DATANG DENGAN NOL

empty-heartSeumpama seseorang mengetuk pintu rumah tetangganya untuk meminjam uang.  Tetangganya ini adalah orang yang begitu kaya. Sedang dia sendiri adalah orang yang secara strata adalah jauh sekali dibawah tetangganya itu. Secara sosial kemasyarakatan juga tetangganya ini orang yang aktif dan banyak membantu masyarakat. Jadi, kalau mau dibandingkan maka dirinya sama sekali bukan bandingan terhadap sang tetangga.

Dalam pada itu, dalam kondisi seperti itu, maka sang peminjam uang tidak ada pilihan sama sekali untuk “meninggi.”

Meninggi disini maksud saya adalah bahwa sang peminjam uang tidak punya kans sama sekali untuk menunjukkan bahwa dirinya pernah punya budi baik pada sang tetangga; maka sang tetangga haruslah meminjaminya uang karena rasa tidak enak hati. Tidak ada… Sama sekali tak ada, karena sang tetangga adalah orang baik, orang kaya, aktif bermasyarakat, tak punya hutang budi padanya, dan dalam segala segi melebihi dirinya.

Satu-satunya “pilihan” yang harus dilakukan sang peminjam uang, adalah dia datang kepada tetangga yang kaya tersebut dengan sebuah sikap dan kesadaran penuh bahwa dia hanya mengharapkan kebaikan sang tetangga. Seratus persen hanya kebaikan sang tetanggalah yang memutuskan apakah dia bakal dapat pinjaman uang atau tidak.

Sikap yang menyadari bahwa kita sama sekali tidak punya sesuatu yang diandalkan, ndak punya bargaining, inilah yang saya baru sadari hampir semakna dengan pesan orang-orang arif untuk menuju Allah; mengandalkan Allah.

Sikap “mengandalkan Allah,” itu adalah sikap di dalam batin. Cara pandang. Mentalitas yang merasakan ketidak mampuan diri, cela diri, dan ketiadaan bargaining.

Kembali pada contoh tadi. Seorang yang sudah merasakan dirinya begitu rendah dan tak punya bargaining; secara lahiriah tetap melakukan usaha. Dia memakai baju yang terbaik yang dia punya, dia mengetuk pintu, dia kulonuwun, dia berjalan sopan, dst. Tetapi, dia menyadari betul bahwa cara dia memakai baju, cara dia mengetuk pintu, cara dia memberi salam, cara dia berjalan; kesemuanya itu tidak ada sangkut pautnya dengan apakah dia nanti akan mendapat pinjaman atau tidak.

Begitu juga analoginya dengan beramal. Barulah saya mengerti, bahwa bukan sholat kita, bukan puasa kita, bukan sedekah dan segala amal luar kita yang dinilai, tetapi apa yang bersemayam di dalam hati.

Yang bersemayam di dalam hati kita itulah, cara pandang. Paradigma kita dalam menghadap kepada Tuhan.

Maka, kita sekarang menjadi jelas. Ada orang yang sibuk beramal, tetapi dia mengandalkan amalnya, dia sibuk terpesona dengan jumlah bilangan ibadahnya. Atau ada seorang pendosa, yang dia enggan menuju Allah karena merasa dosanya menjadi penghalangnya menuju Tuhan.

Kesemua hal itu seumpama seorang peminjam uang, datang ke rumah seorang kaya dan mengagumi cara dia mengetuk pintu, asyik membayangkan bahwa dengan baju terbaik yang dia kenakan maka dia akan dikagumi sang pemilik rumah lalu pemilik rumah memberikan pinjaman uang. Atau sebaliknya, karena dia merasa bahwa cara mengetuk pintu, cara kulonuwun, baju yang dipakai-lah penentu apakah dia bakal dapat uang atau tidak; maka dia patah arang duluan karena merasa dirinya jelek.

Kedua-dua contoh itu, adalah contoh bahwa secara batin orang tersebut sudah salah fokus. Sudah merasa punya bargain. Ciri-ciri merasa punya bargain adalah sibuk menghitung kesempurnaan amal, atau enggan menuju Allah karena merasa tak akan sampai dengan amal yang banyak cela dan dosa.

Berbeda dengan orang yang menyadari betul bahwa dia sangat butuh pinjaman uang, dan hanya kebaikan sang empunya rumah lah yang akan memberikannya pinjaman. Maka dia mengetuk pintu dengan sungguh-sungguh, dia benar-benar meminta, dia datang lagi, datang lagi, datang lagi, benar-benar minta tolong. Secara lahiriah dia juga bergerak, dia juga kulonuwun, dia juga ketuk pintu, dia juga pakai baju rapih, tetapi secara batin dia sama sekali tidak hirau dengan segala bentukan luar pergerakannya, karena dia mengerti bahwa kebaikan sang empunya rumah-lah yang dia ingin sentuh.

Disinilah saya baru mengerti bahwa kita harus “Datang Dengan Nol.” Kepada Allah.

Datang dengan nol berarti kita tidak menyangkutkan persandaran hati kita kepada bentukan luar amal ibadah kita. Datang dengan nol adalah bentuk menyerah karna kepahaman bahwa sebenarnya kita tidak punya bargaining.

Akan tetapi, datang dengan nol tidaklah kita kelirukan dengan “tidak beramal.” Justru, semakin seseorang merasa tidak punya bargaining, maka semakin dia selalu datang dan selalu datang karena terus menerus meminta. Imbasnya adalah, amaliyah luarnya akan meningkat dengan sendirinya.

