MEMPERBAIKI MAKNA

Ternyata pertambangan di desa itu sudah “mati”. Kami mengira area pertambangan Cikotok pastilah desanya begitu hidup. Itu sebab kami berharap menumpang menginap pada kepala desa disana. Tiba disana ternyata desanya begitu sepi.

Sudah jauh saya dan seorang rekan berjalan kaki dalam rangka tugas pemetaan lapangan geologi, di area Banten, zaman kuliah dulu. Menumpang menginap dari satu rumah ke rumah lainnya. Dan pemberhentian di Cikotok kami hanya bertemu penduduk desa yang menjadi gurandil -Penambang emas tradisional- beberapa orang saja. Desanya sendiri sudah sangat sepi. Tidak semegah dulu, saat pertambangan masih berjaya.

Ketua RT disana memberikan kami tumpangan. Beliau bukan gurandil, tetapi seorang polisi hutan.

Dan cerita bahwa beliau seorang polisi hutan itu, sangat berkesan bagi saya.

“Anda, dek,” katanya memulai pembicaraan pada suatu malam, “Kalau ditempatkan pada posisi saya, pasti menangis.” ujarnya.

Dari beliau saya mendengar cerita bahwa seorang polisi hutan harus menjaga hutan lindung sekian puluh kali sekian puluh kilometer. Seorang diri. Berbekal peralatan seadanya, dan adu nyali dengan pembalak hutan lindung. Membawa keluarga dan anaknya ditempatkan di pedalaman.

Mengapa cerita ini sangat emosional buat saya? Karena dulu ceritanya sewaktu saya SMP, orang tua begitu berkeinginan menempatkan saya masuk sekolah kehutanan. SMA kehutanan, dengan alasan sederhana bahwa lepas SMA saya bisa langsung bekerja. Salah satunya menjadi polisi hutan.

Selepas prasyarat administratif, selepas kami mengirimkan segala dokumen, nyatanya saya tak lulus.

Saya waktu itu begitu bersedih.

Kesedihan itu membawa kami memaknai dengan macam-macam. Barangkali doa kurang sungguh-sungguh. Atau Tuhan menguji. Atau kurang banyak tahajud. Dan macam-macam.

Hikmahnya baru terbuka setelah saya kuliah. Dan dibawa sendiri melihat langsung kehidupan polisi penjaga hutan. Sebuah pekerjaan mulia, tetapi saya mesti dengan jujur mengakui bahwa saya tidak sekukuh itu, untuk menikmati hidup terpencil dalam sebuah hutan lindung, dan bersengketa dengan pembalak hutan.

Kalau saya melihat ulang ke belakang, terlihatlah bagaimana manusia menyifati Tuhan. Memaknai af’al Tuhan.

Sebuah kejadian sederhana bahwa saya tak lulus seleksi sekolah kedinasan, saya maknai dengan macam-macam: Tuhan tak mengabulkan. Saya kurang giat sholat. Tuhan tak suka dengan saya. Tuhan tak memberi jika kita tak meminta dengan terus menerus. Macem-macem.

Sebenarnya, saya sendirilah yang mencitrakan Tuhan seperti itu. Bagaimana kita memaknai hidup, pada gilirannya begitulah citra Tuhan terasakan oleh kita.

Itulah sebabnya, para arif mengatakan, jika kita hendak memandang atau memaknai af’al Tuhan, maka maknailah dengan sifat-sifat yang layak bagiNya.

Anda boleh, melihat Tuhan sebagai yang menyempitkan, tetapi jangan lupa bahwa DIA yang juga melapangkan. Sehingga kesempitan-kesempitan hidup hanya jadi konteks untuk mengakrabi-Nya saja. Bukan membuat hidup berwajah suram.

Sebagaimana anda boleh memberitakan ancaman Tuhan dengan neraka-Nya, tetapi jangan lupa bahwa rahmatNya mendahului murka-Nya. Sehingga segala citra af’al cuma jadi pengingat-ingat untuk kembali.

Tanpa pemaknaan “pintu depan” yang benar, nanti jadi keliru adab dan menyifati yang tidak-tidak kepada Tuhan.

