MEMECAHKAN TEMPAYAN (3)

Satu pertanyaan menggelayuti saya dulu. Jika orang-orang yang sudah hilang keakuannya beraktivitas, katakanlah dia bekerja-kah. Dia menolong orang-kah. Dia bermuamalah sehari-hari-kah. Apa pendorongnya? Bukankah keinginan; baik itu keinginan fisik ataupun keinginan abstrak berupa hasrat menjadi “ada” dan diakui merupakan jamaknya pendorong manusia bergerak? Kalau sudah “hilang ‘aku’-nya” apa lagi pendorongnya?

Barulah saya mengerti jawabannya setelah dikejutkan kembali akan fungsi kekhalifahan manusia.

Manusia, diciptakan dalam sebuah konteks pangkat yaitu sebagai khalifah. Fungsi pengelolaan alam semesta yang tidak diberikan pada Malaikat dan pada Jin.

Dalam konteks menjalankan titah pengelolaan inilah, orang-orang Shalih bergerak. Membongkar ilmu. Memahami alam. Membantu orang lain. Dan juga peribadatan apapun saja yang mereka lakukan adalah ekspresi dari kesalutan mereka kepada Allah, atas kenyataan dari pengaturan Allah SWT yang mereka temukan di sepanjang kehidupan mereka mengelola alam. Menjalani kehidupan.

Maka peribadatan (baik umum maupun khusus) pasti mengandung salah satu diantara konteks-konteks itu.

Apakah dia berupa konteks memuji Allah karena keagungan-Nya yang kita temukan sepanjang perjalanan hidup kita, semisal “Subhanallah wa bi-hamdih. “Maha suci Allah, aku memuji-Nya.” Yang dianjurkan dibaca pada pagi dan petang.

Atau meminta ampunan pada Allah atas kekeliruan dalam hidup sepanjang menjalankan fungsi kekhalifahan itu.

Atau konteks satu lagi, yaitu peribadatan sebagai jalan meminta pertolongan kepada Allah SWT seperti dalam hadits: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengajari kami shalat istikharah dalam setiap perkara atau urusan yang kami hadapi, sebagaimana beliau mengajarkan kami suatu surah dari Al-Quran. Beliau berkata, “Jika salah seorang di antara kalian berniat dalam suatu urusan, maka lakukanlah shalat dua raka’at yang bukan shalat wajib, kemudian berdoalah…” (HR. Al-Bukhari)

Jadi penggeraknya saya rasa adalah kesadaran akan fungsi kekhalifahan itu. Kesadaran menjalankan titah itu. Bukan keakuan. Bukan karena ingin suatu pencapaian.

Yang menarik dan baru saya mengerti sekarang adalah bahwa dalam rangka menjalankan tugas, maka harta tentulah kalah mulia dibandingkan tugas itu sendiri.

Maksudnya, kadang-kadang kita salah menempatkan diri dan menjadi segan meminta kepada Allah untuk suatu hal, karena mengira hal yang kita minta itu sesuatu yang sangat besar.

Padahal, jika kita mengerti bahwa seluruh dunia ini Allah yang punya, dan tidak sedikitpun Allah merasakan susah menciptakan dunia ini, bahkan dunia ini bagi Allah tak berharga bahkan tak senilai sesayap nyamuk-pun bagi Allah[1]; maka seharusnya kita tidak perlu merasakan canggung yang tidak penting saat berhadapan dengan dunia.

Kita lihat Rasulullah SAW, saat dunia itu berkaitan dengan keperluan pribadinya, beliau santai dan seringkali tidak makan. Tetapi saat berkaitan dengan kepentingan pengelolaan / kekhalifahan di dunia ini, beliau tidak canggung dengan dunia. Masyhur kita dengar Rasulullah memiliki unta merah, kendaraan paling masyhur kala itu.

Maka ternyata betul para ulama yang mengatakan kepada kita untuk jangan enggan berdo’a. Atas apapun saja masalah yang menimpa kita sepanjang tugas kita dalam hidup ini sebagai pengemban fungsi pengelolaan atas nama Allah, maka minta tolonglah kepada Allah.

Sekedar sebuah ilustrasi sederhana saya rasa, kita ini ibarat seorang tukang kebun. Tukang kebun yang bekerja di sebuah rumah konglomerat yang kaya raya tiada dua.

Tukang kebun diberikan titah untuk menggali tanah membuat kolam di belakang rumah. Pertama kali kita menggali, kita menggunakan sekop kecil. Seiring pekerjaan, kita menemukan banyak batu-batu kerikil yang sulit dibongkar dengan sekop kecil, maka kita mengetuk pintu empunya rumah meminta sekop besar.

Setelah menggunakan sekop besar, kita kembali berbenturan dengan batu yang jauh lebih besar, dan sulit diangkat jika tidak punya excavator misalnya, lalu kita ketuk lagi pintu empunya rumah meminta bantuan excavator.

Saya kira begitulah memaknai dunia. Dia hanya sekedar tools, alat, yang kalah mulia dibandingkan tugas kita sebenarnya, yaitu fungsi pengelolaan.

Orang yang enggan berdo’a kepada Tuhan, boleh jadi karena tidak mengenal bahwa Tuhan sangat kaya raya. Atau boleh jadi, dia salah dalam memposisikan dunia, mengira dunia adalah sesuatu yang sangat berharga sehingga canggung terhadap dunia. Harusnya, dunia diperlakukan sebagai pelayan kita, yang melayani kebutuhan kita dalam tugas, bukan sebaliknya.

Dan sekali lagi, orang-orang yang selalu mengetuk pintu rumah Tuhan, dan melaporkan segala kesulitan yang dialaminya sepanjang perjalanan, pada akhirnya juga akan hilang “aku” nya. Karena tahu bahwa segala peralatan apapun saja yang ada padanya saat ini, sebenarnya bukan miliknya.

Peralatan bisa datang dan pergi. Karena dia memang datang dan pergi. Tetapi tugas kekhalifahan mesti terus berlanjut. Orang yang menjalankan tugas, tidak canggung terhadap peralatan. Dan juga tidak kemudian salah fokus, berhenti melakukan tugas dan sibuk memandang peralatan.

Tapi sekali lagi menyinggung maqom, kita paham, bahwa pada puncaknya ada orang-orang yang sebegitu mengertinya tentang Tuhan, bahkan sampai pada menyebut kebutuhan saja dia tak terucap, karena tahu bahwa Tuhannya lebih tahu apa yang dia butuh ketimbang dirinya sendiri.

Tapi itu tingkat advance, untuk kroco-kroco seperti kita ini ikuti saja kata Nabi, berdoalah, Allah akan kabulkan.

Kalau kita sering melakukan itu, kata syaikh Abdul Qadir Jailani, “Allah sendiri yang meninggikan taraf kamu”.

—-

[1] لَوْ كَانَت الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ الله جَنَاحَ بَعُوضَةٍ ، مَا سَقَى كَافِراً مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ

“Seandainya dunia ini di sisi Allah senilai harganya dengan sayap nyamuk niscaya Allah tidak akan memberi minum barang seteguk sekalipun kepada orang kafir” (HR. Tirmidzi, dan dia berkata: ‘hadits hasan sahih’)

 

MEMECAHKAN TEMPAYAN (2)

Jika kita sudah paham, bahwa kebahagiaan yang didirikan di atas pondasi rasa ke-aku-an adalah kebahagiaan yang semu, ilusi, bermata dua; disatu saat akan menjelma kesedihan. Maka tentulah kebahagiaan sejati itu adalah saat hilangnya ke-aku-an.

Hilangnya ke-aku-an, tidak berarti bahwa secara lahiriah kehidupan kita menjadi mudah, acapkali masalah tetap ada, tetapi saat kita memandang permasalahan kehidupan sebagai cara Allah bercerita –bukan tentang konteks kita pribadi-, maka hilangnya “aku” tersebut, akan berfaedah terhadap tiadanya duka lara.

