DUA BOTOL AQUA DAN SPIRITUALITAS EKSENTRIK

Seorang kawan saya waktu kuliah dulu, style-nya sangat eksentrik. Kemana-mana membawa tas gembong dengan dua buah botol aqua di sisi kiri dan kanannya. Rekan-rekan saya selalu tahu kepada siapa harus meminta minum jika mereka haus dan tak membawa minum, tentu kepada kawan saya yang eksentrik itu. Wong tiap hari bawa dua botol aqua besar.

Karena sikap eksentriknya yang tampak selalu bersemangat dan unik itu, orang-orang dengan keliru mengira rekan saya itu sebagai orang yang “meledak-ledak” sifatnya. Saya membantah, saya katakan rekan saya itu bukan “meledak-ledak”, alih-alih dia “meledak terus”, hahahaha.

Anda tahu apa jawabannya saat ditanyakan kenapa setiap hari membawa dua botol aqua di sisi kiri dan kanan tas gembongnya yang besar itu, meskipun dia hari itu sedang puasa? Jawabannya adalah, “saya pernah dengar kisah seorang wanita saja masuk syurga karena ngasih minum anjing, masa iya saya kalah, saya kasih minum manusia”.

Gedubrak… ini alasan sangat spiritual dan X-factor sekali.

Barangkali rekan saya itu tak mengingat fragmen waktu kuliah itu, tapi saya ingat dan saya merekamnya dengan jelas dalam memori saya. Pada dia saya belajar kebermanfaatan. Menjadi berguna pada sekeliling kita. Fungsi sosial kita.

Kenapa tiba-tiba saya kembali teringat tentang hal ini? Karena berapa hari lalu menghadiri sebuah seminar parenting di TK anak saya.

Seorang ibu yang hadir bertanya, “Mana yang didahulukan. Potensi ataukah minat anak? Seringkali kita melihat bahwa anak kita memiliki potensi di suatu bidang, tetapi dia terlihat tak berminat”. Tanya ibu itu pada sesi sharing seminar parenting itu.

Dijawab oleh pembicara seminar, bahwa dalam konteks pendidikan anak TK ini, menemukan potensi berarti adalah menemukan passion anak. Karena sebagian anak terlahir multitalenta, dia bisa begitu mahir di banyak bidang, karena memang dasarnya cerdas, tapi cerdas pada suatu bidang tak selalu berarti dia tertarik dengan bidang itu. Membantu anak menemukan ketertarikan, membantu anak mengenali passionnya, itulah intinya peran orang tua.

Tapi, satu hal yang menarik saya catat dari sharing seminar kali itu adalah moto dari sang pembicara bahwa segala potensi apapun saja yang ada pada anak, harus berada dalam bingkai kebermanfaatan untuk orang lain. Anak kita, boleh saja memiliki passion apapun saja dalam hidupnya, selama passion itu sejajar dengan fungsi rahmatan lil alamin. Maka kita sebagai orang tua harus mensupport anak.

Memberi kemanfaatan, sebagaimana Rasulullah SAW diutus untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam. Itu dia.

Hal ini kembali mengingatkan saya dengan kawan saya yang unik itu tadi, juga mengingatkan kembali dengan bahasan yang lebih dalam secara spiritual.

Kalau dulunya saya mengira bahwa spiritualitas itu adalah semata hidup dalam sikap kerahiban, menjadi pertapa, hidup seperti pandito, belakangan saya sadari bahwa hal itu keliru. Justru kalau benar kita memaknai kecimpungnya kita dalam hidup, makna-makna lebih banyak kita dapat dari kehidupan lho.

Dan belum lama berselang, seorang kawan berpulang ke Rahmatullah. Seorang yang biasa, dengan kebaikan yang bersahaja, tetapi gelombang simpati mengalir begitu deras tak henti-hentinya. Saya terheran-heran, apa gerangan kebaikan orang ini? Kenapa begitu banyak yang berterimakasih?

Ternyata ya itu tadi. Dalam persepsi dia, hidup itu adalah menabur kebaikan sebanyak-banyaknya untuk orang lain. Kebaikan yang sederhana saja, tetapi yang tulus karena ingin menjadi rahmat.