Itu kalau ingin memaknai af’al-af’al yang beragam.

Tetapi di atas itu, ada lagi cara lain. Yaitu menyadari bahwa semua pemaknaan kita atas af’al itu sejatinya hanya persepsi manusiawi yang terbatas. Yang sebenarnya tahu sedetail-detailnya tentang alasan dibalik sesuatu terjadi. Ya DIA sendiri.

Kalau kita begini misalnya….. ada ujian kita sedih, lalu merasa diuji, ada yang frustasi, ada yang memandang keluasan rahmat Tuhan lalu mendatangi Tuhan dalam konteks meminta tolong karena jika DIA menyempitkan, maka sejatinya DIA juga bisa melapangkan.

Tetapi adalagi, orang arif yang kemudian “membiarkan” saja segalanya bergulir atas kehendakNya. Memandang dari belakang.

Bagi mereka, sempit dan lapang itu ndak ada. Hanya persepsi. Persepsi yang dipandang dari kacamata manusiawi yang terbatas.

Semuanya pasti ada hikmah. Biarlah DIA bersendagurau menceritakan diriNya sendiri. Makna dari perbuatan-perbuatan itu, hanya DIA sendiri yang benar-benar mengetahuinya.

Lewat arah mana saja anda memandang, tak apa. Jika af’al-Nya masih begitu membekas di hati, maka pahami bahwa adab “pintu depan” adalah menyifatiNya dengan sifat yang baik bagiNya.

Jika tak lagi membekas sempit dan lapangnya hidup bagi anda,  adabnya adalah tak lagi menyibukkan diri dengan makna-makna. Karena makna-makna itu adalah pandangan dari depan semata


*) gambar ilustrasi saya pinjam dari zedge wallpaper app

DIANUGERAHI KEBETULAN-KEBETULAN


Tugas kantor baru selesai malam ini, sebelum menutup laptop tiba-tiba saya teringat dengan seorang rekan yang atas sarannya lah saya berpindah dari kerja sebagai engineer di lapangan migas, menjadi koordinator di kantor.

Perpindahan kerja dari lapangan menuju kantor kala itu memang penuh pertimbangan. Lebih-lebih bagi orang yang kebanyakan mikir seperti saya. Maka saran dari seorang rekan yang objektif bagi saya sangat membantu dalam menentukan langkah.

Sebenarnya saya tak kenal dekat dengan dia. Hanya kala itu menjadi rekan satu tim dalam sebuah tugas pengeboran di lapangan migas lepas pantai. Dia orang Amrik. Seorang family-man yang membuat saya kagum karena jiwa sosialnya yang tinggi.

“Take it man…. i know you will be suit for that job” katanya mendorong saya mengambil tawaran untuk menjadi koordinator di kantor. Saya yang sudah terbiasa dengan kehidupan ala engineer lapangan akhirnya memberanikan diri mengambil langkah yang besar, setidaknya besar untuk ukuran saya yang suka dengan kemapanan.

Maka kalau direnung-renung kembali, betapa unik. Orang yang entah berantah dari negri mana, bertemu dengan saya di anjungan migas, kemudian memberi dorongan untuk saya melangkah, yang kemudian keputusan saya untuk melangkah itu merubah begitu banyak cerita dalam hidup saya.

Bekerja di kantor. Berjibaku dalam macet jakarta. Belajar bersosialisasi dengan orang-orang. Belajar akrab pada dunia meeting. Dan melihat dunia dari sisi yang sama sekali lain dari yang dulu saya tengok dalam pandangan solilokuy seorang engineer yang akrab pada desing suara pengeboran, aroma laut lepas, kibas-kibas baling-baling helikopter, dan temaram rembulan yang memantul pada ombak laut malam hari.

Adakah itu kebetulan?

Atau dalam pertanyaan yang lebih besar lagi, apakah ada yang tidak “diatur” dalam hidup ini?

Lewat kepahaman akan “diatur”nya hidup inilah, para arif menyesapi kedekatan dengan Tuhan.

Jika para arif sudah tune-in dan haqqul yaqin dengan keteraturan. Maka orang awam macam saya, harus bolak-balik menikmati memori kebetulan-kebetulan itu, untuk menyusunkan syukur bahwa benarlah hidup ini penuh dengan keteraturan.

