BELAJAR MENJADI LUAS

oceanSetiap dzuhur, saya rela berjalan berpanas-panas jauh dari kantor, untuk menuju kantor di seberang komplek yang lumayan jauh juga jaraknya dari kantor saya. Tujuannya adalah karena di sana ada masjid cukup besar dan nyaman, lebih enak sholat disana, tidak sesempit musholla di kantor saya.

Musholla di kantor saya, benar-benar hanya menunaikan fungsinya sebagai pelepas ritual. Dia cukup untuk sholat saja, selepas sholat sudah harus langsung keluar karena antrian sudah menunggu. Dan saya tak suka dengan ketergesaan itu, maka berjalanlah saya mencari masjid yang lebih nyaman untuk sholat dzuhur sekalian buat ngaso dan tidur-tiduran selepas sholat.

Saya kemudian membayangkan, bahwa masjid yang meluaskan fungsinya melebihi kesempitan ritual semata, ternyata malah membuat orang menjadi dekat dengan masjid.

Bukan saya sendiri, banyak orang yang dari kantornya berjalan lumayan jauh dan numpang sholat di masjid kantor orang itu. Belum lagi pedagang asongan. Belum lagi tukang cendol.

Kalau fungsi masjid dibatasi sebagai pelepas ritual semata, masjid jadi kehilangan fungsi pelayanannya. Lepas dari itu, saya rasa kita akan menjadi sempit saat membatasi peribadatan pada maknanya yang khusus saja. Bukankah sambil santai dan melepas lelah, dalam suasana yang kondusif, orang bisa juga menjadi lebih kontemplatif dan dekat dengan Tuhan?

Di masjid besar itu ada yang tidur, ada yang ngaji disana, ada yang sholat sunnah, ada yang sekedar duduk dan ngadem. Masjid yang menampung keragaman dalam batas-batasnya. Dari pelataran masjid itu saya belajar penerimaan.

Saya teringat kesalahan saya dulunya. Bahwa seperti musholla kantor yang sempit, begitulah saya dulu memaknai perhubungan antara manusia dan Tuhan. Mengira perhubungan manusia dan Tuhan adalah sesuatu yang dibingkai oleh –semata- ritual. Maka dalam berkebaikan pun, saya kurang fleksibel dan tidak nyeni. Menasehati pun sangat kaku. Dengan yang berbeda paham pun sangat kaku. Menginginkan suatu perubahan pun tidak sabar. Seolah kita adalah penentu perubahan.

Padahal, kalau dipikir-pikir, misalnya bercermin pada diri saya pribadi, hampir sebagian besar pencerahan itu sebenarnya kita dapatkan bukan dari nasihat orang lain, melainkan dari pengalaman pribadi yang dihantam-hantam masalah.

Boleh jadi, saat dihantam masalah itu kita akan menemukan tulisan, atau buku, atau guru, yang membahas tentang sebuah tema yang berkaitan dan kita menjadi tercerahkan. Bisa jadi, tetapi jarang sekali kita menjadi tercerahkan dalam konteks dimana ada seseorang yang menjejali kita dengan dogma-dogma, lalu kita tercerahkan. Hampir tak pernah.

Paling-paling, kita merasa tercerahkan, atau baru menangkap “feel” dari sebuah pesan setelah berbilang hari berbilang tahun kita dihantam masalah, baru kita katakan, “oooh bener juga, jadi ini maksud guru saya dulu.”

Berarti, selalulah sebuah konteks pribadi yang membuat seseorang tercerahkan. Kita hanya menjadi “kalam” media, untuk ilmu mengalir. Dan kita sebagai kalam itu, tinggal menunggu orang yang akan dihantarkan oleh konteks mereka masing-masing, pada kita.

Dan yang perlu kita sebagai kalam “tawarkan” kepada rekan-rekan kita, saya rasa adalah sebentuk kesediaan. Kesediaan untuk memberi wacana sebatas porsinya saja. Kesediaan untuk menampung keragaman dan perbedaan rekan-rekan kita, dalam penerimaan yang lapang seperti ilustrasi masjid tadi. Dan juga kesediaan untuk tetap menerima, jikalau suatu ketika ada rekan yang pergi dan belum bersinggungan konteksnya dengan kita. Dan kesediaan untuk tetap menerima kembali kepada rekan yang akhirnya menemukan konteksnya sendiri dan menjadi memahami apa yang kita telah katakan dulu.

Kesediaan untuk melapangkan diri. Kesediaan untuk menyamudera dan menyadari bahwa konteks cerita Tuhan justru kita bisa temukan dalam riuh keragaman ini. Itulah yang paling penting.

Rasulullah saja, sejak diangkat menjadi nabi, sampai kemudian futuh makah, jaraknya puluhan tahun. Dan dalam waktu puluhan tahun itu di sekitar makkah berjubel berhala-berhala. Dan tidak langsung dihantam. Tetapi dibiarkan saja, sampai penduduk Makkah –orang orang yang mengusir beliau- pada akhirnya ikut menghancurkan berhala-berhala itu dengan tangan mereka sendiri, saat Futuh Makkah.

Betapa Rasulullah menunggu konteks. Mensabari konteks untuk datang. Luas sekali beliau itu.

Pada keluasan seperti itulah, orang-orang bijak mengatakan bahwa kita harus belajar seperti samudera, menerima semua yang baik dan yang buruk, untuk kemudian secara alami yang buruk-buruk akan menepi, dan yang kotor-kotor akan mengendap, dan samudera tetap tak akan tercemari karena keluasannya itu tadi.


Image Sources

BLUSUKAN KE DALAM DIRI SENDIRI (2)

pilgrimagePernah suatu kali mobil saya hendak dipinjam oleh kerabat saya. Waktu itu mobil itu baru dibeli, dengan kredit tentunya hehehe.

Mobil baru dibeli, masih kredit, dan ndilalah sudah mau dipinjam sama sodara. Jadi di hati saya ada rasa kurang sreg.

Tetapi saya tahu saudara ini butuh, maka saya pinjamkanlah mobil itu.

Tetapi, di hati ini kok rasanya masih ga sreg. Saya bertempur melawan rasa tidak sreg itu, karena menyadari bahwa rasa ga sreg ini mestilah timbul dari “kemelekatan”, rasa melekat terhadap benda-benda, dan ini tidak baik pada porsinya yang berlebihan.

Sampai saat dimana yang mau meminjam datang ke rumah, di hati masih ada rasa tidak sreg. Hingga detik dimana mobil itu sudah dibawa pergi, lima menit, sepuluh menit kemudian rasa kurang sreg itu hilang. Dia menjadi rasa yang pasrah, bercampur rasa malu untuk telah terlalu melekat. Berganti rasa “plong” di hati.

Setelah rasa tidak sreg-nya hilang, saya kemudian menyadari bahwa tanpa “exercise“, tanpa “latihan” melepas seperti itu maka saya tidak akan bisa mengenali level diri sendiri.

Tetapi dengan adanya “exercise” kita bisa mengetahui ada kemelekatan yang bersembunyi dan baru keluar ketika ada momentnya. Dan rasa tidak enak itu baru bisa hilang setelah benar-benar melepas sesuatu yang melekat di hati itu tadi, di alam kenyataan.

Meskipun tak urung mobil itu kembali, utuh, tak kurang suatu apa, bersih habis dicuci, dan bensin penuh…..hahaha…betapa saya kalau mengingat itu merasa sungguh dagelan. Boro-boro nyusul level para shalihin, mobil dipinjem saja sudah gemeteran. Hihihihi.

Tetapi pelajarannya buat saya pribadi kurang lebih begini:

Pertama, untuk mengetahui seperti apa kondisi asli hati kita atau diri kita, selalulah menjaga jarak mental dan biasakan meniteni diri sendiri secara jujur. Disana kita bisa mengetahui seperti apa gejolak perasaan yang muncul. Gejolak perasaan itu akan secara spontan melaporkan kondisi jiwa kita.

