah sesuai dengan syariah, dan ujungnya adalah keridhoan pada takdir hidup.

Dengan meniti perjalanan spiritual lewat pendekatan yang dilakoni para Nabi, seorang “pejalan” tidak perlu melewati kemabukan spiritual yang boleh jadi berbahaya jika tidak “sampai”. Melainkan, mempelajari tentang ketuhanan berdasarkan ilmu, lalu beribadah sesuai syariah yang digariskan para Nabi.

Adapun pengalaman-pengalaman ruhani yang didapatkan adalah penguat dari apa yang semula hanya dipahami lewat ilmu secara syariat, ilmul yaqin, menjadi ainul yaqin dan haqqul yaqin.

Pada keridhoan menjalani hidup; berdasarkan ilmu ketuhanan yang sudah dimiliki inilah; penghambaan itu tadi menemukan bentuk yang paling dewasa.

Penghambaan bukan lagi dimaknai sebagai –semata– sholat lima waktu, misalnya. Atau tadarus Qur’an semata. Tetapi keseluruhan hidup kita inilah penghambaan. Orang-orang yang ditakdirkan untuk menjadi pengurus komplek, kemudian dalam waktu senggangnya disempat-sempatkan memikirkan orang lain, itulah servanthood, itulah penghambaan. Hidup dalam melayani orang lain, dalam pengertian sebenar-benarnya bahwa melayani kebutuhan makhluk itu artinya mengabdi pada Tuhan (karena Tuhan mengurusi makhluk dengan mentakdirkan makhluk lainnya sebagai jalan rizki atau pengurusan).

Begitu juga pegawai di kantor. Supir Bus. Tukang dagang lontong. Abang gojek. Penjual rujak. Dosen di kampus. Ulama. Orang-orang arif. Semua menjaladi kehidupan dalam “penghambaan”. Sebagiannya menyadari itu, sebagian lainnya masih dalam perjalanan untuk menyadarinya.


*) Image Address

BELAJAR RIDHA DAN TAK TERGESA-GESA

Tak seberapa ingat kapan persisnya saya mulai menyukai kajian sufistik. Yang saya ingat hanyalah momen-momen transisi yang tak selalu berjalan mulus. Dari yang sama sekali awam dengan tasawuf lalu mulai mencecap cara pandang sufistik, saya akui kadang-kadang saya agak tidak sabaran.

Contoh tidak sabar itu umpamanya saat agenda kajian tasawuf yang bertabrakan dengan jadwal saya kerja lapangan. Kadangkali membuat saya kesal. Harusnya ngaji kok malah kerja?

Dan ketergesaan lainnya adalah momen dimana saya sekali dua pernah meninggalkan istri dan anak saya yang masih bayi di rumah. Malam-malam. Demi ngaji tasawuf. Tentu saja istri saya komplen. Dan saya? Butuh waktu lama saya baru menyadari bahwa menjaga istri dan anak yang masih bayi di rumah adalah salah satu bentuk kebaikan juga.

Butuh Sekitar semingguan, waktu bagi saya untuk bisa meredakan rasa kecewa karena telah tidak bisa menghadiri kajian. Dalam pandangan saya waktu itu, tidak ada oase lebih menyegarkan bagi keringnya jiwa saya melainkan kajian tasawuf. Sesuatu yang tadinya asing, lalu baru saya pahami sebenarnya adalah mutiara. Tetapi belakangan baru saya tahu saya telah tergesa-gesa.

Dalam Lathaiful Minan. Kisah ketergesaan sehingga rasanya ingin meninggalkan keduniawian demi meredakan kekeringan ruhani ini, ternyata pernah pula dialami seorang ulama besar, yaitu Ibnu Athaillah As Sakandari.

Demi menyadari kekeliruannya yang telah menyalah pahami tasawuf -tadinya Ibnu Athaillah adalah seorang ulama syariat yang saklek dan membenci tasawuf- Ibnu Athaillah berniat berkhidmat pada gurunya dengan meninggalkan kehidupan keduniawian. Lalu banting setir ke samudera tasawuf.

Jangan! Kata Sang guru!

Melainkan tetaplah dengan posisi dan peranan yang diberikan kepada engkau saat ini, niscaya bagian untukmu tetap akan sampai.

