TUNGGANGAN YANG MELINTASI KEBENDAAN

doorPernahkah rekan-rekan berdo’a kepada Tuhan, dalam rangka meminta pilihan apakah sebaiknya makan mie goreng atau pecel lele untuk makan malam?

Rasanya tidak pernah, bukan?

Kenapa tidak pernah? Kenapa tidak sebaiknya kita berdo’a saja untuk keseluruhan detail hidup kita? Bukankah setiap kejadian akan berkaitan dengan kejadian lainnya dalam sebuah aksi reaksi kompleks, hingga pada akhirnya tak satupun kejadian yang tak punya imbas? Lalu kenapa tak berdo’a saja untuk semua hal? Dulu saya pernah bertanya seperti itu dalam batin saya sendiri.

Tetapi bukankah akan menjadi ganjil apabila kita berdoa dan meminta petunjuk untuk pilihan antara mie goreng atau pecel lele. Untuk apakah pesan jus jeruk atau es teh manis? Untuk apakah hari ini pakai kemeja biru atau kemeja warna merah dengan pola garis-garis? Ganjil bukan?

Itu memang kebingungan yang ganjil, rasanya tak masuk akal dan tentu tidak praktikal untuk dilakukan, tetapi saya belum mengerti kala itu apa landasan filosofinya kenapa tidak kita praktekkan berdoa di segala detail hidup?

Jawaban mengenai hal tersebut baru saya mengerti berbilang tahun kemudian. Setelah mengakrabi kajian para arifin, yang memberi tahu tentang keutamaan mengingati Allah. Bahwa sak bisa-bisanya kita harus belajar memraktekkan mengingati Allah dalam apapun kondisi: duduk, berdiri, berbaring, sebisa-bisanya mengingati Allah. Itu point pertama.

Point kedua adalah bahwa mengingati Allah itu berarti juga kita tidak mengingati benda-benda. Pecel lele, jus jeruk, kemeja biru dan merah, naik angkot ataupun gojek, semua itu adalah benda-benda. Dan mengingati Allah adalah bukan mengingati benda-benda tersebut. Itu point keduanya.

Dan yang paling penting saya rasa adalah berikut ini. Setelah kita belajar untuk dawam mengingati Allah dalam segala kondisi kehidupan kita. -Dan itu berarti bahwa kita mengingati Allah dalam lapang dan sempitnya kita-. Maka keseluruhan kejadian hidup yang mempertemukan kita dengan makna lapang dan sempit itu; sejatinya adalah jalan untuk kita mengingatiNya. Bukan mengingati kejadian hidupnya atau bendanya.

Indah sekali pesan orang-orang arif ini.

Kita misalkan saja begini. Kita bekerja sejak pagi, dan kita memulakan segala kehidupan kita dengan basmallah. ‘Memulakan kerja dengan basmallah’ itu adalah sebagai bentuk ingatan kepada Allah. Kemudian, kita memulai hari dalam kondisi dimana ingatan kepada Allah itu masih sinambung dan terjaga. Kita masih stay tune pada kondisi mengingati Allah.

Karena kita masih stay tune dalam ingatan Allah itulah sebabnya kita tak usah sibuk berdoa apakah kita akan keluar rumah lewat pintu depan atau pintu belakang, apakah naik motor atau naik mobil? Karena semua itu sudah dalam kondisi tinggal GO saja.

Kita sudah tinggal JUST DO IT, sambil memulakan segala sesuatunya dengan basmallah dan ingatan kepada Allah terjaga pada batin kita.

Lalu, dalam keseharian kita bekerja itu, akan ada banyak sekali hal yang mempertemukan kita dengan situasi lapang dan sempit.

Kejadian-kejadian yang menghantarkan situasi lapang dan sempit itu, sejatinya kebendaan. Dan seperti laiknya kebendaan; dia akan dengan cepat menghilangkan ingatan kita pada Allah yang sejak awal hari kita jaga untuk sinambung itu tadi.

Maka….agar ingatan pada Allah tetap terjaga, kita gunakanlah kejadian hidup yang kita temui itu, segala apapun yang membetot perhatian kita itu, sebagai “tunggangan” untuk ‘kembali’ pada Allah.

