URUNG LOGOUT FACEBOOK; MENITI JALAN YANG BUKAN KERAHIBAN

kerahiban

Pagi-pagi buka FB, niatnya mau refreshing, eh tiba-tiba melihat sebuah posting dimana seorang dari kelompok sebelah menghujat ustadz Somad tokoh terkenal dari kalangan aswaja, pasalnya karena ustadz somad menjelaskan bahwa “Allah ada tanpa tempat”. Lalu dijelaskan lebih lanjut bahwa “tempat” itu adalah ciptaan juga, maka Allah suci dari “arah” dan “tempat”. Sebuah bahasan yang sebenarnya sangat lumrah dijumpai dalam kajian sufistik.

Tetapi, seperti biasanya kalangan sebelah, mereka memaknai sesuatu secara literal, sehingga bagi mereka Allah itu ya di atas langit sana sedang duduk di atas arasy.

Saya tak hendak membahas dua hal itu, karena yang ahli sudah banyak, dan sepanjang pengamatan saya debat ini tak henti-hentinya. Yang satu literal, yang satu pemaknaannya lebih dalam dan sufistik. Ya monggo-lah dengan cara pandang masing-masing.

Yang saya hendak bahas adalah gejolak hati saya, dimana saya tiba-tiba tersulut dan kesal juga karena ulama dilecehkan. Hendak saya membalas komentar di kolom FB, tiba-tiba teringat dengan kajian salah seorang guru mengenai “turun padang”. Jadi tak jadilah saya menulis di komentar. https://debuterbang.wordpress.com/2017/05/05/turun-padang-dan-kuncir-rambut/ 

Menurut seorang arif (Ust. H. Hussien Abd. Latiff), apabila yang “nampak” dalam pandangan kita bukan lagi sifat-sifat, keragaman tak lagi menimbulkan bekas di hati kita. Karena kita nampak keragaman itu sebagai dzat-Nya semata-mata. Sifat-sifat itu tidak eksis dalam pandangan kita. Itu cara pandang lewat pintu belakang.

Jika dipandang lewat pintu depan, keragaman yang banyak itu, pastilah dijadikan dalam suatu hikmah. Sebuah greater good yang tidak mungkin sia-sia. Maka, dalam keragaman yang kadang-kadang memicu emosi, kita menjadi reda dan memaklumi, bahwa keragaman memang begitu adanya, dan memang baik adanya.

Dalam kaitannya bahwa keragaman adalah berhikmah, saya teringat kembali dengan sebuah perumpamaan dari Rumi dalam “Fihi Ma Fihi”. Dikatakan oleh Rumi, tidak ada kependetaan / kerahiban dalam islam. (Saya yakin rekan-rekan ingat dengan sebuah hadits dimana seorang sahabat hidup dalam sikap kerahiban, ibadah terus sampai melupakan istrinya, lalu ditegur oleh Rasulullah SAW agar memperhatikan hak-hak istri dan hak-hak dirinya, dan dikatakan tidak ada kerahiban dalam islam).

Apa maksud hidup dalam sikap kerahiban?

Menurut Rumi, hidup dalam kerahiban itu adalah jalan mengasingkan diri, menahan diri dalam kesunyian dan menahan diri dari syahwat.

Apakah jalan seperti itu bisa menaikkan spiritualitas seseorang? Ya tentu bisa…. Contohnya kita lihat para pertapa. Atau misalnya kita lihat Isa a.s tidak menikah. Jalan kerahiban adalah salah satu metoda.

Hanya saja……

Hanya saja metoda dalam islam adalah antitesis jalan kerahiban. Jika jalan kerahiban adalah dengan “tidak menikah” dan mengasingkan diri dalam kesunyian agar terhindar dari hingar bingar dan syahwat lalu spiritualitas meningkat. Jalan islam justru sebaliknya, yaitu masuk dalam “hingar bingar” agar lewat gejolak itu kita tertempa spiritualitasnya, lewat penerimaan dan ridho atas keragaman yang tampak kasat mata seolah sebagai kesewenang-wenangan, padahal medan penempaan diri.

Menurut Rumi, ketimbang lewat jalan kerahiban dan tidak menikah, maka jalan islam lebih gampang, yaitu menikah dan ridho dalam keragaman. Bagaimana menyucikan diri lewat keragaman? Kata Rumi, “Siang dan malam kau terus berjuang, berusaha memperbaiki perangai perempuan dan menyucikan kekotorannya melalui dirimu. Padahal jalan yang lebih baik adalah kau menyucikan dirimu melalui dirinya…..” agar mengasah diri menjadi lebih jernih.

Perumpamaan di atas hanyalah perlambang. Jika hidup di atas jalan kerahiban adalah mengasingkan diri dari keramaian dan gejolak. Maka jalan islam adalah justru dengan berkecimpung dalam “gejolak” dalam sikap yang benar justru akan membantu menyucikan kita.

Dengan sikap tahammul (sabar dan menanggung beban) yang kita terima dari keragaman itu.

Itulah pandangan “depan” dan pandangan “belakang” yang sangat indah menurut saya. Maka saya urung logout facebook… hehehehehe…. Karena keragaman itu memang begitu adanya. Dan ternyata jalan islam adalah dengan membersihkan diri lewat penerimaan yang ridho atas keragaman itu, lalu menyadari bahwa keragaman itu tak lain tak bukan hanya tampilan casing sifat-sifat yang tak benar-benar eksis.


*) image sources

KHARISMA DAN SI MAJNUN

Ada sebagian orang, yang ketika kali pertama bertemu saja kita langsung merasakan kharisma yang luar biasa. Saya punya beberapa orang teman yang memiliki kharisma yang membuat orang respect kepada mereka. Meski pertama kali bertemu.

Dalam sejarah, contoh kharisma seperti ini pun banyak. Salah satu diantaranya adalah Abdul Muthallib, yang membuat Abrahah pemimpin tentara bergajah yang hendak menghancurkan Ka’bah; menjadi terkesima.

Ceritanya, sebelum sampai di Ka’bah, Abrahah dihadang oleh Abdul Muthallib. Begitu melihat Abdul Muthallib, Abrahah yang memimpin pasukan bergajah langsung mengetahui bahwa orang dihadapannya ini adalah seorang pemimpin; demi melihat kharisma pada diri Abdul Muthallib. Abdul Muthallib kemudian disambut oleh Abrahah, yang turun dari kendaraannya. Nyatanya Abdul Muthallib “hanya” meminta untanya yang dirampas oleh Abrahah.

Sebuah ungkapan yang masyhur kita dengar, “saya adalah pemilik unta itu,” ujar Abrahah. “Sedangkan Ka’bah itu ada Pemiliknya sendiri, yang akan mengurusnya”. Dan memang kita tahu pada akhirnya Abrahah dihancurkan oleh segerombolan burung yang menjatuhkan batu-batu panas.

