DIANUGERAHI KEBETULAN-KEBETULAN


Tugas kantor baru selesai malam ini, sebelum menutup laptop tiba-tiba saya teringat dengan seorang rekan yang atas sarannya lah saya berpindah dari kerja sebagai engineer di lapangan migas, menjadi koordinator di kantor.

Perpindahan kerja dari lapangan menuju kantor kala itu memang penuh pertimbangan. Lebih-lebih bagi orang yang kebanyakan mikir seperti saya. Maka saran dari seorang rekan yang objektif bagi saya sangat membantu dalam menentukan langkah.

Sebenarnya saya tak kenal dekat dengan dia. Hanya kala itu menjadi rekan satu tim dalam sebuah tugas pengeboran di lapangan migas lepas pantai. Dia orang Amrik. Seorang family-man yang membuat saya kagum karena jiwa sosialnya yang tinggi.

“Take it man…. i know you will be suit for that job” katanya mendorong saya mengambil tawaran untuk menjadi koordinator di kantor. Saya yang sudah terbiasa dengan kehidupan ala engineer lapangan akhirnya memberanikan diri mengambil langkah yang besar, setidaknya besar untuk ukuran saya yang suka dengan kemapanan.

Maka kalau direnung-renung kembali, betapa unik. Orang yang entah berantah dari negri mana, bertemu dengan saya di anjungan migas, kemudian memberi dorongan untuk saya melangkah, yang kemudian keputusan saya untuk melangkah itu merubah begitu banyak cerita dalam hidup saya.

Bekerja di kantor. Berjibaku dalam macet jakarta. Belajar bersosialisasi dengan orang-orang. Belajar akrab pada dunia meeting. Dan melihat dunia dari sisi yang sama sekali lain dari yang dulu saya tengok dalam pandangan solilokuy seorang engineer yang akrab pada desing suara pengeboran, aroma laut lepas, kibas-kibas baling-baling helikopter, dan temaram rembulan yang memantul pada ombak laut malam hari.

Adakah itu kebetulan?

Atau dalam pertanyaan yang lebih besar lagi, apakah ada yang tidak “diatur” dalam hidup ini?

Lewat kepahaman akan “diatur”nya hidup inilah, para arif menyesapi kedekatan dengan Tuhan.

Jika para arif sudah tune-in dan haqqul yaqin dengan keteraturan. Maka orang awam macam saya, harus bolak-balik menikmati memori kebetulan-kebetulan itu, untuk menyusunkan syukur bahwa benarlah hidup ini penuh dengan keteraturan.

Seorang bule yang dipertemukan sesaat dan andil besar dalam mendorong saya untuk mengambil langkah berani.

Atau pertemuan sepintas saya dan seorang aktivis di Pogung Kidul, tempat saya menumpang menginap sewaktu lepas SMA saya hendak mengikuti ujian SPMB penerimaan mahasiswa baru dulu, dari bertemu selintas dengan dialah saya kemudian memutuskan mengambil kuliah geologi.

Kenapa kamu mau kuliah geologi?? karena mas yang tempat numpang ngontrak dulu orangnya baeek, jadi saya mau kuliah di tempat orang baek. sungguh alasan yang tidak teknikal.

Atau pertemuan selintas saya dengan seorang direktur BUMN migas besar, di kampus kami, yang ndilalah memberikan izin saya untuk numpang mengerjakan skripsi di perusahaan dimana dia bekerja.

Juga segala lika-liku hidup. kebingungan-kebingungan menapaki roller coaster kehidupan, yang memaksa saya setiap hari mencoba mengunyah renyahnya kajian Hikam dari Drs. Imron Djamil, kiai tambak beras jombang. ratusan ceramah saya dengarkan dengan khusyuk setiap hari satu demi satu, dalam bahasa jawa yang tak begitu saya mengerti.

Pelan-pelan merubah saya dari yang dulunya begitu fikih minded dan kaku, menjadi melunak pada kajian spiritual.

Dulu segala wacana spiritualitas islam serasa begitu abstrak.

sempat saya mengecewai diri sendiri, kenapa kok saya tak mengerti-mengerti?

Tak lama kemudian gelombang hidup mengantarkan pengertian itu satu demi satu. Yang dulunya abstrak, tetiba terasa begitu terang benderang.

Dari satu guru, ke guru yang lain. yang mayoritas tak pernah benar-benar bertatap muka.

Sempat saya “mencemburui” para sahabat yang berkesempatan ndeprok dan belajar tekun pada siapapun orang-orang arif, sumur hikmah. Sedangkan saya tak berkesempatan begitu.

Tetapi ternyata ilmu mendatangi tak hanya lewat pintu kajian. Dia juga datang lewat kehidupan yang penuh pernak-pernik. Bersyukurlah pula saya bahwa dalam keterbatasan, ternyata tak seberapa tertinggal dengan rekan-rekan yang begitu getol mencari. Biar di belakang, asal tetap berjalan.

Dan begitulah pula pesanan seorang arif, agar tetap beramal, sembari ridho pada maqom yang dianugerahkan pada kita saat ini. H. Hussien Abd Latiff mengutip Syaikh Abdul Qadir Jailani mengatakan “berpuas dirilah atas apa yang ada padamu, hingga Allah sendiri meninggikan taraf kamu”

Sebelum tidur ini malam, ingin rasanya saya menuliskan kebetulan-kebetulan itu.