Seorang bule yang dipertemukan sesaat dan andil besar dalam mendorong saya untuk mengambil langkah berani.

Atau pertemuan sepintas saya dan seorang aktivis di Pogung Kidul, tempat saya menumpang menginap sewaktu lepas SMA saya hendak mengikuti ujian SPMB penerimaan mahasiswa baru dulu, dari bertemu selintas dengan dialah saya kemudian memutuskan mengambil kuliah geologi.

Kenapa kamu mau kuliah geologi?? karena mas yang tempat numpang ngontrak dulu orangnya baeek, jadi saya mau kuliah di tempat orang baek. sungguh alasan yang tidak teknikal.

Atau pertemuan selintas saya dengan seorang direktur BUMN migas besar, di kampus kami, yang ndilalah memberikan izin saya untuk numpang mengerjakan skripsi di perusahaan dimana dia bekerja.

Juga segala lika-liku hidup. kebingungan-kebingungan menapaki roller coaster kehidupan, yang memaksa saya setiap hari mencoba mengunyah renyahnya kajian Hikam dari Drs. Imron Djamil, kiai tambak beras jombang. ratusan ceramah saya dengarkan dengan khusyuk setiap hari satu demi satu, dalam bahasa jawa yang tak begitu saya mengerti.

Pelan-pelan merubah saya dari yang dulunya begitu fikih minded dan kaku, menjadi melunak pada kajian spiritual.

Dulu segala wacana spiritualitas islam serasa begitu abstrak.

sempat saya mengecewai diri sendiri, kenapa kok saya tak mengerti-mengerti?

Tak lama kemudian gelombang hidup mengantarkan pengertian itu satu demi satu. Yang dulunya abstrak, tetiba terasa begitu terang benderang.

Dari satu guru, ke guru yang lain. yang mayoritas tak pernah benar-benar bertatap muka.

Sempat saya “mencemburui” para sahabat yang berkesempatan ndeprok dan belajar tekun pada siapapun orang-orang arif, sumur hikmah. Sedangkan saya tak berkesempatan begitu.

Tetapi ternyata ilmu mendatangi tak hanya lewat pintu kajian. Dia juga datang lewat kehidupan yang penuh pernak-pernik. Bersyukurlah pula saya bahwa dalam keterbatasan, ternyata tak seberapa tertinggal dengan rekan-rekan yang begitu getol mencari. Biar di belakang, asal tetap berjalan.

Dan begitulah pula pesanan seorang arif, agar tetap beramal, sembari ridho pada maqom yang dianugerahkan pada kita saat ini. H. Hussien Abd Latiff mengutip Syaikh Abdul Qadir Jailani mengatakan “berpuas dirilah atas apa yang ada padamu, hingga Allah sendiri meninggikan taraf kamu”

Sebelum tidur ini malam, ingin rasanya saya menuliskan kebetulan-kebetulan itu.

MEMELUK SUKA DAN DUKA


Saya baru tahu bahwa istilah “Suka” dan “Duka” itu ternyata sangat dekat dengan istilah Buddhism, yaitu “Sukkha” dan “Dukkha”.

Saya dengar ini dari acara The Deen Show, wawancara dengan Syaikh Hussain Ye seorang Cina Muslim yang tadinya mantan penganut Buddha.

-Menurut beliau-, besar kemungkinan Buddha adalah seorang Nabi yang mengajarkan tauhid monotheistic.

-aslinya-Buddhisme kononnya begitu dekat dengan islam. Wallahu’alam.

Yang menarik adalah mengenai Sukkha dan Dukkha ini ternyata dekat dengan istilah Basyiran wa Nadzhiran. Kabar gembira dan peringatan.

Para Nabi dan Rasul diutus untuk memberi kabar gembira (Basyiran) dan peringatan (Nadzhiran).

::

Pagi ini saya berdo’a kepada Allah SWT agar diberikan kemudahan dalam menyelesaikan sebuah tugas kantor.

