APA YANG KAU CARI?

Kalau kita perhatikan di dalam literatur keislaman, antara “‘ilm” dan “hikmah” adalah dua hal yang berbeda. ‘ilm diterjemahkan sebagai pengetahuan (knowledge), sedangkan hikmah adalah kebijakan (wisdom). [1]

Antara pengetahuan, dan kebijakan, adalah dua hal yang berbeda. Pengetahuan itu adalah ibarat kita memiliki perbendaharaan ensiklopedia. Sedangkan kebijakan, adalah kemampuan untuk melihat hubung kait antara pengetahuan satu dan lainnya, lalu mengambil keputusan berdasarkan kepahaman akan hubung kait perkara itu.

Jika kita melihat Asmaul Husna, selain dari Al-Alim, Allah SWT juga Al-Hakim. Maha memiliki pengetahuan, dan Maha memilki kebijakan.

Di dalam Al-Qur’an disebutkan, sesiapa yang diberikan wisdom / hikmah, sungguh dia telah diberikan kebaikan yang banyak. [2]

Akan tetapi, jalur umum yang dilalui kebanyakan orang adalah dari ilmu menuju hikmah. Dari kumpulan pengetahuan, menuju kebijakan. Normalnya sih, makin banyak tahu diharapkan orang akan bertambah bijak. Tapi bisa juga, seseorang bisa saja banyak tahu, tetapi tidak bijak.

Kebijakan, tidak semata tumbuh dari jalur pengetahuan. Kebijakan bisa juga tumbuh dari refleksi ke dalam diri sendiri. Atau tafakur atas realita di luar diri.

….tanda-tanda-Nya ada di segenap ufuk, bahkan pada diri kita sendiri…. [3]

Sebenarnya, kalau boleh kita mengerucutkan sedikit, yang paling kita perlu dalam hidup adalah hikmah itu. Dengan hikmah-lah kita bisa melihat baik dan buruk, dengan hikmah kita menjadi punya arah dalam hidup, dan tidak terombang-ambing. Karena kita punya “insight” melihat peta kehidupan. Melihat hubung kait antar perkara.

Tetapi kadang-kadang, kelirunya kita adalah kita mencari ilmu saja, tetapi lupa bahwa goal-nya ilmu itu adalah hikmah itu sendiri. Akibatnya, kita kadang-kadang berputar di belantara ilmu. Seperti didudukkan dalam perpustakaan dengan segudang buku, bisa semakin mbulet.

Akan tetapi jika kita mengerti bahwa goal-nya adalah hikmah, sedangkan hikmah itu adalah sesuatu yang ditanamkan oleh Allah, maka kita menjadi lebih relax. Tidak kelabakan cari sana, cari sini. Yang kita rasakan dalam hidup adalah interaksi antara kita yang tidak tahu, dengan Pemberi Petunjuk yang bisa menanamkan hikmah pada sesiapa saja yang DIA mau.

Jika hikmah diberi pada kita, ada dua kemungkinan. Pertama, kita dipertemukan dengan data / ilmu pengetahuannya, yang artinya kita diberikan kebijakan lewat kumpulan data-data yang dibukakan pada kita.

Atau…. Kemungkinan kedua, kita menjadi tahu bahwa sebenarnya duduk perkaranya begini begitu, sehingga kita tidak gamang, tetapi kita sampai kepada kebijakan itu tanpa lewat analisa kumpulan pengetahuan atau data-data ilmu. Kita tiba-tiba tahu saja, itulah insight.

Inilah yang sering diperdebatkan para ahli, apakah kebijakan hanya tumbuh dari pengetahuan, ataukah dia bisa pula mekar dari intuisi atau insight? Para arifin, jelas sekali menyatakan bahwa mereka petik hikmah dan kebijakan dari sumbernya, bukan dari tekstual. Hanya saja, dalam menyampaikan kepahaman lewat insight pada khalayak, mau tak mau harus dengan menjabarkan analisa tekstualnya. Bukti-bukti ilmu pengetahuannya.

