BELAJAR MENJADI LUAS

oceanSetiap dzuhur, saya rela berjalan berpanas-panas jauh dari kantor, untuk menuju kantor di seberang komplek yang lumayan jauh juga jaraknya dari kantor saya. Tujuannya adalah karena di sana ada masjid cukup besar dan nyaman, lebih enak sholat disana, tidak sesempit musholla di kantor saya.

Musholla di kantor saya, benar-benar hanya menunaikan fungsinya sebagai pelepas ritual. Dia cukup untuk sholat saja, selepas sholat sudah harus langsung keluar karena antrian sudah menunggu. Dan saya tak suka dengan ketergesaan itu, maka berjalanlah saya mencari masjid yang lebih nyaman untuk sholat dzuhur sekalian buat ngaso dan tidur-tiduran selepas sholat.

Saya kemudian membayangkan, bahwa masjid yang meluaskan fungsinya melebihi kesempitan ritual semata, ternyata malah membuat orang menjadi dekat dengan masjid.

Bukan saya sendiri, banyak orang yang dari kantornya berjalan lumayan jauh dan numpang sholat di masjid kantor orang itu. Belum lagi pedagang asongan. Belum lagi tukang cendol.

Kalau fungsi masjid dibatasi sebagai pelepas ritual semata, masjid jadi kehilangan fungsi pelayanannya. Lepas dari itu, saya rasa kita akan menjadi sempit saat membatasi peribadatan pada maknanya yang khusus saja. Bukankah sambil santai dan melepas lelah, dalam suasana yang kondusif, orang bisa juga menjadi lebih kontemplatif dan dekat dengan Tuhan?

Di masjid besar itu ada yang tidur, ada yang ngaji disana, ada yang sholat sunnah, ada yang sekedar duduk dan ngadem. Masjid yang menampung keragaman dalam batas-batasnya. Dari pelataran masjid itu saya belajar penerimaan.

Saya teringat kesalahan saya dulunya. Bahwa seperti musholla kantor yang sempit, begitulah saya dulu memaknai perhubungan antara manusia dan Tuhan. Mengira perhubungan manusia dan Tuhan adalah sesuatu yang dibingkai oleh –semata- ritual. Maka dalam berkebaikan pun, saya kurang fleksibel dan tidak nyeni. Menasehati pun sangat kaku. Dengan yang berbeda paham pun sangat kaku. Menginginkan suatu perubahan pun tidak sabar. Seolah kita adalah penentu perubahan.

Padahal, kalau dipikir-pikir, misalnya bercermin pada diri saya pribadi, hampir sebagian besar pencerahan itu sebenarnya kita dapatkan bukan dari nasihat orang lain, melainkan dari pengalaman pribadi yang dihantam-hantam masalah.

Boleh jadi, saat dihantam masalah itu kita akan menemukan tulisan, atau buku, atau guru, yang membahas tentang sebuah tema yang berkaitan dan kita menjadi tercerahkan. Bisa jadi, tetapi jarang sekali kita menjadi tercerahkan dalam konteks dimana ada seseorang yang menjejali kita dengan dogma-dogma, lalu kita tercerahkan. Hampir tak pernah.

Paling-paling, kita merasa tercerahkan, atau baru menangkap “feel” dari sebuah pesan setelah berbilang hari berbilang tahun kita dihantam masalah, baru kita katakan, “oooh bener juga, jadi ini maksud guru saya dulu.”

Berarti, selalulah sebuah konteks pribadi yang membuat seseorang tercerahkan. Kita hanya menjadi “kalam” media, untuk ilmu mengalir. Dan kita sebagai kalam itu, tinggal menunggu orang yang akan dihantarkan oleh konteks mereka masing-masing, pada kita.

Dan yang perlu kita sebagai kalam “tawarkan” kepada rekan-rekan kita, saya rasa adalah sebentuk kesediaan. Kesediaan untuk memberi wacana sebatas porsinya saja. Kesediaan untuk menampung keragaman dan perbedaan rekan-rekan kita, dalam penerimaan yang lapang seperti ilustrasi masjid tadi. Dan juga kesediaan untuk tetap menerima, jikalau suatu ketika ada rekan yang pergi dan belum bersinggungan konteksnya dengan kita. Dan kesediaan untuk tetap menerima kembali kepada rekan yang akhirnya menemukan konteksnya sendiri dan menjadi memahami apa yang kita telah katakan dulu.