Ada situasi lapang yang memesonakan; sebelum dia membetot dan mencuri ingatan kita pada Allah, maka kita jadikan suasana itu sebagai tunggangan. Kita berdoa pada Allah sebagai bentuk kesyukuran. Imbasnya adalah, suasana senang yang kebendaan itu urung memenuhi batin kita, tetapi malah menjadikan kita semakin terkunci pada ingatan kepada Allah.

Ada situasi sempit yang menyesakkan; sebelum dia membetot dan mencuri ingatan kita pada Allah, maka kita jadikan suasana sempit itu sebagai tunggangan. Kita berdoa pada Allah sebagai bentuk kita meminta pertolongan. Imbasnya nanti, suasana sempit dan kesulitan keduniawian itu urung memenuhi batin kita, tetapi malah menjadikan kita semakin terkunci pada ingatan kepada Allah.

Jadi ternyata, yang pokok adalah mengisi hari-hari kita dengan ingat pada Allah. Dan kita jadikan apapun saja suasana batin yang kita temukan dalam keseharian; suasana yang sejatinya kebendaan; kita alihkan lagi menjadi pintu doa yang membuat kita malah semakin kembali lagi ke Allah.

Saya rasa itulah sebabnya mengapa kita tidak usah berdo’a yang lucu-lucu dan sholat istikoroh untuk apakah sebaiknya membeli cemilan coklat atau goreng kentang. Selain tidak praktikal dan menggelikan, ternyata itu sama saja dengan membawa hal kebendaan ke dalam batin kita yang sejatinya sedang mengingati Allah. Orang kita sedang mengingati Allah, eh malah hal tak penting dan kebendaan dibawa-bawa.

Lain halnya dengan kebalikannya. Kita sudah memulakan hari dengan mengingati Allah, kita jaga ingatan pada Allah itu agar sinambung dalam duduk, berdiri, berbaringnya kita, dan tiba-tiba ada-ada saja kejadian hidup yang berat dan menyesakkan; maka sebelum keduniawian yang melelahkan itu mencuri perhatian kita, kita berdo’a pada Allah agar menyelamatkan kita. Do’a yang semacam itulah yang mengkonversi urusan kebendaan menjadi makna pengenalan. Do’a yang menemukan kekerdilan diri dan mengakui Allah punya kebesaran. Semakin berdo’a dalam konteks macam begini, semakin kenallah pada keagungan dan keindahannya Allah.

Dan baru belakangan ini saja saya mengerti, inilah maksud dari hadits Rasulullah SAW yang mengatakan sesiapa yang sibuk berdzikir sampai lupa meminta, maka akan diberikan lebih baik dan lebih utama ketimbang orang yang sibuk meminta.[1]

Dulu saya kira hadits itu maksudnya kalau begitu tak usah meminta saja. Ternyata, hadits itu berbicara mengenai level, maqom seseorang. Orang yang hatinya sudah dipenuhi dengan Allah melulu, maka orang itu akan dijamin hidupnya. Wis pokoknya beres.

Tetapi, sebelum sampai kesitu ada prosesnya. Prosesnya ya antara lain seperti pesan guru-guru kearifan. Ingatlah Allah dalam setiap jenak hidup kita. Dan saat ada kesulitan, kebutuhan hidup, atau kesenangan menggelora, apapun saja urusan keduniawian yang sejatinya “berat” buat kita, jadikan hal tersebut sebagai tunggangan kita untuk kembali padaNya.

Lewat Do’a. Do’a yang menegakkan kehambaan. Do’a yang melintasi urusan-urusan kebendaan. Do’a yang lebih sebagai ekspresi pengenalan dan pengakuan.

 

 

catatan kaki:

[1] Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tuhan Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “Barang siapa yang sibuk membaca Al Qur’an dan dzikir kepada Ku dengan tidak memohon kepada Ku, maka ia Aku beri sesuatu yang lebih utama dari pada apa yang Aku berikan kepada orang yang minta”. Kelebihan firman Allah atas seluruh perkataan seperti kelebihan Allah atas seluruh makhlukNya”. (Hadits ditakhrij oleh Tirmidzi).

