INSIGHT DAN ADAB MEMBACA SEMESTA

Malam-malam lepas maghrib, client menelepon saya dan memberi tugas untuk diselesaikan esok hari. Begitu mendadak. Biasanya tugas seperti itu paling tidak memerlukan waktu dua hari. Sempat merasa kesal juga, kenapa kok tidak memperhitungkan waktu yang diperlukan?

Tetapi kemudian kesalnya tidak sempat lama, karena saya kemudian teringat tentang “labelling”, tentang memaknai kehidupan.

Sepanjang hayat, sebenarnya yang manusia lakukan itu hanya begitu saja, yaitu memberi makna.

Semua kejadian dalam hidup diberi makna oleh manusia. Itu sebab, sebuah kejadian yang sama persis bisa menimbulkan efek yang berbeda-beda, tergantung cara pandang dan pemaknaan seseorang. Kalau sebuah kejadian atau fakta yang ada di luar diri bisa sama, tetapi efeknya terhadap situasi diri kita bisa beda, berarti yang sangat penting itu kan mengelola cara pandang, jagad mikro diri kita ini lho.

Kalau dipikir-pikir, kita akhirnya akan menyadari bahwa hampir keseluruhan hal, dalam tanda kutip, tidak bisa disetir oleh manusia. Kalau kita mengikut fisika newtonian, segala hal yang terjadi akan memiliki efek berantai yang berimbas pada hal-hal lainnya. Dan dalam pandang seperti itu, maka keseluruhan gerak semesta ini adalah efek berantai yang memengaruhi satu sama lain, alias “written”, sudah begitu adanya.

Lalu bagaimana? Yang tertinggal hanyalah “just do it” lakukan yang terbaik, dan kita sebagai penyaksi memberi makna pada kehidupan. Yaitu “labelling”. Dan sebaik-baik labelling, atau pemaknaan terhadap hidup adalah menyadari bahwa cerita yang berbagai-bagai ini adalah cara DIA menceritakan diri-Nya sendiri. Central dari semua cerita ini bukan tentang kita. Melainkan tentang DIA ingin dikenali.

Yang celaka adalah, kalau secara zahir kita bertumbuh kembang dan mendewasa, tetapi secara batin dan pemaknaan terhadap hidup kita tidak berkembang dan cara kita memaknai hidup gagal mendewasa. Kita urung menemukan keterkaitan antara kejadian hidup dan cara Tuhan bercerita tentang diriNYA sendiri. Walhasil, kehidupan kita hanya sebatas kejadian ke kejadian, yang semuanya dimaknai secara sempit juga, yaitu seputar kejadian-kejadian itu sendiri.

Indah sekali penjelasan para arifin, kejadian-kejadian dalam takdir hidup itu adalah perbuatan-Nya (af’al). Setiap af’al bercerita tentang sifat-Nya (Asmaul Husna). Dan melintasi dualitas sifat-sifat dalam asmaul husna itu, semua sifat-sifat yang zahir hanyalah “citra” yang DIA goreskan di atas Dzat-Nya semata.

Dalam kaitannya dengan memaknai inilah, kalau kita sering mentafakuri hidup, membaca ayat semesta, kita menjadi merasakan bahwa insight-insight pencerahan itu datang sendiri. Dan dalam kaitan antara insight dan perenungan tentang hidup inilah, pagi ini, saya kembali teringat dengan sebuah bahasan makna tadabbur dan tafsir.

Secara bebas, tafsir adalah mendefinisikan, mengungkap makna dari ayat-ayat Qur’an. Tafsir dalam konteks ini, adalah salah satu cabang keilmuan.

Sedangkan tadabbur, secara bebas bisa kita katakan sebagai sikap kontemplatif, merenungi, berinteraksi dengan ayat Qur’an, dan mengambil manfaat serta menjalankannya. Tadabbur ini, bukanlah salah satu cabang keilmuan.

Dalam konteks berinteraksi dan merenungi serta mengambil manfaat dalam keseharian, maka tadabbur ini boleh bahkan harus dilakukan setiap muslim.

Akan tetapi tafsir, menyibak makna dan definisi lalu membawanya ke ruang publik, haruslah memiliki syarat, dan tak semua orang bisa.

Akan tetapi tadabbur, berinteraksi dengan ayat-ayat (tertulis maupun tidak), lalu kemudian menjadi tercerahkan dan mendapatkan pemecahan-pemecahan secara lingkup personalnya, maka ini hak semua muslim.

Saya baru tersadar, bahwa inilah sebenarnya duduk perkaranya. Saya melihat banyak spiritualis yang mengakrabi Al Quran, dan mendapatkan “insight” yang solutif terhadap permasalahan hidupnya berdasarkan ayat yang dia renungi itu; itulah tadabbur.

Akan tetapi, membawa hasil kontemplasi tadabburnya itu untuk diterapkan di ranah publik dan lalu kemudian meluaskan konteksnya menjadi “inilah satu-satunya makna ayat ini berdasarkan insight saya” adalah keliru. Karena itu sudah masuk domain tafsir.

Hal ini kemudian mengingatkan saya kembali dengan bahasan tentang ilham alias insight di kalangan para arifin.

Insight, ilham, adalah sebentuk petunjuk bahasa kepahaman dari Tuhan untuk seseorang. Bukan suara, bukan huruf, tetapi kepahaman yang datang secara cepat.

Akan tetapi, bagaimanapun sebuah insight atau ilham tak bisa menjadi hujjah hukum. Kecuali dia beririsan dengan segala prasyarat keilmuan dan fakta-fakta di dunia empiris.

Insight seringkali menuju pada sebuah kesimpulan akhir. “jawabannya adalah A”. Pandangan firasat yang tajam.

Akan tetapi, membawa “jawaban A” ke ruang publik, ke dunia empiris ini, maka kita harus menyiapkan serangkaian pembuktian bahwa benarlah A itu jawabannya. Lewat fakta dan analisa ilmu.

Mengetahui duduk perkara ini akan membuat segalanya menjadi indah dan tepat konteks. Saat semua orang berhak untuk mentadabburi ayat, akan tetapi kemudian secara legowo menyerahkan kepada sang ahlinya untuk merangkum definisi dan makna untuk dibawa ke ranah umum.

Saat semua muslim berhak mendapatkan insight jawaban atas permasalahan hidupnya, lewat tafakurnya terhadap ayat, baik ayat tertulis maupun semesta terkembang ini, tetapi kemudian sikap legowonya membuat mereka mengiringi insightnya dengan pembuktian keilmuan yang pas saat ingin menjadikan insight itu sebagai hujjah.

 

LABELLING, DAN NIKMAT PEMAHAMAN

Sepanjang hidup, mengiringi aktivitas lahiriah, yang manusia lakukan secara batiniah adalah memberi makna pada sesuatu atau “labelling“.

Sebuah kondisi hujan, adalah netral. Tetapi pada seorang ojek payung dilabelli sebagai berkah, sedangkan pada seorang pedagang es buah dinilai sebagai musibah.

Manusialah yang melabeli kejadian, sesuai dengan paradigma dan ilmu yang disingkapkan pada mereka.

