MENYUSUN ULANG WONG KANG SHOLEH KUMPULONO

diversity 22Saya teringat pada seorang rekan saya semasa kuliah. Beliau ini ahlinya telat. Setiap acara apapun pasti telat. Awal mulanya beliau ini tersohor sebagai ahli telat karena sewaktu ospek perkuliahan di jurusan dia datang telat hampir sekira satu jam lebih, dan setiap satu menit telat berarti push-up satu angkatan akan ditambah satu seri alias sepuluh kali turun naik. Dan akibat dari telatnya kawan saya ini, satu angkatan harus menanggung hutang push-up yang tak terbayarkan.

Tentu mengenai push-up itu hanya lucu-lucuan ospek saja, tetapi memang selepas itu rekan saya tadi dikenal sebagai orang yang kami maklumi ketelatannya, hehe…. Semoga dia tidak marah membaca tulisan ini.

Tetapi intinya bukan mengenai telat ini, dia orang yang baik. Saya mengenalnya sebagai seorang yang sederhana dan lurus. Saya dan beberapa sobat karib saya lainnya sudah lama tak tahu kemana rimbanya kawan satu ini.

Mengingat nuansa puasa, maka saya sempatkan lagi meng-sms beliau yang ternyata sekarang sedang terasing di ranah Sumatera.

Nah… tentang perjumpaan atau persentuhan dengan cerita rekan yang lama tak bersua inilah konteks obrolan kali ini.

Orang berubah, seiring masa bergulir. Ada ungkapan candaan sewaktu saya masih menekuni beladiri dulu, bahwa dua orang pendekar yang sudah lama tak bersua, saat bersua mereka akan bertukar jurus sebagai bentuk keakraban. Karena tak berjumpa satu hari, boleh jadi seseorang sudah berubah pesat kemampuannya.

Saya mencermati diri saya sendiri, dan menangkap nuansa itu saat saya hendak berjumpa atau bertegur sapa dengan seseorang yang sudah lama tak berjumpa, ada semacam rasa sungkan. Sungkannya ini adalah rasa seolah-olah “wah…jangan-jangan nanti sudah ndak nyambung”.

Karena sering saya berjumpa, dan juga mengamati cerita dimana seorang yang dulunya sohib lalu sekarang bisa jadi tidak terlalu sohib karena jarak dan waktu menjadi kendala, dan saat bertemu dua-duanya sudah memiliki cara pandang yang baru terhadap hidup.

Dari sini saya kembali teringat dengan bahasan “puasa dan penerimaan diri”.

Penerimaan diri itu satu hal. Tetapi dalam skala yang lebih besar, penerimaan diri itu bisa menjelma penerimaan terhadap kehidupan itu sendiri. Kehidupan yang kompleks dan penuh dinamika.

Saya baru menyadari bahwa para guru kearifan kadang berbicara dalam konteks yang berbeda-beda. Adakalanya dia berbicara dalam konteks bahwa yang dihadapinya adalah seorang murid, atau pembelajar. Maka dalam konteks itu, dia akan mengajarkan kebijakan yang kontekstual untuk seorang yang baru belajar menuju Tuhan.

Saya ambil contoh sebuah pesanan yang sangat populer dari syair tembang jawa silam, yaitu salah satu dari lima perkara yang bisa menjadi “obat hati” adalah “wong kang sholeh kumpulono”, berkumpul dengan orang-orang shalih. Atau dalam Al-Hikam, “janganlah berteman dengan orang yang kondisinya tidak membangkitkan semangatmu dan perkataannya tidak mengantarmu kepada Allah.”

Tentang wong kang sholeh kumpulono ini, setelah saya renungkan, saya sempat tafsirkan dengan begitu dangkal.

Akibatnya pertemanan dalam lingkaran saya ternyata begitu homogen. Secara psikologis, saya hanya akan bisa comfort dan tenang berkumpul dengan orang-orang yang membangkitkan semangat, orang-orang yang baik sepenilaian saya, yang mriyayi barangkali. Dan ini baru saya mengerti letak kekurang tepatan pemaknaan saya itu.

Tentu kita mendengar suatu hadits Rasulullah bahwa berteman dengan penjual minyak wangi keciptratan wangi, berteman dengan tukang besi kecipratan bau pembakaran. Dari sana saya menafsirkan untuk hidup dalam lingkar yang begitu selektif.