Mayoritas transisi kehidupan keruhanian banyak yang melewati fase tergesa-gesa seperti ini. Jangan…..

Setelah meyerah dengan takdir Allah -keadaan yang menyebabkan saya tak bisa selalu hadir dalam kajian- barulah saya menyadari betapa sebenarnya yang kita cari itu bukan ilmu, melainkan Allah SWT.

Kajian Al Hikam yang sedianya begitu abstrak dan sulit dimengerti, alhamdulillah menjadi bisa lebih mudah saya pahami. Karena ternyata perjalanan menujuNya itu sudah diset dengan peranan kita masing-masing. Perhatikan kehidupan kita. Disanalah melimpah ruah pelajaran.

Kegelisahan saya akhirnya dipupus dengan wejangan-wejangan Al Arif Ust. H. Hussien Abd Latiff.

Beliau mengutipkan kekata Syaikh Abdul Qadir al Jailani dalam Futuh Al Ghaib. “Berpuas dirilah dengan apa yang ada padamu, sampai Allah sendiri meninggikan taraf kamu.”

Kalau dulu, persepsi saya yang prematur adalah berupaya menuju Allah. Berupaya membersihkan diri. Berupaya berprestasi dalam ibadah. -dengan usaha sendiri- Lambat laun baru saya sadari bahwa sebenarnya segala hal yang kita bisa lakukan ini adalah anugerah.

Dengan itu saya tidak lagi ngoyo untuk membersihkan hati. Dan tidak lagi ngoyo untuk menujuNya -dengan kemampuan sendiri- melainkan menyadari bahwa kalau DIA buat kita mengingatNya maka akan sampailah kita padaNya.

Berusaha menyadari bahwa kehidupan ini seratus persen af’al-Nya. Maka ibadah yang diperbuat tidak lagi terlihat sebagai unjuk prestasi. Alih-alih sebagai bentuk kesyukuran.

Menyadari bahwa dalam perjalanan ini akan penuh dengan naik-turun. Menyadari bahwa selama masih terlihat adanya “diri” maka selama itu pula naik turun akan tetap ada.

Dan menyadari bahwa tidak akan bisa benar-benar hilang “diri” tanpa anugerah tarikan ilahi. Orang yang ditarik atau muqarrabin adalah orang yang didekatkan. Sementara kita ini levelnya masih orang yang “berjalan”. Selama masih belum sampai gerbang pintuNya, maka tak ada lain adabnya selain dari ridho dan tak tergesa-gesa.

Kita tetap hidup dan berbuat kebaikan semampu kita, hidup seperti biasa. Tetapi dengan menyadari af’al maka pelan-pelan terlihatlah kehidupan seperti bergerak otomatis. Dan bersyukurlah kita untuk telah diberikan kesempatan mengenalNya.

BELAJAR NAFI DAN ITSBAT

fire-and-water

Dua hari lalu saya tertinggal bus antar jemput dari kantor, jadi terpaksa naik Go-Car. Sepanjang jalan saya berbincang dengan seorang supir yang begitu ramah, dan uniknya dia hobi berdzikir.

saya melihat ada dua tasbih kecil di mobilnya, satu bergayut di persnelling. satunya di kaca tengah. “Banyak amat tasbihnya, Mas?” saya iseng bertanya.

“Iya pak… ya namanya di jalan, kadang kalau lagi iseng saya suka gini-gini,” katanya sambil memraktekkan memutar tasbih. “Supaya ati adem pak. Alhamdulillah ketemunya yang baek-baek.” katanya.

Wah…..luar biasa, kata saya. Senang sekali saya dapat teman ngobrol yang asyik. Lalu obrolan berlanjut ke hal-hal lain. Mulai dari jalanan macet, hujan, dan terpal di mobil-mobil truck yang suka beterbangan di jalan tol.

Teringat saya, dulu saya juga pernah selalu membawa tasbih kemana-mana. Tasbih yang kecil, saya selipkan di tas. Sebagai cara untuk belajar memperbanyak mengingat Allah, dengan banyak-banyak menyebut asma.

