MENJADI BROKER KEBAIKAN

Para pegawai Rumah Sakit, yang merawat istri saya, mereka semua menyemangati istri saya dengan macam-macam gaya.

“Ayo Bu, ibu harus semangat, dilawan rasa mualnya.”

“Ibu harus banyak makan.”

Dan macam-macam cara mereka dalam menyemangati.

Tetapi yang menarik, salah seorang perawat mengatakan bahwa “saya dulu juga pernah begini Bu. Muntah-muntah terus.”

Didalam kontribusi aktifnya menyemangati, dia tidak mendaku dirinya sebagai expert, melainkan menampilkan diri sebagai seorang yang kebetulan pernah juga mengalami masalah serupa.

Saya teringat analogi ini dan kaitannya dengan kontribusi sosial.

Khoirunnas anfauhum linnas, kata Nabi. Sebaik-baik orang adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain.

Kelirunya saya dalam memaknai hal ini adalah karena saya mengira untuk mejadi bermanfaat bagi orang lain (keluar diri) caranya adalah dengan melulu menampilkan citra kesalihan.

Padahal, kita bisa berkontribusi pada masyarakat meski tidak menampilkan diri sebagai seorang yang expert dan ada pada menara gading kebaikan.

Umpamanya, seorang yang pernah dikejar anjing. Lalu dia menyampaikan pada khalayak ramai agar tidak melewati suatu jalan diujung gang tersebut agar tidak dikejar anjing, maka orang tersebut sudah berbuat kebaikan. Meski dirinya tertampil sebagai seorang yang pernah khilaf, bukan tertampil sebagai seorang expert dalam menghadapi anjing gila misalnya.

ibnu Athaillah mengatakan dalam salah satu kata-kata hikmah beliau: ”Siapapun yang mengungkapkan hamparan kebajikan dari dirinya, maka rasa buruk pada dirinya di hadapan Tuhannya akan membungkamnya. Dan siapa yang mengungkapkan hamparan kebajikan Allah Swt kepadanya, maka keburukan yang dilakukan tidak membuatnya terbungkam.”

Kalau ke dalam (internal) kita terus menerus memperbaiki diri. Semakin menghayati hubungan kita dengan Tuhan.

Kalau ke luar (external), bahasa yang tertampil ke masyarakat adalah bahasa kebermanfaatan. Kontribusi. Bukan bahasa kesalihan.

Seperti Rasulullah SAW mengawali dakwah dengan kontribusi aktif ke masyarakat. Jadi orang yang helpfull.

Agaknya ini yang menjadi jawaban kenapa kok saya sering bertemu orang-orang yang bawaannya santai, adem-ayem, penampilan biasa, helpfullll banget kalau sama orang lain, sepintas lalu seperti tak begitu “dalem” tapi ternyata spiritualitas beliau tinggi sekali.

“dalem” di jiwanya, tetapi tertampil “biasa” di luarnya. Hanya saja baeeeeeek sekali pada lingkungan.

Karena mereka-mereka menampilkan keluar dirinya adalah bahasa kebermanfaatan. Khoirunnas anfauhum linnas. Bukan menampilkan betapa soleh dirinya.

Lebih-lebih, mengertilah saya bedanya antara ulama dan mubaligh. Ulama itu adalah beneran expert di bidangnya. Ahli ilmu. Sedang mubaligh itu “penyampai”, broker-lah istilahnya.

Ada orang yang porsinya jadi ulama. Tapi tak harus semua orang jadi ulama.

Tapi level kita ini -saya maksudnya- sudah tentu bukan ulama. Broker masih mungkin. Penyambung lidah.

seorang penyampai, broker, akan menanggung beban berat jika apa yang dia sampaikan dinisbatkan pada dirinya sendiri. Seakan-akan dirinyalah konteks kebaikan itu.

Intinya bagaimana berbuat baik pada sesama makhluk. Ada yang mampu berkebaikan dengan hartanya. Ada yang dengan gaulnya. Ada yang dengan tenaganya. Saya mau mencontoh mereka-mereka kok ya susah ya? Yang paling gampang saya lakukan ya menulis.

Setidaknya dengan menulis ikutan jadi broker. Menempatkan diri sebagai sesama pembelajar, bahwa saya hanya menyampaikan kebaikan yang saya pungut di sepanjang perjalanan, maka mengutip Ibnu Athaillah: dengan ini lidahnya tak akan kelu.

Diri saya memang jelek, tetapi saya bukan cerita tentang diri saya, saya bercerita tentang rahmat Tuhan di sepanjang jalan ini.