Tetapi ternyata Rasulullah berbicara dalam makna-makna pesan yang disesuaikan dengan konteksnya tertentu. Seorang sahabat diperbolehkan sedekah hingga maksimum sepertiga hartanya saja, sedangkan Abu Bakar didiamkan saja saat bersedekah hingga hartanya tak lagi ada sisa.

Sama juga dengan pesanan berkumpul dengan orang-orang shalih, tapi masyhur pula kita dengar para kiai dan arifin itu seperti samudera yang menerima apapun saja yang datang padanya. Hingga mereka berkumpul dengan berbagai jenis manusia, dari rampok hingga santri, dari pejabat hingga rakyat jelata.

Sepintas tak konsisten, tetapi ternyata di balik itu justru ada kebijakan dan pandangan yang begitu jernih dan tajam. Karena tak semua orang sama cara pandangnya terhadap hidup, maka obat pun diberikan pada takaran tertentu dan untuk orang tertentu pula.

Begitulah memaknai wong kang sholeh kumpulono itu.

Tiada hal yang lebih memicu semangat selain dari berkumpul dengan orang-orang yang baik yang menggelorakan. Memang betul.

Tetapi, semakin mendewasa seseorang semakinlah dia mengerti bahwa kebaikan itu seringkali bukan semata apa yang tampak mata.

Karena kedekatan kepada Tuhan itu acapkali lintas sektoral.

Ianya melintasi ruang-ruang tampilan di permukaan. Dan semakin mengerti kita akan penerimaan ini, baik menerima diri, termasuk juga menerima dunia ini dengan segala tingkah polahnya, semakin yakinlah kita bahwa disebalik semua yang nampak ini ada plot lain sebenarnya. Yaitu cerita tentang DIA memandang DIRINYA sendiri lewat mata makhluqnya. Dalam tanda kutip.

Jadi, saya rasa saya akan mengikuti pola itu. Pada anak saya yang masih kecil akan saya pesani untuk hati-hati bergaul, dan pilih-pilih teman. Nanti seiring dia menyamudera hatinya, maka itulah saatnya dia keluar dari lingkar yang sempit dan menerima keragaman. Bahwa semua ini sejatinya cuma cerita.

Terimalah semua cerita, dan berbuatlah sebatas porsi yang bisa kita buat, tanpa kehilangan penerimaan itu.

*) gambar ilustrasi dipinjam dari sini

PUASA DAN PENERIMAAN DIRI

acceptance-peace-686x350Saya mengingat-ingat kembali citra diri saya pada saat kuliah dulu, seorang teman pernah menyebut saya sebagai seorang “koleris” sejati.

Kalau rekan-rekan masih ingat 4 tipe kepribadian manusia, maka seperti itulah barangkali perwatakan saya dulu, koleris yang cenderung terlalu mengatur, suka menunjuk, memerintah, inisiatif, dan yang senada dengan itu.

Tetapi selepas kuliah -dan saya baru menyadari sekarang bahwa- ternyata kecenderungan saya bergeser sedikit demi sedikit menjadi seorang yang lebih analitis dan kooperatif.

Dalam tipe pembagian berdasar warna, barangkali saya dulu itu adalah tipe warna dominan merah, tetapi sekarang saya melihat diri sendiri sebagai citra yang dominan hijau dan biru. Begitulah.

Poinnya yang ingin saya sampaikan adalah “people change”. Dan saya merenungi ini, apa yang bisa shifting, menggeser cara saya memandang kehidupan ini ya?

Ternyata saya temukan jawabannya adalah nilai-nilai dan hikmah yang merasuk sepanjang perjalanan kitalah yang merubah kita.

Hikmah yang kita cerap sepanjang perjalanan, bisa merubah kita menjadi seorang dengan cara pandang yang sama sekali baru. Yang dulunya keras dan memerintah, bisa bergeser menjadi kooperatif dan analis. Atau sebaliknya, yang terlalu melankoli menjadi lebih tegas.

Pada pokoknya, citra terluar diri kita itu bisa berubah seiring ilmu yang kita dapat.

Tetapi ada juga  orang yang  sepanjang hidupnya tidak berubah. Dalam konotasi yang negatif. Tentu maksudnya adalah ada sebagian orang yang sepanjang kehidupannya tidak bergeser menjadi the better him or her.