Gambar ilustrasi dipinjam dari sini

MINDFULNESS, DAN PENEMUAN KEKERDILAN

images (1)Dalam suatu hadits, disebutkan bahwa Rasulullah SAW dalam sehari beristighfar tak kurang dari seratus kali.[1]

Sewaktu saya masih kuliah dulu, hadits ini saya maknai dengan begitu sederhana. Rasulullah saja yang maksum dalam sehari beristighfar seratus kali minimal, apatah lagi kita, maka kita harus banyak-banyak beristighfar paling tidak seratus kali. Syukur-syukur lebih.

Berbilang tahun berlalu, dan saya mencermati pesan-pesan dari guru-guru yang arif, barulah saya memahami dengan sedikit lebih dalam akan hal tersebut.

Para arifin, dengan terbiasanya mereka dzikrullah atau mengingati Allah, mereka berada pada kondisi yang istilah kerennya adalah “mindfulness” kondisi sadar penuh.

Ilustrasi sederhananya mengenai kondisi mindfulness ini mungkin begini, orang-orang awam seringkali mengalami apa yang disebut sebagai swing mood. Perubahan mood yang begitu drastis. Kadang gembira, kadang senang. Tetapi perubahan antara satu dan lain suasana kejiwaan itu terjadi begitu cepat, dan orangnya sendiri kadang-kadang tidak sadar, ujug-ujug sudah bad mood saja.

Padahal, senang dan atau gembira merupakan suasana kejiwaan yang dipicu oleh sesuatu, pemicunya biasanya adalah fikiran manusia itu sendiri.

Jadi apa sebab orang-orang sering tidak sadar kok ujug-ujug sudah bad mood atau ujug-ujug sudah kemrungsung? Sebabnya adalah karena, mereka tidak “awas” dengan gerak-gerik fikirannya sendiri. Fikiran mereka, pada gilirannya memicu emosi kejiwaan mereka. Sederhananya begitu.

Dan para arifin, ternyata terlatih untuk berada dalam kondisi mindfulness  itu tadi, yaitu sangat sadar terhadap gerak-gerik fikiran dan emosi kejiwaan mereka sendiri.

Apa konsekuensi dari kondisi mindfulness ini? Salah satunya adalah mereka menjadi sangat “kenal” dengan diri sendiri.

Apa konsekuensi dari semakin mengenal diri? Konsekuensinya adalah semakin tahu jelek-jeleknya diri. Karena, sesuatu yang tidak terlihat atau tidak teramati oleh tingkat kesadaran kewaskitaan orang awam; hal itu bisa diamati oleh orang yang sudah mindfulness.

Misalnya saja, dua orang yang sama-sama duduk diam di rumah karena tidak ada kerjaan. Orang satunya menghabiskan waktu dengan membaca, orang yang satunya juga membaca.

Jika salah seorang dari mereka adalah orang-orang yang mindfulness, maka konsekuensi logisnya adalah orang yang mindfulness tadi akan lebih banyak beristighfar atas “dosa”nya.

Apa dosanya? Wong mereka cuma duduk diam di rumah dan membaca?

“Dosa”nya –kalaulah boleh mengistilahkan begitu- adalah apa yang bergejolak pada batin mereka sendiri.

Orang yang mindfulness mengistighfari bersit fikiran yang mungkin mengutuk pemerintah saat membaca berita politik di majalah, mungkin mengistighfari kemarahan, mungkin mengistighfari kelalaian karena tahu batinnya disibukkan dengan sesuatu yang mengganggu ingatannya pada Allah. Mungkin mengistighfari rasa iri yang teramati terbit di hatinya. Dan apapun saja gerak-gerik fikiran dan imbas perasaan yang sama sekali tidak disadari oleh orang-orang yang belum mencapai kondisi mindfulness ini.

Mereka mengingati Allah, dan waspada terhadap gerak-gerik fikiran dan perasaannya sendiri.