Kedua, jangan dimaknai gejolak perasaan yang muncul itu dengan makna yang negatif. Misalnya…..seandainya masih ada rasa tidak sreg dalam berkebaikan, masih ada rasa berat melepas sesuatu, kita maknai perasaan-perasaan yang muncul sebagai indikator saja. Indikator bahwa masih ada yang harus dibenahi di dalam jiwa kita. Mungkin kemelekatan. Mungkin paradigma keliru. Mungkin macem-macem, kita perlu latihan. Di dalam Qur’an pun perintahnya adalah just do kebaikan itu, dalam –rasa- baik yang ringan ataupun yang berat di hati.[1]

Baik ringan, maupun berat, adalah “rasa”, ianya hanya display indikator yang memberitahu konteks kondisi kejiwaan kita. Yang penting adalah melakukan kebaikan melintasi rasa.[2]

Ibarat kita membaca display indikator, monitor dari sekumpulan alat sensor, begitulah perasaan bekerja.

Pada pokoknya, yang perlu kita tahu adalah bahwa pengabaian terhadap rasa tidak selamanya baik. Karena perasaan adalah sensor yang menangkap sebuah gejala, nah gejalanya ini yang perlu kita ketahui dan atasi. Nanti display indikatornya berubah sendiri.

Misalnya, perasaan “takut”. Kalau dulu, saya mengabaikan rasa “takut”, mencoba mengalihkan perhatian saat ada rasa takut. Sampai saya tersadar saat seorang guru memberi tahu bahwa rasa takut adalah sebuah indikator bahwa ada hal yang kita kurang cukup info akan-nya. Harusnya, kalau ada sesuatu yang saya takuti, saya cari tahu kenapa saya takut? Apakah kurang info? Kurang siap, atau bagaimana?

Seperti zaman dulu orang takut gorilla karena tak cukup ilmu dan pengertian tentang gorilla. Zaman sekarang gorilla di kebun binatang malah ditertawai anak-anak kecil. Manusia takut pada sesuatu yang dia belum cukup mengerti. Begitu seorang guru berpesan.

Dalam cara pandang seperti ini, kita mengakrabi perasaan kita sendiri sebagai sahabat paling jujur memberitakan isi kejiwaan kita sendiri. Pesuruh yang selalu setia melapor.

Jika ada rasa takut, barangkali persiapan (atau input data) kita masih kurang. Rasa takut menjadi alarm-nya.

Jika ada gelisah, mungkin paradigma kita masih keliru. Rasa gelisah menjadi alarm-nya.

Dan seterusnya….dan seterusnya….

Dalam cara pandang seperti inilah kita menjadi jujur dan kenal pada diri sendiri. Kekurangan diri dalam berkebaikan tidak membuat kita desperate, karena kita tahu bahwa sang ajudan sedang melapor kondisi.

Dan dari sana kita menjadi menyadari bahkan untuk mengatur “pemerintahan” atau “kerajaan” kecil dalam diri kita sendiri sudah demikian kompleks dan pelik. Maka kita membutuhkan rahmat-Nya.

Semakin mengetahui gejolak diri, semakin merasa butuh akan rahmat-Nya dan semakin bersandar pada-Nya.

Tanpa mengetahui mekanisme semacam ini, saat kita mengalami gejolak diri, pengharapan kita pada Tuhan malah akan hilang. Yang ada hanyalah kekecewaan pada diri sendiri.

Karena kita gagal memposisikan “perasaan” sebagai display indikator semata, dan juga telah keliru mengira bahwa manusia bisa menyetir alam mikro (dirinya) dan alam makro di sekitarnya (semesta).

Mari BLUSUKAN ke dalam diri sendiri.


Note:

[1] ‘Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan atau pun merasa berat.” (Q.s.,at-Taubah:41).’

[2] Melakukan kebaikan melintasi rasa ini, maksudnya adalah rasa diri kita sendiri, yang merasa berat berkebaikan. Karena ada konteks lainnya, yaitu dimana “rasa” yang bukan disetir oleh kondisi fikiran dan emosi diri sendiri boleh jadi adalah firasat. Ini konteksnya berbeda.

Image sources

BLUSUKAN KE DALAM DIRI SENDIRI

pilgrimageSaya teringat dengan sebuah pernyataan Soekarno, dari yang saya baca pada autobiografinya yang beliau tuturkan kepada Cindy Adams. Dikatakan disana, salah satu tantangan berat bagi Soekarno sendiri untuk membuat sebuah Autobiografi adalah karena dia harus “me-recall” atau mengingat ulang semua kumpulan memori masa lalu. Sedangkan, kumpulan memori masa lalu itu, tak selamanya indah, kadangkala juga berkaitan dengan emosi-emosi yang berat dan sedih.

Maka memasuki ulang memori masa lalu, berarti juga memasuki sekumpulan emosi yang penuh turbulensi.

Memasuki ingatan memorinya, berarti juga mau tak mau tak bisa terhindar dari memasuki gejolak emosinya.

Betapa hebat “kesadaran” manusia itu, sesuatu yang kita kenal dalam istilah “Aql” atau “qalb”, dibahasakan dengan “consciusness” dalam perspektif barat, adalah sebuah kesadaran diri yang bisa menelusuri memori masa lalu, dan atau berangan-angan tentang masa depan.

Nah… dalam kaitannya dengan menelusuri emosi masa lalu, hal ini bisa menjadi baik atau menjelma buruk. Tergantung konteks.

Hal tersebut bisa menjelma baik, jika dimanfaatkan dalam rangka me-recall ulang suasana positif kesyukuran. Misalnya kita mengingat-ingat rahmat Tuhan. Berarti kita berkelana ke sebuah waktu atau konteks masa lalu, yang mana babak dalam cerita itu benar-benar mengingatkan kita akan rahmat Tuhan.

Seperti dalam surat Ar-Rahmaan, saat berulang-ulang kita ditanyakan mengenai “Nikmat mana lagi yang kita dustakan?” hal tersebut berarti juga bahwa kita diminta me-recall ulang kenangan tentang rahmat yang banyak. Memasuki ruang-ruang memori kesyukuran itu, berarti juga  kita akan merasakan suasana kejiwaan yang sama dengan yang pernah kita alami dulu. Suasana kesyukuran. Itu salah satu sisi baiknya.

Tetapi sisi buruknya adalah saat memori masa lalu itu penuh dengan emosi negatif dan kesedihan, maka memasuki bayangan tentang masa lalu itu bisa mempengaruhi emosional kita saat ini. Maka itu saya rasa wajar kalau ada yang menyarankan agar kita tidak usah selalu mengingat-ingat kenangan buruk. Kita mengalihkan perhatian dari suasana emosional yang negatif, dengan tidak lagi menjenguk memori-memori itu.

Yang paling ideal adalah menyibukkan diri dengan beraktivitas kebaikan di masa “sekarang”, sambil terus mengingati Tuhan. itu ideal paling banget-banget lah.

Saat seseorang sudah benar-benar move-on dan berdamai dengan emosi buruk di masa lalu, hal itu memang baik, dan tak perlu-perlu amat untuk menjenguk masa lalu.

Akan tetapi, jika memori masa lalu itu kadang-kadang tanpa diminta sering datang dan mengusik, mempengaruhi kejiwaan dan kestabilan emosi kita dimasa kini, berarti masih ada pemaknaan yang belum selesai. Pengabaian, tak selamanya baik. Ada kalanya, kita harus dengan gentle memasuki diri kita sendiri, blusukan ke dalam diri dan mencari tahu dimana kelirunya.

Dulunya, sebelum tahu ilmunya, saya selalu berusaha menepis memori-memori apapun saja yang datang jika hal itu sepaket dengan emosi negatif. Tetapi, setelah mengetahui ilmunya, bahwa segala kejadian sebenarnya tak lebih dari cara Tuhan menceritakan tentang diri-Nya sendiri, cara Tuhan bercerita tentang goresan asma-asma-Nya. Maka berbekal ilmu itu saya mulai memberanikan diri menjenguk memori negatif masa silam.

Saat benar-benar yakin kondisi kita fit dan sedang benar-benar menyadari bahwa Tuhan sebenarnya bercerita lewat kejadian hidup, maka kita permisi masuk kembali ke dalam memori masa lalu yang kita rasa kita belum “selesai”, untuk kemudian menilai ulang semuanya sebagai cerita Tuhan.

Memaknai ulang.

Dalam kaitannya dengan menulis, terutama yang bernuansa flashback, ternyata jika digunakan untuk memaknai kembali kejadian atau pengalaman hidup, bisa menjadi sebuah terapi akan hal itu.

