ADA BAJU ADA ISI

learningFithrahnya ilmu, memanglah dia akan berkembang. Seumpama air jika tak mengalir dia akan mampat dan berbau karena tergenang. Seperti itu ibarat yang disampaikan Buya Hamka.

Mengenai perkembangan ilmu, kita tahu imam Malik baru lahir di jelang akhir abad ke 1 hijriyah. Tahun 93 H. Disusul kemudian Imam Syafi’I lahir di pertengahan abad ke-2 Hijriyah. Pada tahun ke 150. Sebelum itu, ilmu fikih belum terkodifikasi dengan baik.

Karena ilmu pasti akan berkembang ; sesuai dengan nature-nya, maka beliau-beliau yang fakih kemudian menyusunkan kaidah pengambilan hukum. Dari premis sampai jatuh ke kesimpulannya. Muncullah mazhab fikih. Sebelum mereka, mazhab belumlah ada.

Begitupun pengumpulan hadits, dan pengkategorisasian hadits baru ada di zaman-zaman selepas Rasulullah SAW. Saya tak hapal nama para ahli hadits, tetapi tahunya hanya yang paling masyhur, yaitu imam Bukhari, yang lahir pada akhir abad ke dua, tahun 194 H.

Dalam bidang tasawuf pun begitu. Sebelum abad ke tiga Hijriyah, tasawuf tak dikenali, orang-orang hanya mengetahui faktanya saja, tanpa pengklasifikasian yang terlalu detail bahwa hal itu adalah tasawuf.

Sebutlah misalnya nama zahid besar yaitu Hasan Al Basri yang lahir awal-awal sekali abad ke 1 H. tahun ke 21. Dan nama kondang lainnya yaitu Rabiah Al Adawiyah yang lahir di akhir abad ke 1 H, yaitu tahun 94 H. Juga Sufyan At Tsauri. orang kononnya mengenal mereka sebagai zahid saja, kala itu. Tetapi tasawuf sebagai cabang ilmu belum lagi ada.

Jadi, sebagai konsekuensi dari perkembangan ilmu, maka istilah baru akan muncul. Karena disusunkan belakangan. Dari yang awalnya belum terhimpun atau terkodifikasi dengan baik.

Tokoh-tokoh seringkali hadir sebagai respon atas zamannya. Umpamanya para zahid besar seperti Hasan Al Basri dan Rabiah Al Adawiyah, mereka hadir pada zaman dimana kekhalifahan dinasti Umayyah bergelimang hidup dengan gaya hedonis. Maka mereka sebagai antitesis kehidupan materialis.

Yang paling menarik bagi saya adalah melihat kerangka besar perkembangan manusia, bahwa ada orang-orang yang mendekati Tuhan menggunakan analisa fikir mereka, ada yang mendekati Tuhan dengan lebih menggunakan “rasa”. Sebagaimana seorang arif memberi ilustrasi bahwa “berbeda antara ‘tahu’ dan ‘rasa’”.

Lepas abad ke tiga hijriyah. Jurang pemisah antara kalangan ahli rasa atau tasawuf yang muncul sebagai respon dari hidup materialis, dengan kalangan ahli fikir atau fikih menjadi lebar.

Sebagian golongan terlalu mengedepankan “rasa” sehingga melabrak batasan-batasan, sebagian lainnya terlalu mengedepankan analisa premis-premis sehingga keliru memahami bahasa-bahasa halus para arif.

Seorang tokoh besar lagi muncul di pertengahan abad ke-empat, sekitar tahun 449 H, yaitu Hujjatul Islam Imam Ghazali. Yang dengan upaya beliau jurang pemisah kalangan ahli fikir dan ahli rasa bisa diperkecil. Karena beliau ini unik, awalnya beliau adalah seorang ahli fikir dan dosen besar di universitas. Tetapi kemudian mengalami keguncangan jiwanya karena merasakan bahwa selama ini beliau hanya berkutat di analisa fikiran saja. Sedangkan “feel”-nya / sebenar keyakinannya sepertinya belum “dapet”. Maka di akhir hayat beliau, beliau meleburkan diri dalam khasanah tasawuf dan menjadi seorang ahli rasa pula.

Maka beliau mampu berbicara dalam dua “bahasa” yang dimengerti oleh kedua kalangan itu.

Tak ada yang lebih unggul dari fikir dan rasa. Dua-dua penting. Seperti baju yang melindungi isi. Tak ada isi yang bagus tanpa baju. Dan apalah arti baju semata tanpa isi.

Tetapi imam Ghazali itu, hadir di abad ke empat pertengahan. Selepas beliau, kita sekarang ada di tahun 1438 H. jurang antara ahli fikir dan ahli rasa seperti lebar semula.

Padahal dua-duanya saling melengkapi.