Pada sisi Tuhan, segala sesuatu adalah fa’al semata. Perbuatan semata.

Pada sisi pandang manusia, sebagian dari fa’al itu; DIA ajari kita untuk menilainya dengan “ini baik”, “ini buruk”.

Akan tetapi, sejatinya pada sisiNya semua hanyalah ejawantah DzatNya semata.

Karena sepanjang hidup manusia melakukan “labelling” terhadap kejadian-kejadian dalam hidup mereka, barulah sekarang kita mengerti bahwa sebaik-baik “labelling“, sebaik-baik pemaknaan adalah mengetahui bahwa setiap kejadian adalah citra dari Asma-Nya yang Husna. Pasti mewakili cerita itu.

Dan sebaik-baik sikap, respon, terhadap kejadian-kejadian itu adalah dualitas sabar dan syukur. Berbuat yang terbaik, dalam bingkai sabar setiap terpapar JALAL-Nya dan syukur pada saat terpapar JAMAL-Nya.

Dan melintasi itu semua, seorang guru mengajarkan, bahwa segala dualitas baik-buruk, sabar-syukur, atau ejawantah JALAL-JAMAL, semuanya hanyalah “wajah“, sifat-sifat, yang DIA ukir di atas Dzat-Nya semata.

Dengan meleburkan pandangan terhadap dualitas, maka “wajah” kita -secara lurus- dihadapkan pada “wajah” Pencipta langit dan bumi. The Owner. HIM.

MAKNA ‘UBUDIYAH

Secara bebas, ‘ubudiyah adalah sikap penghambaan. Sikap merendah, menjadi hina dan lemah dihadapan yang dihamba.
 
Setelah memahami bahwa di dalam diri manusia ada “bashirah” yang selalu mengamati, Lathifah Ruhiyah -kata Imam Ghazali-, alias sejatinya diri; kita menjadi tahu bahwa ternyata yang beribadah itu adalah yang “di dalam sini”, diri yang sejati itu.
 
Setelah mengetahui yang beribadah adalah “yang sejati” itu, permasalahannya adalah penafsiran terhadap makna ibadah.
 
Satu penafsiran yang sudah jelas, adalah ibadah sebagai sebuah ritual fisik, tetapi ada lagi penafsiran makna ‘ubudiyah, yaitu sikap penghambaan. Sikap menjadi rendah dan hina dan lemah dihadapan yang dihamba.
 
Dalam konteks menjadi hina dan rendah inilah, dalam konteks ‘ubudiyah inilah peribadatan ditegakkan. Kepada siapa kita -yang didalam sini- merendahkan diri , menghinakan diri, melemahkan diri, berarti kepada sesuatu itulah kita menghamba. Dan sikap ini hanya boleh diterapkan kepada Tuhan.
 
Maka barulah sekarang semuanya menjadi terang.
 
Kita tidak melakukan sikap ‘ubudiyah kepada selain Tuhan. Jika IBADAH itu bentuk ritual lahiriah, maka pada sisi satunya lagi yaitu sikap ‘ubudiyah itu; dia menempati sisi pemaknaan batinnya.
 
Kita tidak menyembah benda-benda, baik secara ritual lahiriah (yaitu IBADAH), atau secara sikap batin (yaitu ‘ubudiyah).
 
Nah… kalau benda-benda secara zahir rasanya sulit bagi mayoritas kita untuk melakukan sikap hina, rendah, dan lemah dihadapan benda. Akan tetapi kepada hal-hal yang tidak secara zahir bisa terlihat; kita sering tanpa sadar mempraktekkan sikap ‘ubudiyah atau menghamba itu.
 
Misalnya. Kita bekerja dan berusaha, lalu tanpa sadar kita terlalu mengandalkan hasil usaha kita itu. Seolah-olah penentu keberhasilan kita adalah usaha lahiriah kita itu. Tanpa sadar, kita telah merendah, melemahkan diri, dan menghinakan diri kepada usaha lahiriah kita sendiri. Itulah kenapa para arifin melarang kita untuk “mengandalkan ‘amal”.
 
Berusaha secara lahir boleh, tetapi saat usaha lahiriah sudah berubah menjadi sikap “mengandalkan”, merendah, dan menghinakan diri pada usaha itu sendiri, sudah menjadi ranah ‘ubudiyah, maka dia terlarang.
 
Nah…baik “benda-benda”, dan atau “amal usaha” kita, masih gampang terlihat atau terindera. Akan tetapi, ada beberapa hal yang sulit terindera, tidak terlihat, akan tetapi seiring dengan meningkatnya “awareness atau mindfulness” seseorang; maka hal tersebut bisa “disadari” oleh orang yang lebih “awas”.
 
Misalnya, hukum law of attraction. Daya tarik-menarik di alam. Vibrasi dan getaran di alam.
 
Saat seseorang secara lahiriah dia berdo’a, tetapi di dalam sikap batinnya dia merendah, menghinakan diri, melemahkan diri, dan segala makna yang dirangkum dalam penghambaan itu tadi, ‘ubudiyah; tetapi dia melakukan itu kepada daya tarik-menarik di alam ini, vibrasi, visualisasi dan getaran, -bukan kepada Tuhan- berarti dia telah menghamba kepada hal itu.
 
Secara lahiriah, tertengok sama dan tak ada bedanya dengan orang berdo’a. Tetapi, yang berbeda adalah kepada “apa” atau “siapa” sikap batin yang merasa rendah, hina, dan lemah itu kita haturkan.
 
Maka, semakin awareness dan mindfulness seseorang, sejatinya dia harus semakin hati-hati. Jangan sampai dia salah melakukan sikap ‘ubudiyah, salah sasaran, karena semakin awareness-nya dia, dan semakin mengertinya dia tentang anasir-anasir non fisikal itu.
 
Dan “pagar”-nya rupanya sudah sangat jelas, di dalam spiritualitas islam. Bahwa Tuhan penguasa alam itu tidak serupa apapun, tidak terjangkau perumpamaan seperti apapun.
 
Maka jika kita “menghadap”, menghamba, merendah, menghinakan diri, melemahkan diri, kepada apapun saja yang masih terjangkau definisi: semisal benda-benda, atau amal usaha lahiriah kita sendiri, vibrasi, getaran dan anasir-anasir di alam ini, maka sudah pasti kita keliru sasaran dalam melakukan sikap ‘ubudiyah itu tadi.
 
Kita bisa, menggerakkan, dan mengatur elemen-elemen benda, berusaha, dalam kapasitas sebagai “khalifah”. Tetapi, tidak ada sikap ‘ubudiyah pada hal-hal tersebut. Sikap ‘ubudiyah, mestilah hanya kepada Tuhan. ini yang ternyata kita harus super hati-hati.
 
Jika seseorang yang ahli ibadah ritual fisik disebut ‘abid (ahli ibadah). Maka seseorang yang paham akan makna ‘ubudiyah ini disebut ‘abd (hamba).
 
Dan menjadi merendah kepada Tuhan, menjadi hamba, sebenarnya posisi yang tinggi, dan sikap yang sakral.
 
