TASAWUF DI TENGAH MANUSIA MODERN

Spiritualitas dalam kehidupan modern seperti sekarang sangatlah diperlukan. Spiritualitas dalam arti keberagamaan yang juga mencakup sisi “batin”-nya. Tidak hanya aspek lahiriah.

Saya teringat dengan kebimbangan saya awal-awal masa bekerja dulu. Saya merasa hidup dalam dunia kerja adalah hal yang penuh dengan keriuhan dan hiruk pikuk masalah. Saya ingin lari dan menyepi saja. Banting setir dalam kehidupan asketis menjadi agamawan umpamanya seperti pertapa, hehehehe.

Sampai pencerahan pertama menyambangi saya dari kitab Al-Hikam. Secara pribadi saya sangat berterimakasih sekali kepada Ibnu Athaillah As Sakandari yang mengungkap polemik besar psikologi manusia. Dua poin yang saya garis bawahi adalah kajiannya mengenai asbab-tajrid dan kajiannya mengenai meninggalkan “tadbir”.

Menjadi orang “asbab” atau berjibaku dalam dunia kerja dan kehidupan yang hiruk pikuk, ataupun menjadi orang “tajrid” yang hidup asketis meninggalkan riuhnya dunia, menjadi sufi yang menyepi dsb. Adalah “peranan” yang sudah disematkan pada masing-masing orang.

Tidak semua orang harus hidup asketis, sebagaimana tak semua orang harus hidup bertungkus lumus dalam dunia kerja dan karya. Semuanya ada porsinya. Dan tindakan yang tepat adalah menjalankan kehidupan lewat jalur masing-masing, dengan syarat mengetahui tujuan kehidupan itu sendiri yaitu untuk mengenaliNYA.

Jika semua pekerja, insinyur, dokter, tentara kemudian berhenti dari karya mereka lalu menjadi ulama di pelosok, maka kehidupan tidak akan berjalan. Pencerahan Justru didapati dengan menyadari bahwa setiap kehidupan kita memiliki kontribusi sendiri pada pagelaran dunia, dan pagelaran ini semata untuk mengenalkanNYA. Maka seseorang menjadi “tenang” dan dapat berperan dalam takdirnya.

Belakangan saya temukan petuah Ibnu Athaillah ini senada dengan ceritra dalam Mahabharata. Dimana Arjuna mengalami konflik batin dalam perang kurusetra karna harus berhadapan dengan Duryadana yang merupakan saudaranya sendiri.

Sekilas arjuna ingin lari saja dari “peran”nya sebagai ksatria. Dan ingin hidup mengasingkan diri saja. Tidak ingin berkecimpung dalam huru hara.

Tetapi penasihat Arjuna, yaitu Khrisna menasihatinya bahwa lari dari peranan takdirmu adalah bukan solusi. Tetapi solusi sebenarnya adalah dengan menjalani takdir sebaik mungkin, dengan menyadari bahwa menjalani takdir adalah bentuk pengabdian padaNYA.

Dan satu cara untuk menghindari derita adalah bukan dengan tidak berbuat apa-apa, melainkan berbuatlah yang terbaik sesuai peranan, tetapi jangan mengharapkan “buah” dari perbuatan itu.

Jika kembali pada Al-Hikam karya Ibnu Athaillah, “tidak mengharapkan buah” dari perbuatan kita, ini disebut beliau dengan istilah meninggalkan “tadbir”. Tidak mengatur-atur hasil. Jika berbuat A maka hasilnya harus B. Melainkan sepenuhnya menyerahkan urusan hasil kepada Tuhan, karena manusia tugasnya adalah berbuat. Dimana berbuat disini ditafsirkan sebagai menjalankan peranan sesuai takdirmu. Sesuai “dharma”.

Saya tak menguasai kisah Mahabharata sepenuhnya tentu. Hanya saja menarik sekali mengamati bahwa pergolakan batin manusia mencari arti hidup seringkali bersinggungan satu sama lain. Maka kebijakan hidup seringkali menjelma menjadi hal yang universal.

Hal ini yang jarang ditemukan manusia dalam kehidupan modern. Setidaknya bagi saya pribadi. Baru saya temukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan saya setelah mempelajari aspek batin agama, yaitu tasawuf.