Hidup adalah untuk menabur sebanyak-banyaknya kemanfaatan. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk manusia lainnya. Yang berbaik-baik pada makhluq ciptaan-Nya sejatinya berbaik pula pada penciptanya.

Tidaklah jin dan manusia diciptakan melainkan untuk beribadah kepada-Nya, Ibnu Abbas mengatakan bahwa mengibadahi-Nya itu berarti “mengenali-Nya” dulu. Dan dalam konteks ibadah sebagai maksudnya dalam upaya pengenalan itu tadi, maka spektrumnya menjadi luas sekali.

Keseluruhan asmaul Husna, kata para ulama arifin adalah bercerita mengenai perbuatan-Nya, fa’al-Nya. Dan perbuatan-Nya, alias kenyataan dari af’al-Nya itu terlihat pada keseluruhan lini hidup.

Ada sempit ada lapang. Ada susah ada senang. Siang-Malam. Apapun saja yang dualitas, yang kita lihat dalam hidup ini sebenarnya cara DIA bercerita. Yang bercerita itu ESA dan tak terdefinisi, cara DIA bercerita adalah memunculkan segala dualitas ciptaan, segala dualitas ciptaan (atau perbuatan-Nya) dirangkum dalam dualitas makna Asmaul Husna, Jalal dan Jamal-Nya.

Dengan seperti itu cara melihat, maka akan muncul pengertian bahwa bukan –semata- hidup menjadi rahib atau pandito lho yang spiritual itu, akan tetapi berkecimpungnya kita dalam keseharian yang penuh dualitas ini pun, selama dalam upaya pengenalan akan-Nya, maka “spiritual-lah” hidup itu.

Malahan, makna-makna asmaul Husna itu akan kita temukan dalam kecimpungnya kita terhadap hidup. Dari penemuan makna-makna itulah baru kemudian kita jadi memilki konteks beribadah. Maknanya ketemu dalam keseharian, dan komunikasinya lewat peribadatan.

Dan ini ternyata tipsnya saya baru paham. Kalau ingin mendapatkan banyak makna-makna dalam hidup, cobalah melihat sekeliling, dan mulai menaburkan kebaikan apapun saja yang bisa kita lakukan. Meski sederhana.

ADAB LUAR DALAM

img_20161026_185526-01Barulah saya mengerti sekarang tentang adab berjalan ke dalam dan ke luar.

Pada perjalanan ke dalam diri sendiri, kita membangun keakraban pada Tuhan. Maksudnya adalah keakraban pada Tuhan itu biarlah menjadi hubungan yang begitu personal antara hamba dan Tuhannya. Bila perlu tak diketahui oleh orang lain.

Sedang….perjalanan ke luar, kita menabur kemanfaatan pada orang banyak. Maksudnya adalah, pada sekeliling kita, yang kita berikan adalah hikmah dan kebaikan-kebaikan yang bermanfaat, sebagaimana sabda Nabi bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain.

Satu hal ini kita sering keliru. Di dalam diri kita mendaku untuk telah memberi manfaat dan sumbangsih pada sekeliling. Tapi ke luar diri, yang tertampil dari kita untuk orang lain adalah melulu citra kesalihan, bukan sebuah amal dan sumbangsih kebermanfaatan yang nyata.

Citra kesalihan itu, tak harus menjadi suatu yang ditampilkan. Sebagaimana jamak kita dengar, kekasih Allah itu disembunyikannya diantara segolongan manusia. Tak ada yang tahu. Biarlah perhubungan antara manusia dan Tuhannya itu menjadi hubungan personal yang dalam. Urusan kita adalah, bagaimana kita memberi kebermanfaatan pada sekeliling kita.

Walhasil, jika kita berjalan ke luar diri, bahasa yang tertampil adalah bahasa kebermanfaatan. Bukan bahasa citra kesalihan diri.

Tentu ada jenak dimana syiar itu penting. Berarti mau tak mau perhubungan antara manusia dan Tuhan akan tertampil juga pada aktivitas luar manusia itu sendiri. Tetapi, ternyata step-step yang dituntunkan Rasulullah juga sudah sangat clear. Bahwa kebaikan yang tertampil itu mestilah mengikuti runutan : Bil Hikmah, mauidzoh hasanah, dan terakhir adalah perdebatan.

