MENGEMBALIKAN MUTIARA DI DALAM DIRI

Saya kaget karena dari belakang seseorang meneriakkan nama saya. Dalam keriuhan orang-orang saya lihat seorang lelaki menggendong anaknya yang tengah tertidur.

Ternyata beliau rekan lama saya. Dulu beliau satu perusahaan dengan tempat saya bekerja, tetapi kemudian memutuskan untuk pindah mencari peruntungan dengan bekerja di luar negeri, kemudian kembali ke Indonesia setelah sekian lama. Sekarang membuka bisnis online dengan omset yang lumayan.

Kami bertemu pada sebuah sesi trial, uji coba SD Islam Terpadu dengan konsep alam dan sains, saya hendak mendaftarkan anak saya kesana, dan qadarullah saya bertemu dengan rekan saya ini.

Saya mengingatnya sebagai seorang dengan planning hidup yang begitu teratur dan pandangan yang jauh kedepan.

Ketika saya dan sekian orang rekan saya yang baru lulus kuliah mendapatkan gaji pertama, lalu kami berbicara tentang handphone dan laptop idaman yang ingin dibeli, dia hanya tertawa dan mengajak berbincang tentang KPR. saya tertinggal selangkah dua.

Begitu juga berikutnya, ketika saya baru bertanya bagaimana caranya membeli rumah, rekan saya malah sudah melangkah lebih jauh dengan mengeluarkan peta topografi, menimbang-nimbang area rawan banjir jakarta, berbincang tentang NJOP dan bagaimana visi beliau tentang kenaikan harga rumah area cibubur dalam sekian waktu kedepan. Saya masih juga tertinggal selangkah dua atau lebih.

Berbicara dengan orang-orang yang punya visi lebih maju dan cepat seperti kereta shinkansen jepang itu, acapkali menimbulkan rasa terintimidasi. Artinya, saat menimbang diri dengan melihat susunan detail rencana hidup rekan saya itu, saya merasa betapa hidup saya berantakan dan kurang terpola. Betapa dalam hal seperti itu saya kalah jauh dengan beliau.

akan tetapi, pertemuan tak disengaja hari ini membuat saya mengerti satu fakta penting. Masih menyusuli “kebijakan” yang sudah lama saya tahu dari wejangan guru; tetapi “makjleb-nya” di hati baru beberapa hari lalu; saya kembali memahami setindak lebih dalam mengenai “khalifah”.

Cara agar kita tidak diperbudak harta, entah diperbudak lewat sikap menghamba pada harta, atau karena sikap “rikuh” dan merasa rendah di hadapan harta; adalah dengan menaklukkan harta itu.

Menaklukkannya dengan membagikannya, atau juga dengan mempergunakan harta itu semaksimal mungkin untuk melayani kita, dan terberdayakan dalam hal-hal baik yang manfaat. Dengan begitu, kita sudah mengembalikan posisi diri dalam mentalitas sebagai khalifah terhadap dunia. Dalam konsep batin kita, kita menyadari betul bahwa “yang sejati di dalam diri kita ini” adalah khalifah, dan lebih tinggi kedudukan khalifah ketimbang kedudukan harta, karena harta secara struktural mesti tunduk kepada khalifah. Dalam ruang batin pun sudah tidak ada lagi rasa rikuh dan rendah terhadap harta.

Begitu juga terhadap kekuasaan, bahkan terhadap “ilmu”. Karena kekuasaan, dan juga ilmu, adalah juga ciptaan yang sudah Allah janjikan untuk ditundukkan pada “manusia”, yang “khalifah” itu.

Saat saya dan rekan saya berbincang tadi, saya mengamati gejolak batin sendiri, dan segera teringat bahwa “sejatinya diri” manusia itu adalah khalifah. Atas harta, atas kekuasaan, juga atas ilmu. Sehingga dengan pemahaman seperti itu, rasa rikuh saya terhadap “ilmu” rekan saya menjadi hilang.

Karena akhirnya pahamlah saya bahwa “ilmu” yang ada padanya hanyalah sebuah “ciptaan” lainnya yang Allah tempatkan di belantara dunia ini. Dan tidak semestinya, “sejatinya diri manusia” kalah perbawa terhadap “ilmu”.