Kejadian-kejadian di dalam hidup kita datang dan pergi. Dan di dalam segala kejadian hidup itu, secara LAHIRIAH, mestilah ada sempit atau lapang. Dan ternyata, ada sikap yang diajarkan pada kita agar kita bisa menghilangkan ke-aku-an –dan pada akhirnya memandang bahwa konteks segala hidup ini adalah tentang Allah bercerita tentang diriNya saja-

Sikap pertama, adalah tuntunan dalam menghadapi kelapangan. Katakanlah saat kita mendapatkan prestasi dan segala macam kemudahan hidup yang secara simple bisa dikatakan orang sebagai “pencapaian”, achievement. Sikap yang dituntunkan adalah “mengembalikan” pencapaian itu kepada Allah. Menceritakan nikmat Allah yang ada pada kita.

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu sebutkan”. (QS Adh-Dhuha:11)

Yang diceritakan adalah nikmat Tuhan. Bukan pencapaian diri sendiri.

Seumpama kita berhasil lolos pada ujian masuk sebuah perusahaan elit, yang kita ceritakan adalah bagaimana Allah mempertemukan kita pada lowongan pekerjaan itu, bagaimana ternyata dulu kita tak tertarik pada bidang studi yang kita ambil saat kuliah; tapi ternyata malah menjadi jalan kita masuk ke sebuah perusahaan yang baik, bagaimana kita merasa kemampuan berbahasa inggris jelek; tetapi kok ya bisa kebetulan pertanyaan saat wawancara sudah begitu familiar dengan kita. Dan lailn-lain. Dan lain-lain.

Saat selalu menengok kemudahan dan kelapangan yang kita dapat pada sisi yang mengingatkan bahwa segala hal itu adalah karena karunia Allah semata; maka lama kelamaan kita akan sadar bahwa sejatinya kita tiada pencapaian.

Konteks kemudahan dan kemelimpahan dalam hidup kita ternyata adalah karunia Allah, bukan karena kehebatan pribadi. Hilang “aku”nya.

Secara subjektif, saya merasakan bahwa mungkin inilah yang “terpandang” oleh Rasulullah, saat Futuh Makkah[1], penaklukkan Makkah secara besar-besaran. Dimana seisi kota yang dahulunya memusuhi beliau sekarang takluk tanpa syarat dan beliau memasuki kota dengan kewibawaan yang menggelegar. Semua musuh tunduk, menyerah, takluk dan tak berani melawan.

Tetapi bukan kepongahan karena “pencapaian” yang beliau nampakkan, justru menunduk menaiki untanya dan lisannya basah dengan istighfar. Kemuliaan yang beliau dapat, beliau sadari merupakan karunia Allah.

Kalau kita flash back sejak kematian khadijah, Abu Thalib, peristiwa dilempari di Thaif, pergi ke Madinah, Perang Badar yang gemilang, kekalahan di Uhud, dan segala macam peristiwa yang hilir mudik datang, naik-turun seperti roller coaster, tentulah sangat terbaca bahwa kegemilangan Fathu Makkah itu skenario yang sudah di plot oleh Allah. Bukan pencapaian pribadi Rasulullah dan para sahabat.

Hilang “aku” nya.

Jika menceritakan kemudahan dan kelapangan yang kita terima dalam sudut pandang “nikmat Tuhan”; akan lambat laun membuat kita hilang keakuan. Maka pada pendekatan satunya lagi, saat mendapatkan segala belit kesulitan dan kesempitan, ada juga cara agar kita hilang keakuan.

Cara kedua ini adalah dengan menjadikan segala kesulitan kita sebagai batu loncatan mendekat kepada Allah.

Cara kedua ini, secara menyedihkan sering dimaknai keliru oleh sebagian orang. Saya sering mendengar ucapan bahwa sedekah tidak boleh berharap. Ibadah harus ikhlas, tanpa embel-embel harapan apapun.

Ucapan itu benar, pada maqomnya sendiri. Agak sulit kita memahami pendekatan kedua ini kalau tidak berbicara tentang maqom, peringkat-peringkat ruhani.

Cara Allah menuntun orang untuk “kembali” kepadaNya, bermacam-macam. Ada orang yang dibelit oleh kesulitan hidup. Karena kesulitan hidup itulah, maka orang ini berdo’a kepada Allah dan meminta tolong.

Umpamakanlah hutang. Karena hutang membelit, maka orang tersebut yang tadinya enggan berdo’a dan meminta tolong, jadi terfikir untuk meminta tolong kepada Allah.

Bentuk minta tolongnya macam-macamlah. Ada yang dengan bersedekah. Sedekahnya itu, hanya sebuah ejawantah dari sikap batin yang merasa tak ada tempat lain meminta pertolongan selain daripada Allah. Ada yang sholat dhuha. Sholat dhuha, memang dikhususkan untuk meminta rezeki. Sholat hajat. Dan bahkan dalam segala sholat kita membaca pada duduk antara dua sujud, meminta “Ampunan, rahmat, ditutupi aib kita, diangkat derajat, ditambahkan rizki, permaafan, dan kesehatan tubuh” Kurang duniawi apa itu? Pendeknya, apapun konteks peribadatan yang dilakukan, asalkan berada dalam bingkai “mengembalikan” segala persoalan kepada Allah, itu sudah sesuai tuntunan.

Tentu kita paham, yang diminta adalah sesuatu yang tidak dalam tujuan foya-foya dan kesenangan semata.

Maka menjadi miris, saat orang-orang yang dibelit kesulitan hidup, ingin kembali kepada Allah lewat jalan kesulitan hidup itu tadi, kemudian malah dimarahi dan dikecam karena sholat bukan buat bayar hutang, sedekah bukan buat mendapat kekayaan.

Tentu…tentu kita tidak berbicara kekayaan untuk berfoya-foya, tetapi, semua peribadatan yang berada dalam konteks meminta pertolongan kepada Allah, itu berarti juga menghilangkan ke-aku-an.

Orang yang setiap kali dibelit kesulitan, dia berharap kepada Allah. Lama-lama akan semakin mengerti bahwa sebenarnya penggenggam sejati segala permasalahan adalah Allah SWT, lama-lama orang ini akan hilang “aku” nya. Tidak lagi mengandalkan dirinya, tetapi mengandalkan Allah.

Segala usaha yang dilakukannya, dimaknai dalam bingkai itu. “merayu” Allah. Kalau dia bekerja, maka kerjanya dalam sikap batin yang merayu Allah agar mengaruniakan rizki. Saat dia beribadah, ibadahnya juga ejawantah dari sikap butuh terhadap pertolongan Allah.

Nanti…orang-orang semacam ini akan mendewasa amalnya. Mungkin pada gilirannya nanti mereka hanya sibuk beramal saja, tanpa sebersitpun permintaan terucap dari lisannya. Tetapi itu tingkatan yang tinggi.

Dan untuk orang-orang yang baru meniti jalan pulang, karena Allah bukakan pada mereka pintu kebutuhan hidup, maka biarlah mereka meniru Zakariya a.s. Saat merayu Allah meminta keturunan:

“Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putra, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridai” QS. Maryam [19]: 4 – 6.

Bahkan sang Nabi Pun berdo’a kepada Allah meminta keturunan. Keturunan bukankah kebendaan? Bukankah keduniawian? Tetapi bukan itu intinya. Intinya adalah bagaimana setiap kesulitan hidup apa saja yang menghimpit kita, menjadikan kita pulang ke Allah. Itu intinya.

Maka agak kurang elok saat ada orang yang kesulitan keturunan misalnya, kemudian dimarahi saat ingin mendekati Allah lewat jalan sholat-kah, sedekah-kah, baca Qur’an-kah. Lalu dibilang, jangan beribadah untuk dunia!

Bukan untuk dunia, sahabat. Tetapi mereka menjadikan segala kesulitan duniawi sebagai jalan pulang. Itu.

—-

[1] Ibnu Katsir mengatakan bahwa peristiwa Fathu Makkah inilah yang dimaksud oleh Surat An-Nashr, ketika pertolongan Allah berupa kemenangan telah datang, dan orang memasuki agama Allah dengan berbondong-bondong, kita disuruh menyucikan Tuhan, dan memujiNya, serta ber-istighfar.

