RADIUS KONTRIBUSI DALAM DRAMA KEHIDUPAN

DRAMA

Satu hal yang paling sering dilakukan seseorang dengan kecenderungan Koleris, adalah mengoreksi kesalahan orang lain. Saya dulu begitu. Padahal diri sendiri juga banyak cela.

Sampai akhirnya saya menyadari bahwa setiap orang memiliki jalannya sendiri. Dan tidak baik untuk selalu turut campur pada sesuatu yang “tidak masuk dalam radius” kita.

Radius tanggung jawab itu, berbanding lurus dengan amanah pribadi kita. Karena setiap orang hidup dalam peranan tanggung jawab masing-masing.

Sepanjang perjalanan saya dari rumah menuju kantor, misalnya. Ada puluhan bahkan ratusan masalah. Saya menyeberangi saluran air yang barangkali di dalamnya ada sampahnya. Mungkin sampah itu kalau dibiarkan akan menggenang dan menyumbat saluran. Belum lagi saya melewati jalan dengan anak-anak yang sebagiannya mungkin ada yang tak bersekolah. Saya melintasi jalanan yang macet di kampung rambutan. Ada keriuhan di warung kopi, barangkali ada orang yang belum bayar hutang. Mungkin di antara mereka ada yang anaknya sakit. Mungkin di antara sekian orang lalu lalang ada yang pencuri. Di mobil yang saya tumpangi barangkali rencana maintenance mobilnya tak terlalu elok. Ada yang harus dibenahi dari sisi pengelolaan perusahaan penyewaan mobil. Disebelah saya seseorang membaca whatsapp group yang boleh jadi ada berita hoax di dalamnya.

Ada triliunan masalah, dan bisakah kita ikut andil dalam semua masalah?

Tidak bisa. Karena kita mengetahui batas “radius” kontribusi kita.

Landasan yang lebih religius-spiritual mengenai “radius kontribusi” kita ini adalah juga bahasan tasawuf. Karena berkait dengan “takdir”,  karena berkait dengan pemahaman akan “peranan”.

Saya ambil contoh. Buya Hamka. Beliau dijebloskan ke dalam penjara karena berseberangan dengan politik Soekarno kala itu. Tidak ada orang yang tahu mengapa beliau dipenjara, tetapi setelah beliau lepas dari penjara baru kita mengerti bahwa beliau “tertakdir” menyelesaikan Tafsir Al-Azhar di dalam penjara.

Di dalam setiap kejadian, ada “rencana”NYA. Dan setiap orang bermain peran tanpa mereka sadari, mensukseskan renancaNYa itu.

Bagaimana jika kita, anda dan saya, diperkenankan kembali ke masa silam, dengan sebuah pengetahuan bahwa di masa depan Buya akan bebas, dan justru beliau akan bisa menyelesaikan Tafsir Al Azhar di penjara. Akankah kita berontak dengan kejadian itu? Saat kita berontak, maka kita menyelisihi rencana Tuhan. Karena –dalam ilustrasi ini- kita sudah tahu rencanaNya bawa nanti Buya akan bebas dan malah tafsir Al Azhar selesai dibuat dalam penjara. Itu rencanaNya. Akankah kita menggagalkan rencanaNYA? Emangnya bisa?

Tentu ada pertanyaan, “Lho… itu kan kalau kita sudah tahu rencanaNYA? Lha ini kita belum tahu.”

Justru untuk yang belum tahu itulah, kajian tasawuf mengenai “kontribusi” dan “peranan” ini menjadi penting.

Pertama, bahwa setiap orang menunaikan peranan mereka masing-masing dalam kehidupan ini. Polisi, penjahat, orang baik, ulama, pemimpin masyarakat, pedagang, setiap peranan tak lain tak bukan adalah menzahirkan ceritaNYA. Yang mana setiap cerita itu berhikmah.