MEMELUK SUKA DAN DUKA


Saya baru tahu bahwa istilah “Suka” dan “Duka” itu ternyata sangat dekat dengan istilah Buddhism, yaitu “Sukkha” dan “Dukkha”.

Saya dengar ini dari acara The Deen Show, wawancara dengan Syaikh Hussain Ye seorang Cina Muslim yang tadinya mantan penganut Buddha.

-Menurut beliau-, besar kemungkinan Buddha adalah seorang Nabi yang mengajarkan tauhid monotheistic.

-aslinya-Buddhisme kononnya begitu dekat dengan islam. Wallahu’alam.

Yang menarik adalah mengenai Sukkha dan Dukkha ini ternyata dekat dengan istilah Basyiran wa Nadzhiran. Kabar gembira dan peringatan.

Para Nabi dan Rasul diutus untuk memberi kabar gembira (Basyiran) dan peringatan (Nadzhiran).

::

Pagi ini saya berdo’a kepada Allah SWT agar diberikan kemudahan dalam menyelesaikan sebuah tugas kantor.

Saya teringat bahwa sangat sering saya mentok dalam melaksanakan sebuah tugas, tetapi setelah berdo’a maka kemudahan itu acapkali datang lewat arah yang tak ditebak.

Kalau dulu saya memaknai pengabulan do’a sebagai jawaban / pemberian Tuhan atas permintaan saya. Kini setelah mempelajari spiritualitas islam saya menjadi paham bahwa karena Tuhan ingin memberi maka digerakkan hambaNya untuk berdo’a.

Do’a adalah pemberian yang didahulukan.

Jika pemberian sudah mendahului permintaan, maka kita paham bahwa permintaan yang tercetus di mulut kita sejatinya hanya ekspresi saja. Ekspresi pengagungan atau persandaran padaNya.

Kalau do’a di mulut sejatinya hanya ekspresi saja dari apa yang ada (diletakkan) di dalam batin, maka secara jujur kita tak bisa untuk tak berdo’a.

Mulut bisa saja diam. Tetapi hati selalu jujur. Kalau dicekam takut maka hati berharap pada Tuhan. Kalau diguyur gembira maka hati bersyukur pada Tuhan. Di dalam hati ada bentuk-bentuk pengagungan pada Tuhan semacam itu. Meski mulut diam. Itupun do’a juga namanya.

Tetapi bentukan rasa di hati. Ini bisa mendewasa seiring perjalanan hidup. Dari yang tadinya melihat suka duka hidup. Bergerak menuju janji kegembiraan (basyiran) dan menjauh dari ancaman (nadzhiran). Menjadi memahami bahwa basyiran nadzhiran semata cerita dari pemiliknya.

Orang-orang yang mengalami realita kedekatan pada pemilikNya, dia menjadi sibuk dengan kedekatan itu, melampaui rasa takutnya terhadap ancaman dan melampaui kegembiraan atas berita yang baik. Sampai tahapan ini dia nrimo. Ga peduli.

Tetapi tak pedulinya mereka itu bukan karena sombong. Melainkan karena saking dekatnya dengan Pemilik dunia, maka cerita dalam dunia menjadi tawar bagi mereka.

Kalau kita masih meniti penghambaan dengan dipagari basyiran wa nadzhiran. Mereka menghamba ya karena memang cinta pada Tuhan.

Tetapi kadangkala kelirunya sebagian kalangan adalah mereka mengabaikan berita ancaman dan janji kegembiraan ini bukan karena sangat dekat pada Sang Pemilik. Melainkan karena sombong.

Dalam satu riwayat kalau tak salah ingat, orang yang enggan berdoa disebut orang sombong.

Karena melawan kata hati. Hatinya berharap pertolongan Tuhan, tetapi lisannya sombong dalam menzahirkan kata hati itu menjadi permohonan.

Anda boleh tak berdo’a, hanya jika di dalam hati dipenuhi keridhoan dan pengertian akan kesempurnaan takdir Tuhan. Jika rasa tentram itu yang memenuhi hati, maka sikap secara fisik tentu bukan mendayu-dayu minta tolong. Melainkan penerimaan yang lapang. “Rodhitu Billahi Rabba”.

Jadi, orang arif itu adalah mereka yang MENINGGALKAN. Bukan DITINGGALKAN.

Seumpama orang zuhud bukanlah yang tak punya dunia (ditinggal dunia) melainkan mereka yang memiliki harta tetapi melepasnya (meninggalkan).

Sama juga dengan pluralitas. Bukan orang-orang yang sombong dan menafikan tata aturan agama lalu menjadi pluralis karena analisa logika.

Melainkan yang memandang keragaman sebagai sama-sama makhluk Tuhan yaitu yang arif dan sepenuh-penuh menghamba pada Tuhan sehingga penuh dengan welas asih.

Dan begitu juga dengan yang lepas dari dualitas. Bukanlah yang mengejek dan mengabaikan janji dan ancaman Tuhan. Melainkan yang menghayati janji dan ancaman. Hingga kedekatan mereka pada Sang Pemilik lebih menyibukkan diri mereka melampaui janji dan ancaman itu.

©debuterbang


Ilustration image is taken from this source

TANGGA BIASA, HUKAMA, DAN MUQARRABIN

 

stairsOrang mukmin biasa, kata Buya Hamka, mengenal Allah karena memang begitulah ajaran yang diterima mereka. Jadi kebanyakan orang mengenal Allah; karena memang begitulah ilmu yang mereka dapati mengenai Allah, sejak dari mereka lahir.