Menyadari fakta itu, kita menjadi mengerti pada sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa orang-orang awam mengistighfari perbuatan mereka, sedangkan orang-orang yang arif mengistighfari sesuatu yang bahkan belum dia lakukan, karena dia sudah ‘awas’ terhadap gerak-gerik bibit fikiran dan gejolak rasa mereka sendiri sebelum semuanya itu terejawantah di alam perbuatan.

Seorang kawan pernah bercerita pada saya, ada seorang anak muda dari pesantren yang berkunjung ke rumah seorang temannya. Temannya menyodori minuman, dan menawarkan agar anak muda itu tadi segera minum.

Tapi apa jawab anak muda itu? “Tunggu sebentar, masih ada nafsunya.”

Jawaban yang sangat abstrak, dan baru bisa dimengerti dalam konteks cerita tentang mindfulness itu tadi. Orang yang awas, bahkan bisa meneliti apakah sebuah perbuatan dipicu oleh dorongan hawa, atau tidak.

Ketekunan untuk mengingati Allah, dan pada gilirannya berimbas pada kondisi mindfulness ini rupanya menjadikan hamba untuk selalu menilai banyak kesalahan yang terjadi pada dirinya.

Dan ternyata, menyadari bahwa diri sendiri bersalah, itu baik, selama kesadaran bahwa diri kita jelek itu menjadi pemicu kita untuk “kembali” kepada Yang Mengampunkan Segala Kejelekan.

Dan ternyata para Nabi pun juga mengakrabi Allah dalam suasana kejiwaan yang merasa diri hina-dina dan jelek sangat.

Nabi Adam, memulai tugas kekhalifahan dengan sebuah ‘kesalahan’. Nabi Yunus, menjemput kegemilangan dakwahnya, dengan ‘kekhilafan’ yang menyebabkan dia ditelan ikan NUN. Nabi Muhammad, beliau maksum, terpelihara, tetapi semakin tinggi seseorang semakinlah dia akan menyadari kekerdilan diri, yang pada gilirannya membuatnya mengakrabi Allah juga dalam suasana kejiwaan yang fakir seperti itu tadi. 100 kali sehari minimal beristighfar dan meminta ampun.

Jadi, untuk yang sudah ‘mendewasa’, saya rasa tahapan istighfarnya mesti dibalik. Bukan semata memperbanyak istighfar pada lafadz, tetapi tidak masuk kedalam kondisi mindfulness. Melainkan, secara subjektif saya rasakan kita mesti ikuti polanya para arifin itu tadi.

Mengingati Allah dengan sebanyak-banyaknya, lalu nanti kita akan menjadi awas dan waspada terhadap gerik fikiran dan rasa kita sendiri, sehingga nanti muncullah rasa fakir dan hina-dina, yang mau tak mau akan memaksa istighfar untuk keluar dari lisan kita.

Dalam pemaknaan seperti itu, barulah kita mengerti bahwa orang-orang yang berjalan “pulang” menuju Allah, tidaklah berhenti dalam sebuah posisi dimana mereka merasa sudah jadi orang baik. Maksudnya, mereka malah menjadi orang yang semakin mengerti bahwa diri mereka tidak baik. Semakin mengerti bahwa diri tidak baik, maka semakin mereka terus menuju Allah.

Disinilah baru saya sadari, kekhilafan sebagian pola peribadatan yang mengedepankan aspek lahiriah SEMATA. Mereka memperbanyak kuantitas, saat kuantitas menjadi banyak, mereka menilai itu sebagai suatu kebaikan. Saat kuantitas menurun, mereka desperate dan merasa urung menuju Allah.

Sedangkan pola yang diajarkan para arifin adalah membetulkan posisi aspek batiniah, seiring dengan menjalankan aspek lahiriah. Batin yang benar, akan berimbas pada pengenalan akan kekecilan diri. Semakin merasa kecil, semakinlah mereka meminta keampunan dari Yang Besar. Orang yang terus menerus merasa kecil, menganggap bahwa sejatinya perjalanan itu tidak pernah sampai, maka itu mereka terus menerus meminta tolong. Penambahan kualitas ibadah pada akhirnya adalah konsekuensi logis dari sikap yang semakin minta tolong dan semakin minta tolong.

