THE HARMONY WE ARE LIVING IN

Pernah membaca Roman “Three kingdoms?” Three kingdoms sendiri sebenarnya adalah terjemah yang kurang tepat dari cerita aslinya yang secara literal lebih tepat dikatakan Roman “Tiga Negara.” Cerita tentang negri Wei (dipimpin oleh Cao-Cao), Liu Bei (negeri Shu), dan Sun Quan (negeri Wu). Masing-masing telah memaklumatkan diri sebagai kaisar dan mengklaim legitimasi kekaisaran yang telah runtuh.

Saya sendiri tak mengikuti Roman ini dengan detail hingga selesai, tetapi satu falsafah yang saya ingat dari komik Three Kingdoms ini adalah falsafahnya bahwa ketiga negara yang bertikai itu sendiri, harus “ada,” karena dengan adanya tiga negara yang bertikai itulah maka stabilitas bisa terjaga. Harmoni bisa terjadi.

China_in_262Peta tiga negara (Credit by Wikipedia).

Seorang rekan, menjelaskan pada saya mengenai stabilitas ini. Coba bayangkan, kata rekan saya itu, ada tiga orang bertengkar. Yang satu (sebutlah misalnya A) punya kekuatan mengguli yang lainnya. Tetapi A tidak akan bisa mengalahkan B dan C sekaligus. Karena jika digabung B dan C akan memiliki kekuatan mengalahkan A.

Jadi apa yang akan terjadi? Yang akan terjadi adalah ketiga negara itu, dalam konfliknya, akan menimbulkan kesetimbangan dengan tidak mengalahkan satu sama lain. Karena seandainya saja A (yang paling kuat diantara semua) hendak mengalahkan B, maka si C akan tahu, bahwa segera saja setelah B kalah, maka C juga akan tumbang. Dia tak mau itu, maka dia akan berkomplot dengan B untuk menghalangi A mengalahkan B dan pada akhirnya mengalahkan dia sendiri, C.

Sedangkan C sendiri, tak mungkin menyerang A, karena A sudah jelas paling kuat, maka yang paling logis adalah C menyerang B, tapi A  mengetahui  segera saja jika B kalah, maka B+C akan menjadi paling kuat dan bisa setanding dengan dia maka A tak mau itu terjadi.

Singkat kata, dengan tetapnya keberadaan ketiga negara itu, malah begitulah kesetimbangan akan terjadi, tidak saling hendak mengalahkan. Atau jika ada yang saling hendak mengalahkan maka pihak yang lain akan mencegah kesetimbangan itu untuk rusak.

Kalau kita padatkan, kesimpulan sederhananya begini: Bahkan dalam chaos-pun sebenarnya ada harmoni.

Perumpamaan berikut mungkin kurang relevan, tetapi sebagai ilustrasi mudah-mudahan cukup membantu.

Dalam suatu hadits, Rasulullah SAW saat selesai perang Ahzab menitahkan pada para sahabat untuk berangkat menuju perkampungan Bani Quraizhah. Saat itulah Rasulullah SAW menitahkan seperti berikut:

Janganlah seseorang shalat Ashar kecuali di (perkampungan) Bani Quraizhah.” [1]

Para sahabat berbeda pendapat mengenai hal ini, sebagian menafsirkan dengan literal bahwa tak boleh sholat ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah. Karena itu setelah waktu ashar tiba, dan mereka belum sampai di perkampungan Bani Quraizhah, mereka tidak sholat ashar. Karena bagi mereka titah Rasulullah SAW berarti sholat ashar hanya boleh pas sampai disana.

Sedangkan, yang satu lagi berpandangan bahwa yang dimaksud Rasulullah secara tersirat adalah bahwa mereka harus berjalan ke perkampungan itu secepat mungkin, dengan begitu mereka akan bisa sampai pada waktu ashar. Tetapi, tak berarti kalau tak berhasil tiba saat ashar maka boleh menunda sholat. Maka golongan ini tetap melaksanakan sholat ashar meski belum sampai perkampungan Bani Quraizhah.

Perbedaan ini terjadi di zaman Rasulullah SAW, dan Rasulullah membiarkan saja. Tidak membenarkan atau menyalahkan salah satu pihak. Meskipun secara logis kita tahu bahwa yang benar menurut subjektif saya adalah yang tetap sholat meskipun belum sampai tujuan. Tetapi toh Rasulullah membiarkan perbedaan itu terjadi.

Sepanjang sejarah, akan selalu ada perbedaan sikap, karena perbedaan paradigma. Dan memperdebatkan perbedaan sikap, tanpa meneliti kenapa paradigma berbeda, adalah kurang tepat.

Saya ingat, ada seorang rekan saya dulu yang begitu semangat mengikuti Rasulullah sampai beliau membeli kayu siwak untuk sikat gigi. Benar-benar kayu siwak. Baginya, sikat gigi plastik modern itu tidak nyunnah, yang sunnah adalah siwak kayu.

Saya menghargai pilihannya, sambil teringat kembali bahwa paradigma orang bermacam-macam. Rekan saya tadi meniru harfiah luarannya. Maka beliau makan pun dengan tiga jari, dalam niatan meniru Rasulullah yang makan dengan tiga jari. Sedangkan saya berfikir bahwa itu adalah unsur budaya, makan tiga jari itu adalah budaya karna makanan pokok berupa roti, akan sulit diterapkan pada yang makanannya mie ramen atau nasi misalnya?

Tetapi perbedaan pada hal-hal yang begitu, itu memang sudah ditolelir oleh Rasulullah SAW. Kalau kita bahasakan, inilah harmony within chaos.

Bahwa perbedaan itu memang harus ada, barangkali karena Allah ingin orang-orang mendekatiNya lewat berbagai-bagai cara pandang.

Maka di dunia ini kita lihat ada orang dengan pendekatan literal tekstual, ada yang lebih penafsiran secara maknawi. Di Indonesia sendiri ada yang pendekatan akademis dan modern seperti Muhammadiyah, ada yang kultural dan sufistik seperti NU. Harmoni yang mesti ada.

Perbedaan ini memang selalu ada. Hadits ini sering dijadikan dasar sebagai pijakan untuk memaknai perbedaan pendapat dalam hal yang cabang, dan bukan hal yang pokok.

Dalam hal yang pokok, memang harus menegaskan pembatas bahwa kita benar, dan selain kita tidak benar. Tetapi yang menariknya lagi, ternyata Allah SWT juga mengatakan kepada Rasulullah SAW bahwa tak ada susahnya bagi Allah jika Allah ingin semua orang beriman. Tetapi Allah tidak lakukan hal tersebut. Yang berarti bahwa kondisi dimana ada hal yang tak benar; adalah “benar” juga karena masuk dalam plan Allah. Dan kita go with the flow saja.

Dan dalam satu ayat dikatakan bahwa dijadikan kita bersuku-suku berbangsa-bangsa agar kita saling kenal mengenali.

“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (al-Hujuraat: 13)

Pada akhirnya, yang namanya manusia kita harus berani untuk konsisten di salah satu corak. Bertindak sesuai dengan paradigma kita. Sekaligus menghargai pendapat rekan kita yang berbeda dengan kita pada urusan-urusan cabang. Dan menegaskan perbedaan kita pada orang-orang yang berselisih dalam urusan pokok. Tetapi jangan menghakimi, karena semua urusan Allah.

Karena bahkan Rasulullah SAW ditegur oleh Allah SWT karena beliau begitu berduka dengan ingkarnya kaumnya:

 “Dan jika perpalingan mereka (darimu) terasa amat berat bagimu, maka jika kamu dapat membuat lobang di bumi atau tangga ke langit lalu kamu dapat mendatangkan mukjizat kepada mereka (maka buatlah). Kalau Allah menghendaki, tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang jahil” QS Al-An’am : 36

Karena seperti cerita three kingdoms di atas tadi, bahwa segala sesuatu yang kita kira chaos sekarang ini, sebenarnya harmoni. Dalam ceritaNya sendiri.

Apakah syurga atau neraka untuk orang lain, mana kita tahu. Tugas kita adalah menyampaikan paradigma kita, dan memaklumi segalanya sebagai bagian dari plotNya, Maha Plot, The harmony we are living in.

 

catatan kaki:

 

[1] HR. al-Bukhari no. 946 dan Muslim no. 1770.

MENANGISI TANGISAN, MENERTAWAI TAWAAN

tantrumPada pojokan musholla, seorang wanita menangis tersedu-sedu, dan ditenangkan oleh rekan-rekan wanitanya yang lain yang juga sama-sama terisak.

Kejadian itu adalah sewaktu saya SMA dulu. Ceritanya, saya dan rekan-rekan remaja masjid mengusung satu orang rekan yang terpercaya untuk menjadi calon dalam bursa pemilihan ketua OSIS sekolah saya. Dan calon yang kami usung tersebut ternyata gagal menjabat ketua, kalah suara.

Kegagalan itulah, yang membuat saya dan rekan-rekan saya yang lain terutama para wanitanya begitu terpukul. Hingga beberapa orang rekan wanita terlihat menangis sesenggukan di pojok musholla.

Pandangan saya yang belia kala itu, menilai kesedihan kami adalah sesuatu yang murni dan mulia. Dalam pandangan kami, rekan yang diusung adalah dia yang kami anggap bisa mewujudkan kebaikan keislaman di sekolah. Sehingga kesedihan atas gagalnya seorang calon menjabat ketua OSIS kami anggap sebagai duka keislaman.

Sekarang kalau mengingat hal tersebut saya geli sendiri. Betapa pandangan keislaman saya waktu itu begitu kanak-kanak. Ya namanya juga anak SMA.

Boleh jadi, tindakan mengusung salah seorang calon untuk memajukan kepentingan keislaman di sekolah adalah tindakan yang elok. Dan rekan yang kami usung memang orang yang begitu terpercaya dan memiliki kepandaian. Tetapi setidaknya ada fakta yang saya pribadi luput waktu itu, yaitu fakta bahwa segala sesuatu sudah ada dalam plot ceritanya Tuhan, dan kita sama sekali bukan faktor penentu. Dan yang lebih nyata adalah bahwa yang kami sedihkan kala itu adalah kekalahannya. Tangisan adalah ekspresi dari keinginan menang yang tak kesampaian.

Saya tidak hendak membahas debat klasik tentang usaha dan takdir, tetapi satu hal yang sangat nyata adalah kita seringkali keliru dalam memandang. Kekeliruan itu terjadi apabila sebuah kejadian sudah membuat kita luput dari memandang ketetapannya Tuhan. Bahasa para arifin, kita terhijab oleh kejadian-kejadian hidup. Terhijab oleh kebendaan.

Duka mendalam kami waktu itu, duka pada sebuah kenyataan bahwa kami kalah, adalah duka yang “kebendaan.”  Dan duka yang kebendaan adalah bukan duka yang arif. Setidak-tidaknya itu duka yang kanak-kanak.

Sebuah duka, subjektif saya, akan menjadi arif apabila duka itu telah melintasi kebendaan. Jika tangisan yang keluar adalah tangisan haru sebab memandang pada pengaturan Allah. Manusia punya makar, dan Allah punya makar (rencana) pula. Dan Allah-lah sebaik-baik perencana.

Maka satu hal yang saya catat tebal sekarang adalah hati-hati menangis, (dan hati-hati tertawa juga tentunya). Sebisa-bisa mungkin tangis dan atau tawa adalah ekspresi yang “dewasa”, yang “arif”.

Teringat ulama-ulama silam, mengatakan bahkan istighfar kita, masih perlu diistighfari. Mengistighfari istighfar itu, secara subjektif saya pahami sebagai kontemplasi mereka dalam memahami ekspresi penyesalan dan tangis yang barangkali kanak-kanak, seperti yang saya dan rekan-rekan alami di atas tadi.

Ada satu hal yang kembali mengingatkan saya pada bahasan diatas. Saat saya bekerja sekarang, dan sedikit-sedikit kembali mengakrabi bahasan kimia science, saya teringat lagi dengan sebuah fakta sederhana bahwa pada tingkat mikro kita tahu bahwa segala hal pada tataran mikro itu tidak kita atur sama sekali.

