SAFETY FIRST; JANGAN HIDUP DALAM KEBIASAAN MENGHUJAT

safety2Jaman sekarang ini betapa kita sudah dimudahkan dengan teknologi. Misalnya saya dari mall terdekat ke rumah bisa naik gojek, tak pakai lama langsung datang. Semua serba cepat dan instan. Begitupun informasi, serba cepat datang ke beranda laman sosial kita.

Akan tetapi yang mengkhawatirkan bagi saya adalah muatan negatif dari kecepatan informasi yang datang itu.

Setiap hari dibombardir dengan berita kopi sianida, dengan berita masa lalu seseorang yang entah mana yang benar mana yang tidak, lalu saling hujat di instagram, lalu pembully-an secara masif di facebook, path, dan segala lini sosial media lainnya. Hal ini belum termasuk berita politik yang dua kubu terus bertempur. Belum lagi berita hoax religi. Belum lagi setiap kubu membid’ahkan satu dan lainnya.

Rasanya seperti makin hari makin kehabisan berita positif.

Kita membenci gejala seperti ini bukan karena kita orang suci, justru saya mengeluhkan gejala ini karena paham betul bahwa diri pribadi ini condong kepada sesuatu yang buruk. Kita semua pendosa, yang sedang meniti jalan pulang.

Kalau terus menerus terpapar dunia yang seperti ini ya lama-lama pasti meniru juga. Ini alamiah sekali.

Anggaplah sebagai misal, dalam dunia perkantoran. Kadang-kadang tanpa disengaja secara refleks saya seringkali juga mengucapkan kekesalan pada sebagian kebijakan dan cara memimpin bos di kantor, dan saat tersadar baru kemudian istighfar dan menghentikan diri dari menghujat baik samar maupun tersurat.

Menghujat jadi gerak refleks. Lha ini piye….. Barangkali ada kekeliruan approach atau pendekatan secara spiritual.

Dari sisi sebagai pelaku, memang sudah banyak yang memberi tahu bahwa jelek sekali tabiat saling hujat menghujat itu. Sudah banyak yang menyoroti hal itu.

Tetapi dari sisi kita sebagai korban dunia informasi yang begitu masif dan brutal ini, rasanya kita harus jaga diri baik-baik. sebagaimana “you are what you eat”, sebegitu juga “you are what you read”.

Saya tertarik menyoroti ini lewat approachsafety” atau “keselamatan kerja” di dunia Migas.

Dalam dunia migas, dan dunia kerja pada umumnya, sering disosialisasikan mengenai “safety” atau keselamatan kerja.

Dalam salah satu kajian keselamatan kerja, dikatakan bahwa untuk mencegah diri kita dari bahaya, ada beberapa lapis tindakan yang kita harus lakukan.

Konsentrasinya bukan dari memperkuat diri sendiri. Tetapi menyadari bahwa keselamatan adalah sebuah proses integral dari hulu sampai hilir. Mencegah dengan mengupayakan keselamatan agar terjadi sejak dari sumber bahayanya. Dimulai dari yang terjauh dari diri kita, yaitu “engineering control”. Atau mengeliminasi bahaya sejak dari sourcenya atau sumbernya itu sendiri.

Misalnya ada kemungkinan benda jatuh menimpa kepala kita, maka langkah pertama bukan memperkuat kepala kita dengan senam otot. Melainkan benerin itu posisi bendanya biar tidak rentan jatuh. Dari hulu dulu.

Kalau dikaitkan dengan dunia informasi, maka seharusnya bahaya informasi sudah disaring sejak dari sumber beritanya itu sendiri. Tapi kan itu di luar kuasa kita sebagai penerima informasi. Okelah kita skip yang satu itu.

Langkah kedua adalah dengan “safe working practices”, atau prosedur kerja yang aman. Dalam hal ini kita sebagai penerima info bisa ambil bagian, dengan membiasakan mengenyahkan semua situs tak kredibel dari laman news feed kita. Atau membiasakan searching berita-berita baik.