Saya tergelitik menulis tentang kharisma, karena berkesempatan mewawancarai banyak kandidat yang melamar masuk ke perusahaan tempat saya sekarang bekerja, dan saya asyik sekali mengamati macam-macam tipikal orang. Dan kagumlah saya demi melihat beberapa orang-orang yang punya kharisma begitu wibawa.

Di dalam dunia pekerjaan, seringkali kita dikerubuti orang-orang yang kharismatik. Entah karena wibawanya secara personal. Atau karena skill teknikal dan penguasaannya akan ilmu.

Terus terang, melihat orang-orang seperti itu seringkali saya merasa kecil. Tetapi, wejangan seorang arif kembali menyadarkan saya bahwa berbagai-bagai macam manusia, dengan macam-macam perbawa dan tingkah polah mereka, sebenarnya adalah karena Tuhan membuatnya begitu. Karena Allah menuliskan mereka begitu maka mereka begitu.

Dibalik keragaman sifat-sifat, sejatinya yang wujud adalah dzat-Nya semata-mata. Semua keragaman sifat-sifat hanya untuk menceritakan Sang Pemiliknya.

Maka kekaguman akan sifat-sifat, sekarang perlahan menemukan kedewasaannya.

Kalau dulu, kekaguman pada kharisma dan orang-orang cerdas, hanya sebatas sebentuk rasa iri dan tertinggal semata-mata.

Kalau sekarang, kekaguman pada kharisma dan orang-orang cerdik pandai mengingatkan kita akan beragamnya kreasi-Nya. Betapa DIA begitu mampu memuliakan siapa yang DIA mau, meninggikan yang DIA mau, merendahkan yang DIA mau.

Perumpamaan menarik tentang ini, dari kisah terkenal Laila Majnun. Saking cintanya pada Laila, Majnun melihat dinding kota Laila, membuatnya teringat Laila. Melihat sungai, karena sungai itu datang dari arah desa Laila, maka dia mengingat Laila. Melihat anjing, karena anjing itu datang dari desa Laila, maka dia teringat Laila.

Bagi Majnun, apapun yang bersinggungan dengan Laila, mengingatkannya pada Laila. Kharisma para makhluk, hanya jadi penghantar mengingati Penciptanya.

Betapa kita kecil di hamparan keagungan yang Allah gelar. Betapa DIA mudah sekali membuat pesona semau-mau DIA. Memberi ilmu pada yang DIA mau. Menahan ilmu dari yang DIA mau.

Bahasanya seorang arif, keragaman sifat-sifat ini hanya setitik dibandingkan DIA.

image sources

TUKANG OJEK DAN PRASANGKA YANG BAIK

Saya senang sekali jika bertemu dengan supir ojek online yang ramah, di pagi hari terutama. Bertemu dengan orang yang ramah, dan obrolan baru yang ringan rasanya seperti memberikan nutrisi hikmah pada awalan hari.

Seperti pagi ini, seorang supir Grab Bike menjemput, dan di sepanjang jalan bertanya dan diskusi mengenai rumah. Dia banyak bertanya mengenai mekanisme membeli rumah, juga mengenai komparasi tinggal di komplek vs bukan komplek, dan cara mengurus sertifikat. Obrolan yang sederhana, tetapi saya menangkap sebuah semangat disana. Semangat untuk membeli rumah.

Spontan saya teringat dengan sebuah hadits, tentang prasangka kepada Tuhan. Jika kita berjalan, DIA berlari. Jika kita mendekat sejengkal; DIA sedepa. Kita sedepa; DIA sehasta. DIA sebagaimana prasangka hamba-Nya. [1]

Sebagian motivator, menggunakan hadits ini sebagai pijakan untuk selalu membaikkan persepsi. Atau positif thinking. Kalau kita mau beli rumah, bayangkan rumah, bayangkan rumah, nanti kita akan diberi rumah. Belakangan, baru saya tahu bahwa sikap begitu kuranglah tepat.

Membiasakan positif thinking itu baik, hanya saja, setelah mempelajari spiritualitas islam barulah saya sedikit mengerti bahwa bukan positif thinking yang seperti itu maksudnya.

Hadits tersebut berbicara mengenai “sambutan” Allah yang mendahului atau lebih cepat ketimbang gerak sang hamba menuju-Nya. Kita mendekat pada-Nya sejengkal, DIA melampaui kita dengan mendekat sedepa. Dan seterusnya. Artinya, sekecil apapun upaya kita menggapai-Nya, tidak jadi soal –selama kita tetap bergerak-. Karena sebenarnya DIA akan menggapai kita lebih cepat.

Nah…. Dalam upaya menuju DIA itulah, konteks positif thinking yang benar, dalam hemat saya.

Jadi, jika kita ada kebutuhan, katakanlah membeli rumah. Yang dibayangkan bukan rumahnya itu. Tetapi menyadari bahwa kita ini fakir dihadapan Tuhan. Melalui kebutuhan untuk membeli rumah, kita lalu menyadari kefakiran dihadapan Tuhan. Dalam menyadari kefakiran itu, kita positif thinking pada Tuhan, bahwa Tuhan akan menerima kita mendekat pada-Nya meski dengan awalan rasa fakir dan butuh akan rumah. Dalam bahasa spiritualitas islam, ini namanya menyifati Tuhan dengan sifat yang layak bagiNya.

Kita positif thinking bahwa sesiapapun menuju-Nya, bahkan dengan upaya sesederhana apapun saja, akan digapaiNya dengan kecepatan yang melampaui gerak kita yang lamban.

Meskipun, kita mendekati-Nya karena rasa fakir dan butuh pertolongan agar DIA memberikan kita tempat tinggal. Meskipun penggerak kita menuju-Nya itu kalah elegan dengan kisah agung para zahid, misalnya Rabi’ah Al Adawiyah yang menuju-Nya semata-mata dengan cinta.

Jadi, kebutuhan apapun dalam hidup, masalah apapun dalam hidup, hanya jadi pintu saja, untuk mendekati-Nya dalam prasangka yang baik.

Meski dosa sekalipun. Dalam prasangka yang baik kepada Tuhan, kita menyadari bahwa jika kita mendekati-Nya karena rasa bersalah atas dosa, DIA akan menggapai kita lebih cepat dari awalan kita yang buram dan kotor itu.

Itulah positif thinking dalam pengertian yang saya baru sadari setelah mendengar wejangan para arif dalam spiritualitas islam.

“Tapi Mas…saya sih sudah ridho Mas… semua ini lakonan Tuhan.” kata seorang rekan.

Wah… alhamdulillah. Ridho itu level di atasnya sabar. Jika sudah sampai pada level itu ya sangat bersyukur sekali.

Kondisi ridho, karena benar-benar terpatri dalam diri bahwa semua ini dalam pengaturan-Nya. Semua sebab-sebab apapun saja dalam kehidupan, hanya kelihatannya saja menjadi “sebab”, sebenarnya tak ada “sebab-sebab”.