Satu atom terdiri dari elektron yang mengelilingi inti atom yaitu gabungan proton dan neutron. Jumlah elektron yang berputar pada lintasannya mengelilingi inti; tak pernah kita atur. Geraknya tak kita atur.

Dan kalau kita membawa silogisme ini pada skala makro, apabila keseluruhan pranata kehidupan kita, pada level jaringan, organ, susunan molekul, kesemuanya itu adalah terdiri atas atom-atom yang tak pernah kita atur; maka sebenarnya kesimpulan premisnya ialah keseluruhan lakon hidup ini memang tidak pernah kita atur sama sekali.

WRITTEN. Tertulis, semua sudah tertulis.

Tapi memang harus hati-hati sekali membahas hal ini, karena banyak yang keliru memahami apa yang disampaikan para arifin mengenai hal ini.

Seorang sahabat, bertanya pada Rasulullah SAW, jika semua sudah diatur, lantas apa pentingnya usaha? Kalau begitu kita santai-santai sajalah.

Rasulullah mengatakan pada sahabat tersebut, jangan begitu. Simplenya “just do it” karena segala sesuatunya akan bergulir sesuai dengan apa yang sudah tertulis. Dan pasti berhikmah. Lakonono kata orang jawa.[1]

Tetapi ada adab-adab yang telah dituliskan ulama arifin dulu dan sekarang yang perlu kita catat dalam kaitannya dengan harmoni takdir ini.

Adab itu adalah hindarkan diri dari “tadbir”. Tadbir adalah memikirkan dan menetapkan hasil usaha. Seperti ungkapan hikmah dari Ibnu Athoillah berikut:

“Istirahatkan dirimu dari melakukan “tadbir” (mengatur urusan duniamu) dengan susah payah. Sebab, sesuatu yang sudah dijamin/diselesaikan oleh selain dirimu (sudah diurus oleh Allah), tidak usah kau sibuk memikirkannya.”

Sikap menghindarkan diri dari tadbir ini adalah sebuah adab batin kita dalam melaksanakan titah Rasul untuk go with the flow Dalam kehidupan. Berkebaikanlah, berlombalah, tetapi jangan menetapkan dan memikirkan kalau kita begini pasti begini. Jangan tadbir.

Jadi kurang lebih kalau kita susunkan, inilah sintesa itu:

Yang pertama adalah kepahaman bahwa sejak dari skala mikro atom, dan lebih kecil dari atom, sejatinya diluar kuasa manusia. Maka sesungguhnya segala yang makro (susunan dari jutaan trilliun dunia mikro) pastilah juga diluar kuasa manusia. Kesemuanya itu telah tertulis dalam rangka mengenalkan diriNya.

Yang kedua. Bahwa Rasulullah sudah berpesan. Go with the flow saja. Bukan santai-santai dan ongkang kaki. Just do apapun yang kita bisa lakukan dalam kerangka yang sudah tertuntunkan. Karena toh segala sesuatu akan bergulir sesuai dengan apa yang telah ditakarkan dan dituliskan. Tanpa ada yang terlupakan.

Yang ketiga. Dalam kaitannya dengan usaha kita untuk go with the flow seperti hadits Rasulullah tadi, kita tak elok untuk memikir-mikir, dan menetapkan bahwa kalau kita begini, maka pasti hasilnya begini. Itulah yang disampaikan Ibnu Athoillah dalam bahasannya tentang tadbir di atas. Dalam bahasa H. Hussien Abdul Latiff, beliau berpesan agar dalam kaitannya dengan usaha manusia kita jangan sibuk memikirkan, jangan sibuk menetapkan. Agar tak terjebak dalam duka mendalam yang kanak-kanak, seperti ilustrasi dimana saya dan rekan-rekan saya menangisi hal sederhana semisal kekalahan calon yang kami usung dalam bursa pemilihan ketua OSIS sekolah.

Dan yang terakhir barangkali tentang tangis dan tawa itu. Bahwa dalam segala susunan keseharian kita ini, akan banyak cerita tangis dan cerita tawa. Maka hati-hatilah dengan jebakan ekspresi emosional tersebut.

Sebuah tangis dan tawa yang kekanakan adalah tangis dan tawa karena terjebak pada hal yang kebendaan. Jika tangis dan tawa kita belum disebabkan karena rasa haru dan bahagia atas pengertian-pengertian tentang takdir dan “karya” Allah dalam geraknya alam ini; maka tangis dan tawa kita itu pun masih perlu diistighfari, kata para ulama.

Akhir kalam, saya rasa perlu kita kembali kutipkan pesanan Ibnu Qayyim Rahimahullah, bahwa siapapun saja yang benar-benar sudah terpandang pada kesempurnaan takdir dan mengerti tentang ejawantah asma dan sifat Allah SWT, justru akan semakin memohon ampun atas kekhilafan, dan mensyukuri kemudahan beribadah yang telah dikaruniakan padanya. Tidak akan membuat seseorang itu berkelit atas nama takdir.[2]

 

catatan kaki:

[1] Artinya: “Ali radhiyallahu ‘anhu berkata: “Pernah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalllam pada sebuah jenazah, lalu beliau berdiam sejenak, kemudian beliau menusuk-nusuk tanah, lalu bersabda:“Tidak ada seorangpun dari kalian melainkan telah dituliskan tempatnya dari neraka dan tempatnya dari surga”. Para shahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, kenapa kita tidak bersandar atas takdir kita dan meninggalkan amal?”, beliau menajwab: “Beramallah kalian, karena setiap sesuatu dimudahkan atas apa yang telah diciptakan untuknya, siapa yang termasuk orang yang ditakdirkan bahagia, maka akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan penghuni surga, adapun siapa yang ditakdirkan termasuk dari dari orang yang ditkadirkan sengsara, maka ia akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan penghuni neraka”. Kemudian beliau membaca ayat:

Artinya: “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa”. “Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga)”. “Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah”. QS. Al Lail: 5-7.

Imam Nawawi rahimahullah berkata:

Artinya: “Di dalam hadits-hadits ini terdapat larangan untuk meninggalkan amal dan bersandar dengan apa yang telah ditakdirkan, akan tetapi wajib beramal dan mengerjakan beban yang disebutkan oleh syariat, dan setiap sesuatu dimudahkan untuk apa yang telah diciptakan untuknya, yang tidak ditakdirkan atas selainnya”. Al Minhaj, Syarah Shahih Muslim., 16/196.

[2] “Sesungguhnya musyahadah seorang hamba terhadap hukum tidak menjadikannya meninggalkan upaya menyebut baik pada kebaikan atau menyebut buruk pada keburukan, karena keberhasilan yang telah diperolehnya dalam memahami makna hukum.” (Ibnu Qayyim Al Jauziyah, dalam bukunya “Qada dan Qadar”, mengutip pengarang buku Manazilus Sa’irin.)

Gambar ilustrasi dipinjam dari sini

MENJUJURI LEVEL DIRI

consciousness“Yang paling benar mimpinya adalah yang paling benar ucapannya.” Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW mengatakan hal tersebut.

Jika mimpi adalah apa-apa yang bergolak di “dalam” jiwa manusia, sedangkan ucapan atau perkataan adalah apa-apa yang terejawantah pada lisan “luar”nya manusia, maka baru saya mengerti inilah PR besar kita, yaitu mensinkronkan “dalam” dan “luar.”

Dan ternyata, spiritualitas dibangun atas dasar kejujuran seperti itu. Menjujuri peringkat diri. Mensinkronkan dalam dan luar.

Hal yang paling mudah adalah menilai orang lain. Sedangkan yang paling sulit adalah menilai diri sendiri. Dan agar dalam dan luar menjadi sinkron, harus dimulai dengan kejujuran menilai apa yang bergejolak di dalam batin kita sendiri.

Sebuah ketrampilan untuk “awas” dan mampu menjaga jarak mental bahkan pada diri kita sendiri. Menilai diri dan kecenderungan emosional, dan gerak-gerik fikiran sendiri secara objektif. Ternyata sangatlah penting dan mustahak.

Yang paling benar mimpinya adalah yang paling benar ucapannya; semakna dengan orang yang senantiasa mensinkronkan ucapannya (luarnya) dengan dialektika batinnya (dalamnya) otomatis akan menjadi orang yang jernih pandangan hatinya.

Kesinkronan antara dalam dan luar ini, agaknya dipahami benar oleh kalangan arifin. Dan saya tergerak menuliskan ini sebagai obrolan ringkas yang mengingatkan saya sendiri agar tepat dalam memandang.

TANGGA PERTAMA. Memaksa diri mengikuti apa yang telah diwajibkan. Bahwa segala hal dalam tatanan syariat adalah sesuatu yang dibuat untuk kalangan umum.

Artinya, manusia dalam berbagai level spiritualitasnya (dalam) haruslah memraktekkan hal syariat tersebut sebagai awalan melangkah di dalam peribadatannya (luar). Sholat wajib adalah wajib untuk Nabi, wajib untuk sahabat, aulia, orang shalih, penjahat, rampok, bandit, asalkan dia islam.

Itulah latihan pertama. Tangga kesinkronan pertama, bahwa syariat yang sudah Rasulullah SAW tetapkan (luaran) adalah wajib bagi segala level spiritualitas manusia (dalaman). Dan pada tangga pertama ini, berlaku sebuah rumusan sederhana, yaitu “memaksa luaran (amal ibadah) untuk mengikuti aturan yang telah ditetapkan, agar supaya spiritualitas batin (dalaman) mengikuti kemudian.”

TANGGA KEDUA. Setelah mempraktekkan tangga pertama. Tangga wajib yang harus ditempuh semua orang muslim dalam apapun tataran spiritualitasnya, maka ada tangga kedua

Tangga pensinkronan kedua adalah untuk jujur menilai spiritualitas kita (dalaman) agar tak terbawa nafsu untuk mengikuti pagelaran ketaatan (luaran) yang dilakukan oleh orang-orang shalih yang pencapaian mereka sudah luar biasa.

Misalnya Rasulullah dalam suatu kali pernah melarang seseorang untuk mendermakan lebih dari sepertiga hartanya[1], tetapi dalam kali lainnya Rasulullah SAW membiarkan sahabat Abu Bakar mendermakan keseluruhan hartanya hingga tak bersisa, dan Abu Bakar mengatakan bahwa dia tinggalkan Allah dan Rasulnya untuk keluarganya.[2] Cocok untuk Abu Bakar, tak berarti cocok untuk sahabat lainnya. Dan meniru amalan Abu Bakar, tanpa dilambari suasana batin seperti Abu Bakar, tidaklah elok.

Pada tangga yang ini, Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk jujur kepada level spiritualitas kita (dalam) dan mensinkronkan amalan lahiriah (luar) sesuai pada level dimana kita berada.

Contoh lainnya adalah, bahwa seorang awam boleh saja berdo’a dengan sangat literal kepada Allah SWT. Misalnya dia berdo’a dengan kata-katanya sendiri, “ya Allah anugerahkan padaku sebuah rumah, rumah yang sekarang begitu sempit dan masih ngontrak ya Allah.”

Karena tuntunan umumnya adalah ‘berdoalah, Allah akan jawab.’

Tetapi tangga keduanya adalah menjujuri yang “di dalam” agar seiring dengan yang di luar.

Maka Nabiyullah Musa a.s (seseorang yang kondisi ‘dalam’nya lebih tinggi daripada contoh pertama tadi) kita temukan berdo’a dengan do’a yang begitu isyarat, sama sekali tidak literal. “Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.”[3]

Itu do’a disaat beliau terasing di Negri Madyan, dalam pengejaran Fir’aun dan dalam kondisi sangat lapar.

Orang pertama pada paragraf sebelumnya berdo’a dengan do’a yang begitu polos, tetapi levelan Musa a.s do’anya ialah isyarat. Ini perkara menjujuri level.

