ADA BAJU ADA ISI

learningFithrahnya ilmu, memanglah dia akan berkembang. Seumpama air jika tak mengalir dia akan mampat dan berbau karena tergenang. Seperti itu ibarat yang disampaikan Buya Hamka.

Mengenai perkembangan ilmu, kita tahu imam Malik baru lahir di jelang akhir abad ke 1 hijriyah. Tahun 93 H. Disusul kemudian Imam Syafi’I lahir di pertengahan abad ke-2 Hijriyah. Pada tahun ke 150. Sebelum itu, ilmu fikih belum terkodifikasi dengan baik.

Karena ilmu pasti akan berkembang ; sesuai dengan nature-nya, maka beliau-beliau yang fakih kemudian menyusunkan kaidah pengambilan hukum. Dari premis sampai jatuh ke kesimpulannya. Muncullah mazhab fikih. Sebelum mereka, mazhab belumlah ada.

Begitupun pengumpulan hadits, dan pengkategorisasian hadits baru ada di zaman-zaman selepas Rasulullah SAW. Saya tak hapal nama para ahli hadits, tetapi tahunya hanya yang paling masyhur, yaitu imam Bukhari, yang lahir pada akhir abad ke dua, tahun 194 H.

Dalam bidang tasawuf pun begitu. Sebelum abad ke tiga Hijriyah, tasawuf tak dikenali, orang-orang hanya mengetahui faktanya saja, tanpa pengklasifikasian yang terlalu detail bahwa hal itu adalah tasawuf.

Sebutlah misalnya nama zahid besar yaitu Hasan Al Basri yang lahir awal-awal sekali abad ke 1 H. tahun ke 21. Dan nama kondang lainnya yaitu Rabiah Al Adawiyah yang lahir di akhir abad ke 1 H, yaitu tahun 94 H. Juga Sufyan At Tsauri. orang kononnya mengenal mereka sebagai zahid saja, kala itu. Tetapi tasawuf sebagai cabang ilmu belum lagi ada.

Jadi, sebagai konsekuensi dari perkembangan ilmu, maka istilah baru akan muncul. Karena disusunkan belakangan. Dari yang awalnya belum terhimpun atau terkodifikasi dengan baik.

Tokoh-tokoh seringkali hadir sebagai respon atas zamannya. Umpamanya para zahid besar seperti Hasan Al Basri dan Rabiah Al Adawiyah, mereka hadir pada zaman dimana kekhalifahan dinasti Umayyah bergelimang hidup dengan gaya hedonis. Maka mereka sebagai antitesis kehidupan materialis.

Yang paling menarik bagi saya adalah melihat kerangka besar perkembangan manusia, bahwa ada orang-orang yang mendekati Tuhan menggunakan analisa fikir mereka, ada yang mendekati Tuhan dengan lebih menggunakan “rasa”. Sebagaimana seorang arif memberi ilustrasi bahwa “berbeda antara ‘tahu’ dan ‘rasa’”.

Lepas abad ke tiga hijriyah. Jurang pemisah antara kalangan ahli rasa atau tasawuf yang muncul sebagai respon dari hidup materialis, dengan kalangan ahli fikir atau fikih menjadi lebar.

Sebagian golongan terlalu mengedepankan “rasa” sehingga melabrak batasan-batasan, sebagian lainnya terlalu mengedepankan analisa premis-premis sehingga keliru memahami bahasa-bahasa halus para arif.

Seorang tokoh besar lagi muncul di pertengahan abad ke-empat, sekitar tahun 449 H, yaitu Hujjatul Islam Imam Ghazali. Yang dengan upaya beliau jurang pemisah kalangan ahli fikir dan ahli rasa bisa diperkecil. Karena beliau ini unik, awalnya beliau adalah seorang ahli fikir dan dosen besar di universitas. Tetapi kemudian mengalami keguncangan jiwanya karena merasakan bahwa selama ini beliau hanya berkutat di analisa fikiran saja. Sedangkan “feel”-nya / sebenar keyakinannya sepertinya belum “dapet”. Maka di akhir hayat beliau, beliau meleburkan diri dalam khasanah tasawuf dan menjadi seorang ahli rasa pula.

Maka beliau mampu berbicara dalam dua “bahasa” yang dimengerti oleh kedua kalangan itu.

Tak ada yang lebih unggul dari fikir dan rasa. Dua-dua penting. Seperti baju yang melindungi isi. Tak ada isi yang bagus tanpa baju. Dan apalah arti baju semata tanpa isi.

Tetapi imam Ghazali itu, hadir di abad ke empat pertengahan. Selepas beliau, kita sekarang ada di tahun 1438 H. jurang antara ahli fikir dan ahli rasa seperti lebar semula.

Padahal dua-duanya saling melengkapi.

Sayapun termasuk yang telat mengerti mengenai approach para arif yang “ahli rasa” ini. Dulunya, saya mengira bahwa kedekatan kepada Tuhan itu semata-mata digapai dengan analisa keilmuan. Maka saya belajar.

Tetapi kok seperti ada yang kurang? Saya belum mengerti dimana puzzle satu lagi yang melengkapi ketimpangan itu? Maka saya semakin belajar dan membaca ini itu.

Tentu itu baik, tak ada yang keliru, tetapi coba kita fikirkan. Kalau selalu mempelajari dan analisa, dari mana harus mulai dan dimana ujungnya?

Misalnya tarikh islam saja kita sudah seribu empat ratus tahun berjalan. Dari seribu empat ratus tahun itu kita sudah mengalami pergantian dinasti kekhalifahan berapa kali. Belum lagi konflik Sunni-Syiah kekhilafahan ganda dinasti fatimiyyah dan abassiyah. Setiap zaman melahirkan tokoh dan ilmunya sendiri sebagai respon atas zaman itu. Dan ilmu semakin berkembang seperti sebatang pohon yang tumbuh bercabang, setiap cabang tumbuh beratus ranting, dan setiap ranting mengeluarkan buah sendiri-sendiri.

Itulah ilmu Allah yang tak akan habis ditulis dengan tinta sebanyak tujuh lautan dan seluruh pepohonan menjadi penannya. Masih belum akan habis.

Yang saya baru sadari, bahwa keseluruhan ilmu itu kalau dirangkum adalah menggenapi “ruang fikir” semata-mata. Artinya, dengan mempelajari ilmu-ilmu itu, maka kita sudah “berbaju”. Satu step sudah kita dapat.

Jika serasa ada ruang kosong dalam hati kita, padahal sudah banyak kita belajar, itu artinya kita belum menggenapi kepingan satu lagi, yaitu “isi”.

Keseluruhan ilmu, ilmu apa saja, cabang manapun saja dari ilmu-ilmu itu. Hanya akan menghantarkan kita sebatas “bukti”. Bukti bahwa Tuhan itu ada. Bukti bahwa Tuhan itu hebat.

Yang mana kita sudah yakin dan percaya bahwa memang Tuhan itu ada, memang Tuhan itu hebat.

Tetapi “feel”-nya, rasa kedekatan itu, tidak bisa digenapi kalau approach ahli rasa tak kita mengerti.

Saya tidak mengatakan bahwa orang yang tak belajar sisi spiritualitas islam tak dekat kepada Tuhan, tentu sangat gegabah pernyataan itu. Banyak orang yang karena tekunnya beribadah, karena murninya hati maka mereka sangat tinggi spiritualitasnya, bahkan tanpa mereka sadari.

Permasalahannya adalah, jarang orang yang bisa mengkompilasikan apa yang mereka paham menjadi step by step yang bermanfaat untuk orang lain ikuti. Dan disinilah peran para arif menjadi sangat penting. Mengajarkan ummat untuk menggenapi keping satu lagi yang hilang dari diri mereka.

Jika para ahli ilmu, mengajarkan kita mengenai serangkaian bukti kekuasaan Tuhan, dari dalil aqli dan dalil naqli. Mengajarkan kita bagaimana norma bersikap dalam masyarakat. Bagaimana tata aturan agama.