Saya akhirnya menikmati rekan saya bercerita tentang bisnisnya kepada saya, hitung-hitung sebagai kursus informal secara gratis. Dia mentransfer ilmunya kepada saya, seumpama membuka khasanah wacana, agar saya lebih bisa menaklukkan “ilmu” yang berkait dengan topik yang dia jabarkan.

Dan saya temukan fakta bahwa pembelajaran gratis seperti ini banyak sekali tersebar di keseluruhan lini hidup kita. Asalkan kita menaklukkan rasa rikuh dalam diri kita sendiri, dan kembali menyadari kemuliaan “yang semula jadi” sudah ada di dalam diri kita sendiri. Yang Malaikat dan Jin disuruh tunduk padanya.

Itulah mutiara di dalam diri setiap kita.

BERGELUT DENGAN PRASANGKA

Sedetik kedepan saja, manusia tidak mengetahui apa yang akan terjadi. Karena, meminjam perumpamaan dari Ali Bin Abi Thalib, takdir adalah Jalan yang gelap, atau lautan yang dalam, rahasia Allah yang janganlah kita membebani diri kita sendiri atasnya.

Manusia, dalam menyikapi takdir adalah berbaik sangka.

Baik sangka ini setelah saya perhatikan wejangan para arif, bisa kita klasifikasikan dalam dua wujud besar yaitu baik sangka lewat do’a-do’a permohonan kita. Artinya secara mentalitas kita penuh harapan akan rahmat dan pertolonganNya kedepan. Kalau kita tertakdir berdo’a maka berarti pengabulan bersamanya. Kata Umar.

Atau yang kedua, baik sangka lewat pasrah dan keridhoan. Yang ini levelnya lebih tinggi lagi, semisal dicontohkan Ibrahim yang baik sangka pada Tuhan, dan tetap ridho akan kebaikan Tuhan meskipun dirinya sedang akan dilempar ke kobaran api oleh Namrud. Diam meskipun akan dilempar ke dalam api. Diam-nya beliau, adalah diam dalam prasangka baik atas takdir. Ini level advance.

Pada pokoknya, kekalutan dan rasa gusar jangan sampai memenuhi ruang hati kita. Karena syaitanlah yang membisikkan was-was dan kecemasan.

Seorang guru, Ust. H. Hussien Abdul Latiff memberikan wejangan simple menyikapi takdir, yaitu jangan fikirkan, jangan tetapkan.

Saya teringat kisah Nabi Yakub yang kehilangan anak tersayangnya yaitu Yusuf. Karena makar dari saudara-saudara Yusuf sendiri. Nabi Yakub begitu berduka. Dan meskipun anak-anaknya berbohong dengan mengatakan Yusuf dimakan srigala, Yakub a.s tahu apa yang sebenarnya terjadi, atas izin Allah SWT beliau tahu.

Tetapi, cerita komplit apa yang akan terjadi berikutnya beliau tak tahu. Mana beliau tahu bahwa anaknya akan kembali kelak setelah sukses di kerajaan. Karena masa depan adalah khasanah rahasia Allah SWT.

Maka Yakub menghabiskan hari-harinya dengan bermunajat -tidak dengan menetapkan sendiri bahwa beginilah terus takdir yang berlaku baginya selamanya-, munajat itulah ejawantah sikap baik sangka Yakub pada Tuhannya.

Yakub tidak tenggelam dalam was-was dan menduga-duga bahwa akan beginilah terus nasibnya. Karena siapa yang tahu masa depan??

Itu sebab, sebelum terzahir menjadi kenyataan, masa depan adalah tetap rahasia. Jangan difikirkan dan jangan ditetapkan.

Seandainya sebuah musibah membuat kita desperate atau kalut, sehingga dalam berdoa pun kita was was dan menduga bahwa tentulah buruk akhir dari semua drama ini. Maka syaitan sudah bermain dengan menciderai prasangka kita pada Tuhan.

Maka sebuah hadits mengatakan, kalau berdoa jangan setengah-setengah. Kita meminta dalam mentalitas yang terus menerus memperbaiki prasangka kita padaNya. Sebenarnya dalam kita berdoa, kita bergelut dengan diri kita sendiri. Kita berlari dari was was menuju persandaran kepada Tuhan. Dan rasa gelisah tidak boleh mengalahkan harapan kepada Tuhan.