Hingga pada puncaknya adalah orang-orang yang dikatakan “lupa berdo’a” karena sibuk mengingatNya.[4]

Tetapi kita mesti jujur, agar tak keliru jatuh dalam kondisi yang enggan berdo’a karena merasa level sudah tinggi.

Pendek kata, berdoalah apapun saja, karena tuntunannya adalah meminta itu boleh. Dan nanti, do’a kita akan mendewasa seiring pengertian-pengertian yang merasuk ke dalam diri kita. Sampai nanti Allah sendiri meletakkan kita pada level yang tidak meminta karena sibuk meningatNya.

Tapi jangan langsung meloncat kesana, karena pada Tangga kedua adalah urusan jujur menilai diri.

Karena setiap anak tangga mengharuskan adabnya terpenuhi. Tangga pertama adalah memaksa diri mengikuti tatanan. Tangga kedua adalah menjujuri diri, untuk melaksanakan yang sebatas pengertian yang kita dapatkan. Terbalik-balik nanti malah keliru.

Ibnu Athoillah As Sakandari dalam sebuah aforisma di Al-Hikam merangkum hal ini dengan sangat indah.

“Keinginanmu untuk ber-Tajrid ( Mengkhususkan ibadah dan meninggalkan usaha mencari rejeki)  sedangkan Allah menempatkanmu di dalam maqom al-asbab ( sebab akibat , melakukan usaha mencari rejeki) adalah termasuk ke dalam syahwat yang tersembunyi. Sedang keinginamu ke dalam maqom Al-asbab sedangkan Allah menempatkanmu ke dalam maqom Tajrid ,adalah suatu penurunan himmah atau semangat yang tinggi.”

Ibnu Athoillah berbicara mengenai tangga kedua itu tadi, menjujuri level diri.

Saya dengarkan petuah seorang arif kembali mengingatkan untuk menjujuri level diri ini dalam kaitannya dengan perbincangan mengenai takdir.[5]

Bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam raya ini tidaklah mungkin lepas dari takdir Allah SWT; sudah pasti. Tetapi seseorang yang berdalih atas nama takdir, dengan mengatakan bahwa kekhilafan yang dia lakukan itu adalah karena takdir Allah. Berarti dusta, kata beliau.

Apa pasal orang itu berdusta?

Orang itu tidak jujur pada level spiritualitasnya. Karena, orang yang benar-benar sudah terpandang pada pengaturan Allah dan memahami bahwa segala hal ada di dalam kuasanya Allah, maka orang itu akan semakin berlari menuju Allah. Dan pembelaan diri atas kekhilafan –alih-alih bertaubat- adalah penanda bahwa sebenarnya orang tersebut tidaklah berada pada level yang betul-betul terpandang pengaturan Allah akan takdir. Maka orang itu dusta, alias tidak berbicara (luaran) pada level yang benar-benar sama dengan yang terpandang pada hatinya (dalaman).

Ibnu Qayyim mengatakan hal yang sama pula, saat membahas mengenai kenapa Nabi Adam a.s boleh berhujjah atas nama takdir?

Karena yang terpandang pada Nabiyullah Adam a.s berbeda.

Kekhilafan, pada orang-orang yang benar-benar sudah sampai pada keterpandangan pada segalanya di tangan Allah; pastilah mengantarkan orang tersebut menuju pertaubatan.

Maka untuk orang-orang yang sudah benar terpandang pada pengaturan Allah seperti inilah, Yang mengisi kekhilafannya dengan pertaubatan inilah, yang jujur pada dalaman dirinya inilah, ungkapan ini menjadi punya bobot.

Kepada Nabiyullah Musa a.s yang menggugat Adam karena menyebabkan ummat manusia dikeluarkan dari syurga, adam berkata, “Bukankah kamu mendapatkan di dalamnya bahwa hal itu telah ditetapkan kepadaku sebelum aku diciptakan?”[6]

Maka saya rasa sangatlah benar sabda sang Nabi, orang yang sinkron dalam dan luarnya, ucapan dan yang didalam batinnya, akan benarlah pandangan hatinya.

Itu tentang jujur kepada diri.

 

catatan kaki:

[1] Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya At Taimi telah mengabarkan kepada kami Ibrahim bin Sa’d dari Ibnu Syihab dari ‘Amir bin Sa’d dari Ayahnya dia berkata:

Pada saat haji wada’, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang menjengukku yang sedang terbaring sakit, lalu saya berkata, Wahai Rasulullah, keadaan saya semakin parah seperti yang telah anda lihat saat ini, sedangkan saya adalah orang yang memiliki banyak harta, dan saya hanya memiliki seorang anak perempuan yang akan mewarisi harta peninggalan saya, maka bolehkah saya menyedekahkan dua pertiga dari harta saya? beliau bersabda: Jangan. Saya bertanya lagi, Bagaimana jika setengahnya? beliau menjawab:Jangan, tapi sedekahkanlah sepertiganya saja, dan sepertiganya pun sudah banyak. Sebenarnya jika kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya, itu lebih baik daripada kamu meninggalkan mereka dalam keadaan yang serba kekurangan dan meminta minta kepada orang lain. Tidakkah Kamu menafkahkan suatu nafkah dengan tujuan untuk mencari ridla Allah, melainkan kamu akan mendapatkan pahala karena pemberianmu itu, hingga sesuap makanan yang kamu suguhkan ke mulut isterimu juga merupakan sedekah darimu. Sa’ad berkata, Saya bertanya lagi, Wahai Rasulullah, apakah saya masih tetap hidup, sesudah teman-teman saya meninggal dunia? beliau menjawab: Sesungguhnya kamu tidak akan panjang umur kemudian kamu mengerjakan suatu amalan dengan tujuan untuk mencari ridla Allah, kecuali dengan amalan itu derajatmu akan semakin bertambah, semoga kamu dipanjangkan umurmu sehingga kaum Muslimin mendapatkan manfaat darimu dan orang-orang menderita kerugian karenamu. Ya Allah… sempurnakanlah hijrah para sahabatku dan janganlah kamu kembalikan mereka kepada kekufuran, akan tetapi alangkah kasihannya Sa’d bin Khaulah. Sa’d berkata, Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendo’akannya agar ia meninggal di kota Makah.

(Shahih Muslim : 1628 – 5 )

[2] diriwayatkan oleh Abu Daud dan Tirmidzi dari Umar bin Khathab . Ia berkata, “Rasulullah memerintahkan kami untuk bersedekah. Pada saat itu aku memiliki harta. Lalu aku berkata, ‘Hari ini aku akan dapat mendahului Abu Bakar. Lalu aku datang membawa separuh dari hartaku. Rasulullah  bertanya, ‘Tidakkah kau sisakan untuk keluargamu?’ Aku menjawab,’Aku telah menyisakan sebanyak ini.’ Lalu Abu Bakar datang dan membawa harta kekayaannya. Rasulullah  bertanya, ‘Apakah kamu sudah menyisakan untuk keluargamu?’ Abu Bakar menjawab, ‘Saya telah menyisakan Alloh dan Rasulullah  bagi mereka.’ Aku (Umar) berkata, “Demi Alloh, saya tidak bisa mengungguli Abu Bakar sedikitpun.”

[3] QS. Al-Qashash [28]: 24.

[4] Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tuhan Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “Barang siapa yang sibuk membaca Al Qur’an dan dzikir kepada Ku dengan tidak memohon kepada Ku, maka ia Aku beri sesuatu yang lebih utama dari pada apa yang Aku berikan kepada orang yang minta”. Kelebihan firman Allah atas seluruh perkataan seperti kelebihan Allah atas seluruh makhlukNya”. (Hadits ditakhrij oleh Tirmidzi).

[5] Arifbillah H. Hussien Bin Abdul Latiff

[6] “Adam dan Musa bertemu, Musa berkata kepada Adam; ‘Wahai Adam, engkaulah orang yang telah mencelakakan manusia dan mengeluarkan mereka dari surga.’ Lalu Adam ganti berkata kepada Musa; ‘Wahai Musa, Bukankah Allah telah memilihmu dengan risalah dan kalam-Nya (diajak bicara secara langsung), dan Allah juga telah menurunkan kepadamu Taurat? Musa menjawab; ‘Ya.’ Adam berkata lagi; Bukankah kamu mendapatkan di dalamnya bahwa hal itu telah ditetapkan kepadaku sebelum aku diciptakan? Musa menjawab: ‘Ya.’ Beliau bersabda: “Maka Adam dapat mengalahkan Musa.” (H.R. Bukhari No. 4367)

Gambar ilustrasi dipinjam dari link ini

 

SEPATU BALLY DAN HIKMAH YANG DILAMPAUI

ikannunRasanya banyak orang sudah sering mendengar tutur kisah Bung Hatta dan sepatu Bally. Sebuah sepatu yang diidam-idamkan Bung Hatta sang proklamator. Sejak dari sepatu itu beliau lihat di sebuah pertokoan luar negeri, beliau sudah kesengsem. Tetapi sepatu tersebut tak pernah berhasil terbeli oleh Bung Hatta, karena uang beliau selalu habis untuk kepentingan keluarga, dan diberikan kepada yang membutuhkan. Selepas pensiun pun beliau sangat kekurangan uang hingga sampai beliau wafat sepatu itu hanya jadi impian, dan baru ketahuan saat sang putrinya menemukan lipatan gambar sepatu bally pada diary Bung Hatta.

Cerita seperti yang dialami Bung Hatta itu tadi, mungkin juga pernah dialami banyak orang dengan segala varian ceritanya. Ada hikmahnya, tentu.

Dalam kasus Bung Hatta, cerita bahwa beliau bahkan tak pernah berhasil membeli sepatu yang diidam-idamkan karena pola hidup beliau yang sangat sederhana dan memang tak pernah memakan uang rakyat, akhirnya menjadi pinutur dimana-mana. Sebuah lambang keteladanan yang diputar ulang di mana-mana teks.

Proklamator, yang bahkan hingga akhir hayatnya kesulitan membeli sepatu. Atau proklamator, yang menyimpan potongan gambar sepatu pada lipatan diary-nya, dan tak pernah berhasil membeli sepatu itu karena hidupnya yang bersahaja.

Ada kejadian, ada hikmah….Itu sebuah rumusan yang diterima oleh siapapun saja, oleh hampir semua orang dengan falsafah pemikiran yang bagaimanapun saja.

Tetapi, ada satu hal yang saya sekarang baru memahami, bahwa cara orang arif memandang kehidupan adalah dengan mempercayai kebaikan kehidupan bahkan pada saat hikmah belum lagi tersingkapkan.

Ini berbeda dengan saya dulu, dimana saya selalu berusaha mencari hikmah atas segala sesuatu yang terjadi. Proses saya mencari-cari hikmah atas sesuatu yang terjadi itu, baru belakangan saya mengerti, adalah timbul dari niatan untuk berdamai dengan kesulitan hidup.

Sebuah kesulitan hidup yang membadai, tentunya akan menjadi lebih enak dijalani jika saya bisa mencari-cari kira-kira apa hikmah dari kesulitan hidup itu?

Hal itu tentu saja baik sekali. Akan tetapi, barulah setelah mendengar wejangan seorang Arif[1] saya mengerti sebuah kebijakan lainnya, bahwa seringkali hikmah sesungguhnya dari sebuah kejadian itu baru akan terungkap setelah berbilang-bilang masa.

Umpamanya saja, contoh cerita Bung Hatta dan sepatu Bally tadi, saat ini kita bisa menikmati cerita itu sebagai sebuah sajian yang utuh. Ada kesulitan hidup yaitu “drama” dimana sang proklamator besar kita menyimpan gambar potongan koran sepatu idaman pada lipatan diary-nya, tetapi tak terbeli hingga akhir hidupnya.

Dan ada pula “hikmah”, yaitu epik keteladanan, dimana kisah Bung Hatta tersebut menjadi viral dan ikon kehidupan yang murni, jernih, tidak ada kepentingan. Dan tempat orang-orang mengaca diri.

