APA BEDANYA WACANA PLURALITAS LIBERAL DAN PLURALITAS SPIRITUAL?

Waduh, ini bisa bahaya ini, saya bergumam sendiri sewaktu membaca tulisan seorang anak muda mengenai memaknai keberagamaan, keributan yang sedang laris manis sekarang ini.

Kenapa bahaya? Karena saya seringkali melihat orang yang bermain dalam wacana pluralitas, tetapi mendekatinya “semata” dari sisi filsafat, akan cenderung jatuh pada tahap meremehkan Tuhan. Maka anak-anak muda yang sampai pada kegelisahan mengenai hal itu –pluralitas, keragaman- semoga mereka melangkah lebih jauh melampaui analisa filsafat fikir semata-mata, dan masuk ke kedalaman “rasa” spiritualitas.

Sebenarnya saya tak hendak menulis ini. Dari berapa hari lalu sudah mendesak-desak poin-poin mengenai ini terfikirkan, tetapi saya tahan menuliskannya….karena apalah gunanya?

Qadarullah, sore ini seorang rekan bertanya kepada saya tentang satu hal yang benang merahnya sama persis, jadi bismillah saja saya tuliskan, semoga bermanfaat.

Menerima keragaman, dalam pandangan saya, jika semata-mata disandarkan pada filsafat, analisa fikiran, maka seringkali berujung pada “mengecilkan” adab pada Tuhan.

Dengan begitu santai mengecilkan norma dan syariat agama. Karena toh semuanya sama saja. Dan apapun saja keragaman dalam dunia ini, dalam tanda kutip dianggap “benar”. Maka saya sangat tidak sepakat dengan wacana pluralisme yang diusung oleh pemikiran liberal. Karena hilangnya “adab” pada Tuhan, dalam wacana itu.

Akan tetapi, satu hal yang mengherankan saya, semakin menekuni spiritualitas islam, semakin saya menemukan para arif begitu menghargai pluralitas. Lho kenapa ya?

Tetapi…cara mereka menghargai pluralitas berbeda dengan cara para liberal berfikir. Mulanya saya tak paham benar bedanya apa. Tapi sekarang baru saya mengerti.

Bahwa penghargaan terhadap pluralitas, yang terbit dari pemahaman yang mendalam akan spiritualitas agama, akan membuat mereka semakin beradab pada Tuhan.

sepintas sama, tetapi berbeda ujung ke ujung dengan filsafatnya liberal.

Para arif, dalam spiritualitas islam, memahami keragaman sebagai cara Tuhan menzahirkan kehebatanNya sendiri. Dalam lain kata, keragaman merupakan implikasi tak terelakkan dari kemampuan-Nya mencipta.

Jika orang awam memandang orang-orang yang berdosa sebagai kumpulan calon neraka, maka para arif melihat orang-orang pendosa sebagai bukti dari Al-Ghafur, sifat-Nya yang Maha pengampun.

Tanpa terzahirnya para pendosa di muka bumi ini, maka sifat Maha Pengampun-nya Tuhan tak memiliki bukti. Atau dalam lain kata, terzahirnya para pendosa –yang kemudian diampuni- merupakan implikasi tak terelakkan dari sifatNya itu sendiri.

Jika orang awam memandang pendosa dengan kacamata benci. Maka para arif memandang pendosa dengan kacamata yang berbeda.

Akan tetapi, hal itu tidak mengakibatkan mereka menjadi abai akan kewajiban-kewajiban mereka. Semakin seseorang melihat keragaman sebagai cara Tuhan bercerita tentang diriNya sendiri, maka semakin pula orang itu akan dekat dan ber-adab pada Tuhan.

Mereka menyampaikan kebaikan, menyeru pada kebaikan, tetapi mereka tidak merasa bahwa palu hakim pengadilan hisab ; neraka-syurga; ada pada tangan mereka.

Jangankan neraka syurga, Rasulullah SAW sendiri pernah ditegur oleh Allah SWT, karena Rasulullah SAW terlalu duka pada keingkaran kaumnya sendiri.[1]

Mereka menyampaikan kebaikan, karena adab mereka pada Tuhan, tetapi mereka tidak mendaku diri mereka mengetahui rahasia yang lebih besar selain dari sebatas “peranan” yang mereka harus lakukan pada saat sekarang ini. Karena mereka paham bahwa semua ini cerita-Nya sendiri.