MEMECAHKAN TEMPAYAN (1)

Seandainya kita memenangkan sebuah kompetisi menyanyi tingkat provinsi misalnya, tentulah kita bahagia. Normal sekali. Terlepas dari karena ada hadiahnya, pertanyaannya adalah kenapa kita bahagia karena menang lomba menyanyi? Karena ternyata sebuah perasaan bahwa diri kita “dianggap”, atau diri kita memiliki sebuah “pencapaian”, achievement, itu memberikan sensasi kebahagiaan.

Tengoklah Abraham Maslow, dalam “hierarchy of needs” mengatakan bahwa kebutuhan tertinggi manusia itu adalah untuk “diakui”, menjadi “ada”, “self actualization”.[1]

Saat manusia “diakui”, keberadaannya dihargai, maka ada sensasi rasa bahagia. Dan rupanya kita terus menerus mencari sensasi rasa bahagia ini lewat cara mengukuhkan keberadaan kita di tengah masyarakat.

Alurnya sederhana saja rupanya, kalau kita punya “pencapaian” yang diakui orang lain, maka berarti kita semakin “aktual”, semakin meng-ada, kalau kita meng-ada, maka kita merasakan bahagia.

Tetapi, kebahagiaan itu ternyata semu. Karena, kebahagiaan yang dibangun pada pondasi ke-akuan diri, ibarat pedang bermata dua.

Seorang guru yang arif memberitahu bahwa bersamaan dengan rasa keakuan diri, muncullah segala penyakit hati. Sebutkanlah, apa saja penyakit hati: Riya, Ujub, dengki, marah, apapun saja istilah bahasa merangkumnya; ternyata idenya juga sederhana, karena dirinya tak “diakui” maka segala sensasi kesedihan yang sempit itu muncul, dan menggrogoti.

Sesaat setelah menang lomba menyanyi, kita bahagia. Saat pulang ke rumah kita bercerita dengan semangat kepada tetangga kita atas keberhasilan kita, tetapi tetangga itu acuh tak acuh. JEDERRR…. Kita sakit hati. Tengoklah, betapa senang dan sedih itu sangat temporer. Kenapa kita sakit hati? Karena kita tak diakui.

Pengakuan, atau “keakuan diri” yang tadinya memberikan sensasi bahagia, dalam saat yang sama juga mengancam kita dengan diam-diam dan jahat, membawa sensasi kesedihan.

Rasa ke-aku-an itu pedang bermata dua. Segala kebahagiaan yang dibangun di atas pondasi rasa ke-aku-an dan rasa ingin meng-ada, pastilah semu dan suatu ketika nanti pada momentnya yang tepat; dia akan “merusak” diri kita sendiri.

Pengertian seperti itu, adalah hal yang sangat-sangat fundamental yang baru sekarang saya mengerti dari wejangan para arifin.Betapa pentingnya menghilangkan ke-aku-an.

***

YANG TIADA SEDIH DAN DUKA

Jika kebahagiaan yang dibangun di atas dasar rasa ke-akuan; adalah temporer, semu dan kerdil, fatamorgana, tentulah ada kebahagiaan sejati. Kalau kita mencontek dari cerita para Aulia, ternyata mereka adalah orang-orang yang tidak diombang-ambingkan perasaan. Hati mereka selalu tentram dan tiada gejolak.

Ingatlah, sesungguhnya para wali Allah tiada ketakutan pada diri mereka dan tiada pula mereka berduka cita. (QS. Yunus : 62).

Cukup lama juga tiada mendapatkan jawaban mengenai kenapa mereka tidak berduka cita? Dulunya saya mengira bahwa hidup mereka bahagia terus, dalam artian secara tampak mata, lahiriah, selalu menyenangkan. Tetapi malah kebalikannya, kadang-kadang kita perhatikan orang-orang Shalih malah hidup dalam segala macam bentuk kesulitan. Tetapi kesulitan itu ada pada lahiriahnya, tetapi pada batinnya, mereka tidak berduka.

Karena, mereka tidak lagi menganggap bahwa ada konteks mengenai mereka dalam hidup ini. Konteks hidup ini, tentang Allah menceritakan diriNya saja.

Sudah tentu bahasan ini akan menjadi begitu abstrak. Tetapi katakanlah begini, jika segala sesuatu adalah “diadakan” oleh Allah. Sebuah sebab “diadakan” oleh Allah, dan sebuah akibat “diadakan” oleh Allah, apakah mungkin sebuah sebab menghasilkan akibat? Jangan-jangan, hukum sebab-akibat yang selama ini kita mengerti hanyalah fatamorgana. Karena baik sebab, maupun akibat sama-sama diadakan oleh Allah, berarti penggenggam kekuasaan sejati adalah Allah SWT. Bukan segala sebab-sebab apapun yang kita pandang secara lahiriah.

Orang yang memandang segala-gala dalam konteks cerita tentang Tuhannya, dalam artian menyadari bahwa Allah SWT lah yang memiliki kuasa atas segala sesuatu; berarti hilang “diri” nya. Karena menyadari betul bahwa hampir tidak mungkin –atau memang tak akan pernah mungkin- sesuatu terjadi, tanpa Allah tuliskan sesuatu itu untuk terjadi.

La Hawla Wa La Quwwata Illa Billah, tiada daya, tiada upaya melainkan karena Allah SWT[2]

Di dalam sebuah riwayat pula dikatakan bahwa saat benar-benar kita menyadari bahwa segala-gala di dalam genggaman Allah (sudah tiada ke-akuan) maka itu adalah kuncinya syurga. Kepada Abu Dzar Rasulullah berkata bahwa mengatakan La Hawla Wa La Quwwata Illa Billah itu adalah perbendaharaan syurga[3]

Saya catat dari petuah orang-orang arif, bagaimana proses yang umumnya dilalui hingga seseorang itu hilang “aku”nya?

Kata syaikh Abdul Qadir Jailani, salah satu hal yang membuat seseorang itu hilang “aku”nya antara lain biasanya tersebab ujian. Ujian yang berat yang membuat segala harapan orang tersebut pada dunia-kah, pada orang lain-kah, musnah semuanya. Sehingga –masih kata Syaikh Abdul Qadir Jailani- orang ini ibarat “tempayan pecah”, hancur nafsu-nya sehingga jika keakuan itu ibarat air, di dalam tempayan diri orang itu tak lagi tersisa walau setitik air[4].

Hampir seluruh Nabi-nabi dan orang-orang salih yang kita temui, kita lihat dalam sejarah selalu mereka berada dalam kondisi seperti tempayan pecah ini. Dibanting-banting takdir, sampai tak ada lagi pengharapan mereka kecuali kepada Allah semata. Mereka itu, berarti bisa kita bahasakan sebagai
hilang “aku”nya.

Orang-orang yang sudah tidak lagi memandang konteks hidup ini dalam kesempitan pengakuan diri mereka sendiri; akan tiada duka cita. Karena, kalau hasrat untuk menjadi “ber-ada” itu sudah tiada, maka segala duka lara karena tak diakui, tak berada, tak dihargai, dan sebagainya akan sirna juga dengan sendirinya.