Saat seseorang mengakui kekecilan dirinya, pada saat itulah dia akan bertemu dengan Kebesaran Dia.

Para pendosalah yang akan bisa memaknai Pengampunan. Seperti kata Ali bin Abi Thalib, bahwa beliau mendapati dirinya sendiri sebagai yang lemah dan fakir, dan akhirnya mengenali Allah sebagai yang Kuasa dan Kaya.[2]

Saat kita berjalan menuju Allah, kata orang-orang arif, kita haruslah menemukan diri sebagai yang kecil dan tak berdaya. Hanya dengan begitu, maka kita bisa melihat dunia ini sebagai pentas pagelaran demonstrasinya Allah lewat parade ilmu dan kreasiNya yang tak akan habis ditulis dengan pena sebanyak seluruh pepohon dan tinta sebanyak tujuh laut.

Hanya yang menemukan kekerdilan dirinyalah yang menyadari bahwa DIA-lah Al Mutakabbir. Yang Maha Sombong. Yang berhak sombong. Yang untuk mengenalkan diriNya kepada kita yang kecil dan sangat kecil…sangat kecil…sangat kecil ini; DIA sampai membuat pagelaran kolosal sebesar jagad raya ini.

Dan jagad raya yang -bagi kita manusia- sudah besar ini, bagiNya tetaplah kecil. Seumpama biji pasir pada hamparan gurun. DIA-lah Yang Besar. Yang  Berhak Sombong. Yang KebesaranNya hanya bisa ditemui oleh orang yang menemukan kekecilan dirinya sendiri.

 

catatan kaki:

[1] “Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kepada Allah dan memohonlah ampun kepada-Nya, sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari sebanyak 100 kali.” (HR. Muslim).

[2] Ali bin Abi Thalib berkata: “Allah membuatku mengenal diriku sendiri melalui kelemahan dan kefakiran, sehingga aku berkeyakinan aku memiliki Tuhan yang mengadakan kelemahan dan kefakiran. [Jadi maksudnya adalah Ali mengenal dirinya melalui kelemahan dan kefakiran, dan mengenali Tuhannya melalui sifat kuasa dan kekayaan]” (Lajnah Pentashihan Mushaf Al Qur’an, Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama RI, Tafsir Al Qur’an Tematik Spiritualitas dan Akhlak, (452), 2010)

Gambar ilustrasi dipinjam dari sini

KETERSINGKAPAN YANG MENDAHULUI ZAMAN

Konon katanya, pemikiran Einstein mengenai teori relativitasnya telat dipahami oleh orang-orang pada zamannya. Sekira seratus tahun kemudianlah baru orang-orang mulai mengerti kemana arah pemikiran Einstein.

Sebagaimana Einstein, kebanyakan para penemu lainnya juga mengalami ketertarikan yang kuat terhadap suatu bidang ilmu pengetahuan, yang membuat mereka menekuni bidang itu dengan begitu fantastis. Ambillah contoh Ibnu Sina, Bapak Kedokteran. Beliau ahli ilmu kedokteran, psikologi, ilmu mantiq, matematika, dan banyak lagi.

Baik Einstein maupun Ibnu Sina, adalah segelintir contoh dari sekian orang-orang yang pemikirannya mendahului zamannya.

Atau, orang-orang yang sezaman dengan mereka membutuhkan awalan yang jauh lebih lebar dan loncatan yang besar untuk bisa mengikuti pandangan-pandangan mereka. Pandangan yang mendahului zaman.

Dan kejadian serupa itu, ternyata tidak hanya lumrah pada bidang pengetahuan saintifik semata. Dalam dunia spiritualitas islam pun ternyata hal semacam itu sering, dan bahkan sangat sering.

Untuk sekedar menyebutkan segelintir nama. Misalkan Imam Bukhari. Maestro hadits yang karyanya sangat sulit dikejar dan disamai bahkan oleh orang-orang masa kini yang dilengkapi dengan segala prasarana. Beliau menulis ratusan ribu hadits dengan pena bulu ayam. Dan mengumpulkan hadits pada masa dimana belum ada whatsapp belum ada email, dan untuk bertanya berarti harus jalan kaki berbulan-bulan. Tetapi ide yang beliau lakukan untuk mengumpulkan segala wacana teks dari Nabi itu, melampaui zamannya.