Tetapi mempraktekkan sikap ‘ubudiyah kepada selain Tuhan, ternyata akan menjatuhkan kita serendah-rendahnya.
 

MENERIMA DUALITAS DUNIA

dualitySegala sesuatu di dunia ini, dijadikan berpasangan. Seperti itulah fithrahnya dunia ciptaan. Pada dunia ciptaan ini, oleh Tuhan, keragaman dizahirkan dalam kerangka besar dualitas. Baik-buruk. Suka-duka. Lapang-sempit. Pahala-dosa. Semuanya berpasang-pasangan.[1]

Seperti cuaca, mereka (dualitas itu) datang dan pergi. Silih berganti diperkenalkan kepada kita. Tak ada suka yang selamanya, sebagaimana tak ada duka yang selamanya. Sekali terang, sekali gelap.

Karena dualitas seperti itu adalah fithrahnya dunia ciptaan, fithrahnya dunia sifat-sifat, maka kita mestilah mengetahui bahwa semua itu pasti akan menyambangi dalam kehidupan kita.

Kalau kita bertemu dengan salah satunya, besar kemungkinan kita pasti akan ketemu pasangan satunya. Tidak mungkin kita hanya ketemu satu “sifat” saja. Mesti dua-duanya kita ketemu.

Dengan mengetahui “tabiat dunia” yang seperti itu, kita baru akhirnya tersadar bahwa memang betul kata para arifin, jangan “tambatkan” kebahagiaan kita pada keadaan di luar diri kita. Karena apapun di luar diri kita itu, adalah sifat-sifat di dalam dunia dualitas. Datang, dan pergi.

Waktu SMA dulu saya tidak puas dengan kondisi yang serba pas-pasan, saya ingin segera keluar dari sana. Lalu tibalah masa kuliah, awalnya saya mati-matian membenci jurusan Geologi tempat saya belajar, merasa tidak sehati, tapi toh bertahan juga hingga tiba akhir kuliah dan ternyata saya menyukai kuliah saya. Lepas kuliah saya bekerja menjadi “pemburu” minyak di macam-macam tempat, berkelindan dengan orang-orang dengan berbagai-bagai karakter dan gurat kebangsaan, tetap saja ada sisi yang membuat saya gelisah dan merasa tidak puas di lapangan hingga akhirnya saya pindah ke kantor.

Dalam mata rantai ketidak puasan itu, saya berdoa kepada Allah agar memindahkan saya dari keadaan yang saya benci itu kepada keadaan yang lain yang menurut saya bisa membuat saya bahagia. Di benak saya, kebahagiaan itu pastilah sesuatu yang berkait dengan “keadaan”.

Disitulah kelirunya, karena selama kebahagiaan dikaitkan dengan situasi external di luar diri kita, maka kita sudah mengaitkan kebahagiaan pada hal yang bisa datang dan pergi, ini adalah dualitas. Selama dualitas, mestilah datang dan pergi. Saat dia datang kita bahagia, saat dia hilang kita akan duka.

Ibnu Athaillah As Sakandari mengatakan, sebagian orang seperti keledai penggilingan, berputar-putar tak ada ujungnya. Pindah dari satu kondisi ke kondisi lainnya. Tetapi toh tetap saja mereka tidak menemukan kebahagiaan. Apabila kita sudah mengira bahwa kebahagiaan kita adalah sesuatu yang tertambat pada keadaan tertentu, maka kebahagiaan itu pastilah labil. Karena sudah fitrahnya suatu “keadaan” untuk berganti seiring periode takdir.

Setidaknya, ada beberapa hal yang saya catat dari kajian para arifin, yang membantu memperbaiki kembali cara kita memandang hidup.

PERTAMA, adalah “accept things as they are”. Bahasa islamnya adalah menerima takdir. Lapang dan sempitnya hidup mesti bergiliran. Karena kita hidup terendam dalam dunia sifat-sifat yang dualitas tadi. Kita ketemu lapang, maka tinggal tunggu waktu saja kita ketemu sempit. Pasti dua-duanya kita temukan.

Saat kita sudah punya ilmunya, sudah mengetahui “the nature of life”, alias tabiatnya dunia memang seperti itu, barulah kita akan bisa merespon hidup dengan lebih santai. Seperti orang merespon cuaca. Saat hujan ya pakai payung. Saat panas ya berteduh atau nyalakan kipas angin. Tetapi mau tak mau kita harus menerima baik panas maupun hujan. Karena panas dan hujan adalah dualitas dunia.

KEDUA, adalah “temukan makna”. Saat kita sudah mengetahui bahwa sia-sia saja berusaha berlari dari dualitas. Dualitas akan selalu ada, dan selalu kita temukan kedua sisinya dalam hidup kita. Maka tugas kita berikutnya adalah merespon secara tepat, dan juga menemukan makna dalam setiap dualitas takdir yang kita jalani.

Ungkapan Umar Bin Khattab r.a. sangatlah tepat. “Jika sabar dan syukur adalah dua kendaraan, aku tak peduli harus menunggangi yang mana.”

Sabar, dan syukur adalah pemaknaan pada dualitas itu. Intinya ternyata kita menerima dulu, lalu kita merespon kejadian yang dualitas itu, dengan respon terbaik yaitu sabar dan syukur.

Pada gilirannya, kita mengetahui bahwa dualitas hidup adalah sekedar derivasi alias turunan dari dualitas sifat-Nya/ Asma-Nya, yaitu JAMAL (sifat-sifat yang mewakili keindahan-Nya) dan sifat JALAL (sifat-sifat yang mewakili keagungan dan kedigdayaan-Nya). Dan kita akan diperjalankan menemui dualitas sifat itu. Ketemu Jamal-Nya, dan ketemu Jalal-Nya lewat cerita hidup kita.

KETIGA, dan yang ini sedikit pelik. Setelah diterima, direspon, diambil maknanya, berikutnya yang paling penting adalah mengetahui bahwa dualitas makna itu, sejatinya datang dari Dzat-Nya semata. Dan disanalah keragaman akan sirna.

Selama kita hidup di dalam dunia, maka kita diselimuti oleh dualitas. Tak ada pilihan selain dari menerima dualitas itu. Setelah menerima maka kita merespon dualitas dengan respon terbaik sesuai petunjuk-Nya. Setelah merespon maka kita menangkap makna bahwa dualitas itu ternyata hanya derivasi dari dualitas sifat-Nya. Tetapi dualitas itu hanya akan sirna jika kita melihat, dalam tanda kutip, bahwa dibalik semua dualitas itu adalah Dzat-Nya semata-mata. Di titik itulah kita tak lagi ada di dalam dunia keragaman.

Dengan begitu, pelan-pelan hidup menjadi seperti menonton drama. Accept things as they are. Berdamai dengan dunia yang penuh dualitas. Semuanya pelajaran. Karena sejatinya semua dualitas hanya cerita dari-Nya. Hanya pada-Nya saja keragaman sirna.

