KETERSINGKAPAN YANG MENDAHULUI ZAMAN

Konon katanya, pemikiran Einstein mengenai teori relativitasnya telat dipahami oleh orang-orang pada zamannya. Sekira seratus tahun kemudianlah baru orang-orang mulai mengerti kemana arah pemikiran Einstein.

Sebagaimana Einstein, kebanyakan para penemu lainnya juga mengalami ketertarikan yang kuat terhadap suatu bidang ilmu pengetahuan, yang membuat mereka menekuni bidang itu dengan begitu fantastis. Ambillah contoh Ibnu Sina, Bapak Kedokteran. Beliau ahli ilmu kedokteran, psikologi, ilmu mantiq, matematika, dan banyak lagi.

Baik Einstein maupun Ibnu Sina, adalah segelintir contoh dari sekian orang-orang yang pemikirannya mendahului zamannya.

Atau, orang-orang yang sezaman dengan mereka membutuhkan awalan yang jauh lebih lebar dan loncatan yang besar untuk bisa mengikuti pandangan-pandangan mereka. Pandangan yang mendahului zaman.

Dan kejadian serupa itu, ternyata tidak hanya lumrah pada bidang pengetahuan saintifik semata. Dalam dunia spiritualitas islam pun ternyata hal semacam itu sering, dan bahkan sangat sering.

Untuk sekedar menyebutkan segelintir nama. Misalkan Imam Bukhari. Maestro hadits yang karyanya sangat sulit dikejar dan disamai bahkan oleh orang-orang masa kini yang dilengkapi dengan segala prasarana. Beliau menulis ratusan ribu hadits dengan pena bulu ayam. Dan mengumpulkan hadits pada masa dimana belum ada whatsapp belum ada email, dan untuk bertanya berarti harus jalan kaki berbulan-bulan. Tetapi ide yang beliau lakukan untuk mengumpulkan segala wacana teks dari Nabi itu, melampaui zamannya.

Pada bidang fikih, empat mazhab yang legendaris itu sudah sangat familiar juga bagi kita. Empat orang ilmuwan fikih yang menganalisa dan mengembangkan metoda untuk pengambilan keputusan hukum berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits, sehingga pada zamannya, hampir tidak ada analisa metodis terhadap hukum-hukum syariat yang tidak terangkum dalam approach atau pendekatan keempat ulama besar itu. Melampaui zaman.

Agaknya, pada setiap masa akan selalu ada orang-orang yang Allah lebihkan sebagian mereka atas sebagian lainnya, supaya takdir kehidupan bisa bergerak harmoni. Ada yang diberikan kemelimpahan kemauan dan ketertarikan terhadap suatu bidang, dan diberikan kemelimpahan ide atas wadah tekad dan kerja keras mereka itu. Agar mereka-mereka kelak menjadi sumber kebijakan yang bisa ditangguk oleh manusia-manusia lainnya berbilang-bilang generasi.

Yang sejatinya mengajari dan memahamkan manusia akan apa-apa yang tidak diketahuinya; adalah Allah SWT. Tetapi tak kita tutupi pandangan kita dari sebuah fakta yang tertuntunkan juga bahwa bagaimanapun tak akan disebut sebagai berterimakasih pada Allah, jika ada manusia yang tak hendak berterimakasih pada manusia lainnya yang telah menjadi lantaran keilmuan dan hikmah sampai pada mereka.

Bahkan ulama sekelas Buya Hamka, mengakui dalam pengantar bukunya,mengutip dari pendapat Imam Al-Razi saya kutipkan dibawah ini:

“Tidaklah ada yang kita perdapat selama umur kita ini, selain dari mengumpulkan kata si fulan dan kata si anu.[1]

Dari sinilah saya mengerti kekeliruan saya dahulu. Saat saya dulu begitu ingin mengusung orisinalitas dalam arti menginginkan apa yang saya tulis untuk sama sekali belum pernah didengar orang.

Setelah saya renungkan, hal itu tak lain tak bukan merupakan salah satu imbas dari gejolak yang menginginkan pengakuan. Ingin dikatakan bahwa sayalah penemunya.

Padahal, hampir sedikit sekali, kalaulah mungkin dikatakan tidak ada, hal-hal yang kita cetuskan yang belum pernah tercetus oleh para pendahulu kita. Atau kalaulah memang sesuatu yang kita cetuskan adalah benar-benar orisinil, maka jangan sampai kita menafikan fakta bahwa sejatinya kita bukan “pencipta” hal itu melainkan kita adalah orang yang “dipahamkan.”