Saya rasa hambatan terbesarnya adalah karena dia merasa bahwa “inilah saya” dan itu sebab dia enggan berubah.

Dalam skala tertentu, mengatakan “inilah saya” adalah  wujud sikap  penerimaan yang baik.

Tetapi saya baru sadari belakangan bahwa tanpa sikap penerimaan yang baik, mengatakan “inilah saya” bisa bergeser konteks menjadi arogansi.

Arogansi itu adalah sikap tidak mau IQRO BISMIRABBIK kepada hidup.

Dengan membaca kehidupan, seseorang bisa menyadari kekeliruan pada dirinya dan menjadi pribadi yang mudah-mudahan lebih tertata dan lebih elok.

Tetapi, orang-orang yang enggan berubah adalah orang-orang yang sesungguhnya bukan “menerima diri” melainkan memaksakan dirinya untuk berada pada satu citra tertentu.

Saya beri contoh tentang menerima diri dan kaitannya dengan puasa.

Saya baru mengerti bahwa puasa mengajarkan  kita porsi-porsi penerimaan diri.

Jika kita bukan orang yang sabar, kita orang yang mudah marah, kita orang yang banyak gejolak, dan kita sudah mencoba sekuat yang kita bisa untuk merubah diri tetapi gagal, maka dalam kegagalan itu kita bisa kecewa dan membenci diri sendiri.

Padahal, kalau kita perhatikan saat kita berpuasa, semua elemen fisikal diri melemah. Barangkali waktu siang hari dan pagi hari masih ada energi untuk marah dan bergolak, tetapi saat menjelang sore kalau kita amati jujur, semua gejolak diri akan luruh, sudah tak ada energi untuk keras dan meledak.

Imbasnya kita akan bisa lebih tenang. Karena amarah, ketidak sabaran, dan gejolak itu ternyata bersumber dari tubuh yang fisikal ini. Dari piranti yang fisikal inilah gejolak itu tumbuh dan membesar.

Kesimpulannya apa? Artinya saya rasa bahwa seorang yang tidak sabaran dan gampang tersulut sekalipun seharusnya bisa memaafkan dirinya sendiri jika dia mengerti mekanisme ini.

Sesungguhnya dia bukan pemarah, melainkan ada piranti fisikal  pada dirinya  yang penuh gejolak dan tak mungkin teredam tanpa lelaku puasa. Pengertian terhadap piranti fisikalnya dan kaitannya dengan emosi diri.

Termasuk juga hal yang lain. Barangkali seseorang itu bukan marah, tetapi marah hanyalah konsekuensi logis dari rekam pengalaman hidupnya yang bertentangan dengan realita lapangan.

Pengertian akan piranti-piranti diri  inilah hal yang sepenuhnya logis.

Dan dalam tema besar penerimaan diri inilah kita mestinya melangkah.

Karena piranti diri kita itu banyak sekali. Ada piranti fisikal yang gejolak hormonalnya mempengaruhi kita. Ada piranti yang halus yaitu sekian banyak perasaan yang hilir mudik menyambangi hati kita. Sebagian perasaan barangkali terkait dengan gejolak fikiran kita, sebagian lainnya barangkali tidak.

Tetapi intinya sesederhana itu rupanya. Dengan puasa kita mengenal diri. Dengan mengenal diri dan segala pirantinya, akan tumbuh penerimaan yang utuh.

Penerimaan pada fisik. Pada gejolak rasa. Pada atribut-atribut pengalaman hidup kita. Dan akhirnya mengenal yang mana sih yang sebenar-benar diri kita.

Dan  pada tahapan itulah maka kekata “inilah saya” yang tumbuh dari sikap penerimaan itulah yang bisa IQRO BISMIRABBIK. Menampung ilmu. Entah apapun yang Tuhan ingin ajarkan sepanjang jalan kehidupan kita.

Yang sejatinya diri itulah yang belajar. Membaca alam dan membaca pirantinya sendiri. Tapi tak akan bisa tanpa penerimaan.

~~~

*) gambar ilustrasi dipinjam dari link ini

Proudly powered by WordPress | Theme: Baskerville 2 by Anders Noren.

Up ↑