Maka para ahli rasa mengajarkan kita bagaimana masuk dalam realita “beribadah seakan-akan DIA benar-benar hadir” atau ihsan. Dan di atasnya lagi, mereka mengajari kita bagaimana melihat hidup seperti drama-Nya.

Yang kuat di analisa fikir harus belajar “rasa”. Yang kebanyakan “rasa” harus belajar ilmunya agar tak melabrak norma-norma. Yang paling ideal adalah dua-duanya kita pelajari. Tak harus menjadi ahli. Meski sedikit, tetapi dua keping pendekatan itu sudah kita sesapi semuanya.

©debuterbang


*) Ilustration image taken from this source

 

 

ORANG-ORANG YANG LUAS HATI

Pagi-pagi anak saya sudah merengek minta ditemani main bulu tangkis di halaman belakang. Terpaksalah pagi-pagi olahraga, padahal maunya leyeh-leyeh males-malesan di hari yang fitri ini, hehehe.

Gara-gara main bulu tangkis, saya jadi teringat  dengan seorang rekan masa kecil dulu. Bukan sobat akrab, tetapi memorable. Namanya Irhas. Dialah rival dalam dunia perbulutangkisan komplek saya.

Tapi sebenarnya dia adalah rival dalam hampir semua perlombaan. Bedanya, saya mengandalkan latihan ala kampung, sedangkan dia ikut klub bulutangkis. Jadi dia adalah expert yang sebenarnya dalam komplek kami, untuk usia anak SD.

Jika ada dia, dipastikan dia juaranya. Saya dan kawan-kawan lain sudah harus puas dengan menjadi nomer kedua setelah dia. Dalam lomba azan juga begitu. Dalam lomba lain-lain juga begitu.

Tetapi satu hal yang saya ingat sekali. Meskipun saya menganggap dia rival, saya sangat mengingati bahwa hampir keseluruhan lomba-lomba yang saya ikuti adalah karena setengah dipaksa atau diajak oleh dia. Bahkan dalam satu dua lomba, dia yang mengajak, dia yang mendaftarkan, dan kalau tak khilaf dia pula yang membayarkan pendaftaran lombanya.

Saya sebenarnya cenderung malas untuk mengikuti hiruk pikuk keramaian, lebih-lebih lomba. Maka ketika tiba-tiba saja saya sudah didaftarkan untuk mengikuti lomba, saya menjadi gamang. Ibu saya memarahi saya, “sudah didaftarkan oleh teman bukannya ikut!”

Karena pusing diomeli di rumah, akhirnya saya ikut juga. Dan setibanya di sana, dia tidak ada.

Rekan saya itu yang memaksa saya mengikuti lomba, dia pula yang mendaftarkan saya, lalu di hari H dia tidak ada.

Karena dia tidak ada, maka sayalah pemenangnya.

Sepulang lomba saya gembira karena saya memenangkan lomba itu, tetapi satu fakta baru disadarkan oleh Ibu Saya, yaitu “sudahlah kamu didaftarkan, terus dia tidak datang, berarti dia memang pengen kamu menang. Kalau dia ada, kamu tidak mungkin menang. Sudah pasti dia yang menang.”

Maka narasi itu terpatri lekat sekali di benak saya. Seorang rekan sekaligus rival, dengan kebaikan hatinya memaksa saya mengikuti lomba, dan menghantarkan saya jadi pemenangnya. Narasi yang begitu heroik.

Sebenarnya saya tak pernah bertanya, dan tak pernah mengkonfirmasi lebih lanjut selepas lomba itu. Kenapa dia tidak datang? Karena selang berapa minggu seingat saya dia pindah ke luar kota. Tetapi saya cukup menghargai narasi kebaikan yang saya percayai itu.

Ternyata ada orang-orang yang bentuk kebahagiaannya adalah jika dia bisa kontribusi aktif menjembatani kesuksesan orang lain.

Orang-orang seperti ini, dalam bahasa sufistik adalah orang-orang yang hilang keakuannya.

Baru kemarin, saya mengamati lini masa Facebook. Dan sebuah video dari Ustadz Abdul Somad lc menggelitik saya untuk menonton. Kisahnya tentang Buya Hamka.

Seorang yang besar hati memaafkan Soekarno yang telah memenjarakan beliau. “Kalau aku mati nanti, minta Hamka untuk memimpin sholat jenazahku” kurang lebih begitu wasiat Soekarno.

Dan Hamka yang luas hatinya itu, memaafkan sekaligus mengimami mensholatkan Soekarno. Begitu juga Hamka memaafkan Pramoedya yang menyerang beliau dengan tulisan-tulisannya kala itu.

Kononnya Pram mengirimkan anak dan menantunya untuk belajar Islam pada Hamka. Begitu cara Pram minta maaf. Dan Buya memaafkan beliau.

Pada orang-orang seperti mereka kita belajar berhati luas. orang-orang yang berhati luas, adalah orang-orang yang hidup melampaui dirinya sendiri.

Dalam banyak kesempatan saya mencoba menjadi orang yang berhati luas. Tapi seringkali gejolak muncul, rasa tak terima dan rasa kurang berkenan muncul. Apakah saya orang yang kurang luhur budi? Saya merenungi.

Saya amati orang-orang yang luas hatinya ini boleh jadi karena memang luhur budinya. Sehingga dia membahagiakan orang lain melampaui dirinya sendiri.

Tetapi kesini-sini saya baru mengerti bahwa terlepas dari bawaan keluhuran budi, orang-orang yang berhati luas juga bisa “terlahir” karena punya pemahaman yang lebih tinggi dari jamaknya orang orang lain.

Seorang Arif mengatakan, bahwa keseluruhan hidup ini digelar untuk DIA menceritakan diriNYA sendiri.

Jika sudah terpatri kepahaman itu dalam diri, maka keakuan akan hilang dengan sendirinya. Pahamlah saya sekarang dimana jurang pemisah saya dan orang-orang yang luas hati itu. Yaitu cara saya memaknai hidup ini.

Saya mengira hidup ini tentang saya, mereka sudah paham bahwa hidup ini tentang DIA.

©debuterbang

Image taken from this source

 

MENJADI BROKER KEBAIKAN

Para pegawai Rumah Sakit, yang merawat istri saya, mereka semua menyemangati istri saya dengan macam-macam gaya.

“Ayo Bu, ibu harus semangat, dilawan rasa mualnya.”

“Ibu harus banyak makan.”

Dan macam-macam cara mereka dalam menyemangati.

Tetapi yang menarik, salah seorang perawat mengatakan bahwa “saya dulu juga pernah begini Bu. Muntah-muntah terus.”

Didalam kontribusi aktifnya menyemangati, dia tidak mendaku dirinya sebagai expert, melainkan menampilkan diri sebagai seorang yang kebetulan pernah juga mengalami masalah serupa.

Saya teringat analogi ini dan kaitannya dengan kontribusi sosial.

Khoirunnas anfauhum linnas, kata Nabi. Sebaik-baik orang adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain.

Kelirunya saya dalam memaknai hal ini adalah karena saya mengira untuk mejadi bermanfaat bagi orang lain (keluar diri) caranya adalah dengan melulu menampilkan citra kesalihan.

Padahal, kita bisa berkontribusi pada masyarakat meski tidak menampilkan diri sebagai seorang yang expert dan ada pada menara gading kebaikan.

Umpamanya, seorang yang pernah dikejar anjing. Lalu dia menyampaikan pada khalayak ramai agar tidak melewati suatu jalan diujung gang tersebut agar tidak dikejar anjing, maka orang tersebut sudah berbuat kebaikan. Meski dirinya tertampil sebagai seorang yang pernah khilaf, bukan tertampil sebagai seorang expert dalam menghadapi anjing gila misalnya.

ibnu Athaillah mengatakan dalam salah satu kata-kata hikmah beliau: ”Siapapun yang mengungkapkan hamparan kebajikan dari dirinya, maka rasa buruk pada dirinya di hadapan Tuhannya akan membungkamnya. Dan siapa yang mengungkapkan hamparan kebajikan Allah Swt kepadanya, maka keburukan yang dilakukan tidak membuatnya terbungkam.”