Sebagaimana para penemu itu sejatinya memang benar-benar hanya menemukan, karena sesuatu yang mereka temukan itu sudah lebih dulu ada. Hukum-hukum alamnya sudah disusunkan rapih dulu, Cuma kebetulan mereka temukan lebih cepat dibanding orang lain. Penemuan yang mengalahkan kecepatan berfikir zamannya.

Dan betapa hidup menjadi begitu menyenangkan setelah merubah cara pandang bahwa kita bukanlah pusat alam semesta, we are not the center of the universe. Segala-gala di alam ini adalah tentang DIA.

Dan hidup juga menjadi begitu menyenangkan setelah dengan takluk dan takzim mengakui bahwa tak ada yang baru dari apa-apa yang kita sampaikan. Karena keseluruhan detail pengetahuan yang kita dapatkan adalah sumbangsih orang-orang besar yang Allah titipkan pada mereka kekukuhan determinasi, dan kejernihan pandangan.

Kehidupan ini, adalah pagelaranNya.

Dan sumbangsih kita –kalaulah boleh kita bahasakan begitu- adalah bergerak sesuai porsi yang sudah ditentukan bagiannya buat kita.

Dan pengakuan kita –kalaulah boleh juga mengatakannya begitu- adalah untuk “tidak mengaku.” Adalah untuk jujur menjadi penyaksi.

Inilah saya rasa pergeseran paradigma. Dengan hidup menjadi penyaksi, dan sumbangsih (menulis) dalam pemaknaan kapasitas sebagai semata corong echo bagi pemikiran-pemikiran para arifin yang mendahului zaman.

Karena terkadang sedih juga, melihat fakta bahwa orang-orang yang mendahului zamannya adalah orang-orang yang begitu rentan untuk disalah pahami.

Seperti syair Abunawas,” oh Tuhanku, aku tak layak ke syurgaMu, namun tak pula aku sanggup ke nerakaMu.” Sebuah syair yang secara keliru dimaknai sebagai kumpulan do’a yang tak jelas isi permintaannya, padahal do’a beliau berupa munajat yang mementingkan unsur curhatnya, ketimbang isi permintaannya, tersebab pengenalan beliau kepada Allah Yang Sudah Lebih Tahu segalanya bahkan sebelum diminta.

Seperti kumpulan aforisma Al-Hikam oleh punggawa Mazhab Maliki, yang berisi perenungan para “pejalan” yang meniti “jalan kembali” pada Allah, dan tak dimengerti kebanyakan orang karena ketinggian bahasanya dan kedalaman dialektika batinnya.

Seperti Al-Ghozali. Ibnu Qayyim. Seperti Syaikh Abdul Qadir Jailani. Dan sederet lagi nama-nama yang sering keliru dipahami.

Pada mereka-mereka itu kita sampaikan uluk salam dan takzim sedalam-dalamnya. Sebagai bentuk terimakasih kita pada mereka yang menjadi lantaran kepahaman sampai pada kita. Dan inilah “sumbangsih” kita, menjadi corong echo membahasakan pemikiran mereka yang mendahului zamannya, agar tak terlalu keliru dipahami khalayak. Sebatas-batas yang kita mampu.

 

catatan kaki:

[1] Tasawuf Modern, Buya Hamka, Djadjamurni, 1939 (hal. 9)

gambar ilustrasi dipinjam dari sini

NO YOU ARE NOT THE CENTER OF THE UNIVERSE

not centerJudul di atas, saya kutip bulat-bulat dari video yang diposting salah seorang rekan pada laman Facebooknya. Sebuah video yang sebenarnya sudah cukup banyak pada laman YouTube dalam berbagai versi. Intinya adalah membandingkan skala bumi vs planet-planet lain dalam satu tata surya kita, dan dibandingkan lagi dengan ukuran bintang-bintang besar di jagad semesta ini. Kesimpulannya jelas, kita sangat kecil.

Tetapi yang menarik bagi saya sebenarnya adalah judulnya, bahwa kita bukanlah pusat alam semesta. We are not the center of the universe.

Makna itu adalah makna kiasan, tetapi saya merasakan bahwa ternyata memang kecenderungan manusia adalah menginginkan dirinya untuk menjadi pusat perhatian.

Teringat dulu semasa kuliah, pada sebuah organisasi ada slogan, “seandainya tak ada kita, maka Allah akan adakan orang-orang lain untuk membantu.” Dulu slogan itu saya pandang sebatas penyemangat saja, agar berlomba-lomba dalam kebaikan, kalau saya tak ambil kesempatan baik itu, maka orang lain yang akan mengisi slot kebaikan yang ada.

Ternyata sekarang slogan itu bisa kita maknai dengan lebih spiritual dan dalam. Bahwa memang kita bukan center of the universe. 