Saya teringat, baru-baru ini saya dan beberapa orang rekan berkesempatan mewawancarai kandidat yang ingin melamar masuk ke perusahaan saya bekerja saat ini. Syarat teknisnya jelas, yaitu punya pengalaman bekerja di area panas bumi minimal lima tahun.

Tetapi pada saat wawancara, pertimbangan menjadi begitu kompleks. Ada pertimbangan adab, ini orangnya mature atau tidak saat diwawancara. Stylenya sopan tidak? Lalu ada pertimbangan apakah kira-kira ini orang betulan mau atau tidak bergabung? Lalu pertimbangan teknis lainnya semisal okelah dia punya pengalaman panas bumi, tapi apakah dia punya pengalaman pengeboran laut dalam?

Cobalah bayangkan….untuk urusan masuk sebuah perusahaan saja, tak bisa leterlek. Apatah lagi urusan penghakiman atas keragaman?

Saya pakai contoh “pintu depan”. Apakah orang eskimo masuk neraka? Bagaimana kita bisa menentukan itu? Penghakiman atas itu ada pada keadilan Tuhan. DIA-lah sang hakim yang paling adil.

Allah mengetahui. Apakah dakwah sampai atau tidak pada orang eskimo? Jika sampai apakah orang eskimo tadi menerima atau menolak? Jika menolak apakah dia benar menolak atau karena cara dakwahnya yang tak tepat konteks? Jika memang dia yang menolak; maka apakah dia menolak karena bebal atau karena faktor lain? Jika bebal apakah itu karena faktor keluarga dan sosial masyarakat yang membuatnya bebal? Jika karena faktor keluarga apakah…….

Dan ribuan pertimbangan yang hanya bisa ditetapkan Tuhan sendiri.

Dalam pandangan seperti itulah, maka kita bisa memahami kenapa Rasulullah SAW yang –hanya– berduka, dan menyayangkan kok kaumnya ini ndableg terus, sampe capek didakwahi ga mau dengar; malah beliau ditegur oleh Allah SWT. Itu Rasulullah SAW. Bukan kita.

Karena Allah mengetahui. Karena DIA-lah hakimNya. Karena DIA menzahirkan semua ini untuk menceritakan diriNya sendiri.

Begitulah para arif memandang pluralitas. Lewat sisi spiritualitas yang semakin-makin mempertemukan mereka pada adab. Semakin-makin merasa kecil dan merasa dekat. Semakin-makin tunduk.

Ini berbeda ujung ke ujung dengan filsafat pluralitasnya kaum liberal.

Kalau kaum liberal memperbolehkan segalanya karena bingung mana batasan? Toh buat apa ada batasan kalau semuanya sama?

Para arifin berada pada kutub satunya lagi, memandang semua orang dengan pandangan kasih, akan tetapi tetap mendakwahkan kebaikan yang dirasa perlu, sebatas pandangan manusiawi mereka sesuai yang disyariatkan. karena bukan mereka hakimnya. Dengan cinta. Dengan tanpa menghakimi. Dengan merasakan bahwa “seperti sebuah hadits…. Kalau kita jenguk orang sakit, akan kita dapati orang sakit itu “disisi-Nya”.

Bukan saja pluralitas adalah DIA menzahirkan sifat-sifatNya. Lebih dari itu pluralitas adalah DIA bercerita tentang diriNya sendiri.

Lebih dari itu lagi, para arif mengatakan bahwa dia itu ESA. ESA artinya bahwa sifatNya tak bisa berdiri sendiri lepas dari dzatNya. Bahwa siapa sebenarnya yang berkebaikan itu? dan siapa yang sebenarnya kita beri kebaikan itu??

Itulah yang membuat saya menjadi haru. Dan mendoakan agar siapapun saja yang sampai pada kegelisahan mengenai pluralitas, menemukan tahap selanjutnya yang lebih dari sebatas main-main analisa filsafat.

Masuklah dalam spiritualitas islam. Dan pandanglah pluralitas hidup dari sana. Kita akan menemukan pluralitas sebagai wujud kasihNya, tanpa menjadi bingung dengan peran kita di dunia harus seperti apa.