Tetapi itu sekarang. Berpuluh tahun, bahkan beratus tahun kemudian baru hikmahnya terungkap.

Sedangkan pada saat Bung Hatta mengalaminya, ianya hanya menjadi sebuah kejadian saja, kejadian yang menggantung.

Ok, saya pengen sepatu, saya simpan gambarnya pada diary saya, saya sibuk memikirkan bangsa, saya kesulitan keuangan, dan sampai akhir hayat saya urusan sepatu pun menjadi terlupakan dan terlalu remeh dibanding urusan yang lain. Dianya menjadi ceritra yang menggantung, bukan?

Karena memang begitulah rupanya seni takdir. Ternyata, masih mengutip dari wejangan guru yang arif, tidak semua hikmah bisa kita bongkar seketika.

Maka ketiadaan (keghaiban) hikmah dari pandangan kita yang pendek, saat ini, tidak menjadikan sebuah kejadian hidup itu menggantung. Ianya tetap tidak lepas dari sketsa takdir Sang Alimul Hakiim. Maha berilmu, lagi Maha Bijaksana.

Dan keseluruhan kisah orang-orang arif, aulia, para Nabi, adalah kisah panjang menjalani kehidupan dalam ending yang masih belum lagi dimengerti hikmahnya.

Yunus Bin Matta, selamat dari perut ikan dan dikembalikan pada kaumnya yang telah bertaubat, tetapi pada saat Yunus berada di dalam perut ikan, kisah itu masih ghaib hikmahnya, bukan?

Yunus kesal pada kaumnya yang degil dan tak mau-mau juga mendengar pesan-pesan kebaikan, lalu meninggalkan kaumnya yang seperti sudah tak ada lagi kemungkinan untuk berubah menjadi baik, eh tahu-tahu dicemplungkan ke dalam lautan dan dimakan ikan.

Saat meringkuk di dalam perut ikan itulah, gelap, bersalah, tak bisa kemana-mana, dan segala hal yang kalau kita membayangkan suasananya maka konteks waktu itu menjadi konteks yang menggantung. Opoooo maksude? Hikmahnya belum lagi terungkap.

Dan inilah tips saat kita sedang berada dalam fase seperti Yunus a.s, kata sang guru, duduk “diam” dalam ingatan kepada Allah SWT, Jangan sibuk mencari hikmah!

Dulu saya tak paham, kok ndak boleh cari hikmah sih? Belakangan saya baru mengerti, pesanan itu dalam artian bukan kita tak percaya bahwa kehidupan itu berhikmah. Melainkan, orang-orang arif ingin mengajak kita naik level, dengan menjadi orang yang mempercayai kebaikan Tuhan pada saat kebaikan itu, hikmah itu, bahkan masih ghaib dari pandangan manusia yang terbatas.

Setelah masa pubertas spiritual dilakoni, yaitu mencari-cari hikmah untuk meyakini kebijaksanaan Allah SWT, kita harus memasuki masa dewasa yaitu diam didalam kebaikan sangka pada Allah SWT.

Dan inilah yang saya baru mengerti. Dan memang butuh waktu untuk men-switch kebiasaan. Dari yang sebelumnya agak sulit menerima kenyataan, dan sibuk cari hikmah, cari hikmah, cari hikmah, cari lagi sampai puyeng…. Kira-kira kenapa begini, kenapa begitu? Apa hikmahnya? Semakin belum ketemu semakin bingung sendiri.

Karena ketiadaan hikmah, atau ghaibnya hikmah dari pandangan saya, membuat jiwa saya gundah gulana. Dan kegundahan itu, dulu, hanya bisa saya lipur dengan kebendaan lagi, yaitu hikmah hidup. Hikmah pun kebendaan.

Ternyata, level berikutnya menurut orang-orang arif, adalah menerima kejadian hidup karena keyakinan bahwa kejadian apapun tak akan lari dari dinding takdirnya. Yang digores oleh Yang Maha Berilmu, lagi Maha Bijaksana.

Maka saat situasi memburuk, seperti ditelan ikan NUN, jangan mencari kebendaan (hikmah) untuk menenangkan diri kita. Tetapi bina kembali kedekatan pada Tuhan, karena hikmahnya boleh jadi kelihatan sekarang, boleh jadi besok lusa, boleh jadi setelah kita tiada. Tetapi dengan berlari menuju Tuhan, kita sudah meloncati kebendaan, dan menjadi tenang karena sangka yang baik terhadap Tuhan. Tenang yang tidak bersandar pada kebendaan.

Inilah level yang lebih tinggi, dan memang easier said than done, kata orang. Tetapi setidaknya kita tahu apa yang harus dicoba.

Dan ternyata, dengan sikap yang meloncati kebendaan seperti inilah, maka hikmah itu acapkali turun dengan sendirinya, seperti insight yang datang tanpa sibuk dicari-cari.

Mungkin inilah yang semakna dengan IQRA BI ISMI RABBI, duduk diam dalam ingatan pada Allah, Bi ismi Rabbi dulu, dan kemudian membaca hidup dalam kondisi yang terpaut dengan Tuhan, maka hikmah akan diajarkan. Tapi hati sudah lebih dulu meloncati kebendaan.

 

catatan kaki:

[1] H. Hussien Abdul Latiff

Gambar ilustrasi saya pinjam dari link ini

DUKA DARI BELANTARA ILMUNYA

forest“Duka mendalam pada intelektualitas”, saya temukan kalimat itu pada sebuah laman dunia maya. Pasalnya apa? Pasalnya adalah saat kemarin musibah besar asap, ada himbauan untuk bersama-sama melakukan sholat istisqha, meminta hujan. Himbauan meminta hujan itulah yang dianggapnya sebagai sebuah cacat bagi intelektualitas. Ternyata, berdoa dan sholat istisqha dianggap sebagai perbuatan yang tidak masuk akal. Mestinya adalah langkah konkrit.

Saya mengernyitkan dahi, dan tiba-tiba teringat akan sebuah fakta lagi. Yaitu kenyataan dimana banyak sekali kalangan menafikan dimensi batinnya islam.

Dalam sebuah hadits, kita tahu bahwa seorang sahabat menggunakan Al Fatihah sebagai do’a untuk menyembuhkan seseorang yang digigit kalajengking. Dan hal tersebut dibenarkan pula oleh rasulullah SAW.

Logika kebanyakan adalah bahwa do’a adalah berseberangan dengan langkah konkrit. Itu sebab berdo’a, atau mendo’akan dengan ayat Qur’an adalah duka juga bagi intelektualitas.

Sebenarnya, kita tentu paham bahwa dengan mengakui bahwa do’a merupakan salah satu hal yang tertuntunkan juga untuk urusan sembuh-sakit; kita tidak lantas beramai-ramai menyuruh setiap orang meninggalkan rumah sakit lalu menjampi dengan Al Fatihah, tentu konyol.

Tetapi ini satu point pentingnya, pointnya adalah bahwa dengan terus menerus menggerus dimensi batin dalam beragama, lambat laun orang akan merasa bahwa Tuhan hanyalah sebuah entitas yang jauh di dalam buku-buku agama, dan Tuhan hanya sebagai retorika. Tuhan, tidak berkaitan dengan kehidupan kita, yang berkaitan hanyalah hukum-hukum alam yang terbukti secara empiris. Jika do’a yang dianggap sebagai inti peribadatan, dimensi batinnya ritual agama, sudah dianggap sebagai sisi yang berseberangan dengan intelektualitas, bagi saya, malah inilah duka mendalam sebenarnya.

Saat seseorang mengalami kesulitan keuangan, kemudian dalam perkara kesulitan keuangan itu dia tidak menemukan Tuhan. Atau dia tidak percaya bahwa Tuhanlah yang punya andil dalam rizkinya. Orang seperti ini, pandangannya terbentur pada sesuatu yang tampak mata semata. Padahal, sekian ratus variabel kalau mau ditilik, itu berkelindan menjadi satu sebagai jalan untuk mengucurkan kita rizki.

Umpamanya saja, kita gajian setiap awal bulan, dan gajian itu dilakukan secara sistem otomatis perbankan. Maka untuk memastikan kita gajian setiap awal bulan, berarti keseluruhan tata sistem komputer, bahasa programnya, berikut karyawan pada keseluruhan lini perbankan itu harus tidak ada yang error. Satu kesalahan kecil saja, maka kita urung gajian.

Atau kita sudah gajian, tetapi hujan deras dan satu-satunya ATM terdekat sedang habis uangnya maka kita tak bisa mengambil dana tunai sedangkan ada keperluan mendesak.

Hujan, sisa uang di ATM, dan keseluruhan variabel di dunia perbankan, dan bahkan gerak atom di dalam diri kita, adalah variabel yang tak bisa manusia setir. Dan itulah yang disebut grand design oleh para ilmuwan. Bahkan para ilmuwan pun mengakui bahwa kehidupan seperti soap opera. Semua sudah terlalu rapih disusun.

Jadi bukan perkara apakah sholat istisqha manjur atau tidak, atau apakah jampi al fatihah cespleng atau tidak, pun bukan perkara apakah garam yang ditebar dengan pesawat bisa memancing hujan atau penawar racun dari dokter bisa menyembuhkan sengatan kalajengking. Bukan itu…karena semua itu kebendaan.

Silakan sholat minta hujan. Silakan juga pakai pesawat menebar garam pada awan-awan. Tak ada masalah.

Tetapi, duka mendalam itu adalah saat di dalam segala variabel yang kompleks itu, kita tidak menemukan Tuhan.

Jika dalam istisqha kita menemukan kesaktian diri, dan dalam menebar garam melalui pesawat kita terpandang sebatas hukum alam. Itulah duka mendalam.

Tapi mau tak mau, pelatihan untuk memandang melampaui kebendaan itu harus didawamkan lewat do’a yang merupakan intinya ibadah. Perhubungan yang pribadi dengan Tuhan.

Saya kembali teringat dengan pencarian Imam Ghozali. Dalam bukunya Al-Munqidz Min Adh Dhalal beliau menceritakan petualangan pengembaraan intelektualnya dimana beliau menggali kebenaran dan berusaha “menemukan Tuhan” lewat sains, lewat filsafat, dan lewat ilmu kalam, tetapi akhirnya menyerah.

Yang ditentang beliau bukanlah ilmunya, tetapi sebuah kenyataan dimana saat beliau berupaya “menemukan Tuhan” lewat sains, filsafat, kalam, tetapi semua itu gagal membuat beliau menyaksikan Tuhan, dalam tanda kutip.

Hingga pada akhirnya beliau menempuh jalan Uzlah, dan memperbanyak ibadah dan mendekati Tuhan, lalu barulah terbuka insight dan beliau mengerti tentang begitu banyak hal.

Inilah yang akhirnya menjawab kebingungan saya, kenapa orang-orang yang belajar banyak ilmu, malah pendapatnya semakin banyak aneh-anehnya? Ternyata karena mereka memulai pencarian dari yang jauh dulu. Ilmu.

Apapun ilmunya, sejatinya adalah sesuatu yang begitu jauh dari kita. Memulai pencarian dengan bergantung kepada ilmu, maka akan mengalami keputusasaan seperti yang ditemukan Imam Ghozali. Barulah setelah beliau switch metoda dengan mendekati Allah terlebih dahulu, insight terbuka buat beliau.

Hal ini tidak berarti mengesampingkan ilmu. Karena, ilmu apapun bentuknya, saya rasa adalah hasil dari IQRA-nya manusia terhadap fenomena-fenomena alam. Tetapi untuk IQRA, sudah ada pakemnya.

Iqra, bismirabbikalladzi kholaq. Bacalah, dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Maka bacalah apa saja, asalkan bismirabbika.

Jika kita membaca dengan semangat bismirabbika, berarti kita memulai dari sesuatu yang dekat terlebih dahulu. Mendekati Tuhan, untuk kemudian membaca kehidupan ini, atau kembara keilmuan ini, dengan namaNya. Maka Allah yang akan menuntun kemana ilmu semestinya kita jelajahi.