Hanya saja, haruslah kita menjujuri diri. Bahwa level itu adalah suasana hati yang ga bisa dibuat-buat. Nabi zakariya a.s saja, saat dijanjikan mempunyai keturunan saat usia beliau sudah sepuh, kemudian beliau heran. Bagaimana mungkin aku memiliki anak, sedangkan saya sudah sepuh, istri sudah tua. Nabi zakariya a.s pun lupa, bahwa anak lahir bukan karena “sebab-sebab”. Bukan karena muda atau tua. Bukan karena faktor biologi.

Karena memang fithrahnya dunia, kita seakan-akan melihat banyak hal yang “wujud” seperti seolah menjadi sebab-sebab.

Itulah mengapa, Sedikit saja ada rasa butuh, rasa salah, perasaan kerdil, dalam diri kita, maka sebenarnya adab kita masih di pintu depan. Masih berada pada posisi dimana kita harus mendekati-Nya dalam prasangka yang baik itu. Do’a!

Disakiti orang; kita berdoa. Ada butuh ; kita berdoa. Kita salah; kita berdoa. Dalam kemudahan hidup; kita berdoa dan bersyukur. Semua hal itu adalah awalan pijakan untuk kita mendekatiNya dalam prasangka yang baik.

Nanti, apabila sudah selalu mendekatiNya dalam prasangka yang baik, lewat doa, kondisi ridho itu akan sampai dengan sendirinya. Dari depan masuk ke belakang. Dan adab fisikal kita menyesuaikan secara otomatis. tidak dibuat-buat.


[1] Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah ‘azza wajalla berfirman; ‘Bagi hamba-Ku adalah sebagaimana perasangkanya kepada-Ku, dan Aku akan bersamanya selama ia berdoa kepada-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya maka Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku, jika ia mengingat-Ku dalam sekumpulan orang maka Aku akan mengingatnya dalam sekumpulan yang lebih baik dan lebih bagus darinya. Jika ia mendekat kepada-Ku satu jengkal maka Aku akan mendekat kepada-Nya satu hasta, jika ia mendekat kepada-Ku satu hasta maka Aku akan mendekat kepadanya satu depa, dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.” (HR. Muslim: 4851)

* image sources from this link

APA YANG KAU CARI?

Kalau kita perhatikan di dalam literatur keislaman, antara “‘ilm” dan “hikmah” adalah dua hal yang berbeda. ‘ilm diterjemahkan sebagai pengetahuan (knowledge), sedangkan hikmah adalah kebijakan (wisdom). [1]

Antara pengetahuan, dan kebijakan, adalah dua hal yang berbeda. Pengetahuan itu adalah ibarat kita memiliki perbendaharaan ensiklopedia. Sedangkan kebijakan, adalah kemampuan untuk melihat hubung kait antara pengetahuan satu dan lainnya, lalu mengambil keputusan berdasarkan kepahaman akan hubung kait perkara itu.

Jika kita melihat Asmaul Husna, selain dari Al-Alim, Allah SWT juga Al-Hakim. Maha memiliki pengetahuan, dan Maha memilki kebijakan.

Di dalam Al-Qur’an disebutkan, sesiapa yang diberikan wisdom / hikmah, sungguh dia telah diberikan kebaikan yang banyak. [2]

Akan tetapi, jalur umum yang dilalui kebanyakan orang adalah dari ilmu menuju hikmah. Dari kumpulan pengetahuan, menuju kebijakan. Normalnya sih, makin banyak tahu diharapkan orang akan bertambah bijak. Tapi bisa juga, seseorang bisa saja banyak tahu, tetapi tidak bijak.

Kebijakan, tidak semata tumbuh dari jalur pengetahuan. Kebijakan bisa juga tumbuh dari refleksi ke dalam diri sendiri. Atau tafakur atas realita di luar diri.

….tanda-tanda-Nya ada di segenap ufuk, bahkan pada diri kita sendiri…. [3]

Sebenarnya, kalau boleh kita mengerucutkan sedikit, yang paling kita perlu dalam hidup adalah hikmah itu. Dengan hikmah-lah kita bisa melihat baik dan buruk, dengan hikmah kita menjadi punya arah dalam hidup, dan tidak terombang-ambing. Karena kita punya “insight” melihat peta kehidupan. Melihat hubung kait antar perkara.

Tetapi kadang-kadang, kelirunya kita adalah kita mencari ilmu saja, tetapi lupa bahwa goal-nya ilmu itu adalah hikmah itu sendiri. Akibatnya, kita kadang-kadang berputar di belantara ilmu. Seperti didudukkan dalam perpustakaan dengan segudang buku, bisa semakin mbulet.

Akan tetapi jika kita mengerti bahwa goal-nya adalah hikmah, sedangkan hikmah itu adalah sesuatu yang ditanamkan oleh Allah, maka kita menjadi lebih relax. Tidak kelabakan cari sana, cari sini. Yang kita rasakan dalam hidup adalah interaksi antara kita yang tidak tahu, dengan Pemberi Petunjuk yang bisa menanamkan hikmah pada sesiapa saja yang DIA mau.

Jika hikmah diberi pada kita, ada dua kemungkinan. Pertama, kita dipertemukan dengan data / ilmu pengetahuannya, yang artinya kita diberikan kebijakan lewat kumpulan data-data yang dibukakan pada kita.

Atau…. Kemungkinan kedua, kita menjadi tahu bahwa sebenarnya duduk perkaranya begini begitu, sehingga kita tidak gamang, tetapi kita sampai kepada kebijakan itu tanpa lewat analisa kumpulan pengetahuan atau data-data ilmu. Kita tiba-tiba tahu saja, itulah insight.

Inilah yang sering diperdebatkan para ahli, apakah kebijakan hanya tumbuh dari pengetahuan, ataukah dia bisa pula mekar dari intuisi atau insight? Para arifin, jelas sekali menyatakan bahwa mereka petik hikmah dan kebijakan dari sumbernya, bukan dari tekstual. Hanya saja, dalam menyampaikan kepahaman lewat insight pada khalayak, mau tak mau harus dengan menjabarkan analisa tekstualnya. Bukti-bukti ilmu pengetahuannya.

Ini bukan berarti menafikan tekstual. Karena timbangan segala sesuatu adalah Qur’an dan Sunnah. Akan tetapi apapun saja ilmu tekstual, juga tak komplit dipahami duduk perkaranya tanpa diberikan hikmah kepada sang pembelajar.

Pada akhirnya, teruslah belajar, karena belajar dan mencari pengetahuan itu disunnahkan. Tetapi, tanpa kepahaman bahwa mencari pengetahuan itu semata adalah proses meminta hikmah dari Sang Empunya, pengetahuan kita tak membawa kita kemana-mana.

Diatas orang-orang yang berpengetahuan, ada orang-orang yang memiliki hikmah. Semata tahu tanpa kebijakan / hikmah, kurang berfaedah. Goalnya ilmu adalah hikmah itu sendiri.