Inilah yang sedikit pelik, yang diberitahukan orang-orang arif sepanjang zaman, bahwa sejatinya perjalanan menuju Allah itu adalah melampaui bentukan ibadah di luarnya. Melampaui pahala, bahkan melampaui dosa.

Taubat, berarti “kembali.”

“Kembali” disini berarti dia melampaui dosanya. Jika dia masih terpentok kepada bentukan amaliyah luarnya, dan masih sibuk meneliti apakah sempurna atau tidak sempurna secara zahirnya, maka sebenarnya dia masih belum “kembali.” Karena pandangannya masih mentok pada apa yang tampak zahir. Masih merasa punya bargain.

Akan tetapi, jika mentalitas yang merasa kerdil dan tak punya daya tawar itu merasuk dalam. Maka secara zahir akan terkeluar dengan sendirinya, menjadi bentukan-bentukan amal. Kalau dia pendosa, dia akan kembali kepada Allah dan meminta diselamatkan dari dosanya, kalau dia ahli ibadah dia akan kembali pada Allah dengan hilangnya fokus dirinya dari amaliyah luarnya. Gak direken olehnya lagi. Yang terkeluar tidak lagi dia lihat-lihat, karena sibuk dengan apa yang terpandang di dalam.

~~~

gambar ilustrasi saya pinjam dari link ini

 

IBARAT SUATU PESANGGRAHAN

gubukRumi mengatakan manusia ibarat suatu pesanggrahan, dan Imam Ghazali mengatakan bahwa hati manusia ibarat sumur yang dialiri terus menerus oleh sungai-sungai kecil, apa maksudnya?

Maksud mereka baru saya mengerti belakangan ini. Bahwa sudah begitu banyak arifin yang menjelaskan bahwa apapun yang bergejolak pada “dunia empiris terluar,” yaitu keadaan yang terjadi pada alam yang kita saksikan secara zahir ini, adalah imbas dari keadaan yang terjadi pada “dunia yang batin.”

Saya ambil contoh, kembali dari kutipan Al-Hikam, kurang lebih Ibnu Athaillah mengatakan lewat aforisma Al-Hikam beliau, bahwa “Adanya berbagai-bagai amaliah (bentuk luaran lelaku) adalah imbas dari adanya berbagai-bagai ahwal (suasana ruhani).

Lalu Imam Ghazali dalam bukunya “Kimia Kebahagiaan” juga mengatakan -yang saya bahasakan ulang secara bebas- bahwa manusia dapat mengambil pelajaran dari dirinya sendiri, dimana sebuah kehendak dalam ruang batin-nya sendiri bisa menjelma menjadi sebuah gerakan fisik pada dunia yang luar.

Jadi sebab-akibat sesungguhnya adalah bukan pada dunia gejala empiris terluar, tetapi pada dunia yang batin yang tidak empiris itu.

Jadi ada kesimpulan yang begitu jelas, yang disintesakan para arifin. “dunia empiris yang kita saksikan ini, bergerak karena imbas dari sebuah dunia batin di sebaliknya. Sesuatu yang tidak bisa disentuh secara empiris, tetapi begitu dekat dan nyata dan bisa dirasakan lewat pengalaman ruhani.”

Kenyataan inilah yang belakangan baru menyadarkan saya, tentang mengapa para arifin memandang terbalik pada fenomena hidup.

Saya ambilkan contoh cerita klasik ketika seseorang datang kepada Rabi’ah Al Adawiyah, orang ini bertanya yang kurang lebih begini, “Saya ini pendosa, apakah kalau saya bertaubat maka Allah akan mengampuni saya?”

Jawaban Rabi’ah Al Adawiyah sangat dalam. Biasanya orang akan menjawab normatif semisal : Allah maha pengampun. Allah maha penerima taubat, dst….yang tentu jawaban tersebut benar. Akan tetapi Rabi’ah memilih memberikan jawaban dari sudut pandang yang secara subjektif saya katakan sebangun dengan tema obrolan kita di atas. Tentang dunia yang batin menggerakkan dunia terluar yang empiris.

Apa kata Rabi’ah, “jika Allah ingin mengampuni engkau, pastilah engkau bertaubat.”

Rabi’ah paham, bahwa dunia gejala apapun saja yang nampak pada empiris “di luar” ini, adalah imbas dari apa yang terjadi pada dunia batinnya.

Tidak sebatas pada contoh klise semisal seseorang sedih (dunia batin) maka secara empiris dari matanya akan mengeluarkan air, menangis (pada dunia terluar). Akan tetapi jauh melampaui itu.

Jika kehendak bertaubat muncul dan begitu kuat pada sang pemuda (dunia batin), maka pemuda tersebut pasti akan tergerak melakukan ibadah dan pertaubatan (pada dunia yang luar).

Sejatinya pertaubatan sang pemuda adalah imbas dari pengampunan Allah yang sudah terjadi pada dunia yang dalam (batin).

Itu sebab, orang awam dalam beribadah mereka menghitung-hitung amal ibadahnya, dan sibuk memuhasabah diri apakah amalan barusan itu riya atau ikhlas, apakah khusyuk seratus persen atau separuhnya, dan seterusnya. Tetapi, orang-orang yang arif mereka memahami secara kebalikannya, bahwa peribadatan yang kita lakukan, adalah sebentuk anugerah dari Allah. Bukan karena kuasa kita sendiri.