Hikmah dulu, artinya menebar kebermanfaatan yang terasa bagi sesama. Baru setelah itu pada urutan kedua adalah nasihat. Baru kalau sudah mentok adalah perdebatan, yang sebagai opsi terakhir.

PR besar saya adalah, membangun kedekatan yang begitu personal dengan Tuhan, dan kemudian menabur kebermanfaatan yang nyata bagi sekeliling. Saya kadang terbalik, di dalam diri mengira sudah bermanfaat bagi sekeliling, tetapi sebenarnya yang saya tabur ke luar adalah citra kesalihan, bukan kebermanfaatan nyata.

Barangkali anda memiliki PR  yang serupa. Masih ada waktu berbenah.

Hayuuuk


*) Foto saya jepret dari mobil sepulang kantor, di jalanan Jakarta yang mengular seperti biasanya

URBAN KABAYAN


Suatu hari, Kabayan sedang mencangkul di kebunnya. Seorang temannya lewat dan bertanya, “Kang Kabayan, sedang apa?”.

“Sedang mencangkul”, jawab Kabayan.

“Buat apa?” tanya orang itu.

“Buat menggali lubang”.

“Menggali lubang buat apa”, tanya orang itu lagi.

“Buat menanam pisang”, jawab kabayan sambil terus mencangkul.

“Menanam pisang buat apa?” tanya orang itu lagi. “Ya buat dimakan”, jawab Kabayan kesal.

“Buat apa dimakan?” masih saja orang itu bertanya.

“Ya biar punya tenaga lah” Kabayan mulai meninggi suaranya.

“Buat apa tenaga?” orang itu tetap bertanya.

“BUAT MENGGALI LUBANG!” seru Kabayan.

***

Hampir miriplah Kabayan ini dengan kita.

Buat apa bekerja? Biar dapat uang! Buat apa uang? Buat makan! Buat apa makan? Biar bisa bekerja.

Pagi ini melintas di depan Citos, sembari merenungi sendiri. Akankah pergi pagi pulang malamnya saya menjadi bernilai, atau saya hanya menjadi satu dari sekian ratus juta “Urban Kabayan” di era ini.

TIPS MEMANDANG YANG BIASA SEBAGAI YANG AJAIB

Tergelitik juga untuk menulis hikmah yang saya petik dari viral-nya tentang Kanjeng pengganda uang.

Dari sisi sufistik, kalau melihat dari wejangan para guru yang arif, segalanya adalah sandiwara Ilahi. Jadi apapun yang terjadi mesti ada hikmahnya. Termasuk viral-nya kanjeng pengganda uang ini.

Dari sisi depan, kalau mencoba untuk iqro’ dan membaca pola, biasanya memang keyakinan yang dibangun atas dasar penampilan keajaiban yang spektakuler adalah begitu rapuh.

Barangkali contohnya adalah Ummat Musa a.s. Tongkat Musa bisa menjadi ular sungguhan. Bukan rekayasa pengelihatan, tetapi benar-benar menjadi ular. Belum lagi ditambah dengan laut yang terbelah. itu sangat spektakuler.

Belum lagi, ummat Musa a.s diturunkan hidangan dari langit. Manna wa salwa, yang satu makanan manis seperti madu dan satunya lagi konon adalah burung seperti burung puyuh yang diperintahkan terbang rendah sehingga gampang ditangkap.

Tetapi, dengan semua keajaiban yang spektakuler seperti itu tetap juga mereka membangkang.

Dengan diberikan manna wa salwa, malah mereka meminta Musa berdo’a pada Tuhan agar makanan yang turun lebih variatif. Mbok ya turun kacang-kacangan dan sayur mayur gitu.

Dengan terbelahnya laut merah, malah mereka membuat patung sapi (karena patung sapi juga ada keajaibannya, yaitu bisa mengeluarkan suara karena gerak angin yang diatur lewat saluran udara dalam patungnya).