Seiring berjalannya waktu, baru saya memahami satu kebijakan berikutnya, bahwa lafadz adalah gerak fisik. Tetapi ada yang lebih langgeng dari gerak fisik, yaitu “suasana batin” yang di dalam. Seumpama seseorang menangis, menangis adalah gerak luar. Tetapi “rasa sedih” adalah di dalam. Kita bisa sedih secara terus menerus selama seminggu. Tetapi rasanya kalau menangis terus seminggu ya susah. Boleh jadi orang sedih, tapi tidak menangis.

Ada yang mengajarkan untuk mulai dari yang fisik luaran, lalu lama-lama masuk ke dalam. Tetapi kemudian saya bertemu seorang Arif yang mengajarkan untuk langsung “masuk ke dalam”, nanti yang dalam ini akan terpancar keluar. Skema yang berbeda, kebijakan yang berbeda, tetapi bagi saya dua-duanya apik pada tangganya sendiri-sendiri.

Satu lagi kebijakan yang saya temukan adalah kalau dulu saya sering mengaitkan segala kejadian dengan sifat-sifat Tuhan. Seumpama, saya ketemu sopir mobil yang baik hati, ini maknanya Tuhan sedang berbaik hati pada saya. Lalu kalau saya mengalami sebuah hal yang kurang enak, ini maknanya Tuhan sedang menguji saya. Lalu Tuhan terpandang dalam dualitas, sesuai dengan tingkat pendewasaan cara saya berfikir.

Padahal, setelah kesini-sini, baru saya sadar bahwa kadang-kadang yang memaknai Tuhan dengan macam-macam sifat-sifat itu manusianya sendiri. Tergantung seberapa dewasa kita. Hari hujan, bisa dipandang sebagai ujian bagi tukang es cendol, bisa dipandang sebagai kebaikan Tuhan; oleh seorang petani.

Walhasil, citra sifat-sifat Tuhan jadi beragam-ragam tergantung manusianya memandangnya seperti apa. itupun baik, selama kita menyifatiNya dengan sifat yang layak bagiNya.

Tetapi sang arif berkata, mengenali sifat-sifat akan membawa manusia kepada gegaran, kepada dzauq. Kondisi ruhani. Bisa gemetar ketakutan. bisa melimpah ruah bahagia. Tetapi sebenar-benar ketentraman sejati hanya jika seseorang mengenali af’al.

dan kunci mengenali af’al atau perbuatan Tuhan itu, menurut seorang guru, adalah menyadari bahwa perbuatanNya itu DIA kenakan pada dzat-Nya sendiri. Hal ini agak pelik dipahami memang, tetapi dengan pengetahuan terkini sebenarnya masuk akal.

Dulunya orang mengira bahwa unsur terkecil penyusun manusia itu adalah atom. lalu setelah diteliti sekarang-sekarang setelah manusia makin canggih, ternyata beda lagi. Entah apa namanya yang lebih kecil dari atom. Tetapi yang jelas semakin kecil, semakin tidak memiliki sifat-sifat materi. Dan ini yang penting, ternyata semakin kedalam semakin tidak ada keterpisahan. Keterpisahan itu hanya ilusi di dunia makro saja.

Keseluruhan ciptaan, ternyata dari satu unsur yang sama. Unsur itulah yang disebut dengan hakikat ciptaan. Bahasa sufistiknya sering disebut dengan dzat. sesuatu yang entah apa, tidak diketahui seperti apa. Tetapi dzat yang menjadi unsur kesemua ciptaan itu bukan Tuhan itu sendiri. dzat itu adalah milikNya. Ciptaan-Nya. (orang sering mengelirukan hakikat ciptaan dengan Tuhan itu sendiri).

Dengan mengetahui fakta ini, bahwa seratus persen kehidupan ini adalah af’al-Nya, maka pelan-pelan mulai belajar menafikan apa yang tampak mata. Dan menyadari disebalik apa yang tampak sejatinya adalah dzat-Nya. milik-Nya. DIA berbuat apa saja yang DIA mau, karena seratus persen tidak ada kewujudan lain selain dari dzat (milik) Nya sendiri.

Hanya itulah kunci ketentraman sejati. Mengingat Sang Pemilik. Pemilik sifat, Sang pemilik dzat. Hanya itu cara lepas dari dualitas suka dan duka.