……..(to be continued)

[1] Wikipedia : “Maslow’s hierarchy of needs”

[2] “Man Qala La Haula wala Quwwata Illa Billahi Kana dawa’an min tis’atin wa tis’iina da’in, aisaruha al-Hammu”

(yang bermaksud:“Siapa yang mengucapkan ‘La Haula Wala Quwwata illa billahi,’ maka ia akan menjadi ubat kepada 99 penyakit. Yang paling ringan adalah kebimbangan”). (Hadis Riwayat Tabrani)

[3] Telah menceritakan kepada kami [Ali bin Muhammad] telah menceritakan kepada kami [Waki’] dari [Al A’masy] dari [Mujahid] dari [Abdurrahman bin Abu Laila] dari [Abu Dzar] dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadaku: “Maukah aku tunjukkan kepadamu perbendaharaan dari perbendaharaan surga?” jawabku; “Tentu, ya Rasulullah.” Beliau bersabda: “Laa haula walaa quwwata illa billah (tiada daya dan tiada upaya kecuali dengan kehendak Allah).” Hadits Ibnu Majah No. 3815

[4] Istilah “tempayan pecah” bisa dilihat dalam buku Syaikh Abdul Qadir Jailani, Futuhul Ghaib

Sejarah (TIDAK) ditulis orang-orang besar

“Aku sungguh-sungguh mulai menelan Al Quran ditahun 28. Jaitu, bila aku terbangun aku membatjanja. Lalu aku memahami Tuhan bukanlah suatu pribadi. Aku menjadari. Tuhan tiada hingganja, meliputi seluruh djagad. Maha Kuasa. Maha Ada. Tidak hanja disini atau disana, akan tetapi dimana-mana. Ia hanja satu. Tuhan ada diatas puntjak gunung, diangkasa, dibalik awan, diatas bintang-bintang jang kulihat setiap malam. Tuhan ada di Venus, dalam radius dari Saturnus. Ia tidak terbagi-bagi dimatahari dan dibulan. Tidak. Ia berada dimana-mana, dihadapanku, dibelakangku, memimpinku, mendjagaku. Ketika kenjataan ini hinggap dalam diriku, aku insjaf bahwa aku tidak perlu takut-takut lagi, karena Tuhan tidak lebih djauh daripada kesadaranku. Aku hanja perlu memandjat kedalam hatiku untuk menemuiNja. Aku menjadari bahwa aku senantiasa dilindung-Nja untuk mengerdjakan sesuatu jang baik. Dan bahwa Ia memimpin setiap langkahku menudju kemerdekaan.”

Potongan paragraf di atas, saya kutip bulat-bulat dari tulisan Soekarno dalam autobiografinya1)Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia (Biography as told to Cindy Adams) . Saya tertarik membaca biografi seseorang, terlebih yang diceritakan oleh orang itu sendiri. Karena dengan membaca dari sudut padang pelaku itu sendiri; ternyata kita bisa melihat secara jelas alasan-alasan yang dikemukakan seseorang dalam mengambil sebuah tindakan; atau dari sudut yang lain kita menjadi mengerti seperti apa cara Allah “mengajari” orang tersebut.

Contoh paling ideal dan maksum tentu saja Rasulullah SAW, karena terbimbing oleh wahyu. Tetapi kita sepakati bahwa siapapun saja dalam hidup ini bisa menjadi “guru” kita, dalam artian kitalah yang berniat  belajar dan menyaring hikmah dari frame hidup orang lain yang kita “baca”.

Dan kembali mengenai paragraf di atas, apa konteks Soekarno menulis ungkapan tersebut? Ungkapan itu ternyata ditulis pada saat Soekarno dipenjarakan di Bandung. Sukamiskin. Selama empat tahun pengasingan yang sepi dan menjemukan. Di dalam pengasingan, di dalam penjara, kata Soekarno, banyak orang-orang yang menjadi gila dan terguncang jiwanya. Karena kesepian itu “membunuh”. Tetapi, saya mengamati bahwa Soekarno sendiri menjadi bertemu dengan islam dan paham tentang Tuhan di dalam penjara.

Saya ambil kertas, lalu saya menggambar timeline pola yang membuat kisah hidup Soekarno terbaca dengan lebih jelas. Dia hidup dalam didikan keluarga yang tidak terlalu nyar’I dalam Islam. Persentuhan pertamanya dengan islam adalah ketika dia ditakdirkan nge-kos di rumah seorang Bapak Bangsa, H.O.S. Tjokroaminoto yang mewarnai cara dia berfikir.

Lepas dari Surabaya, dia berpindah ke Bandung menyelesaikan studi dan menjadi besar di Bandung dalam kerumunan massa dan retorikanya yang membakar orang-orang untuk merdeka. Saat popularitasnya menanjak naik, disitulah…..pada jenak melambungnya namanya, Allah takdirkan dia ditangkap oleh Belanda dan dijebloskan ke penjara.

Empat tahun…empat tahun yang lama dan sepi. Tahun-tahun yang membuat banyak orang di penjara yang sama menjadi tidak waras dan sakit. Tetapi Allah mengajarinya disana.

Ceritanya memang masih panjang. Kita mafhum pada akhirnya dia memproklamirkan kemerdekaan. Dan konfliknya dengan Kartosuwiryo yang rekannya sendiri. Juga konfliknya dengan Ulama besar Buya Hamka. Tetapi itupun cerita takdir.

Yang membuat saya tersenyum membaca kisah dia dipenjara saya teringat “Tempayan Pecah”nya Syaikh Abdul Qadir Jailani. Barulah saya mengerti bahwa dalam konteks menghilangkan ke-akuan itu jugalah saya rasa Soekarno digiring ke Penjara oleh takdir. Dan nyatanya dia “menemukan makna kedekatan dengan Tuhan” disana. Di dalam penjara.

Saya kutip lagi apa yang ditulis Soekarno: “Tak pernah orang meragukan adanja Jang Maha Esa kalau orang bertahun-tahun lamanja terkurung dalam dunia jang gelap. Seseorang merasa begitu dekat kepada Tuhan pada waktu ia mengintip melalui lobang ketjil dalam selnja dan melihat bintang-bintang, kemudian merunduk disana selama berdjam-djam dalam kesunjian jang sepi memikirkan akan suatu jang tidak ada batasnja dan segala sesuatu jang ada. Pengasingan jang sepi mengurung seseorang samasekali dari dunia luar. Karena pengasingan jang sepi inilah aku semakin lama semakin pertjaja. Tengah malam kudapati diriku dengan sendirinja bersembahjang dengan tenang.”

Gemetar saya membaca ini. Rasanya ingin menangis. Bukan karena Soekarno…Bukan…Tetapi karena terbayangkan cara Allah mendidik. Allah mendidik lewat kejadian hidup. Yang seringkali keras dan membanting-banting, Ya Rabbi…saya gemetar.

Allah memasukkan siang ke dalam malam, memasukkan malam ke dalam siang. Memunculkan kebaikan dari suatu yang nampaknya buruk. Menyelipkan keburukan dalam sesuatu yang kita kira baik. Semua dalam rangka mengajar.

Siapa yang tahu, bahwa Soekarno justru akan mendapatkan pencerahan di dalam penjara Sukamiskin di Bandung? Tak ada… Justru karena ketidak mengertian itulah, maka para pejuang pemuda bersedih karena ditangkapnya Soekarno. Tetapi dia ditangkap justru mematangkan pengertiannya tentang Tuhan. Begitulah cara Tuhan mengajar.

Seperti Puzzle, ya? Setiap orang memiliki potongan puzzlenya sendiri. Semua puzzle kalau disatukan menjadi sebuah gambar yang utuh. Pelukis gambar yang utuh itu adalah Allah SWT. Dan manusia tak selalu mengerti –atau mungkin tak pernah mengerti- seperti apa gambar besarnya rencana takdir itu. Apa hikmah dibaliknya. Dan hikmah yang terungkap saya percaya juga mungkin masih terlalu kecil dibandingkan plot raksasanya kalau dilihat bahwa cerita manusia ini sudah membentang sejak penciptaan Adam a.s.

Umpama polisi melihat seorang penjahat. Tiadalah yang polisi bisa lakukan selain dari menjalankan peranan puzzlenya, yaitu mengejar sang penjahat, menangkap, bila perlu menembaknya kalau melawan. Itulah peranan polisi. Tetapi sang polisi yang arif mestilah sadar bahwa keseluruhan cerita tak akan pernah bisa dimengerti. Kenapa orang ini jahat? Apakah faktor keluarga? Apakah difitnah? Apakah karena kekurangan asupan ilmu dan pendidikan? Apakah melawan sistem sosial yang dia rasa keliru?

Jika tiap orang sadar bahwa cerita yang lengkap tidak akan pernah dimengerti dari sudut pandang manusia; maka saya rasa setiap peranan akan berbenturan dengan cantik. Dengan indah dan saling mensenyumi peranan lainnya. Do your part lah…. Dan jangan menghakimi orang lain pasti Syurga pasti neraka.