Kesediaan untuk melapangkan diri. Kesediaan untuk menyamudera dan menyadari bahwa konteks cerita Tuhan justru kita bisa temukan dalam riuh keragaman ini. Itulah yang paling penting.

Rasulullah saja, sejak diangkat menjadi nabi, sampai kemudian futuh makah, jaraknya puluhan tahun. Dan dalam waktu puluhan tahun itu di sekitar makkah berjubel berhala-berhala. Dan tidak langsung dihantam. Tetapi dibiarkan saja, sampai penduduk Makkah –orang orang yang mengusir beliau- pada akhirnya ikut menghancurkan berhala-berhala itu dengan tangan mereka sendiri, saat Futuh Makkah.

Betapa Rasulullah menunggu konteks. Mensabari konteks untuk datang. Luas sekali beliau itu.

Pada keluasan seperti itulah, orang-orang bijak mengatakan bahwa kita harus belajar seperti samudera, menerima semua yang baik dan yang buruk, untuk kemudian secara alami yang buruk-buruk akan menepi, dan yang kotor-kotor akan mengendap, dan samudera tetap tak akan tercemari karena keluasannya itu tadi.


Image Sources

BLUSUKAN KE DALAM DIRI SENDIRI (2)

pilgrimagePernah suatu kali mobil saya hendak dipinjam oleh kerabat saya. Waktu itu mobil itu baru dibeli, dengan kredit tentunya hehehe.

Mobil baru dibeli, masih kredit, dan ndilalah sudah mau dipinjam sama sodara. Jadi di hati saya ada rasa kurang sreg.

Tetapi saya tahu saudara ini butuh, maka saya pinjamkanlah mobil itu.

Tetapi, di hati ini kok rasanya masih ga sreg. Saya bertempur melawan rasa tidak sreg itu, karena menyadari bahwa rasa ga sreg ini mestilah timbul dari “kemelekatan”, rasa melekat terhadap benda-benda, dan ini tidak baik pada porsinya yang berlebihan.

Sampai saat dimana yang mau meminjam datang ke rumah, di hati masih ada rasa tidak sreg. Hingga detik dimana mobil itu sudah dibawa pergi, lima menit, sepuluh menit kemudian rasa kurang sreg itu hilang. Dia menjadi rasa yang pasrah, bercampur rasa malu untuk telah terlalu melekat. Berganti rasa “plong” di hati.

Setelah rasa tidak sreg-nya hilang, saya kemudian menyadari bahwa tanpa “exercise“, tanpa “latihan” melepas seperti itu maka saya tidak akan bisa mengenali level diri sendiri.

Tetapi dengan adanya “exercise” kita bisa mengetahui ada kemelekatan yang bersembunyi dan baru keluar ketika ada momentnya. Dan rasa tidak enak itu baru bisa hilang setelah benar-benar melepas sesuatu yang melekat di hati itu tadi, di alam kenyataan.

Meskipun tak urung mobil itu kembali, utuh, tak kurang suatu apa, bersih habis dicuci, dan bensin penuh…..hahaha…betapa saya kalau mengingat itu merasa sungguh dagelan. Boro-boro nyusul level para shalihin, mobil dipinjem saja sudah gemeteran. Hihihihi.

Tetapi pelajarannya buat saya pribadi kurang lebih begini:

Pertama, untuk mengetahui seperti apa kondisi asli hati kita atau diri kita, selalulah menjaga jarak mental dan biasakan meniteni diri sendiri secara jujur. Disana kita bisa mengetahui seperti apa gejolak perasaan yang muncul. Gejolak perasaan itu akan secara spontan melaporkan kondisi jiwa kita.