Kedua, tidak setiap kita harus berkontribusi atau dalam lain kata “ngerecoki” af’al yang sedang berjalan. Sebagaimana ilustrasi tadi, sepanjang jalan dari rumah menuju kantor, berapa banyak af’al sedang berlaku, bahkan saat anda sedang membaca ini ribuan af’al sedang berjalan. Mungkin di sekitar anda ada orang yang sedang sakit, ada yang bermasalah, ada yang berniat jahat, ada potensi bahaya, ada keindahan, dan apakah kita harus ngerecoki semuanya? terlebih kalau kita tahu bahwa setiap af’al yang berlaku adalah menzahirkan ceritaNYA, dan menggiring setiap orang menuju peranan mereka sendiri-sendiri – yang berhikmah-. Tentu kita akan “segan” ngerecoki af’al Tuhan. Dan lagi kita tak bisa turut andil dalam segala hal.

Ketiga, ada adabnya untuk kontribusi. Yaitu sesuaikan dengan radius kemampuan kita. Juga sesuai dengan peranan kita masing-masing.

Yang kebagian peranan menjadi Umara’ pemimpin di tengah-tengah masyarakat pembuat kebijakan, tokoh masyarakat, maka mereka punya radius lebih luas untuk bertindak. Inilah berbuat dengan “tangan” mereka.

Yang memegang posisi ulama atau orang yang didengar dan semisalnya, mereka terkena radius untuk berbuat dengan lisannya.

Yang tidak masuk dalam radius itu semua, cegahlah kebatilan dengan “diam”.

Diam disini dimaknai secara lebih spiritual, yaitu menyadari pergerakan af’al Tuhan dalam kehidupan ini. Dan yakin bahwa yang berlaku adalah kebaikan pada ujungnya. Dan menyadari bahwa untuk saat ini, peranan kita tidak secara langsung bersinggungan dengan peranan orang lain yang terlihat buruk dalam kacamata manusiawi kita yang terbatas.

Agar tidak overdosis.

Baik diam, maupun bergeraknya kita untuk kontribusi, akan menjadi lebih bermakna setelah mengetahui hal itu. Kita diam karena menyaksikan af’al Tuhan, dan paham bahwa kejadian yang berlaku tidak menyeret kita secara langsung. Kita berkontribusi karena memahami peranan, dan menyaksikan bahwa kita “terikut” dalam rencanaNYA.


*) Gambar ilustrasi dipinjam dari sini

MEMINJAM SERULING DAWUD

Ada kesan yang berbeda sekarang setiap kali mendengarkan lagu. Saya memang bukan penikmat musik beneran, tetapi semenjak bolak-balik kantor naik shuttle bus, saya sering killing time dengan mendengarkan lagu. Di dalam perjalanan mendengar lagu itulah saya merasakan betapa Allah itu indah.

Saya teringat kisah Dawud as. Yang begitu merdu sampai konon angin berhenti bertiup saat Dawud as. Bersenandung.

Betapa dunia ini adalah Maha Karya Tuhan. Seni yang meruah-ruah.

Kadang-kadang saya menjadi iri. Mengetahui fakta bahwa orang-orang yang dititipkanNya darah seni, mereka itu sebenarnya kecipratan Jamalnya Tuhan.

Sebagaimana Allah mengajar manusia melalui kalam. Maka setiap orang sejatinya hanya kalam, pena, media ilmu mengalir dari Empunya.

Begitu juga jika Allah menampakkan keindahan, maka keindahan itu tersemburat lewat makhlukNya.

Ya jadi aneh sekali memang. Haru dan “iri” campur aduk pada saya.

Sempat saya berdoa, ya Allah…. titipkan juga keindahan itu pada saya. Dalam apapun bentuknya, nada, atau kata-kata, atau apa saja.

Sempat berapa lama saya akhirnya lupa dengan apa yang saya mintakan itu. Tapi ndilalah kemudian saya tertumbuk pada sebuah tulisan dari Rumi, kembali.

Diceritakan oleh Rumi, betapa di tengah masyarakat yang piawai dengan susastra arab, Rasulullah terkagum dan juga berhasrat pada keindahan susastra itu.

Tapi kemudian hasrat itu hilang karena Rasulullah dipenuhi oleh ingatan padaNya.

Dan ketika hasrat atas keindahan susastra itu hilang, maka Rasulullah diberikan Al Qur’an, puncak susastra.

Tersenyum saya membaca itu.

Kagumi keindahan sebagai media DIA bercerita. Nanti setelah keindahan fisikal kalah dengan ingatan akanNya, maka indah itu akan menjelma sendiri pada kita.