Karena mereka mengerti hal itu tadi: peribadatan (dunia luar) mestilah disetir oleh dunia yang batin, dunia yang dalam.

Dan kehendak beribadah; apatah itu didorong cinta, ataukah rasa fakir dan butuh atas pertolongan Tuhan; sama saja, dua-duanya adalah sesuatu yang bergolak pada dunia yang batin dan pada akhirnya luber ke dalam kenyataan di dunia terluar yang empiris.

Sama juga, dengan contoh satu lagi ini. Dalam urusan berdo’a, orang-orang awam dalam berdo’a dan misalnya do’anya terkabul mereka akan begitu bahagia dan merasakan bahwa do’anya makbul. Hasil dari peribadatannya. Tetapi orang-orang yang arif, mereka melihat kebalikannya. Saat hati mereka dipenuhi dengan keinginan yang bersih dan dalam, dan dengan keinginan itu mereka jadi “menemukan” Tuhan sebagai tempat bergantung dan memohon, maka mereka menjadi paham bahwa Tuhan sedang ingin memberi.

Kalau tidak salah, kalimat berikut ini dinisbatkan pada Umar Bin Khattab, kata beliau, “Aku tidak membawa hasrat pengabulan, tetapi yang aku bawa adalah hasrat berdo’a. Jika aku tergerak berdo’a, aku tahu pengabulan bersamanya.”

Lagi-lagi mereka memandang kebalikan dari orang awam. Bahkan hasrat terdalam pada diri manusiapun, sebenarnya adalah anugerah.

Jadi bukan perkara kita adalah seorang yang makbul do’anya. Tetapi, jika kita sudah benar-benar aware, atau mindfulness, alias waspodo, maka kita akan mengetahui bahwa pengabulan do’a itu adalah memang karena Allah ingin memberi. Tersebab, dunia batinnya, atau sebuah rasa keinginan butuh dan harap pada Allah itu sudah mengetuk-ngetuk terlebih dahulu, permisi ingin masuk ke dalam hati kita.

Dan saya baru menyadari khasanah yang begitu luas dan dalam dari islam, yaitu ilmu luar dan dalam, zahir dan batinnya sekaligus. Karena, ilmu yang luaran bisa dibaca lewat tekstual buku-buku, tetapi ilmu yang batinnya ini tidak akan bisa dimengerti kecuali mengalami sendiri realitanya.

Dan caranya adalah seperti kata Imam Ghazali, jika hati kita ibarat sebuah sumur, maka sumur itu adalah sebuah sumur yang dialiri oleh berbagai-bagai aliran sungai-sungai kecil. Sungai-sungai kecil itu ibarat panca indera kita. Yang membawa apapun dari luar masuk ke dalam hati dan mengotori hati itu.

Satu-satunya cara untuk benar-benar “masuk ke dalam” dan mengerti apa yang ada di kedalaman sumur itu, ialah kita harus menghentikan sementara input dari anak sungai yang mengaliri sumur. Agar kita bisa melihat kejernihan sumur dan mengamati apa yang ada di kedalaman dasar sumur itu.

Tentu itu semua adalah ibarat. Maksud beliau, selama ini kita sudah terlalu bergantung dan hidup dalam persepsi yang dibangun oleh indera yang mencecap segala yang empiris di luar. Maka dengan meninggalkan perhatian sejenak terhadap inputan panca indera, sebenarnya manusia akan bisa mengamati kedalaman relung batinnya sendiri. Sederhananya adalah dengan dzikrullah senantiasa. Terus menerus ingat Allah sampai tercapai kondisi mindfulness alias waspodo.

Dalam kondisi mindfulness alias waspodo inilah rupanya baru mengerti kita maksud Rasulullah SAW agar kita selalu berdo’a supaya diilhamkan kebaikan dan dijaga dari keburukan nafs alias jiwa kita sendiri.[1]

Karena dalam kondisi yang mindfulness alias waspodo-lah kita akan benar-benar bisa mengamati gejolak pada dunia batin kita yang dalam. Yang ternyata begitu berbagai-bagai. Dan gejolak pada dunia yang di dalam inilah yang pada akhirnya akan mengejawantah ke dunia empiris diluar.

Itulah kata Rumi: “Manusia ibarat suatu pesanggrahan. Setiap pagi selalu saja ada tamu baru yang datang: kegembiraan, kesedihan, ataupun keburukan.”

Do’a “Agar kita dijaga dari keburukan nafs kita sendiri” itu, saya rasa dalam Bahasanya Al-Ghazali diumpamakan bahwa Hati harusnya menjadi “raja” di dalam kerajaan kecil kita sendiri. Kerajaan kecil itu ialah diri kita sendiri. Dunia mikro, alias jagad alit. Yang menampung berbagai-bagai potensi dan anasir yang harus ditundukkan untuk mengikuti titah sang raja, bukan sebaliknya.

Jika sang Hati tidak lagi menjadi tuan dalam jagad alitnya sendiri, maka itulah barangkali kita sudah disetir oleh keburukan internal kita sendiri. Dan memang sungguh tidak mudah sama sekali. Peperangan yang tak pernah berhenti, dalam keheningan diri kita sendiri.