Barangkali ada kejadian di masa lalu yang kita maknai sebagai sebuah tragedi atau keburukan, tetapi dengan kembali membongkar ingatan tentang hal tersebut (dengan bekal kesiapan mental dan cara pandang yang baru di masa kini) kita bisa terbantu untuk mengatasi trauma masa lalu. Asalkan kita “berangkat ke masa lalu dengan membawa amunisi berupa ilmu dan kepahaman yang lebih baik”. Memandang segala pengalaman hidup sebagai cerita dari Tuhan itu syaratnya.

Kan banyak sekali contoh sederhananya. Misalnya dulu waktu kecil kita pernah merasa begitu sedih saat kita tidak dibelikan mainan, dan kita menangis begitu pilu. Tetapi sekarang setelah dewasa, setiap kali kita mengingati hal tersebut maka kita cuma tertawa geli.

Memorinya sendiri masih ada, tetapi keterkaitan memori itu dengan emosi yang negatif sudah sirna. Karena, kita “mengunjungi” memori masa lalu itu dengan ilmu kita yang sudah lebih dewasa. Memori masa lalu itu, kita maknai ulang dengan kacamata ilmu yang baru. Jadi memori itu dan kita sendiri, sudah “berdamai”.

Sampai pada tataran dimana kita “berdamai” dengan masa lalu itulah, dimana flashback terhadap masa lalu menjadi masih fungsional. Setelah kita berdamai, dan pelajaran sudah kita dapat, tak terlalu penting-penting amat untuk menjenguk masa lalu.

Saya tidak mengerti teori psikologinya, tetapi hal ini saya amati pada diri sendiri, ternyata sangat praktikal, dan dalam satu dua literatur saya temukan bahwa pola seperti ini sering juga dipraktekkan para ahli terapi, meskipun tak selalu dengan cara menulis, tetapi dengan cara seperti tafakur dan dengan sengaja mengunjungi, membayangkan memori-memori masa lalu untuk kemudian melakukan re-framing, pemaknaan baru.

Barangkali, hal seperti inilah yang dipraktikkan seorang sahabat nabi, Abdullah Ibnu Umar, yang dikatakan oleh Rasulullah SAW sebagai penghuni syurga. [1]

Dikatakan penghuni syurga, tersebab amalan sederhananya, yaitu sebelum tidur beliau mengingat ulang keseluruhan kejadian seharian yang beliau telah alami, dan memaafkan setiap detailnya. Lalu beliau tidur dengan tidak membawa dendam kepada siapapun.

Yang paling pokok sebenarnya kalau mau diurutkan adalah pertama membenahi pemahaman bahwa semua hal yang terjadi adalah cara Allah bercerita.

Yang kedua, adalah menyadari bahwa kesadaran kita, “consciusness”, atau “aql” atau “qalb” dalam perspektif islam adalah apa yang disebut oleh Imam Ghazali sebagai “Raja di dalam kerajaan diri”.

Dalam kerajaan mikro kita ini, sang raja (atau kesadaran kita itu) haruslah menjadi tuan, menjadi penguasanya. Dialah yang mengharuskan seluruh jajaran elemen dalam pemerintahannya untuk tunduk dalam perintahnya. Dan menundukkan semua elemen dalam dirinya itu ada seninya sendiri-sendiri.

Khusus dalam kaitannya dengan menundukkan emosi dan memori masa silam ini, pengetahuan tentang takdir dan keridhoan menjadi sarat paling mutlak ternyata.

Lalu dengan bekal itulah, sang raja ini sesekali harus “BLUSUKAN” ke dalam dirinya sendiri. Dan menjenguk dengan cinta kepada elemen-elemen yang masih ngambek di dalam dirinya, sampai cinta sang raja menyembuhkan elemen-elemen yang sakit itu.

Dan kerajaan pun bisa kembali hidup tentram di “present moment”, masa sekarang. Dan melakukan fungsi terbaiknya, yaitu beribadah dan berkebaikan, serta memandang segala sesuatu dalam konteks ceritanya Tuhan.


[1] tentang ini pernah saya tulis di sini https://debuterbang.wordpress.com/2015/07/13/bermalam-di-rumah-penghuni-syurga/

Image sources

KEKASIHNYA DI SEKITARAN KITA

idul-adhaSatu hal yang sering membuat saya tertegun adalah saat mendapati dalam lingkungan sekitar, dimana kebaikan dan ketulusan diterjemahkan lewat bahasa yang begitu sederhana.

Tadi malam saya mengikuti rapat persiapan acara pemotongan hewan kurban untuk besok. Di dalam diam dan keasyikan saya mengamati, saya tertegun untuk menyaksikan bahwa penghambaan, ketulusan, dan peribadatan telah menjelma dalam gerak yang begitu sederhana, aplikatif dan ga neko-neko.

Seorang tetangga dengan semangatnya membeli sebuah timbangan, lewat sebuah toko online, untuk membantu acara potong kurban dan pembagian daging kurban esok. Padahal, istrinya baru melahirkan, padahal lagi besoknya itu dia tak sempat ikut acara tetapi masih berkenan susah payah datang malam ini dan menitipkan timbangan yang baru dibelinya itu.

Seorang tetangga lainnya dengan bersahaja tidak hendak digantikan uangnya yang dipakai untuk membeli konsumsi siang esok.

Seorang lainnya tergopoh-gopoh menawari sound system.

Seorang lainnya menawari agar keperluan listrik dicolok saja dari rumahnya.

Saat peribadatan, hubungan transenden manusia dan Tuhan acapkali dibahasakan begitu pelik oleh para ahli; tetapi oleh mereka-mereka ini kedekatan pada Tuhan, peribadatan, dan penghambaan yang tulus menemukan bentuknya dalam aksi indah dan sangat bersahaja.

Maka saat timbangan baru, makanan dalam kotak, tenaga, tali temali, balok kayu, talenan, pisau dapur, sound system, dan segala yang perkakas sangat biasa itu telah menjelma retorika yang lebih tajam dari diksi seperti apapun, telah menjelma menjadi jawaban hipotesis kajian rumit para scholar tentang hubungan manusia dan Tuhan; saat itulah saya teringat kata seorang guru……hati-hati, jangan-jangan orang-orang biasa yang sering kita temui di sekitar kita itu sejatinya “wali”. Orang-orang yang saking biasanya, mereka sendiripun tak tahu kalau mereka “masyhur di langit”.

Orang-orang yang mengangguk-angguk mencermati wejangan khatib tentang hakikat kurban dan definisinya, tetapi sesungghuhnya sikap “melepas” sudah mengalir dalam nadi mereka, dalam hembus nafasnya.

Teringat saya dengan pesanan Rasulullah SAW. Berlomba-lombalah dalam kebaikan.

Seseorang boleh saja memiliki konsepsi keTuhanan yang sangat dalam, tinggi, begitu filosofi, berbicara tentang keTuhanan yang tak melulu transenden tapi juga imanen, boleh saja….tetapi saat telah menjelma gerak, ianya harus menjelma gerak yang sederhana, yang biasa, yang menjelmakan tataran kerumitan itu dalam bahasa yang aplikatif dan rendah semerendah-merendahnya.

Agar nanti tak malu, di akhirat sana, bertemu dengan orang-orang biasa yang terlalu sering kita “gurui”, ternyata ada di tangga spiritualitas yang bermil-mil jaraknya melampaui kita.

Kalau masih meninggi terus dan merasa hebat terus…..betapa bodoh….betapa bodoh….. Betapa kerdil…..Betapa tidak melihat sekitar.

Itulah sejatinya Kurban saya rasa. Melepaskan diri dari ego yang begitu besar dan membebani, lalu bersimpuh dan memohon ampun atas terlalu tingginya menilai diri sendiri. Lalu taubat lewat berkebaikan dengan sederhana kepada sesama…..

Yang berbuat baik pada ciptaan-Nya, sejatinya berbuat baik pula pada pencipta-Nya.

MINYAK ANJLOK DAN SITI MARYAM

oil-explainer-feb-jumboHarga minyak dunia anjlok. Dari kisaran 100 USD per barrel-nya menjadi sekarang di kisaran 40 USD per barrel-nya. Bahkan sempat di angka 27 USD per barrel-nya. Penurunan ini menimbulkan efek yang sangat masif di dunia perminyakan. Gelombang PHK besar-besaran tak hanya di indonesia tapi di seluruh dunia.