 

Note:

[1] Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui. (Q.S. Yaasiin : 36)

Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah. (Q.S. Adz Dzariyat : 49)

TIPS AGAR KEHIDUPAN KEMBALI MEMESONA

AMAZEDAnak saya usianya hampir lima tahun, dan seperti jamaknya anak seusianya, “baterai“-nya seperti Energizer. Tak habis-habis. Bermain tanpa henti , baru tidur kalau hari sudah malam dan kami sudah mengantuk lebih dulu.

Saya memerhatikan, kenapa anak kecil sebegitu semangatnya dan seperti memiliki tenaga mengalahkan orang dewasa? Ternyata belakangan saya tahu jawabannya, anak kecil biasanya terpesona pada kehidupan.

Saya amati anak kecil biasanya ingin tahu segala hal, dan begitu bersemangat dalam segala hal. Bagi anak kecil, dunia ini adalah sesuatu yang menarik untuk di-explore. Makanya anak-anak kecil cenderung bertanya terus, bermain terus, dan jarang capeknya. Pada pandangan orang yang terpesona, rasa capek dan letih seringkali kalah oleh rasa ingin tahu.

Tetapi kebalikannya adalah orang dewasa. Misalnya saya sendiri. Dalam banyak kesempatan saya sering merasa bosan. Misalnya, di kantor bosan. Di jalanan bosan juga. Dan banyak orang kantoran yang juga merasakan hal yang sama. Tak hanya orang usia kantoran, anak-anak usia sekolah pun sudah mulai terjangkit gejala cepat bosan.

Jika sewaktu kecil kita begitu “passionate about the life”, begitu bergairah terhadap hidup karena terpesona, mungkin sekarang kebalikannya, kita cepat bosan karena dunia sudah tak se-memesona dulu.

Waktu kecil, kita baru belajar mengenal lingkungan, menggerakkan syaraf motorik, mengenal angka, mengenal huruf, interaksi dengan sekitar, maka bangun tidur sampai tidur lagi umpama kita dimasukkan dalam dunia penuh mainan. Semuanya hal baru dan semuanya kita ingin ketahui.

Setelah dewasa, kita sudah mengenal hal-hal itu sehingga input eksternal jadi tak menarik lagi. Maka kita sering bosan.

Bagaimana tips nya supaya kehidupan kembali memesona, dalam maknanya yang baik?

Tipsnya ternyata adalah dengan menyadari bahwa kita berada di dalam dunia ini ibarat kita tenggelam dalam perpustakaan raksasa.

Umpamakanlah ada sebuah buku Harry Potter, atau novel apa saja yang rekan-rekan pernah baca. Setiap susunan kata yang ada pada novel itu akan membentuk kalimat. Setiap susunan kalimat yang menjelma paragraf akan menghantarkan sebuah kumpulan makna, dalam hal ini cerita tentang Harry Potter.

Tidak mungkin, huruf sebagai huruf semata, atau kata-kata sebagai kata-kata semata tanpa arti, bukan? Tentu kita menyadari bahwa kita membaca buku dalam sebuah pengertian bahwa kumpulan huruf yang terserak dalam buku Harry Potter itu mewakili sebuah cerita dongeng dari J.K Rawling. Maka mengakrabi kumpulan kata-kata menjadi menarik.

Begitu juga seharusnya kita dalam memaknai hidup. Para arifin seringkali mengingatkan bahwa tujuan besar kehidupan ini dibuat adalah Tuhan “menyatakan” diri-Nya lewat berbagai-bagai cerita dalam kehidupan kita.

Secara sederhana barangkali begini. Tuhan ingin dikenali, maka DIA mencipta makhluq. Dan digoreskanlah takdir atas makhluq, yang setiap potongan takdir apapun saja itu, sebenarnya bercerita tentang DIA. Jadi semuanya tentang DIA bercerita.

Jadi kita nyemplung dalam kehidupan sebenarnya ibarat nyemplung di dalam perpustakaan besar. Yang mana keseluruhan takdir apapun saja, dan ilmu apapun saja sebenarnya menyingkap cerita tentang DIA.

Misalnya saya kutipkan penjelasan Prof. Naquib Al Attas dalam “The Nature of Men and Psychology of Human Soul”, dimana beliau menjelaskan bahwa Adam a.s dilebihkan atas para malaikat karena Adam a.s diajari tentang asma’-asma’. Asma’ disini mewakili ilmu-ilmu tentang sifat-sifat.

Kalau analoginya adalah dengan novel tadi, maka apapun yang kita lihat dalam hidup ini ya mirip-mirip kumpulan kata-kata. Kumpulan kata-kata, mestilah mewakili cerita dari pengarangnya.

Maka mengakrabi dunia ini menjadi kembali penuh pesona. Karena apapun saja di sekitar kita itu ternyata memiliki sisi spiritual.

Melihat tukang cuci mobil mencuci mobil, kita melihat bagaimana Tuhan mengatur pembagian rizki, menggerakkan roda ekonomi, membuat manusia memandang DIA dalam berbagai-bagai citra sifat-sifat, Yang Maha Memberi Rizki.

Atau misalnya juga melihat berita di TV, pergolakan politik ternyata adalah plot besar-Nya juga. Melihat seorang yang sedang berduka dirundung masalah, kita melihat bagaimana manusia diperjalankan menemui-Nya dengan bermacam-macam latar cerita.

Baru sekarang-sekarang saja saya mengerti, sebuah ungkapan klasik bahwa sebenarnya tidak ada dikotomi antara ilmu agama dan ilmu selain agama, misalnya sains atau humaniora.

Dulu kata-kata itu sebatas dimulut saja. Tetapi baru sekarang saya mengerti, bahwa memang benar-benar tidak ada dikotomi jika dipahami bahwa semua tata aturan yang tergelar di muka bumi ini hanya cara DIA bercerita.

Dan satu lagi sebenarnya yang paling penting. Dengan memahami bahwa seolah-olah kita tenggelam dalam perpustakaan raksasa, dalam dunia yang penuh cerita DIA itulah kita bisa seperti berjarak dengan keadaan. Maksudnya nothing personal. Tak ada hal yang terlalu pribadi, jadi kita easy going.

Seorang guru mengatakan seandainya kita memiliki sikap IQRO’ semacam itu dalam setiap kejadian hidup kita, kita akan tidak gampang tersinggung dan sakit hati. Karena kita tidak menganggap sebuah kejadian sebagai sesuatu yang personal lagi, tetapi kejadian malahan sebagai medium DIA bercerita. Seperti Adam yang memahami rahasia Asma’ itu.

Ini saya terapkan juga di kantor. Kalau bos lagi marah-marah saya mengesampingkan hal yang personal. Dan malah menjadi penasaran, kenapa manusia bisa marah? Bagaimana persepsi manusia satu dan lainnya tentang keadaan bisa menimbulkan respon berbeda? Persepsi berbeda karna input berbeda? Input berbeda karena Tuhan memperjalankan masing-masing orang dalam lajur yang berbeda. Semuanya seperti buku cerita jadinya, dan lama-lama kita berjarak dengan keadaan, dan kita asyik membaca kehidupan seperti melihat dongeng.

Tak selalu sih, masih sering dongkol juga, hahahahaha….