Kedua, jangan dimaknai gejolak perasaan yang muncul itu dengan makna yang negatif. Misalnya…..seandainya masih ada rasa tidak sreg dalam berkebaikan, masih ada rasa berat melepas sesuatu, kita maknai perasaan-perasaan yang muncul sebagai indikator saja. Indikator bahwa masih ada yang harus dibenahi di dalam jiwa kita. Mungkin kemelekatan. Mungkin paradigma keliru. Mungkin macem-macem, kita perlu latihan. Di dalam Qur’an pun perintahnya adalah just do kebaikan itu, dalam –rasa- baik yang ringan ataupun yang berat di hati.[1]

Baik ringan, maupun berat, adalah “rasa”, ianya hanya display indikator yang memberitahu konteks kondisi kejiwaan kita. Yang penting adalah melakukan kebaikan melintasi rasa.[2]

Ibarat kita membaca display indikator, monitor dari sekumpulan alat sensor, begitulah perasaan bekerja.

Pada pokoknya, yang perlu kita tahu adalah bahwa pengabaian terhadap rasa tidak selamanya baik. Karena perasaan adalah sensor yang menangkap sebuah gejala, nah gejalanya ini yang perlu kita ketahui dan atasi. Nanti display indikatornya berubah sendiri.

Misalnya, perasaan “takut”. Kalau dulu, saya mengabaikan rasa “takut”, mencoba mengalihkan perhatian saat ada rasa takut. Sampai saya tersadar saat seorang guru memberi tahu bahwa rasa takut adalah sebuah indikator bahwa ada hal yang kita kurang cukup info akan-nya. Harusnya, kalau ada sesuatu yang saya takuti, saya cari tahu kenapa saya takut? Apakah kurang info? Kurang siap, atau bagaimana?

Seperti zaman dulu orang takut gorilla karena tak cukup ilmu dan pengertian tentang gorilla. Zaman sekarang gorilla di kebun binatang malah ditertawai anak-anak kecil. Manusia takut pada sesuatu yang dia belum cukup mengerti. Begitu seorang guru berpesan.

Dalam cara pandang seperti ini, kita mengakrabi perasaan kita sendiri sebagai sahabat paling jujur memberitakan isi kejiwaan kita sendiri. Pesuruh yang selalu setia melapor.

Jika ada rasa takut, barangkali persiapan (atau input data) kita masih kurang. Rasa takut menjadi alarm-nya.

Jika ada gelisah, mungkin paradigma kita masih keliru. Rasa gelisah menjadi alarm-nya.

Dan seterusnya….dan seterusnya….

Dalam cara pandang seperti inilah kita menjadi jujur dan kenal pada diri sendiri. Kekurangan diri dalam berkebaikan tidak membuat kita desperate, karena kita tahu bahwa sang ajudan sedang melapor kondisi.

Dan dari sana kita menjadi menyadari bahkan untuk mengatur “pemerintahan” atau “kerajaan” kecil dalam diri kita sendiri sudah demikian kompleks dan pelik. Maka kita membutuhkan rahmat-Nya.

Semakin mengetahui gejolak diri, semakin merasa butuh akan rahmat-Nya dan semakin bersandar pada-Nya.

Tanpa mengetahui mekanisme semacam ini, saat kita mengalami gejolak diri, pengharapan kita pada Tuhan malah akan hilang. Yang ada hanyalah kekecewaan pada diri sendiri.

Karena kita gagal memposisikan “perasaan” sebagai display indikator semata, dan juga telah keliru mengira bahwa manusia bisa menyetir alam mikro (dirinya) dan alam makro di sekitarnya (semesta).

Mari BLUSUKAN ke dalam diri sendiri.


Note:

[1] ‘Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan atau pun merasa berat.” (Q.s.,at-Taubah:41).’

[2] Melakukan kebaikan melintasi rasa ini, maksudnya adalah rasa diri kita sendiri, yang merasa berat berkebaikan. Karena ada konteks lainnya, yaitu dimana “rasa” yang bukan disetir oleh kondisi fikiran dan emosi diri sendiri boleh jadi adalah firasat. Ini konteksnya berbeda.

Image sources

Proudly powered by WordPress | Theme: Baskerville 2 by Anders Noren.

Up ↑