Saya, hingga kini menjadi salah satu yang beruntung untuk masih diberikan kesempatan tetap berkecimpung di dunia perminyakan ini. Tetapi sekian banyak rekan-rekan saya yang lainnya terpaksa kehilangan pekerjaan.

Tetapi yang menjadi hikmah buat saya adalah saat saya mengamati rekan-rekan saya yang terpaksa kehilangan pekerjaan itu, mereka begitu santai menerima fakta ini. Saya jadi heran juga. Ini orang kok seperti biasa aja. Menerima berita pemberhentian dirinya malah santai saja.

Mendadak, puluhan orang yang saya kenal dan kehilangan pekerjaan itu menjadi begitu spiritualis di mata saya. Saya pun membayangkan kalau saya di posisi itu pastilah saya gamang.

Setelah saya renungkan, apa gerangan yang membuat orang-orang itu menjadi begitu easy going menghadapi kenyataan itu, jawabannya ternyata adalah karena mereka mengetahui sebuah fakta bahwa krisis dunia perminyakan bukanlah krisis dalam level lokal kantor kita saja, tetapi adalah krisis dalam skala global. Dan semua orang kena imbasnya.

Pengetahuan bahwa mereka adalah bagian dari isu global, telah membuat mereka menerima fakta yang lokal itu, bahwa mereka kehilangan pekerjaan karena imbas tatanan ekonomi dunia.

Betapapun, saya mengharapkan dunia migas kembali membaik, dan rekan-rekan yang sempat kehilangan pekerjaan itu mendapatkan gantinya yang lebih baik.

Ilmu, pengetahuan, ternyata menjadi prasyarat yang sangat utama dalam kaitannya dengan masalah rasa. Seperti apa realita keilmuan yang kita pahami, seperti itu pula realita perasaan yang akan menjelma pada kita.

Realita perasaan yang menjelma pada kita itulah yang kemudian menyetir perilaku. Dalam bahasa para arifin, HAL (rasa) menyetir  AMAL (aksi atau perbuatan).

Teringat saya kembali dengan bahasan “Maqom” spiritualitas. Seandainya, kita dihadapkan pada situasi itu, kehilangan pekerjaan, apa yang akan kita lakukan?

Tindakan yang bisa kita ambil barangkali : Mencari pekerjaan baru, atau kita berpasrah dan tidak mencari pekerjaan. (Kita anggap saja dalam dua pilihan ini, keduanya dilakukan dalam mentalitas yang bersandar kepada Tuhan).

Sikap pertama, ini adalah hal yang sangat umum kita lakukan. Pengen dapet kerja ya cari kerja, itu runutan logikanya.Simpel.

Tetapi ada sebagian kalangan yang dalam kehidupan mereka, mereka sudah sebegitu tersingkapnya dalam melihat kehidupan, dan menjadi sadar bahwa sebab-akibat itu nisbi semata. Semuanya karena plot yang ditulis Tuhan. Sehingga mereka santai dan menunggu rencana Tuhan terzahir.

Contohnya Maryam. Sang wanita mulia itu menghabiskan waktunya di dalam mihrab, beribadah kepada Tuhannya, dan makanan dihantar langsung ke mihrabnya sebagai anugerah.

Dalam ketersingkapan semacam begitu, dimana sudah tidak lagi melihat sebab-akibat sebagai sesuatu yang berkaitan, maka kita mengerti mengapa Maryam hidup dalam sikap berpasrah seperti itu.

Lha wong makanan diantar langsung ke mihrab. Kalau meninggalkan mihrab karena pengen cari pecel lele kan malah Maryam turun derajat, hihihi.

Untuk setiap lakonan, ada peruntukan adabnya sendiri-sendiri. Dan itulah yang disebut dengan “Maqom” peringkat spiritualitas. Itu hanya istilah saja sebenarnya sih. Tetapi intinya adalah, untuk setiap derajat ketersingkapan, ada adab dan tuntutan untuk berlaku sesuai apa yang tersingkap padamu.

Seperti Abu Bakar menyedekahkan semua harta tanpa ada sisa, kalau ditiru kan repot kita.

Yang jadi problem adalah, kita ini kadang-kadang keliru memraktekkan. Yang ditiru bukan sikap batinnya, melainkan meniru style fisikal orang-orang yang berada pada peringkat spiritualitas yang tinggi. Walhasil bukan kedekatan pada Tuhan yang didapat, tetapi malah gaya-gayaan doang. Hehehe.

Maryam, adalah contoh orang-orang yang larut dalam dzikirnya, dan lupa meminta apapun selain dari kedekatan pada Tuhannya, sehingga dia diberikan sesuatu yang lebih baik dari apa yang diminta oleh orang-orang yang meminta.[1]

Sedangkan level saya, dan barangkali diantara rekan-rekan ada yang sama, adalah level dimana hati masih ditelusupi kekhawatiran. Masih ada keinginan. Masih ada ketakutan.

Sebenarnya dengan menjujuri melihat rasa-rasa yang silih berganti dihantar ke dalam hati, maka kita bisa menilai di maqom mana kita berada. Perasaan-perasaan yang datang itu, itu jelas sekali kalau “dihantarkan” kepada kita lho. Berarti kita disuruh kembali padaNya dengan memandang-Nya lewat citra itu. Menegakkan penghambaan.

Dulu saya bingung, gimana ya caranya tahunya maqom kita dimana? Padahal sederhana sekali, lha kalau masih ada khawatir dan takut, ya tentu bukan maqomnya Maryam. Hahaha.

Yang penting ternyata, bagaimana kita menjadikan segala rasa dan bersit fikiran yang datang dihantar kepada kita sebagai pintu untuk kembali kepada Tuhan.

Maka dalam ketakutan dan kekhawatiran, kita menjadi menemukan konteks untuk kembali kepada Tuhan. Kita memandangNya dalam citra Yang Maha mengabulkan do’a, yang Maha Melapangkan, dan sebagainya.

Masalah maqom, apakah sebaiknya saya berusaha atau tidak berusaha ya? Itu ga usah dipikirin.

Setiap kali kita masih bingung apa yang harus dilakukan, maka setiap itu pula berarti kita bukan ada di Maqom yang berpasrah total tanpa usaha. Karena rumus untuk berada di maqom itu adalah ketertenggelaman dalam penyaksian. Dan orang yang tenggelam dalam penyaksian ga mungkin sempat untuk bingung apa yang harus dilakukan.

Pada pokoknya berbuatlah yang kita bisa. Dan dalam berbuat itu kita sadari bahwa kita pun mengikuti plot-Nya. Nanti, kalau kata guru-guru, lama-lama maqomnya “naik” sendiri.

Karena, konsistensi dalam beramal pada tataran ketersingkapan kita masing-masinglah, yang penting.


References:

[1] Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tuhan Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “Barang siapa yang sibuk membaca Al Qur’an dan dzikir kepada Ku dengan tidak memohon kepada Ku, maka ia Aku beri sesuatu yang lebih utama dari pada apa yang Aku berikan kepada orang yang minta”. Kelebihan firman Allah atas seluruh perkataan seperti kelebihan Allah atas seluruh makhlukNya”. (Hadits ditakhrij oleh Tirmidzi).

AGAR PUNDAK TAK BERAT MEMIKUL

memikulSatu hal yang saya masih jatuh bangun mempelajarinya adalah sikap batin untuk “tidak turut mengatur” kejadian-kejadian dalam hidup.

Ibnu Athaillah As Sakandari mengatakan, istirahatkan diri kita dari tadbir. “Tadbir” inilah yang dimaksud dengan sikap batin merasa punya andil dalam mengatur cerita hidup.

Berhubung sekarang dekat-dekat lebaran Idul Adha, saya kembali teringat kisah Ibrahim a.s. Tetapi bukan pada adegan menyembelih Ismail, melainkan pada babak dimana Ibrahim harus meninggalkan Hajar di lembah Makkah.

Awalnya dari kecemburuan Sarah, istri pertama beliau, yang karena rasa cemburunya kemudian menyuruh Ibrahim memilih dia atau Hajar. Kan Nabi Ibrahim tentu bingung dong ya?

Lalu ndilalah sejalan pula dengan perintah Allah untuk meninggalkan Hajar dan Ismail di lembah tak berpenghuni.