~~~

References:

[1] Imran bin Al Hushain RA berkata, “Nabi SAW mengajarkan bapaknya Al Hushain dua kalimat untuk berdoa dengannya, ‘Allahumma alhimni rusydi wa aidzni min syarri nafsi’”. (Ya Allah, ilhamkan kepadaku hidayahku dan lindungilah dari kejahatan diriku). (HR. At-Tirmidzi, ia berkata, “Hadits hasan”).
Ya Allah, jauhkan kejahatan pada diriku dan tetapkan bagiku segala kebenaran untuk urusanku”. (HR. Imam Ahmad)

“Ya Allah, ampunilah aku akan dosaku, kesalahanku, dan perbuatanku yang disengaja. Ya Allah, sesungguhnya aku mohon petunjuk-Mu, agar segala kebenaran ada pada urusanku, dan aku mohon perlindungan-Mu dari segala kejahatan yang ada pada diriku”. (HR. Imam Ahmad).

Gambar ilustrasi dipinjam dari link ini

TENTANG PENA DAN DUNIA KEHENDAK

Apakah seorang yang tinggal di pedalaman, tidak mengenal baca tulis, tetapi hidupnya secara zahir kita lihat sudah bahagia (setiap hari tersenyum, ceria, makan-minum aman, dst); masih harus kita kenalkan dengan ilmu pengetahuan? Adakah guna ilmu pengetahuan bagi seseorang yang sudah bahagia?

Dulu, saya pernah bertanya seperti itu kepada diri saya sendiri. Saat saya ditugaskan pada sebuah pengeboran migas di land rig, yang kebetulan tempatnya dekat dengan gubuk-gubuk penduduk di pedalaman sumatera.

Mereka itu, secara kasat mata saya rasa sudah bahagia. Disana saya menjadi bingung. Bergunakah pendidikan pada orang yang sudah bahagia?

Misalnya, kita yang katakanlah orang-orang kota mengenalkan sebuah kehidupan dengan taraf yang lebih tinggi pada orang-orang pedalaman, yaitu kehidupan yang berkelindan dengan baca tulis, komputer, kendaraan, dsb….apakah kita membuat mereka menjadi lebih bahagia, atau malah mencerabuti kebahagiaan yang sudah ada (karena mereka tiba-tiba menjadi sadar bahwa taraf perihidup mereka sekarang ini begitu rendah?)

Jawaban yang lebih “dalam” mengenai kebingungan saya sendiri itu, baru saya temukan setelah berapa waktu berlalu. Dalam Kimyatus Sa’adah (Kimia kebahagiaan), Imam Ghazali menyebutkan bahwa sejatinya kebahagiaan itu hanya didapat dari pengenalan terhadap Tuhan (ma’rifah) selain dari itu, hanya akan memberikan kebahagiaan yang semu.

Maka jika ditarik balik pada pertanyaan tadi, adakah penting mengenalkan taraf kehidupan yang lebih tinggi pada penduduk pedalaman yang sudah bahagia? Jawabannya, ternyata PENTING! Bukan taraf kehidupannya yang dikenalkan, tetapi ilmu pengetahuan.

Kenapa penting? Karena ini bukan tentang kita sharing taraf hidup, tetapi tentang kita menjadi “kalam,” menjadi “pena,” menjadi perantara bagi ilmu dan kepahaman mengalir dari satu manusia ke manusia lainnya.

Kenapa ilmu menjadi lebih penting ketimbang kebahagiaan yang sudah ada? Karena, dengan ilmu-lah seseorang bisa mengerti kebahagiaan yang lebih sejati. Ma’rifah. Ilmu yang membongkar hubungan antar gejala di dunia empirik; pada pandangan yang tepat akan membuat seseorang mengerti tentang Tuhan.

Setiap manusia mencari bahagia. Dan tiap manusia memiliki versi bahagianya sendiri. Tetapi, jika tekun meneliti akar permasalahan, maka kita tidak bisa untuk tidak setuju bahwa apapun hal “kebendaan” yang membuat kita “bahagia”, ternyata ditelusur lebih dalam lagi adalah tentang siapa yang menimbulkan semua itu?

Dan Tuhan-lah ujung segala pertanyaaan dan ujung segala jawaban. Tidakkah mengetahui jawaban segala pertanyaan itu membahagiakan?

Ternyata. Orang-orang arif telah lama memahami bahwa keseluruhan perikehidupan kita adalah untuk mengenali DIA.

Sedangkan, kita akhirnya memahami bahwa yang kita sebut dengan mengenali DIA itu sebenarnya adalah “sampainya kepahaman kita pada pengetahuan tentang pengaturanNya dalam hidup ini.” Memahami yang begitu dekat.

Pengenalan kepada Allah SWT, adalah sama sekali bukan pengenalan terhadap “dzat”Nya.

Karena, DIA pada martabatNya yang Maha Rahasia itu, adalah di luar persepsi inderawi manusia. Maka penelitian secanggih apapun, dan tirakat ruhani sedalam apapun tetap akan gagal menemukan-Nya secara inderawi fisik maupun batin.

Kata Imam Ghazali, sedangkan untuk mengenali bagian terdekat diri kita yang berada di luar jangkauan inderawi saja kita bingung.

Misalnya bagaimana bentuknya “marah,” bentuknya “kehendak”? kita bingung.