Keyakinan yang disandarkan pada -semata- keajaiban, akan menjadi begitu rapuh dan sering kali membutakan.

Tapi memang, itu kan Zamannya nabiyullah Musa a.s. di zaman itu, orang-orang tidak menyukai tafakur yang dalam, mereka menyukai demo keajaiban. Tuhan-pun diminta terlihat dengan mata fisik.

Seiring zaman, hingga zaman Muhammad SAW. Mujizat yang diturunkan adalah Al Qur’an. Ada sih keajaiban, tetapi bukan semata keajaiban itu sebagai sandaran, melainkan perombakan paradigma lewat Al Qur’an.

Barangkali, itulah kenapa di dalam Al Qur’an ada ayat yang mengatakan, apakah tidak kamu fikirkan? tidakkah kamu berfikir? suruh lihat langit. lihat bintang. bahkan lihat diri kita sendiri. Tanda-tanda itu tersebar di seluruh alam ini.

Keyakinan yang semata didasarkan pada ketakjuban akan keajaiban dan hal mistis, akan hancur dan lebur saat bertemu keajaiban lainnya yang lebih besar.

Tetapi, keyakinan yang dimulakan dengan benarnya cara pandang, paradigma, ilmu, justru akan membuat segala hal yang alamiah dan biasa; terlihat keajaibannya. Pengaturan-Nya.

Apa-apa yang bagi orang lain seperti sesuatu yang biasa, bagi kita malah menjadi ajaib.

Saya rasa, itu bisa jadi salah satu panduan kita mencari guru. Kalau kita mencari guru, janganlah mencari guru yang bertabur keajaiban. Akan tetapi, carilah guru yang mengajarkan kita cara memandang hidup dengan benar.

Boleh jadi tidak ada hal yang spektakuler dan magic-magic pada dirinya, tetapi dengan “unlock”-nya paradigma kita, dengan benarnya cara memandang terhadap kehidupan, tahu kaitannya antara Tuhan dan alam, maka kita akan memandang hal-hal yang biasa bagi orang lain, tetapi menjadi ajaib di mata kita.

Tak ada yang beda pada luarnya, tetapi hikmah merasuk dalam hati, hingga berkata “tidaklah Engkau ciptakan semua ini dengan sia-sia”. Ma Kholaqta hadza bathila…

TENTANG PENDIDIK SEBENARNYA

Teringat dengan salah satu pembahasan mengenai do’a untuk kedua orang tua. Rabighfirli waliwalidayya…..dst. Hingga sampai pada bagian warhamhuma kama “rabbayani”….

Dikatakan, bahwa makna yang lebih tepat untuk istilah rabbayani itu adalah makna “pendidikan”, mendidik.

Sehingga arti do’a itu adalah sayangilah kedua orang tua kami sebagaimana mereka “mendidik” kami sewaktu kecil. (bukan sebagaimana mereka “menyayangi” kami di waktu kecil).

Memang dipikir-pikir, kalau “sayang” sih semua ortu sayang pada anaknya. Tetapi kalau “mendidik”, tak semua ortu mampu menerjemahkan rasa sayang mereka dalam pola pendidikan yang tepat.

Dan inilah kelemahan saya. Kurang terampilnya saya dalam menerjemahkan rasa sayang kedalam sikap pendidikan yang tepat untuk anak.

Ada sebagian orang, yang orang-orang sekitarnya tak tahu bahwa dia menyayangi mereka, tersebab kurang ekspresif. Ini adalah salah satu ketidak trampilan menampilkan rasa di hati dalam bentuk laku yang dimengerti oleh orang terdekat. Acapkali saya pun begitu.

Akan tetapi yang lebih penting lagi, dalam soal mendidik anak ini. Apa yang sudah saya lakukan?

Dalam kekurang-mahiran saya bersiasat dalam pendidikan anak ini, saya menyaksikan bahwa lingkungan pelan-pelan membentuk anak saya.

Untungnya, disekitar rumah cukup kondusif.

Di seberang rumah ada musholla yang pengurusnya membuatkan sebuah TPA. Tahu-tahu saja anak saya yang usia TK sudah ikut ngaji tiap sore disana. Sudah tahu banyak sekali cerita-cerita islami. Sudah bisa bercerita ulang.