Poinnya yang saya lihat setidaknya berikut ini. Bahwa hal-hal dalam konteks lokal dan mikrokosmos, semisal gejolak cemburunya Sarah Sang Wanita Mulia itu, dan titah pada skala keluarga, dari Allah pada Ibrahim agar meninggalkan Hajar di lembah tak berpenghuni, rupanya adalah satu kesatuan plot besar dari cerita dimana Allah memang ingin menurunkan dua klan besar orang-orang salih.

Yaitu klan Ismail dan Ishak. Yang banyak orang shalihnya, tapi tak urung juga banyak cerita konflik di antara keturunan mereka.

Jadi, bagaimana kita bisa tahu bahwa sesuatu dalam level mikro semisal perasaan kita, atau sesuatu dalam skala lokal semisal kehidupan rumah tangga, atau persoalan dunia pekerjaan, dll…..bukanlah bagian dari plot global, besar, dan dalam jangka waktu panjang?

Mengingat hal ini, lalu kembali teringat dengan pesanan para guru agar jangan banyak sok ngatur dalam hidup. Dalam level batiniah, kita harus menghilangkan diri dari sikap merasa bahwa kerja kitalah yang mengatur jalannya semesta cerita. Ini kadang-kadang gampang kadang sulit.

Tapi setidaknya tahu ilmunya dulu. Dengan tahu ilmunya, maka suasana batin dan perasaan akan menyusuli pada saatnya sendiri.

Saya teringat dulu orang tua pernah mengatakan sebuah peribahasa, “seberat-berat mata memandang, masih berat pundak memikul.” yang sebenarnya konteksnya adalah mengatakan bahwa bagaimanapun kita memberi nasihat pada seseorang, sesungguhnya yang melakoni sendirilah yang tahu seperti apa beban yang dirasakan.

Tapi belakangan saya menyadari bahwa peribahasa itu bisa dikembangkan menjadi lebih spiritual.

Seberat-berat mata memandang, lebih berat pundak memikul.

Maka agar mata kita tak memandang berat persoalan hidup, sadarilah bahwa sebenarnya bukan kita kok yang memikul beban hidup ini. Kita hanya ikut plot.

Saya teringat seorang guru pernah bilang, sadarilah bahwa bukan kamu yang mengharungi hidup ini.

Dulu masih bingung maksudnya apa ya?

Makin kebelakang jadi malah membenarkan, eh…..bener ya. Sebenarnya bukan kita yang memikul beban hidup ini. Karena beban dalam skala mikro dan lokal yang kita rasa sebenarnya jadi satu dengan plot cerita global lho. Kita ini part of the master plan.

Dan sebenarnya kita hanya menyaksikan saja. Harmoninya disana. Secara fisikal kita bergerak. Lakonono yang terbaik. Do our best (mengikut rentak DIA). Sambil secara batiniah kita menjaga jarak mental agar tidak merasa ada kemampuan menyetir jalan cerita.


*) Gambar ilustrasi dari link berikut

DIKEJAR ANJING, DAN BERKEBAIKAN

Pernahkah rekan-rekan dikejar anjing? Saya pernah, dulu waktu kecil sekitar kelas 2 SD. Ceritanya saya sedang berjalan menuju rumah seorang rekan, tiba-tiba anjing besar hitam menggonggong dan mengejar. Saya lari lintang pukang ketakutan dan menangis. Waktu saya menangis saya sontak langsung duduk jongkok, ternyata anjingnya malah lari berbalik.

Belakangan saya baru tahu kalau anjing akan lari berbalik kalau kita langsung mengambil posisi jongkok saat dikejar anjing, barangkali dalam pandangan seekor anjing, tindakan itu mirip seperti orang mau ambil batu buat nimpukin, hehehe.

Setidaknya dua hal yang dapat saya share kepada kawan-kawan saya yang lain selepas tragedi itu, yaitu pertama trik pura-pura jongkok, kedua yaitu jangan lewan jalan sana, karena ada anjing yang berkeliaran.

Pertanyaannya kemudian adalah… apakah saya menjadi hebat dengan sharing bahwa saya pernah dikejar anjing? Tentu tidak, bukan? Apa hebatnya dikejar anjing?

Apakah saya menjadi hina dengan sharing bahwa saya pernah dikejar anjing? Tentu tidak, karena bisa saja hal itu dikemudian hari akan menyelamatkan seorang rekan saya.

Apakah seorang awam seperti saya tidak boleh sharing pengalaman dikejar anjing? Haruskah pakar dunia binatang saja yang boleh sharing? Tentu tidak.

Dan seperti itulah kiranya pandangan kita dalam berkebaikan. Kita tidak harus menjadi orang yang paling baik sedunia untuk membagikan kebaikan. Bahkan boleh jadi kita adalah orang yang pernah terjerumus dan masuk dalam keburukan serupa. Tetapi kita membagikan karena menyadari sebuah peran sosial. Di dunia ini kita tidak sendiri. Kita dalam sebuah team raksasa.

Jika manusia diciptakan untuk mengenal Tuhan, maka sebenarnya seluruh kejadian dalam hidup pasti dalam ruang lingkup upaya pengenalan itu. Dan dalam tugas itu kita tidak sendiri lho…. Ratusan, ribuan, jutaan manusia sepanjang sejarah berganti-ganti di muka bumi masih dalam tugas yang sama itu, mengenali Tuhan-nya.

Jadi sejak awal kita ini sebenarnya kerja team. Sejak awal kita ini dalam team, kerja sama adalah hal yang tak bisa dielakkan.

Saya rasa itu juga pesan dari surat Al-Ashr, demi masa, manusia rugi semua kecuali yang iman. Yang iman rugi kecuali menjelma amalan shalih. Yang beramal pun juga rugi jika tidak urun rembug dalam sharing menetapi kebenaran dan kesabaran.

Ibnu Athaillah As Sakandari dalam Al Hikam mengatakan bahwa seseorang yang dalam menceritakan kebaikan; dia menceritakan dirinya sendiri; suatu ketika nanti akan bungkam. Karena dirinya tidak sebaik apa yang dia ceritakan itu. Dia akan didera rasa bersalah.  Akan tetapi, seseorang yang dalam menceritakan kebaikan; dia menceritakan rahmat Tuhan-nya; dia tidak akan bungkam. Karena boleh jadi dirinya keliru dan salah, tetapi rahmat Tuhan-nya tentulah luas dan lebih baik dari dirinya yang kerdil. Bukan dirinya yang jadi fokus cerita, tetapi rahmat Tuhan yang dia temukan sepanjang hidup.[1]

Saya rasa itulah batasan yang jelas dalam hal berkebaikan, dalam hal sharing. Jangan menjadikan diri kita sendiri sebagai role model. Tapi ayo kita bersama-sama berbagi tentang jatuh bangunnya kita dalam mengenali-Nya. Lewat cerita baik dan buruknya hidup kita ini. Karena konteks cerita sudah bukan diri kita sendiri, tetapi pembacaan atas rahmat Tuhan. Saya rasa itu yang penting.

Dengan mengetahui bahwa kita sebagai manusia ini sebenarnya satu team, sebenarnya kita adalah bagian dari drama kolosal yang sudah berlangsung bertahun-tahun, jutaan tahun, maka pelan-pelan kita akan merasakan betapa pelajaran itu banyaknya luar biasa di sekitar kita. Kalau disharing tak habis-habis.

Saya ceritakan satu kekeliruan cara pandang saya dulu. Dulu saya termasuk yang sombong tanpa saya sadari. Kesombongan itu adalah dalam konteks bahwa saya selalu ingin mengetahui jawaban segala persoalan dari kajian saya sendiri. Sebuah bentuk kesombongan untuk belajar hanya dari pengalaman pribadi saya sendiri. Jadi, kalau ada masalah, saya tak mau mendengarkan masukan, saya lebih senang menganalisa sendiri. Pokoknya prinsip saya adalah kalau belum mengalami sendiri, belum bener. Ilmu itu adalah hasil pengalaman sendiri.

Dalam satu sisi itu baik, tapi dalam sisi lainnya saya melupakan konteks kerja team itu tadi. Qur’an sendiri mengatakan, kalau tidak tahu….bertanyalah.[2]

Sampai akhirnya saya tersadar, kita ini makhluk sosial, dan kerja team. sebagian orang dilebihkan atas sebagian lainnya dalam konteks kerja team juga. Bayangkan saja, kalau misalnya setiap orang harus mengkaji sendiri, misalnya listrik, berapa tahun waktu yang dibutuhkan untuk setiap manusia melakukan percobaan listrik sampai bertemu listrik? Kan tak perlu setiap orang menemukan listrik lewat perenungannya sendiri.