Tetapi, hikmah pula masih tangga pertengahan. Di atas orang-orang yang diberi hikmah, adalah orang-orang yang dianugerahi kedekatan padaNya / muqarrabin.

Karena goal terakhir adalah kedekatan itu, maka sejak dari awal saja, carilah ilmu dalam mentalitas meminta petunjuk dari Sang Empunya ilmu.

Mencari DIA, -yang sejatinya tak kemana-mana-

-debuterbang-


References:

[1] https://en.wikipedia.org/wiki/Hikmah

[2] Al-Baqarah : 269

[3] “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahawa Al-Qur’an itu benar, dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahawa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (Surat Fusshilat : Ayat 53).

* ilustration images source

PENDEWASAAN MAKNA-MAKNA

Sampaimu kepada Allah SWT, kata Ibnu Athoillah dalam Al-Hikam, adalah sampaimu kepada pengetahuan tentang-Nya. Karena mustahil DIA disentuh, atau menyentuh sesuatu.

Perbincangan mengenai hal ini sangat menarik di kalangan para alim. Apakah Allah SWT bisa dicapai secara harfiah? Artinya jika dikatakan “kita melihat Tuhan” itu apakah betul-betul melihat seperti fisikal mata kita melihat bunga? ataukah melihat itu maksudnya secara ma’nawi? -ini kita bicara mengenai di dunia saat kita hidup sekarang ini ya, perdebatan mengenai di akhirat biarlah para ahli yang membahas-

Saya pribadi sependapat, dengan kalangan arif yang menilai bahwa Allah SWT tidak dapat dicapai oleh pengelihatan mata fisikal. Dan rasanya aforisma Ibnu Athaillah sudah sangat cantik merangkum hal tersebut, menurut beliau, sampainya seseorang kepada Allah SWT itu adalah sampainya kita pada pengetahuan tentang-Nya. karena dzat-Nya tak bisa disentuh / tak dapat digapai.

Seperti Musa a.s yang pingsan saat meminta melihat-Nya secara fisikal. Dan saya setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa saat Mi’raj Rasulullah SAW tidaklah melihat Allah dalam arti melihat secara fisikal dengan mata kepala ini.

Maka “melihat-Nya” itu, secara sederhana bisa kita katakan adalah ma’nawi. Bukan arti harfiah dengan mata lahir. Spektrum warna saja tak semua bisa dilihat mata manusia, apalagi Tuhan.

Jika kita tidak bisa melihat dzat-Nya secara harfiah, berarti perjalanan manusia untuk mema’rifatiNya mengenali-Nya di dunia ini, adalah perjalanan pendewasaan makna. Mendewasanya cara pandang manusia mengenali-Nya. karena ini semua adalah hal yang ma’nawi.

Dalam mendewasakan “makna” ini, saya barulah benar-benar mengerti maksud seorang arif yang mengatakan ada pendekatan pintu depan dan pendekatan pintu belakang. Pendekatan dari pintu depan inilah yang harus dipagari adab “Menyifati-Nya dengan sifat yang layak bagi-Nya.” Agar tidak keliru adab.

Siang tadi, istri saya menyuapi anak saya makan. Saya baru menyadari perbedaan istri saya dan saya. Istri saya akan tidak kenal lelah memaksa anak saya makan. Meskipun anak saya enggan. Meskipun anak saya berlari bermain-main. Kadang-kadang malah nasinya ditambahi lagi kalau sudah habis. Semua itu dilakukan karena rasa sayangnya sebagai seorang ibu. Kalau saya sih, sudah nyerah kalau anak saya mbadung dan lari kesana-sini, hahahaha.

Dalam pandangan anak saya yang masih kecil, sikap istri saya ini dilihat sebagai “memaksa”.

Istri saya, akan keliru dipahami anak saya; dianggap sebagai “pemaksa” jika anak saya hanya melihat satu sisi saja.

Anak saya, akan berubah pandangannya terhadap istri saya, setelah melihat sisi lain dimana istri saya sering sekali membelikan anak saya mainan. OOhhhh, ternyata mama baik sekali, fikirnya.

Ini salah satu cara “memandang”.

Agar tak keliru menilai, maka melihat sisi yang dianggap baik, yang ternyata sisi yang dianggap baik itu lebih banyak daripada sisi yang dianggap tidak baik.

Tentu ini cuma pengibaratan saja. Yang tidak terlalu tepat.

Kenapa anak saya harus melihat sisi baik yang lebih banyak ketimbang sisi yang dia pahami sebagai tidak baik itu? karena baru makna sebatas itu yang dimengerti anak saya. Cara memandang di atas itu, belum “termakan” oleh anak saya.

Cara memandang diatas itu misalnya dengan merubah paradigma, bahwa prasangka jika seorang ibu tidak baik saat memaksa anaknya untuk makan; itu keliru. Karena di dalam pemaksaan itu ada kebaikan. Ini makna atau pengenalan yang lebih tinggi lagi. Bahwa di dalam sesuatu yang dianggap buruk, ada greater good. Kebaikan yang lebih besar.

Makna seperti ini, belum bisa dicerna anak balita. Seiring dengan pendwasaan diri, maka anak balita tumbuh besar dan bisa memandang dengan makna yang lebih dewasa.

Di atasnya ada lagi, baik dan buruk itu hanya pandangan manusiawi yang terbatas. Manusiapun memandang dari norma-norma yang Tuhan tentukan atau ajarkan pada manusia. Jadi sesungguhnya dari sisi-Nya tak ada baik dan buruk. Semua itu hanya af’al saja.

Di atasnya ada lagi. dibalik semua keriuhan af’al, sebenarnya hakikatnya adalah dzat-Nya saja. semua itu hanya sifat-sifat. (Untuk hal ini dibahas tuntas oleh Ust. Hussien Abd. Latiff)

Kurang lebih ternyata begitulah perjalanan hidup manusia. Perjalanan membenahi prasangka kita sendiri. Bahkan para wali tidak sampai pada melihat secara fisikal. karena ada suatu hadits yang mengatakan bahwa siapa terpandang dzat akan binasa.

Tetapi yang membedakan kita dan mereka adalah kedewasaan pandangan itu.

Dari sinilah baru saya mengerti sebuah ungkapan bahwa istiqomah lebih berharga dari seribu qaromah. Seperti disebutkan dalam Surat Kahf : 110 yang artinya : “…… barangsiapa mengharapkan perjumpaan dengan Rabb-nya, maka lakukan amal shalih, dan jangan menyekutukan-Nya…”

Karena, setinggi apapun tingkat spiritualitas seseorang / karomah, sebenarnya apapun saja yang dipandang mereka adalah “bukan Tuhan”, dalam artian pengelihatan spiritual, kasyaf, atau apapun itu yang didapat para wali adalah semua ketersingkapan akan makhluk.

Mungkin melihat dimensi yang lebih tinggi. Mungkin melihat dimensi rendah. Wallahu’alam karena kita sepakati bahwa melihat-Nya -di dunia ini- adalah melihat-Nya secara maknawi, DIA tak dicapai oleh pengelihatan mata.