Maka kita temukan ada orang desa yang tak perlu sekolah tinggi-tinggi tetapi “menemukan” pengaturan Tuhan dalam liuk-liuk batang padi di sawahnya yang menguning. Dan ada pula seperti Al Ghazali, yang “menemukan Tuhan” justru setelah kembara keilmuannya mentok.

Ilmu, itu kebendaan. Menelusuri belantara ilmu berarti menelusuri alam kebendaan. Pengertian-pengertian akan keTuhanan, ternyata, menurut orang-orang arif, ialah melampaui kebendaan.

Hanya jika kita menemukan diri kita sebagai yang tidak berdaya, maka barulah pandangan kita akan melampaui kebendaan dan menemukan fakta bahwa DIA-lah yang maha berdaya.

Ibnu Athoillah menyederhanakan ungkapan ini dengan mengatakan “jangan bersandar pada amal,” karena bahkan amalpun kebendaan. Atau singkat kata, persandaran kepada Allah mesti dimulai sejak awal. Bismirabbika. Latihan meloncati kebendaan.

Jebakannya adalah, orang yang menelusurui belantara keilmuan, tanpa sikap bismirabbika maka tak akan dia temukan apapun pada belantara keilmuan itu selain dari dirinya semata.

Semakin dia mengembara keilmuan, semakin tidak dia temukan Tuhan dalam kehidupannya. Karena yang dia temukan hanyalah keteraturan pada hukum-hukum alam.

Yang tak memulai kembara keilmuannya dengan bismirabbika, dijamin tak bisa IQRA dengan benar. Pintar boleh jadi, tetapi semakin pintar dirinya, semakin hanya dirinya saja yang dia temui dalam pengarungan ilmunya.

Beda kasus dengan Imam Ghazali yang berangkat dari keilmuan saintifik dan filsafat, lalu putar haluan dan memulai dengan bismirabbika, pada akhirnya kembali dia menemukan hikmah dari lautan ilmu yang sudah dia arungi sebelumnya.

Maka harus dimulai dari mendekati Yang Punya Ilmunya dulu. Jangan mencari dengan skema terbalik. Pembuktian dengan skema terbalik akan menyusahkan diri sendiri. Kalaupun berhasil menyaksikan pengaturan Tuhan lewat skema terbalik seperti itu, dijamin perjalanan akan sangat lama.

Ini contoh saja tentang skema terbalik. Skema terbalik pertama, adalah orang yang mencari ilmu, observasi ke luar dirinya, tetapi tidak dalam sikap bismirabbika. Maka hasil IQRA-nya hanyalah menemukan kehebatan dirinya saja, menemukan keruwetan sekaligus keteraturan hukum-hukum alam semata. Semakin menemukan kebesaran diri sendiri, semakin tak bisa melewati kebendaan.

Contoh kedua, juga sama, ini skema terbalik juga. Yaitu orang-orang yang mencari, observasi ke dalam dirinya, tetapi menggunakan skema terbalik.

Jika berkenan, kita bermain sejenak. Coba rekan-rekan berhenti berfikir. Sekarang! Sekarang juga!

Bisa tidak?

Satu menit? Dua menit? Lima menit bisa?

Semakin kita ingin mencoba berhenti berfikir, maka fikiran itu akan mendatang dengan sendirinya. Pada jenak itu, kita akan mengerti bahwa ada “yang mengamati” dan ada “yang diamati” atau fikiran-fikiran yang mendatang itu.

Orang-orang yang mencari “ke dalam dirinya”, berangkat juga dengan observasi logis itu, yaitu mengamati fenomena pikiran dan perasaannya sendiri. Yang datang dan pergi.

Maka menyibukkan diri dengan mengamati fenomena fikiran dan perasaan yang datang dan pergi, tanpa ada bismirabbika juga sama saja dengan mengarungi belantara kebendaan tadi.

Ada memang, sebagian orang yang mengamati fikiran dan perasaannya sendiri berpuluh tahun sampai pada level yang menakjubkan. Dan pada akhirnya “anggaplah” tercerahkan, dan  sampai pada sebuah kesimpulan bahwa Pemilik Semesta ini adalah sesuatu yang bukan ini, bukan itu, bukan segala sesuatu.

Tetapi bukankah kesimpulan itu sudah sejak lama ada di dalam surat Al Ikhlas?

Pada intinya, apakah kita menelusuri belantara kebendaan lewat observasi pada sesuatu yang ada di luar diri kita, dan dengan itu manusia memperoleh ilmu yang macam-macam. Atau apakah kita menelusuri belantara fikiran dan perasaan di dalam diri kita sendiri, yang kita observasi berpuluh-puluh tahun dan dengan itu manusia memperoleh kemampuan untuk lebih aware dan mindfulness. Semuanya sama-sama ilmu.

Dan kalau flow-nya keliru, ilmu-ilmu malah tidak membuat kita yakin bahwa ada Tuhan didalam kehidupan manusia ini. Karena dalam pengembaraan kita, yang kita temukan hanyalah diri kita sendiri saja.

Misalnya kita belajar, lalu semakin belajar kita semakin menyangsikan Tuhan, mungkin kita sudah belajar dengan skema terbalik selama ini. Tak ada bismirabbika di awalnya.

Atau sisi lainnya. Kita beribadat, tapi semakin beribadat semakin tak kita temukan kekecilan diri, melainkan kita temukan kehebatan dan kemampuan bargaining antara diri kita dan pahala dari Allah. Maka ini pun keliru. Tak ada bismirabbika juga pada perjalanan kita.

Ternyata kata guru-guru, mulailah dari mendekat kepada yang paling dekat dan lebih dekat ketimbang urat leher kita sendiri. Baru setelah itu kita boleh IQRA apapun saja. Asalkan bismirabbika.

Karena nanti DIA sendiri yang menuntun kita, kemana belantara ilmuNya harus dikembarai

 

MENGHAMBA PADA YANG MAHA KAYA

qanaah4

Dalam persepsi saya yang prematur, dahulu, saya mengira bahwa sikap zuhud dan kekayaan alias harta benda pastilah berseberangan.

Padahal, tak mungkin bisa zuhud, kalau tidak “belajar melompati kebendaan”

Hal ini satu permisalan dengan orang yang tidak pernah berjibaku dengan kerja nyata dalam levelan apapun, akan sulit memahami makna “lillah” (untuk Allah). Makna Lillah, kerja “untuk Allah” hanya bisa direnungi oleh orang-orang yang memang bekerja atau melakukan sesuatu. Dalam tataran apapun harus ada kerjanya dulu, barulah pemaknaan terhadap suatu pekerjaan bisa dibicarakan. Maka bekerja tidaklah berada pada level yang berseberangan dengan keikhlasan. Tetapi, keikhlasan adalah dimensi yang melampaui pekerjaan, perbuatan.

Sebegitu juga dengan sikap zuhud. Zuhud adalah dimensi yang melampaui benda. Untuk menjadi zuhud, harus ada yang dilampaui dulu, artinya harus ada yang sesuatu yang ditinggalkan. Maka zuhud adalah orang yang meninggalkan dunia, bukan ditinggalkan dunia.

Orang miskin bisa zuhud, orang berada pun bisa zuhud, karena zuhud bukan pada bendanya, tetapi pada persepsi yang melampaui kebendaan.

Saya tergerak menuliskan hal ini, karena saya teringat dengan sebuah anggapan keliru saya dulu. Persepsi keliru itu adalah meletakkan kekayaan atau benda-benda pada sisi yang menegasikan sikap zuhud. Sehingga jika saya meminta benda, meminta harta, maka sikap zuhud saya seolah telah lacur. Padahal, benda dan harta adalah sebuah makhluq yang netral saja, persepsi manusialah yang membuat mereka menjadi punya nilai.

Belakangan saya baru mengerti dalam pengelompokan persepsi ini.

Persepsi pertama adalah orang-orang yang mengidolakan harta, lantas menjadi tamak dengannya. Ini jelas-jelas keliru.

Tetapi ada persepsi yang kedua, yaitu orang-orang kikuk terhadap harta. Orang yang terlalu memandang harta sebagai sesuatu yang wah, sehingga dengan pandangannya yang keliru itu, mereka mengira Tuhan akan keberatan jika dimintai tolong mengenai harta. Karena harta adalah sesuatu yang wah.

Disinilah, pada kutub orang-orang yang kikuk dengan benda-benda inilah, dimana dulu saya sempat berada, dan ini luar biasa kelirunya. Karena saya tanpa sengaja telah menciderai kepercayaan bahwa Allah SWT adalah Al Ghaniy, Yang Maha Kaya.

Dulu, seandainya di dalam kehidupan ini saya menghadapi masalah keuangan, maka saya enggan berdo’a. Enggan berdo’anya saya dulu adalah bukan karena sebentuk keyakinan bahwa rezeki saya sudah dijamin Allah. Enggan berdo’a nya itu adalah karena saya menganggap bahwa meminta urusan dunia adalah meminta sesuatu yang wah.

Imbasnya tanpa saya sadari saya berprasangka buruk kepada Allah. Kesulitan di dalam urusan kebendaan membuat saya mengira bahwa Allah SWT sedang tak suka dengan saya. Karena, Allah sedang tidak memberikan sesuatu yang “wah” pada saya.

“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu Dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, Maka Dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya Maka Dia berkata: “Tuhanku menghinakanku“. (QS. Al Fajr: 15-16)

Persepsi kita yang berlebihan terhadap harta, lalu secara gegabah mengatakan bahwa Allah sedang benci atau marah pada kita sehingga kita kesulitan dalam urusan kebendaan; adalah keliru. Karena apa? Karena Allah adalah Yang Maha Kaya, sehingga bagi DIA, tak ada kesulitan dan tak ada harga sama sekali apakah memberikan banyak atau memberikan sedikit itu sama saja. Bukan ukuran anugerah.

“Wahai hamba-Ku, seandainya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang belakangan serta semua jin dan manusia berdiri di atas bukit untuk memohon kepada-Ku, kemudian masing-masing Aku penuh permintaannya, maka hal itu tidak akan mengurangi kekuasaan yang ada di sisi-Ku, melainkan hanya seperti benang yang menyerap air ketika dimasukkan ke dalam lautan.” (HR. Muslim no. 2577, dari Abu Dzar Al Ghifari.

Jika benda-benda sejatinya bukan ukuran anugerah, jadi yang mana ukuran anugerahnya itu? Barulah belakangan saya mengerti, anugerah sejati adalah pergeseran paradigma, atau persepsi terhadap kebendaan itu sendiri.

Orang yang dengan kesulitan hidupnya lalu dia bergerak meminta pertolongan Allah, dan dengan itu dia menyadari kefakirannya, lalu menemukan fakta bahwa Allah sejatinya adalah Yang Maha Kaya, dan dengan itu dia merasa aman dalam jaminan Allah. Itulah anugerahnya. Anugerah pengenalan.

Dan bisa saja, anugerah pengenalan itu diterbitkan dari situasi kesulitan kebendaan yang pada akhirnya memaksa kita untuk memohon pertolongan dari Sang Pemilik Sejati Kekayaan. Yang Maha Kaya.

Orang yang kita anggap miskin, boleh jadi memiliki hajat kepada Allah untuk urusan makan sehari-hari. Dengan hajat itulah, dia meminta tolong pada Allah, dan menemukan makna Al Ghaniy. Maka orang ini menjadi zuhud, jika dalam benaknya yang berputar-putar adalah jaminan dan pertolongan Allah, bukan mengenai nasi.

Orang yang kita anggap kaya, boleh jadi memiliki hajat kepada Allah untuk urusan perusahaannya yang terancam collapse. Dengan hajat itulah, dia meminta tolong pada Allah, dan menemukan makna Al Ghaniy. Maka orang ini menjadi zuhud, jika dia melampaui kecemasan kebendaan dengan selalu kembali pada jaminan Al Ghaniy.

Dan ini satu point menariknya, adakah orang yang kaya dibandingkan dengan Al Ghaniy-nya Allah? sejatinya semua kita ini miskin papa.