Langkah berikutnya adalah “Personnel Protective Equipment”, alias alat pelindung diri misalnya helm, baju coverall. Kalau kaitannya dengan spiritualitas saya rasa ini adalah domainnya ibadah. Misalnya puasa. Dzikrullah….dsb.

Melihat pola semacam ini, dan kaitannya dengan spiritualitas, saya rasa sebenarnya pendekatan keselamatan di dunia industri itu senada dengan tuntunan islam.

Anggaplah misalnya ada sekumpulan berita datang kepada kita, entah dari media online, entah dari desas-desus tak jelas, kabar burung gosip, sebisa mungkin kita skip saja. Menjauh. Kalau ga menjauh kan nanti ikut-ikut membahas, karena seru, hehehe.

Baru kemudian kalau tetap disana pun pastikan kita sudah mengenakan alat pelindung diri berupa ingatan yang terpancang kukuh pada Allah, bisa juga kita sedang puasa, dsb….yang mana hal itu adalah lini berikutnya dari perlindungan diri.

Kekeliruan saya, selama ini adalah mengira bahwa memperkuat diri adalah satu-satunya prosedur keamanan spiritualitas saya. Mengira ibadah –semata– adalah kuncinya. Dan ini keliru sekali.

Karena mengira diri sudah hebat dengan ibadahnya, sudah tahu ada sumber keburukan malah berdiam di dekatnya. Ya otomatis godaan lebih kuat dong ya. Meskipun sibuk dzikir atau sibuk puasa.

Yang benar adalah pelindung diri ya dipake, tapi kemudian prosedur lainnya juga dikerjakan, menjauh dari sumber bahayanya, syukur-syukur punya akses sampai menghilangkan sumber bahaya secara total. Tetapi itu untuk level yang lebih advance dan ada pra syarat yang harus digenapi.

Saya rasa approach islam pun seperti itu. Integral. Menyeluruh. Dan sisi kemenyeluruhan itu yang saya sering lupa.

Saya kira intinya adalah mengandalkan diri, ternyata bukan, melainkan kepatuhan terhadap tatanan proseslah yang menjaminkan keselamatan kita, tentunya dengan seizin Allah.

Jadi kita sama sekali bukan orang hebat, hanya pendosa meniti jalan pulang, yang secara beruntung telah terpagari oleh proses dan tatanan keselamatan spiritual yang sudah digariskan.


Image Sources

APA BEDANYA SPIRITUALITAS DAN REKAYASA KEJIWAAN?

14344809_10155772024997925_1202872950612700110_n

Suatu kali, istri saya bertanya kepada saya mengenai gramatikal sebuah lirik lagu, “Mas…kenapa pakai ‘walk it out’, kenapa ga pakai ‘walk it off’ “, tanyanya pada saya.
Saya, yang memang pada dasarnya tidak memiliki kemampuan lebih di grammar bahasa inggris, tentu saja bingung, hehehe…. Saya ga tahu jawabannya. Paling jauh, saya katakan bahwa itu gaya bahasa saja, bisa dua-duanya. Jawaban klasik.

Tetapi intinya bukan pada grammar-nya, melainkan pada “cara belajar”.

Istri saya, orang yang sangat tekstual, dia tidak bisa melanjutkan membaca lirik lagu, atau potongan paragraf berbahasa inggris jika dia melihat ada satu dua kata atau frasa yang dia tidak mengerti maksudnya.

Sedangkan saya, orang yang kebalikannya. Saya bisa menikmati satu artikel utuh, meskipun banyak di dalamnya kata atau frasa yang tak saya mengerti arti akuratnya, tetapi saya skip saja, dan saya tetap bisa menangkap isi cerita dalam artikel itu.

Saya katakan kepada istri saya, bahwa setiap orang harus mengenali pola pada dirinya sendiri. Mengenali pola, cara belajar, kebiasaan diri, sikap mental diri sendiri, itu bagian dari “mencari jati diri”. Setidaknya dalam versinya yang lebih sederhana.

