SUKA, DUKA, DAN KEMBALI

Berapa waktu lalu saya membaca sebuah laman berita dari CNN, dalam bahasa inggris. Dimana penulisnya mendeskripsikan kejadian pembantaian di Rohingnya dengan Narasi yang begitu deskriptif. Emosi saya teraduk-aduk. Tragedi dan duka tergelar.

Saya letakkan handphone. Dan mengambil jeda. Lalu saya teringat bahwa pertanyaan-pertanyaan mendasar di dalam hidup seperti itulah yang membuat saya mempelajari approach tasawuf dalam keberagamaan. Mengapa ada tragedi? Mengapa kehidupan berjalan begini? Mengapa? Siapa kita? Mau kemana hidup ini?

Kehidupan keberagamaan formalistik semata-mata, tidak menawarkan jawaban yang cukup pas di mata saya. Setidaknya menurut saya pribadi.

Alhamdulillah, setelah mempelajari approach sufistik barulah saya mengerti bahwa kehidupan ini dengan warna suka dukanya hanyalah semata-mata cerita tentang Sang Pemiliknya.

Mengenali Sang Pemilik hidup-lah “asas keberagamaan”. Bukan yang lain-lain.

Suka dan duka, adalah dua keping warna. Sebagaimana istilah populer dalam islam yaitu basyiran dan nazhiran. Berita gembira dan ancaman.

Adanya suka dan duka, sebagaimana adanya berita gembira dan ancaman, hanyalah “sebab” agar orang menemukan konteks kembali pada Tuhan.

Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa Rahmat-Nya mengalahkan kemurkaan-Nya.

Maka tersadarlah saya, bahwa tak mungkin Tuhan memberikan ancaman atau duka semata-mata, melainkan sesuatu yang kita persepsikan sebagai duka atau ancaman itu mestilah menyuruh kita mengenaliNya dan masuk ke dalam rahmatNya.

Maka berhati-hatilah untuk tidak terjebak di dalam “semata-mata duka dan ketakutan”. Syaitan menjebak kita dengan ketakutan-ketakutan.

Sedangkan Allah memberikan kabar gembira. Adapun berita ancaman dan duka, hanyalah “sebab” agar manusia menemukan konteks untuk “kembali”. Lari dari duka dan ancaman menuju rahmatNya yang luas.

Dengan pendekatan sufistik-lah, keberagamaan didudukkan kembali pada sisi spiritualitas yang cantik. Bahwa DIA ada dan begitu dekat.

IKAN NUN DAN TIPS MENDAPATKAN RASA BAHWA ALLAH MAHA KAYA

Ada sebuah kisah yang sangat terkenal, tentang Nabi Sulaiman as. Yang merasa ingin menjamu seluruh makhluk yang diciptakan Allah SWT. Karena beliau mendapati rezeki yang Allah karuniakan pada beliau sangatlah banyak.

Allah SWT telah memberitahu kepada Sulaiman as. Bahwa beliau tidak akan mampu menjamin rezeki makhluk.

Konon dikatakan bahwa hidangan yang dipersiapkan Sulaiman as. Diletakkan di sebuah padang yang sangat luas, yang butuh waktu berhari-hari untuk ditempuh dengan menggunakan kuda.

Saat hari jamuan tiba, Allah perintahkan binatang-binatang dari laut, dimulai dengan ikan Nun, ikan yang sangat besar. Ikan itu melahap seluruh hidangan yang dipersiapkan berhari-hari, tetapi selepas itu ikan itu masih meminta tambahan kepada Sulaiman as. Karena masih merasa lapar.

Kontan saja Sulaiman as. Bersujud dan menyadari kebesaran Allah yang menjamin rezeki seluruh makhluknya.

Saya renungkan, bukannya Sulaiman as. Tidak menyadari bahwa Allah SWT Maha Luas rizkiNya. Akan tetapi, secara “feel”, “rasa” nya itu baru benar-benar dapet setelah menyaksikan sendiri ketidak mampuan dirinya bahkan untuk sekedar menjamu seekor ikan besar di lautan.

Sebuah ilustrasi lainnya adalah seperti berikut. Umpama kita mengenal seorang yang baik hati. Kita tahu orang tersebut mempunyai kelebihan harta dibanding kita, maka kombinasi punya kemampuan lebih dan sifat baik hati ; sangatlah ciamik. Walhasil kita ingin meminta bantuan pada orang tersebut.