Tapi setidaknya petuah para guru kearifan itu sudah kita ketahui. Kalau kehidupan sudah tidak menarik lagi bagi kita, dan kita sudah terlalu sering bosan, mungkin kita lupa mengaitkan hidup dalam konteks itu. Dalam konteks kita ada di dalam ceritaNya.

Disitulah baru semua make sense, saat ayat suci sering mengatakan: bertebaranlah di muka bumi, tengoklah langit, tengok diri kamu sendiri, tengok semut, tengok bintang….. cerita-Nya sudah sangat menarik dan dahsyat, kita saja jarang terpesona.[1]

Note:

[1] Artinya: Dan di muka bumi ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. Dan (juga) pada diri kalian, apakah kalian tidak berfikir (merenungi). (Adz Dzariyat: 20-21).

image source

HIDUP INI GA MUNGKIN UJUG-UJUG DAHSYAT

prayingSaya perhatikan, salah satu sumber keruwetan dalam memaknai hidup -terutama bercermin dari pengalaman saya sendiri – adalah kelirunya kita dalam memaknai level-level pemahaman spiritual dan hubungannya dengan praktek keseharian.

Suatu hari saya sempat berbincang dengan seorang rekan, kami membahas mengenai masalah yang dihadapi rekan saya ini, dan akhirnya menyasar pada pembicaraan mengenai do’a. Ringkasnya adalah, rekan saya ini mengatakan dia berdo’a dalam redaksi yang kurang lebih maknanya adalah “terserah bagaimana baiknya menurut Tuhan saja.” Do’a yang “tinggi” memang.

Tetapi kemudian saya bertanya kepada rekan saya, karena saya juga pernah mengalami fase kekeliruan itu. Pertanyaan saya adalah, apakah do’a pada lafadz lisannya itu sama isinya dengan apa yang terbetik di hatinya? Ternyata tidak sama.

Permasalah rekan saya ini sama dengan permasalahan saya dulu, sebenarnya di hatinya membutuhkan pertolongan Tuhan akan sesuatu masalah, tetapi beliau keliru menafsiri “rasa butuh” akan pertolongan Tuhan itu, dan akhirnya menzahirkan do’a pada lisan; sebuah do’a yang tak sesuai dengan hatinya. Karena seolah-olah berdo’a untuk sesuatu kebutuhan duniawi itu; keliru.

Yang sering kita lupa adalah bahwa Tuhan sebenarnya menilai apa yang di hati. Sebab apa yang terbetik di lisan, itu hanyalah imbas dari apa yang terbetik di hati. Maka lisan, harus sama dengan isi hatinya. Yang terzahir pada lisan (luar) itu bahasa kerennya “amal”. Sedangkan apa yang tersimpan pada batin -tetapi sejatinya adalah penggerak- itu disebut “hal”, kondisi batin secara spiritual.

Kita kutipkan contoh tangga-tangga pemaknaan ini ya, rekan-rekan.

Yang pertama adalah Nabi Zakariya a.s, kita sama-sama tahu bahwa Nabi Zakariya a.s berdo’a kepada Allah dalam do’a yang sangat literal. Langsung meminta secara jelas akan kebutuhannya. Beliau merasa ingin diberikan keturunan, maka beliau meminta keturunan.[1]

Kebutuhannya jelas, kerinduan akan keturunan. Do’anya pun ekspresif, minta keturunan.

Tetapi ada pemaknaan berikutnya. Contohnya ialah Musa a.s.  Saat belum dilantik menjadi Nabi, beliau dikejar-kejar tentara fir’aun dan melarikan diri ke negri Madyan. Disana beliau tidak punya teman, tak ada tempat tinggal, kelaparan, dan takut akan ancaman musuh. Kebutuhannya jelas sekali, tetapi do’anya isyarat, tidak literal. “Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku” QS. Al-Qashash [28]: 24.

Ada pemaknaan berikutnya lagi, misalnya Nabi Ibrahim a.s yang bahkan saat hendak dilempar dalam kobaran api oleh Namrud, beliau hanya berujar “Cukuplah Allah menjadi penolong Kami dan Allah adalah Sebaik-baik Pelindung”.

Kalau kita lihat do’a-do’a para Nabi dan orang-orang shalih, kita akan tahu bahwa do’a yang literal, lalu do’a yang berupa isyarat, lalu bahkan do’a yang “terserah Tuhan sajalah”, semuanya tercontohkan. Masalahnya adalah, yang mana yang kita tiru?

Yang kita tiru adalah yang sesuai dengan kondisi ruhani kita masing-masing, keadaan hati yang oleh para arifin disebut dengan “hal” atau jamaknya “ahwal”, alias tergantung kejujuran menilai level diri.

Misalnya, kita punya hutang yang membelit, lalu dalam hati kita begitu berat menghadapi kesulitan hutang itu. Maka seandainyapun kita berdo’a “ya Allah…tolonglah bantu lunasi hutang ini”, maka do’a kita tersebut bukanlah do’a yang keliru. Selama, dalam do’a itu kita menemukan arti dari kebesaran Tuhan.

Awalnya bertemu hutang, lalu kita konversi menjadi rasa kerdil dan butuh akan pertolongan Tuhan.

Contohnya Zakariya a.s.tadi, karena baik do’a meminta anak, atau do’a meminta tolong dilepaskan dari hutang, adalah do’a yang meminta hal duniawi, tetapi selama dalam do’a itu kita menemukan ejawantah dari kebesaran Tuhan, maka bernilai spiritual-lah do’a itu tadi. Bukan do’a duniawi.

Kita ini, sering pengen ujug-ujug dahsyat. Kita melupakan proses.

Ada ilustrasi dari sikap melupakan proses, misalnya kekeliruan saya dulu dalam memaknai hadits Rasulullah SAW yang intinya adalah jika ada orang sibuk berdzikir sampai lupa meminta, maka dia akan diberikan sesuatu yang lebih utama dari orang yang meminta.[2] Hal ini sering keliru dimaknai dengan “wah…kalau begitu tak usah meminta”.

Padahal, hadits tersebut berbicara konteks level-level tadi. Ada proses yang harus dilewati untuk sampai kesana.

Dan proses itu adalah apabila dalam segala-gala gerak-gerik kehidupan kita, dalam segala kebutuhan hidup kita, kita jadikan pintu untuk kembali kepada Tuhan. Butuh uang melunasi hutang; berdo’a. Butuh anak; berdo’a. Butuh pendamping; berdo’a. dan sebagainya dan sebagainya. Yang intinya pada do’a itu bukan bendanya, tetapi mengkonversi hal kebendaan menjadi rasa butuh akan pertolongan Tuhan. walhasil, mengenali Tuhan lewat pintu kebutuhan dalam hidup.

Sampai nanti, pembiasaan itu akan menghantarkan kita pada suasana batin yang berikutnya lagi. Yaitu kepahaman yang dalam, bahwa tanpa perlu kita zahirkan secara literal-pun, Tuhan sudah ngerti maunya kita.

Maka, lidah kita akan menjadi kelu sendiri untuk menzahirkan permintaan. Karena memang permintaannya sudah tidak menari-nari lagi di dalam batin, melainkan batin dipenuhi dengan kepahaman-kepahaman akan jaminan Tuhan.

