MINYAK ANJLOK DAN SITI MARYAM

oil-explainer-feb-jumboHarga minyak dunia anjlok. Dari kisaran 100 USD per barrel-nya menjadi sekarang di kisaran 40 USD per barrel-nya. Bahkan sempat di angka 27 USD per barrel-nya. Penurunan ini menimbulkan efek yang sangat masif di dunia perminyakan. Gelombang PHK besar-besaran tak hanya di indonesia tapi di seluruh dunia.

Saya, hingga kini menjadi salah satu yang beruntung untuk masih diberikan kesempatan tetap berkecimpung di dunia perminyakan ini. Tetapi sekian banyak rekan-rekan saya yang lainnya terpaksa kehilangan pekerjaan.

Tetapi yang menjadi hikmah buat saya adalah saat saya mengamati rekan-rekan saya yang terpaksa kehilangan pekerjaan itu, mereka begitu santai menerima fakta ini. Saya jadi heran juga. Ini orang kok seperti biasa aja. Menerima berita pemberhentian dirinya malah santai saja.

Mendadak, puluhan orang yang saya kenal dan kehilangan pekerjaan itu menjadi begitu spiritualis di mata saya. Saya pun membayangkan kalau saya di posisi itu pastilah saya gamang.

Setelah saya renungkan, apa gerangan yang membuat orang-orang itu menjadi begitu easy going menghadapi kenyataan itu, jawabannya ternyata adalah karena mereka mengetahui sebuah fakta bahwa krisis dunia perminyakan bukanlah krisis dalam level lokal kantor kita saja, tetapi adalah krisis dalam skala global. Dan semua orang kena imbasnya.

Pengetahuan bahwa mereka adalah bagian dari isu global, telah membuat mereka menerima fakta yang lokal itu, bahwa mereka kehilangan pekerjaan karena imbas tatanan ekonomi dunia.

Betapapun, saya mengharapkan dunia migas kembali membaik, dan rekan-rekan yang sempat kehilangan pekerjaan itu mendapatkan gantinya yang lebih baik.

Ilmu, pengetahuan, ternyata menjadi prasyarat yang sangat utama dalam kaitannya dengan masalah rasa. Seperti apa realita keilmuan yang kita pahami, seperti itu pula realita perasaan yang akan menjelma pada kita.

Realita perasaan yang menjelma pada kita itulah yang kemudian menyetir perilaku. Dalam bahasa para arifin, HAL (rasa) menyetir  AMAL (aksi atau perbuatan).

Teringat saya kembali dengan bahasan “Maqom” spiritualitas. Seandainya, kita dihadapkan pada situasi itu, kehilangan pekerjaan, apa yang akan kita lakukan?

Tindakan yang bisa kita ambil barangkali : Mencari pekerjaan baru, atau kita berpasrah dan tidak mencari pekerjaan. (Kita anggap saja dalam dua pilihan ini, keduanya dilakukan dalam mentalitas yang bersandar kepada Tuhan).

Sikap pertama, ini adalah hal yang sangat umum kita lakukan. Pengen dapet kerja ya cari kerja, itu runutan logikanya.Simpel.

Tetapi ada sebagian kalangan yang dalam kehidupan mereka, mereka sudah sebegitu tersingkapnya dalam melihat kehidupan, dan menjadi sadar bahwa sebab-akibat itu nisbi semata. Semuanya karena plot yang ditulis Tuhan. Sehingga mereka santai dan menunggu rencana Tuhan terzahir.

Contohnya Maryam. Sang wanita mulia itu menghabiskan waktunya di dalam mihrab, beribadah kepada Tuhannya, dan makanan dihantar langsung ke mihrabnya sebagai anugerah.

Dalam ketersingkapan semacam begitu, dimana sudah tidak lagi melihat sebab-akibat sebagai sesuatu yang berkaitan, maka kita mengerti mengapa Maryam hidup dalam sikap berpasrah seperti itu.