Di atas itu, ada hukama atau ahli hikmah. Yaitu sederhananya adalah orang-orang yang selalu mentafakuri kehidupan, dan mengenal Allah lewat analisa akal dan manthiq atau logika.

Diatasnya lagi, adalah golongan muqarrabin. Yang sampai pada tahap “merasakan” kedekatan dengan Allah.

Golongan muqarrabin inilah orang-orang dengan derajat pengenalan yang paling tinggi.[1]

Di dalam Al-Qur’an ada banyak sekali ayat dengan perintah untuk berfikir atau merenung. Orang-orang yang berfikir tentang penciptaan langit dan bumi, kemudian pada ujung renungannya mereka mensucikan Tuhan.

Orang-orang yang merenungi tentang kehidupan ini, inilah ahli hikmah. Dengan renungan dan analisa logika mereka mendapatkan bukti kekuasaan Tuhan.[2] ini adalah sebuah kebaikan.

Akan tetapi, setelah bertemu dengan seorang arif[3], barulah membuat saya paham bahwa di atas “tahu” ada kenikmatan “merasakan”. Hal ini adalah gambaran tangga-tangga pengenalan.

Di atas para ahli hikmah yang piawai mengumpulkan bukti tentang kekuasaan Tuhan, adalagi orang-orang muqarrabin yang merasakan lezatnya kedekatan. Begitu bahasanya Buya Hamka meniru Zun Nun Al Mishri.

Kalau para hukama, mengumpulkan bukti tentang Tuhan lewat analisa manthiq. Maka orang-orang muqarrabin sibuk “merasakan” kehadiran Tuhan, kedekatan pada Tuhan.

Jadi bukan saja setakat mengumpulkan bukti tentang-Nya, tetapi melangkah lebih jauh dengan selalu menyadari / merasakan bahwa semua kejadian adalah af’al-Nya yang begitu dekat dengan kita. Lebih-lebih tak semata af’al-Nya yang dekat dengan kita, melainkan pula dzat-Nya.

Orang mukmin biasa mengenali Allah karena lingkungan membuat mereka begitu. Naik sedikit ke tangga atas, para hukama mengenali Allah karena mentafakuri bukti tentang-Nya. Naik lagi ke atas orang-orang muqarrabin sudah tak lagi membahas bukti, melainkan merasakan “kehadiran-Nya” dalam keseharian.

©debuterbang


[1] Prof. DR. Hamka. 1952. Perkembangan & pemurnian Tasawuf: Dari Masa nabi Muhammad Saw. Hingga Sufi-sufi besar.

[2] “Dan orang yang bersungguh-sungguh dalam ilmu pengetahuan mengembangkannya dengan seluruh tenganya, sambil berkata: ‘Kami percaya, ini semuanya berasal dari hadirat Tuhan kami,’ dan tidak mendapat peringatan seperti itu kecuali ulul-albab.” (QS.3:7)

“Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal (ulul albab), (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Ali-‘Imran: 190-191).

“Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali ulul-albab.” (QS.2:269)

[3] Ust H. Hussien Abd Latiff

*) Ilustration image, taken from this link

PARADOKS DALAM KEMILAU

Kononnya, ada seorang ahli beladiri di Indonesia, dimana dia tidak pernah kalah dalam pertarungan beladiri campuran.

Saya tahu cerita ini karena sewaktu masih tekun belajar beladiri, saya mengikuti blog salah seorang ahli beladiri terkemuka di Indonesia, yang meski jago, tetapi tidak sombong, terlihat dari tulisan-tulisannya.

Sampai suatu ketika kalau saya tak salah ingat dia bercerita bahwa dalam satu turnamen dia kalah oleh seorang lawannya dalam permainan beladiri ground fight alias berantem di bawah dengan gulat dan kunci-kuncian.

Yang menarik bagi saya adalah justru ucapannya sewaktu kalah

Apa itu?

Dia bilang “terimakasih,” kepada lawannya,  “untuk telah mengangkat beban ‘tak terkalahkan’ dari pundak saya.”

Kalimat humble itu luar biasa keren terdengar oleh saya waktu itu. Betapa menjadi seorang yang tak terkalahkan dan selalu perfect itu justru menjadi beban.

Disaat dia –tokoh yang saya ceritakan tadi- kalah, yang dia rasakan justru sebuah beban terlepas dari dirinya.

Itulah dunia, seringkali memunculkan paradoks.

Teringat saya dengan paradoks ini, sewaktu halal bi halal di kantor barusan. Dalam acara sambutan-sambutan, dipanggillah seorang Bapak senior yang sangat mumpuni dalam membangun jaringan dan relasi. Bapak itu dipanggil manajer kantor sebagai bentuk apresiasi karena prestasinya, tender-tender besar dimenangkan karena keahliannya melobi.

Majulah beliau dengan diiringi gemuruh applause dari kami.

Yang menarik apa? Yang menarik bagi saya justru gesture, dan gerak tubuh beliau. Yang menyiratkan sebuah kebersahajaan yang sangat biasa. Tidak ada petantang petenteng. Tidak ada sikap berlebih. Begitu natural dan berkelas. Begitu humble.

Memang orang-orang mengenal beliau sebagai pribadi humble yang konsisten berkebaikan.