Dan seorang guru mengingatkan, awal beragama adalah mengenal Allah. Tetapi itu baru awal. Lanjutan dari pengenal pada Allah -lewat ilmu- adalah praktik keridhoan.

Keridhoan ini ternyata berkait erat dengan sadar akan “peranan” dalam konstelasi hidup.

Menarik sekali.

-debuterbang-

ADAB KACAMATA YANG TERBATAS

Mata sudah lima watt ini, tapi dari sore pengen menulis tentang ini dan baru sempat sekarang. Ceritanya tentang kehebohan di Cibinong City Mall hari kemarin.

Di lantai atas, terjadi kehebohan. Saya dan anak saya mengira kehebohan itu karena kondisi yang darurat, setelah tanya-tanya kepo ke orang-orang baru saya tahu bahwa kehebohan itu ternyata karena ada artis. Kirain sesuatu yang serius dan gawat, ternyata artis toh……. artis bule, dan saya tak hapal namanya siapa.

Di dalam hati saya waktu itu, sempat tercetus “siapaaaa lagi ni orang”. seakan-akan ada suatu kesalahan moral yang dilakukan orang tersebut. Padahal, dia tidak melakukan apa-apa. Tetapi benak bawah sadar saya mencap gesture dan gerak-gerik bule sebagai sesuatu yang tidak sopan secara kultur asia.

Lalu saya tiba-tiba tersadar. Karena saya hidup dalam kultur indonesia, katakanlah ada sedikit porsi jawa dalam kehidupan saya, maka saya menilai kehidupan dalam standar kesopanan ala jawa. Jika ada sesuatu yang melanggar tata kesopanan yang kurang njawani, maka saya tak terima, dan hal itu refleks saja dalam alam bawah sadar saya.

Bahkan dalam beribadah, misalnya berdo’a kepada Tuhan. Mengadukan masalah, lewat munajat misalnya. Maka mau tak mau saya akan memandang hidup dalam pola budaya dan keseharian saya. Misalnya, “Ya Allah….. tolonglah, kok orang-orang itu begitu banget…. kok ya mereka begini begitu…….” Misalnya begitu saya berdo’a.

Tanpa saya sadari, saya sudah mengira bahwa Allah “merasa dan berfikir” dalam alam budaya yang sama dengan saya. Seolah-olah Allah itu sesuatu yang sangat Indonesia. Seolah-olah Allah itu sangat timur sekali. Tentu ini hanya pengibaratan, tapi saya yakin sepenuh hati rekan-rekan paham maksudnya.

Mau tak mau, manusia mensifati Tuhan dalam kacamata persepsinya sendiri.

Padahal, Allah adalah juga Tuhan segala bangsa.

Bagaimana kita mempersepsi Tuhan, dalam pandangan begini, sangat perlu hati-hati. Itulah mengapa jika kita ingin berasyik-asyik dengan do’a, munajat, dan segala macam peribadatan lainnya, adab yang harus dimengerti ternyata adalah jangan menyifati Tuhan dengan sifat yang tak layak bagiNya.

Karena manusia itu sering mengira-ngira Tuhan itu begini begitu. Seolah-olah kalau kita marah maka Tuhan marah juga. Kita mengira Tuhan berfikir seperti kita. Padahal, kita sudah mempersepsi dia dalam cara pandang kita sendiri.

Seperti contoh klasik. hari hujan deras. Tukang cendol mempersepsi keadaan itu sebagai “Allah membenci saya”, sedangkan tukang ojek payung mempersepsi hujan itu sebagai “Allah sedang memberi saya rezeki”. Sama-sama hujan, tetapi Allah sudah dipandang dalam dua citra sifat, yang sebenarnya karena persepsi manusia itu sendiri.

Maka itu, penting sekali memahami adab-adab dalam memandangNya lewat pintu depan ini. Agar tak keliru mensifatiNya dengan sifat yang tak layak bagiNya. Sebuah panduan paling umum adalah : rahmatNya mendahului kemurkaanNya. itu panduan untuk memandang dari sisi depan, istilahnya begitu.

Dan saat seseorang sudah tidak lagi menyoal apa-apa atas kejadian hidupnya, maka Tuhan tidak lagi “terpandang” dalam citra sifat-sifat yang bermacam-macam.