Kalau ke dalam (internal) kita terus menerus memperbaiki diri. Semakin menghayati hubungan kita dengan Tuhan.

Kalau ke luar (external), bahasa yang tertampil ke masyarakat adalah bahasa kebermanfaatan. Kontribusi. Bukan bahasa kesalihan.

Seperti Rasulullah SAW mengawali dakwah dengan kontribusi aktif ke masyarakat. Jadi orang yang helpfull.

Agaknya ini yang menjadi jawaban kenapa kok saya sering bertemu orang-orang yang bawaannya santai, adem-ayem, penampilan biasa, helpfullll banget kalau sama orang lain, sepintas lalu seperti tak begitu “dalem” tapi ternyata spiritualitas beliau tinggi sekali.

“dalem” di jiwanya, tetapi tertampil “biasa” di luarnya. Hanya saja baeeeeeek sekali pada lingkungan.

Karena mereka-mereka menampilkan keluar dirinya adalah bahasa kebermanfaatan. Khoirunnas anfauhum linnas. Bukan menampilkan betapa soleh dirinya.

Lebih-lebih, mengertilah saya bedanya antara ulama dan mubaligh. Ulama itu adalah beneran expert di bidangnya. Ahli ilmu. Sedang mubaligh itu “penyampai”, broker-lah istilahnya.

Ada orang yang porsinya jadi ulama. Tapi tak harus semua orang jadi ulama.

Tapi level kita ini -saya maksudnya- sudah tentu bukan ulama. Broker masih mungkin. Penyambung lidah.

seorang penyampai, broker, akan menanggung beban berat jika apa yang dia sampaikan dinisbatkan pada dirinya sendiri. Seakan-akan dirinyalah konteks kebaikan itu.

Intinya bagaimana berbuat baik pada sesama makhluk. Ada yang mampu berkebaikan dengan hartanya. Ada yang dengan gaulnya. Ada yang dengan tenaganya. Saya mau mencontoh mereka-mereka kok ya susah ya? Yang paling gampang saya lakukan ya menulis.

Setidaknya dengan menulis ikutan jadi broker. Menempatkan diri sebagai sesama pembelajar, bahwa saya hanya menyampaikan kebaikan yang saya pungut di sepanjang perjalanan, maka mengutip Ibnu Athaillah: dengan ini lidahnya tak akan kelu.

Diri saya memang jelek, tetapi saya bukan cerita tentang diri saya, saya bercerita tentang rahmat Tuhan di sepanjang jalan ini.

©debuterbang

SIFAT-SIFAT DAN KADO IDUL FITRI

 


Berhubung istri sedang sakit dan dirawat di Rumah Sakit yang berdekatan dengan balai kota, maka Qadarullah saya dan anak saya berlebaran di masjid balaikota Depok tadi pagi.

Sembari menunggu waktu sholat, di sela-sela kumandang takbir tahmid dan tahlil pandangan mata saya tertuju pada kaligrafi di ujung pilar-pilar Masjid. Kaligrafi Asmaul Husna. Nama-nama yang husna (baik); bagi Allah.

Tidak terasa air mata meleleh, karena terpahamkan kembali akan kaitan antara memahami af’al Tuhan, dan hubungannya dengan asmaul Husna.

“Memahami bahwa segala yang berlaku adalah af’al-Nya merupakan asas dari ilmu keridhoan”, kata seorang guru. [1]

Pengibaratan tentang asmaul husna –meski pengibaratan ini tak ideal- adalah umpama seorang pemilik kebun.

Pemilik kebun itu memangkas rumput dan bunga-bunga, mencabut sebagiannya, lalu menanam sebagiannya yang lain. Menyiram sebagiannya dan menggemburi sebagiannya yang lain. Membiarkan bagian tengah tanpa pepohonan dan menyuburkan bagian pinggirnya dengan tetumbuhan. Semua perbuatan yang dilakukan pemilik kebun itulah af’al.

“Perbuatan” pemilik kebun, apatah itu memangkas, membiarkan, menanam, mencabut, mengairi, membiarkan, menggunting, dan sebagainya adalah analogi dengan Asmaul Husna. Semua itu sebenarnya adalah cerita tentang “perbuatan” tetapi dikenali manusia secara bahasa sebagai “sifat”. Disebut sifat fi’liyah. Sifat yang menceritakan perbuatan.

Tetapi sifat-sifat itu, tidak berbicara tentang karakter fisik (dzat) pemilik kebun. Memangkas, menggunting, menanam, mencabut, dan sebagainya tidaklah menjelaskan apakah pemilik kebun itu fisiknya tinggi besar? apakah jangkung tapi kurus? Apakah berambut ikal? Tak dijelaskan lewat sifat fi’liyah. Karakter fisik itu disebut sifat dzatiyah.

Begitulah Asmaul Husna, semuanya tentang af’al: Menghidupkan (Al-Muhyi), Mematikan (Al-Mumit), Melapangkan (Al-Baasith), Menyempitkan (Al-Qabidh), Pengasih (Ar-Rahman), Penyayang (Ar-Rahim), semuanya adalah deskripsi perbuatan-Nya (af’al). Bukan deskripsi tentang dzat-Nya.


Perbuatan-Nya bisa dikenali lewat observasi kita terhadap kehidupan, ringkasan maknanya bisa diserap lewat penghayatan akan Asmaul Husna. Tetapi…..seperti apa sebenarnya dzatNya?? Akan tetap misteri, karena DIA tak memberikan clue atau petunjuk tentang seperti apa DIA. Laisa Kamislhi Syaiun.

“Dan bagi Allah itu, nama-nama yang baik, berdoalah dengannya (dengan menyebut nama-nama yang baik itu)” (Terjemah QS Al-A’raf : 180)

Setiap kali kita menghadapi gelombang hidup. Lalu kita berdoa. Maka sebenarnya kalau direnungi lebih dalam, kita berdoa itu sebenarnya kita menghayati Asmaul Husna. Umpamanya kita kesulitan rezeki untuk bayar hutang, lalu kita berdo’a, maka itulah kita sedang mengakrabi-Nya dengan konteks DIA sebagai yang punya af’al Memberi Rizki.

Allah “tertampil” sebagai citra yang maha memberi rizki. Karena kita mendekatinya sebagai seorang yang fakir dan butuh akan rezeki.

Yang patut diperhatikan adalah, seperti apa mentalitas kita mendatangi-Nya, seperti itulah citra sifat fi’liyah-Nya akan terasa oleh kita.

Maka perlu kita hati-hati dalam “menyifati-Nya”. Maka adab kita adalah jangan menyifatiNya dengan sifat yang tak layak bagiNya.

Umpamanya, contoh yang klasik yaitu dua orang yang ada di tempat yang sama. Yang satu tukang cendol, yang satu petani. Hari hujan. Bagi penjual cendol hujan itu seperti musibah, padahal bagi petani hujan itu dianggap anugerah.

Umpamanya, tukang cendol misuh-misuh saat hujan. Membenci Tuhan dengan mengira Tuhan menghinakan diriNya. Artinya sebenarnya dia sendiri yang memandang Tuhan lewat kacamata itu. Keliru menyifati Tuhan. padahal dia bisa mendekat kepada Tuhan lewat rasa butuh akan rizki. Kalau dia paham bahwa hujan adalah af’al Tuhan, maka dia akan punya konteks yang sangat kuat untuk berdoa pada Tuhan. karena af’al Tuhan terlihat jelas dalam kehidupannya itu.

Mengenali hidup sebagai af’al Tuhan, dan menyifatiNya dengan sifat yang “baik” atau husna adalah adab “pintu depan”.

Jadi pengenalan akan af’al Tuhan ini penting sekali. Hemat saya, inilah maksudnya dari sebuah hadits yang mengatakan siapa yang “hafal” asmaul Husna, maka baginya syurga. Tentu bukan hafalan saja. akan tetapi menggunakan citra yang baik itu dalam berdo’a. Dalam mengakrabiNya.