Hingga pada akhirnya yang penting bukan hartanya. Yang penting adalah keyakinan bahwa saat kita terbentur pada urusan apa jua, kita punya tempat kembali. Yaitu Allah SWT.

Saya mencatat, kenapa saya dulu memiliki persepsi keliru terhadap benda. Antara lain karena kurangnya journey outward.

Jika journey inward, perenungan ke dalam, membuat kita menjadi peka dan awas terhadap perubahan dan gejolak emosional serta gerak-gerik fikiran kita sendiri. Maka Journey inward semata tanpa journey outward akan timpang.

Karena memiliki sebuah kesadaran yang “awas” semata, tanpa pelajaran dan hikmah yang bisa dicecap, adalah sia-sia.

Akan tetapi, jika kita membaca kehidupan ini lewat journey outward yang dilakukan dalam kondisi menjaga ingatan pada Allah (hasil dari journey inward), hal itulah yang akan memberikan kita begitu banyak pelajaran, antara lain mengenalkan kembali pada kenyataan bahwa Allah adalah Yang Maha Kaya.

Bahwa perenungan “ke dalam” memiliki porsinya sendiri di dalam islam; YA. Tetapi perenungan “ke dalam” semata tanpa melakukan “safar” atau perjalanan ke luar dirinya tidaklah komplit. Seseorang tidak akan mendapatkan makna-makna kehidupan secara utuh jika tidak mencecap perhubungan dengan dunia di luar dirinya.

“Apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Jumu’ah: 10)

Setelah sholat, dan membangun kekuatan internal, maka step berikutnya adalah bertebaran di muka bumi dalam rangka IQRA’, membaca kehidupan, mencari karunia Allah, sembari mengingati Allah. Maka kita akan beruntung.

Ayo sejenak journey outward. Tengoklah ada berapa planet di dalam galaksi kita saja. Menurut ilmuwan, ada sekira 100 billion planet di dalam galaksi kita saja.[1] itu baru galaksi kita. Dan jika kita kalikan secara kasar saja dengan seribu, entah sudah berapa planet. Itu baru kali seribu, padahal entah ada berapa galaksi.

Pointnya sederhana saja. Hanya dengan membaca kehidupan ini sajalah kita akan mendapatkan pengertian dan realita dari Asma-Nya Al Ghaniy. DIA Maha Kaya. Jika dalam ber billion planet itu ada ber-billion kehidupan yang setiap kehidupan itu dijamin olehNya.

Itu sebab memandang wah pada harta dan benda-benda adalah serupa dengan mengerdilkan Allah. Tetapi sebaliknya, sikap menggilai harta dan kekayaan adalah sikap menghamba pada kebendaan yang memang kerdil.

Anugerah terbesar ternyata adalah dengan selalunya kita kembali kepada Allah dalam apapun saja permasalah hidup –termasuk kesulitan kebendaan- yang pada gilirannya membuat kita menyadari makna kefakiran, dan akhirnya menemukan fakta bahwa Dia-lah pemilik kekayaan.

Pada akhirnya, kebutuhan dunia, membuat kita belajar meninggalkan dunia, karena menemukan Pemilik Dunia.

Saya kutipkan tulisan indah dari foto seorang penjual buah-buahan di atas, “Bagaimana aku takut dengan kefakiran, sementara aku adalah hamba Allah Yang Maha Kaya”

 

catatan kaki:

[1] “There’s at least 100 billion planets in the galaxy—just our galaxy,” says John Johnson, assistant professor of planetary astronomy at Caltech and coauthor of the study, which was recently accepted for publication in the Astrophysical Journal. “That’s mind-boggling.” http://www.voanews.com/content/galaxy-100-billion-planets-caltech/1577962.html

Gambar ilustrasi saya pinjam dari sini

LUBER KE DALAM KENYATAAN

to-overflowAnak saya begitu lekat dengan istri saya. Padahal, yang lebih sering marah pada anak saya ya istri saya, hehehe, kalau saya jarang-jarang marah… Tetapi tetap saja anak saya sangat dekat pada istri saya.

Kalau dengan saya, hanya sekitar beberapa menit bermain, setelah itu biasanya bosan dan kembali mencari Ibunya.

Saya tertarik dan mencoba mengamati fenomena ini. Lalu saya baru menyadari bahwa saya bukanlah orang yang ekspresif. Dalam artian, bahasa seorang lelaki cenderung terlalu logis dan tidak melibatkan perasaan.

Rasa sayang, bagi seorang yang tidak ekspresif seperti saya, mungkin adalah bahwa saya memikirkan bagaimana nanti biaya ini dan itu untuk anak saya, tetapi fikiran dan perhatian itu tidak pernah mewujud dalam bentuk yang bisa dimengerti oleh sang anak. Dan ini belakangan baru saya sadari sebagai sebuah kekeliruan.

Rasulullah SAW bersabda, bahwa jika kita mencintai seseorang, maka katakan kepada seseorang tersebut bahwa kita mencintainya.[1]

Beberapa hadits yang saya kutip memang berbicara mengenai cinta pada sahabat, cinta karena Allah. Mungkin tak terlalu relevan untuk dijadikan ilustrasi dalam hal yang general. Tetapi idenya saya rasa sangat penting. Yaitu, bahwa “sesuatu yang berada dalam dimensi batin, mau tak mau harus diwujudkan di alam syahadah, alam kenyataan, barulah makna yang berada dalam dimensi batin itu menjadi utuh.”

Sholat misalnya, dimensi batinnya sholat saya rasa adalah perhubungan dan curhat pada Allah SWT. Akan tetapi, makna batin di dalam sholat itu dipungkasi dengan “salam,” yang menebar bukti pada alam kenyataan.

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al Jumu’ah: 10).

Setelah menguatkan dimensi batin dalam shalat, maka “sholat yang ekspresif” ternyata adalah sholat membuat kita bertebaran di muka bumi selepas itu.

Dan inilah PR besar bagi saya, yaitu menjadi orang yang ekspresif.

Dalam pemahaman yang lebih spiritual, menjadi ekspresif adalah juga berarti bahwa apapun yang bergolak di dalam dimensi wacana batin saya, haruslah digenapi dengan terzahirnya amalan pada sisi lahiriahnya.

Tak mungkin kita mengatakan kita merasa dekat pada Allah, tetapi kita tidak sholat. Atau dalam lain bahasa, tak mungkin kita dekat pada Allah, jika kedekatan dalam dimensi batin itu tidak sampai memaksa kita untuk tersujud dan bersholat.

Ibnu Athoillah mengatakan bahwa Beraneka warna jenis amal perbuatan, karena beragam pula ahwal.

Ahwal, adalah situasi ruhani. Kondisi hati. Dimensi batinnya. Tetapi ahwal yang benar-benar dalam, pastilah membuat seseorang itu tak kuat untuk menahan laju ahwal itu menjelma menjadi kenyataan di alam syahadah.

Orang yang benar-benar takut kepada Allah, seperti yang sering kita dengar dari cerita para guru, mereka sampai mengigil dan bergetar kulit mereka. Atau seperti yang Rasulullah SAW alami yaitu sholat dengan dada bergemuruh.

Dada yang bergemuruh, kulit yang mengigil dan gemetar adalah ejawantah dari dimensi batin rasa takut. Rasa takut yang dalam yang tidak mungkin untuk tidak terekspresikan di alam kenyataan. tak bisa dibuat-buat, tetapi begitu dia ada, maka pasti berimbas pada alam nyata.

Dan lebih jauh saya barulah mengerti, bahwa sebagai manusia, mengekspresikan dimensi batin kita dalam lahiriah amal yang nyata itulah keseluruhan tema hidup kita.

Jika mengenali Allah adalah pondasinya, maka pelaksanaan syariat adalah puncak dari pengenalan itu. Semua bisa mengatakan cinta, tetapi sebenar cinta adalah yang ada buktinya.

Allah mengetahui isi hati kita, sehingga sebenarnya ini bukan urusan Allah perlu pembuktian, tetapi ini lebih mengenai kita-nya. Karena cinta yang kuat dan dalam, mau tak mau akan luber dengan sendirinya ke alam kenyataan.

Mengenali Allah dan mengakrabi Allah adalah dimensi batin kita, tetapi sebuah dimensi batin baru akan menjadi utuh jika kita bahasakan di dalam ekspresi yang nyata. Mencintai Allah, maka pasti mencintai sesama manusia. Dan seterusnya, dan seterusnya. Itu imbas yang tak bisa ditolak-tolak.

Mencintai Rasulullah semata, tak akan cukup jika tidak termanifestasikan di alam kenyataan. Entah rasa cinta yang dalam itu memaksa kita melantunkan sholawat, atau membuat kita menangis, atau membuat kita semakin dalam ingin mengkaji sirah dan perjalanan sejarah beliau. Itu imbas yang mau tak mau pasti mewujud.

Pendek kata, jika kita mencintai, maka “nyatakan.”

Atau jika kita lihat dari sisi sebelahnya lagi, sebuah amal nyata yang kita zahirkan barulah akan menjadi utuh jika amal itu merupakan imbas dari sebuah “ahwal” atau situasi ruhani yang begitu kuat.

Jika kecintaan kita kepada sesuatu belum sanggup memaksa kita untuk meluberkan bukti-bukti cinta itu ke dalam alam kenyataan, mungkin cinta kita belum sebesar itu.

 

 

catatan kaki:

[1] Rasulullah saw. bersabda, “Apabila seseorang mencintai saudaranya, hendaklah dia mengatakan cinta kepadanya.” (Abu Dawud dan Tirmidzi, hadits shahih)

Anas r.a. mengatakan bahwa seseorang berada di sisi Rasulullah saw., lalu salah seorang sahabat melewatinya. Orang yang berada di sisi Rasulullah tersebut mengatakan, “Aku mencintai dia, ya Rasulullah.” Lalu Nabi bersabda, “Apakah kamu sudah memberitahukan dia?” Orang itu menjawab, “Belum.” Kemudian Rasulullah saw. bersabda, “Beritahukan kepadanya.” Lalu orang tersebut memberitahukannya dan berkata, “Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah.” Kemudian orang yang dicintai itu menjawab, “Semoga Allah mencintaimu karena engkau mencintaiku karena-Nya.” (Abu Dawud, dengan sanad shahih)

SASTRA SEMESTA; NYENI BY DEFAULT

mountain viewJika kita sedang kesal…sedang kesal yang yang begitu dalam, maka kalimat-kalimat akan kesulitan merangkum perasaan kesal kita itu. Maka orang kadang-kadang berteriak. Kalaulah kita anggap teriakan itu sebagai sebuah katamaka “kata teriakan” itu sebenarnya merangkum begitu banyak makna. Satu kata, padat makna.

Begitupun saat kita sedang sedih, maka sedih yang dalam akan sulit dibahasakan dalam bentuk kalimat-kalimat. Kalimat-kalimat akan kurang kaya makna dibanding makna sebenarnya dari sedih yang kita rasa. Maka kadang-kadang orang menangis. Tangisan itu, kalaulah kita anggap sebagai sebuah kata,  maka “kata tangisan” merangkum definisi yang begitu kaya. Satu kata, padat makna.

Mengingat hal tersebut, barulah belakangan saya tersadar, bahwa sebenarnya manusia itu sudah “nyeniby default.

Aktivitas merangkum banyak sekali makna-makna perasaan, dalam kalimat-kalimat yang pendek, lirik-lirik, itu sebenarnya domainnya puisi.

Jadi dalam konteks itu, manusia itu sudah puitis dari sananya, by default.

Siapapun saja, punya bakat untuk merangkum pengalaman hidup yang panjang dalam lirik dan baris-baris yang pendek tapi padat makna. Keseluruhan ide dalam bahasa, saya rasa adalah itu, mewakilkan makna pada sebuah kata.

Kalaulah boleh kita mengumpamakan, dengan analogi di atas itu tadi, kita bisa umpamakan jagadita semesta tergelar ini “seolah-olah” puisinya Tuhan.