Saya teringat sewaktu saya baru pertama kali masuk kerja. Sembilan tahun lalu. Saya satu kamar dengan seorang rekan yang dalam pandangan saya luar biasa pintarnya. Dan dia termasuk orang yang pintar sekaligus mengerti filosofi sebuah ilmu. Jadi dia tidak hanya mengerti cara mengerjakan sebuah hitungan matematika, tetapi juga mengerti apa gunanya hitungan matematis itu dalam dunia kenyataan, dan bisa pula dia jelaskan kepada saya secara apik.

Suatu kali, saya dan rekan-rekan lainnya hendak jalan-jalan waktu itu, tetapi dia masih saja berkutat dengan bukunya. Padahal ujian masih seminggu lagi. Bagi saya itu berlebihan, hahaha…. Saya sistem kebut semalam.

Saya katakan padanya, ayolah keluar sebentar dan berjalan-jalan, toh saya tahu betul kapasitasnya, dia itu orang yang sangat pintar. Dia pasti lancar dalam ujian.

Tetapi jawabannya waktu itu sungguh mengagetkan saya, katanya, “Aku tahu kelemahanku sendiri, aku ini kalau menangkap suatu pelajaran lebih lambat dari kalian-kalian, itu sebabnya aku harus mengulang pelajaran jauh lebih banyak dari kalian yang lebih cepat menangkap pelajaran dibanding aku”.

Saya tahu betul, waktu itu dia tidak sedang bercanda atau menembakkan kalimat satire. Dia sungguh jujur. Dan dari sanalah saya mengenali dia sebagai seseorang yang mengerti betul tentang dirinya sendiri. Kenal diri.

Mengerti kelemahan diri, atau mengerti pola pada diri sendiri, pada gilirannya bisa mengubah sesuatu yang tadinya kelemahan menjadi strong point alias menjadi kekuatan unik kita masing-masing.

Pola kerja kejiwaan masing-masing jangan disangkal. Penyangkalan terhadap pola kerja kejiwaan masing-masing malah akan kontra produktif.

Kalau memang kita orang yang tekstual, tak apa, maka berarti kita hanya harus menghabiskan jauh lebih banyak waktu ketimbang orang yang tidak tekstual.

Kita belajar lebih dulu dari orang-orang kebanyakan, dan selesailah lebih akhir dari orang-orang kebanyakan, karena kita memang tipikal seperti itu. Butuh mengerti detail teks-nya.

Akan tetapi, dari sana justru akan lahir kekuatan, yaitu kemampuan kita untuk mengetahui detail makna kata per kata.

Dari sisi spiritualitas, pengenalan terhadap pola kerja diri sendiri ini, adalah sesuatu yang juga sangat mustahak alias sangat penting.

Orang barat, mengatakan hal ini sebagai “inner engineering”, rekayasa “dalam”, rekayasa kejiwaan.

Maksudnya adalah dengan mengetahui pola kerja diri sendiri, bagaimana fikiran bekerja, bagaimana emosi bekerja, maka kita bisa memanfaatkan atau membuat diri kita sendiri berjalan dengan lebih efisien dan optimal.

Contohnya, dengan mengetahui bahwa emosi sebenarnya adalah sesuatu yang muncul sebagai imbas dari fikiran, maka kalau datang emosi, yang harus diatasi sebenarnya bukan emosinya, melainkan fikirannya dulu. Logis, bukan?

Kalau kita sedang marah, marah itu emosi, emosi terbit dari fikiran, maka kalahkan fikiran marahnya dulu. Misalnya dengan memikirkan hal lainnya yang menyenangkan. Atau dengan mensuplai diri dengan data-data yang membuat kita tidak jadi marah. Misalnya alasan-alasan mengapa hal itu terjadi. Alasan-alasan mengapa seseorang itu kok nyebelin, barangkali dia tidak bermaksud begitu. Dan seterusnya. Itu adalah inner engineering. Itu logis.

Dalam literatur islam pun ada. Contohnya sebuah hadits yang masyhur. Kalau kita sedang marah, maka dari posisi berdiri kita duduk. Kalau pas duduk masih marah, kita berbaring. Bisa juga dengan wudhu. Ini semua juga inner engineering. [1]

Polanya saya rasa, fikiran menerbitkan emosi, lalu emosi menyetir fisik. Kalau kita bisa “engineering” rekayasa agar fisik ditenangkan, maka dia akan berlaku alur kebalikannya, dari fisik yang tenang, lalu emosi reda, lalu fikiran menjadi lega. Logis…. Inner engineering.