Ini bukan berarti menafikan tekstual. Karena timbangan segala sesuatu adalah Qur’an dan Sunnah. Akan tetapi apapun saja ilmu tekstual, juga tak komplit dipahami duduk perkaranya tanpa diberikan hikmah kepada sang pembelajar.

Pada akhirnya, teruslah belajar, karena belajar dan mencari pengetahuan itu disunnahkan. Tetapi, tanpa kepahaman bahwa mencari pengetahuan itu semata adalah proses meminta hikmah dari Sang Empunya, pengetahuan kita tak membawa kita kemana-mana.

Diatas orang-orang yang berpengetahuan, ada orang-orang yang memiliki hikmah. Semata tahu tanpa kebijakan / hikmah, kurang berfaedah. Goalnya ilmu adalah hikmah itu sendiri.

Tetapi, hikmah pula masih tangga pertengahan. Di atas orang-orang yang diberi hikmah, adalah orang-orang yang dianugerahi kedekatan padaNya / muqarrabin.

Karena goal terakhir adalah kedekatan itu, maka sejak dari awal saja, carilah ilmu dalam mentalitas meminta petunjuk dari Sang Empunya ilmu.

Mencari DIA, -yang sejatinya tak kemana-mana-

-debuterbang-


References:

[1] https://en.wikipedia.org/wiki/Hikmah

[2] Al-Baqarah : 269

[3] “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahawa Al-Qur’an itu benar, dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahawa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (Surat Fusshilat : Ayat 53).

* ilustration images source

PENDEWASAAN MAKNA-MAKNA

Sampaimu kepada Allah SWT, kata Ibnu Athoillah dalam Al-Hikam, adalah sampaimu kepada pengetahuan tentang-Nya. Karena mustahil DIA disentuh, atau menyentuh sesuatu.

Perbincangan mengenai hal ini sangat menarik di kalangan para alim. Apakah Allah SWT bisa dicapai secara harfiah? Artinya jika dikatakan “kita melihat Tuhan” itu apakah betul-betul melihat seperti fisikal mata kita melihat bunga? ataukah melihat itu maksudnya secara ma’nawi? -ini kita bicara mengenai di dunia saat kita hidup sekarang ini ya, perdebatan mengenai di akhirat biarlah para ahli yang membahas-

Saya pribadi sependapat, dengan kalangan arif yang menilai bahwa Allah SWT tidak dapat dicapai oleh pengelihatan mata fisikal. Dan rasanya aforisma Ibnu Athaillah sudah sangat cantik merangkum hal tersebut, menurut beliau, sampainya seseorang kepada Allah SWT itu adalah sampainya kita pada pengetahuan tentang-Nya. karena dzat-Nya tak bisa disentuh / tak dapat digapai.

Seperti Musa a.s yang pingsan saat meminta melihat-Nya secara fisikal. Dan saya setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa saat Mi’raj Rasulullah SAW tidaklah melihat Allah dalam arti melihat secara fisikal dengan mata kepala ini.

Maka “melihat-Nya” itu, secara sederhana bisa kita katakan adalah ma’nawi. Bukan arti harfiah dengan mata lahir. Spektrum warna saja tak semua bisa dilihat mata manusia, apalagi Tuhan.

Jika kita tidak bisa melihat dzat-Nya secara harfiah, berarti perjalanan manusia untuk mema’rifatiNya mengenali-Nya di dunia ini, adalah perjalanan pendewasaan makna. Mendewasanya cara pandang manusia mengenali-Nya. karena ini semua adalah hal yang ma’nawi.

Dalam mendewasakan “makna” ini, saya barulah benar-benar mengerti maksud seorang arif yang mengatakan ada pendekatan pintu depan dan pendekatan pintu belakang. Pendekatan dari pintu depan inilah yang harus dipagari adab “Menyifati-Nya dengan sifat yang layak bagi-Nya.” Agar tidak keliru adab.

Siang tadi, istri saya menyuapi anak saya makan. Saya baru menyadari perbedaan istri saya dan saya. Istri saya akan tidak kenal lelah memaksa anak saya makan. Meskipun anak saya enggan. Meskipun anak saya berlari bermain-main. Kadang-kadang malah nasinya ditambahi lagi kalau sudah habis. Semua itu dilakukan karena rasa sayangnya sebagai seorang ibu. Kalau saya sih, sudah nyerah kalau anak saya mbadung dan lari kesana-sini, hahahaha.