[1]  “Dan jika perpalingan mereka (darimu) terasa amat berat bagimu, maka jika kamu dapat membuat lobang di bumi atau tangga ke langit lalu kamu dapat mendatangkan mukjizat kepada mereka (maka buatlah). Kalau Allah menghendaki, tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang jahil” QS Al-An’am : 36

*) gambar ilustrasi saya pinjam dari link berikut

MAMANG GEROBAK DAN DIMENSI RASA

Tadi sore anak saya merengek pada saya minta uang dua ribu rupiah. Saya akhirnya memberikannya uang dua ribu rupiah. Untuk apa uang itu?

Ternyata untuk membeli sesuatu dari pedagang keliling yang membawa pernak-pernik jualan anak-anak. Anak-anak di komplek menyebutnya “mamang gerobak”.

Di dalamnya ada macam-macam, ada kuncir rambut, ada bando, ada mainan, ada pistol air, sticker anak-anak, mainan slime yang lagi trendi, sampai boneka barbie tiruan.

Dalam seminggu pasti ada saja anak saya dan teman-temannya membeli mainan di pedagang gerobak itu. Kuncir rambut saja entah sudah berapa biji, belum lagi bando-nya.

Tapi tiba-tiba yang menarik adalah saya menjadi tersadar, bahwa mamang gerobak ini analogi yang pas untuk membahasakan tentang perjalanan “fikir” dan kemudian masuk pada kedalaman “rasa”. Tentu kita tahu perumpamaan ini tidak ideal, maha suci Allah dari perumpamaan, ini hanya upaya mendekatkan pemahaman saja.

Mendekati Tuhan, dengan analisa fikir, itu seumpama kita membeli barang pada mamang gerobak lalu asyik bercerita dan menganalisa barang itu.

Kita membeli jajanan pada mamang gerobak, lalu kemudian asyik menganalisa jajanan itu, entah bandonya keren, entah mainannya elok, pistol-pistolannya yahud dan sebagainya, akan menghantarkan kita pada bukti-bukti.

Segenap bukti-bukti yang ada itu, akan berujung pada kesimpulan bahwa mamang gerobak itu ada, mamang gerobak itu tadi lewat sini, jualan mamang gerobak itu komplit, jualan mamang gerobak itu bagus-bagus.

Sebanyak-banyaknya kita membeli jajanan mamang gerobak, dan menganalisanya, jika berhenti sebatas itu saja, kita tidak bisa masuk pada “kedekatan” yang lebih bersahabat pada mamang gerobak.

MELAINKAN, kita duduk dan berbincang dengan mamang gerobak. Kemudian menanyakan kabarnya. Kemudian berdiskusi tentang harinya. Dan seterusnya.

Membeli jajanan mamang gerobak, dan menganalisanya, hingga sampai pada bukti-bukti tentang keberadaan mamang gerobak dan mengagumi kekomplitan jajanan yang dibawakan mamang gerobak, itu analog dengan ulul albab.

Orang yang duduk, berdiri, tidur, sembari “merenungkan” tentang penciptaan langit dan bumi, kemudian sampai pada kesimpulan bahwa betapa Allah itu luar biasa. Maha suci DIA.[1]

Jangan salah lho ya, levelan ulul albab atau ahli renungan ini sangat-sangat keren. Lewat kemampuan analisanya, mereka sampai pada bukti-bukti tentang kehebatan Tuhan. ini ciamik sekali. Dzikir dan merenungi ciptaan-Nya. ini indah sekali.

Hanya saja, selepas ini –dan alhamdulillah baru saya mengerti sekarang- bukti-bukti yang didapatkan dari khasanah analisa itu tadi, harus menghantarkan orang tersebut masuk ke kedalaman “rasa”.

Kedalaman rasa itu, itulah yang disebut “ihsan”. Bukan saja mengumpulkan bukti bahwa DIA Maha Hebat, melainkan menyesapi rasa dekat dengan-Nya.

Dalam analogi di atas tadi, bukan saja mengumpulkan macam-macam jajanan mamang gerobak, melainkan masuk lebih akrab dan bersahabat dengan duduk bersama mamang gerobak, dan berbincang padanya.

Disinilah kelirunya saya selama ini.

Setiap kali saya merasa ada sebuah ruang kosong di hati saya. Saya berusaha menggenapinya dengan approach analisa. Maka saya menganalisa sesuatu, memikirkan keterkaitan sesuatu itu dengan ke-maha-an Tuhan. Atau saya membaca buku-buku yang menambah kekaguman saya pada Tuhan, dengan menyodorkan bukti-bukti yang lebih banyak lagi, lebih banyak lagi, lebih banyak lagi, lebih banyak lagi.