Sayapun termasuk yang telat mengerti mengenai approach para arif yang “ahli rasa” ini. Dulunya, saya mengira bahwa kedekatan kepada Tuhan itu semata-mata digapai dengan analisa keilmuan. Maka saya belajar.

Tetapi kok seperti ada yang kurang? Saya belum mengerti dimana puzzle satu lagi yang melengkapi ketimpangan itu? Maka saya semakin belajar dan membaca ini itu.

Tentu itu baik, tak ada yang keliru, tetapi coba kita fikirkan. Kalau selalu mempelajari dan analisa, dari mana harus mulai dan dimana ujungnya?

Misalnya tarikh islam saja kita sudah seribu empat ratus tahun berjalan. Dari seribu empat ratus tahun itu kita sudah mengalami pergantian dinasti kekhalifahan berapa kali. Belum lagi konflik Sunni-Syiah kekhilafahan ganda dinasti fatimiyyah dan abassiyah. Setiap zaman melahirkan tokoh dan ilmunya sendiri sebagai respon atas zaman itu. Dan ilmu semakin berkembang seperti sebatang pohon yang tumbuh bercabang, setiap cabang tumbuh beratus ranting, dan setiap ranting mengeluarkan buah sendiri-sendiri.

Itulah ilmu Allah yang tak akan habis ditulis dengan tinta sebanyak tujuh lautan dan seluruh pepohonan menjadi penannya. Masih belum akan habis.

Yang saya baru sadari, bahwa keseluruhan ilmu itu kalau dirangkum adalah menggenapi “ruang fikir” semata-mata. Artinya, dengan mempelajari ilmu-ilmu itu, maka kita sudah “berbaju”. Satu step sudah kita dapat.

Jika serasa ada ruang kosong dalam hati kita, padahal sudah banyak kita belajar, itu artinya kita belum menggenapi kepingan satu lagi, yaitu “isi”.

Keseluruhan ilmu, ilmu apa saja, cabang manapun saja dari ilmu-ilmu itu. Hanya akan menghantarkan kita sebatas “bukti”. Bukti bahwa Tuhan itu ada. Bukti bahwa Tuhan itu hebat.

Yang mana kita sudah yakin dan percaya bahwa memang Tuhan itu ada, memang Tuhan itu hebat.

Tetapi “feel”-nya, rasa kedekatan itu, tidak bisa digenapi kalau approach ahli rasa tak kita mengerti.

Saya tidak mengatakan bahwa orang yang tak belajar sisi spiritualitas islam tak dekat kepada Tuhan, tentu sangat gegabah pernyataan itu. Banyak orang yang karena tekunnya beribadah, karena murninya hati maka mereka sangat tinggi spiritualitasnya, bahkan tanpa mereka sadari.

Permasalahannya adalah, jarang orang yang bisa mengkompilasikan apa yang mereka paham menjadi step by step yang bermanfaat untuk orang lain ikuti. Dan disinilah peran para arif menjadi sangat penting. Mengajarkan ummat untuk menggenapi keping satu lagi yang hilang dari diri mereka.

Jika para ahli ilmu, mengajarkan kita mengenai serangkaian bukti kekuasaan Tuhan, dari dalil aqli dan dalil naqli. Mengajarkan kita bagaimana norma bersikap dalam masyarakat. Bagaimana tata aturan agama.

Maka para ahli rasa mengajarkan kita bagaimana masuk dalam realita “beribadah seakan-akan DIA benar-benar hadir” atau ihsan. Dan di atasnya lagi, mereka mengajari kita bagaimana melihat hidup seperti drama-Nya.

Yang kuat di analisa fikir harus belajar “rasa”. Yang kebanyakan “rasa” harus belajar ilmunya agar tak melabrak norma-norma. Yang paling ideal adalah dua-duanya kita pelajari. Tak harus menjadi ahli. Meski sedikit, tetapi dua keping pendekatan itu sudah kita sesapi semuanya.

©debuterbang


*) Ilustration image taken from this source

 

 

ORANG-ORANG YANG LUAS HATI

Pagi-pagi anak saya sudah merengek minta ditemani main bulu tangkis di halaman belakang. Terpaksalah pagi-pagi olahraga, padahal maunya leyeh-leyeh males-malesan di hari yang fitri ini, hehehe.

Gara-gara main bulu tangkis, saya jadi teringat  dengan seorang rekan masa kecil dulu. Bukan sobat akrab, tetapi memorable. Namanya Irhas. Dialah rival dalam dunia perbulutangkisan komplek saya.

Tapi sebenarnya dia adalah rival dalam hampir semua perlombaan. Bedanya, saya mengandalkan latihan ala kampung, sedangkan dia ikut klub bulutangkis. Jadi dia adalah expert yang sebenarnya dalam komplek kami, untuk usia anak SD.