Dalam pandangan anak saya yang masih kecil, sikap istri saya ini dilihat sebagai “memaksa”.

Istri saya, akan keliru dipahami anak saya; dianggap sebagai “pemaksa” jika anak saya hanya melihat satu sisi saja.

Anak saya, akan berubah pandangannya terhadap istri saya, setelah melihat sisi lain dimana istri saya sering sekali membelikan anak saya mainan. OOhhhh, ternyata mama baik sekali, fikirnya.

Ini salah satu cara “memandang”.

Agar tak keliru menilai, maka melihat sisi yang dianggap baik, yang ternyata sisi yang dianggap baik itu lebih banyak daripada sisi yang dianggap tidak baik.

Tentu ini cuma pengibaratan saja. Yang tidak terlalu tepat.

Kenapa anak saya harus melihat sisi baik yang lebih banyak ketimbang sisi yang dia pahami sebagai tidak baik itu? karena baru makna sebatas itu yang dimengerti anak saya. Cara memandang di atas itu, belum “termakan” oleh anak saya.

Cara memandang diatas itu misalnya dengan merubah paradigma, bahwa prasangka jika seorang ibu tidak baik saat memaksa anaknya untuk makan; itu keliru. Karena di dalam pemaksaan itu ada kebaikan. Ini makna atau pengenalan yang lebih tinggi lagi. Bahwa di dalam sesuatu yang dianggap buruk, ada greater good. Kebaikan yang lebih besar.

Makna seperti ini, belum bisa dicerna anak balita. Seiring dengan pendwasaan diri, maka anak balita tumbuh besar dan bisa memandang dengan makna yang lebih dewasa.

Di atasnya ada lagi, baik dan buruk itu hanya pandangan manusiawi yang terbatas. Manusiapun memandang dari norma-norma yang Tuhan tentukan atau ajarkan pada manusia. Jadi sesungguhnya dari sisi-Nya tak ada baik dan buruk. Semua itu hanya af’al saja.

Di atasnya ada lagi. dibalik semua keriuhan af’al, sebenarnya hakikatnya adalah dzat-Nya saja. semua itu hanya sifat-sifat. (Untuk hal ini dibahas tuntas oleh Ust. Hussien Abd. Latiff)

Kurang lebih ternyata begitulah perjalanan hidup manusia. Perjalanan membenahi prasangka kita sendiri. Bahkan para wali tidak sampai pada melihat secara fisikal. karena ada suatu hadits yang mengatakan bahwa siapa terpandang dzat akan binasa.

Tetapi yang membedakan kita dan mereka adalah kedewasaan pandangan itu.

Dari sinilah baru saya mengerti sebuah ungkapan bahwa istiqomah lebih berharga dari seribu qaromah. Seperti disebutkan dalam Surat Kahf : 110 yang artinya : “…… barangsiapa mengharapkan perjumpaan dengan Rabb-nya, maka lakukan amal shalih, dan jangan menyekutukan-Nya…”

Karena, setinggi apapun tingkat spiritualitas seseorang / karomah, sebenarnya apapun saja yang dipandang mereka adalah “bukan Tuhan”, dalam artian pengelihatan spiritual, kasyaf, atau apapun itu yang didapat para wali adalah semua ketersingkapan akan makhluk.

Mungkin melihat dimensi yang lebih tinggi. Mungkin melihat dimensi rendah. Wallahu’alam karena kita sepakati bahwa melihat-Nya -di dunia ini- adalah melihat-Nya secara maknawi, DIA tak dicapai oleh pengelihatan mata.

Dan seperti ungkapan Ibnu Athoillah pertama di atas tadi, pengelihatan secara maknawi itu adalah sampainya kita pada pengetahuan tentang-Nya. Maksudnya, pengenalan yang mendewasa. Mengertinya kita akan makna-makna itu.


*) Image sources 

Proudly powered by WordPress | Theme: Baskerville 2 by Anders Noren.

Up ↑