Jangan keliru, itu memang bagus…..tetapi, harusnya tak berhenti disana. Karena, seperti anak-anak yang membeli jajanan itu. Jika dia membeli jajanan bando misalnya, lalu esoknya membeli kuncir, esoknya membeli sticker, esoknya membeli yoyo, esoknya membeli bandana…. Begitu terus, maka sampai selama-lamanya dia hanya akan “tenggelam” dalam kumpulan bukti, tanpa masuk lebih dalam pada “kedekatan”.

“kedekatan” itu, itulah Ihsan[2].

Ihsan ini, dia menjadi berbeda dengan approach analisa semata. Kalau analisa, kita mengumpulkan bukti empirik dan melihat kuasa Tuhan dari sana. Kalau approach Ihsan, ini sudah mulai lebih tajam sedikit.

Bukan semata analisa empirik, tetapi “menyadari” bahwa segala yang terjadi adalah af’al-Nya. Af’al itu begitu dekat. Perbuatannya berlaku pada kita 24 jam sehari.

Kemudian bukan saja mengingatiNya, tetapi masuk lebih “rasa” pada level seperti komunikasi. Kata seorang guru, cara paling gampang untuk mengingatiNya salah satunya masuk lewat pintu do’a. karena lewat pintu do’a kita punya konteks untuk cerita pada DIA. Konteksnya kebutuhan hidup, dan DIA terpandang sebagai Yang Memberikan apa yang kita butuh.

Lebih tinggi lagi dari itu, seorang guru mengatakan bahwa bukan saja af’al-Nya terpapar pada kita, tetapi af’al yang berlaku terus menerus itu sejatinya bersandar pada dzat-Nya yang Wajibul Wujud. Bahasanya fisika kuantum, yang kita lihat nyata ini hanya hologram. Yang aslinya adalah sesuatu yang undefined. jadi bukan lagi bukti tentang DIA hebat, ya tentu DIA hebat, tapi masuk lebih dalam pada feel kedekatan itu.

Jadi bergerak lebih dalam, masuk ke dalam, dari sekedar mengumpulkan bukti, lalu melangkah ke ranah kedekatan, merasakan DIA hadir dalam setiap jenak hidup. Ini majaz ya, tentu rekan-rekan paham maksudnya.

Jadi, siapa tahu ada rekan-rekan yang merasakan yang serupa. Sudah banyak kita renungkan, sudah banyak kita kaji, kita merasa sudah mengingatiNya, tetapi kenapa seperti masih ada ruang kosong? Seperti ada puzzle yang belum genap?

Nah inilah barangkali puzzle-nya. Karena kita selama ini berhenti setakat mengumpulkan bukti-bukti tentang-Nya, belum masuk pada menyadari kedekatan-Nya.

Sehingga DIA tertampil sebagai yang begituuuuu baik, begitu luar biasa dan hebat; –sebab bukti-bukti yang kita pahami dan kumpulkan-, tapi entah mengapa kita masih merasa DIA sebagai entitas yang begitu jauh dari kita.

Saya masih jatuh bangun memahami ini. Seorang arif mengatakan, diatasnya Ihsan ini, adalah ilmu keridhoan.

Tapi sungguh benar bahwa kita tak bisa menerapkan ilmu keridhoan, tanpa kita memahami af’al-Nya berlaku terus menerus pada kita. Tanpa memahami rasa kedekatan itu.

Wallahu’alam bish shawab.


[1] “Dan orang yang bersungguh-sungguh dalam ilmu pengetahuan mengembangkannya dengan seluruh tenganya, sambil berkata: ‘Kami percaya, ini semuanya berasal dari hadirat Tuhan kami,’ dan tidak mendapat peringatan seperti itu kecuali ulul-albab.” (QS.3:7)

“Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal (ulul albab), (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Ali-‘Imran: 190-191).

“Allahmemberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali ulul-albab.” (QS.2:269)

[2] “……Dia bertanya, ‘Kabarkanlah kepadaku tentang ihsan itu? ‘ Beliau menjawab: “Kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu……” (H.R. Muslim, No.9)

*) gambar ilustrasi saya pinjam dari link berikut ini

Proudly powered by WordPress | Theme: Baskerville 2 by Anders Noren.

Up ↑