Umpama dipinjami seruling Dawud as. Untuk mengabarkan tentang DIA

HADIAH DARI PAK RW YANG KETUS

angrySaya heran juga mengapa beliau begitu ketus. Pagi tadi saya menemui pak RW di alamat rumah saya yang dulu, untuk meminta tanda tangan surat pengantar. Sambutannya tak seperti biasa, kali ini sedikit ketus.

Saya membatin barangkali beliau sedang sibuk atau sedang banyak problem, okelah tak apa. Karena sopan santun dan unggah-ungguh sebagai warga, saya tak tampilkan raut tidak suka, padahal saya juga rada kesel karena beliaunya ketus, hehehe.

Sepanjang perjalanan pulang, saya “tersadarkan” sebuah fakta, bahwa meskipun dalam status sebagai seorang warga, saya menampilkan bentuk kesopanan. Tetapi sebagai seorang pribadi, di dalam diri saya, yang lebih dalam dari tampilan “seorang warga”, ada pribadi yang sedang kesal.

Kita bisa mengelupasi status warga dari diri seseorang. Sebagaimana status RW atau RT atau lurah, atau macam-macam status bisa kita lepaskan dari pribadi seseorang.

Umpamanya sepulang kita dari kantor, di rumah kita sudah bukan direktur lagi. Tetapi kita hanya seorang Bapak, atau seorang suami misalnya.

Permasalahannya adalah, kita selama ini “terhenti” sebatas mengelupasi status yang di luar itu saja. Tidak sampai “yang paling dalam”.

Misalnya kita buang status manajer di kantor. kita hanya seorang Bapak. Kita buang status sebagai Bapak di rumah, maka kita hanya seorang manusia yang umpamanya bernama “Hasan”. Kita hanya bisa sampai sini saja, biasanya.

Padahal, kalau kita masuk lebih dalam lagi, sesuatu yang kita kenal dengan nama “Hasan” itu pun masih bungkus. Baju mental. Yang dibentuk oleh pengalaman hidup dan kumpulan ilmu yang dimiliki. itulah Hasan. itulah Ego bernama Hasan. Kalau kita jeli, di dalam sana, ada “yang mengamati”. Dia bukan “Hasan”, bukan sesuatu yang selama ini kita kenal dengan diri kita.

Dibaliknya Hasan, ada sesuatu yang sadar dan merekam semua pengalaman hidup itu. Dalam literatur islam, itulah disebut “hati”. Bahasanya Imam Ghozali, hatilah fakultas ilmu. Tempat segala pengalaman hidup dan tempat segala ilmu dan pelajaran terekam. itulah ‘hamba’.

Secara jujur saya akui, dalam beribadah misalnya, saya seringkali masih berbungkus baju mental. Bukan sebagai ‘hamba’.

yang mengadu masih baju Ego. Jika saya bernama Hasan, maka yang mengadu adalah Hasan. Karena Hasan adalah kumpulan pengalaman hidup, maka Hasan memandang Tuhan dalam kacamata manusiawi si Hasan.

Tak urung, Tuhan terpandang dalam citra yang bersifat-sifat, sesuai dengan kacamata Hasan.

Jika Hasan sedih, dipandangnya Tuhan dalam citra Yang Menghapus kesedihan.

ini pun sudah bagus, tapi harus hati-hati, agar hanya menyifati Tuhan dengan sifat yang layak bagiNya. seumpama Asmaul Husna.

Tetapi jika bisa masuk lagi, lebih dalam dari sebatas baju Ego si Hasan. Maka akan ditemui yang hamba itu.

yang bukan direktur, bukan bapak, bukan Hasan, bukan macam-macam peranan apapun. Tetapi yang menyaksikan pagelaran. hamba yang menyaksikan.

Jika hamba yang menyaksikan itu yang berdo’a, maka karena dia tidak berbaju ego dan tak berbaju mental apapun, DIA tak memandang Tuhan dalam citra sifat-sifat yang bermacam-macam. Sang hamba memandang Tuhan sebagaimana DIA saja. yang tiada umpama.

Tersadarlah saya, bahwa pak RW yang saya temui tadi pagi pun hanya baju. Baju terluar bahkan. dibaliknya mungkin ada seseorang yang bernama -katakanlah- Pak Raden misalnya.