Meskipun disana-sini perumpamaan itu kurang relevan, tetapi saya pikir benarlah bahwa alam semesta ini merupakan kreasinya Allah SWT, dan cara Allah mengajarkan pada kita makna-makna.

Para ilmuwan mengatakan alam semesta ini sebagai grand design. Jika kita tarik kembali dalam perumpamaan sastra, maka grand design alam semesta ini ibarat larik-larik yang begitu berima. Teratur, indah dan apik.

Jika kalimat-kalimat dalam bahasa manusia saja sering kesulitan mewakili kekayaan dimensi perasaan yang manusia miliki, maka apatah lagi perbandingan alam ini dengan keluasan ilmu Allah.

Dalam sebuah perumpamaan sangat masyhur dari Al Qur’an kita mengetahui bahwa jika seluruh pohon menjadi pena, dan lautan menjadi tinta, ilmu Allah belum habis ditulis.

Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS Luqman : 27)

Perumpamaannya saja sudah nyeni, “pohon menjelma pena, laut menjelma tinta.” Dan kenyataan bahwa dunia ini tidak cukup hebat untuk mewakili makna-makna dari ilmunya Allah, apa masih kurang puisi? Media yang kalah kaya dibanding makna sejatinya…Kan puisi sekali?!

Belakangan saya baru mengerti, itulah kenapa setiap orang arif yang saya temui, orang-orang yang mengakrabi Tuhan dalam setiap jenak kehidupan mereka, seringkali kita dapati sebagai seorang yang nyeni.

Allah itu indah dan menyukai keindahan.[1]

Maka orang-orang yang dekat pada Allah, kita bisa tengok “bekas persapaannya” dengan Allah lewat keindahan yang entah malu-malu atau nyata pasti tergelar dari kehidupan orang itu.

Umar bin Khattab menghafal banyak syair-syair arab. Imam syafii pun menghafal syair-syair. Buya Hamka tulisannya nyeni. Sunan kalijaga anggitannya ialah tembang ilir-ilir yang melegenda. Ibnu Athaillah pesan-pesannya awet dalam aforisma Al-Hikam-nya yang nyastra. Dan entah berapa deret nama lagi.

Tidak mungkin, orang yang dekat pada Allah yang memiliki sifat Jamaliyah (keindahan) lantas tidak terpercik hal keindahan itu dalam lakunya.

Semakin dia melihat keindahan dalam sastra alam semesta, dan keindahan dalam tekstual kitab suci dan karya para ulama, maka tak mungkin keindahan itu tidak luber juga dari pribadinya.

Maka keberagamaan yang kering adalah keberagamaan yang sama sekali tidak menampilkan sisi Jamal seperti itu. Saat kita beragama dalam sebuah atmosfir yang semakin kering dan kaku tanpa sisi-sisi yang indah dan membuat kita haru, maka jangan-jangan kita ada yang keliru.

Atau kalaulah tidak keliru, itu setidaknya menjadi alarm bahwa kita terlalu mengakrabi Allah pada sisi JALAL (KeagunganNya) melulu, padahal Allah pun memiliki sisi JAMAL (Keindahan), dan dalam suatu hadits dikatakan rahmatNya mengalahkan kemurkaanNya.

Melihat alam semesta, dan mengakrabi literatur agama tanpa terpercik JAMAL-Nya, adalah mungkin seumpama kita mengakrabi teks sebagai teks semata. Padahal kita lupa, bahwa teks hanya media, sebagaimana alam pun hanya media, untuk DIA mengenalkan diriNya.

Maka orang yang terus-terusan mengingat DIA, pada akhirnya akan pelan-pelan terpahamkan maksud dari Yang Bercerita.

Mungkin itulah maksud dari ungkapan bahwa siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka dipahamkanlah akan agamaNya.

“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya maka Allah akan menjadikannya faqih/faham tentang agama”. (HR Al-Bukhari)

Dan para ulama yang faqih akan agama, kita saluti juga pribadinya ternyata menjelma indah terpapar JamalNya.

Mencari orang-orang yang memancarkan keindahan dan perbawa yang menawan seperti itulah; sebagai panduan yang menuntun kita bertemu dengan orang yang benar-benar dipahamkan dan memahamkan.

Dia tak perlu sombong dengan banyak mengecam dan umbar ancaman. Tetapi salah satu kriterianya adalah akhlaq mereka mesti nyeni.

“Innama bu’itstu li utammima makarimal akhlaq (Sesungguhnya aku ini diutus hanya untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia).” Al Hadits.

 

catatan kaki :

[1] “Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar debu.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.” (HR. Muslim).

Gambar ilustrasi dipinjam dari link ini

IMAM GHAZALI, MENCARI HINGGA TAK BISA DICARI (2)

Menelisik Autobiografi Imam Ghazali, membuat saya sangat kagum melihat “pencarian” beliau.

Beliau  menekuni pencarian berdasarkan penelusuran logika dalil-dalil dan premis-premis (Ilmu Kalam), hingga akhirnya menyadari bahwa premis-premis logika tak bisa menuntun pada kebenaran sejati.

Beliau cari lagi dengan logika filsafat, ternyata juga menyadari filsafat bukanlah kebenaran sejati.

Akhirnya berlabuh di samudera terakhir, mendekatkan diri pada Sang Empunya Ilmu, dan menjadi paham bahwa keilmuan sejati tak akan bisa dipahami tanpa tuntunan dari Yang Punya ilmu itu sendiri. Dari situlah beliau mulai tekun mengembarai dimensi esoteris-nya Islam.

Masih dari buku yang sama, Al-Munqidz min Adh-Dhalal, Sang Imam menuturkan bahwa manusia mengenali alam-alam lewat indera yang dimilikinya. Setiap indera, beliau katakan, berfungsi untuk mengenali alam diantara alam-alam lainnya.

Seperti indera perasa, manusia dengan itu bisa mengenal alam rasa panas, dingin, halus, kasar, basah, kering. Tetapi manusia tak bisa mengenali alam warna.

Dengan Indera pengelihatanlah manusia bisa mengenali dimensi warna.

Setelah sedikit tumbuh dan berkembang, manusia diberikan kemampuan pertimbangan (tamyiz), kemudian setelah manusia lebih dewasa dia akan dianugerahi kemampuan nalar dan rasio yang lebih baik.

Anak kecil yang belum baligh, tak akan bisa mengerti ‘alam’ rasio nya orang dewasa yang punya nalar dan pertimbangan lebih kompleks.

Tetapi, begitu juga orang yang semata mengandalkan alam rasio dan nalar (pencarian dengan logika filsafat ataupun kalam), kata beliau tak akan bisa mengerti kenyataan yang dipahami oleh orang-orang yang mendapatkan kasyaf, atau tuntunan ilham dari Allah SWT.

Dan beliau memberi tahu, bahwa banyak sekali keilmuan di dunia ini yang tak bisa didasarkan pada nalar dan rasio semata.

Misalnya saja, ilmu astronomi. Hampir sebagian besar kejadian-kejadian dalam astronomi berlangsung ratusan tahun sekali. Jika hanya mengandalkan nalar dan rasio, percobaan, tak mungkin bisa mengamati hal yang terjadi sekali saja setiap ratusan tahun. Pastilah nalar dan rasio kemudian, tetapi awalannya adalah ilham dulu, tuntunan Rabbani.

Dari sini terjawablah pertanyaan saya dulu, bagaimana mungkin kita bisa mempelajari semua ilmu yang terlampau banyak?

Seperti misalnya dulu saya pernah bingung, kenapa orang-orang tua zaman silam bisa tahu bahwa tumbuhan A misalnya, bisa mengobati sakit demam.

Jika menggunakan akal dan rasio penalaran semata dengan uji coba, bayangkan berapa juta tumbuhan harus dicobakan untuk diberikan pada yang sakit, sampai yang sakit itu sembuh. Kan tidak masuk akal. Dan baru sekarang saya mengerti bahwa di dalam belantara keilmuan yang dimiliki Allah, Allah-lah yang menuntunkan manusia untuk mempelajari sesuatu dengan nalarnya dan rasionya. Tuntunan pertamanya mestilah ilham Rabbani.

Mendasarkan pada nalar dan rasio semata, adalah ibarat membabi buta mencoba memakan semua tumbuhan dalam rangka percobaan untuk mengetahui yang mana yang berkhasiat menyembuhkan demam.

Selain tidak efektif, tentu waktunya sangat lama dan membuat kita tersesat dalam belantara dedaunan.

Karena memang ternyata tak mesti semua ilmu kita pelajari, tetapi yang ilman nafi’an. Yang meaningfull saja. Yang sesuai dengan arah tugasan kita masing-masing.

Dan yang mengarahkan kita kepada ilman nafi’an itu, adalah petunjuk Allah berupa ilham yang diterima masing-masing kita.

Itulah arah dari do’a sebelum belajar: “Robbi zidni ‘ilman nafi’an wawafiq li ‘amalan maqbulan (Tuhan, tambahkan aku ilmu yang bermanfaat dan terimalah amal yang maqbul bagiku).”

Setidaknya ada dua hal yang akhirnya bisa kita ambil pelajaran:

Pertama. Dulu saya kira, kita harus belajar segala hal dulu baru kita bisa menangkap makna. Dulu, saya kira, makna-makna baru akan datang setelah kita mempelajari ilmu-ilmu tekstual.

Sekarang baru saya mengerti, bahwa kadang-kadang kepahaman sudah datang duluan, mendahului keilmuan tekstualnya. Jadi, ilmu tekstual yang kita baca itu memvalidasi keilmuan yang kita sudah mengerti lebih dulu. Allah-lah yang memahamkan, bukan teks yang kita baca. Setelah paham, kita temukan teks berbicara yang senada dengan yang kita pahami, atau mengoreksi dan membenarkan kepahaman yang kita dapat sepotong-sepotong.

Kedua. Dulu saya kira kita harus mempelajari segala hal. Dan saya bingung, darimana saya harus belajar? saking banyaknya dan tak tahu hendak mulai darimana.

Ternyata, ilman nafi’an (ilmu yang meaning) itu adalah yang seiring dengan amalan maqbulan. Amal nyata. Dan amal nyata seiring “tugasan”. Dan Allah yang memilihkan apa-apa yang nafi’an untuk kita pelajari. Jika sejak awal niatan kita mengembara di belantara ilmu itu adalah ingin menerima pencerahan dariNya, bukan dari teks yang bertebaran.

Karena memang ilmuNya itu sangat banyak, tak habis ditulis dengan seluruh pohon menjadi pena dan seluruh samudera menjadi tinta. Saking banyaknya dan kompleksnya.

Jadi kegelisahan mengenai perlukah ilmu, atau tak perlu ilmu dalam menuju Tuhan? itu sudah dialami bahkan oleh Imam Ghazali, apa lagi level kita-kita ini.

Menjadi pahamlah kita akan alurnya sekarang. Yang penting kita akrabi adalah pemilik ilmuNya, nanti Sang Pemilik Ilmulah yang akan hantarkan kita kemana ilmu harus dikembarai.

Dan saat  seringkali mendapati apa yang kita pahami ternyata sudah sejak dulu dituliskan oleh para ulama dalam teks-teks mereka, semakin pahamlah kita bahwa benar DIA semata yang mengajar.

Jadi kita membaca teks sebagai guidance. Kepahaman yang kita dapatkan, dan realitas intenal yang kita alamilah; yang akan membuat kita kagum pada apa-apa yang ditulis para arifin jaman dulu itu. Karena kita menemukan makna yang sama dengan yang dituliskan mereka.

Tanpa anugerah kepahaman dari Allah, artinya tanpa kita mengakrabi Allah dan tanpa kita diberikan ilman nafi’an, maka kita tak akan bisa mereguk makna dari semak belukar tekstual buku-buku. Dan kita gagal mengerti apa yang ditulis orang-orang arif.

Jika tak dituntunkan untuk mendapatkan ilman nafi’an yang mengiringi amalan maqbulan; bisa-bisa tersesatlah kita.