Contoh sederhananya adalah misalnya dia sudah sangat ridho akan kejadian hidup. Maka si Tukang Cendol tadi, menerima kondisi hujan maupun kondisi panas. Saat hujang maupun panas sudah tidak jadi soal baginya, maka hilanglah persepsi dualitas sifat-sifat, yang seakan-akan Tuhan kadang-kadang baik kadang-kadang jahat. Karena persepsi itu adalah keterbatasan manusia itu sendiri, memandang Tuhan dalam kacamata manusiawi yang terbatas.

sederhananya, kalau mau berasyik-asyik dengan do’a dan curhat-curhat lewat kejadian hidup kita; jangan sampai kita berprasangka buruk tentang Tuhan. Sifatilah DIA dengan sifat yang layak bagiNya. Misalnya, pahamilah Asmaul Husna dengan baik, agar tak keliru memaknai hidup.

Tetapi, jika sudah bisa melepaskan diri dari dualitas, dan sudah menerima segala hitam putih susah senangnya hidup, maka Tuhan tak lagi terpandang dalam citra yang bersifat-sifat. DIA sebagai DIA semata-mata.

saya hanya tulis ulang sepemahaman saya dari wejangan seorang guru.  Dimana level yang terakhir itu, saya sendiri ga bisa-bisa, hehehehehe….. level bawah pun tak mengapa, asalkan tidak keliru adab menyifatiNya.

RUANG SENDIRI

43339-004-62CB83E6Saya teringat ungkapan yang masyhur, kalau tak khilaf dari Ibnu Arabi, bahwa “usaha manusia” hanya sebatas mengetuk pintu Tuhan. Selebihnya adalah urusan Tuhan, untuk “menyambut”.

Ungkapan itu, tentulah metafora. Tentu tak benar-benar ada pintu disana.

Belakangan teringat seorang guru pernah mewejang dengan nasihat yang hampir serupa, yaitu bahwa batas usaha manusia hanya sebatas sampai ke gerbang istana raja, begitu kata beliau mengutip Syaikh Abdul Qadir Jailani.

lucunya, realita dari wejangan itu baru saya mengerti setelah mendengarkan lagunya Tulus, judulnya “Ruang Sendiri”. Dimana ceritanya itu lagu cinta-cintaan sebenarnya, dan dia butuh sejenak waktu untuk “sendiri”, karena butuh “ruang”. Blasss sama sekali tak ada spiritual-spiritualnya itu lagu yang muncul di playlist spotify saya, tapi kok jadi paham lewat sana.

Ilustrasinya seperti seorang yang sedang larut dalam menonton televisi, sinetron yang dia gemari, lalu dia menangis karena sangat terikut dalam suasana cerita, orang itu akan seperti ada dalam “dunianya” sendiri. Dia seperti hidup dalam ruangnya sendiri.

Begitu juga dengan ingatan kepada Tuhan. Ternyata, jika terus menerus kita mendawamkan mengingati Tuhan, umpamanya dalam setiap terpa masalah di kehidupan kita selalu kita “melapor” pada Tuhan dalam kontemplasi dan doa-doa kita pribadi; maka seperti ada “ruang” untuk kita menyendiri dan melapor kepada-Nya. Meskipun kita berada dalam keramaian.

Ruang sendiri itu, kalau bentuk fisikalnya barangkali disebut mihrab, yang sering kita jumpai pada ceruk masjid yang ditempati imam untuk memimpin sholat. Tetapi secara spiritual, ruang mihrab itu adalah “ruang” yang terbangun dari seringnya kita melapor padaNya dan mengingatiNya.

Tak benar-benar ada ruangan dan mihrab di dalam hati kita tentu saja. tetapi semakin dawam kita melakukannya, semakin cepat kita masuk dalam dunia itu, dan sendiri saja didalamnya, meski banyak keramaian di luar kita.

Banyak-banyak melapor kepada Tuhan, sampai “ruang” itu terbangun dalam hati kita, dan kita bisa berdiam di dalamnya.


*) ilustration image taken from here

Proudly powered by WordPress | Theme: Baskerville 2 by Anders Noren.

Up ↑