Pada bidang fikih, empat mazhab yang legendaris itu sudah sangat familiar juga bagi kita. Empat orang ilmuwan fikih yang menganalisa dan mengembangkan metoda untuk pengambilan keputusan hukum berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits, sehingga pada zamannya, hampir tidak ada analisa metodis terhadap hukum-hukum syariat yang tidak terangkum dalam approach atau pendekatan keempat ulama besar itu. Melampaui zaman.

Agaknya, pada setiap masa akan selalu ada orang-orang yang Allah lebihkan sebagian mereka atas sebagian lainnya, supaya takdir kehidupan bisa bergerak harmoni. Ada yang diberikan kemelimpahan kemauan dan ketertarikan terhadap suatu bidang, dan diberikan kemelimpahan ide atas wadah tekad dan kerja keras mereka itu. Agar mereka-mereka kelak menjadi sumber kebijakan yang bisa ditangguk oleh manusia-manusia lainnya berbilang-bilang generasi.

Yang sejatinya mengajari dan memahamkan manusia akan apa-apa yang tidak diketahuinya; adalah Allah SWT. Tetapi tak kita tutupi pandangan kita dari sebuah fakta yang tertuntunkan juga bahwa bagaimanapun tak akan disebut sebagai berterimakasih pada Allah, jika ada manusia yang tak hendak berterimakasih pada manusia lainnya yang telah menjadi lantaran keilmuan dan hikmah sampai pada mereka.

Bahkan ulama sekelas Buya Hamka, mengakui dalam pengantar bukunya,mengutip dari pendapat Imam Al-Razi saya kutipkan dibawah ini:

“Tidaklah ada yang kita perdapat selama umur kita ini, selain dari mengumpulkan kata si fulan dan kata si anu.[1]

Dari sinilah saya mengerti kekeliruan saya dahulu. Saat saya dulu begitu ingin mengusung orisinalitas dalam arti menginginkan apa yang saya tulis untuk sama sekali belum pernah didengar orang.

Setelah saya renungkan, hal itu tak lain tak bukan merupakan salah satu imbas dari gejolak yang menginginkan pengakuan. Ingin dikatakan bahwa sayalah penemunya.

Padahal, hampir sedikit sekali, kalaulah mungkin dikatakan tidak ada, hal-hal yang kita cetuskan yang belum pernah tercetus oleh para pendahulu kita. Atau kalaulah memang sesuatu yang kita cetuskan adalah benar-benar orisinil, maka jangan sampai kita menafikan fakta bahwa sejatinya kita bukan “pencipta” hal itu melainkan kita adalah orang yang “dipahamkan.”

Sebagaimana para penemu itu sejatinya memang benar-benar hanya menemukan, karena sesuatu yang mereka temukan itu sudah lebih dulu ada. Hukum-hukum alamnya sudah disusunkan rapih dulu, Cuma kebetulan mereka temukan lebih cepat dibanding orang lain. Penemuan yang mengalahkan kecepatan berfikir zamannya.

Dan betapa hidup menjadi begitu menyenangkan setelah merubah cara pandang bahwa kita bukanlah pusat alam semesta, we are not the center of the universe. Segala-gala di alam ini adalah tentang DIA.

Dan hidup juga menjadi begitu menyenangkan setelah dengan takluk dan takzim mengakui bahwa tak ada yang baru dari apa-apa yang kita sampaikan. Karena keseluruhan detail pengetahuan yang kita dapatkan adalah sumbangsih orang-orang besar yang Allah titipkan pada mereka kekukuhan determinasi, dan kejernihan pandangan.

Kehidupan ini, adalah pagelaranNya.

Dan sumbangsih kita –kalaulah boleh kita bahasakan begitu- adalah bergerak sesuai porsi yang sudah ditentukan bagiannya buat kita.