Kenali “Kebenaran”, maka kita akan tahu siapa yang berada di dalamnya. Seperti ungkapan Ali Ibn Abi Thalib[1]
Maka yang harus kita akrabi rupanya Pemilik IlmuNya, bukan tekstual para ulamanya.

Jika akrab dengan Pemilik Ilmunya, rupanya dituntunkan bertemu yang Nafi’an dari belantara knowledgeNya.

 

catatan kaki

[1] “jangan kau lihat kebenaran dengan melihat orangnya. Lihatlah kebenaran itu sendiri, maka kau akan tahu siapa pemiliknya.” (Al-Munqidz min Adh-Dhalal. Pustaka Hidayah. 1998, hal 40.)

Gambar ilustrasi dipinjam dari sini

IMAM GHAZALI, MENCARI HINGGA TAK BISA DICARI

booksPernah mendengar kisah yang sangat masyhur ini? Dimana adik dari Imam Al Ghazali enggan sholat berjamaah kala diimami Imam Ghazali, sebab sang adik ternyata memiliki pandangan mata yang “jernih”, dimana dia bisa melihat perut Imam Ghazali berlumuran darah.

Selepas sholat, ketika sang Imam mengkonfirmasi kepada sang adik tentang apa yang menyebabkan sang adik enggan berjamaah dengannya, kagetlah Imam Ghazali mendapati bahwa padangan hati sang adik adalah benar. Imam Ghazali melaksanakan sholat sambil memikirkan tentang hukum-hukum fikih perkara haidh. Terjebak dalam belantara keilmuan teoritis.

Saya tuliskan ulang dari terjemah buku “Al Munqidz min adh-Dhalal”, sebuah autobiografi tentang kegelisahan intelektual Imam Ghazali. Dimana Al Ghazali, pada puncak kegemilangan keilmuan tekstualnya beliau menjadi guru besar universitas Nizhamiyyah pada tahun 484 H. Tetapi pada puncak pencapaian keilmuan itulah justru beliau menjadi gamang, kegamangan itu adalah tentang ilmu dan amal.

Saya mengamati gejolak batin sendiri, dan mencermati yang terjadi pada kalangan para pejalan spiritual, dimana mereka yang meniti jalan “pulang” kepada Allah seringkali mengalami kegelisahan seperti Imam Ghazali itu.

Apakah ilmu yang mereka miliki akan berguna? Atau dalam kata lain, apakah ilmu bisa menyampaikan seseorang kepada Allah? Atau malah ilmunya akan membimbing seseorang itu memasuki rimba belantara premis-premis logika yang menyita waktu, tenaga, emosi, dan tak jelas ujung-pangkalnya?

Coba kita mengulik sebuah perumpamaan sederhana. Sering kita temui dalam kisah tutur mulut ke mulut orang-orang desa. Dimana seorang petani, tidak berpendidikan tinggi, cuma tahu pergi ke sawah, mengarit, bertanam, memanggul kayu-kayu bakar, lalu sore hari pulang ke rumah dengan senyum dan sapa kiri-kanan. Hatinya nrimo, lapang, dan mengakrabi Tuhan dalam pemaknaan yang begitu dalam, “bekas persapaan” dengan Tuhannya bisa dilihat dari jernih wajahnya yang damai dan bersyukur untuk segala lapang sempitnya hidup.

Dan orang-orang yang  seperti begini sering diriwayatkan berpulang dengan senyum, begitu damai. Simpulan kita sederhana saja: tak berilmu tinggi saja mereka sudah bisa dekat dengan Tuhan.

Dan inilah kegamangan para pejalan menuju Tuhan itu: Jika tanpa ilmu banyak saja sudah bisa hidup dalam sikap nrimo ing pandum, dan dekat dengan Tuhan seperti ilustrasi pada paragraf di atas, maka apakah berguna mencari ilmu demikian tinggi untuk mengakrabi Tuhan yang sejatinya tidak akan masuk perumpamaan logika seperti apapun juga?

Dan kegamangan seperti itu jugalah yang dialami Imam Al Ghazali, sehingga diriwayatkan kegamangan itu menyebabkan kesehatan beliau secara fisik terganggu. Sehingga sang dokter yang memeriksa pun menyerah dan mengatakan ini bukan sakitnya penyakit, melainkan dari faktor internal.

Lepas dari situlah Sang Imam menghabiskan waktu untuk Uzlah dan menghabiskan sisa umurnya dalam perenungan-perenungan dan peribadatan yang dalam. Karena dia sudah kecewa untuk menemui Tuhan lewat pendekatan-pendekatan premis-premis logika.

Diriwayatkan beliau memulai uzlahnya di Damaskus, lalu ke Yerussalem ke Baitul Maqdis, ke Mesir, Makkah dan Madinah dan sesekali ke Baghdad.

Hingga kita mengetahui bahwa akhirnya sang Imam beroleh pencerahan, englightenment, dan menemukan jawaban dari pencariannya seperti yang beliau tulis berikut:

“Alhamdulillah, Allah berkenan menyembuhkan hatiku dengan “pancaran cahayaNya”. Pikiranku kembali jernih dan seimbang, mampu menerima pengertian-pengertian logis. Cahaya itulah yang akhirnya menjadi kunci pembukanya, termasuk untuk mencapai makrifat, bukan susunan argumentasi logis.”[1]

Kembali dalam perenungan pertama tadi, jika kita bandingkan antara dua ilustrasi di atas tadi, manakah jalan yang lebih baik? Apakah pengembaraan ilmu seperti Al-Ghazali? Yang bertahun-tahun melaburkan diri dalam belantara ilmu dan logika, tetapi pada akhirnya terjun juga dalam dunia perenungan, uzlah dan spiritualitas hingga tercerahkan. Ataukah skema seperti sang petani yang awam dari keilmuan tapi sejak awal sudah hidup dalam mentalitas nrimo ing pandum dan mengakrabi Tuhan dalam keluguan yang mendekatkan?

Harmoni dan tarik-menarik antara dua hal ilmu dan amal itulah yang acap kali terjadi pada semua para pencari. Ada yang berada pada sisi ekstrim menafikan keilmuannya, sehingga melulu menganggap bahwa ilmu sejati itu adalah hasil tirakat dan pencerahan ilham Rabbani. Ada yang terjebak pada penaran logis premis-premis sampai akhirnya bingung sendiri kebanyakan teori.

Baru belakanganlah saya akhirnya mengerti bahwa jawaban dari pertanyaan itu sudah ada pada maksud dari do’a masyhur yang diajarkan untuk kita bacakan dan resapi saat hendak belajar.   

“Robbi zidni ‘ilman nafi’an wawafiq li ‘amalan maqbulan (Tuhan, tambahkan aku ilmu yang bermanfaat dan terimalah amal yang maqbul bagiku).”

Do’a itulah yang menjadi guidance.

Pertama. Bahwa tak semua ilmu bermanfaat. Ada ilmu-ilmu yang hanya memenuhi otak kita saja, tak pernah berguna. Ada ilmu-ilmu yang jika diketahui malah mendorong kita pada keburukan.

Dan kedua, pungkasan dari do’a itu adalah mengaitkan antara kebermanfaat ilmu dengan amal yang maqbul. Artinya, ilmu yang bermanfaat itu adalah ilmu yang ada korelasinya dengan amal nyata yang kita perbuat. Amal nyata kita, akan berhubungan erat dengan “tugas”, kita masing-masing di dunia ini.

Berkaitan dengan siklus ilmu-amal-dan “tugasan” inilah saya baru mengerti jawaban dari pertanyaan, “kenapa Musa diberikan keistimewaan berkata-kata langsung dengan Allah? Kenapa Musa tak diberi ilmu batin seperti khidir? Atau misalnya kenapa pula Musa a.s tak diberikan ajaran welas asih seperti Isa a.s yang jika ditampar pipi kiri, berikan pipi kanan?”

Ternyata jawabannya adalah tugasan yang berbeda.

Setiap orang memiliki tugas yang berbeda dalam kehidupan. Dan ini sudah diseting sama Allah seperti itu, supaya dunia bisa harmoni dan bergerak.

Seorang Musa a.s memimpin kaum paling degil dan ngelunjak sejagad raya. Setelah Allah tampakkan Mukjizat tongkat jadi ular, tangan Musa bercahaya, Laut terbelah… masih juga Umat Musa a.s enggan masuk negri yang dijanjikan, dan menyuruh Musa masuk duluan. Belum lagi mereka minta makanan diturunkan dari langit, sudah diturunkan minta pula variasi makanan. Tengil, bukan? Dan itulah tugasan Musa a.s, memimpin kaum paling membangkang, dan untuk memimpin kaum paling membangkang seperti itu maka Perangkat ilmu yang diturunkan kepada Musa a.s akan  sesuai konteksnya. Mukjizatnya seperti super hero, dan petunjuk diturunkan bukan dalam bahasa kepahaman, tetapi dalam wujud nyata dan langsung bercakap dengan Tuhan.

Lain lagi Rasulullah SAW yang memimpin masyarakat ahli susastra, maka diturunkan keilmuannya berupa Qur’an yang indah dengan sastranya.

Musa a.s bertugas melawan diktator paling berkuasa sejagad, raja lengkap dengan pasukannya. Maka risalah yang diusung Musa a.s tak mungkin risalah yang melulu mengenai welas asih, dalam satu riwayat malah Musa a.s meninju seorang dan yang ditinju langsung mati.

Dan tak mungkin juga Musa a.s “tenggelam” dalam ilmu batin seperti Khidir a.s, kenapa? Karena tugas yang berbeda-beda. Musa urusannya melawan fir’aun, khidir tugasannya mengembara kemana-mana dan membimbing siapapun yang tertakdir untuk belajar ilmu batin dalam dimensi pengelihatan dan sudut pandang yang sama sekali lain dengan yang diusung Musa.

Pada akhirnya ilmu dari Allah, diturunkan seiring tugasan yang juga dari Allah.

Dan begitulah. Ilmu yang bermanfaat, diiringi amal nyata. Amal nyata, yang dinamakan amalan maqbulan, secara subjektif saya rasakan adalah amal yang mengiringi kita punya tugasan.

Seorang dokter, akan mubazirlah waktunya jika dia menghabiskan katakanlah 90% waktunya untuk belajar detail tentang sepakbola sampai menjadi seperti ensiklopedi bola. Mubazir. Kenapa? Karena Tidak jadi amal nyata. Kecuali dia mau jadi komentator bola. Tugasan dia adalah dokter.

Begitu juga, seorang ulama, mempelajari tentang komputer sampai meninggalkan madrasahnya. Ya pasti lucu. Kecuali ilmu yang dia pelajari nantinya didayagunakan seiring untuk mengembangkan kapasitas keulamaannya, maka itu baru ilman naafian, ilmu yang meaningfull.

Dalam cerita Imam Ghazali, dari sisi lahiriah ilmunya menjelma amal nyata karena berkahnya bisa kita rasakan sampai sekarang.

Jadi, hemat saya, ilmu itu penting. Dengan ilmu, perjalanan jadi lebih terarah. Perjalanan jadi lebih singkat dengan keilmuan yang baik dan benar.

Tetapi seperti do’a belajar yang kita kutip itu tadi. Sebuah ilmu hanya akan bermanfaat jika ilmu itu relevan dengan amal nyata kita. Amalan maqbulan.

Kita pungkasi tulisan ini dengan mengutip kembali Imam Al Ghazali: “Seluruh uraian ini aku maksudkan agar kita terus berusaha sekuat tenaga dalam mencari sesuatu sampai tidak ada lagi yang bisa dicari. Namun, apa yang telah ada (jelas) tidak perlu dicari lagi; bila dicari, justru akan menjadi samar. Siapa yang mencari sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dicari, ia akan terkecoh dalam mencari sesuatu yang harus dicari.”[2]

 

catatan kaki:

[1] Al-Munqidz Min Adh Dhalal, Kegelisahan Al Ghazali, 1998 (hal. 20)

[2] Ibid, (hal. 21)

Gambar ilustrasi dipinjam dari sini