Akan tetapi, ada level tertentu dimana “rasa” di hati kita seperti “surut”. Misalnya kita butuh uang sepuluh juta. Di hati kita akan seolah-olah “apa ya bisa saya minjem sepuluh juta?”

Kita tahu kenalan kita baik, tetapi semata “baik” masih belum cukup, tanpa kita tahu ancer-ancer seberapa kaya kenalan kita itu. Setelah kita tahu seberapa kaya, umpama kita punya ancer-ancer bahwa kawan kita itu punya uang lebih satu milyar, maka “rasa” di hati kita akan plong. Sudahlah dia baik, kita tahu pula kemampuan dia itu level satu milyar. Sepuluh juta sih kecil bagi kawan kita itu.

Barangkali begitulah. Seiring perjalanan hidup, berkesempatan pergi ke banyak tempat, dan melihat hidup dari banyak sisi, baru saya mendapatkan “feel” bahwa Allah itu benar-benar kaya.

Cobalah rekan-rekan naik gedung tinggi, lalu lihat lansekap perkotaan di tempat anda. Semua sudutnya sejauh pandang mata kita ada kehidupan yang tiap kehidupannya itu dijamin Tuhan.

Atau naiklah ke atas gunung, dan pandangi lembah dan dataran, dan lihatlah segala varietas hidup disana. Setiap sudutnya ada kehidupan dalam jaminan Tuhan.

Barulah saya mengerti mengenai do’a. Jika kita dilanda kesulitan hidup, dan kita berdoa karena kita butuh. Janganlah berdoa dengan doa yang setengah-setengah. Seolah iya atau enggak ya?

Berdoalah! Karena Allah sangat kaya dan tak akan disulitkan dengan doamu. [1]

Jika kita mendapatkan “feel” bahwa Allah itu benar-benar Maha Kaya, maka tidak akan surut kita berdo’a. Karena kekayaan-Nya itu banyak sekali, dan melampaui kebutuhan kita.

Lebih-lebih lagi, dalam pandangan sufistik, Allah menciptakan alam, adalah karena DIA ingin dikenali. Dan salah satu wujud pengenalan itu adalah DIA tanamkan kebutuhan-kebutuhan pada makhlukNya, yang lewat kebutuhan itu maka makhlukNya merasakan kebesaran Tuhannya.

Jadi dari-Nya, kembali pada-Nya. Kebutuhan dalam hidup bukan lagi perkara pribadi yang kerdil, tetapi perkara harapan kepada Yang Maha Besar.

Jadi jika do’a anda kurang total, padahal anda sudah yakin bahwa Allah itu baik, barangkali anda seperti saya. Kurang piknik. Hehehehe…… Perhatikan sekitar anda, dan lihatlah kehidupan dalam jaminan-Nya semua. Niscaya do’a-do’a akan menemukan feel-nya kembali, “rasa” nya kembali. Karena Sang Pemilik adalah yang sangat murah hatiNya, dan sangat luas kekayaanNya.


[1] Janganlah kamu berdoa: “Ya Allah ampunilah aku jika Engkau mau, rahmatilah aku jika Engkau mau,” hendaknya dia mantapkan hati atas doanya itu karena sesungguhnya Allah tidaklah dipaksa oleh doanya itu.” (HR. Bukhari No. 6339, 7477, Muslim No. 2679).

Saya tak tahu persis apakah kisah tersebut valid, tetapi kisah ini sudah masyhur saya dengar sejak kecil. ( salah satu literatur disebutkan bahwa Kisah ini tertulis dalam kitab Durrotun Nasihin Fil Wa’izin Wal Irsyad karya Syekh ‘utsman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syakir Al-Khowbawiy. Beliau merupakan ulama yang hidup pada tahun 13 H. Beliau menyatakan didalam kitabnya ini salah satu kisah nabi Sulaiman A.S. yang dikutip dari Badi’ul Asror pada majlis ke 59 halaman 218 dalam pembahasan “Hijrah Untuk Taat Pada Allah”. http://spirit-muslim.blogspot.co.id/2017/06/kisah-nabi-sulaiman-memberi-makan-seluruh-makhluk.html?m=1 )