ADA YANG MELALUI SIFAT, ADA YANG SUDAH MENINGGALKAN SIFAT

Sewaktu saya terdampar di Bandara Atlanta, dalam satu penerbangan dengan tujuan menuju Houston, saya begitu takut. Ketakutan ini bukan –semata- karena datang ke tempat baru yang saya belum pernah kunjungi, melainkan karena saya merasakan betapa kecil saya, “diombang-ambing ombak takdir” dihantar kesana kemari, dan sewaktu di bandara Atlanta itu…… terasa sekali bagaimana saya ada dalam lautan manusia yang setiap orangnya sibuk sendiri, dan dalam pandangan saya kala itu; tiap orang menjalani takdir mereka sendiri-sendiri.

“Rasa” takut itu, sangat terkait dengan konteks hidup keseharian. Sebagaimana “rasa” bahagia, juga datang saat kita menjalani hidup keseharian. Hikmah-hikmah akan datang saat kita menjalani hidup keseharian.

Jika kita “jarang” mendapatkan “rasa” atau gegaran ketakutan atau kegembiraan berTuhan……. Seorang arif menjelaskan bahwa salah satu cara untuk mendapatkan “rasa” itu adalah dengan mentafakuri hidup keseharian yang sedang kita jalani, -sambil ingat Allah- lalu mensyukuri hirup nafas, mensyukuri setiap suapan makanan, sampai kemudian terasa bahwa kita bahagia atas anugerah-Nya.

Mengucap Alhamdulillah di mulut saja, tanpa rasa bahagia dan kebersyukuran di dalam hati kita, adalah seumpama “menerima tapi tidak menyukai”. Begitu kata beliau.

Jadi “dapat”nya lebih sering lewat kehidupan keseharian.

Mengutip kekata Rumi, adakah ketakutan yang tidak melahirkan harapan?

Ketakutan itu satu hal, yang melalui ketakutan itulah harapan harusnya muncul. Maka ketakutan tetapi tidak menghadirkan harapan; adalah keliru. betul sekali sebuah ungkapan bahwa yang paling jelek adalah prasangka buruk kepada Tuhan. Prasangka buruk ini ternyata baru saya mengerti, bahwa hilang harapan pada Tuhan juga termasuk prasangka buruk.

Ada sebuah kisah dalam Fihi Ma Fihi, dimana Rumi mengoreksi seorang shalih yang mengatakan Tuhan tak butuh makhluknya, tapi konteks perasaan saat mengatakan hal itu ; kurang pas.

Memang Tuhan tak butuh apapun, tetapi ketidak butuhan Tuhan terhadap apapun jangan diterjemahkan sebagai ora perduli.

Ibaratnya adalah seorang tukang kayu bakar (atau pengepul api, saya lupa persisnya), tukang kayu ini disalami oleh seorang Raja. Adalah keliru, jika tukang kayu itu berkespresi dengan mengatakan “Raja menyalamiku tanpa melihatku dan dia pergi berlalu begitu saja tanpa melihatku sama sekali hingga dia hilang dari pandanganku.”

Akan tetapi, katakanlah bahwa “aku disalami oleh sang raja, dia melihatku, dan dia tetap melihatku sambil dia berjalan, hingga dia hilang dari pandanganku.”

Kemuliaan raja tidak hilang, baik melihat atau tidak melihat tukang kayu itu.

Tetapi sebenarnya sang raja selalu melihat dan memerhatikan.

Dan kebutuhan dalam hidup kita adalah karena DIA membuatnya begitu, dan DIA ingin dipandang begitu (sebagai yang melepaskan kesulitan dari malhlukNya).

Itulah metafora dari Rumi.

Dari metafora itu saya kembali tersadar bahwa kita hidup dalam “pintu depan”. Hubungan manusia dan Tuhan yang dibangun oleh prasangka, maka milikilah prasangka yang baik kepadaNya. Jangan putus dari prasangka baik.

Itulah inti dari kitab Al Hikam, sampai-sampai jika pendosa atau orang yang ibadahnya kendur, kalau turun semangat menujuNya berarti selama ini bukan berharap pada Tuhan, kata Ibnu Athaillah. Melainkan berharap pada amal. Adabnya belum baik.

Itulah pula pesan Rumi dalam Fihi Ma Fihi. Dan dalam puisinya. Jika yang kita miliki hanyalah prasangka, maka milikilah prasangka yang baik pada Tuhan, begitulah caranya. Kata Rumi.

Misalnya lagi, lewat memahami asmaul husna, dan mengenai ini banyak ditulis Ibnu Qayyim.

Semuanya adalah mengajari kita membaikkan prasangka. Karena DIA berkata bahwa “Aku sebagaimana prasangka hambaKu kepadaKu.”

Kita hidup dalam sebuah dunia yang tak mungkin kita menyentuhNya. “sampaimu kepada Allah, adalah sampaimu kepada pengetahuan tentangNya, karena mustahil DIA disentuh atau menyentuh sesuatu” kata Ibnu Athaillah.

Karena tak mungkin kita menyentuhNya, tak mungkin mengerti DIA, maka sebenarnya kita hidup dalam “prasangka”. Tetapi milikilah prasangka yang baik akan-Nya.

Itulah mengapa Rasulullah SAW kembali mengajarkan bismillahirrahmanirrahim pada para kafir Makkah, orang-orang yang keliru prasangkanya akan Tuhannya.

Inilah jalan pintu depan. Hidup dalam prasangka yang baik akan DIA.

Akan tetapi ada orang-orang yang memahami lebih tinggi lagi. Bahwa bagaimanapun prasangka kita tentangNya tentulah tidak menggapai DIA yang sebenar-benarnya. Maka mereka menafikan apa yang terpandang dan mencukupkan diri dengan mengingatNya, tanpa menafsirkan macam-macam akan af’alNya. Karena alam sudah tak memberi bekas apa-apa pada mereka. Ini adalah approach di atasnya lagi. Pintu belakang.

Monggo menggunakan approach yang manapun saja. Tetapi memang saya pribadi mengakui bahwa approach pertama adalah lebih mudah untuk kita para awam. Dan lebih mendatangkan “Hal” alias situasi ruhani. Karena mendekati Tuhan dengan dihantar oleh rasa takut dan harap dalam hidup keseharian.

Mari membaikkan sangka akanNya, di senin pagi ini.

-debuterbang-


*) Gambar ilustrasi dijepret dari belakang abang GrabBike, di suatu senin pagi yang riweuh