Misalnya, dalam sakit, kita menyadari bahwa sakit pun af’al DIA. Lalu mendekatiNya dalam mentalitas seorang pesakit yang butuh kesembuhan, maka DIA terpandang sebagai Yang Maha Menyembuhkan. Sedang butuh rizki, maka DIA terpandang sebagai Yang Maha Kaya. Dan begitu seterusnya. Setiap apapun saja dalam hidup sekarang termaknai sebagai af’al Tuhan.

Tetapi sayangnya, kita –utamanya saya sendiri- sering lupa bahwa hidup ini diasuh oleh af’al-Nya. Maka kita urung mendekatiNya lewat konteks hidup. Karena lupa pada af’al-Nya.

Di atas tingkatan yang kita bicarakan tadi, adalah level orang-orang yang sudah “tidak perduli” dengan apapun af’al af’al Allah yang berlaku lada dirinya. Ingatan mereka selalu terpaut padaNya. Mereka “lebur”. Karena itu apapun saja adalah af’al-Nya, maka mereka ridho. Seperti Ibrahim a.s yang bahkan saat hendak dilempar ke pusaran api oleh Namrud, dia diam saja.

Seperti Saad Bin Abi Waqqash yang doanya makbul, tetapi tak meminta kesembuhan pada Allah atas kebutaan matanya di penghujung usia beliau.

Yang pertama itu (mengenali hidup sebagai af’al-Nya, dan berdo’a mendekati-Nya dengan pemaknaan akan af’al itu) disebut juga “ihsan”. Beribadah seakan-akan DIA benar-benar hadir. Karena paham bahwa semua lini hidup kita adalah af’al-Nya.

Yang kedua itu (setelah paham semua ini af’al-Nya, mereka menjadi ridho dan pasrah atas apapun saja yang berlaku dan tenggelam dalam ingatan padaNya), sering dikatakan sebagai “lebur”.

Dimana kita berada?

Secara jujur tengoklah ke dalam hati? Adakah gelisah dan rasa butuh? Jika ada, seratus persen kita butuh mendekatiNya lewat adab pintu depan. Berdoalah, dan sadari af’al-Nya berlaku dalam hidup dan kebutuhan kita itu. [2]

Jika sudah tak lagi diombang ambing hidup, dan rasa relax karena ridho, maka tanpa perlu ditanya tentu anda ada di level berikutnya itu. Yaitu orang-orang yang sibuk mengingatiNya, sampai lupa meminta.

Tapi itu, buat saya pribadi terlalu tinggi, dan secara jujur saya katakan saya begitu jauh dari situ.

Yang pokok bagi saya pribadi adalah belajar menyadari semua dalam hidup ini adalah af’al-Nya. Dan banyak-banyak berdo’a sebagai jalan mendekat padaNya. Mengakrabinya lewat pintu depan dan menyifatiNya dengan sifat-sifat yang baik.

Omong-omong, selamat hari raya idul fitri. Mohon maaf lahir dan batin ya…..

©debuterbang


[1] Al Arif, Ust. H. Hussien Abdul Latiff

[2] kajian yang lebih dalam adalah bahwa af’al-Nya tak lepas dari DzatNya. Silakan belajar langsung pada ahlinya. Saya bukan yang kompeten membahas itu.

ADA GENI DI MATAMU

Sepanjang usia saya sejauh ini, saya mengenali diri saya sendiri sebagai orang yang tidak ambisius. Dalam banyak hal. Sejak sekolah, kuliah, dan juga dalam karir. Saya menilai diri saya sendiri sebagai “tidak ngoyo”. Ga banyak maunya.

Hingga berapa hari lalu, saat anak saya mengabari dengan riangnya bahwa dia baru saja mendapatkan piala dari Musholla komplek, sebagai santri teladan III, tak urung saya menjadi begitu gembira.

Saya mengambil fotonya, saya kirimkan pada adik-adik saya, saya edit lalu hendak posting di Instagram tetapi tiba-tiba saya bertanya pada diri saya sendiri, “lho…. Sejak kapan hiruk pikuk achievement, atau” pencapaian” ada dalam kamus hidupmu? ”

Iya ya? Kenapa saya menjadi begitu bersemangat padahal hidup adalah senda gurau belaka? Kenapa saya cenderung biasa-biasa saja pada hidup saya sendiri lalu kenapa saya menjadi begitu bersemangat atas pencapaian anak saya?

Lalu saya merenungi, bagaimana harmoninya; antara kesadaran bahwa kehidupan ini sebagai senda gurau dan masuk dalam takdir Tuhan, dengan “semangat pencapaian” dengan gejolak dan gairah dalam hidup?

Tiba-tiba saya teringat, sekali waktu saya sempat mengirimkan pertanyaan pada seorang Arif: mengapa -setelah paham bahwa hidup adalah senda gurau belaka- saya melihat hidup menjadi begitu tawar. Tidak ada kebahagiaan berlebih, juga tidak ada kesedihan berlebih. Semua menjadi terlihat begitu biasa di mata saya.

Mulanya saya mengira beliau akan menjawab dengan mengatakan bahwa memang begitulah seharusnya melihat hidup. Tawar, dan kita menjadi mature dengan tiada takut dan tiada duka. Tapi jawaban beliau mengagetkan saya.

Apa kata beliau? Kurang lebih maknanya adalah: selagi masih terasa “tawar” dan “datar” itu tandanya kamu masih “wujud”.

Bahwa persandaran penuh pada Allah itu akan membuat seseorang menjadi “relax”, relax dikarenakan menyadari bahwa kita hidup dalam asuhanNya. Kesadaran bahwa kita hidup dalam asuhanNya inilah yang menggiring pada kebahagiaan.

Oooohhh.. Saya kaget juga. Ternyata saya masih belum sepenuhnya sadar bahwa kita hidup dalam asuhan-Nya.

Kemudian mengertilah saya, bahwa tingkatkan berikutnya setelah menyadari bahwa kehidupan ini adalah drama-Nya, bahwa kita adalah hidup dalam asuhan-Nya, maka selanjutnya kita” bermain” gembira dalam kehidupan ini.

Saya berhenti sebatas “menonton” hidup. Tetapi tak “menggembirai” hidup.

Seorang sahabat bertanya pada Rasulullah SAW, jika semua sudah tertakdir, lantas untuk apa usaha dan amal? Mendingan tak usah beramal.

Rasulullah SAW katakan, jangan berpasrah atau berdiam diri. Melainkan beramallah, karena setiap orang akan dimudahkan beramal atas apa yang telah ditakdirkan untukNya. [1]

Dalam satu ayat lainnya, ada anjuran untuk berbuat kebaikan, jika sudah melakukan suatu pekerjaan maka beralihlah lakukan pekerjaan lainnya.

Dalam lain pesanan, dikatakan: jangan tak melakukan apapun! Do something.

Semuanya ternyata dalam rangka bermain baik dalam drama kehidupan.

Saya meminjam istilah Emha Ainun Najib. Bahwa orang-orang yang tak ada semangat dalam hidupnya itu ibarat tak ada geni (nyala api) di matanya.

Ternyata disitulah harmoninya.

Hiduplah tidak ngoyo. Jadilah orang yang tidak gumunan, tidak gampang kagetan, tenang seperti air di telaga yang luas, tapi jangan matikan nyala di matamu.

Berbuatlah kebaikan. Bermainlah secara gembira karena hidup ini anugerahNya, DIA menceritakan diriNya.

Bahasa seorang Arif mengistilahkan kondisi ini dengan “jiwa” kita duduk di pintu belakang dan mengingati Allah, tetapi di pintu depan kita tahu kita hidup mengikuti rentak-Nya. [2]

Maka kepada anak saya, saya katakan keren sekali itu hadiahnya. Juara tiga itu OK. Ajiiiib. Atau kelak suatu ketika dia tidak juara pun ga masalah. Atau menjadi yang terbaik pun dahsyaaaat juga.

Tapi yuk menggembirai hidup. Bermain sepenuh kesyukuran. Berkarya sepenuh kemanfaatan. Happy atas anugerah hidup. Relax karena sadar bahwa kita diasuhNya. Itu semua adalah sepaket dengan hidup yang tidak ngoyo karena paham semua hanya sandiwara.