Jika ada dia, dipastikan dia juaranya. Saya dan kawan-kawan lain sudah harus puas dengan menjadi nomer kedua setelah dia. Dalam lomba azan juga begitu. Dalam lomba lain-lain juga begitu.

Tetapi satu hal yang saya ingat sekali. Meskipun saya menganggap dia rival, saya sangat mengingati bahwa hampir keseluruhan lomba-lomba yang saya ikuti adalah karena setengah dipaksa atau diajak oleh dia. Bahkan dalam satu dua lomba, dia yang mengajak, dia yang mendaftarkan, dan kalau tak khilaf dia pula yang membayarkan pendaftaran lombanya.

Saya sebenarnya cenderung malas untuk mengikuti hiruk pikuk keramaian, lebih-lebih lomba. Maka ketika tiba-tiba saja saya sudah didaftarkan untuk mengikuti lomba, saya menjadi gamang. Ibu saya memarahi saya, “sudah didaftarkan oleh teman bukannya ikut!”

Karena pusing diomeli di rumah, akhirnya saya ikut juga. Dan setibanya di sana, dia tidak ada.

Rekan saya itu yang memaksa saya mengikuti lomba, dia pula yang mendaftarkan saya, lalu di hari H dia tidak ada.

Karena dia tidak ada, maka sayalah pemenangnya.

Sepulang lomba saya gembira karena saya memenangkan lomba itu, tetapi satu fakta baru disadarkan oleh Ibu Saya, yaitu “sudahlah kamu didaftarkan, terus dia tidak datang, berarti dia memang pengen kamu menang. Kalau dia ada, kamu tidak mungkin menang. Sudah pasti dia yang menang.”

Maka narasi itu terpatri lekat sekali di benak saya. Seorang rekan sekaligus rival, dengan kebaikan hatinya memaksa saya mengikuti lomba, dan menghantarkan saya jadi pemenangnya. Narasi yang begitu heroik.

Sebenarnya saya tak pernah bertanya, dan tak pernah mengkonfirmasi lebih lanjut selepas lomba itu. Kenapa dia tidak datang? Karena selang berapa minggu seingat saya dia pindah ke luar kota. Tetapi saya cukup menghargai narasi kebaikan yang saya percayai itu.

Ternyata ada orang-orang yang bentuk kebahagiaannya adalah jika dia bisa kontribusi aktif menjembatani kesuksesan orang lain.

Orang-orang seperti ini, dalam bahasa sufistik adalah orang-orang yang hilang keakuannya.

Baru kemarin, saya mengamati lini masa Facebook. Dan sebuah video dari Ustadz Abdul Somad lc menggelitik saya untuk menonton. Kisahnya tentang Buya Hamka.

Seorang yang besar hati memaafkan Soekarno yang telah memenjarakan beliau. “Kalau aku mati nanti, minta Hamka untuk memimpin sholat jenazahku” kurang lebih begitu wasiat Soekarno.

Dan Hamka yang luas hatinya itu, memaafkan sekaligus mengimami mensholatkan Soekarno. Begitu juga Hamka memaafkan Pramoedya yang menyerang beliau dengan tulisan-tulisannya kala itu.

Kononnya Pram mengirimkan anak dan menantunya untuk belajar Islam pada Hamka. Begitu cara Pram minta maaf. Dan Buya memaafkan beliau.

Pada orang-orang seperti mereka kita belajar berhati luas. orang-orang yang berhati luas, adalah orang-orang yang hidup melampaui dirinya sendiri.

Dalam banyak kesempatan saya mencoba menjadi orang yang berhati luas. Tapi seringkali gejolak muncul, rasa tak terima dan rasa kurang berkenan muncul. Apakah saya orang yang kurang luhur budi? Saya merenungi.

Saya amati orang-orang yang luas hatinya ini boleh jadi karena memang luhur budinya. Sehingga dia membahagiakan orang lain melampaui dirinya sendiri.

Tetapi kesini-sini saya baru mengerti bahwa terlepas dari bawaan keluhuran budi, orang-orang yang berhati luas juga bisa “terlahir” karena punya pemahaman yang lebih tinggi dari jamaknya orang orang lain.

Seorang Arif mengatakan, bahwa keseluruhan hidup ini digelar untuk DIA menceritakan diriNYA sendiri.

Jika sudah terpatri kepahaman itu dalam diri, maka keakuan akan hilang dengan sendirinya. Pahamlah saya sekarang dimana jurang pemisah saya dan orang-orang yang luas hati itu. Yaitu cara saya memaknai hidup ini.

Saya mengira hidup ini tentang saya, mereka sudah paham bahwa hidup ini tentang DIA.

©debuterbang

Image taken from this source

 

Proudly powered by WordPress | Theme: Baskerville 2 by Anders Noren.

Up ↑