Penemu listrik sudah ada, dan kebermanfaatan dari ilmunya sudah disebarkan pada khalayak. Walhasil, anak TK saja sekarang sudah ngerti listrik. Dan tak perlu kita suruh anak TK menemukan sendiri apa itu listrik. Kalau begitu cara pandang kita, dunia tidak berkembang.

Kerja team…. amalan shalih. Berbagi…..bukan tentang diri, tetapi tentang Tuhan dan pelajaran sepanjang hayat. Tak mungkin tak ada yang bisa dibagi. Pasti ada insyaAllah. Bahkan dalam jatuh dan terpuruk kitapun ada pelajaran. Lebih banyak bahkan dibanding dalam kebaikan-kebaikan yang pernah kita lakukan.

Seorang guru mengatakan, para pendosa itu ibarat orang yang terluka di medan laga. Kalau kita semua ini adalah prajurit di medan juang, dalam satu tugas yang sama, adalah logis bagi kita untuk menyelamatkan orang-orang yang luka, mengobati mereka, dan memberi semangat kepulihan agar mereka kembali bisa turun ke medan dan bertempur lagi di barisan yang sama dengan kita.

Hal ini yang saya belum pandai lakukan, dan belajar terus. Untuk melihat bahwa manusia seberapapun ga karuannya, sebenarnya adalah team yang sama dengan kita. Dalam tugas yang sama sepanjang jaman, mengenali Tuhan. dan Tuhan ingin dirinya dipandang lewat kacamata berbagai-bagai pengalaman hidup itu. Maka seringkali dengan konsep seperti ini, melihat orang lain timbulnya adalah rasa ingin belajar, seperti kita melihat rekan satu team.

Mesti ada yang orang lain bisa bagikan, dan mesti ada sesuatu yang kita bisa petik. Dan ini sudah bukan lagi siapa baik siapa buruk. Ini sudah tentang rahmat Tuhan saja.


References:

[1] ”Siapapun yang mengungkapkan hamparan kebajikan dari dirinya, maka rasa buruk pada dirinya di hadapan Tuhannya akan membungkamnya. Dan siapa yang mengungkapkan hamparan kebajikan Allah Swt kepadanya, maka keburukan yang dilakukan tidak membuatnya terbungkam.” Ibnu Athaillah, Al-Hikam

[2] ……Maka bertanyalah kepada orang yang memiliki pengetahuan jika kamu tidak mengetahui. (QS An Nahl:43)

(BUKAN) WAKTU YANG MENJAWAB SEGALANYA

Ada sebuah ungkapan yang sangat masyhur, “Biar waktu yang menjawab segalanya”. Keren banget kan ya? Hehehe…. Tapi sebenarnya benarkah waktu menjawab segalanya?

Saya mensyukuri kebiasaan saya yaitu menulis dan mencatat pelajaran dan perjalanan, dari menulis ini seringkali kalau saya flashback dan melihat masa lalu, apa-apa yang saya gelisahkan di masa lalu, mestilah bertemu jawabannya di masa mendatang. Selalu begitu berulang-ulang. Sehingga saya tersadar bahwa benar juga, seiring waktu pertanyaan dalam hidup terjawab.

Satu contoh misalnya saya dulu sewaktu masih bekerja di pengeboran minyak lepas pantai, di awal-awal, sempat merasa gamang. Mau kemana arah hidup ini? Pasalnya saya sebenarnya bekerja pada tempat yang tak terlalu nyambung dengan keilmuan perkuliahan saya. Tetapi bukankah dulu pun awalnya saya sempat merasa bingung juga semasa awal kuliah, ini perkuliahan saya akan menghantarkan saya kemana? Pendek kata, ada keinginan saya agar berkecimpung pada pekerjaan yang lebih banyak berkaitan dengan orang-orang ketimbang dengan batu dan bising alat pemboran, lebih banyak presentasi karena saya merasa “klik” saya disana.

Dan hari ini, pagi ini, saya mengetik ini dari ruangan kantor di salah satu sudut jakarta, sembari menunggu jadwal untuk presentasi. Dalam cerita hidup yang lain lagi, yang beda lagi. Apa yang dulu saya pertanyakan, bertahun kemudian bertemu jawabannya.

Para motivator, sering menasehati kita begini, “hati-hati dengan apa yang kau inginkan.” Pasalnya, keinginan itu boleh jadi terkabul di masa depan, jadi kita harus hati-hati menginginkan atau mencita-citakan sesuatu.

Setelah belajar dan menelaah kajian para arifin, saya menemukan cara pandang sebaliknya. Bahwa jawaban, dan pertanyaan itu sebenarnya satu paket. Karena Tuhan ingin memberi sesuatu, maka Tuhan kemudian mengilhamkan kepada hati manusia pertanyaan-pertanyaan dan rasa butuh itu.

Jadi…. Pertanyaan, kegelisahan, keinginan, sebenarnya adalah pertanda dari pemberian yang sudah disiapkan untuk terzahir di masanya yang tepat.

Tentu tak selalu begitu formulanya, akan tetapi, kalau kita jernih dan belajar selalu mengingati-Nya, akan ada jenak dimana pelan-pelan kita bisa bedakan mana yang keinginan-keinginan doang, mana yang keinginan yang dalam dan seakan turun begitu saja. tiba-tiba saja muncul dan menetap.

Maka dari itulah, barulah saya mengerti pentingnya do’a. Do’a, itu bukan dalam rangka memberitahu Tuhan. Akan tetapi do’a sebagai sarana menegakkan penghambaan. Seolah-olah kita memberikan hak-nya Tuhan.

Hak DIA-lah untuk dipandang oleh makhluq-Nya sebagai muara segala jawaban atas persoalan. Hak-Nya lah untuk dipandang sebagai hulu dari segala pertanyaan. Karena DIA ingin dipandang sebagai yang berkuasa atas makhluq-Nya, maka kita akan selalu diguyuri rasa butuh dan pertanyaan. Yang nanti semua akan terjawab, indah dan rapih sekali.

Permasalahannya, seringkali kita sendiri lupa dengan apa yang kita tanyakan. Kita lupa sendiri apa yang kita mintakan. Sehingga saat jawaban dari pertanyaan itu muncul, kita tidak bersyukur.

Barangkali, agar kita merasakan benar bahwa pertanyaan dan kegelisahan kita sebenarnya sudah ada jawabannya, bisa dimulai dengan cara menuliskannya. Supaya ada rekam jejak. Dan nanti betapa kita akan bersyukur bahwa jawaban itu sudah diatur untuk muncul pada waktunya sendiri. Dan pada waktu jawaban itu sudah muncul, kita bisa flashback karena kita terbiasa mencatat apa yang kita fikirkan.

Barangkali, kalau dulu kita memahami keinginan sebagai sesuatu yang harus diwaspadai, karena boleh jadi keinginan itu mewujud dalam bentuk pengabulan di masa depan. Sekarang kita mencoba merubah cara pandangnya. Saat ada keinginan, sadarilah bahwa keinginan pada manusia merupakan cara Tuhan mengajarkan bagaimana manusia memandang-Nya.

Keinginan adalah bahan bakar dari rasa butuh. Rasa butuh yang menyebabkan kita menunaikan penghambaan, dan memposisikan Rububiyah-Nya dengan sempurna.

Jadi, DIA-lah yang menghujamkan pertanyaan, dan DIA-lah yang menggoreskan jawabannya. Karena DIA ingin kita memandang-Nya begitu.

TIPS UNTUK MENIKMATI KULIT

Peanut2Rekan-rekan masih ingat “Aqua Fruit”? salah satu varian produk Aqua, air mineral itu, yang diberi rasa buah-buahan. Muncul sekitar tahun 2004, dan sekarang sudah hilang, berganti salah satu varian lainnya yaitu Mizone. Itu lho…. Yang sering dijual pedagang asongan di bus, “Mijon…mijon…”

Apa yang menarik dari Mijon? Eh…Mizone? Sebenarnya yang menarik bagi saya adalah slogan dari varian pertamanya itu, yaitu slogan Aqua fruit. “Air itu essensial, tapi rasa juga penting.”