Jika Ali dan Aisyah saja bertemu di gelanggang. Jika Musa dan Khidir saja berpisah jalan. Apatah lagi orang macam kita?

Saya teringat dengan seloroh sebuah perumpamaan. “Sejarah ditulis oleh orang-orang besar”.

Kata-kata itu sempat membakar saya juga, dulu, saya ingin jadi orang besar.

Tetapi baru kini saya mengerti. Saya dulu keliru. Sejarah itu ditulis oleh Allah, dan orang-orang besar jarang menyadari bahwa mereka hanya bagian dari plot. MAHA PLOT. Sebuah rencana besar. Puzzle kehidupan raksasa. Melampaui sekedar Soekarno, sekedar Hatta, Sekedar Kartosuwiryo, Sekedar H.O.S. Tjokroaminoto. Apalagi sekedar kita.

Pada akhirnya tak penting besar atau tidak. Yang penting adalah syukur-syukur tertakdirkan bisa membaca hikmah dari segala frame takdir yang berjalan. Duduk diam-diam di sudut. Rileks one corner. Dan mengingati Allah. Sang pembuat plot Maha Besar. Sejarah rupanya TIDAK ditulis orang-orang besar.

Gambar ilustrasi saya pinjam dari sini

References   [ + ]

1. Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia (Biography as told to Cindy Adams)

MENITI JALAN KESYUKURAN

Saat kesulitan mendera, ujian mencerabuti segala yang kita persepsikan sebagai “milik”, apakah itu harta, kedudukan, keluarga, dan lain sebagainya; kita sudah diberi tahu bahwa itu merupakan cara Allah mengajar. Allah memahamkan manusia bahwa Dia yang mengatur segalanya, lewat kejadian hidup yang pelik dan membuat orang-orang bergantung total kepada Dia.

Rasa berat yang kita rasakan saat ujian itu tiba; jika disikapi dengan cara yang tertuntunkan; akan berubah menjadi rasa faqir kepada Allah (sikap merasa butuh terhadap pertolongan Allah).

Saat ujian tiba, orang-orang alim mengingatkan kita untuk melafadzkan “innalillahi wa inna ilaihi rajiun”, dan orang-orang arif mengajarkan kita makna batinnya, yaitu lafadz di lisan itu hanya merupakan ejawantah dari sikap batin yang “mengembalikan sesuatu kepada pemilik sejatinya”. Bahwa segala sesuatu adalah milik Allah. Cerita tentang Allah. Dan konteks diri kita sendiri menjadi hilang.

Orang-orang yang menjadi “dekat” kepada Allah lewat berbagai ujian hidup; bolehlah kita sebut sebagai orang-orang yang meniti jalan kefakiran.

Nah…dalam konteks “menghilangkan keakuan” ini, saya baru menyadari bahwa ada celah satu lagi, yaitu meniti jalan kesyukuran.

Saat seseorang diberikan bergelontor kemudahan dan kemelimpahan dalam hidupnya, orang tersebut tetap bisa menghilangkan keakuannya, dengan cara mengembalikan konteks segala kemudahan dan kemelimpahan dalam hidupnya itu, kepada Allah, bukan kepada pencapaian pribadinya.

Saat segala prestasi dan kemelimpahan sudah dikembalikan kepada yang semestinya; yaitu anugerah Allah; alih-alih karena kehebatan diri sendiri; maka konteks dirnya sendiri menjadi hilang.

Kemudahan dan karunia membuatnya bersyukur di hadapan Allah, rasa syukur dan terimakasih itu mendorongnya untuk tahadduts bin ni’mah, menceritakan tentang Allah dan segala kebaikannya.

Orang-orang yang menjadi “dekat” kepada Allah lewat berbagai kemudahan hidup itu, bolehlah kita sebut sebagai orang-orang yang meniti jalan kesyukuran.

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu sebutkan”. (QS Adh-Dhuha:11)

Yang disebutkan adalah ‘nikmat Tuhan’, bukan pencapaian pribadi. Saat pencapaian pribadi sudah dinafikan, dan konteksnya berubah menjadi nikmat Tuhan, maka keakuan menjadi hilang.

Teringat saya, dengan Umar bin Khattab kalau tak khilaf, pernah berkata “andaikan sabar dan syukur adalah dua tunggangan, aku jadi tak peduli mana yang harus kukendarai”

Naik tunggangan sabar berarti “meniti jalan kefakiran”. Naik tunggangan syukur berarti tahadduts bin ni’mah. Mengembalikan segala kemudahan dan prestasi kedalam konteks Nikmat Tuhan. Hilang aku-nya.

Hal ini, menjawab pertanyaan saya sendiri. Saat bercerita panjang dengan seorang rekan yang kebingungan, kenapa kok dia sulit untuk merasakan kefakiran, merasakan rasa butuh yang sangat kepada Allah?

Saya renung-renung, baru tersadar sekarang. Bahwa sang rekan tersebut tidaklah berada dalam posisi dibelit dengan takdir yang berat dan berliku. Rekan saya itu, diperjalankan lewat takdir kemudahan dan kemelimpahan. Maka sudah semestinya tunggangan yang dinaiki adalah rasa syukur dan tahadduts bin ni’mah.

Seumpama, kalaulah boleh mengambil permisalan ini. Apakah gejolak perasaan Nabi Musa a.s, sama dengan gejolak perasaan Nabi Sulaiman?

Tentu berbeda. Yang satu merasakan pias dan tercekam saat dikejar bala tentara fir’aun; dengan itu semakin fakir di hadapan Allah. Yang satu lagi, dianugerahi kerajaan menakjubkan yang belum pernah dimiliki orang-orang sebelumnya dan tak akan lagi dimiliki orang-orang sesudahnya; Yang segala nikmat itu membuatnya menjadi bersyukur bukan kepalang dan beliau mengaitkan nikmat itu dalam konteks kemurahan Tuhannya, bukan pencapaian pribadinya.

Yang satu dibukakan Jalal-Nya (keagungan-Nya), yang satu dibukakan Jamal-Nya (keindahan-Nya). Tunggangannya berbeda, tetapi tujuannya sama.

Walhasil, baru saya paham, tidak perlu kita menengok takdir hidup orang lain, dan gejolak hati orang lain. Karena, setiap orang diberikan ceritanya sendiri, dan ada tunggangan yang bisa dinaiki oleh masing-masing orang, untuk kemudian menghilangkan konteks “aku” dalam hidupnya, dan menjadi lebih dekat dengan Tuhannya.

Bisa meniti jalan kefakiran. Bisa juga meniti jalan kesyukuran. Tergantung Allah SWT memperjalankan kita lewat mana.

 

—-

Gambar ilustrasi saya pinjam dari sini

 

MENITI JALAN KEFAKIRAN

Sang penghulu Para Nabi, Jenderal orang-orang suci, sebaik-baik pecinta,  dan Jika boleh menyebutnya “pejalan”; maka beliau sesabar-sabar manusia yang meniti jalan “pulang”. Rasulullah SAW, Seorang pemimpin besar yang dalam do’anya meminta untuk dihidupkan dalam keadaan miskin, mati dalam keadaan miskin, dan dikumpulkan dalam kelompok orang-orang miskin.1)“Allahumma Ahyinii Miskiinan, wa Amitnii Miskiinan, wahsyurniii fii Jumratil-masaakiin” Artinya : “Ya Allah ! Hidupkanlah aku dalam keadaan MISKIN, dan matikanlah aku dalam keadaan MISKIN, dan kumpulkanlah aku dalam rombongan orang-orang MISKIN”. Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ibnu Majah

Miskin, adalah metafora, dari rasa fakir dan rasa butuh terhadap Allah.

Gelegak rasa fakir dan butuh terhadap pertolongan Allah itu; seringkali baru bisa dicerna oleh orang yang kesehariannya dilumuri dengan takdir yang membelit dan membanting-banting. Yang menghancurkan egonya sampai tak bersisa. Meruntuhkan keakuannya sampai–menurut Syaikh Abdul Qadir Jailani- seperti tempayan pecah. Yang mau tak mau memunculkan rasa fakir. Rasa hina-dina. Rasa jelek, dan rasa tak akan mampu “Sampai” ke tujuan tanpa pertolongan Allah.