Dulu, yang saya kira prestasi itu adalah berdiri di puncak kerumunan. Di tengah-tengah elu-elu masa.

Tetapi baru saya paham bahwa hal yang lebih utama dari berkilau dan menjadi pusat pesona, adalah konsistensi berkebaikan.

Sebagaimana kisah seorang ahli beladiri yang tak terkalahkan, justru menemukan kelapangan setelah beban tak terkalahkan itu lepas dari pundaknya. Maka dia bisa berkontribusi dengan lebih relax.

Dalam spiritualitas islam, ada sebuah adagium bahwa istiqomah (konsistensi) lebih berharga dari seribu karomah (kemuliaan). Dalam sebuah hadits pula, Rasulullah SAW mengatakan bahwa beramal sedikit tetapi konsisten, adalah lebih dicintai Allah SWT [1]

Ternyata yang paling penting adalah perjalanan-nya itu. Hampir keseluruhan orang-orang salih menjadi berkilau ; karena dalam kekalahannya; mereka mengambil hikmah dan pelajaran.

Adam a.s pernah salah. Musa a.s pernah salah. Yunus a.s pernah salah. Tetapi yang paling penting dari salah; adalah justru karena salah maka kita menemukan konteks untuk konsisten berjalan menuju ke arah yang lebih baik.

Tahu-tahu, kita sudah naik kelas.

Tahu-tahu, kalau melihat ke belakang, kita sudah berjalan jauh. Kita yang sekarang, sudah beda dengan kita yang dulu.

Bahasanya syaikh Abdul Qadir Jailani dalam Futuhul Ghaib, berpuas hatilah dengan apa yang ada padamu, sampai Allah sendiri meninggikan taraf kamu.

Berpuas hati itu maksudnya adalah konsistensi berkebaikan dalam maqom kita masing-masing, tidak berharap menjadi menara gading di tengah gemuruh puja puji, nanti lama-lama akan “naik” sendiri.

©debuterbang


References:

[1] “Wahai sekalian manusia, beramalah menurut yang kalian sanggupi, sesungguhnya Allah tidak akan bosan sehingga kalian merasa bosan, sesungguhnya amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dikerjakan secara kontinyu walaupun sedikit.” (HR. Bukhari: 5413)

*) Image sources

 

AGAR TAK TERSESAT DI BELANTARA LOGIKA

Kakek saya, saat wafatnya beliau meninggalkan sebuah buku yaitu “tanya jawab agama oleh A. Hassan” tokoh islam yang sangat terkenal dan hidup semasa dengan Soekarno. Pada A. Hassan inilah Soekarno sering korespondensi bertukar fikiran, kumpulan tukar pendapat itu dalam “Surat-surat dari Endeh” dibukukan.

Buku A. Hassan, tanya jawab beliau yang sekira empat jilid kalau saya tak khilaf, menemani saya sejak SMP. Dari situ saya mengenal istilah-istilah fikih, karena gaya menulis beliau luar biasa enak dibaca. Orang bodoh macam saya pun jadi bisa mengikuti alur penjelasan seorang alim macam beliau.

Pendekatan A. Hassan ini, belakangan saya tahu agak mirip dengan pendekatan ormas besar Muhammadiyah. Yaitu gerakan pemurnian islam.

Kala itu, saya belum lagi paham dengan kepingan satu lagi dari gerakan besar di Indonesia, yaitu gerakan dakwah kultural ala NU.

Yang berkesan sekali bagi saya, dalam buku itu tak saya temukan caci mencaci. Hujjah-hujjah dipaparkan dengan sangat indah. Dengan bahasa melayu yang cantik. Memanggil kawan diskusi dengan “tuanku”. Mengakui kebenaran dari lisan lawan di seberang dan mengoreksi pendapatnya dengan santun.

Dulu saya mengira hal ini karena efek dari bahasa melayu yang kental. Ternyata ke belakang ini baru saya temukan fakta bahwa ini karena memang adab mereka yang tinggi. Tak ada kena mengena dengan bahasa.

Saya teringat dulu berbekal satu jilid tebal kajian A. Hassan, saya mau mendebat imam Masjid saya. Berlagak betul saya waktu itu.

Yang salah bukan kajian, bukan bahasa, tetapi kurangnya adab.

Setelah dewasa, saya baru temukan bahwa yang dulu hendak saya debati, ternyata pun berdalil dan memandang islam dari sisi yang sebelahnya lagi. Approach kultural.

Belakangan saya temukan pada buku Buya Hamka, ulama besar kita yang satu lagi, beliau menukil kekata A. Hassan, dengan membuat catatan kaki bahwa A. Hassan mengoreksi Buya itu sendiri. Bayangkan itu.

Jaman sekarang, melihat lini masa facebook malah membuat hati ikut-ikutan panas sendiri. Orang-orang saling mencela. Ustadz diadu dengan ustadz. Jarang kita lihat hujjah bertemu hujjah dalam bahasa yang cantik dan berima. Dalam kata-kata yang dipilih untuk tidak menyerang personnal atau ad hominem.

Saya kembali teringat dengan bahasan perlukah bermazhab? Pada akhirnya tak setiap orang harus menjadi ulama. Ikutilah ulama dengan metoda atau sistem yang kita pahami, lalu yang perbedaan orang lain dalam masalah cabang, biarkanlah jadi urusan para ahli.