Spiritualitas yang mature itu ternyata jiwanya tenang seperti telaga, tetapi Geni tak mati dimatanya.

Bukan ambisi. Tetapi semangat karena mensyukuri kehidupan ini.

©debuterbang


[1] dari [Ali] Radhiallah ‘anhu berkata; “Kami menghadiri jenazah di Baqi’ Al Gharqad, tiba-tiba Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi kami. Beliau duduk dan mereka ikut duduk di sekelilingnya. Beliau saat itu membawa tongkat yang beliau gunakan untuk memukul. Beliau mengangkat pandangannya dan bersabda: “Tidak ada seorangpun dari kalian yang hidup kecuali telah ditetapkan tempatnya apakah dia di syurga atau di neraka, apakah dia sengsara atau bahagia.” Mereka bertanya; “Wahai Rasulullah, alangkah sebaiknya kita menetapi ketentuan tersebut dan tidak perlu beramal. Karena sudah ditetapkan bahwa jika dia termasuk orang yang bahagia maka akan berjalan ke arah sana. Jika dia termasuk orang yang celaka niscaya dia akan menuju ke arah sana.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Tidak begitu, beramallah! Semuanya akan dimudahkan. Jika dia termasuk orang yang celaka maka dia akan dimudahkan dalam melakukan amalan orang yang akan celaka. Jika dia termasuk orang yang bahagia maka dia akan dimudahkan dalam melakukan amalan orang yang akan bahagia.” (H. R. Ahmad : 1015)

[2] Ust. H. Hussien Abd Latiff

ilustration image were taken from this source

 

KEMATIAN WOLVERINE DAN SPIRITUALITAS

Lelaki itu terbujur dengan luka pada dadanya. Sebuah kayu menembusi jantungnya. Disela-sela darah merembesi pakaiannya, mukanya yang tua dan letih itu menatap seorang perempuan kecil di depannya. Lalu sepatah kata diucapkan laki-laki itu sesaat sebelum kematiannya, “ternyata begini rasanya”.

Yang saya ceritakan barusan itu, Cuma kejadian dalam filem, hehehe. Sekali-kali nulis resensi filem. Tepatnya film wolverine alias “logan”, mutant terkenal dengan cakar besi adamantium-nya itu.

Ceritanya, Logan seumur hidupnya dihabiskan dengan pertarungan dan bunuh membunuh, lari dari satu tempat ketempat lainnya, ditinggalkan oleh teman-teman terdekatnya, dan memandang kehidupan dengan kacamata yang begitu buram karena baginya siapapun orang-orang dekatnya pasti selalu berakhir dengan tragis. Sehingga dia belum pernah hidup dalam kedamaian sebuah keluarga.

Pada akhirnya dia merasakan seperti apa itu keluarga, setelah di awal-awal cerita dikisahkan bahwa seorang anak perempuan lahir dari bayi tabung, rekayasa genetika yang tanpa sepengetahuannya diambil dari DNA Logan. Yang berarti secara genetis itu anaknya, meski dia sendiri baru tahu sekarang.

Lalu Logan yang bengis dan menghabiskan hari dengan memblokade semua bentuk cinta dalam jiwanya itu, mesti luluh juga, karena pada akhirnya dia merasakan cinta sebagai seorang ayah yang mengorbankan nyawanya sendiri untuk anak yang baru dikenalnya setelah dewasa.

itulah yang dia maksud dengan “ternyata begini rasanya” saat dia menemukan “rasa sayang” dan damai dengan mencintai anak perempuannya, meski dia sendiri mati terbunuh.

Yang menarik bagi saya adalah bahwa Logan menemukan bentuk kebahagiaan itu di penghujung usianya. Setelah dia melepaskan blokade emosi yang dia buat sendiri.

Bahwa manusia memang butuh mencintai, dan dia menemukan kehangatan sebuah “keluarga” meski jalan yang ditempuh berdarah-darah dan penuh tangis dan tragedi.

Usai menonton filem ini, meski tahu semua ini fiksi, tak urung saya berfikir bahwa “eh….. tinggal kurang sedikit saja lagi, maka Logan ini jadi spiritualis lho….hehehehe.”

Perhatikan bagaimana dia menemukan “makna” dari kasih sayang dan keluarga, di penghujung nafasnya.

Betapa saya suka trenyuh menikmati tulisan atau cerita tentang pesan orang-orang yang sudah hampir sampai di penghujung usianya. Mereka rata-rata menyampaikan pesanan yang serupa.

Bahwa hidup Cuma sebentar. Bahwa yang dicari-cari mati-matian ternyata tidak dibawa pulang. Bahwa sebenarnya kehidupan ini dalam segala perniknya hanyalah medium untuk menemukan makna yang sudah ditanam dalam jiwa kita sendiri.

Sudah berapa triliun manusia hidup di dunia? sudah berapa banyak pesanan dari para Arif? tetapi tak urung setiap manusia menemukan makna hidup sendiri-sendiri.

Misalnya, dalam jiwa kita sendiri sudah ada “rasa kasih”. Tapi toh kita tidak menghargai sebentuk kasih itu, tanpa kita menemukan realitanya di dunia zahir ini.

Saat kita melihat peperangan, melihat anak-anak terluka dan berdarah-darah, baru kita menyadari ada sebuah makna yang bernama “kasih” di dalam relung jiwa kita. Sebuah makna yang enggan muncul tanpa kita menemukan kepingan makna itu dalam realitas sehari-hari.

Tinggal selangkah lagi, setelah kita tahu bahwa seluruh dinamika hidup ini adalah untuk mendefinisikan makna dalam hati kita sendiri; maka di atas itu adalah pemaknaan bahwa semua makna-makna itu tak lain tak bukan untuk menceritakan Sang Pembuat kehidupan itu sendiri.

Jadi sesuatu yang semakin dalam, semakin dalam.

Teringat seorang rekan pernah bertanya pada saya mengenai Neraka-Syurga. Maksud pertanyaan beliau saya paham, bagaimana menemukan konteks yang harmonis antara pemahaman para arif yang seolah menafikan Syurga-Neraka, dengan fakta bahwa dalil Syurga-Neraka itu tak alang kepalang banyaknya di Qur’an dan hadits.

Saya merenung sebelum menjawab, dan mengingat bahwa dulu sekali saya mengalami kebingungan serupa. Sehingga menuliskan jawaban ini seolah menulis ulang renungan perjalanan saya sendiri.

Imam Ibnu Qayyim, kalau saya tak khilaf, adalah beliau yang mengatakan bahwa Khauf (takut) dan Roja’ (pengharapan) adalah sepasang sayap. Dua-dua mesti ada. Jika ada salah satu saja, maka tidak akan imbang.

Tangga pertama, bolehlah kita maknai takut dan harap adalah takut pada neraka, harap akan syurga; maka kita beramal, Itu sudah Ok

Tangga berikutnya ada lagi, kita menyadari bahwa bukan amal kita memasukkan kita ke syurga, bukan amal kita menyelamatkan dari neraka

“Tidak ada seorang pun yang dimasukkan surga oleh amalnya.” Dikatakan: Tidak juga Tuan, wahai Rasulullah? beliau menjawab: “Tidak juga aku, kecuali bila Rabbmu melimpahkan rahmat padaku.” (HR. Muslim: 5037)

Maka kita tetap beramal seperti biasa, tapi the way we look into amal, cara kita memaknai amal; berbeda. Khauf dan roja bukan lagi pada benda. Tetapi pada Allah. Semacam rasa tak enak hati dan ngeri padaNya. Dan semacam rasa  meminta yang manja padaNya.

Sudah naik setingkat

Lalu di atasnya lagi. Adalah golongan orang-orang yang menikmati suasana “ingat” itu. Melampaui harapan dan takutnya

Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tuhan Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “Barang siapa yang sibuk membaca Al Qur’an dan dzikir kepada Ku dengan tidak memohon kepada Ku, maka ia Aku beri sesuatu yang lebih utama dari pada apa yang Aku berikan kepada orang yang minta”. Kelebihan firman Allah atas seluruh perkataan seperti kelebihan Allah atas seluruh makhlukNya”. (Hadits ditakhrij oleh Tirmidzi).