Kadang-kadang saya merenung, seperti apa gejolak rasa yang dialami orang-orang itu? Yang menjalani takdir penghambaan sampai ke titik paling nadir. Apakah tak ada gejolak? Apakah selalu tenang dan tak merasa berat?

Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (QS. At-Taubah: 41)

Ternyata sejarah juga merekam bahwa meniti jalan penghambaan itu berat. Meskipun untuk orang-orang sekualitas mereka.

Siapa yang tak berat meninggalkan anak dan istri pada lembah tak berpenghuni, Makkah, seperti Ibrahim? Yang sampai hampir tak terjawab ketika hajar melontar tanya berkali-kali, “kenapa kau tinggalkan kami?”.

Siapa yang tak akan berat, saat memimpin sebuah Risalah pada masa dimana Keturunan Laki-laki merupakan pertanda kemuliaan nasab, lalu saat anak laki-laki yang didamba kemudian lahir; tak lama diambil lagi oleh Sang Penciptanya. Nyatanya Rasulullah SAW menangis. Seorang sahabat bertanya kenapa beliau menangis, beliau jawab bahwa tangisan itu adalah rahmat.2) Anas bin Malik berkata: “Rasulullah masuk (*di rumah ibu susuan Ibrahim) menemui Ibrahim yang dalam keadaan sakaratul maut bergerak-gerak untuk keluar ruhnya. Maka kedua mata Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallampun mengalirkan air mata. Abdurrahman bin ‘Auf berkata, “Engkau juga menangis wahai Rasulullah?”. Maka Nabi berkata, “Wahai Abdurrahman bin ‘Auf, ini adalah rahmah (kasih sayang)”. Kemudian Nabi kembali mengalirkan air mata dan berkata, “Sungguh mata menangis dan hati bersedih, akan tetapi tidak kita ucapkan kecuali yang diridhoi oleh Allah, dan sungguh kami sangat bersedih berpisah denganmu wahai Ibrahim”(HR Al-Bukhari no 1303) 

Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (QS. At-Taubah: 41)

Jika kita diperintah berangkat baik ringan maupun berat, berarti rasa berat itu memang ada. Dan rasa berat yang “indah” adalah rasa berat yang memunculkan rasa fakir –tersebab meski berat; tetap menjalankan apa yang Allah suruh-. Rasa berat yang memecahkan tempayan “keakuan”.

Saking beratnya gejolak rasa yang dititi dalam jalan kefakiran itu, dalam pada kesedihan ditinggal Khadijah dan pamannya, Rasulullah SAW berdo’a di bawah pohon anggur, kala kepalanya mengucurkan darah akibat dilempari batu oleh penduduk thaif, kata beliau:

“Tuhanku, kepada siapa Engkau serahkan diriku? Apakah kepada orang jauh yang membenciku atau kepada musuh yang menguasai diriku? Tetapi asal Kau tidak murka padaku, aku tidak perduli semua itu. –Hanya saja, kesehatan dan karunia-Mu lebih lapang bagiku-

Gejolak rasa berat itu ternyata memang ada. Tetapi rasa berat yang “indah” ternyata adalah rasa berat yang memunculkan sikap fakir dihadapan Allah. Seperti yang dititi para Nabi dan orang-orang shalih sepanjang sejarah. Orang-orang yang lebih mengkhawatiri saat senangnya ketimbang saat dukanya. Sebab saat dukanya; timbul rasa fakir pada Tuhannya.

Maka saat kita dihantam kesulitan hidup, bagaimana tak teringat kita pada Orang-orang shalih? Sebaik-baik drama kesabaran. Seindah-indah akhlaq keridhoan.

Meski menangis dan rasa bergolak itu memang ada, tetapi pergolakan kesedihan yang “cantik” rupanya memunculkan rasa fakir dan butuh terhadap pertolongan Allah.

Saat meniti jalan kefakiran dengan susah dengan payah itulah, kita rindu untuk bertemu mereka. Teman-teman yang mengajarkan kita memandang hidup dengan benar. Teman-teman terbaik di tempat terbaik.

Bahkan Rasulullah pada menjelang akhir hayatnya berdo’a: “Ya Allah ampunilah bagiku, rahmati diriku, dan pertemukan aku dengan ar Rafiq al A’la”. 3)Sunan at Tirmidzi, Kitab ad Da’awat, hadits nomor 3418 : Memberitakan kepada kami Harun; memberitakan kepada kami Abdah, dari Hisyam bin Urwah, dari ‘Abbad bin Abdillah bin az Zubair, dari Aisyah berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah di hari menjelang wafatnya: “Ya Allah ampunilah bagiku, rahmati diriku, dan pertemukan aku dengan ar Rafiq al A’la”. (Abu Isa at-Tirmidzi berkata: Ini adalah hadits hasan sahih 

Sebagian orang-orang alim mengatakan Rafiq al A’la berarti sebaik-baik teman.

Sebagaimana saat dilanda ujian; kita merindukan para Nabi dan orang-orang shalih; Ternyata begitu juga para Nabi. Pada akhir hayatnya ditawarkan apakah memilih dunia ataukah akhirat? Maka Sang Nabi menjawab “Rafiq al A’la” beliau memilih sebaik-baik teman, di sebaik-baik tempat.

Maka wafatlah beliau SAW, menjumpai orang-orang yang semasa hidupnya; hidup dalam kemiskinan, dan mati dalam kemiskinan. Miskin adalah metafora, dari rasa fakir dan butuh terhadap Allah.

 

gambar ilustrasi saya pinjam dari link ini  

 

 

 

References   [ + ]

1. “Allahumma Ahyinii Miskiinan, wa Amitnii Miskiinan, wahsyurniii fii Jumratil-masaakiin” Artinya : “Ya Allah ! Hidupkanlah aku dalam keadaan MISKIN, dan matikanlah aku dalam keadaan MISKIN, dan kumpulkanlah aku dalam rombongan orang-orang MISKIN”. Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ibnu Majah
2.  Anas bin Malik berkata: “Rasulullah masuk (*di rumah ibu susuan Ibrahim) menemui Ibrahim yang dalam keadaan sakaratul maut bergerak-gerak untuk keluar ruhnya. Maka kedua mata Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallampun mengalirkan air mata. Abdurrahman bin ‘Auf berkata, “Engkau juga menangis wahai Rasulullah?”. Maka Nabi berkata, “Wahai Abdurrahman bin ‘Auf, ini adalah rahmah (kasih sayang)”. Kemudian Nabi kembali mengalirkan air mata dan berkata, “Sungguh mata menangis dan hati bersedih, akan tetapi tidak kita ucapkan kecuali yang diridhoi oleh Allah, dan sungguh kami sangat bersedih berpisah denganmu wahai Ibrahim”(HR Al-Bukhari no 1303) 
3. Sunan at Tirmidzi, Kitab ad Da’awat, hadits nomor 3418 : Memberitakan kepada kami Harun; memberitakan kepada kami Abdah, dari Hisyam bin Urwah, dari ‘Abbad bin Abdillah bin az Zubair, dari Aisyah berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah di hari menjelang wafatnya: “Ya Allah ampunilah bagiku, rahmati diriku, dan pertemukan aku dengan ar Rafiq al A’la”. (Abu Isa at-Tirmidzi berkata: Ini adalah hadits hasan sahih 

MAKNA YANG MENDAHULUI KATA

Dulu, saya mengira “Al Faruq” julukan untuk Umar Bin Khattab r.a. itu sekedar sebutan semata. Sekedar nick-name atau nama panggilan. Sekarang saya barulah mengerti bahwa Al Faruq bisa dimaknai dengan lebih “dalam”, bahwa julukan itu sebagai sebuah bukti dimana seorang yang dekat dengan Tuhan, kadang-kadang mendapatkan “insight” yang mendahului kecepatan berfikirnya, sehingga apa yang dia lakukan dalam bentuk ucapan atau perbuatan lebih sering disetir oleh kondisi ruhani yang dia dapatkan, atau insight-nya.