*) image taken from this source

DIKRITIK OLEH KEHIDUPAN

Kalau saya melihat ke belakang, dari sekitar lima tahunan lebih saya bekerja di kantor, sudah sedemikian banyak saya merubah cara pandang, cara bersikap, dan semacamnya, tersebab sering menerima kritik.

Kultur kritik yang membangun itu, anehnya, sama sekali tidak saya rasakan sebagai hal yang menyerang saya secara pribadi. Alih-alih terasa sebagai sebuah momen upgrade diri. “ooooh ternyata saya masih bisa improve di sisi ini toh.”

Padahal, jika kritik diluar wacana profesional seperti di kantor kadang-kadang saya tersinggung juga. Hahahahaha. Namanya manusia.

Tetapi setelah saya perhatikan, cenderungnya saya dalam menekuni khasanah tasawuf juga disebabkan oleh “kritik” kehidupan atas cara saya memaknai kehidupan itu sendiri. Orang bilang, ini disebut “ujian”.

ibnu Athaillah As Sakandari berkata, dalam Al Hikam, yang maknanya kurang lebih “sesiapa yang tak suka menuju Allah lewat halusnya karunia Allah, maka akan diseret menujuNya lewat rantai ujian.”

Lewat penjelasan Al Arif Ust. Hussien Abd Latiff menjadi pahamlah saya bahwa sesuatu yang selama ini kita sebut sebagai ujian itu, goal-nya tak lain dari perubahan paradigma. Merubah cara pandang kita. Sehingga dari sana muncullah istilah “Abdal” atau pertukaran. Istilah wali Abdal maksudnya adalah seseorang yang sudah mengalami perubahan paradigma, menjadi pribadi baru. Bertukar cara pandangnya karena menjadi kenal kepada Allah.

Salah satu perubahan cara memandang hidup, yang saya baru sadari setelah menyimak khasanah tasawuf adalah memandang hidup sebagai af’al-Nya. Lakuan Tuhan, melalui dzatNya yg menjadi hakikat semua ciptaan.

Sebagai contoh, kalau dulu seandainya saya mempunyai masalah di kantor, saya akan menganalisanya. Ini karena begini. Karena begitu. Lalu untuk mengatasinya harus begini begitu. Ini approach atau pendekatan paling awam. Murni analisa sebab-akibat semata.

Di atas itu, saya baru menyadari bahwa masalah apapun saja, kejadian apapun saja adalah cara DIA bercerita tentang diriNYA sendiri. Disitu menjadi gemetar dan takut. Karena memandangkan bahwa Allah begitu kuasa membolak-balikkan keadaan sesuka DIA. Dari sini menjadi memahami kehidupan sebagai pagelaran sifat-sifatNya. Ini approach kebanyakan pejalan ruhani.

Satu hal yang luput dari pengamatan saya, kemudian dikoreksi oleh Sang Guru adalah bahwa sifat-sifat, tidaklah bisa lepas dari dzatNya. Hakikat semua yang sifat-sifat yang tampak dan bisa dirasa, diraba, diteliti, dimengerti, dst. Adalah setitik dzatNya. Tidaklah mungkin sifat terpisah dengan dzatNya.

Dari sana. Barulah saya sedikit memahami bahwa keragaman, dan dualitas hanya akan sirna saat kita mengerti bahwa disebalik keragaman adalah dzatNya semata-mata.

Hal ini masuk akal. Apalagi jika suka membaca bahasan fisika quantum. Bahwa segala yang ada ini kalau diteliti lebih dalam sebenarnya hologram saja. Tak punya wujud sejati. Akan tetapi harus hati-hati, bukan menganggap bahwa ciptaan sama dengan Tuhan. Melainkan ciptaan dan sifat-sifat yang zahir batin adalah muncul dari dzatNya. Setitik saja dzatNya itu dibandingkan kemaha besaranNya.

Itulah kritik terbesar atas cara pandang saya pribadi. Sehingga sekarang setiap kali ada ujian dan terasa seperti ada JEDERRRR di dalam diri saya. Ada sedih dan duka. Tahulah saya apa yang terjadi. Tak lain tak bukan saya masih cenderung menggunakan cara pandang yang lama itu. Yaitu terlalu menganalisa kehidupan lewat analisa sebab-akibat. Selama cara pandang itu saya pakai. Selamanya akan ada suka duka. Saya harus beranjak dari sana.