Di atasnya lagi, beliau-beliau yang dalam melihat segala apa, sudah tidak lagi terbayang benda-benda, melainkan penuh dengan dzikir semata. Dan itulah tangga dimana mereka-mereka mendapat keutamaan lebih dari model kita-kita ini.

Tetapi kan tak mungkin ujug-ujug. Jika pada tangga pertama saja, dalam keseharian yang sederhana ini, kita gagal menjadikan kebutuhan hidup sebagai jalan untuk “kembali” pada Tuhan. Karena kita keliru-keliru memahami “maqom” itu tadi.

Jadi, kalau ada kebutuhan dalam hidup ya berdo’a saja. Berdo’alah sering-sering. Dan temukan makna-makna kekerdilan diri lewat do’a, dan makna-makna kebesaran DIA lewat do’a.

Tenang saja, nanti dengan seringnya mengakrabi DIA lewat do’a, maka situasi batin atau “ahwal” akan berubah sendiri. Saat situasi batin berubah, maka amal akan mendewasa dengan sendirinya[3]. Nanti kita tahu-tahu sudah berubah redaksi do’anya. Kalau dulu banyak permintaan, sekarang menjadi banyak pujian dan munajat.

Tapi semuanya tidak bisa ujug-ujug ada prosesnya, dan nikmati saja setiap tangga-tangga itu.

Note:

[1] “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa” QS. Ali ‘Imran [3]: 38.

Wahai Tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku seorang diri (dengan tidak meninggalkan zuriat) dan Engkaulah jua sebaik-baik yang mewarisi (QS: Al-Anbiya : 89)

[2] Artinya : Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tuhan Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “Barang siapa yang sibuk membaca Al Qur’an dan dzikir kepada Ku dengan tidak memohon kepada Ku, maka ia Aku beri sesuatu yang lebih utama dari pada apa yang Aku berikan kepada orang yang minta”. Kelebihan firman Allah atas seluruh perkataan seperti kelebihan Allah atas seluruh makhlukNya”. (Hadits ditakhrij oleh Tirmidzi).

[3] “Bila ilmu sudah masuk ke hati, berubahlah keadaan hati. Bila HAL hati sudah berubah, berubah pulalah amal anggota badan. Jadi, amal itu bergantung pada HAL. Sementara HAL bergantung pada ilmu, dan ilmu bergantung pada tafakur.” (K.H.R Abdullah bin Nuh. 2015. “Tafakur Sesaat Lebih Baik Daripada Ibadah Setahun” (hlm. 11))

Image source

PERBEDAAN DZAUQ DAN BAPER

sakitnya tuh

 Rekan-rekan mestilah tahu artinya “BAPER”, bahasa gaul, alias Bawa Perasaan. Nah…tahukah rekan-rekan perbedaan BAPER dan Dzauq dalam khasanah para arifin?

Sebelum membahas itu, saya kutipkan secara bebas, penggalan puisi Rumi. Kata Rumi, manusia ibarat suatu pesanggrahan, dan setiap pagi selalu ada saja tamu yang datang berupa kesedihan ataupun kegembiraan.

Premisnya adalah ini: Kesedihan maupun kegembiraan (perasaan) adalah tamu pada pesanggrahan manusia. Ianya bisa datang, dan bisa pergi. Perasaan sedih dan gembira, itu datang dan pergi, alias tamu pada jiwa yang “menyaksi”.

Kalau kita “jeli”, kita akan mengetahui bahwa perasaan di dalam jiwa kita itu adalah sebuah anasir yang tersendiri. Dia berbeda dengan jiwa yang mengamati. Ada jiwa yang mengamati, dan ada perasaan sebagai sebuah anasir yang datang dan pergi, datang dan pergi.

Perasaan yang datang dan pergi mendatangi jiwa manusia itulah perasaan yang semu, alias “ghurur”, alias tipuan, alias BAPER.

Nah…. Di dalam keseharian dan peribadatan, sering rupanya kita mengira kita mengalami sebuah sensasi haru yang khusyuk, sensasi rasa dalam beribadah (Dzauq), padahal itu adalah BAPER bukan Dzauq.

Secara bebas, saya terjemahkan Dzauq dalam khasanah para arifin itu sebagai sebuah “rasa” yang merasuk dalam jiwa manusia, sebagai sensasi kenikmatan dalam beribadah. Nikmatnya peribadatan, gitulah kurang lebih. Suasana hati.

Disinilah baru terlihat kekeliruan pemahaman saya dulu dimana saya mengira bahwa “Dzauq” alias “rasa” di dalam hati itu sama dengan perasaan sedih-senang yang ilusi itu, yang dimaksud Rumi sebagai tamu di pesanggrahan. Padahal dia dua hal yang berbeda.

Apa contohnya? Contohnya begini, misalnya setiap kali dahulu saya beribadah, semisal dzikir, do’a, sholat, dsb….saya malah mencari “perasaan”. Misalnya…..“wah, kok saya tidak menangis seperti kemarin ya? Kok tidak ada rasa haru seperti kemarin ya?”.

Sehari haru, sehari tidak haru. Dan saya kira, rasa haru itulah Dzauq. Padahal, yang saya rasakan kala itu adalah BAPER.

Saya, telah dengan gegabah mengasosiasikan rasa sedih, dan tangisan kepada “Dzauq“, padahal, rasa haru dan tangisan yang saya rasakan dulu itu lebih tepat disebut BAPER ketimbang Dzauq.

Bagaimana membedakannya?Ternyata yang membedakan adalah ini…..Apa yang dipandang oleh mata hati. Apa yang sedang kita ingat di dalam hati kita?

Jika kita sholat dan di dalam sholat itu kita malah mengingat masalah hidup kita, maka kita sebenarnya “menghadap” pada masalah, bukan menghadap pada Tuhan. Walhasil, rasa sedih dan haru yang kita dapatkan saat sholat kala itu bukanlah Dzauq, melainkan BAPER. Sensasi emosional tersebab kita sibuk memutar slide film masalah-masalah di dalam hati kita.

Barangkali bahasa kerennya, inilah yang disebut orang-orang arif sebagai “Melihat af’al” semata. Mentok di af’al.

Masalah-masalah dalam hidup, adalah goresan takdir alias af’al Tuhan. Dalam tanda kutip perbuatan Tuhan. Saat kita melakukan peribadatan, yang kita “hadap” bukan masalahnya, melainkan Sang Pemilik kejadian itu.

Masalah, hanyalah pintu “masuk”, tetapi, saat beribadah, rupanya kita harus inni wajahtu wajhiya lilladzi fathoros samawati wal ard. Menghadapkan “wajah” kita kepada “wajah” pemilik langit dan Bumi. Bukan memutar slide film masalah di benak kita.

Saat kita memenuhi hati kita dengan ingatan pada Allah -bukan pada masalah-, maka dengan lambat laun kita dapat memahami sebuah perasaan yang tenang dan stabil, yaitu “talinu“, tenang….tentram.[1] Rasa tentram yang stabil dan dalam inilah Dzauq. Dia tidak emosional.