Tiba-tiba teringat dengan slogan itu, terbersitlah saya hendak menulis kali ini. Tentang esensi dan kulitnya.

Kita selama ini memang sudah belajar sebuah kebijakan bahwa yang paling pokok adalah esensi alias hakikat terdalam dari sesuatu. Misalnya….intinya dari makan itu adalah sebenarnya “rasa kenyang, dan nutrisi-nya”, inti dari kepemilikan dan kerja keras adalah sebenarnya manusia mengejar “rasa bahagia-nya”. Itu namanya kita belajar esensi. Esensi penting, agar tidak terjebak dalam hal-hal yang kebendaan.

Tetapi, agar hidup kita seimbang, kita perlu belajar menikmati kulit. Esensi penting, tapi kulitnya haruslah disyukuri.

Jika inti dari makan adalah rasa kenyang dan nutrisinya, bagaimana jika manusia langsung ke inti saja? tak perlu “kulit” berupa citarasa makanan, bermacam menu dan tampilan, yang penting langsung kenyang saja dan langsung ke nutrisi saja. Apa jadinya?

Sebenarnya hal tersebut sudah terjadi di dunia nyata, misalnya orang sakit yang diinfus. Mereka langsung ke inti. Langsung ke nutrisi, tanpa perlu menguyah dan menu macam-macam, tapi kan ga seru.  Contoh lainnya adalah astronot, yang konon makannya adalah pil yang kaya nutrisi, tetapi kemudian tidak lagi, karena jelas kurang asyik bagi para astronot itu.

Jadi…. Mengetahui esensi itu penting, agar tidak hidup salah arah. Tetapi menikmati kulit-nya itu juga natural dan manusiawi.

Dalam kaitannya dengan spiritualitas, “menikmati kulit” untuk mencapai esensi, inilah domain-nya manusia.

Coba tengok, segala bentuk ketaatan manusia, mesti ditemukan kaitannya dengan kulit-kulit pengalaman hidup. Ada yang menjadi menemukan esensi ketaatan, lewat kulit-kulit pengalaman hidup yang penuh dengan kemudahan, yang dari sana dia kemudian bersyukur.

Ada yang menemukan esensi ketaatan, lewat kulit-kulit pengalaman hidup yang penuh dengan duka nestapa, yang dari sana dia kemudian menemukan sikap fakir kepada Tuhan.

Semua nilai-nilai esensi yang manusia temukan, mestilah dari proses mencerna kulit-kulit kehidupan itu. Maka penting untuk menikmati kulit. Menikmati kulit dalam rangka mencapai nutrisi, mencapai esensi.

Jika manusia langsung ke inti, maka manusia akan menjadi malaikat. Malaikat tak butuh kulit-kulit pengalaman hidup. Ketaatan para malaikat adalah langsung ke esensi. Taat saja tanpa pakai pengalaman hidup, dan taat selalu tanpa ada naik turun.

Dalam perjalanannya, orang-orang yang meniti jalan pulang kepada Tuhan seringkali tergoda untuk langsung ke inti. Karena mereka mulai mengenal inti, mereka jadi lupa menikmati kulitnya.

Barangkali itulah mengapa para arifin kemudian merumuskan suatu tahapan perjalanan yang dikenal dengan nama “Maqomat” atau jamak dari kata “Maqom” alias tahapan-tahapan spiritual. Supaya tidak gebyah uyah.

Bahwa tatanan syariat dibuat untuk skala umum. Semua orang wajib mengikuti tatanan umum itu. Tapi kemudian, ada yang di luar tatanan umum itu, yaitu lelaku dari orang-orang yang tahapan spiritualnya di atas kebanyakan orang. Kalau diterapkan di tataran umum, ya repot. Contohnya Abu Bakar yang bersedekah seluruh hartanya tanpa ada sisa.

Contoh sederhananya lainnya barangkali tentang sebuah hadits dimana dikatakan jika ada hamba yang sibuk berdzikir (mengingatiNya) sampai lupa meminta, maka akan diberikan sesuatu yang lebih baik daripada orang yang meminta.[1] Lalu dengan tergesa dimaknai dengan “kalau begitu tidak usah meminta saja”. Toh nanti diberi yang lebih baik.

Itulah sikap yang tergesa langsung ke inti. Padahal, kenyataan kita hidup di alam dunia ini, menjadi manusia, tidak semata menuju inti, tetapi mensyukuri pagelaran kulit-kulit kehidupan yang sudah Allah takdirkan.

Dan disitulah fungsinya do’a, do’a terbit dari berkecimpungnya kita dalam kulit-kulit kehidupan ini. Dengan berdo’a, maka kita menegakkan sikap kehambaan. Disebut oleh para alim dengan menegakkan Rububiyah, hak ketuhanan. Hak-nya Tuhan untuk dipandang lewat kulit-kulit pengalaman hidup kita. Itulah Asmaul Husna, kita memandang-Nya lewat kulit-kulit pengalaman hidup. Lalu kita bertemu esensi dari sana.

Pagelaran dunia, digelar, agar manusia mencapai esensi, lewat menikmati kulitnya.

Itulah mengapa kita diperintahkan berlindung dari neraka, lalu meminta syurga. Jika intinya adalah Tuhan semata, ya tidak usah meminta syurga dan neraka, begitukah?

Bukan begitu…. level kita ini tentulah berlindung dari kesulitan, dari siksa, dari rasa hati yang sempit dan sesak, dari ujian yang berat, dan segala hal yang neraka. Lalu kita meminta kepada Tuhan yang menggenggam segala kemudahan yang syurga. Jadi kita memandang-Nya selalu lewat konteks. Selalu lewat kacamata. Lewat kulit-kulit pengalaman hidup yang menghantarkan kita kepada isi.

Jika kita selalu menikmati kulit-kulit pengalaman hidup kita, dan lalu darisana kita selalu mengaitkan bahwa kulit hanyalah gerbang menuju hal yang lebih esensi, barulah lambat laun kata para arifin, maqom kita akan naik.

Barangkali disanalah mereka-mereka para salih berada, setelah menikmati segala kulit kehidupan, mereka sampai pada kondisi dimana selalu mengingat Tuhan saja, dan sampai lupa untuk meminta selain-Nya.

Kalau kita? Kapan kita sampai kesana? Ya ndak usah dipikir…..lihat saja batin kita sendiri. Adakah kegelisahan? Ketakutan? Atau rasa syukur? Atau kegembiraan? Semua itulah kulit-kulit kehidupan. Cerna saja, nikmati, dan lewat sanalah kita menegakkan rasa kehambaan dengan berdo’a. Dari kulit-kulit itulah kita nanti mencapai esensinya.


References:

[1] “Artinya : Barangsiapa yang sibuk berdzikir kepadaKu sehingga lupa berdoa, maka Aku akan memberinya sesuatu yang lebih baik dari apa yang Aku berikan kepada orang yang berdoa” [Hadits Dhaif, didhaifkan oleh Ibnu Hajar, Fathul Bari 11/138]

Image sources

MENGAPA SETAN BERLARI DARI UMAR?

FIRE WATERSatu hal yang bagi saya pribadi rasakan cukup berat adalah “membayar” ongkos sosial dalam urusan pekerjaan. Membayar disini maksudnya tentu bukan dalam hal uang, melainkan dalam hal psikologi batin saya sendiri. Banyak tuntutan pergaulan sosial yang saya tidak terlalu nyaman melakukannya.

Salah satu contoh adalah hal sederhana semisal undangan makan malam. Atau juga makan siang bersama. Dalam urusan kantor pastilah sekali dua akan ada momen dimana kita berkumpul bersama dan makan malam satu team atau makan siang bersama satu team.

Tak ada yang salah dengan makan malam, tetapi sebenarnya kondisi kumpul-kumpul begitu banyak orang dan berbincang-bincang dalam rangka ramah tamah bagi saya pribadi terasa sangat menguras energi dan meletihkan.

Saya memang pada dasarnya tak terlalu suka keramaian dan apalagi harus berbincang dengan banyak orang yang tak terlalu lekat secara personal dengan saya.

Itulah PR besar saya, yang sampai sekarang masih susah payah saya atasi. Saya sulit dekat kepada orang-orang yang tak saya temukan “klik-nya” pada diri saya. Saya bukan tipikal orang yang memiliki ribuan pertemanan. Tetapi segelintir saja teman yang dekatnya menjadi sahabat.