Manusia, kesulitan mempersepsi sesuatu yang berada di luar jangkauan inderawinya. Karena, manusia hidup di dalam sebuah alam yang dia persepsi dengan lima inderanya yang terbatas. Dan hal di luar ukuran ruang dan waktu akan sulit dipersepsi manusia.

Begitulah musykilnya kita mengenali DIA pada dzat-Nya. Pengenalan terjauh akan dzat-Nya hanyalah berujung pada kesimpulan Surat Al Ikhlas, tak ada umpama.

Tetapi, pengenalan dan kepahaman akan berkelindannya pengaturan DIA dalam hidup ini, bisa kita mengerti secara keilmuan.

Begitulah pada akhirnya “ilmu” menjadi sesuatu yang wajib dicari sampai liang lahat.

Dan “ilmu” lah satu-satunya yang Rasulullah SAW diperintahkan meminta tambahan atasnya.

Karena, dengan pemahaman yang tepat, kita mengetahui, bahwa dengan menguasai ilmu, dengan mengerti tentang bagaimana hubungan sebab-akibat segala sesuatu berlaku di muka bumi ini, dengan begitu semestinya kita semakin mengerti pengaturannya Tuhan.

Dinamika sebab-akibat yang empiris begitu kompleks dalam hidup ini. Semua tersingkap dengan ilmu.

Semisal kita ingin menggerakkan jari untuk menulis saja, melibatkan ratusan juta syaraf yang mengalirkan listrik dan menggerakkan otot. Belum kalau masuk dalam tataran mikro, sudah sangat sulit membayangkan gerak mengetik adalah gerak triliunan atom. Dan kepahaman semacam itu, hanya akan diperoleh dengan ilmu.

Ilmu-lah yang membukakan kepada manusia, selubung rahasia pengaturan Tuhan pada alam yang terindera, empirik.

Diri-Nya tak terlihat, tetapi pengaturan-Nya dalam alam ini “terbaca.” Itulah yang kita disuruh IQRO’. Kreasional-Nya yang kita baca. Sedang DIA sendiri tetaplah rahasia, tetapi kreasi-Nya meruah-ruah. IQRO BISMIRABBIKA itu adalah “membaca” apapun saja dalam konteks Rabb, dimensi pengaturan dan kreasi.

Masih kata Imam Ghazali, dengan mengetahui bahwa hal terdekat dari pribadi kita sendiri, yaitu ruhani kita, bisa memiliki sebuah “kehendak” yang bisa menggerakkan alam empirik. “Kehendak” itu kan abstrak, tiada wujudnya, tetapi bisa menzahirkan gejala di alam terindera.

Begitulah, sebuah “kehendak” untuk minum bisa menggerakkan otot tangan dan kaki melangkah mengambil gelas air; dengan analogi itu kita bisa mengerti bahwa sungguh masuk akal, ada alam “kehendak” alam “amr” alam “perintah” yang abstrak dan diluar dunia empirik tetapi kemudian menghidupkan gejala-gejala yang tampak kasat mata di dunia luar ini. Pada Mulk (kerajaan-Nya) yang empirikal.

Jadi mengertilah saya. Bahwa mengenali-Nya adalah puncak pencarian kebahagiaan manusia.

Dan mengenali-Nya adalah bukan mengindera Dzat-Nya, bagaimanakah manusia bisa mempersepsi sesuatu diluar ukuran inderawi manusia?

Mengenali-Nya adalah dengan mengenali pengaturan-Nya dalam hidup. Dalam bahasa yang lebih “arifkajian terdalam manusia hanyalah sampai pada ilmu dan pengetahuan mengenai sifat-sifat, gejala yang nampak pada alam empiris. Tetapi dengan ilmu yang yakin, maka kita paham ada dunia “amr,” dunia “kehendak,” dunia yang diluar inderawi di sebalik apa yang tampak. Tetapi menggerakkan alam yang empirik.

Dengan menguasai “ilmu” lah membuat manusia menjadi “dekat” pada kepahaman tentang-Nya.

Ilmu dan kepahaman tentang-Nya hanya akan tercurah pada pembacaan yang punya adab, pada IQRO yang diapit BISMIRABBIKA.

Dan setelah pembacaan yang mencerahkan, maka tak ada yang tersisa selain menjelmakan kepahaman menjadi amal yang makbulan. Mengajarkan walau satu ayat.

Dan menjadi “kalam,” perantara bagi kepahaman untuk mengalir dari satu tempat ke tempat lainnya. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam (QS Al-‘Alaq : 4)

BERPUAS PADA APA YANG TERPANDANG

observingJadi waktu itu saya sedang makan siang di warung pinggir jalan dekat kantor, dan seorang bapak-bapak tua ada di  sebelah saya bernyanyi tembang-tembang lawas dalam bahasa Inggris yang fasih. Waktu itu saya memperhatikan dengan seksama, dan terlintaslah di benak saya pertanyaan kenapa sang Bapak tua ini menyanyi-nyanyi tembang lawas dalam bahasa inggris yang fasih? lalu mukanya begitu gembira?

Lama hingga makanan yang saya pesan habis saya santap, saya tak jua menemukan jawaban pertanyaan paragraf pertama itu.  Malah, kembali terlintas di benak saya kaitan antara kejadian sederhana ini dengan suatu tema yang sudah sejak lama ingin saya tuliskan. Tema itu adalah mengenai “keterpandangan” dan mengenai adab pada setiap “level yang terpandang.”