Dan seperti ungkapan Ibnu Athoillah pertama di atas tadi, pengelihatan secara maknawi itu adalah sampainya kita pada pengetahuan tentang-Nya. Maksudnya, pengenalan yang mendewasa. Mengertinya kita akan makna-makna itu.


*) Image sources 

PRASANGKA PARA LARON

laron_lampu_api

Mata sulit terpejam, karena sepanjang jalanan sore tadi macet lumayan parah, walhasil saya sempat tertidur cukup lama di shuttle bus kantor, kantuk tak datang-datang malam ini.

Sembari rebah, saya melihat potongan-potongan video klip America’s got talent. Dan satu per satu penampilan dari para kontestan membuat saya berdecak kagum. Mereka begitu berani tampil. Kekaguman datang terlebih lagi, lewat sepotong kecil jendela YouTube kita bisa melihat betapa banyak keragaman tingkah polah manusia dicipta oleh Tuhan.

Sembari menonton, selayang ingatan tiba-tiba membawa saya kembali pada moment tadi siang. Di kantor, Manager memanggil saya ke ruangannya, dan bertanya, apa yang ingin saya lakukan dalam dua atau tiga tahun mendatang?

Pertanyaan mengenai rencana jangka panjang selalu membuat saya kesulitan. Sungguh saya tak tahu apa yang akan saya lakukan ke depan.

Karena melihat bagaimana saya berjalan sampai pada titik ini saja, saya menyadari begitu banyak plot takdir yang membawa saya.

Tetapi toh saya tetap harus menjawab. Saya menghargai manager saya, yang bertanya sekaligus coaching alias memberi wejangan dalam kapasitas beliau sebagai seorang bos. Okelah, sebagai bentuk penghargaan maka saya jawab bahwa saya punya plan akan begini begitu…… saya menjelaskan.

Sepanjang jalan pulang saya bertanya dalam hati. Bagaimana kaitannya antara berkecimpung dalam kehidupan, dan memahami kehidupan sebagai plot-Nya Tuhan?

Tiba-tiba saja, saat menonton sesi America’s got talent malam ini, betapa saya seperti menemukan benang merahnya dari pertanyaan saya sendiri tadi pagi.

Entah bagaimana, melihat orang-orang tampil dengan anggun dan indah pada ajang bakat itu membuat saya ingat pada Yusuf a.s. yang menawarkan diri menjadi bendahara kerajaan.

Angkatlah saya menjadi bendahara kerajaan, karena sesungguhnya saya orang yang jujur lagi dapat dipercaya, kurang lebih begitu kata Yusuf a.s. Apa sebenarnya yang ada di pikiran Yusuf a.s berkata seperti itu? Pamrihkah Yusuf? Sombongkah?

Jawabannya saya dapatkan malam ini. Jikalah kita, saat melihat keragaman pada ajang America’s got talent saja, bisa trenyuh menyadari bahwa Tuhan menciptakan keragaman yang tak habis-habis karena DIA hendak unjuk kehebatan diriNya sendiri. Tuhan mencipta, menggelar karya agar lewat makhluk-Nya kita melihat ke-maha-an-Nya. Apatah lagi level Nabi?

Barulah saya mengerti, dalam pandangan seperti itulah, Yusuf a.s menawarkan diri menjadi bendahara kerajaan. Kepahaman bahwa pagelaran ini tentang-NYA. Maka orang yang arif mengetahui pula bahwa berkecimpungnya mereka dalam tugas-tugas, sejatinya hanyalah ikut jadi part of the game. bagian dari pagelaran. Mereka sendiri tidak pernah menjadi sentralnya.

Ada cerita terkait, tentang porsi-porsi dalam pagelaran. Suatu ketika Syams Tabriz datang ke kota tempat Rumi berada, lalu secara kebetulan berpapasan pada sebuah perpustakaan. Bertanyalah Tabriz pada Rumi, “apa yang kau cari?” katanya.

Rumi menjawab sekenanya, “Sesuatu yang kau takkan mengerti,” jawab Rumi.

Mendengar jawaban Rumi, Syams Tabriz lalu melemparkan setumpuk buku pada sebuah kolam kecil di dekat mereka. Terburu-buru Rumi bergerak menyelamatkan buku-buku itu. Kagetlah Rumi, setelah dia mengambil buku-buku itu dari kolam, ternyata buku-buku itu tidak basah sama sekali.

“Apakah ini??” Tanya Rumi pada Syams.

“Sesuatu yang kau tak akan mengerti.” Jawabnya.

Lepas perkenalan pertama itu, Rumi akhirnya sering berdiskusi dan berguru pada Syams Tabriz.

Pertanyaan sederhana terbetik di hati saya….secara spiritual, siapakah yang kira-kira lebih tinggi. Adakah Syams atau Rumi? Kononnya mereka saling berguru, tetapi setelah bertemu dengan Syams Tabriz-lah Rumi begitu tercerahkan dan menulis begitu banyak esai dan puisi.

Barangkali Syams lebih mumpuni dari Rumi….mungkin….. Tetapi Rumi pula dikenang khalayak karena kontribusi tulisan-tulisannya yang mencerahkan.

Rumi ada porsinya sendiri. Syams Tabriz ada porsinya sendiri.

Tetapi apakah semua ini tentang Rumi, atau Syams Tabriz? Ataukah cerita Yusuf a.s itu semata tentang kecakapan beliau dalam keuangan? Ataukah kisah Dawud a.s dengan suaranya yang merdu sehingga kononnya angin berhenti bertiup jika beliau bersenandung; itu semata tentang Dawud?

Keindahan dan keragaman yang begitu banyak di sekitar kita, hanya setitik pagelaran dari Yang Menciptakannya.

Barangkali, saya ada pada derajat terendah penyaksian. Dalam golongan orang-orang yang untuk sampai pada trenyuh atas kekuasaan Tuhan; mereka harus memasukinya lewat pintu kekaguman pada ciptaanNya.

Ada orang-orang yang sudah berada dalam kekaguman pada Tuhannya, tanpa melalui kekaguman mereka pada ciptaan-Nya, tak melewati sebab, dan itu derajat yang sangat tinggi. Tapi tentu saya tak terkejar sampai kesana.

Inilah setitik kekaguman pada keragaman hidup yang kita lihat sehari-hari. Dari rasa kagum dan trenyuh itulah kita mengakrabi Tuhan lewat prasangka yang baik.

Dzat-Nya tidak bisa dikenali. Yang manusia kenali hanyalah af’al atau perbuatan-Nya saja. Ciptaan-Nya saja. Dari melihat af’al, manusia memprasangkai sifat-sifat fi’liyahNya. Maka kekaguman atas sifat-sifat fi’liyah itu memanglah benar seperti perumpamaan laron.

Manusia adalah laron-laron, yang terbang berputar putar mengerubungi cahaya karena merinduiNya. Tetapi laron tidak pernah bisa menggapai cahaya lilin itu. Karena menyentuh lilin itu maka laron terbakar dan hilang.