Sejak abad pertama, munculnya ahli fikih ternama yaitu Imam Hanafi, disusul Imam Malik pada akhir abad ke 1 H. Lalu Imam Syafii dan Hambali. Metoda fikih sudah tersusun dengan baik. Orang-orang berbeda dalam hal-hal yang cabang, tetapi saling menghormati.

Karena mustahil menyatukan semua pendapat. Sedangkan di dalam keluarga saja, adik beradik dari satu orang tua bisa berbeda pandangan. Lahir dari rahim yang sama, dibesarkan dari asuhan yang sama. Bisa beda. Apalagi bicara manusia zaman ke zaman.

Sejak Rasulullah wafat, perbedaan sudah tergelar, mulai dari politik suksesi pemerintahan. Berimbas pada masalah hadits mana yang sahih, berimbas pada masalah fikih yang merupakan turunan dari hadits-hadits itu. Ada yang literal ada yang takwil. Dan semua kukuh dengan pendirian masing-masing.

Didalam keragaman ini, yang penting pada akhirnya adalah menyadari bahwa keragaman tercipta untuk menceritakan DIA yang tunggal.

Hujjah-hujjah kita ambil, agar kita menjadi tahu ; dalam kancah dunia ini, kita harus bermain dalam corak yang mana. Agar tak seperti rumput kering. Angin ke barat ikut ke barat. Angin ke timur ikut ke timur.

Maka harus ada posisi. Tidak bercorak sama sekali, mustahil. Maka beranilah bercorak, dengan dasar hujjah yang kita pahami dan pelajari dari para ahlinya, lalu “bermain”lah dalam kancah dunia dengan corak itu.

Bermain itu, maksudnya adalah kontribusi pada kehidupan. Khoirunnas anfauhum linnas. Tapi jangan hakimi orang lain, dan jangan pula merasa bahwa kita bisa menjadikan dunia ini satu ragam saja warnanya.

Dalam Al Munqidz Min Ad Dhalal. Imam Ghazali menceritakan kegamangan beliau, karena menyadari bahwa selama ini hanya berpegang pada hujjah-hujjah saja. ilmul yaqin semata-mata. Beliau belum lagi sampai pada keyakinan yang lebih teguh.

Fithrahnya ilmul yaqin, keyakinan yang disupport data-data premis-premis, yaitu saat datang penjelasan lain yang lebih pas, ganti pula kita pendapat. Datang lagi yang lebih fasih, ganti lagi kita. Karena itulah fithrahnya ilmul yaqin. Keyakinan disupport ilmu.

Diatasnya ilmul yaqin, adalagi ainul yaqin dan haqqul yaqin.

Untuk menyeberang dari ilmul yaqin, yang sebatas mengoleksi khasanah belantara premis-premis ini, menjadi keyakinan yang kukuh. Itulah harus kita masuk dunia “dalam”.

Kalau ilmu itu, kita baru memraktekkan “iqro” saja.

Kalau mau merentas pada haqqul yaqin itu mesti ada sikap “bi ismi Rabbika”. Mengaitkan keseluruhan kembara keilmuan kita pada konteks “DIA sedang bercerita tentang diriNya”.

Tanpa itu, kita habis usia, dan hanya sibuk dalam belantara logika.


gambar ilustrasi saya pinjam dari sini

 

MENIRU YANG TAK KELIHATAN

Unggulnya Abu Bakar r.a atas para sahabat lainnya dalam amal beliau, adalah karena apa yang tertanam di hatinya.

Abu Bakar Ibn Ayyas berkata, “Abu bakar mengungguli kalian bukan dengan banyaknya ia puasa atau shalat, tetapi dengan sesuatu yang tertanam kokoh dalam hatinya.”[1]

Tetapi memang terlepas dari apa yang tertanam di hatinya, buah dari yang tertanam itu kemudian tumbuh menjadi amal yang mengagumkan di tataran fisik.

Umar bin Khattab, sampai mengatakan bahwa beliau tak akan pernah bisa menyusul pencapaian Abu Bakar. Umar bersedekah setengah hartanya. Abu Bakar bersedekah sampai habis semuanya tak ada sisa. Memang tidak terkejar.[2]

Karena alur dari amal Abu Bakar adalah sesuatu yang tertanam dalam hati, berbuah menjadi amal. Seperti yang sering diungkapkan para arif, ahwal (kondisi spiritual di dalam hati) melahirkan amal. Maka Abu Bakar sudah menang sejak dari hatinya.

Inilah kelemahan kita, mungkin tepatnya kelemahan saya pribadi. Bahwa kita seringkali meniru apa yang ada di dalam tataran lahiriah, tetapi lupa meniru apa yang tak tampak. Yaitu yang ada di dalam hatinya.

Meniru yang ada pada tataran lahiriah saja, seringkali harus komprehensif.

Ada orang mengencingi masjid, misalnya. Bisa dimaknai secara lahiriah sebagai bentuk penghinaan atas rumah ibadah. Tetapi dalam tataran fisikal kita lihat contoh bahwa Rasulullah SAW pernah menyuruh sahabat membersihkan kencing seorang badui di masjid. Begitu saja, tak ada kemarahan.

Memang menilai sesuatu tak bisa secara literal saja.

Sebagaimana Rasulullah SAW juga pernah menerima kecemburuan Sayidatina Aisyah, yang bahkan mengatakan “engkau hanya mengaku-aku Nabi”. Jika dimaknai secara literal suami biasa sangat pasti akan marah. Tetapi Rasulullah SAW mengetahui bahwa itu ucapan yang keluar dari kecemburuan.