MENGENAI KETERPANDANGAN

Bagi saya, dan kebanyakan orang yang awam, yang “terpandang” pada mereka adalah semata hal-hal yang tampak pada lahiriah. Pandangan saya mentok sebatas pada fakta bahwa ada seorang Bapak-bapak tua yang datang dan menyanyi dengan gembira lagu-lagu inggris dengan fasih.

Hal itu tentu benar, tetapi kurang “dalam.”

Barulah saya mengerti bahwa pandangan yang terhenti pada aspek empiris inderawi semata; adalah pandangan yang dangkal, setelah saya mengakrabi kajian para arifin, dimana mereka menjabarkan bahwa ada tingkatan di atasnya lagi dimana seseorang selalu “terpandang” bahwa sejatinya segala sesuatu telah dituliskan oleh Allah.

Orang dengan kapasitas seperti itu, akan melihat bahwa seorang bapak-bapak tua menyanyi pada sebuah warung makan adalah cerminan dari pengaturan Allah. Karena bisa saja selisih berapa menit keluar dari kantor belum tentu kita ketemu dengan bapak-bapak itu, boleh jadi ketemu orang lain yang mungkin tidak unik dan biasa-biasa saja. Dan variabel yang “mewujudkan” sebuah kejadian dimana kita bisa berpapasan dengan sang bapak unik itu; buanyaknya bukan main. Jam istirahat, ketepatan waktu kita keluar dari kantor, mobil yang seliweran di zebra cross, sampai keinginan detak hati untuk makan di warung itu atau warung sebelahnya.

Singkat kata, jika orang biasa melihat bapak tua semata, orang yang lebih arif melihat pengaturan Tuhan di sebaliknya.

Yang lebih menarik lagi adalah, barulah saya mengerti bahwa rupanya di atasnya lagi masih ada orang-orang yang terpandang lebih dari sekedar bahwa segala sesuatu adalah mengikut plot yang sudah ditulis, tetapi mereka melihat lebih jauh bahwa segala plot yang sudah tertulis itu tidak mungkin mubazir dan tak berguna, pastilah mengandung hikmah dan makna. Seperti setiap susunan kata di dalam buku, menceritakan sebuah makna dari sang pengarang.

Maka, jika orang biasa melihat bapak tua semata, orang yang lebih arif lagi melihat pengaturan Tuhan di sebaliknya, sedangkan yang lebih arif lagi melihat makna-makna dari sifat JAMAL-Nya (keindahan) pada sang bapak tua.

Boleh jadi, orang yang memiliki pandangan yang lebih dalam tersebut akan menjadi trenyuh dan haru karena melihat cerminan sifat JAMALIYAH (keindahan) Nya pada potongan episode sederhana itu.

Bahwa Allah SWT kalau menanamkan rasa bahagia pada seseorang, itu bisa dengan cara yang sangat sederhana, cukup dengan menyanyi-nyanyi random pada sebuah siang yang terik sudah membuat seseorang sangat happy. Itulah cerminan sifat JAMAL-NYA yang “terpandang” oleh orang yang arif. Potongan fragmen sederhana, tetapi merangkum makna dan realitas dari JAMAL-Nya.

Tapi ternyata, masih ada yang di atasnya lagi. Yaitu orang yang tidak lagi terpandang aspek fisikal inderawi semata, tidak lagi terpandang pengaturan Tuhan semata, tidak lagi terpandang makna-makna sifat-sifat dibalik skenario kejadian semata, melainkan dia terpandang bahwa segalanya ini adalah sejatinya tiada. Dan mereka mengerti bahwa sebenarnya Tuhan bukanlah sebuah entitas yang asing dan berada di nun jauh disana, melainkan kita semua berada di dalam keMaha BesaranNya.

Barangkali inilah yang dimaksud oleh seorang Arif[1] dengan “kita memandang DIA sebagai DIA saja.” Tak lagi terpandang pada hal-hal yang empirik semata, bahkan melintasi keterpandangan tentang pengaturan-pengaturanNya, dan bahkan melintasi makna-makna sifat-sifat.

Tentu konsep itu terlampau tinggi. Tapi, saya rasa yang paling pokok sebenarnya adalah mengerti pada level mana kita berada, dan mengerti bahwa ada adab yang relevan pada setiap levelnya.[2]

Dan setiap level keterpandangan itu tidak bisa “digawe-gawe” kata orang jawa. Tak bisa dipaksakan.

Kalau kita mengambil pelajaran dari fase turunnya Al Qur’an. Bahwa Al Qur’an diturunkan secara bertahap dan menyesuaikan konteks kejadian waktu itu. Qur’an tidak turun sepaket langsung komplit 30 juz melainkan satu demi satu selama 23 tahun turun pada jenaknya sendiri dan memberikan pelajaran hidup pada fragmen asbabun nuzulnya sendiri. Berarti begitu jugalah hikmah diturunkan pada manusia.

Tergopoh-gopoh menginginkan diri kita untuk mencapai tataran kepahaman setingkat para arifin, aulia dan orang-orang shalih lainnya adalah semacam mengundang agar keseluruhan takdir hidup datang menggelontori kita pada satu waktu. Dan tak mungkin kita siap untuk itu.

Maka benarlah kata Syaikh Abdul Qadir Jailani dalam Futuh Al Ghaib, bahwa dalam urusan keterpandangan ini, yang penting adalah “berpuas diri dengan apa yang ada padamu, hingga Allah sendiri meninggikan taraf kamu.”