Seberapa persenkah porsi keterlibatan saya dalam pendidikan anak? Ini PR besar saya. Agar bisa dalam tanda kutip turut andil terhadap warna pendidikan anak saya. Karena orang tua akan diganjar bukan pada kadar sayangnya, tetapi pada bagaimana dia menerjemahkan rasa sayang ke dalam aksi pendidikan yang mewarnai anaknya itu.

Itu dari satu sisi pandangan.

Tetapi menilik dari sisi sebelahnya lagi, dari sudut yang lebih spiritual. Mengertilah saya sekarang bahwa memang bukan kita yang berperan dalam menghantarkan anak kita menuju masa depan mereka. Betapapun kita merasa kita yang berperan, sebenarnya terlalu banyak faktor luar yang akan mengantarkan seorang anak pada takdirnya sendiri kelak.

Harmoninya disana. Sebisa mungkin andil, tetapi pada saat yang sama juga melihat bahwa sebenarnya bukan andil kita yang mewarnai anak. Sebenarnya plot takdir yang membawa anak (dan membawa kita) terapung-apung pada lautan peran kita masing-masing.

Melihat inilah, saya menjadi sedikit mengerti bagaimana sikap doa Rasulullah SAW kala di thaif. “Tuhanku, kepadaMu aku mengadukan kelemahan siasatku dihadapan manusia”.

Begitu pula saya hendak mengadukan kelemahan siasat saya, ketidak-trampilan saya, kekurang-ekspresifan saya, dan segala hal yang kurang lainnya, dalam lingkar perhubungan sosial ini. Dalam muamalah ini.

Sambil dalam pengakuan itu mengakui pula bahwa benarlah takdir DIA semata yang mengombang ambingkan manusia pada jalannya masing-masing.

Dalam pengakuan kelemahan dan ketidakberdayaan semacam inilah saya baru paham pesanan para arif.

Bahkan dalam menuju Tuhan pun kita mengandalkan Tuhan. Karena kemampuan kita tak ada. Tak seberapa. Habis…..lebur….sirna tak ada apa-apanya.

RASA GELISAH ITU TIDAK TERCELA

stairSampai jam 11 malam rekan saya masih bekerja mempersiapkan dokumen untuk menghadapi audit esok harinya. Saya pun membantu juga, jadi sambil ngantuk-ngantuk malam itu kami masih sibuk utak-atik dokumen di kantor. Tetapi dalam kesibukan dan letih itu saya mendapatkan sebuah hikmah.

Hikmah itu adalah rasa syukur. Syukur dalam keletihan.

Sebelum ini, saya bekerja di lapangan pengeboran migas dalam jadwal yang ketat. Menghabiskan hari dengan terasing di tengah hutan atau di tengah laut. Bagi sebagian orang, hal itu memang petualangan yang seru, begitupun bagi saya awalnya. Tapi lama kelamaan saya letih, dan merasa tak nyaman. Lalu alhamdulillah dalam keletihan itu Allah SWT menempatkan saya untuk bekerja di kantor, tidak lagi di lapangan.

Walhasil, sekarang saya lebih banyak berkutat dengan presentasi dan laporan. Ada keletihan yang baru lagi, tetapi saya menyukai pekerjaan ini. Maka dalam letih pun, pelan-pelan tumbuh rasa syukur. Saya mengerjakan pekerjaan dengan makna syukur itu.

Disini kemudian saya baru menyadari bahwa kadang-kadang kita memaknai perasaan itu sering terbolak-balik. Sering keliru.

Umpamanya begini. Di saat saya menjalani pekerjaan lapangan dulu, saya merasa letih dan ingin berpindah. Ada sebuah rasa letih dan penat menyambangi saya. Akan tetapi karena cara saya memaknainya kurang pas, ada konflik batin di diri saya. Konflik itu adalah, karena saya mengira bahwa keinginan untuk pindah ke tempat yang lebih baik itu menciderai rasa syukur. Padahal itu keliru.