Dan pengakuan kita –kalaulah boleh juga mengatakannya begitu- adalah untuk “tidak mengaku.” Adalah untuk jujur menjadi penyaksi.

Inilah saya rasa pergeseran paradigma. Dengan hidup menjadi penyaksi, dan sumbangsih (menulis) dalam pemaknaan kapasitas sebagai semata corong echo bagi pemikiran-pemikiran para arifin yang mendahului zaman.

Karena terkadang sedih juga, melihat fakta bahwa orang-orang yang mendahului zamannya adalah orang-orang yang begitu rentan untuk disalah pahami.

Seperti syair Abunawas,” oh Tuhanku, aku tak layak ke syurgaMu, namun tak pula aku sanggup ke nerakaMu.” Sebuah syair yang secara keliru dimaknai sebagai kumpulan do’a yang tak jelas isi permintaannya, padahal do’a beliau berupa munajat yang mementingkan unsur curhatnya, ketimbang isi permintaannya, tersebab pengenalan beliau kepada Allah Yang Sudah Lebih Tahu segalanya bahkan sebelum diminta.

Seperti kumpulan aforisma Al-Hikam oleh punggawa Mazhab Maliki, yang berisi perenungan para “pejalan” yang meniti “jalan kembali” pada Allah, dan tak dimengerti kebanyakan orang karena ketinggian bahasanya dan kedalaman dialektika batinnya.

Seperti Al-Ghozali. Ibnu Qayyim. Seperti Syaikh Abdul Qadir Jailani. Dan sederet lagi nama-nama yang sering keliru dipahami.

Pada mereka-mereka itu kita sampaikan uluk salam dan takzim sedalam-dalamnya. Sebagai bentuk terimakasih kita pada mereka yang menjadi lantaran kepahaman sampai pada kita. Dan inilah “sumbangsih” kita, menjadi corong echo membahasakan pemikiran mereka yang mendahului zamannya, agar tak terlalu keliru dipahami khalayak. Sebatas-batas yang kita mampu.

 

catatan kaki:

[1] Tasawuf Modern, Buya Hamka, Djadjamurni, 1939 (hal. 9)

gambar ilustrasi dipinjam dari sini

NO YOU ARE NOT THE CENTER OF THE UNIVERSE

not centerJudul di atas, saya kutip bulat-bulat dari video yang diposting salah seorang rekan pada laman Facebooknya. Sebuah video yang sebenarnya sudah cukup banyak pada laman YouTube dalam berbagai versi. Intinya adalah membandingkan skala bumi vs planet-planet lain dalam satu tata surya kita, dan dibandingkan lagi dengan ukuran bintang-bintang besar di jagad semesta ini. Kesimpulannya jelas, kita sangat kecil.

Tetapi yang menarik bagi saya sebenarnya adalah judulnya, bahwa kita bukanlah pusat alam semesta. We are not the center of the universe.

Makna itu adalah makna kiasan, tetapi saya merasakan bahwa ternyata memang kecenderungan manusia adalah menginginkan dirinya untuk menjadi pusat perhatian.

Teringat dulu semasa kuliah, pada sebuah organisasi ada slogan, “seandainya tak ada kita, maka Allah akan adakan orang-orang lain untuk membantu.” Dulu slogan itu saya pandang sebatas penyemangat saja, agar berlomba-lomba dalam kebaikan, kalau saya tak ambil kesempatan baik itu, maka orang lain yang akan mengisi slot kebaikan yang ada.

Ternyata sekarang slogan itu bisa kita maknai dengan lebih spiritual dan dalam. Bahwa memang kita bukan center of the universe. 

Seorang arif bertanya dengan retoris, “jika esok kita tak ada, dunia berputarkah tidak?”

“Berputar.” jawab orang-orang.

“Jika esoknya lagi kita masih tak ada, dunia berputarkah tidak?”

“Berputar.” Jawab orang-orang lagi.

“Kalau begitu kita tak penting, bukan?” Pungkas beliau dengan retoris. “Memang tak penting, dan tetaplah begitu.”