Tercatat banyak sekali kejadian dimana perkataan atau pendapat Umar Bin Khattab r.a. dibenarkan; atau selaras; dengan Qur’an.

Kita kutip dari banyak literatur, salah satunya adalah cerita yang sangat Masyhur mengenai perlakuan terhadap tawanan perang Badar dimana pendapat Umar-lah yang dibenarkan dan menjadi sebab turunnya Surat Al Anfal : 67-69.

Salah satu contoh lain yang sangat indah adalah saat Allah menurunkan firmanNya pada surat QS Al-Mukminun ayat 12-13 “Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari suatu sari pati (berasal) dari Tanah….(dst hingga akhir ayat 13)”; Umar r.a berkata  “Fa tabarakallahu ahsanul khaliqin (maka Maha Suci Allah, pencipta yang paling baik)” Maka turunlah akhir ayat tersebut (QS: 23 al-Mu’minun: 14) yang sejalan dengan ucapan Umar itu.

kejadian itu terjadi cukup sering, itulah salah satu alasan Umar dijuluki dengan Al Faruq. Al Faruq berarti sang pembeda. Karena lisannya Umar dalam beberapa kali kejadian, menjadi pembeda antara haq dan batil (kebenaran meluncur dari lisan Umar r.a).

Sama juga dengan istilah Ash Shiddiq untuk Abu Bakar r.a. Rupanya bisa dimaknai lebih dalam.

Dulu, saya mengira Ash-Shiddiq itu sekedar nama julukan saja. Tentu kita tahu bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan salah satu event dimana Abu Bakar r.a. dikenal sebagai Ash Shiddiq yang berarti “yang membenarkan”; karena saat orang semua tak percaya pada Rasulullah SAW; beliau membenarkan Rasulullah.

Ternyata tak sesederhana mengatakan bahwa Rasulullah benar, tak cuma karena itu. Sebagaimana Al-Faruq untuk Umar; Ash-Shiddiq untuk Abu Bakar juga merupakan sebuah bukti bahwa orang beriman seringkali “Insight“nya mendahului perbuatannya.

Rasulullah mengatakan, saat awal-awal kenabian, Rasulullah memberitahukan tentang islam kepada orang-orang. Orang-orang semua menolak, atau paling tidak mereka berfikir dulu, baru setelah itu menerima islam, atau menolak islam.

Tetapi Abu Bakar tidak pakai berfikir, dia langsung menerima seketika saat ditawarkan islam padanya. Dia Ash-Shiddiq, karena kondisi ruhaninya membuat dia mengerti apa yang disampaikan Rasulullah SAW. Abu Bakar seorang pencari kebenaran, dan dia juga tercatat sebagai seorang sahabat yang tak pernah sujud kepada berhala bahkan sebelum keislamannya.

Karena kebersihan kondisi ruhaninya Abu Bakar r.a. dia mengerti dan membenarkan apa yang disampaikan Rasulullah SAW. Perumpamaan yang sederhana –mungkin juga tak terlalu relevan- adalah perumpamaan rasa durian. Kita akan kesulitan menjabarkan rasa durian kepada seseorang yang sama sekali belum pernah memakan durian. Tetapi, kepada orang yang sudah pernah mencecap rasa durian, kita bisa menterjemahkan rasa durian itu dalam diksi yang bagaimanapun juga, dan orang yang “mengerti” pasti akan membenarkan. Dalam konteks membenarkan seperti itulah, belakangan baru saya sadari makna Ash-Shiddiq secara lebih dalam.

Seperti sebuah ungkapan klasik, “yang tak pernah mengalami; tak akan mengerti”.

Dan ini sering kita temukan dalam kehidupan kita sehari-hari, tentang seseorang yang karena kebersihan jiwanya, memiliki insight yang membuat dia bisa membedakan benar dan salah, atau membuat dia bisa memutuskan secara cepat apa yang harus dilakukan. Tanpa melalui proses penarikan kesimpulan yang umum, semisal analisa data, komparasi, baru penarikan kesimpulan.

Itulah mereka yang insightnya mendahului fikiran dan perbuatannya.

Bagi orang awam, atau kebanyakan orang umum; pola seperti itu tidak bisa diterima; justru dianggap pre-judice. Karena sudah memiliki pra-konsepsi / prasangka sebelum memutuskan sesuatu dengan menganalisa dalilnya.

Tetapi, bagi orang-orang khusus yang bersih hatinya, para arifin, analisa dalil dan logika mereka kalah cepat dibanding insightnya, sehingga mereka sudah tahu lebih dulu mana benar mana salah, bahkan sebelum melihat dalilnya.

Sebagaimana Rasulullah bersabda bahwa yang membuat timbangan amal Abu Bakar berat, bukan amalan lahiriahnya, tetapi sesuatu yang ada di hatinya.

Menurut saya, bisa jadi sesuatu itulah, yang juga membuat pandangan hatinya tajam, sehingga apa yang Rasulullah katakan; beliau benarkan, sebab beliau memiliki kondisi ruhani yang membuatnya mengerti apa yang Rasululullah sampaikan.

Tetapi ada satu hal yang penting digaris bawahi. Insight, hanya boleh sebagai hujjah pribadi semata. Dia tidak bisa dijadikan dalil hukum, tak bisa jadi landasan hukum. Sehingga seringkali kita dengar cerita misalnya seorang ibu, mengetahui anaknya berbohong atau tidak, hanya dengan insight. Tanpa perlu menganalisa data-data lahiriah. Tetapi, hal itu tidak bisa menjadi bukti atau hujjah istilahnya.

Karena, hukum lahiriah adalah “sesuatu harus diputuskan berdasarkan data yang nampak mata”.

Contoh klasik sekali adalah sebagai mana Ali r.a, kalah dalam persidangan (hukum lahiriah) meskipun semua orang juga tahu bahwa baju besi adalah milik Ali, bukan milik sang Yahudi pencuri. Tetapi Ali mesti kalah, karena kurang bukti di pengadilan. Menyedihkan, tetapi harus begitu, itu hukum yang direstui Allah untuk bermain di level syariat yang umum.

Jadi…Dalil, dan analisa lahiriah harus menunjang kejernihan insight.

Sehingga jika kita ingin menyampaikan sebuah insight kepada khalayak, haruslah dengan menggunakan logika yang umum diterima semua orang yaitu  alur kebenaran dalam konteks umum: data-data, analisis yang tepat, dan kesimpulan. Kalau Syaikh Abdul Qadir Jailani merumuskan, insight haruslah di-cross-check dengan Qur’an dan Sunnah. Sekalipun insight itu benar, tunggulah sejenak, karena jika Allah hendak mengajari hambanya, Dia akan mengulang-ulang insight itu hingga hambaNya mengerti.

Jadi sebagai sebuah catatan untuk diri kita sendiri, bolehlah kita berharap menjadi Ash-Shiddiq atau Al Faruq, dalam artian saat kita mendengarkan petuah para ulama, atau tentu saja membaca Qur’an dan Hadits, kita bisa terbantu memahami maksudnya, karena insight itu tadi. Kita “membenarkan” perkataan ulama dan orang-orang Shalih.

Dan kata guru-guru, salah satu tanda dari kejernihan hati seseorang adalah insight itu sendiri. Bukan untuk serampangan menjelaskan sesuatu kepada orang lain, tentu. Tetapi untuk bisa mengerti apa maksud dari yang disampaikan Para Nabi, Aulia, dan Orang-orang shalih sepanjang zaman. Makna-makna sampai pada kita “mendahului” kata.

—-

Sejalannya ucapan Umar r.a dan Qur’an saya kutip dari Buku Dr. Musthafa Murad “Kisah Hidup Umar Ibn Khattab”

Gambar ilustrasi saya pinjam dari link ini

MEMBONGKAR LAYLA MAJNUN

Ada sebuah cerita yang sangat populer, dan kisah ini muncul jauh sebelum cerita Romeo and Juliet, kisah ini adalah kisah Layla dan Majnun. Majnun, berarti “gila”.