Yah…maklumlah. Dulu saya belum begitu paham, bahwa lewat kacamata “rasa” yang mampir pada diri kita itulah ubudiyah ditegakkan.

Sekarang-sekarang saya baru mengerti. Jika rasa letih menyambangi kita, rasa ingin mendapatkan pertolongan menyambangi kita, maka itulah “kacamata” yang dikirim pada kita untuk memandang kehidupan dan kaitannya dengan Tuhan; saat ini.

Maka menjadi fakirlah! Menjadi butuhlah akan Tuhan. Berdo’alah maka Tuhan akan mengabulkannya.[1]

Jangan terbalik-balik. Sedang dihampiri rasa butuh akan pertolongan, eh malah disangkal dan memikirkan “kok saya tidak disambangi rasa kebersyukuran ya?”

Beda konteksnya.

Kita ingat Nabi Musa a.s. melantunkan doa yang begitu masyhur, untuk agar dilapangkan dadanya, dilancarkan bicaranya, diberikan teman, kala beliau diperintah menghadapi Fir’aun.

Artinya, secara manusiawi Musa a.s pun gelisah, sehingga meminta dilapangkan dada.

Dan…. Ini yang penting….rasa gelisah itu tidak tercela lho, selama rasa gelisah itu dijadikan tunggangan menuju Tuhan. Dijadikan “kacamata” memandang Tuhan. itu malah penanda bahwa Tuhan sedang mengajarkan asma-asmaNya kepada kita lho.

Kalau gelisah menyambangi kita, maka tunggangilah kegelisahan itu agar jadi kendaraan menuju Tuhan.

Tetapi, bukankah yang paling baik adalah bersyukur atas setiap kejadian?

Ya…benar….akan tetapi, sikap itu juga disetir oleh “rasa” yang turun kepada kita.

Jika kita terbiasa menjadikan setiap rasa yang silih berganti datang sebagai kacamata memandang Tuhan, maka pada gilirannya sendiri “rasa” yang turun akan berbeda bentuk. Mendewasa. Karena DIA mengajari asma-Nya yang lainnya lagi.

Dalam kesulitan, dimana biasanya datang gelisah, eh…malah datang bahagia. Dalam kesempitan malah datang syukur. Ya tak apa….. kita tunggangi lagi rasa itu menuju Tuhan.

Ada segolongan orang yang mendapatkan anugerah untuk langsung berada pada tahapan “rasa” yang tinggi. Ada masalah, “rasa” yang turun malah happy, anteng, seperti ga ada apa-apa. itu adalah tipe yang tidak umum. Alias “Tanazul“. Ujug-ujug di atas. Malah mereka harus menjalani kehidupan dengan menterjemahkan “rasa” yang mereka dapat pada orang-orang dengan tangga spiritualitas dibawah mereka. Dari atas ke bawah.

Akan tetapi, perjalanan kita, atau setidaknya saya sendiri, adalah melalui step-step tahapan yang normal, mendaki, dari bawah ke atas, atau yang dalam literatur para arifin disebut “Taraqqi“.

Pada pokoknya, bukan “rasa”nya itu. Akan tetapi kejujuran menilai maqom diri. Juga sikap untuk tidak mengabaikan rasa yang turun; alih-alih menjadikan setiap gejolak rasa sebagai tunggangan menuju Tuhan.

Dan dalam setiap rasa apapun yang datang itu, jika kita jadikan kacamata dalam memandang-Nya maka itulah yang dimaksud dengan menyeruNya, lewat nama-Nya.[2]

memandangnya lewat ketersingkapan kita masing-masing.


 

[1] Ulama arifin memaknai hal ini dengan lebih dalam. Jika keinginan datang, hal ini penanda Allah ingin memberi.

[2] Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu”. (QS Al Isra : 110)

MUSA DAN SULAIMAN BERBEDA “RASA”

Dalam konteksnya sebagai penggerak amaliyah manusia, “rasa” yang ada pada kita berperan sebagai “kacamata”. Lewat kacamata “rasa” yang mampir pada kitalah; Allah SWT bercerita.
Yang namanya kacamata, tentu bukan menjadi objek pandangan, akan tetapi kacamata hanyalah semacam tabir yang membantu kita memandang.