Pengetahuan yang ada di “dalam”-nya Rasulullah SAW, membuahkan amaliyah berupa kesabaran yang luar biasa. Sebagaimana pengetahuan yang ada di “dalam”-nya Abu Bakar, membuahkan amaliyah mempesona yang sulit ditandingi bahkan oleh sahabat selevel Umar Bin Khattab.

Salah satu pengetahuan “dalam” itu, adalah kesadaran bahwa kehidupan ini adalah untuk DIA menceritakan diri-Nya sendiri.

Ini yang saya seringkali masih harus berulang-ulang kembali memahami. Saat ini sudah tertanam dalam hati, maka amaliyah di luar / tataran fisik akan menjelma secara cantik juga.

Kita sering meniru yang nampak mata, tetapi jarang meniru yang tak kelihatan.


[1] (Mifah Dar As-Sa’adah, Ibnul Qayyim Al-Jauziyah – 1/82)

[2] Telah menceritakan kepada kami [Harun bin Abdullah Al Bazzaz Al baghdadi] telah menceritakan kepada kami [Al Fadhl bin Dukain] telah menceritakan kepada kami [Hisyam bin Sa’d] dari [Zaid bin Aslam] dari [ayahnya] dia berkata; saya mendengar [Umar bin Khattab] berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kepada kami untuk bersedekah, bertepatan dengan itu, aku mempunyai harta, aku berkata (dalam hati); “pada hari ini, aku lebih unggul dari pada Abu Bakar, jika aku lebih dulu, Umar berkata; lalu aku datang dengan setengah dari hartaku.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apa yang kamu sisakan buat keluargamu?”, jawabku; “Sepertinya itu.” Lalu Abu Bakar datang dengan membawa seluruh yang ia punyai. beliau bertanya: “Apa yang kamu sisakan buat keluargamu?” Dia menjawab; “Aku sisakan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.” Maka aku berkata; “Demi Allah. aku tidak pernah bisa mengunggulinya terhadap sesuatupun selamanya.” Perawi (Abu Isa) berkata; “Hadits ini derajatnya adalah hasan shahih.” (HR. Tirmidzi: 3608 )

 

ORANG “KECIL” MELAKUKAN PEKERJAAN “BESAR” (3)

 

giant leapSepulang istri saya dari RS berapa waktu lalu, pak Vivo (bukan nama sebenarnya) langsung bersama istrinya datang ke rumah. Secepat ninja. Hehehe.

Hanya berapa menit selepas saya bertemu beliau di pengkolan jalan dekat rumah, bersalaman maaf lahir batin, dan kemudian beliau tahu bahwa kami baru pulang dari RS. Maka sejurus kemudian beliau dan istrinya sudah jenguk ke rumah dengan bingkisan. Begitu cepat.

Sepulang mereka berdua dari rumah saya, saya tertegun. Setidaknya ada beberapa point. Point pertama mereka lebih tua dari kami, seharusnya kami yang sowan ke rumah beliau untuk maafan idul fitri. Dan yang kedua niat mereka membesuk istri saya, sama sekali tidak ditunda-tunda. Tingkat perhatian sosial yang sulit saya tandingi.

Saya jadi teringat kisah seorang shalih yang sewaktu sedang mandi tiba-tiba kepikiran untuk menyedekahkan salah satu hartanya. Saya lupa apa itu baju atau apaaa gitu. Lalu dari kamar mandi beliau teriak memanggil asisten beliau dan dawuh untuk segera menyedekahkan harta yang beliau kepikiran untuk disedekahkan itu.

Kenapa seketika itu juga? Karena beliau tidak mau menunda insight kebaikan. Jangan sampai insight itu meredup karena saat dia muncul selalu kita tunda-tunda.

Mengingati hal ini, saya jadi trenyuh dan berfikir betapa banyak insight kebaikan yang saya sendiri sering tunda-tunda. Sebutlah misalnya kelahiran anaknya mas Isdat, tetangga komplek yang sampai sekarang lupa saya jenguk. Dan sekarang tidak kontekstual lagi karena anaknya sudah gede. Saya dimakan kesibukan pekerjaan pergi pagi pulang malam.

Misalnya lagi sudah tiga kali lebih saya berpapasan dengan sebuah panti asuhan di pinggiran jalan cipayung, kebetulan sudah mendesak-desak insight kebaikan untuk menyedekahkan baju-baju tak terpakai. Karena dalam seminggu hanya ada tujuh hari, jika sehari hanya pakai satu baju, maka tujuh baju sudah mencukupi. Sisanya tak pernah terpakai. Ini harus disedekahkan. Tetapi insight itu saya tunda-tunda melulu sampai sekarang baru teringat lagi.

Mendesak-desak keinginan di hati untuk berbuat bagi sekeliling. Sesuatu yang sudah sering sekali kita dengar. Sebagian ulama menyebutkan istilah ini dengan kesalehan sosial. Kesalehan pribadi, tidak genap kepingannya tanpa menjelma kesalehan sosial.

Kesalehan sosial ini dalam bahasanya hadits adalah khoirunnas anfauhum linnas. Atau dalam bahasa yang lain ini adalah hablum minannas, kepingan yang lain dari hablum minallah.