Lha wong makanan diantar langsung ke mihrab. Kalau meninggalkan mihrab karena pengen cari pecel lele kan malah Maryam turun derajat, hihihi.

Untuk setiap lakonan, ada peruntukan adabnya sendiri-sendiri. Dan itulah yang disebut dengan “Maqom” peringkat spiritualitas. Itu hanya istilah saja sebenarnya sih. Tetapi intinya adalah, untuk setiap derajat ketersingkapan, ada adab dan tuntutan untuk berlaku sesuai apa yang tersingkap padamu.

Seperti Abu Bakar menyedekahkan semua harta tanpa ada sisa, kalau ditiru kan repot kita.

Yang jadi problem adalah, kita ini kadang-kadang keliru memraktekkan. Yang ditiru bukan sikap batinnya, melainkan meniru style fisikal orang-orang yang berada pada peringkat spiritualitas yang tinggi. Walhasil bukan kedekatan pada Tuhan yang didapat, tetapi malah gaya-gayaan doang. Hehehe.

Maryam, adalah contoh orang-orang yang larut dalam dzikirnya, dan lupa meminta apapun selain dari kedekatan pada Tuhannya, sehingga dia diberikan sesuatu yang lebih baik dari apa yang diminta oleh orang-orang yang meminta.[1]

Sedangkan level saya, dan barangkali diantara rekan-rekan ada yang sama, adalah level dimana hati masih ditelusupi kekhawatiran. Masih ada keinginan. Masih ada ketakutan.

Sebenarnya dengan menjujuri melihat rasa-rasa yang silih berganti dihantar ke dalam hati, maka kita bisa menilai di maqom mana kita berada. Perasaan-perasaan yang datang itu, itu jelas sekali kalau “dihantarkan” kepada kita lho. Berarti kita disuruh kembali padaNya dengan memandang-Nya lewat citra itu. Menegakkan penghambaan.

Dulu saya bingung, gimana ya caranya tahunya maqom kita dimana? Padahal sederhana sekali, lha kalau masih ada khawatir dan takut, ya tentu bukan maqomnya Maryam. Hahaha.

Yang penting ternyata, bagaimana kita menjadikan segala rasa dan bersit fikiran yang datang dihantar kepada kita sebagai pintu untuk kembali kepada Tuhan.

Maka dalam ketakutan dan kekhawatiran, kita menjadi menemukan konteks untuk kembali kepada Tuhan. Kita memandangNya dalam citra Yang Maha mengabulkan do’a, yang Maha Melapangkan, dan sebagainya.

Masalah maqom, apakah sebaiknya saya berusaha atau tidak berusaha ya? Itu ga usah dipikirin.

Setiap kali kita masih bingung apa yang harus dilakukan, maka setiap itu pula berarti kita bukan ada di Maqom yang berpasrah total tanpa usaha. Karena rumus untuk berada di maqom itu adalah ketertenggelaman dalam penyaksian. Dan orang yang tenggelam dalam penyaksian ga mungkin sempat untuk bingung apa yang harus dilakukan.

Pada pokoknya berbuatlah yang kita bisa. Dan dalam berbuat itu kita sadari bahwa kita pun mengikuti plot-Nya. Nanti, kalau kata guru-guru, lama-lama maqomnya “naik” sendiri.

Karena, konsistensi dalam beramal pada tataran ketersingkapan kita masing-masinglah, yang penting.


References:

[1] Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tuhan Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “Barang siapa yang sibuk membaca Al Qur’an dan dzikir kepada Ku dengan tidak memohon kepada Ku, maka ia Aku beri sesuatu yang lebih utama dari pada apa yang Aku berikan kepada orang yang minta”. Kelebihan firman Allah atas seluruh perkataan seperti kelebihan Allah atas seluruh makhlukNya”. (Hadits ditakhrij oleh Tirmidzi).

AGAR PUNDAK TAK BERAT MEMIKUL

memikulSatu hal yang saya masih jatuh bangun mempelajarinya adalah sikap batin untuk “tidak turut mengatur” kejadian-kejadian dalam hidup.