Setidaknya ada beberapa pelajaran yang saya dapatkan dari mengamati kelemahan saya sendiri ini. Saya teringat sewaktu SMA barangkali saya akan mengambil langkah frontal, yaitu begitu seseorang itu saya klasifikasikan sebagai orang yang tidak “klik” atau tak saya temukan kemiripannya dengan saya, maka saya menjauh. Saya sudah sadar bahwa saya tidak bisa menjadi sahabat erat pada orang dengan tipologi semacam itu.

Berteman tentu saja, tapi untuk masuk dalam lingkar persahabatan tidak bisa. Tetapi ternyata mau tak mau sikap itu terbaca pada ejawantah keseharian. Seperti sombong. Ini keliru.

Kemudian selepas kuliah saya mulai menyadari kekeliruan itu. Maka saya berupaya untuk tetap bisa menghabiskan waktu bersama dengan orang-orang yang sebenarnya secara karakter, sifat-sifat, kecenderungan, berbeda dengan saya.

Pada aktivitas luar, saya mencoba untuk tidak menjauh. Tetapi pada aktivitas batiniah, ternyata dalam diri saya yang paling dalam masih ada semacam resistensi dan penolakan. Bahwa orang-orang dengan tipikal A, B atau C tentu bukan orang yang akan bisa dekat dengan saya. Belum ada penerimaan yang utuh.

Dan disinilah saya menyadari dimana saya harus memfokuskan perbaikan, pada sisi batin.
Penerimaan kita (dalam aktivitas sosial keseharian) kepada keragaman tipikal-tipikal manusia ternyata berkaitan erat dengan penerimaan pertama dalam skala batiniah dahulu.

Selama masih berat menerima fakta bahwa dualitas di dalam dunia ini semata dihadirkan untuk menceritakan diriNya yang ESA dan non dualitas, maka pasti kita masih akan ada rasa-rasa bahwa si A itu jelek, si B itu ga baik, saya lebih baik daripada si A dan B.

Karena kita tidak mengetahui fakta itu. Bahwa Allah SWT menzahirkan dualitas cerita sebagai jalan menuju-Nya. Ada orang-orang yang menuju-Nya lewat jalan kebaikan, dan kebaikan itu disyukuri sebagai anugerah-Nya, maka sampailah orang itu kepada –Nya. Ada orang-orang yang menuju-Nya lewat jalan keburukan. Keburukan-keburukan yang mereka lakukan sepanjang perjalanan dan yang mereka saksikan itu, pada gilirannya sendiri akan ditaubati oleh mereka, dan lalu lewat pintu pertaubatan itulah mereka sampai pada-Nya.

Seperti kita bersama tahu bahwa seandainya masih ada sebiji sawi saja iman di hati seseorang, maka mereka diangkat keluar dari neraka. [1]

Dalam pandangan saya setidaknya setelah saya mengamati kajian para arifin, barulah saya mengerti bahwa endingnya bukan neraka-nya, tetapi ending dari cerita hidup ini adalah pengenalan pada-Nya lewat kerangka dualitas. Baik-buruk. Syurga-Neraka. Tetapi ujungnya adalah pengenalan.

Dalam pandangan seperti itu, saya menyadari ternyata bahwa saya belumlah “lapang” dalam menerima keragaman.

Baik, dan buruk, masih saya perlakukan berbeda. Padahal dua-duanya adalah jalan cerita menuju Tuhan.

Tentu maksud saya disini bukan bermakna membiarkan keburukan, kita tentu harus memperbaiki dalam porsi-porsi yang kita bisa, tetapi maksud saya adalah dalam batin kita mestilah ada penerimaan kepada fakta bahwa akan selalu ada orang-orang yang dijalankan di jalur keburukan lalu menemui-Nya setelah merasakan “kapok” pada ujung jalan itu. Lalu taubat.

Saya teringat pada kisah Khalifah Umar, contoh seorang yang sangat tajam karakternya, begitu kuat pada sisi “Baik” setelah sebelumnya beliau begitu kuat pada sisi “Buruk” lalu beliau berubah.

Dalam perubahannya itu, beliau begitu tajam menterjemahkan sisi kebaikan beliau ke dalam kehidupan.

Saking tajamnya, dalam suatu hadits kita pernah dengar bahwa setan pun kalau bertemu Umar r.a langsung kabur dan tak mau berpapasan kalau di jalan. Dan contoh lagi dimana saat suatu ketika Umar datang kepada Rasulullah SAW dan meminta izin bertemu, di saat itu para wanita yang sedang menabuh rebana di hadapan Rasulullah langsung kabur ketakutan. [2]

Umar heran mengapa para wanita itu lebih takut kepada dirinya ketimbang pada Rasulullah SAW? Harusnya mereka lebih segan pada Rasulullah SAW, bukan?

Sekarang baru saya tahu jawabannya. Umar adalah orang yang keras dalam sisi baiknya. Semua yang buruk dihancurkan dan ditumpas. Umar, adalah contoh orang yang begitu tajam kebaikannya. Umar sampai kepada Tuhan dengan sisi kebaikan yang begitu tajam itu.

Sedangkan Rasulullah SAW,  Beliau melampaui dualitas baik dan buruk.

Maka kita mendengar setan lari lintang pukang ambil jalan lain saat bertemu Umar, tetapi dalam kisah lainnya kita tahu bahkan sekumpulan jin datang kepada Rasulullah berbondong-bondong minta diajari [3].

Orang-orang dengan potensi keburukan atau orang-orang dengan potensi kebaikan semua dirangkul oleh Rasulullah SAW dalam penerimaan yang “lapang”. Kita akan menemukan orang-orang dengan penerimaan yang lapang ini menjadi magnet pada orang-orang yang meniti sisi dualitas baik dan buruk. Semua merasa tentram padanya.

PR kita dalam meneladani contoh di atas barangkali tangga pertama ialah menekuni sisi kebaikan dengan tekun dan tajam.

Kemudian, kita lanjutkan dengan belajar sirna dari keragaman dualitas, dengan menyadari bahwa dualitas adalah cerita. Mulai menerima baik dan buruknya dunia sebagai citra dualitas yang menceritakan sang Empunya.

Kita tetap berkebaikan, sesuai yang dituntunkan. Akan tetapi kita membaikkan dengan sikap penerimaan yang lapang kepada keragaman. Bukan dengan membenci habis-habisan.

Disitu PR besar saya, dan mungkin juga kita.

References:
[1] H.R Ahmad 11463

[2] Telah menceritakan kepada kami Al Husain bin Huraits telah menceritakan kepada kami Ali bin Al Husain bin Waqid telah menceritakan kepadaku ayahku telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Buraidah dia berkata; saya mendengar Buraidah berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berangkat menuju salah satu peperangan, ketika telah usai seorang budak wanita berkulit hitam mendatangi beliau sambil berkata; “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku bernadzar bila Allah mengembalikan baginda dalam keadaan baik, aku akan menabuh rebana dan bernyanyi didekat baginda.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bjika kamu telah bernadzar demikian, silahkan lakukan namun jika tidak, maka jangan kamu lakukan.” Budak wanita itu pun menabuh rebana, kemudian Abu Bakar masuk dan budak itu masih menabuh rebana, Ali masuk, dia pun masih menabuh rebana, kemudian Utsman masuk dan dia tetap menabuh rebananya, dan ketika Umar masuk, budak itu menyembunyikan rebananya di balik pangkalnya dan duduk di atasnya.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “sesungguhnya setan benar-benar takut darimu wahai Umar, karena ketika aku sedang duduk dia (budak wanita) menabuh rebananya lalu Abu Bakar masuk dan ia masih menabuh, lalu Ali masuk dan ia masih menabuh, lalu Utsman masuk dan ia masih menabuh, namun tatkala kamu yang masuk wahai Umar ia segera membuang rebananya.” Abu Isa berkata; “Hadits ini adalah hadits hasan shahih gharib dari hadits Buraidah, dan dalam bab ini, ada juga riwayat dari Umar dan Sa’ad bin Abu Waqash serta Aisyah.” (H.R Tirmidzi 3623)

[3] H.R Tirmidzi 3213

Proudly powered by WordPress | Theme: Baskerville 2 by Anders Noren.

Up ↑