“Rasa” yang ada pada Musa a.s. Adalah suasana batin yang penuh takut dan harap. Dikejar Fir’aun. Jadi pelarian. Kesendirian. Memimpin kelompok yang ngeyelan. Menyeberang lautan. Dan segala macam “rasa” yang menyodorkan Musa konteks memandang Tuhan dalam suasana penuh harapan.

Lain lagi dengan “rasa” yang melingkupi Sulaiman a.s. Rasa yang penuh kebersyukuran. Kerajaan yang luas. Kekuasaan yang belum pernah ada yang dianugerahi sesuatu semacam itu sebelum beliau, dan tak akan ada lagi yang dianugerahi yang semacam itu sesudah beliau nanti. “Rasa” kebersyukuran itulah yang menjadi konteks Sulaiman a.s. Dalam memandang ceritra dari Tuhan.

Setiap orang, tidak akan mampu memandang atau melihat di luar konteks “rasa” itu, maksudnya Musa tak akan melihat dunia dari kacamata Sulaiman, sebagaimana Sulaiman tak akan melihat dunia dari kacamata seorang Musa. “Rasa” yang dititipkan pada tiap-tiap orang berbeda.

Bagaimana kaitan “rasa” atau dalam tanda kutip “kacamata” spiritualitas setiap orang ini dengan amal?

Saya mencermati kajian para alim : Untuk urusan syariat yang wajib, rumusnya adalah “berbuat sesuai tuntunan, mana yang boleh mana yang tak boleh; tidak boleh menghiraukan passion atau rasa atau hasrat”.

Sebaliknya, dilengkapi oleh para arifin. Untuk urusan yang bukan ibadah fardhu, urusan sikap batin dan amal yang lebih, dalam keseharian. Sesuaikan dengan maqom, level spiritualitas, keterpandangan, alias “Rasa” yang dianugerahkan pada kita sebagai kacamata memaknai ceritra Tuhan.

Untuk urusan Sholat misalnya. Wajib kita melakukan sholat, walaupun kita sedang malas.

Akan tetapi, ada hal-hal yang hanya bisa dijelaskan sesuai dengan “rasa” yang mampir pada kita.

Misalnya Abu Bakar a.s. Menafkahkan semua hartanya tanpa ada sisa. Ini adalah sebuah amalan yang tidak aplicable, tidak praktikal untuk orang awam. Orang awam, tuntunan standarnya misalnya zakat 2.5%, orang awam tidak bisa gebyah uyah melakukan amalan Abu Bakar, karena itu bukan tuntunan standar. “Rasa” yang mampir beda.

Jangan mengabaikan “rasa”. Orang yang hatinya masih disambangi gelisah, seharusnya bukan mengutuk diri karena belum mencapai maqom pasrah tingkat tinggi. Melainkan, setiap yang disambangi gelisah, berarti harus memandang Tuhan dengan kacamata rasa harap akan pertolongan.

Karena itu kacamata yang diberikan.

Seperti apa “rasa” yang mampir, lewat itulah sikap ubudiyah dibangun. Karena setiap hari kita diberikan rasa yang bergilir-gilir sebagai bahan untuk “ngawulo”. Menghamba.

Setiap “rasa” yang mampir pada kita dan menjadi kacamata kita dalam memandang hidup, adalah menjelaskan mengenai Asmaul Husna.

Asmaul Husna adalah citra sifat-sifat. Lakuan-Nya. Af’al. Kacamata dalam memandang.

Sedangkan DIA sebagai Yang Dipandang, tidak ada perumpamaannya. Laisa kamislihi syaiun.

Saya rasa perbedaan mendasar antara islam dan approach spiritualitas di luar islam adalah bahwa islam mengajarkan bahwa citra sifat-sifat atau af’al-Nya dalam Asmaul Husna itu, hanya kacamata kita dalam memandang DIA. Bukan Tuhan itu sendiri.

Tuhan, diriNya, tak bisa manusia persepsikan seperti apapun. Tapi perbuatan-Nya, ciptaanNya bercerita lewat alam ini.

Lewat kacamata inilah manusia berakrab-akrab padaNya.