Lalu terasalah hidup sebagai cerminan dualitas Jamal dan Jalal-NYA. Tetapi itu sifatNya.

Lalu menyadari bahwa yang dituju adalah Sang Pemilik sifat. Bukan sifatNya. Bukan dzatNya. Hanya itulah cara untuk tenteram dengan sebenar-benarnya. Itulah Imam Ghazali berkata bahwa kebahagiaan sejati hanya didapat jika mengenaliNya. Saya bersyukur atas kritik kehidupan sehingga mendewasakan cara saya memaknaiNya.

BERJALAN KE PINTU BELAKANG

Baru saja pulang dari mengantar anak ke tempat favoritnya. Kolam renang. Setelah melewati semingguan hari kerja yang padat dan riuh. Mumpung ada sejenak waktu lowong.

Betapa hari-hari kerja yang padat seringkali membuat kita menjadi keluar ke “pintu depan”.

Ada sebuah perumpamaan mengenai pintu depan dan pintu belakang. -Dua istilah yang saya temukan dalam kajian Al Arif Ust. Hussien Abdul Latiff.-

Umpamanya hari hujan deras. Dan ada tiga orang terperangkap dalam shelter bus. Berteduh menanti hujan reda.

Orang pertama duduk bersandar dan seolah melamun. Melihat tetesan hujan yang sambung menyambung terjun dari atap. Dalam fikiran orang pertama itu, dia mengira-ngira berapa banyak debit air yang turun dalam setiap jam-nya? Jika hujan tak henti-henti, maka bisa-bisa kotanya akan tenggelam.

Orang kedua, duduk bersandar dan terlihat seolah merenung. Dia melihat tetesan hujan yang deras, dan mendengar petir bergemuruh. Teringat olehnya betapa kuasanya Tuhan yang mampu menurunkan hujan dan petir. Karena membayangkan sifat keuasaan Tuhan, maka bergetarlah orang tersebut dan menggigil ketakutan.

Orang ketiga, matanya terpejam. Dia melihat hujan dan mendengar rentak petir bertalu. Tetapi dalam pandangannya semua yang nampak mata itu sebenarnya tak punya wujud sejati. Dibalik semua yang nampak mata hakikatnya adalah dzat-Nya semata-mata. Maka dia sibuk mengingati sang pemilik dzat dan sifat-sifat yang tampak itu.

Orang pertama. Yang menghitung debit air. Adalah kebanyakan manusia pada umumnya. Mereka melihat benda semata.

Orang kedua. Adalah apa yang dibahasakan Qur’an sebagai Ulul Albab. Orang yang bertafakur dan melihat segala yang tampak mata sebagai cerita sifat-sifat Tuhan.

Tetapi orang ketiga. Adalah muqarrabin. Orang-orang yang didekatkan. Mereka tidak lagi sibuk menganalisa hal-hal empiris. Dan mereka tidak lagi sibuk mengingati “sifat-sifat”. Melainkan mereka tenang didalam ingatan padaNya. Sang Pemilik dari segala yang ada.

Orang ketigalah yang dimaksud dengan orang yang selalu masuk pintu belakang. Pandangan yang berbeda dari apa yang dilihat kebanyakan orang lewat pintu depan.

Memang seringnya sih, kesibukan kerja dan kesulitan hidup membuat kita mau tak mau menggunakan pendekatan pintu depan. Akan tetapi, menurut Sang Guru, alah bisa tegal biasa. Lancar kaji karena diulang.

Yang harus sering diulang rupanya adalah masuk dalam approach orang ketiga itu. Duduk di pintu belakang. Dan melihat sandiwaraNya. Orang-orang yang tenang. Yang masuk dalam jamaahNya.

Perjalanan yang panjang. Tetapi kita menjadi rileks juga karena mengetahui bahwa pada akhirnya DIA-lah yang menyampaikan kita. Bukan karena kita sendiri. Jadi harapan selalu ada.

BERJALAN KE PINTU (2)

Bisakah manusia membersihkan hatinya secara permanen? Atau bisakah manusia mengingat Allah secara langgeng 24 jam?