Dan pak Raden pun hanya baju peranan. Di sebaliknya Pak Raden ada sang hamba yang juga mengamati dan menyaksikan.

kita dan mereka sama saja.

Lalu kesal saya pun hilang


*) Image Sources

DIBERI ALASAN MENEMUI TUHAN

Salah satu ciri kultur perusahaan swasta adalah persaingan yang ketat. Orang yang tak kuat dengan persaingan akan terlempar keluar.

Permasalahan saya pribadi, karena saya bekerja pada perusahaan swasta, adalah bagaimana menyesuaikan diri dengan kultur persaingan yang ketat itu, sedangkan sifat atau kecenderungan alami saya adalah malas unjuk gigi, dan dalam tataran tertentu bisa dibilang kurang ambisi.

Seringkali saya berdoa, agar Allah memberikan kemudahan. Bagaimana dengan keterbatasan dan kelemahan pribadi agar bisa survive di medan yang ganas.

Alhamdulillah salah satu kemudahannya yang saya amati ialah seringkali saya diberikan “ruang”. Maksudnya, tanpa perlu selalu unjuk gigi atau cari perhatian, pimpinan acapkali memanggil saya karena memberikan tugas atau disuruhlah saya membuat macam-macam laporan investigasi masalah.

Dengan banyaknya masalah, maka saya ketempuan bekerja dengan intensitas yang lebih banyak bertemu bos saya. Tanpa perlu saya mencari-cari kesempatan dan “ruang” tetapi “ruang” itu sendiri dibangunkan oleh beliau. Lewat tuntutan-tuntutan tugas yang banyak dan seringkali melelahkan, tetapi imbasnya adalah pertemuan saya dan beliau menjadi lebih sering.

Dari situ kemudian beliau mengenali saya. Dari situ kemudian beliau memahami saya secara lebih komprehensif. Misalnya, selain dari pendiem dan kelihatan tak punya ambisi atau target, rupa-rupanya anak ini bisa juga kalau disuruh kerja. Begitu.

Merenungi tema ini, saya jadi teringat seorang guru pernah mengatakan bahwa seringkali dengan begitu banyaknya masalah dalam hidup, membuat kita semakin-makin banyak “naik” dan meminta tolong pada Tuhan, maka kita tanpa sadar membangun kedekatan.

Baru saya mengerti sebenarnya lewat kesulitan-kesulitan itulah Allah memberikan kita “ruang” untuk selalu melapor. Tanpa diberikanNya kita ruang, maka kita akan tersisih dari orang-orang yang by nature -secara kecenderungan alamiahnya- sudah dekat dengan Tuhan.

Sebagaimana Tuhan menolong kita dalam dunia pekerjaan, begitu pula DIA menolong kita dalam kehidupan sehari-hari. Dalam makna yang lebih spiritual.

Kedekatan kita padaNya adalah karena DIA berbaik hati memberikan kita ruang mengadu.

Ketika Allah memberi, maka Dia sesungguhnya sedang memperlihatkan belas kasih-Nya kepadamu. Dan ketika Dia menolak memberimu, maka Dia sedang menunjukkan kekuasaan-Nya. Dan di dalam semuanya itu, Dia sesungguhnya hendak memperlihatkan Diri kepadamu dan ingin menjumpaimu dengan kelembutan-Nya. (al-Hikam – Syekh Ibn Athailah)

Dalam satu wejangan, seorang arif (Ust. H. Hussien Abd Latiff) pula berkata. “Anakku, kalau kita mengatakan kepada Allah ‘aku rindu kepadaMu’, maka bagaimana kita tahu Allah pun rindu kepada kita?”

Jawabannya ialah jika kita mengatakan kita rindu kepadaNya maka itulah tanda DIA merindui kita. Karena DIA tlah menuliskan kita menyapaNya.

Maka dengan segala kekurangan dan ketidak sempurnaan amal, pagi ini saya bersyukur kepada Allah untuk telah diberikan momen-momen kedekatan. Karena menyadari bahwa tiadalah akan terjadi saya menyapaNya tanpa terlebih dulu DIA tuliskan agar saya berdoa.

Lebih cepat rahmatNya sampai pada kita, ketimbang amal kita sampai padaNya.