©debuterbang

SIFAT-SIFAT DAN KADO IDUL FITRI

 


Berhubung istri sedang sakit dan dirawat di Rumah Sakit yang berdekatan dengan balai kota, maka Qadarullah saya dan anak saya berlebaran di masjid balaikota Depok tadi pagi.

Sembari menunggu waktu sholat, di sela-sela kumandang takbir tahmid dan tahlil pandangan mata saya tertuju pada kaligrafi di ujung pilar-pilar Masjid. Kaligrafi Asmaul Husna. Nama-nama yang husna (baik); bagi Allah.

Tidak terasa air mata meleleh, karena terpahamkan kembali akan kaitan antara memahami af’al Tuhan, dan hubungannya dengan asmaul Husna.

“Memahami bahwa segala yang berlaku adalah af’al-Nya merupakan asas dari ilmu keridhoan”, kata seorang guru. [1]

Pengibaratan tentang asmaul husna –meski pengibaratan ini tak ideal- adalah umpama seorang pemilik kebun.

Pemilik kebun itu memangkas rumput dan bunga-bunga, mencabut sebagiannya, lalu menanam sebagiannya yang lain. Menyiram sebagiannya dan menggemburi sebagiannya yang lain. Membiarkan bagian tengah tanpa pepohonan dan menyuburkan bagian pinggirnya dengan tetumbuhan. Semua perbuatan yang dilakukan pemilik kebun itulah af’al.

“Perbuatan” pemilik kebun, apatah itu memangkas, membiarkan, menanam, mencabut, mengairi, membiarkan, menggunting, dan sebagainya adalah analogi dengan Asmaul Husna. Semua itu sebenarnya adalah cerita tentang “perbuatan” tetapi dikenali manusia secara bahasa sebagai “sifat”. Disebut sifat fi’liyah. Sifat yang menceritakan perbuatan.

Tetapi sifat-sifat itu, tidak berbicara tentang karakter fisik (dzat) pemilik kebun. Memangkas, menggunting, menanam, mencabut, dan sebagainya tidaklah menjelaskan apakah pemilik kebun itu fisiknya tinggi besar? apakah jangkung tapi kurus? Apakah berambut ikal? Tak dijelaskan lewat sifat fi’liyah. Karakter fisik itu disebut sifat dzatiyah.

Begitulah Asmaul Husna, semuanya tentang af’al: Menghidupkan (Al-Muhyi), Mematikan (Al-Mumit), Melapangkan (Al-Baasith), Menyempitkan (Al-Qabidh), Pengasih (Ar-Rahman), Penyayang (Ar-Rahim), semuanya adalah deskripsi perbuatan-Nya (af’al). Bukan deskripsi tentang dzat-Nya.


Perbuatan-Nya bisa dikenali lewat observasi kita terhadap kehidupan, ringkasan maknanya bisa diserap lewat penghayatan akan Asmaul Husna. Tetapi…..seperti apa sebenarnya dzatNya?? Akan tetap misteri, karena DIA tak memberikan clue atau petunjuk tentang seperti apa DIA. Laisa Kamislhi Syaiun.

“Dan bagi Allah itu, nama-nama yang baik, berdoalah dengannya (dengan menyebut nama-nama yang baik itu)” (Terjemah QS Al-A’raf : 180)

Setiap kali kita menghadapi gelombang hidup. Lalu kita berdoa. Maka sebenarnya kalau direnungi lebih dalam, kita berdoa itu sebenarnya kita menghayati Asmaul Husna. Umpamanya kita kesulitan rezeki untuk bayar hutang, lalu kita berdo’a, maka itulah kita sedang mengakrabi-Nya dengan konteks DIA sebagai yang punya af’al Memberi Rizki.

Allah “tertampil” sebagai citra yang maha memberi rizki. Karena kita mendekatinya sebagai seorang yang fakir dan butuh akan rezeki.

Yang patut diperhatikan adalah, seperti apa mentalitas kita mendatangi-Nya, seperti itulah citra sifat fi’liyah-Nya akan terasa oleh kita.

Maka perlu kita hati-hati dalam “menyifati-Nya”. Maka adab kita adalah jangan menyifatiNya dengan sifat yang tak layak bagiNya.

Umpamanya, contoh yang klasik yaitu dua orang yang ada di tempat yang sama. Yang satu tukang cendol, yang satu petani. Hari hujan. Bagi penjual cendol hujan itu seperti musibah, padahal bagi petani hujan itu dianggap anugerah.