Jawaban pertanyaan itu barulah kembali terajut dengan apik setelah saya menemukan bahasan Rumi dalam Fihi Ma Fihi, beliau menjelaskan tentang Abu Yazid Al Busthami yang menginginkan agar “tidak menginginkan”.

Kata Rumi, ketiadaan kehendak bukanlah sifat manusia. Dengan ketiadaan kehendak, maka manusia akan “hilang” punah secara total. Hilangnya kehendak dari diri manusia inilah yang dimaknai sebagai ketersambungan yang stabil kepada Tuhan. Ingat Tuhan fulllllll (Ini makna majazi lho ya, hehehe).

Keadaan itu, kata Rumi, di luar kemampuan manusia. Hanya bisa tercapai dengan “jadzbah” tarikan ilahi. Maksudnya kalau ditarik sama Allah masuk dalam keadaan itu, barulah seseorang bisa “hilang dirinya” dan dawam mengingati Tuhan.

Saya teringat Al Arif Ust. Hussien mengibaratkan perjalanan manusia dalam “menuju Tuhan”. Seumpama orang mendaki gunung. Di tiga perempat perjalanan, sebelum puncak gunung, ada “basecamp”. Tempat orang beristirahat.

Basecamp itulah puncak usaha manusia. Basecamp dalam istilah Al Arif Ust. Hussien Abd Latiff ini dalam bahasa Syaikh Abdul Qadir Al Jailani dalam Futuh Al Ghaib adalah “gerbang istana Raja”. Dalam bahasa Ibnu Arabi, usaha terjauh manusia adalah sampai ke “Pintu-Nya”. Mengetuk terus menerus pintuNya sampai DIA mempersilakan masuk.

Kalau kita pakai bahasa yang lumrah dalam kalangan ahli syariat. Perjalanan manusia yang masih “dalam batas usaha manusia” itu disebut sebagai orang-orang mukhlish. Orang-orang yang berusaha mendarma baktikan hidupnya untuk Tuhan. Berusaha ikhlash. [1]

Akan tetapi, selama-lamanya manusia jika berada dalam spiritual state yang ini, mereka akan menemukan hati mereka terbolak-balik. Kadang bener, kadang ga bener. Kadang ingat, kadang lupa.

Setelah belajar spiritualitas islam, atau Tasawuflah saya baru paham bahwa selama-lamanya manusia tidak akan bisa bersih hatinya. Atau dalam bahasa lain, jika pakai istilah ego; selama-lamanya manusia tidak akan hilang “keakuannya”. Sebelum mendapatkan tarikan ilahi. Jadzbah.

Tetapi jangan bersedih hati. Tugas manusia adalah menjalani pendakian itu. Seumpama berjalan, berjalanlah terus sampai gerbang. Sampai pintu. Sampai basecamp.

Atau istilahnya, berjalanlah terus sampai shelter bus. Dan berdiamlah disana, tunggu sampai “jemputan” datang.

Orang-orang yang “dijemput” atau didekatkan kepada Tuhan, inilah yang disebut sebagai golongan muqarrabin. Atau dalam bahasa para ahli syariat disebut sebagai “Mukhlash”. [2]

Orang yang berada pada spiritual state yang inilah. Yang tidak bisa diganggu oleh syaitan. Hilang “aku”nya. Dan bisa mengingatiNYA dengan langgeng 24 jam.

Tugas kita hanyalah berjalan dengan “sopan” sampai ke GerbangNya. Mengetahui bahwa selama-lamanya kita tidak akan bisa bersih sampai DIA yang membersihkan.

Dan perkara sopan santun atau adab hati ini banyak sekali dibahas dalam ranah tasawuf. Sisi batin keberagamaan yang seringkali asing bagi manusia modern sekarang.

::

[1] Mukhlish

فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadat kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya). (QS Ghafir : 14)

[2] Mukhlash

إِلَّا عِبَادَ ٱللَّهِ ٱلْمُخْلَصِينَ
Kecuali hamba-hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa tidak akan diazab). (As-Saffat 37:74)

https://debuterbang.wordpress.com/2018/01/17/berjalan-ke-pintu-2/