Kenyataan itulah yang belakangan benar-benar merubah cara pandang saya terhadap hidup. Dengan jujur menelisik kedalam ruang batin sendiri, dan mengakui sebenarnya bahwa ternyata selama ini saya –mungkin juga kita- melakukan sedemikian banyak aktivitas dan perbuatan yang disetir oleh suasana batin yang abstrak yang ghaib berupa keinginan untuk menjadi pusat semesta.

Apapun saja variasi cerita pada luarannya, ternyata sering sekali disetir oleh dorongan rasa ingin diakui itu.

Seandainya ada sebuah pertanyaan, maka orang akan berlomba-lomba menjawab jika mereka mengetahui jawabannya. Sesungguhnya, letak kelezatannya adalah bukan pada ‘menjawab’nya itu, melainkan pada sensasi bahwa kita “mengetahui“, lebih tahu, atau tahu lebih dulu. Pusat semestanya adalah kita.

Membeli rumah yang megah, sebenarnya pun bukan terletak pada rumahnya, tetapi terletak pada rasa nikmat untuk dianggap mampu. Pusat semestanya adalah kita.

Kita berpartisipasi dalam banyak kegiatan sosial misalnya, masih juga pusat semestanya adalah kita, lewat persepsi kita bahwa tanpa kita andil akan berantakanlah kegiatan itu.

Seakan-akan kita begitu penting.

Berpartisipasi itu baik, tetapi merasa bahwa partisipasi kitalah yang menentukan keseluruhan jalannya semesta ini, adalah keliru.

Cara paling sederhana untuk mengetahui apakah segala aktivitas kita disetir oleh keinginan untuk diaku-aku itu tadi, adalah dengan jujur terhadap gejolak rasa kita sendiri.

Para arifin mengatakan, untuk membedakan dorongan yang ‘bersih’ dan dorongan yang disetir oleh ‘hawa nafsu’ caranya adalah cobalah tahan sejenak ketika kita punya keinginan.

Saat gejolak ingin menjawab pertanyaan, maka tahan sejenak. Ingin melakukan sesuatu, coba tahan sejenak. Dan jujurlah mengamati gejolak rasa kita sendiri, karena tabiatnya hawa nafsu adalah seperti anak kecil yang akan berontak bila keinginannya tidak dipenuhi.

Saya cukup terbeliak juga bahwa dalam diri saya sendiri begitu banyak hal yang ternyata disetir oleh keinginan diaku, yang begitu halus dan hampir-hampir luput diamati.

Cirinya sesederhana hal itu tadi, jika ditahan, dia akan berontak, dan rasa akan bergejolak menginginkan pengakuan. Awalnya agak sulit mengamati diri sendiri, lama kelamaan makin jelas dan makin kenal dengan diri sendiri.

Dan setelah kita memahami bahwa ternyata keinginan “menjadi ada,” dan “diakui” itulah yang menyetir kita, persepsi bahwa kitalah pusat semesta itu yang memenuhi batin kita. Maka untuk menghilangkannya adalah dengan menyadari bahwa alam raya ini berjalan sejauh ini, selama ini, dengan alurnya sendiri, tanpa ada sedikitpun campur tangan kita adalah untuk menceritakan diriNya. Bukan menceritakan kita.

Semua tentang diriNya dan tak pernah tentang kita.

Saat kita belajar membuang konteks diri kita dari apapun yang kita amati dan kerjakan, maka pelan-pelan persepsi kita bahwa kitalah yang menjadi faktor, kitalah salah satu variabel yang penting dalam hidup ini; akan sirna.

Karna lama kelamaan menjadi sadar bahwa diri kita, dan sebagaimana jutaan atau trilliunan hal lainnya di dunia ini, bergerak dalam plot gerak Maha Besar yang sudah ditulisNya untuk menceritakan DIA.

Dengan begitu kita melakukan segalanya dengan ringan dan tanpa gejolak hawa. Karena, dalam bekerjapun sebenarnya kita mengamati. Seperti kita ada di dalam cerita, tetapi sekaligus menjadi penonton. Begitulah kira-kira.

Dan memang we are not the center of the universe.

 

 

Proudly powered by WordPress | Theme: Baskerville 2 by Anders Noren.

Up ↑