 

references:

[1] Ust Hussien dalam Syarahan Rahasia Akbar (3)

[2] Sekedar mengutip Ibnu Athoillah dalam Al-Hikam. Salah satu contoh tatakrama batin yang beliau tuliskan adalah bahwa seseorang pada maqom asbab hendak ber-tajrid adalah nafsu yang halus dan tersembunyi, dan seorang tajrid hendak turun ke maqom asbab adalah degradasi dari kedudukan yang tinggi.

Gambar ilustrasi saya pinjam dari link ini

MENGAJI KITAB TELES (3)

8112542204_4851276c35

Apakah yang dilihat dan diketahui oleh seekor semut yang berjalan melintasi lembaran kertas pada sebuah buku? Boleh jadi, semut tersebut hanya akan mengetahui bahwa goresan-goresan tinta pada kata-kata yang ada di buku tersebut adalah disebabkan oleh goresan pena. Pena-lah penyebab sejatinya. Begitu Imam Ghazali memberikan ilustrasi dalam Kimiya al-sa’adah (The Alchemy of Happiness).

Namun, pada pandangan yang lebih luas lagi, boleh jadi seekor semut yang lain akan melihat lebih komprehensif dan mengetahui bahwa semua goresan tinta pada lembaran kertas di buku tersebut adalah karena gerakan tangan yang memegang pena. Tangan-lah penggerak sejatinya.

Begitulah Imam Ghazali memberikan gambaran tentang perbedaan tingkat persepsi manusia. Seseorang bisa melihat sesuatu yang terindera, kemudian seseorang itu menyimpulkan bahwa gejala-gejala sebab-akibat yang tampak secara inderawi itulah penyebab utama sebuah kejadian.

Hal ini terjadi karena manusia tidak kenal dengan “dirinya” sendiri, tidak menyadari bahwa dirinya memiliki substansi yang ruhani, selain dari tubuh jasad kasar yang selama ini bisa diindera.

Ketidak-sadaran pada realita bahwa manusia memiliki substansi yang ruhani inilah, yang mengakibatkan seseorang hanya menilai sesuatu sebagai yang tampak mata semata.

Seumpama seseorang menulis pada kertas, orang tersebut mengira bahwa aktivitas menulis itu sebatas aktivitas syaraf-syaraf pada otot menggerakkan tendon-tendon dan akhirnya terwujudlah sebuah tulisan pada kertas. Padahal, sebelum terjadi aktivitas kelistrikan pada otak dan menyebar ke seluruh syaraf tubuh dan menjelma gerakan fisik; telah muncul lebih dahulu sebuah ‘kehendak’ di dalam ruhani manusia.

Jadi bukan karena impuls listrik di syaraf otak yang menyebabkan seseorang menggerakkan tangannya menulis, melainkan karena sebuah “kehendak” pada diri ruhaninyalah yang berimbas pada alam kenyataan sehingga keseluruhan otot tubuh bergerak mewujudkan sebuah tulisan.

Dari tubuh yang ruhani, menjelma ke alam yang tampak mata.

Dari kehendak di dalam ruhani manusia, menjelma menjadi tulisan-tulisan.

Dari yang ruhani dan tak bisa diukur dulu, baru ke alam kenyataan yang inderawi dan terukur.

Logika ini, kata beliau, sering tak dipahami. Sehingga persepsi manusia begitu terbatas pada dunia gejala, pada sebab-akibat yang empiris, yang inderawi. Dan mengira dunia gejala yang inderawi itulah penyebab sejatinya.

Persis seperti seekor semut yang mengira bahwa tinta itu karena pena bergerak. Jika seekor semut itu bisa melihat lebih luas lagi, barulah dia mengerti bahwa gerak pena itu karena gerak tangan. Dan jika logika ini diteruskan, maka sang semut barangkali akan melihat juga bahwa gerak tangan adalah sejatinya gerak dari sang manusia itu. Tetapi, baik pena, tangan, ataupun manusia, sesungguhnya masihlah “dunia-gejala” alias sebab-akibat yang inderawi. Dibalik itu, ada sesuatu yang tak nampak, yaitu sebuah kehendak yang bersifat ruhani yang menjadi penggerak apapun yang muncul di alam eksistensi ini. Di alam empiris.

Tetapi, pengetahuan mengenai ruhani manusia ini, diberikan tidaklah terlalu banyak kepada manusia. Dianya diberikan sebatas pengertian yang menjadi salah satu modal dasar bagi manusia untuk melihat pengaturan Tuhan di alam, lewat kepahaman tentang dirinya sendiri.

Ada sebuah tulisan menarik dari Prof. Naquib Al Attas, dalam The Nature Of Man and The Psychology Of The Human Soul, Dimana beliau menjelaskan bahwa pengertian dari ayat ke 31 surat Al Baqarah dimana Allah mengajarkan nama-nama kepada Adam a.s, maksudnya ialah bahwa nama-nama (asma’) adalah mewakili ilmu tentang segala sesuatu.

Jadi, memang manusialah yang diberi “pengajaran” oleh Allah akan ilmu-ilmu tentang segala sesuatu. Manusia yang dipahamkan asma’. Pengertian yang sebenarnya dari segala sesuatu. Tetapi, ilmu-ilmu tersebut (asma) tidaklah mencakup detail pengetahuan tentang Dzat-Nya.