Umpamanya, tukang cendol misuh-misuh saat hujan. Membenci Tuhan dengan mengira Tuhan menghinakan diriNya. Artinya sebenarnya dia sendiri yang memandang Tuhan lewat kacamata itu. Keliru menyifati Tuhan. padahal dia bisa mendekat kepada Tuhan lewat rasa butuh akan rizki. Kalau dia paham bahwa hujan adalah af’al Tuhan, maka dia akan punya konteks yang sangat kuat untuk berdoa pada Tuhan. karena af’al Tuhan terlihat jelas dalam kehidupannya itu.

Mengenali hidup sebagai af’al Tuhan, dan menyifatiNya dengan sifat yang “baik” atau husna adalah adab “pintu depan”.

Jadi pengenalan akan af’al Tuhan ini penting sekali. Hemat saya, inilah maksudnya dari sebuah hadits yang mengatakan siapa yang “hafal” asmaul Husna, maka baginya syurga. Tentu bukan hafalan saja. akan tetapi menggunakan citra yang baik itu dalam berdo’a. Dalam mengakrabiNya.

Misalnya, dalam sakit, kita menyadari bahwa sakit pun af’al DIA. Lalu mendekatiNya dalam mentalitas seorang pesakit yang butuh kesembuhan, maka DIA terpandang sebagai Yang Maha Menyembuhkan. Sedang butuh rizki, maka DIA terpandang sebagai Yang Maha Kaya. Dan begitu seterusnya. Setiap apapun saja dalam hidup sekarang termaknai sebagai af’al Tuhan.

Tetapi sayangnya, kita –utamanya saya sendiri- sering lupa bahwa hidup ini diasuh oleh af’al-Nya. Maka kita urung mendekatiNya lewat konteks hidup. Karena lupa pada af’al-Nya.

Di atas tingkatan yang kita bicarakan tadi, adalah level orang-orang yang sudah “tidak perduli” dengan apapun af’al af’al Allah yang berlaku lada dirinya. Ingatan mereka selalu terpaut padaNya. Mereka “lebur”. Karena itu apapun saja adalah af’al-Nya, maka mereka ridho. Seperti Ibrahim a.s yang bahkan saat hendak dilempar ke pusaran api oleh Namrud, dia diam saja.

Seperti Saad Bin Abi Waqqash yang doanya makbul, tetapi tak meminta kesembuhan pada Allah atas kebutaan matanya di penghujung usia beliau.

Yang pertama itu (mengenali hidup sebagai af’al-Nya, dan berdo’a mendekati-Nya dengan pemaknaan akan af’al itu) disebut juga “ihsan”. Beribadah seakan-akan DIA benar-benar hadir. Karena paham bahwa semua lini hidup kita adalah af’al-Nya.

Yang kedua itu (setelah paham semua ini af’al-Nya, mereka menjadi ridho dan pasrah atas apapun saja yang berlaku dan tenggelam dalam ingatan padaNya), sering dikatakan sebagai “lebur”.

Dimana kita berada?

Secara jujur tengoklah ke dalam hati? Adakah gelisah dan rasa butuh? Jika ada, seratus persen kita butuh mendekatiNya lewat adab pintu depan. Berdoalah, dan sadari af’al-Nya berlaku dalam hidup dan kebutuhan kita itu. [2]

Jika sudah tak lagi diombang ambing hidup, dan rasa relax karena ridho, maka tanpa perlu ditanya tentu anda ada di level berikutnya itu. Yaitu orang-orang yang sibuk mengingatiNya, sampai lupa meminta.

Tapi itu, buat saya pribadi terlalu tinggi, dan secara jujur saya katakan saya begitu jauh dari situ.

Yang pokok bagi saya pribadi adalah belajar menyadari semua dalam hidup ini adalah af’al-Nya. Dan banyak-banyak berdo’a sebagai jalan mendekat padaNya. Mengakrabinya lewat pintu depan dan menyifatiNya dengan sifat-sifat yang baik.

Omong-omong, selamat hari raya idul fitri. Mohon maaf lahir dan batin ya…..

©debuterbang


[1] Al Arif, Ust. H. Hussien Abdul Latiff

[2] kajian yang lebih dalam adalah bahwa af’al-Nya tak lepas dari DzatNya. Silakan belajar langsung pada ahlinya. Saya bukan yang kompeten membahas itu.

Proudly powered by WordPress | Theme: Baskerville 2 by Anders Noren.

Up ↑