Adabnya ada dua. Kita bisa terus menerus berdoa dalam prasangka yang baik dan meminta tolong agar diberikan jalan keluar. Atau kalau keyakinan dan prasangka baik pada takdir itu sudah sebegitu menguasai kita ; kita akan ridho dan berpasrah karena kita sadar kesempurnaan dan kebaikan takdir.

Tapi Sedikit saja ada gelisah dan ketakutan, ini penanda bahwa kita masih di maqom do’a. berlarilah meminta pada pertolonganNya sampai gelisah dan was-was kita tenggelam dan kalah dengan persandaran kita padaNya. Harapan mengalahkan rasa takut. Syaitan membisikkan was-was kekurangan harta dan makanan, sedangkan dengan Do’a kita menunaikan hak RububiyahNya untuk dipandang sebagai Yang Maha Mengabulkan.

Berdoalah sampai ketakutan kita pada keadaan; kalah dengan persandaran kita kepada Pemilik kehidupan.

BERSYUKUR ATAS ANUGERAH KECIL

Mempelajari tipikal diri sendiri, rupanya adalah suatu hal yang mengasyikkan. Dan salah satu yang saya pelajari dari diri saya sendiri adalah kecenderungan alon-alon waton kelakon. Biar lambat asal selamat.

Ini sih sebenarnya sedikit menghibur diri saja, hehehehe. Tetapi memang secara jujur saya mengakui bahwa saya bukanlah seorang yang “cepat”.

Untuk mengerjakan sesuatu yang besar, orang lain mungkin memerlukan waktu yang singkat, tapi saya bisa dua tiga-kalinya lebih lama.

Memang ternyata saya adalah orang dengan kebiasaan santai dan selow macam di pantai. Akibatnya, saya harus mentolelir kelemahan saya ini dengan memulai segala sesuatu lebih awal, dan menyicilnya sedikit demi sedikit demi sedikit sampai pekerjaan itu usai. Meskipun lama, tetapi cara ini berhasil untuk saya pribadi.

Di dalam berspiritual juga begitu. Dulu, saya pernah begitu ngoyo dalam hidup, dan serasa pengen jadi waliyullah. Akibatnya, saya sering kesal sendiri pada performa Ibadah saya yang hendak saya gas pollllll tetapi tak bisa melaju kencang. Karena tipikal pribadi yang butuh waktu lama untuk panas, akselerasi lambat.

Sampai saya bertemu Kebijakan berikutnya bahwa sejatinya bukan amal kita yang menyampaikan kita padaNya, melainkan dalam tanda kutip kalau DIA tuliskan kita untuk sampai, maka sampailah kita padaNya. Amal ibadah, hanyalah wujud dari pemberianNya itu sendiri.

Kalau betul-betul Allah ingin menyampaikan kita padaNya, menjadi orang-orang dekatNya, Seorang guru mengatakan -sebagai syarah atas keterangan Syaikh Abdul Qadir Jailani-, bahwa diri kita akan dihancur leburkan seperti tempayan yang tak mengandungi air sedikit juapun. Hancur lebur sampai “hilang” diri dan kehendakmu. Baru kemudian digantikan dengan pribadi baru.

Dihancurkan sampai hilang diri, ini bukan perkara kecil. Ini luar biasa bebannya.

Maka mensyukuri maqom saat ini, adalah lebih utama. Ketimbang meminta Allah menaikkan maqom kita, lewat jalan yang menghancurkan dan menghilangkan diri kita yang memiliki kehendak itu.

Akhirnya menapaki tangga spiritualitas dengan sikap tahu diri, dan peribadatan yang sebisa mungkin dijaga, meski sedikit tapi kontinu, dalam mentalitas yang sepenuh hati yakin bahwa anugerahNya-lah yang memampukan amalan untuk mewujud. Baik besar maupun kecilnya; adalah lebih indah.

Yang penting, hal-hal kecil apa dalam hidup kita yang bisa kita jaga untuk kontinu mengalir setiap harinya; kita dawamkan. Dan kita syukuri. Karena amal-amal kecil itu adalah anugerah.