Akan tetapi, satu hal yang saya kira penting adalah agar kita tidak mencampurkan antara inner engineering ini, kemampuan mengenal sistem kerja diri sendiri ini, dengan spiritualitas yang bernuansa ubudiyah, penghambaan, ibadah.

Jika kita sudah masuk dalam ranah ubudiyah, dianya harus lurus, jangan sekali-kali melenceng tercampur dengan sesuatu yang berbau inner engineering ini, jangan tercampur dengan apapun.

Seperti halnya, kita bisa saja, duduk diam dan membayangkan bahwa kita sedang ada di pantai. Membayangkan kita sedang ada di kamar kita yang nyaman, saat sesungguhnya kita sedang ada di bus yang penuh sesak dan menyebalkan. Kita bisa terlepas dari suasana sesak yang menyebalkan itu jika kita melakukan inner engineering seperti tadi. Bisa dan logis.

Tetapi, dengan melakukan itu tidak membuat kita menjadi seorang yang spiritualis. Karena, bagaimanapun teknik rekayasa kejiwaan itu bukan sikap ubudiyah. Dianya hanya ketrampilan mengenali pola kerja pada diri sendiri.

Tetapi, sikap denial, sikap pengabaian sama sekali pada ilmu-ilmu itu juga kontra produktif, karena secara natural, manusia sebenarnya melakukan inner engineering tanpa dia sadari.

Saat seseorang sedang grogi atau cemas, dia akan menyibukkan dirinya dengan gerak. Memlintir rambutnya sendiri. Atau bergumam. Atau jalan kesana-sini untuk menetralisir cemasnya. Itu semua alamiah.

Tetapi, semua itu saya rasa baru akan berubah menjadi bernilai ubudiyah saat kita sudah mengaitkan konteks kejadian apapun dengan Tuhan. Di dalam gelisah, kita bisa pergi ke tempat yang nyaman, kita bisa cari tempat duduk yang rileks, kita bisa saja minum teh agar lebih santai, tetapi sikap ubudiyah adalah mengingati Tuhan, lalu menyadari bahwa yang terjadi hanyalah cara DIA bercerita, dan segala hal praktis yang kita kerjakan secara fisikal dalam bentuk aksi adalah semata bentuk kita bersandar kepada DIA.

Hanya dengan mengunci ingatan kita kepada DIA-lah, maka aspek engineering apapun saja, dan aspek aksi apapun saja akan bisa bernilai ubudiyah. Tanpa itu, kita mengira melakukan spiritualitas ternyata tak lebih dari mental game.


[1] Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Dawud bin Abu Hindin dari Abu Harb bin Abu Aswad dari Abu Aswad dari Abu Dzar dia berkata, “Ketika dia sedang mengambil air di kolam miliknya, datanglah sekelompok orang yang salah seorang dari mereka berkata, “Siapakah di antara kalian yang akan menghampiri Abu Dzar dan mengambil rambut kepalanya?” lalu seseorang berkata, “Saya!” Kemudian laki-laki itu mendatangi Abu Dzar, ia lalu melewati kolam dan memukul airnya. Saat itu Abu Dzar dalam kondisi tegak berdiri, kemudian dia duduk dan berbaring, maka ditanyalah ia, “Wahai Abu Dzar, kenapa kamu duduk kemudian berbaring?” Abu Dzar berkata, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda kepada kami: “Jika salah seorang di antara kalian marah sementara ia sedang berdiri, maka hendaklah ia duduk, jika kemarahan itu reda (itulah yang diharapkan), jika tidak maka hendaklah ia berbaring.” (H.R. Ahmad No.20386)

*) Gambar ilustrasi saya ambil dari hape saat sedang bertugas di Balikpapan.

Proudly powered by WordPress | Theme: Baskerville 2 by Anders Noren.

Up ↑