Ibnu Athaillah As Sakandari mengatakan, istirahatkan diri kita dari tadbir. “Tadbir” inilah yang dimaksud dengan sikap batin merasa punya andil dalam mengatur cerita hidup.

Berhubung sekarang dekat-dekat lebaran Idul Adha, saya kembali teringat kisah Ibrahim a.s. Tetapi bukan pada adegan menyembelih Ismail, melainkan pada babak dimana Ibrahim harus meninggalkan Hajar di lembah Makkah.

Awalnya dari kecemburuan Sarah, istri pertama beliau, yang karena rasa cemburunya kemudian menyuruh Ibrahim memilih dia atau Hajar. Kan Nabi Ibrahim tentu bingung dong ya?

Lalu ndilalah sejalan pula dengan perintah Allah untuk meninggalkan Hajar dan Ismail di lembah tak berpenghuni.

Poinnya yang saya lihat setidaknya berikut ini. Bahwa hal-hal dalam konteks lokal dan mikrokosmos, semisal gejolak cemburunya Sarah Sang Wanita Mulia itu, dan titah pada skala keluarga, dari Allah pada Ibrahim agar meninggalkan Hajar di lembah tak berpenghuni, rupanya adalah satu kesatuan plot besar dari cerita dimana Allah memang ingin menurunkan dua klan besar orang-orang salih.

Yaitu klan Ismail dan Ishak. Yang banyak orang shalihnya, tapi tak urung juga banyak cerita konflik di antara keturunan mereka.

Jadi, bagaimana kita bisa tahu bahwa sesuatu dalam level mikro semisal perasaan kita, atau sesuatu dalam skala lokal semisal kehidupan rumah tangga, atau persoalan dunia pekerjaan, dll…..bukanlah bagian dari plot global, besar, dan dalam jangka waktu panjang?

Mengingat hal ini, lalu kembali teringat dengan pesanan para guru agar jangan banyak sok ngatur dalam hidup. Dalam level batiniah, kita harus menghilangkan diri dari sikap merasa bahwa kerja kitalah yang mengatur jalannya semesta cerita. Ini kadang-kadang gampang kadang sulit.

Tapi setidaknya tahu ilmunya dulu. Dengan tahu ilmunya, maka suasana batin dan perasaan akan menyusuli pada saatnya sendiri.

Saya teringat dulu orang tua pernah mengatakan sebuah peribahasa, “seberat-berat mata memandang, masih berat pundak memikul.” yang sebenarnya konteksnya adalah mengatakan bahwa bagaimanapun kita memberi nasihat pada seseorang, sesungguhnya yang melakoni sendirilah yang tahu seperti apa beban yang dirasakan.

Tapi belakangan saya menyadari bahwa peribahasa itu bisa dikembangkan menjadi lebih spiritual.

Seberat-berat mata memandang, lebih berat pundak memikul.

Maka agar mata kita tak memandang berat persoalan hidup, sadarilah bahwa sebenarnya bukan kita kok yang memikul beban hidup ini. Kita hanya ikut plot.

Saya teringat seorang guru pernah bilang, sadarilah bahwa bukan kamu yang mengharungi hidup ini.

Dulu masih bingung maksudnya apa ya?

Makin kebelakang jadi malah membenarkan, eh…..bener ya. Sebenarnya bukan kita yang memikul beban hidup ini. Karena beban dalam skala mikro dan lokal yang kita rasa sebenarnya jadi satu dengan plot cerita global lho. Kita ini part of the master plan.

Dan sebenarnya kita hanya menyaksikan saja. Harmoninya disana. Secara fisikal kita bergerak. Lakonono yang terbaik. Do our best (mengikut rentak DIA). Sambil secara batiniah kita menjaga jarak mental agar tidak merasa ada kemampuan menyetir jalan cerita.


*) Gambar ilustrasi dari link berikut

Proudly powered by WordPress | Theme: Baskerville 2 by Anders Noren.

Up ↑