Akal manusia berputar putar dalam memaknai, dan berprasangka padaNya. Meski kita tahu sejatinya sucilah DIA dari segala prasangka-prasangka kita yang terbatas. Dan kita tidak pernah benar-benar mengerti tentang Dia. Tetapi prasangka tentangnya mesti yang baik.

Dua orang shalih bertemu, yang satu selalu menangis haru karena takut pada Tuhannya. Yang kedua selalu gembira dan ceria.

Yang mengakrabi tuhannya lewat pintu keharuan itu merasakan takut pada Tuhannya. Yang memasuki pintu kegembiraan itu merasakan betapa halusnya pertolongan-pertolongan Tuhannya.

Seseorang bertanya pada Rumi, manakah yang lebih baik diantara keduanya itu?

Kata Rumi, dua-duanya baik, yang paling baik adalah sesiapa yang paling baik sangkanya pada Tuhannya.


* ) Gambar ilustrasi dipinjam dari link ini

MELAMPAUI KERIUHAN KATA-KATA

“Ini adalah untuk yang masih memerlukan kata-kata. Bagi orang yang mampu memahami tanpa kata-kata,” kata Rumi dalam ‘Fihi Ma Fihi’, “apa guna lagi kata-kata untuknya? Langit dan bumi adalah kata-kata bagi yang memahami.”

Masih dalam Fihi Ma Fihi, Rumi melanjutkan “Begitu pula orang yang mampu mendengar dengan suara lirih; apa guna kegaduhan dan teriakan untuknya?”

Indah sekali kata-kata Rumi menggambarkan tingkatan kepahaman dan level-level manusia.

Ada orang-orang, yang masih membutuhkan sebab-sebab. Tanpa “sebab-sebab”, orang itu akan “kesulitan” mengakrabi Tuhan. Karena mereka ada pada level : butuh “kata-kata” agar “makna” bisa dimengerti oleh mereka. Itulah mengapa Tuhan ciptakan sebab-sebab untuk mereka.

Dulu saya pikir saya sendiri yang mengalami kesulitan ini. Ternyata rekan-rekan saya pun banyak yang mengalami. Sekali waktu merasa begitu terguncang karena kesadaran kedekatan pada Tuhan, tapi di kali lain kok seperti kesadaran itu hilang. Rupanya kita-kita adalah orang yang masih hidup dalam keriuhan kata-kata, perlu sebab, tetapi lupa menempatkan diri.

Seharusnya, kita merenungi penciptaan langit dan bumi. Memikirkan tanda-tanda pada segenap ufuk bahkan pada diri kita sendiri. Menyesapi rasa kebersyukuran atas anugerah kehidupan, semisal merasakan anugerah makanan, minuman, rumah. Berlindung kepada Allah atas segala ketakutan, dan meminta pertolongan kepada Allah atas segala keperluan dan hajat, semuanya adalah perumpamaan memahami “kata-kata”.

Lewat kata-kata itu, “makna” akan sampai, rasa kedekatan, kebersyukuran, rasa “fakir” akan sampai lewat riuhnya kata-kata dalam hidup.

Ada orang-orang, yang tanpa perlu sebab-sebab dan “kata-kata” dia langsung paham.

Segolongan orang dianugerahi kemuliaan untuk langsung “merasakan” trenyuh dan hidup dalam pengaturan Tuhan, tanpa perlu mengkaji bukti.

Merekalah orang-orang yang menurut Rumi, kata-kata tak penting bagi mereka. Dalam bahasanya Buya Hamka mengikut Dzun Nun Al Mishri, inilah orang-orang muqarrabin. Didekatkan, tanpa perlu sebab. Ujug-ujug, langsung merasakan kedekatan pada Tuhan.

Akan tetapi mayoritas manusia adalah golongan awam dan paling banter golongan hukama, yaitu orang-orang yang merenungi dan mengakrabi Tuhan lewat gejolak hidup atau “kata-kata” dalam hidup mereka.

Itulah mengapa do’a menjadi salah satu jalan yang sangat praktis untuk mendekatkan diri pada Tuhan.

Karena, dengan do’a berarti kita menyeru Tuhan dalam suatu konteks. Entah memuji, meminta tolong, bersyukur, mohon ampun, semua kan dalam konteks? Darimana kita dapat konteks? Dari hidup kita sendiri. Itulah “kata-kata”. Itulah “keriuhan”.

Meskipun, dengan berdo’a itu masih ada “diri” kita. kita berdo’a dalam konteks orang yang butuh rizki. maka Tuhan tertampil dalam citra Sang Maha Kaya; pada kesadaran kita. ini tak terelakkan. Tetapi ini pun baik dan tercontohkan. Lumrah pada maqomnya.

Jika kita adalah orang yang dimaksud Rumi, yaitu orang “yang paham tanpa kata-kata”, orang yang bisa “mendengarkan suara yang lirih,” maka kita tak akan mencari-cari sebab. Buat apa mencari sebab, sedangkan “rasa” kedekatan itu sudah nemplok selalu. Dekat kepada Tuhan tanpa konteks sebab-sebab.

Tetapi jika kita bukan golongan itu, maka dunia yang riuh, atau kumpulan kata-kata dalam hidup kita adalah hadiah “pintu masuk” bagi golongan ini. Seorang arif mengatakan, kesulitan hidup sejatinya anugerah.

Dalam kelapangan; bersyukur. Dalam kesempitan; meminta tolong. Dalam kesalahan; bertaubat.

Memang riuh. Tapi lewat dunia yang riuh itu makna kita dapat.

PAGI YANG ADIL

Agak mengagetkan saya sebenarnya mengenai “Rumi”. Tadinya saya tak seberapa banyak mengikuti tentang Rumi. Saya pikir “ini opo toh kok nari muter-muter”.

Sampai saat saya membaca buku yang tergeletak masih dibungkus plastik, hasil dari berburu di islamic book fair berapa waktu silam, maka pandangan saya tentang Rumi berubah.

Dikatakan dalam pengantar salah satu buku Rumi, yaitu “Fihi Ma Fihi”, ternyata rumi menari-nari itu hanyalah ada pada fase penghujung perjalanannya.

Rumi adalah ahli fikih, ulama dari Mazhab Hanafi. Hal ini mengingatkan saya bahwa Ibnu Athaillah pun adalah punggawa Mazhab Maliki, yang dikemudian hari menjadi seorang arif. Bedanya, kalau Ibnu Athaillah tak memiliki galur tasawuf di keturunan beliau kalau saya tak salah, tetapi Rumi dari garis ayahnya memang seorang “salik”.

Pada pertengahan jelang akhir hidupnya, Rumi sudah menekuni kehidupan zuhud. Kemudian disanalah dia bertemu dengan seorang arif lainnya bernama syams Tabriz.

Tadinya Tabriz hendak berguru pada Rumi, tetapi pada akhirnya Rumi menyadari bahwa dialah yang lebih banyak berguru pada Tabriz.