Bagaimana mungkin kita bisa sampai pada kedudukan tidak meminta / memohon? seperti dalam hadits itu?

Tak akan bisa kita sampai kesana tanpa melalui jatuh bangun meminta dan memohon. Sampai kita didudukkan pada kondisi dimana kita tak sibuk minta dan mohon lagi. Melainkan “menonton”. Seperti menonton drama

Tapi setiap tingkatan ada adabnya sendiri-sendiri.

Dalam tanda kutip, tak penting untuk sampai ke atas segera. Karena tak mungkin sampai ke atas tanpa dibanting-banting ujian hidup.

Kata Syaikh Abdul Qadir Jailani: berpuas hatilah pada apa yang ada padamu, sampai Allah sendiri meninggikan taraf kamu

Ada satu paradoks. Orang-orang menginginkan kelebihan dan karomah seperti yang dipunyai para arifin dan para wali. Lalu Allah hantarkan orang itu sampai pada posisi para wali. Lewat ujian dan hantaman hidup.

Lalu sampailah dia pada posisi para wali.

Tetapi setelah dia sampai, kelebihan-kelebihan dia punyai, dia baru sadar sekarang “dirinya” yang tak ada.

Kita tak bisa sampai ke atas, bersamaan pula dengan masih ada “diri kita”. Kita dihancurkan sampai tak bersisa. Baru sampai kita kesana.

Jadi “tak penting” mencapai maqom yang mana untuk mencapainya pun kita dibanting-banting hidup.

Yang pokok adalah mendekatiNya dengan sebaik-baiknya. Dan berbuat kebaikan pada sekeliling. Nanti kepahaman akan menanjak sendiri.

Karena kita sudah ada dalam rel kehidupan masing-masing, tinggal pada rel kita sekarang ini, pelajaran-pelajaran hidup ayo kita serap dan maknai. Iqro’…dibaca…..Ini lho…..hidup kita yang sekarang ini. Bukan hidup yang lain.


*) Ilustration images taken from this source

APAKAH KEHIDUPAN HANYA UNTUK KEHIDUPAN ITU SENDIRI?

Menarik sekali mengetahui sebuah fakta bahwa perusahaan raksasa sekelas Fuji Film harus banting setir menjadi perusahaan kosmetik. Industri kamera analog dan kamera film semuanya goyang atas serbuan era digital. Termasuk perusahaan Fuji Film berada diambang kehancurannya.

Tetapi Shigetaka Komori, CEO Fuji Film melihat celah untuk mempertahankan perusahaan tersebut, dengan cara banting setir jadi perusahaan kosmetik.

Shigetaka Komori, president and chief exective officer of Fujifilm Corporation, poses for a photograph after an interview in Tokyo, Japan, on Wednesday, Feb.1, 2012. Photographer: Akio Kon/ Bloomberg

Pada awalnya saya pun bingung juga kenapa jadi perusahaan kosmetik? Ternyata alasannya adalah karena sepanjang kejayaan masa lalu fuji film dengan kamera analog dan film seluloid, mereka sudah melakukan riset puluhan ribu bahan kimia yang berhubungan dengan visualisasi dan warna. Itulah yang kelak akan digunakan dalam industri kecantikan. Dan akhirnya sukses.[1]

Teringat saya dengan salah satu quote masyhur dari Winston Churcill “To improve is to change; to be perfect is to change often.”

Tentang perubahan inilah ternyata yang menjadi benang merahnya.

Mengenai resistensi terhadap perubahan ini saya paham sekali. Karena secara psikologis saya adalah orang cenderung nyaman dengan apa yang sudah ada. Saya malas sekali untuk perubahan-perubahan yang tak tertebak.

Saya kuliah di Geologi. Selepas kuliah saya bekerja pada sebuah perusahaan kontraktor migas yang sedikit sekali kaitannya dengan geologi. Saya sempat kecewa juga dengan perubahan itu, tetapi setelah bisa memaklumi dan menerima; saya temukan bahwa pekerjaan saya yang lebih berkaitan dengan engineering ini ternyata menyenangkan juga dan memberi kesempatan melihat berbagai-bagai belahan dunia.

Selang berapa lama, saya berkutat dengan engineering, ditempatkanlah saya pada bagian service quality dan process. Satu hal yang sama sekali tak terkait dengan engineering.

Tetapi, ternyata di tempat baru ini saya berkesempatan belajar memandang sesuatu dalam bingkai yang lebih besar. Melihat keseluruhan proses berjalan. Melihat lewat pandangan yang lebih besar. Bigger picture istilahnya.

Itu semua, adalah perubahan yang fisikal. Akan tetapi, baru saya sadari bahwa perubahan pada tataran fisikal sebenarnya hanya jalan menghantarkan perubahan dalam jiwa. cara pandang.

Dalam spiritualitas pun analog dengan itu. Perubahan di dalam jiwa, pada cara pandang, juga sangat penting adanya. Perubahan cara pandang yang lebih spiritual ini seringnya tak kita mengerti karena dia adalah sesuatu yang abstrak. Yang di dalam jiwa.

Sampai-sampai dalam literatur tasawuf dikenal istilah “abdal” atau pertukaran. Pertukaran paradigma. Seseorang menjadi memandang hidup dengan paradigma yang lebih tinggi, lebih mature.

Perubahan paradigma biasanya jarang orang miliki tanpa perubahan pada tataran fisiknya dulu. Keseluruhan perubahan dan ujian dalam tataran fisik yang kita alami, sebenarnya hanya medium saja untuk menghantarkan pada perubahan paradigma.

Berapa waktu lalu saya menghadiri acara buka puasa di TK anak saya. Kebetulan ada sesi parenting di awal-awal sebelum buka puasa. Dijelaskan di sana, untuk anak usia 7 tahun pertama, yang perlu diajarkan kepada mereka adalah “cinta”. Ibadah dijadikan sesuatu yang “memorable” karena mereka suka.

Kita bisa “memaksa” anak usia 7 tahun pertama agar rajin sholat dan rajin puasa penuh. Tetapi dengan paksaan, hanya akan bertahan sampai usia mereka baligh, beranjak dewasa mereka akan berontak, tak lagi bisa dipaksa.

Akan tetapi, jika ibadah dikaitkan dengan sesuatu yang membekas dan penuh cinta, maka mereka akan mengenangnya. Maka sholat tarawih biarlah mereka bermain-main, jika dengan bermain-main sambil sholat tarawih itu membuat kenangan yang mendalam dan emosional buat mereka. Tarawih menjadi sesuatu yang cantik di mata mereka. Puasa menjadi seru karena ada jajanan dan banyak makanan. Ketika cinta sudah tumbuh, maka lepas tujuh tahun pertama dilanjutkan dengan tujuh tahun kedua mengenai kewajiban dan punishment. Tapi bekal cintanya sudah ada.

Seketika saya teringat dengan approach-nya para arif. Mengakrabi Tuhan dengan cinta. Ternyata praktis kok dalam keseharian sering mirip-mirip dengan yang sudah kita lakukan.

Barangkali kita susah mengerti bahasan mengakrabi Tuhan dengan cinta ini, karena kita sudah kadung terbiasa memandang Tuhan pada sisi JALAL-Nya semata-mata. Dan kita; kebalikannya dari ilustrasi fuji film; kita malah enggan berubah paradigma.

Perubahan pada tataran fisikal kita terjadi terus, muda ke tua, ganti tempat kerja, pindah rumah, dan macam-macam. Tetapi kita lupa bahwa goal dari semua perubahan itu sebenarnya menghantarkan kita ganti paradigma.

Hidup kita dibanting-banting. Kita bertanya, kenapa? kenapa begini? Lalu kita belajar aspek syariat agama, tetapi jarang menyentuh sisi spiritualnya, esoterisnya.

Spiritualitas islam, bukan sesuatu yang angker dan mistis ternyata. Dia menghantarkan kita pada cara memandang kehidupan itu.