Saya teringat suatu kali pernah membaca penjelasan, seingat saya dari Quraish Shihab, dimana ada seorang penanya menanyakan tentang menangis saat Dzikir. Dijawab oleh beliau, memang pada awalnya kita bisa menangis saat Dzikir, tetapi ujungnya biasanya adalah perasaan tenang yang bukan emosional.

Kalau semakin beribadah, kita semakin kemrungsung kata orang jawa, semakin gonjang-ganjing emosi kita, menangis yang histeris atau stress, itu bukan Dzauq. Itu BAPER. Kita harus cek dan ricek lagi, apakah kita mengingati masalah, atau mengingati Tuhan?

Dzauq adalah sebuah ketentraman yang jauh dari kesan BAPER. Pada titik ketenangan inilah kita menjadi mengerti juga maksud Rumi bahwa benar-benar semua perasaan-perasaan selain Dzauq itu, perasaan yang BAPER itu tadi, semuanya tamu saja dalam pesanggrahan hati kita. Mereka cuma come and go, come and go……datang dan pergi. Dualitas yang selalu ada.

Dan ternyata memang kita harus jangan terbawa-bawa oleh perasaan-perasaan yang semu itu. Melainkan kita memperlakukan mereka sebagai tamu semata. Biarlah mereka datang dan pergi. Seperti cuaca. Karena mereka memang datang dan pergi.

Yang penting kita mengingatiNya, dan kita tentram bersama-Nya.

Pertama-tama memang sulit, tetapi lama-lama kita mengerti bedanya. Tangga pertama barangkali kita teringat, masalah. Lama-lama kita tahu bahwa masalah hanyalah cerita tentang lakuan DIA. Merangkum makna-makna dalam Asmaul Husna. Maka kita naik sedikit, bukan lagi teringat masalah, tapi teringat hikmah.

Lama-lama, kita pun meloncati hikmahnya. Bukan sifat-sifat yang kita ingat, tetapi DIA, sang penggores kejadian. DIA, yang tiada umpama.

Rasa tentram karena mengingati DIA itulah yang sejati. Yang tidak emosional. Yang bukan BAPER. Boleh jadi ada tempo-temponya rasa itu menguat menjadi haru dan tangis atau menjadi takut dan gemetar, tetapi jauh sekali bedanya dengan yang BAPER.

Note:

[1] Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang , gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun. [QS. AZ ZUMAR 39:23]

Gambar ilustrasi dipinjam dari link ini

LEBARAN, KEMATIAN, DAN PERMAAFAN

Baru berapa menit usai saya meninggalkan sebuah komentar di album facebook beliau, saya membaca sebuah posting yang men-tag namanya, berita duka cita. Rekan yang saya komentari album lebarannya itu ternyata telah “berpulang”.

Kematian selalu datang dengan dramatik. Saya masih ingat sekali sederet nama orang-orang baik yang saya kenal. Mereka “berpulang” pada usia yang masih sangat muda.

Seorang rekan wafat saat saya masih SMP. Teman sepermainan. Seorang rekan lainnya wafat saat masih SMA. Dan beberapa orang rekan “berpulang” saat masih menapaki masa kuliah.

Respon spontan pertama tentu selalu kaget. Kok secepat itu? Butuh berapa jenak untuk kemudian kembali pada kearifan yang semestinya: semua dari Allah, lalu kembali kepada Allah.

Dalam pesan-pesan kematian yang datang dengan tiba-tiba itu, selalu membuat saya kembali merenungkan. Jika semua akan dipungkasi dengan keberpulangan, lalu adakah guna kita menyimpan dendam? Menyimpan amarah? Menyimpan luka yang menahun?

Jika pada ujungnya kelak semua cerita akan ditutup, dan kita akan melanjutkan pada kehidupan yang sama sekali lain, maka kebencian, amarah, dendam, luka dan sejenisnya menjadi tidak lagi kontekstual.

Seandainya saya terluka, atau saya merasakan kecewa dan berat menjalani hidup, saya biasanya mencoba membenarkan cara pandang dengan satu diantara hal berikut:

– saya mencoba menimbang-nimbang bahwa diujung dari hal yang tak saya sukai ini, kelak ada sebuah kebaikan yang surprise.

– di atasnya lagi, saya mencoba memusatkan perhatian pada sisi anugerah yang ternyata lebih banyak ketimbang sisi luka. Karena anugerah lebih banyak ketimbang ujian; maka semestinya saya bersyukur.

– di atas itu lagi, saya menjadi menyadari bahwa baik sesuatu yang nampak buruk, atau sesuatu yang nampak baik; dua-duanya nisbi. Pada sisi Tuhan, semuanya baik. Karena semuanya hanyalah ejawantah perbuatan-Nya, yang menceritakan sifat-sifat fi’liyah (asmaul Husna).

– di atas itu lagi, dan yang ini sedikit lebih pelik, yaitu tak hanya semua ini menceritakan tentang Dia, dan sifat-sifat fi’liyahNya, melainkan semua yang nampak ini sejatinya “tajalli” dari Dzat-Nya yang tiada umpama.

Kesemuanya adalah cara pandang. Tetapi namanya naik-turun, kadang-kadang kita bisa memandang lewat kacamata yang tinggi, kadang-kadang terjebak juga dengan keadaan. Kita tetap memandang positif, hanya saja paradigma yang dipakai terpaksa dengan paradigma yang bawah.

Tetapi saya kemudian menyadari satu trik untuk mempercepat kita atau membuat kita selalu tune in dengan paradigma yang di tangga atas itu. Apa itu? Yaitu mentadaburi kematian itu tadi.

Benarlah bahwa kematian adalah pemutus segala gundah yang tak perlu. Jika semua akan dipuncaki dengan pulang kepadaNya, adakah semua kecewa kita masih kontekstual?

Tetapi satu hal lagi….dengan mengakrabi kajian para arifin, saya akhirnya menyadari bahwa kematian bukanlah akhir. Kematian hanyalah degradasi dari tubuh yang fisikal ini. Adapun ruhani yang “diam” dan selalu “menyaksi”, yang “di dalam sini”, dia tak akan mengalami degradasi.

Dalam kaitan seperti itu. Maka belajar puasa, lalu menyadari yg “ruhani”, lalu mengakrabi kehidupan sebagai konteks menunggu “mati” sebagai gerbang hidup yang lebih hidup, maka kita akan menjadi lebih gampang memaafkan.

Maaf lahir dan batin. Maafkan…..maafkan…….lepaskaaaan…..lupakan….dan ridho. Semua akan ditinggalkan pada akhirnya.

 

Note:

*) Header blog saya ini, adalah hasil jepretan rekan saya almarhum.

VAKSINASI SPIRITUAL

vaksinasiSeandainya kita sedang hidup di zaman perang kemerdekaan, dan kita memanggul senjata dalam pertempuran, ditabuhi desing peluru, lalu melihat satu-satu rekan kita terjatuh tertembak digelimangi darah. Apa yang kita lakukan?

Tentu, kita akan menolong mereka, bukan? Kita akan membawa mereka ke tim medik, atau menolong sendiri semampu kita. Karena itulah persaudaraan dalam perang.