Dzat-Nya sendiri, akan selalu rahasia di atas rahasia. Yang manusia bisa kenali adalah lapis yang sangat luar, yaitu lapisan-lapisan sifat-sifat. Atau gejala yang empirik, yang inderawi.

Contohnya seperti tadi itu, ada seseorang menulis, maka inderawi manusia hanya akan bisa “menyentuh” dunia gejala terluar saja.

Manusia bisa mengindera tinta-nya, penanya, tangannya, dan orang yang menulis itu, tetapi wujud dari sebuah “kehendak” di dalam ruhani manusianya itu tidak akan pernah bisa “disentuh” secara inderawi oleh manusia.

Maka itulah orang sering menjadi khilaf dengan mengira bahwa tulisan hanya semata urusan pena, atau urusan tangan, atau urusan manusia. Padahal, tulisan adalah urusan sebuah “kehendak yang ruhani” menjelma ke alam kenyataan.

Kata Imam Ghazali, “Manusia kesulitan mempersepsi bentuk-bentuk di luar batasan kualitas atau kuantitas, sebagaimana manusia kesulitan mempersepsi ‘bentuk’ perasaannya sendiri, seperti marah, sakit, senang, cinta.”[1]

Itulah kenapa, manusia tidak akan pernah “menyentuh” secara inderawi, atau mengerti dengan sesungguhnya, tentang hakikat sesuatu selain dari asma-asma (ilmu) tentang gejala yang tampak indera, atau empiris.

Sebagaimana, ruh itu urusan Tuhan, dan kita tak diberi pengetahuan mengenai itu kecuali sedikit sekali. Dan sebagaimana kata Naquib Al Attas tadi, pengetahuan yang diberikan kepada manusia, adalah asma’ (al-Ilm) tentang segala sesuatu kecuali hal yang paling dalam yaitu Dzat-Nya yang tak akan pernah masuk dalam persepsi inderawi manusia.

Sekarang kita mengerti, bahwa kita tidak akan pernah menyentuh secara inderawi realitas sebenarnya mengenai Tuhan. Karena itu islam membatasi dengan jelas bahwa DIA tiada umpama, tidak ada yang menyerupainya, diluar jangkauan inderawi manusia, tidak mirip apa-apa.

Akan tetapi, sedikit pengetahuan mengenai diri kita (diri ruhani kita) akan bisa membantu kita mengenali seperti apa pengaturan Tuhan di alam ini. Begitu kata Al Ghazali.

Sebagaimana sebuah kehendak di dalam ruhani kita menjelma menjadi gerak di alam kenyataan, begitu pula analognya pengaturan Tuhan.

Maka seseorang yang tidak mengenal dirinya sendiri, tidak pernah mengetahui bahwa ada substansi yang ruhani di dalam dirinya, kesimpulan yang dia dapatkan pada keseluruhan jenak hidupnya hanya sebatas gejala empiris terus.

Ada orang yang sakit, maka diteliti ternyata karena dehidrasi misalnya, atau karena faktor cuaca, atau karena stress tertekan pekerjaan, dst….. itukan semua gejala empiris, gejala yang terindera, bukan?

Tetapi gejala yang terindera itu sejatinya bukan sebab utama. Sebagaimana sebuah kehendak dalam diri kita menggerakkan semua perkakas inderawi yang kita punya hingga menjelma tulisan yang kita tulis, begitu juga cara kita memaknai kehidupan dalam kaitannya dengan Tuhan, kata beliau.

Maka dalam cara pandang seperti itu, kita akan bisa “melihat” bahwa Yang Maha Kuasa berkehendak mengurusi kesejahteraan orang itu, dan kemudian Allah memerintah hamba-hambanya yaitu semua elemen semesta agar menimbulkan situasi tertentu dalam diri orang itu, sehingga orang itu sakit. Dan dalam sakitnya, orang itu menjadi berpaling dari dunia kepada Tuhannya.

Pandangan seperti itu, akan mudah dimengerti jika kita memahami-sebatas apa yang Allah izinkan kita mengerti- bahwa dalam diri kita ada substansi yang ruhani. yang berkehendak. Maka tidak sulit bagi kita untuk mengerti analoginya bahwa alam pun bergerak sesuai dengan apa yang telah DIA tuliskan. Kita tidak akan memandang sebatas gejala-gejala yang tampak mata semata.

Pengertian-pengertian itu, adalah berupa kepahaman yang semakin lama semakin dalam. Sehingga kita mengerti bahwa sebab sejati dari segala sesuatu di dunia ini bukanlah gejala-gejala yang inderawi, melainkan pengaturannya Allah lewat Lauh Mahfudznya.

Tetapi, tetap kita tidak akan mampu menyentuh Diri-NYA secara inderawi. Karena bagaimanakah sesuatu yang terukur bisa menyentuh sesuatu yang tidak terukur?

Cukuplah kita pungkasi dengan petuah Ibnu Athoillah ini:

“Sampaimu kepada Allah (wushul) adalah sampaimu kepada pengetahuan tentang-Nya. Karena mustahil Allah disentuh atau menyentuh sesuatu.”

 

references:

[1] Al-Ghazali, Kimiya Al Sa-adah, Penerbit Zaman, hal.32

Naquib Al Attas, The Nature Of Man And Psychology Of Human Soul.