Lepas mendapatkan enlightenment alias pencerahan dari diskusi-diskusinya dengan Tabriz itulah, maka Rumi begitu gembira dan kerjanya menari-nari di pasar sambil bernyanyi. Hehehehe.

Melihat Rumi lewat tulisannya, dan Ibnu Athaillah lewat tulisannya, begitu menyenangkan mendapati fakta bahwa ilmu rasa akan menjadi begitu apiknya dijelaskan oleh ahli ilmu lahir pula. Keseimbangan dua keilmuan itu akan menjadi indah. Seperti Imam Ghazali sang Hujjatul Islam.

Kedua, mencermati fakta Rumi, Ibnu Athaillah, dan kisah Ibnu Arabi, saya melihat bagaimana humble dan bersahaja mereka-mereka yang namanya besar di panggung sejarah itu. Mereka berguru pada banyak orang. Dan saling mengisi satu sama lain. Bercerita satu sama lain. Meski satu dan lainnya berbeda approach dalam bagaimana menjalankan sikap zuhud versi mereka.

Ketiga, seringkali apa yang mereka sampaikan, karena halusnya istilah bahasa, disalah mengerti oleh orang-orang setelah mereka. Yang paling pelik adalah istilah wahdatul wujud. Polemik yang begitu panjang. Ada yang ekstrim mengaku menjadi Tuhan, pada sesiapa yang memang berlebihan dengan mengatakan makhluk adalah sama dengan Tuhan, tentu harus kita tinggalkan jauh jauh.

Tetapi para arif besar itu tidak mengatakan seperti apa yang dituduhkan pada mereka. Kesalahpahaman semata karena orang tak mengerti apa yang mereka ceritakan.

Maka itu….. Keempat, belajar dari Buya Hamka, menjadi adil dalam menilai. Orang sekapasitas Buya Hamka pun di penghujung hidup beliau menulis pula sebuah buku yang menjembatani antara ahli ilmu dan ahli rasa. Dan Buya begitu fair menilai yang keliru ya keliru. Yang benar ya benar.

Pada akhirnya, semua cuma cerita.

Seperti kata Rumi, yang maknanya kurang lebih: orang arif akan Tahu bahwa kijang dan harimau hanya gambaran yang dimunculkan. Tak punya wujud sejati.

Secara apik mengenai ini baru saya paham setelah mengikuti kajian yang disusunkan oleh Ust. Hussien. Semua yang bersifat ini adalah mumkinul wujud, yang dimunculkan dari sesuatu yang wajibul wujud, wajib adanya, yaitu dzat-Nya. Keseluruhan alam ini dijadikan satu tetap tak bisa dibandingkan dengan DIA.

Wallahu’alam

-debuterbang-


Gambar ilustrasi dipinjam dari link ini

SPIRITUALITAS BUBUR SUM-SUM

Masjid HidayatullahJajanan favorit di sekolah masa-masa SMA dulu, dengan tak sengaja saya temukan di jalan raya depan Masjid Hidayatullah di Karet Semanggi.

Duduklah saya di penjual makanan kaki lima seberang masjid, usai shalat Jum’at. Menikmati lalu lalang pejalan kaki dan orang-orang yang baru bubaran sholat Jum’at, sambil menikmati semangkuk Bubur sum-sum, sungguh suatu “jeda” yang menyenangkan dari rutinitas yang klise.

Sebenarnya tempatnya tak seberapa nyaman, namanya juga di jalan raya. Tetapi menikmati suasana “jeda” itu, membuat saya berlama-lama dan menunda sejenak agar tak buru-buru menyambangi gedung menjulang di seberangnya, tempat salah satu client kantor kami berada.

Sembari asyik menyeruput Bubur, saya amati para pedagang kaki lima di pinggiran jalanan itu. Sadarlah saya bahwa mereka adalah orang-orang –yang tanpa mereka sadari- menjadi terlatih memaknai bahwa rezeki itu memang dalam genggaman aturan Tuhan. Mereka tiap hari “merasai” bahwa para pembeli jajanan mereka; secara random datang dan pergi dari kerumunan orang-orang. Apa itu namanya kalau bukan “diantar”?

Mereka, para pedagang itu hanya duduk manis saja di pinggir jalan. Setiap ada pembeli yang “mendatangi” terasalah seolah rezeki itu dihantar ke mereka.

Saya teringat pernah disampaikan dalam sebuah ceramah, satu kebiasaan baik pedagang di pasar Jogja –saya lupa pasar yang mana- adalah bersedekah. Mereka bersedekah sebelum berjualan sebagai “pemancing” rezeki. Lalu “bersedekah” pula jika jualannya laku, sebagai bentuk rasa syukur. Karena memahami bahwa ini bukan soal dagang, melainkan soal “menyaksikan pengaturan Tuhan”.

Kadang-kadang, karena terlalu tenggelam dalam kesibukan, kita menjadi lupa bahwa rezeki –termasuk sepaketan di dalamnya, yaitu karir, kantornya dimana, jobnya apa, dll– adalah semua sudah fix dalam kekuasaanNya.

Kalau dalam bahasanya Ust. Hussien, dikatakan bahwa karena natijah atau impact, dari suatu kejadian terasa sangat nyata / jelas, maka sering kita lupa kalau kejadian apapun adalah af’al-Nya. Padahal, masih menurut beliau, menyadari af’al-Nya adalah asas dari ilmu keridhoan. Tanpa kesadaran bahwa kita sedang didalam af’al-Nya, sulit kita untuk ridho.

Ya umpamanya saja saya pribadi. Karena pekerjaan kantor yang begitu bertubi-tubi, dan setiap pekerjaan kadang-kadang memberi sensasi panik yang tersendiri, deadline-lah, tuntutan client-lah, bos-lah, maka kepanikan atau rasa bingung atau rasa capek dan kesal dari pekerjaan itu mencerabuti keilmuan yang kita sudah paham. Lupalah kita bahwa pekerjaan apapun yang sedang kita hadapi; pun adalah af’al-Nya.

Tetapi saya tetap merasa beruntung, untuk telah dipertemukan dalam jeda-jeda kecil di sela-sela pekerjaan yang beruntun itu. Jeda-jeda semacam itulah, yang kadang sepele, hanya makan bubur di pinggir jalan, tapi memberikan kesempatan menengok ulang makna hidup.

Ada segolongan arif, yang makna hidup telah mereka dapati, dan tlah tertanam begitu kuat di hati. Sehingga, cerita apapun saja dalam drama hidup mereka; tak akan menggoyahkan makna yang sudah menancap itu; bahwa semua ini af’al-Nya.

Namun, ada yang seperti saya, kadang-kadang ingat, lebih seringnya lupa. Nah untuk orang-orang yang sering lupa seperti saya ini, maqomnya adalah menikmati cerita hidup sebagai media penghantar makna kembali masuk ke hati.