Para arif memahami kesalehan sosial ini dengan lebih dalam. Jika kehidupan ini adalah DIA menceritakan diriNya sendiri. Maka berbaik-baik pada ciptaan-Nya sejatinya pula adalah berbaik pada yang menciptakannya.

PR pribadi yang terbesar bagi saya, dalam hablum minannas adalah fakta bahwa dalam perhubungan sosial saya adalah orang yang tak seberapa cakap. Maka melihati fakta ini, saya semakin-makin menyadari ungkapan para arif yang mengatakan bahwa memang syurga tak bisa dibeli dengan amal. Melainkan dengan rahmat Allah semata-mata.

Misalnya, masuk syurga itu diibaratkan masuk perguruan tinggi negeri yang ada pass-in grade, maka kalau main itung-itungan amal dan konteks kebaikan bagi sekeliling; dibanding pak Vivo tetangga sebelah komplek saja saya langsung terbanting berdebam. Orang-orang dengan kebaikan sosial setulus mereka itu melaju di garis depan. Selesai sudah….. apalah harapan untuk masuk syurga?

Itu kalau mau main analisa syurga.

Kalau analisa sufistik lebih-lebih lagi. Orang-orang arif sudah memandang melintasi kesukuan ras dan sekat-sekat sosial lainnya, bagi mereka sesama manusia dan ciptaan lain adalah sama-sama makhluk Tuhan, maka kebaikan mereka melintasi batasan-batasan para awam. Mereka berbuat baik pada makhluk, dengan mentalitas sebenarnya mereka hendak mengakrabi sang Pemilik Makhluk. Ini lebih tinggi dan lebih keteteran lagi saya mengejarnya.

Maka benarlah, jika tak mampu bersaing dengan para shalihin dalam amalnya, cukuplah bersaing dengan para pendosa dalam istighfarnya, kata Imam Ibnu Rajab.

Dan seorang arif mengatakan, yang maknanya kurang lebih adalah lakukan saja yang terbaik yang kita bisa, meski hal itu tidak “besar”, tetapi jika benar dalam pemaknannya, maka seorang “biasa”, bisa melakukan tugas luar biasa bernilai di sisi Allah, meskipun dirinya sendiri tak mengetahuinya.

Dalam kepahaman seperti inilah saya baru mengerti dan membenarkan kekata para arif, bahwa kita sampai kepada DIA, karena DIA sendiri. Bukan karena amal kita.


*) Image Sources

BERBAIK SANGKA ATAS TAKDIR

Wali kelas kami masa SMA kelas tiga dulu, marah besar. Dia memukul meja dengan menggebrak, lalu matanya melotot sekaligus memarahi kami sekelas. Kami begitu kaget waktu itu. Dimarahi oleh seorang guru baik hati yang tak pernah marah, menimbulkan sensasi kaget yang tersendiri.

Akhirnya kami tahu mengapa beliau marah, ternyata salah paham. Seorang guru wanita mengira kami mengunci pintu dari dalam, sehingga sewaktu jam pelajaran beliau, beliau tak bisa masuk kelas. Sang Ibu Guru kembali ke ruang guru dengan menyeka air matanya, salah paham. Dan pak Guru wali kelas kami pun ke atas dengan muka merah padam. ibu guru yang sudah tua itu memang begitu dihormati oleh beliau.

Padahal kami tak bermaksud mengunci pintu. Memang kami menutup pintunya, tetapi pintu itu memang susah dibuka dari luar jika tertutup.

Syukurlah, salah paham reda. Kami menjelaskan. Dan kami meminta maaf pada Ibu guru dan wali kelas kami itu.

Tetapi ingatan kami akan kebaikan hati sang wali kelas tidaklah tercoreng dengan insiden marah itu. Marahnya beliau, justru mengokohkan kebaikan hatinya.

Ada orang yang marah; tetapi kebaikan hatinya malah terlihat semakin kokoh. Takdir memang kadang-kadang unik.

Mengingat bapak wali kelas itu, saya teringat satu fragmen lagi saat situasi di sekolah memanas. Anak-anak kelas tiga hendak menggerakkan massa untuk demo. Menggugat bayaran sekolah yang dinilai terlampau tinggi dan pos biaya untuk kegiatan siswa terlalu minim. Sampai pula berita rencana demo itu ke beliau, sang wali kelas kami.

Dalam suatu kesempatan usai mengajar, beliau bertanya pada kami. Alasan apa sehingga kami hendak berdemo?

Kami menjelaskan. Beliau mendengar dengan seksama. Tanpa membantah.

Lalu yang paling luar biasa adalah beliau memberi saran, saran bagaimana agar demo berjalan lancar yaitu dengan menyusun secara runut dan baik apa yang kami tuntut, dan menyusun secara runut dan baik apa solusi dari kami. Menuntut tanpa solusi tidaklah bijak. Maka agar tidak terkesan kami hanya teriak-teriak, tanpa tahu apa yang sebenarnya kami tuntut maka menyusun dengan rapih tuntutan kami seperti apa, itu yang pokok, kata beliau.

Tetapi yang paling keren buat saya adalah pamungkasnya. Di ujung nasihat itu beliau berkata, seandainya nanti kalian jadi unjuk rasa, dan pertemuan antara kalian dan dewan guru diadakan, ketahuilah bahwa saya mau tak mau harus berada pada posisi guru, yang dengan itu berarti saya terpaksa berhadapan dengan kalian, meskipun saya wali kelas kalian sendiri.