Atau buanglah nama….. lalu perhatikan kehidupan yang berganti-ganti dan penuh warna ini. Apakah kehidupan ini hanya untuk kehidupan itu sendiri? Bukan…tentu bukan….

Berganti-gantinya cerita adalah sebuah niscaya. Karena tujuannya adalah sebenarnya mendewasakan pandang kita.

Dari kedewasaan pandangan itulah kita akan bertemu dengan maksud para arif, bahwa hidup ini sebenarnya DIA bercerita tentang DIA sendiri.


References :

[1] https://www.google.co.id/amp/reportasenews.com/fuji-film-selamat-dari-kebangkrutan-dengan-produk-kosmetik/amp/

Image sources

PESANTREN, MAKAN, DAN MASUK LEBIH DALAM

mosque3Bulan puasa begini, teringat sewaktu SMA saya dan rekan-rekan berkunjung ke salah satu pesantren di Bengkulu. Pesantrennya rindang, di depannya ada sebuah telaga besar dengan teratai begitu banyak. Pematangnya dijaga oleh akar-akar pokok kelapa. Masjidnya terletak di atas dataran yang lebih tinggi sedikit seperti bukit. Lalu dari puncak bukit itu lihatlah ke bawah sembari mendengar azan maghrib.

Segala sudut pesantren itu memorable buat saya dan rekan-rekan. Meski kami mengunjunginya sebentar saja.

Tapi satu hal yang juga terkenang bagi saya adalah sewaktu sholat berjamaah disana. Bacaannya ringkas saja, kulhu, falaq, atau an-nas. Akan tetapi tuma’ninah terjaga. Sepanjang apa berdirinya; sepanjang itu pula rukuknya; sepanjang itu pula sujudnya. Oh….satu bagian sunnah tersadarkan kembali pada saya, yaitu tuma’ninah.

Banyak momen dimana saya tersadarkan bahwa sunnah kebaikan bisa bersembunyi pada bentuk-bentuk yang samar, saking samarnya kita tak tahu itu baik, sehingga kita sering luput. Oh…. Baru nyadar. Hal ini juga kebaikan.

Misalnya ….petuah seorang guru SMA, saat kami antri mengambil wudhu di sekolah. Alih-alih menjalankan sunnah tiga kali basuhan dalam setiap bagian wudhu, kami malah dianjurkan untuk sekali saja. Apa pasal? Pasalnya antrian begitu panjang.

Tiga kali basuhan itu sunnah, tetapi memberi ruang untuk antrian panjang rekan-rekan berwudhu dengan waktu yang sempit karena jam istirahat sekolah terbatas; juga “kebaikan” dalam bentuknya yang lain.

Saya teringat dengan ini lagi, karena musholla kantor kami yang lumayan kecil. Jika puasa begini, antrian membludak. Apalagi pas ashar, karena mengejar waktu pulang. Hehehehe. Maka menghabiskan diri berzikir dalam musholla tentu bagus, tapi segera keluar setelah tunai sholat agar rekan lain berkesempatan masuk musholla; adalah juga “kebaikan” dalam bentuknya yang lain.

Dalam memahami bentuk-bentuk kebaikan ini, seseorang bisa menggunakan analisa “fikih”. Misalnya secara fikih, ketika makanan sudah terhidang, dan waktu sholat sudah masuk maka dahulukan makan, setelah makan baru sholat.

Ada kebaikan bersembunyi pada sesuatu yang kita kira “kalah baik”. Kita baru memahami bahwa sesuatu yang kita kira “kalah baik” itu tadi sebagai “kebaikan yang setimbang” atau bahkan lebih baik, setelah disingkapkan oleh fikih.

Ya misalnya itu, dalam konteks tertentu, “makan dulu sebelum sholat itu preferable lho”. Berdasarkan fikih.

Akan tetapi yang menarik. Setelah kita mengerti batasan-batasan fikihnya, sesuatu itu juga bisa kita maknai lebih dalam, lewat spiritualitas islam. Menikmati sisi esoteris agama.

Misalnya, dalam fikih kalau bepergian boleh jamak. Dulu saya memaknainya sebagai “ah saya masih kuat ni sholatnya ga dijamak ga diqasar.” Seolah-olah jamak dan qasar itu kalah baik dibanding sholat kumplit; padahal sedang bepergian.

Kemudian baru tersadar bahwa saya keliru, setelah memerhatikan seorang arif yang selalu jamak di saat dia bepergian jauh. Jika kebiasaan beliau adalah puasa sunnah hari-hari, maka ketika bepergian jauh beliau berbuka.

Apa alasannya? Pertama tentu fikih membolehkan. Kedua bahwa jamak dan qasar dinilai sebagai hadiah dari Tuhan. ini saya ga kepikiran lho.

Seandainya kita beribadah, tarolah “mengharap balasan” dari Allah, tetapi kita melupakan bahwa disuruh meringkas sholat saat bepergian jauh itu juga “pemberian” dari Allah. Jamak dan Qasar diketahui lewat batasan-batasan fikih, lalu dimaknai sebagai bentuk terimakasih pada Allah; lewat kajian spiritualitas. Ini kan joss sekali.

Memaknai dari sisi esoteris ini lho, yang mesti belajar dari yang ngerti. Karena approach-nya memang rada-rada unik. Karena unik, orang sering menabrakkan ini dengan fikih. Padahal sejalan lho. Esoteris itu menajamkan makna, fikih itu bentukan luarnya.

Ada cerita. Jadi pernah saya merasa kesal juga dengan pembagian gaji dari kantor. Kok ya yang lebih muda mendapatkan yang ditotal-total sama persis bahkan lebih dari saya? Ini mesti suatu kekeliruan. Karena jabatan tinggi saya, dan wewenang tinggi saya. Tetapi kondisi market yang sedang susah tidak berpihak pada saya, karena promosi mesti ditunda. Ini kan ngeselin ya?

Nah… saya memandang sisi baik dari kejadian ini bisa lewat macam-macam sudut. Bisa begini….”ini pasti ada hikmahnya”. Atau bisa begini….”sudahlah rejeki tak akan tertukar”. Atau begini, “yang sudah terjadi mesti takdir”. Atau bisa begini….”yang sabar disayang Tuhan”. hehehe…

Itu semua bagus. Tetapi kalau mau masuk lebih jauh secara spiritualitas, maka saya harus mulai berbenah, dan menyadari yang lebih dalam lagi.

Bahwa bukan saja itu takdir dan berhikmah, melainkan semua ini af’al-Nya (perbuatan-Nya). Karena semua ini af’al-Nya, maka kesal terhadap junior, atau kesal terhadap bos, atau menyalahkan kondisi market menjadi tak relevan lagi. Karena semua tunduk dalam af’al-Nya.

Af’al-Nya, itulah menceritakan makna yang kita kenal dengan sifat-Nya dalam asmaul husna. Jadi bukan tentang gaji saya, melainkan tentang cerita DIA.

Tetapi seorang guru[1] mengajarkan yang lebih dalam lagi bahwa af’al itu ; DIA buat atas dzatNya sendiri. Karena dalam pandangan spiritualitas islam, tak bisa af’al-Nya disini dan dzat-Nya disana. Atau ilmuNya disini dan dzat-Nya disana. Karena ESA. Tapi mesti betul-betul dipahami agar tak keliru mengira Tuhan sama dengan makhluk-Nya. Dan bagian ini monggo langsung ke pakarnya saja, saya bukan ranahnya.

Jadi memang seperti kebaikan yang berubah-ubah bentuk. Pemahaman pun memiliki tangga-tangga yang berjenjang. Dipagari oleh fikih / syariat, lalu menjadi “dalam” dengan pemaknaan spiritualitas-nya.

::

©debuterbang


[1] Ust. H. Hussien Abd Latiff

*) Image sources taken from here

MENIKMATI DO’A

Pernahkah rekan-rekan takut berdo’a? Kalau saya pernah. Bukan takut, tapi pemahaman saya dulu keliru mengenai do’a. Seolah-olah kalau berdo’a maka saya menciderai adab pada Tuhan; kepada Allah kok minta hal-hal remeh yang duniawi. Begitu pemikiran dulu.
Setelah mempelajari spiritualitas islam, baru saya mengerti fakta bahwa dengan do’a-lah maka kita -istilahnya saja- memberikan hak RububiyahNya. HakNya-lah untuk “dipandang” sebagai Yang Maha Memberi.