Kelapangan yang menghantarkan syukur. Atau kesulitan yang menghantarkan rasa “fakir” dan butuh pertolongan Tuhan. Dua-duanya baik, karena yang penting dua-duanya menjadi jalan “pulang”.

Dikatakan oleh seorang guru, yang kurang lebih maknanya adalah : cobalah nikmati rezeki yang didapati sekarang. Misalnya makanan. ingat Allah, dan rasakan benar-benar bahwa  makanan itu adalah pemberian. Sehingga muncul kesadaran dan kita menjadi tune-in lewat rasa syukur. Rasa bahagia.

Adapun maqom di atasnya lagi, adalah para arif yang sudah “sampai”. Bagi yang sudah sampai, kelapangan maupun kesempitan menjadi “tawar”, kalah oleh makna yang memenuhi hati mereka.

Tapi membedakannya sederhana saja, orang yang sudah “sampai” mestilah tidak sibuk mikirin Bubur Sum-sum, seperti saya, hehehehe. Level saya adalah tune-in lewat kebersyukuran atas momen “jeda” dan makan Bubur. Momen dimana hikmah dihantar.

©debuterbang


*) Gambar ilustrasi, diambil dari google street

MEMPERBAIKI MAKNA

Ternyata pertambangan di desa itu sudah “mati”. Kami mengira area pertambangan Cikotok pastilah desanya begitu hidup. Itu sebab kami berharap menumpang menginap pada kepala desa disana. Tiba disana ternyata desanya begitu sepi.

Sudah jauh saya dan seorang rekan berjalan kaki dalam rangka tugas pemetaan lapangan geologi, di area Banten, zaman kuliah dulu. Menumpang menginap dari satu rumah ke rumah lainnya. Dan pemberhentian di Cikotok kami hanya bertemu penduduk desa yang menjadi gurandil -Penambang emas tradisional- beberapa orang saja. Desanya sendiri sudah sangat sepi. Tidak semegah dulu, saat pertambangan masih berjaya.

Ketua RT disana memberikan kami tumpangan. Beliau bukan gurandil, tetapi seorang polisi hutan.

Dan cerita bahwa beliau seorang polisi hutan itu, sangat berkesan bagi saya.

“Anda, dek,” katanya memulai pembicaraan pada suatu malam, “Kalau ditempatkan pada posisi saya, pasti menangis.” ujarnya.

Dari beliau saya mendengar cerita bahwa seorang polisi hutan harus menjaga hutan lindung sekian puluh kali sekian puluh kilometer. Seorang diri. Berbekal peralatan seadanya, dan adu nyali dengan pembalak hutan lindung. Membawa keluarga dan anaknya ditempatkan di pedalaman.

Mengapa cerita ini sangat emosional buat saya? Karena dulu ceritanya sewaktu saya SMP, orang tua begitu berkeinginan menempatkan saya masuk sekolah kehutanan. SMA kehutanan, dengan alasan sederhana bahwa lepas SMA saya bisa langsung bekerja. Salah satunya menjadi polisi hutan.

Selepas prasyarat administratif, selepas kami mengirimkan segala dokumen, nyatanya saya tak lulus.

Saya waktu itu begitu bersedih.

Kesedihan itu membawa kami memaknai dengan macam-macam. Barangkali doa kurang sungguh-sungguh. Atau Tuhan menguji. Atau kurang banyak tahajud. Dan macam-macam.

Hikmahnya baru terbuka setelah saya kuliah. Dan dibawa sendiri melihat langsung kehidupan polisi penjaga hutan. Sebuah pekerjaan mulia, tetapi saya mesti dengan jujur mengakui bahwa saya tidak sekukuh itu, untuk menikmati hidup terpencil dalam sebuah hutan lindung, dan bersengketa dengan pembalak hutan.

Kalau saya melihat ulang ke belakang, terlihatlah bagaimana manusia menyifati Tuhan. Memaknai af’al Tuhan.

Sebuah kejadian sederhana bahwa saya tak lulus seleksi sekolah kedinasan, saya maknai dengan macam-macam: Tuhan tak mengabulkan. Saya kurang giat sholat. Tuhan tak suka dengan saya. Tuhan tak memberi jika kita tak meminta dengan terus menerus. Macem-macem.

Sebenarnya, saya sendirilah yang mencitrakan Tuhan seperti itu. Bagaimana kita memaknai hidup, pada gilirannya begitulah citra Tuhan terasakan oleh kita.

Itulah sebabnya, para arif mengatakan, jika kita hendak memandang atau memaknai af’al Tuhan, maka maknailah dengan sifat-sifat yang layak bagiNya.

Anda boleh, melihat Tuhan sebagai yang menyempitkan, tetapi jangan lupa bahwa DIA yang juga melapangkan. Sehingga kesempitan-kesempitan hidup hanya jadi konteks untuk mengakrabi-Nya saja. Bukan membuat hidup berwajah suram.

Sebagaimana anda boleh memberitakan ancaman Tuhan dengan neraka-Nya, tetapi jangan lupa bahwa rahmatNya mendahului murka-Nya. Sehingga segala citra af’al cuma jadi pengingat-ingat untuk kembali.

Tanpa pemaknaan “pintu depan” yang benar, nanti jadi keliru adab dan menyifati yang tidak-tidak kepada Tuhan.

Itu kalau ingin memaknai af’al-af’al yang beragam.

Tetapi di atas itu, ada lagi cara lain. Yaitu menyadari bahwa semua pemaknaan kita atas af’al itu sejatinya hanya persepsi manusiawi yang terbatas. Yang sebenarnya tahu sedetail-detailnya tentang alasan dibalik sesuatu terjadi. Ya DIA sendiri.

Kalau kita begini misalnya….. ada ujian kita sedih, lalu merasa diuji, ada yang frustasi, ada yang memandang keluasan rahmat Tuhan lalu mendatangi Tuhan dalam konteks meminta tolong karena jika DIA menyempitkan, maka sejatinya DIA juga bisa melapangkan.

Tetapi adalagi, orang arif yang kemudian “membiarkan” saja segalanya bergulir atas kehendakNya. Memandang dari belakang.

Bagi mereka, sempit dan lapang itu ndak ada. Hanya persepsi. Persepsi yang dipandang dari kacamata manusiawi yang terbatas.

Semuanya pasti ada hikmah. Biarlah DIA bersendagurau menceritakan diriNya sendiri. Makna dari perbuatan-perbuatan itu, hanya DIA sendiri yang benar-benar mengetahuinya.

Lewat arah mana saja anda memandang, tak apa. Jika af’al-Nya masih begitu membekas di hati, maka pahami bahwa adab “pintu depan” adalah menyifatiNya dengan sifat yang baik bagiNya.

Jika tak lagi membekas sempit dan lapangnya hidup bagi anda,  adabnya adalah tak lagi menyibukkan diri dengan makna-makna. Karena makna-makna itu adalah pandangan dari depan semata


*) gambar ilustrasi saya pinjam dari zedge wallpaper app