Begitulah, seorang guru mengajarkan, bagaimana kita harus memandang -secara spiritual- kaitannya antara manusia dan dosa. Seorang yang berdosa, adalah ibarat seorang prajurit yang sedang terluka di medan laga, dalam perang tanpa henti melawan diri sendiri (dan godaan anasir luar).

Kita semua prajurit, dalam drama kolosal ini. Baru saya mengerti kekeliruan saya dalam memandang, dahulu. Dalam konteks kita sesama prajurit, saya keliru membedakan antara orang-orang terluka, dan musuh yang sebenarnya. Saya malah memusuhi orang-orang yang terluka.

Dan saya menjadi tahu letak kekeliruan saya ini karena sudah sangat sering saya bertemu orang-orang yang saya kira tak baik pada luarannya, tetapi ternyata mereka menyimpan rindu pada “cahaya”.

Kita tidak hidup dalam dunia yang homogen, rekan-rekan. Sampai akhir hayat pun dunia ini tidak akan homogen dan satu warna.

Kekeliruan saya, adalah mengira kita hidup dalam sebuah dunia yang satu warna. Dunia yang homogen adalah utopia. Karena keragaman adalah fithrahnya dunia. Di Qur’an seringkali kita baca Allah sendiri berfirman bahwa jika DIA hendak menjadikan semuanya satu warna saja, pastilah gampang.[1] Tapi ternyata DIA sendiri yang menzahirkan keragaman sebagai medium pengenalan pada-Nya.

Dalam dunia yang sudah nyata tidak homogen, yang diperlukan adalah mentalitas “imun”, bukan melulu mentalitas “steril”. Kelirunya kita, adalah kita menginginkan sterilitas. Contoh menginginkan sterilitas adalah kita membenci pendosa. Orang yang memiliki mentalitas steril, dia barangkali “bersih”, tetapi kebersihannya menuntut musnahnya keragaman.

Sedangkan orang yang “imun”, dia terjaga dalam beragam-ragam warna kehidupan.

Kalau kita melihat hidup ini dalam konteks “dizahirkan oleh Tuhan agar diri-Nya dikenali.” Maka sebenarnya kita semua sedang dalam perjalanan panjang sama-sama berupaya mengenali-Nya. Dan dalam upaya mengenali-Nya itu, keragaman cerita tergelar.

Saya ingat suatu ketika seorang guru lainnya pernah mewejang, seandainya engkau membenci pendosa, dan mendoakan semua pendosa di dunia ini untuk musnah semua, lalu dimanakah kenyataan dari asma-Nya Al-Ghaffar? Yang Maha Pengampun?

Karena DIA maha pengampun, maka DIA menggelar drama para pendosa yang kemudian menemukan diri-Nya dalam salah dan pertaubatan. Menemukan Tuhannya lewat ejawantah pintu sifat Al-Ghaffar.

Bahkan Rasulullah sendiri, dalam asbabun Nuzul Al-An’am: 36 sempat ditegur oleh Allah tersebab beliau begitu berduka akan keingkaran kaumnya. Pelajarannya adalah just do our part. Kita berkebaikan, dan nasehat-menasehati dalam kebenaran. Hanya saja kita sekarang mengerti bahwa kadang-kadang orang-orang menjadi bertemu dengan Tuhan lewat jalan dosa yang ditaubati. Maka sebagai prajurit, jangan membenci rekan yang terluka di medan juang.

Dalam Al-Ashr disebutkan manusia semuanya rugi, kecuali yang beriman, yang beriman rugi kecuali yang menzahirkan iman menjadi amal, yang beramal rugi kecuali yang nasehat-menasehati dalam kebenaran. Ujungnya dipuncaki dengan kerja team. Umpama prajurit yang saling menolong itu tadi.

Perhatikan juga tentang rizki. Harta kita, tidak akan bisa terkonversi menjadi rizki sebelum kita mendaya-gunakan harta itu untuk keperluan yang nyata dan terasa, lalu juga kita sedekahkan alias berdaya guna untuk “orang lain”[2]. Ujungnya dipuncaki lagi dengan kerja kolosal.

Lalu setelah sholat (dipuncaki dengan salam)… perintahnya adalah betebaran di atas muka bumi.

Orang lain….orang lain….orang lain…ternyata banyak sekali perintah untuk menganggap perjalanan kita adalah bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan orang lain. Karena kita sama-sama prajurit. Karena sama-sama dalam sebuah drama besar yang temanya adalah tentang mengenali DIA.

Dalam cara pandang semacam ini, saya baru menyadari bahwa saya seringkali hidup dalam lingkar yang terlampau sempit dan satu warna. Itu adalah mentalitas steril. Padahal, dalam pemaknaan bahwa semua yang ada adalah sesama “pejalan” dalam upaya mengenali-Nya, maka semua adalah rekan sesama prajurit. Dan prajurit yang baik, adalah yang tidak membenci orang-orang yang terluka di medan laga. Melainkan menolong mereka.

Hal ini tentu tidak membuat kita mengabaikan konsekuensi hukum untuk orang-orang yang menimbulkan kerusakan dalam kehidupan sosial. Bukan begitu. Hanya saja, kita menjadi lebih jernih dalam melihat.

Saat melihat orang-orang yang “luka” dalam kekeliruan dan khilafnya, lalu mereka menemukan gelisah dan kerinduan kepada “cahaya”, saya sering akhirnya menyadari bahwa orang ini sedang dididik Tuhan-nya.

Benar rupanya, kata orang-orang arif. Dia bisa memasukkan malam ke dalam siang. Memasukkan siang ke dalam malam. Menampilkan yang baik dalam sesuatu yang ternampak buruk, dan memunculkan yang buruk dari sesuatu yang ternampak baik. Semua cara DIA mengajar.

Pada tataran awal yang kita terapkan adalah mentalitas yang steril. Mentalitas yang “wong kang sholeh kumpulono”. Tahapan berikutnya yang kita terapkan adalah mentalitas yang imun. Kita butuh vaksinasi spiritual. Penerimaan yang lebih luas karena menyadari bahwa dalam dualitas baik dan buruk, tetap ada DIA. Tugas kita semata adalah just do our part. Prajurit yang menyelamatkan orang-orang luka. Tanpa perlu membenci mereka.

Note:

[1]  “Dan jika perpalingan mereka (darimu) terasa amat berat bagimu, maka jika kamu dapat membuat lobang di bumi atau tangga ke langit lalu kamu dapat mendatangkan mukjizat kepada mereka (maka buatlah). Kalau Allah menghendaki, tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang jahil” QS Al-An’am : 36

[2] Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghailan telah menceritakan kepada kami Wahb bin Jarir telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Qatadah dari Muththarrif dari ayahnya, ia tiba di hadapan nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Bermegah-megahan telah melalaikanmu.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Anak Adam berkata: Hartaku, hartaku. Kau tidak memiliki harta selain yang kau sedekahkan lalu kau habiskan, yang kau makan lalu kau habiskan atau yang kau pakai hingga usang.” H.R. Tirmidhi

Gambar dipinjam dari link ini