Seorang guru yang arif [1] menjelaskan tiga tingkatan manusia dalam menghadapi ujian hidup:

Pertama, saat ada ujian maka ia berdo’a.

Kedua, saat ada ujian ia berpasrah saja.

Ketiga, saat ada ujian ia “tak peduli”.

Dari contoh di atas kita melihat bagaimana ada tiga sikap menghadapi ujian hidup. Tergantung konteks saat itu.

Orang yang “butuh”, dan lewat kebutuhan hidup itulah dia menemukan rasa fakir pada Tuhan, dan dapet “feel”-nya bahwa Tuhan Maha Memberi, Menolong, dst…… maka dia berdoa sebagai caranya menzahirkan “HAL” atau “feel”-nya itu. Maka itu baik baginya.

Ada tingkatan lainnya, yaitu orang yang dalam “butuh”-nya, dia sudah pasrah saja. Terserah kemana angin berhembus. Sepanjang saya amati, tingkatan ini adalah bagi orang-orang yang sudah berulang-ulang dibanting kehidupan. Sampai dia “pasrah”.

Tingkatan lainnya. Adalah tak lagi melihat pada ujian. Maka pada ujian; dia ora urus.

Bagaimana cara mengetahui pada adab yang mana kita berada? Ternyata simple….caranya adalah secara jujur mengakui “feel” yang datang pada kita.

You cannot deny the feel. Kita tak bisa menyangkal “feel” yang datang.

Seandainya ada ujian dalam hidup. Lalu rasa gelisah dan takut menyambangi. Tunggangi rasa takut itu untuk berdoa. Agar kita menyesapi fakta bahwa DIA maha pelindung. Saat ada feel seperti itu, maka itulah konteks kita berakrab padaNya.

Musa berdoa meminta dimudahkan lisannya dan agar Harun menjadi rekanan beliau. Nabi zakariya berdoa minta keturunan.

Kita tak bisa pura-pura pasrah, tapi hati didatangi feel gelisah. Rugi. Karena gelisah urung bertransformasi menjadi sikap butuh padaNya.

Tingkatan pasrah dan ora urus, akan kita ketahui sendiri kelak saat ada ujian tetapi kita mendapatkan “feel” yang adem tentrem saja.

Berarti sesuatu yang harus zahir dari diri kita adalah adab pasrah.

Tetapi, pasrah dan ora urus, akan sulit dicapai tanpa menempuh tangga do’a itu. Tanpa melazimkan kembali padaNya.

Tapi ada puzzle satu lagi saya dapat dari beliau, bahwa semata do’a saja akan sulit membawa kita lebih dalam masuk pada tingkat berikutnya. Tanpa menyadari bahwa ujian adalah af’al-Nya. PerbuatanNya.

Dan sadari pula bahwa af-al tak bisa berdiri sendiri. Af-al mesti lekat dengan DzatNya. Sehingga feel kedekatan itu dapet.

Begitulah yang saya serap dari hikmah-hikmah disampaikan beliau. Sekarang saya masih diombang ambing gelombang takdir, hehehehehe. Makanya masih jauh betul dari sebenar-benar pasrah, opo meneh level ora urus.

Tetapi alhamdulillah, tangga-tangga perjalanan itu kita pahami.

**

[1] ust. H. Hussien Abd Latiff

DIPERJALANKAN


Sedang apa rekan-rekan saat ini? Tentu saja sedang membaca di facebook atau membaca tulisan ini di blog, bukan?

Sekarang bisakah rekan-rekan saya ajak untuk “takut”. saat ini juga?

Tentu kita sulit untuk “takut” seketika, bukan?

Untuk mengalami “takut”, kita butuh alasan tentunya. Apa yang membuat kita takut?

Kita bisa membuat tampang muka seperti orang takut, tapi itu bukan “takut”, itu hanya acting takut. Rasa “takut”nya sendiri absen dari ruang hati kita.

Nabi Musa as dikejar Fir’aun dan bala tentaranya sampai terjepit di antara Depannya ada laut merah dan belakangnya ada tentara yang siap mencabik. Rasa takut tentu luar biasa, tetapi ketakutan yang luar biasa itu menjelma rasa bergantung pada Allah. Pergantungan yang luar biasa pula.

Itulah namanya “diperjalankan”.

Seperti kisah Rasulullah Saw yang diperjalankan menempuh isra’ dan mi’raj.

Seperti pula Rasulullah Saw -dalam kitab sirah- berdo’a pada Allah sewaktu beliau di thaif. Kala dilempari oleh penduduk thaif dengan batu sampai berdarah dan diteriaki orang gila.

Doa beliau masyhur sekali. Yang kurang lebih maknanya adalah “duhai Tuhan, kepada siapa engkau menyerahkanku? Kepada musuh yang siap menerkam, atau kepada kerabat yang menolak? Sungguh aku tidak peduli, asalkan engkau ridho kepadaku.”

Redaksinya panjang dan tak persis seperti itu.

Tapi inti dari do’a itu adalah kepasrahan.

Kepasrahan karena menyadari bahwa “diperjalankan”.

Setiap orang, diperjalankanNya menempuh masing-masing cerita mereka sendiri. Dari setiap perjalanan itu, tiap orang mendapatkan pengalaman hidup sendiri-sendiri. Setiap pengalaman hidup menghantarkan “rasa”-nya sendiri (Hal Spiritual). Tiap Hal itulah yang berbuah menjadi amaliyah.

Maka kita bisa meniru lahiriah Nabi Musa, misalnya, tapi “rasa” dalam hatinya tak bisa kita tiru.

Yang paling penting, adalah kesadaran bahwa kita semua diperjalankan. Ini yang pokok.

Dulu saya sering kali kesal, kenapa kok saya tak paham-paham dengan bahasan para arif. Setelah melewati gonjang-ganjing onak duri ujian; baru saya paham bahwa setiap hikmah itu akan datang seiring ujian dalam hidup kita.

Ujian yang mencerabuti rasa “aku”. Sampai kita benar sadar bahwa kita ini “diperjalankan”, bukan berjalan.

Maka benar sekali kata Syaikh Abdul Qadir Jailani, berpuas dirilah dengan apa yang ada padamu, sampai Allah sendiri meninggikan taraf kamu.

Bukan pasif….melainkan agar paham tentang “diperjalankan” ini. Do our best pada maqom sekarang, dan bersyukur.

Karena, ingin segera naik level itu sama saja meminta Allah menurunkan segala ujian seketika pada kita; dalam satu waktu. Kita tak akan sanggup.

Oleh seorang arif [1] kita diberitahu urutan skema perjalanan itu.

Awalnya adalah ujian. Lalu ujian akan settled down (reda) selepas keridhoan datang. Setelah ridho makan akan shifting paradigm (bertukar pandang) atau dalam literatur tasawuf dikatakan “Abdal”.

Setelah itu berikutnya adalah hidup seperti apa adanya dalam masyarakat. Berbaur. Bersama. Berkecimpung. Dan tak ada pentingnya untuk mendaku diri lebih baik atau lebih ini itu. Dan diam disitu sampai jika ada tugas menyuruh “keluar” atau selalu diam disana kalau tak ada tugas apa-apa.

Salah satu tips-nya kata beliau adalah, semakin cepat menyerah dan ridho, maka semakin cepat ujian itu reda / settled down. Karena ujian bukan untuk ujian itu sendiri, melainkan untuk menghantarkan pergantian cara pandang dalam hidup.

Benar sekali ungkapan yang sangat masyhur dari para arif. Jika orang awam berpikir tentang apa yang akan dilakukannya esok, maka orang arif “menunggu” apa yang akan Allah takdirkan untuknya esok hari. [2]

**

[1] Ust. H. Hussien Bin Abd Latiff

[2] ungkapan ini begitu masyhur. Tetapi saya lupa siapa yang mengucapkan.

Ilustration image taken from this source