Seorang arif bertanya dengan retoris, “jika esok kita tak ada, dunia berputarkah tidak?”

“Berputar.” jawab orang-orang.

“Jika esoknya lagi kita masih tak ada, dunia berputarkah tidak?”

“Berputar.” Jawab orang-orang lagi.

“Kalau begitu kita tak penting, bukan?” Pungkas beliau dengan retoris. “Memang tak penting, dan tetaplah begitu.”

Kenyataan itulah yang belakangan benar-benar merubah cara pandang saya terhadap hidup. Dengan jujur menelisik kedalam ruang batin sendiri, dan mengakui sebenarnya bahwa ternyata selama ini saya –mungkin juga kita- melakukan sedemikian banyak aktivitas dan perbuatan yang disetir oleh suasana batin yang abstrak yang ghaib berupa keinginan untuk menjadi pusat semesta.

Apapun saja variasi cerita pada luarannya, ternyata sering sekali disetir oleh dorongan rasa ingin diakui itu.

Seandainya ada sebuah pertanyaan, maka orang akan berlomba-lomba menjawab jika mereka mengetahui jawabannya. Sesungguhnya, letak kelezatannya adalah bukan pada ‘menjawab’nya itu, melainkan pada sensasi bahwa kita “mengetahui“, lebih tahu, atau tahu lebih dulu. Pusat semestanya adalah kita.

Membeli rumah yang megah, sebenarnya pun bukan terletak pada rumahnya, tetapi terletak pada rasa nikmat untuk dianggap mampu. Pusat semestanya adalah kita.

Kita berpartisipasi dalam banyak kegiatan sosial misalnya, masih juga pusat semestanya adalah kita, lewat persepsi kita bahwa tanpa kita andil akan berantakanlah kegiatan itu.

Seakan-akan kita begitu penting.

Berpartisipasi itu baik, tetapi merasa bahwa partisipasi kitalah yang menentukan keseluruhan jalannya semesta ini, adalah keliru.

Cara paling sederhana untuk mengetahui apakah segala aktivitas kita disetir oleh keinginan untuk diaku-aku itu tadi, adalah dengan jujur terhadap gejolak rasa kita sendiri.

Para arifin mengatakan, untuk membedakan dorongan yang ‘bersih’ dan dorongan yang disetir oleh ‘hawa nafsu’ caranya adalah cobalah tahan sejenak ketika kita punya keinginan.

Saat gejolak ingin menjawab pertanyaan, maka tahan sejenak. Ingin melakukan sesuatu, coba tahan sejenak. Dan jujurlah mengamati gejolak rasa kita sendiri, karena tabiatnya hawa nafsu adalah seperti anak kecil yang akan berontak bila keinginannya tidak dipenuhi.

Saya cukup terbeliak juga bahwa dalam diri saya sendiri begitu banyak hal yang ternyata disetir oleh keinginan diaku, yang begitu halus dan hampir-hampir luput diamati.

Cirinya sesederhana hal itu tadi, jika ditahan, dia akan berontak, dan rasa akan bergejolak menginginkan pengakuan. Awalnya agak sulit mengamati diri sendiri, lama kelamaan makin jelas dan makin kenal dengan diri sendiri.

Dan setelah kita memahami bahwa ternyata keinginan “menjadi ada,” dan “diakui” itulah yang menyetir kita, persepsi bahwa kitalah pusat semesta itu yang memenuhi batin kita. Maka untuk menghilangkannya adalah dengan menyadari bahwa alam raya ini berjalan sejauh ini, selama ini, dengan alurnya sendiri, tanpa ada sedikitpun campur tangan kita adalah untuk menceritakan diriNya. Bukan menceritakan kita.

Semua tentang diriNya dan tak pernah tentang kita.

Saat kita belajar membuang konteks diri kita dari apapun yang kita amati dan kerjakan, maka pelan-pelan persepsi kita bahwa kitalah yang menjadi faktor, kitalah salah satu variabel yang penting dalam hidup ini; akan sirna.

Karna lama kelamaan menjadi sadar bahwa diri kita, dan sebagaimana jutaan atau trilliunan hal lainnya di dunia ini, bergerak dalam plot gerak Maha Besar yang sudah ditulisNya untuk menceritakan DIA.

Dengan begitu kita melakukan segalanya dengan ringan dan tanpa gejolak hawa. Karena, dalam bekerjapun sebenarnya kita mengamati. Seperti kita ada di dalam cerita, tetapi sekaligus menjadi penonton. Begitulah kira-kira.

Dan memang we are not the center of the universe.

 

 

Proudly powered by WordPress | Theme: Baskerville 2 by Anders Noren.

Up ↑