Majnun, adalah julukan kepada seorang laki-laki anak seorang bangsawan, seorang gagah dan terkenal pandai dan cakap dalam berbagai bidang di masanya. Tetapi, sang lelaki nan kharismatik ini kemudian menjadi “gila” –atau lebih tepatnya dianggap gila- oleh penduduk di desanya, sebab keanehan perilakunya dalam mencintai kekasih yaitu Layla.

Konon, ayah Layla menyadari bahwa sang pemuda, yaitu Qais adalah seorang anak bangsawan, tetapi ayah Layla tak merestui hubungan mereka. Apa pasal? Pasalnya adalah ayah Layla tidak bisa memahami tingkah pola gilanya si Qais hingga dijuluki Majnun oleh para penduduk desa.

Banyak fragmen dalam cerita ini, mulai dari kisah pertemuan pertama Layla dan Qais, kisah dipingitnya Layla oleh keluarganya, kisah menjadi Majnun-nya Qais kala tak bisa bertemu kekasihnya, kisah Layla yang menulis beratus-ratus syair dan menerbangkannya dari jendela rumahnya dan lalu dipungut para penduduk desa yang merasa iba lalu menghantarkannya pada Majnun yang hidup menyepi pada sebuah bukit, kisah seorang jenderal yang mendengar kabar santer tentang Layla-Majnun dan lalu menyerang kampung Layla demi menundukkan Ayah Layla agar merestui Majnun menikahi anaknya; tetapi malah sang jenderal berbalik arah saat melihat sang Majnun malah menolong semua tentara dari penduduk desa yang terluka, lho…. Majnun ini bagaimana? Dibela kok malah menolong orang yang di pihak ayahnya Layla? Bener… si Majnun memang gila.

Kisahnya panjang, saya sendiri hanya sempat membaca resumenya saja. Tetapi ada satu bagian yang saya sangat ingin menuliskannya, tentang bagaimana tingkah polah Qais dalam mencinta hingga dia dijuluki Majnun. Ini fragmen paling menarik.

Kegilaan pertama sudah kita singgung sedikit tadi, saat sang jenderal kebingungan kenapa Majnun malah membela tentara penduduk desa yang diserang; dengan mengobati mereka kala terluka, kata Majnun “Bagaimana aku tak mengobati mereka, sedangkan mereka berasal dari desa dimana kekasihku berasal.”

Kegilaan lainnya adalah Majnun sering berbicara pada sungai, dia percaya bahwa sungai membawa kabar kepada Layla, karena sungai itu melintasi Layla.

Pendek kata, apapun yang mengingatkan dia kepada Layla, entah itu penduduk desa, sungai, angin yang berhembus dari arah desa Layla, hewan-hewan di perbukitan; semua akan dia sayangi; karena mengingatkan dia pada kekasihnya yaitu Layla.

Hal itulah yang menarik buat saya. Menarik, karena ternyata menyimpan sebuah pesan yang begitu tinggi, dan baru sekarang saya bisa mengerti. Ini sebenarnya pesan yang sangat indah.

Apapun yang dipandang oleh Majnun, mengingatkan dia kepada Layla.

Secara kasat mata, seseorang akan melihat Majnun sedang bercakap dengan air, atau sedang bercakap dengan hewan, atau sedang menikmati desiran angin dari desa Layla, tetapi sejatinya Majnun sedang mengingati Layla. Orang mengira Majnun menyayangi binatang, hingga hewan-hewan berkerumun dimanapun Majnun berada, padahal Majnun “melintasi” pandangan dari hewan-hewan, dia mencintai apapun yang bersinggungan dengan Laylya.

Majnun, mengajari kita tentang bagaimana mencintai dengan sebenarnya. Mencintai, adalah menafikan apa yang terpandang, untuk kemudian menjadikan yang terpandang itu sebagai “pintu” ingatan kepada yang dicintai.

Saya terpaksa kembali menggunakan sebuah analogi sangat klasik tentang gula. Telah bersama kita pahami bahwa gula adalah berwarna putih dan berbentuk butiran-butiran kecil. Seorang pecinta sejati, saat dia meminum secangkir teh; dia mencecap rasa manisnya pada larutan teh; dia akan teringat kepada gula,  Seorang pecinta sejati, dia tidak berhenti pada rasa manis gula, tetapi dia mengingati butiran kecil dan berwarna putih itu. Seperti Majnun.

Atau umpama kita melihat sebuah lukisan, seorang pecinta sejati akan “meloncati” lukisan itu, umpama Majnun. Dia akan mengingat sang pelukis, bukan terpesona pada lukisannya semata.

Atau saat melihat tapak kuda di tengah hutan, atau ranting-ranting kayu yang patah, seorang yang kehilangan kudanya akan mengingati sang kuda, meski secara lahiriah mata mereka memandang pada jejak tapal di tanah yang basah, atau pada ranting yang patah dan bengkok. Seperti Majnun.

Sekarang saya baru menyadari, seperti itulah harusnya “mengakrabi” Tuhan.

Itulah jawaban, kenapa dulu saya semakin banyak berdoa semakin gelisah? Ternyata, saya belum memraktekkan cinta seperti Majnun.

Saat saya berdo’a karena suatu masalah umpamanya, dalam berdo’a saya malah membayangkan masalah itu sendiri. Saya tidak menjadikan “masalah” sebagai sebuah “pintu” untuk mengingati Yang Semestinya Dicintai. Ringkasnya, saya berdo’a menghadap masalah, bukan menghadap Tuhan.

Kalau kita paham bahwa sebuah masalah adalah “perbuatan” yang sudah dituliskan dari script takdir Sang Pencipta, harusnya kita seperti Majnun, mata fisik melihat masalah, tetapi batin mengingati Sang Pencipta, yang mengirim masalah.

Orang-orang arif, menjelaskan mengenai Sifat, dan Perbuatan (Af’al). Segala yang kita lihat di dalam hidup ini, adalah “perbuatan”nya Allah. Gunung meletus, topan badai, kelahiran, kematian, tragedi, kasih-sayang, pendeknya semua kejadian hidup adalah perbuatan Allah, lewat script takdirNya.

Lewat script takdir yang tergelar itu, kita akhirnya mengerti tentang SifatNya, sesuatu yang ingin DIA pahamkan pada kita, makna-makna, bahwa banyak hal yang tak bisa kita setir dalam hidup ini, kelahiran-kematian, kebahagiaan-duka lara, lapang-sempit, semua adalah perbuatanNya, dalam rangka menyadarkan kita akan sifatNya bahwa Dia Menghidupkan-mematikan, Melapangkan-menyempitkan, Memberi petunjuk-dan menutup hati.

Tetapi baik perbuatannyakah (kejadian hidup), atau sifatnya kah (makna yang kita bisa baca dari kejadian hidup), bukanlah tujuan akhir dalam benak sang pencinta sejati.

Dalam benak Sang Pencinta, yang dituju adalah EMPUNYA, yang memiliki semua Perbuatan dan Sifat itu.

Atau dalam konteks cerita Layla-Majnun; persetan apa yang dilihat oleh Majnun, asalkan ada garis singgungnya dengan Layla, maka dia teringat Layla. Begitulah semestinya kita, saat melihat PerbuatanNYA di alam ini, dan memahami makna yang DIA hendak ceritakan lewat sifat yang DIA ingin manusia mengerti, kita harusnya teringat kepada DIA-nya, bukan berhenti memandang perbuatanNYA, bukan terhenti pada makna yang kita bisa petik dari kejadian hidup itu semata. Tetapi DIA, DIA yang dituju, pemilikNya.

Perbedaannya hanyalah, kalau Majnun bisa membayangkan Layla dalam benaknya, maka dalam konteks mengakrabi Tuhan, kita memahami bahwa Yang Kita Cintai itu tiadalah serupa, tiada umpama, dan tak terjangkau pengertian.

Jika apapun saja yang kita lihat sudah bisa menghantarkan kita kepada keakraban dengan Yang Menciptakannya, siap-siap dianggap Majnun oleh orang-orang.

 

—–

gambar dipinjam dari sini

Proudly powered by WordPress | Theme: Baskerville 2 by Anders Noren.

Up ↑