Saya teringat bahwa sangat sering saya mentok dalam melaksanakan sebuah tugas, tetapi setelah berdo’a maka kemudahan itu acapkali datang lewat arah yang tak ditebak.

Kalau dulu saya memaknai pengabulan do’a sebagai jawaban / pemberian Tuhan atas permintaan saya. Kini setelah mempelajari spiritualitas islam saya menjadi paham bahwa karena Tuhan ingin memberi maka digerakkan hambaNya untuk berdo’a.

Do’a adalah pemberian yang didahulukan.

Jika pemberian sudah mendahului permintaan, maka kita paham bahwa permintaan yang tercetus di mulut kita sejatinya hanya ekspresi saja. Ekspresi pengagungan atau persandaran padaNya.

Kalau do’a di mulut sejatinya hanya ekspresi saja dari apa yang ada (diletakkan) di dalam batin, maka secara jujur kita tak bisa untuk tak berdo’a.

Mulut bisa saja diam. Tetapi hati selalu jujur. Kalau dicekam takut maka hati berharap pada Tuhan. Kalau diguyur gembira maka hati bersyukur pada Tuhan. Di dalam hati ada bentuk-bentuk pengagungan pada Tuhan semacam itu. Meski mulut diam. Itupun do’a juga namanya.

Tetapi bentukan rasa di hati. Ini bisa mendewasa seiring perjalanan hidup. Dari yang tadinya melihat suka duka hidup. Bergerak menuju janji kegembiraan (basyiran) dan menjauh dari ancaman (nadzhiran). Menjadi memahami bahwa basyiran nadzhiran semata cerita dari pemiliknya.

Orang-orang yang mengalami realita kedekatan pada pemilikNya, dia menjadi sibuk dengan kedekatan itu, melampaui rasa takutnya terhadap ancaman dan melampaui kegembiraan atas berita yang baik. Sampai tahapan ini dia nrimo. Ga peduli.

Tetapi tak pedulinya mereka itu bukan karena sombong. Melainkan karena saking dekatnya dengan Pemilik dunia, maka cerita dalam dunia menjadi tawar bagi mereka.

Kalau kita masih meniti penghambaan dengan dipagari basyiran wa nadzhiran. Mereka menghamba ya karena memang cinta pada Tuhan.

Tetapi kadangkala kelirunya sebagian kalangan adalah mereka mengabaikan berita ancaman dan janji kegembiraan ini bukan karena sangat dekat pada Sang Pemilik. Melainkan karena sombong.

Dalam satu riwayat kalau tak salah ingat, orang yang enggan berdoa disebut orang sombong.

Karena melawan kata hati. Hatinya berharap pertolongan Tuhan, tetapi lisannya sombong dalam menzahirkan kata hati itu menjadi permohonan.

Anda boleh tak berdo’a, hanya jika di dalam hati dipenuhi keridhoan dan pengertian akan kesempurnaan takdir Tuhan. Jika rasa tentram itu yang memenuhi hati, maka sikap secara fisik tentu bukan mendayu-dayu minta tolong. Melainkan penerimaan yang lapang. “Rodhitu Billahi Rabba”.

Jadi, orang arif itu adalah mereka yang MENINGGALKAN. Bukan DITINGGALKAN.

Seumpama orang zuhud bukanlah yang tak punya dunia (ditinggal dunia) melainkan mereka yang memiliki harta tetapi melepasnya (meninggalkan).

Sama juga dengan pluralitas. Bukan orang-orang yang sombong dan menafikan tata aturan agama lalu menjadi pluralis karena analisa logika.

Melainkan yang memandang keragaman sebagai sama-sama makhluk Tuhan yaitu yang arif dan sepenuh-penuh menghamba pada Tuhan sehingga penuh dengan welas asih.

Dan begitu juga dengan yang lepas dari dualitas. Bukanlah yang mengejek dan mengabaikan janji dan ancaman Tuhan. Melainkan yang menghayati janji dan ancaman. Hingga kedekatan mereka pada Sang Pemilik lebih menyibukkan diri mereka melampaui janji dan ancaman itu.

©debuterbang


Ilustration image is taken from this source

Proudly powered by WordPress | Theme: Baskerville 2 by Anders Noren.

Up ↑