Moment itu bagi saya benar-benar “wah….. Keren sekali” dan saya bayangkan bagaimana kalau betul-betul berhadapan?

Tetapi takdir berkata lain. Rekan-rekan saya urung berdemo karena satu dan lain hal. Dan anak kelas 3 yang diasuhnya tak jadi berhadap-hadapan dengan beliau. Itulah takdir tak bisa ditebak. Sedangkan buku novel saja susah ditebak, apa lagi takdir.

Memang betul, kalau direnungkan, seorang arif mengatakan jika kita selalu melihat pada af’al Tuhan, memang seringkali membingungkan. Yang tahu persis alasan dibalik sesuatu terjadi adalah Allah SWT sendiri. Hikmahnya kadang-kadang baru tersingkap lama sekali.

Misalnya, pada puncak prestasi dan kesalihan Iblis yang dari golongan jin, sampai dia menjadi tetua dan masuk dalam golongan para malaikat, lalu dia terjerembab jadi aktor antagonis immortal sampai dunia kiamat. Karena iri dengan kemuliaan yang diberikan pada adam.

Adam a.s. terlempar dari syurga dan hidup di bumi bersama siti hawa, karena makan buah yang terlarang.

Bani Israil dikutuk menjadi kera karena bekerja di hari sabtu, dimana waktu itu kerja di hari sabtu adalah terlarang.

Unik-unik, bukan?

Misalnya lagi, dua orang yang sama-sama shalih, malah berperang di panggung sejarah. Sayidatina Aisyah vs Ali r.a.

Transisi kepemimpinan dari Ali r.a kepada Muawiyah menimbulkan intrik politik paling besar yang sampai sekarang membelah dunia islam menjadi dua kubu, tak sudah-sudah efeknya meski lewat seribuan tahun.

Dan banyak lagi permisalan lainnya, yang kalau direnungkan, kadang-kadang kita suka bingung, ini maksudnya apaaaa ya?

Memang seringnya takdir itu “mbingungi”.

Kita sekarang, bisa mengerti hikmah suatu kejadian karena kejadiannya sudah lewat dan hikmahnya bisa disingkap. Misalnya, kisah Nabi Yakub yang kehilangan anak yang paling dicintainya yaitu Yusuf a.s.

Kita sekarang enak tinggal merapal cerita, nanti Yusuf dipenjara, terus jadi menteri. Tapi Nabi Yakub yang mengalaminya kehilangan anaknya kan luar biasa. Berpuluh tahun menjalani takdir yang menyayat, dengan hikmah dari takdir itu belum tersingkap saat itu lho. Tersingkapnya puluhan tahun kemudian.

Teringat saya, dengan kata hikmah dari Ibnu Athaillah, yang intinya kurang lebih cara baik sangka pada Allah adalah dengan melihat pada kebaikan dan anugerah yang kita miliki. Sehingga kita baik sangka pada Allah.

Pas ada ujian, jangan tengok ujiannya, tapi alihkan perhatian pada sisi anugerah…. Oooh pastilah suatu kejadian berlaku ini karena ada hikmah. [1]

Selalu menengok pada karunia, sehingga kita bisa bertahan dalam gelombang ujian dengan baik sangka pada-Nya. Sesuatu terjadi pasti karena “greater good” kebaikan yang lebih besar. Ini salah satu cara, yaitu metoda pintu depan, dengan berbaik sangka pada sifat-sifat-Nya (af’al / perbuatan-Nya).

Seorang arif [2] mengajarkan satu cara lagi. yaitu tinimbang kita melihat pada af’al-af’al yang bervariasi itu. Dan setiap af’al menimbulkan gejolak bagi diri kita. Maka kita itsbatkan / yakinkan saja pada diri kita bahwa sebenarnya kita ini non existence. Ciptaan tak punya wujud sejati.

Wujud ciptaan, itu bersandar pada dzat-Nya yang wajibul wujud. Dan DIA bercerita tentang diriNya sendiri. Sehingga hilang keakuan diri, menjadilah penonton saja dalam drama kehidupan.

Baru saya “ngeh”, oooh… ini toh maksudnya ungkapan: bahwa ada orang-orang yang sampai sebatas pada af’al-Nya saja, ada yang sampai sebatas asma-Nya saja. Dan ada lagi yang di atas itu. ini masalah paradigma kita memandang.

Tetapi switch dari metoda pertama ke metoda kedua ini memang tak gampang. Di metoda pertama saja saya masih gonjang ganjing. Apalagi metoda kedua.

Tapi poinnya jelas. Pertama perlu ilmunya dulu. kedua nanti ilmu akan teraplikasikan lewat ujian hidup. Biasanya setelah dibanting-banting oleh kehidupan barulah bisa menyadari bahwa semuanya milik-Nya, dan semua cerita tentang DIA.

©debuterbang


[1] “Jika engkau tidak bisa berbaik sangka terhadap Allah ta’ala karena sifat-sifat Allah yang baik itu, berbaik sangkalah pada Allah karena karunia pemberianNya kepadamu. Tidakkah selalu Ia memberi nikmat dan karunia-Nya kepadamu?” (Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam)

[2] Ust. H. Hussien Abdul Latiff

*) Image taken from this source

Proudly powered by WordPress | Theme: Baskerville 2 by Anders Noren.

Up ↑